ChatGPT Image 21 Jun 2026, 23.11.21

Abah: “Tak Kancani Sukses”

Oleh : Putri Azkiya

Suasana Masjid Pesma An Najah Purwokerto malam itu, Kamis 18 Juni 2026, terasa begitu sejuk dan hening. Getaran do’a setelah istighosah dan tahlil masih menyisakan kekhidmatan di hati kami para santri. Di depan kami, seseorang yang berwibawa, berilmu dan sangat kami takdzimi, beliau K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang akrab kami sapa Abah, mulai memberi nasihat kepada para santri.

Bukan sekadar teori, Abah menyampaikan nasihat-nasihatnya melalui cerita perjalanan hidup beliau yang nyata dan inspiratif. Sesekali, suasana yang serius pecah oleh gurauan khas beliau yang mengundang tawa namun tetap santun-membuat nasihat yang disampaikan terasa begitu dekat dengan keseharian kami. Malam itu, Abah menekankan tentang “Keberanian dan Tekad yang Kuat”. “ Banyak orang ingin sukses tapi tidak mau menapaki jalan menuju sukses itu sendiri. Kesuksesan tidak datang sendiri, melainkan harus dijemput dengan usaha nyata, konsistensi dan tekad yang kuat. Orang sukses itu tidak takut gagal” begitu pesan beliau.

Salah satu bukti nyata keberanian Abah adalah ketika beliau masih semester satu. Dengan sepeda ontel, beliau menempuh jarak kurang lebih 9 KM berboncengan, menuju UGM demi menghadiri sebuah acara. Abah juga bercerita, kala itu satu-satunya sepeda ontel yang terparkir di UGM adalah milik beliau-karena semua nya sudah memakai motor yang bagus-bagus. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat dan tekadnya untuk tetap hadir di acara tersebut. Tidak hanya berhenti disitu, keberanian Abah ditunjukan saat MC mempersilahkan salah satu perwakilan tamu undangan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dengan memakai Bahasa Arab. Sela satu menit dua menit tidak ada satupun yang berani maju. Ditengah banyaknya audiens yang rata-rata dari semester 9 dan 11 saling menatap ragu, Abah dengan gagah berani penuh percaya diri maju ke podium untuk menyampaikan pidatonya-meski kala itu beliau masih semester satu. “Tidak ada kesalahan dalam berbicara, yang ada, kesalahan itu saat ujian/diujikan”, begitu kalimat yang disampaikan guru nya sehingga menjadikan beliau berani mencoba untuk berbicara didepan umum dengan lantang dan percaya diri.

Keberanian ini pulalah yang membuat Abah ditawari jabatan di berbagai organisasi sebagai orang pertama-ketua. Namun beliau lebih memilih menolak. Karena beliau sadar akan totalitas “..kalau saya jadi orang pertama (ketua) ada kemungkinan fokus mondok di Krapyak menjadi terganggu. Sedangkan saya bertekad bagaimanapun caranya harus tetap ngaji dan ngabdi di Krapyak sampai lulus. Aktivis boleh, tapi yang penting tidak melupakan ngaji dan mondoknya”. Begitulah prinsip yang dipegang Abah. Tekad untuk lulus sebagai santri yang mumpuni jauh lebih besar daripada sekedar jabatan. Karena bagi Abah sukses bukan hanya soal jabatan, tapi soal amar makruf nahi mungkar, berani menjadi pintar, berani menjadi hebat. Lebih jauh lagi, Abah mengingatkan bahwa keberaniaan kita untuk sukses bukan sekedar untuk diri sendiri, melainkan untuk membahagiakan orang tua. Karena kesuksesan adalah cahaya kebahagiaan bagi orang tua, bahkan bagi mereka yang sudah berada di alam barzah. “Duh senenge Ya Allah anakku dadi wong sukses, berkah bermanfaat”.

Dalam nasihatnya, Abah menekankan berpikir positif. Bahwa segala sesuatu yang diusahakan tidak pernah sia-sia. Beliau memberikan logika yang membesarkan hati: orang yang mencari memiliki dua kemungkinan: yaitu mendapatkan apa yang dia cari dan mendapatkan pengalaman berharga saat proses mencari. Begitupun saat berkompetisi (ikut lomba): jauh lebih baik ikut lomba meski belum menang, daripada menjadi orang yang tidak pernah menang karena tidak pernah ikut lomba. Kedua logika tersebut sama-sama memiliki harapan-peluang untuk mendapatkan, peluang untuk menang. “…setidaknya punya harapan, hidup ngga punya harapan itu untuk apa? Jadilah orang yang berani seperti Abah,” Begitu pesan beliau untuk menyalurkan semangat dan energi positif kepada kami para santrinya. Seraya mengingatkan kami agar selalu memiliki prasangka (umpama) yang positif seperti keyakinan untuk sukses.

Sebagai penguat hati kami dalam berjuang, Abah selalu memberikan penyemangat yang ikonik dan selalu menjadi pegangan kami sebagai santrinya “Tak Kancani Sukses”( Saya temani kalian menuju sukses) adalah sebuah janji tulus seorang guru yang tidak pernah membiarkan santrinya berjuang sendirian dalam meraih kesuksesan.

Menjelang akhir wejangan, suasana masjid kembali membara saat Abah melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membakar semangat dengan suara lantang: “Berani sukses? Berani bangun sebelum subuh? Berani jamaah di baris paling depan? Berani menjaga kebersihan komplek? Berani ikut lomba?”. Kami serentak menjawab “BERANI!!” dengan kompak, menggetarkan ruangan dan semangat di dalam jiwa sebelum akhirnya ditutup dengan doa khas beliau. Setelah iqomah berkumandang dan shalat isya berjamaah usai, kami menutup malam itu dengan bersalaman-santri putra dengan Abah dan santri putri dengan Umi. Dan kami pun pulang ke komplek masing-masing dengan tertib seraya membawa pulang janji hangat yang selalu menguatkan kami: “Tak Kancani Sukses”. Beliau-Abah akan setia menemani perjalanan kami menuju puncak kesuksesan.

Tentang Penulis

Putri Azkiya merupakan mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Selain menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, ia juga tengah menempuh pendidikan non formal di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.

ChatGPT Image 13 Jun 2026, 01.14.06

Film Pesta Babi: Krisis Ekoteologi di Tanah Ibu Pertiwi

Oleh: Farraz Azzahy Setiaji

Sinema dokumenter di Indonesia telah lama bertransformasi menjadi tempat kritik sosial yang tajam, melampaui fungsi tradisionalnya yang sekadar merekam realitas. Di tengah derasnya arus modernisasi dan ambisi pembangunan nasional, karya-karya dokumenter investigatif hadir sebagai cermin yang memantulkan luka-luka ekologis yang sering kali luput dari narasi utama media arus utama. Salah satu karya yang memicu diskursus publik di pertengahan tahun 2026 adalah film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film ini diproduksi melalui kolaborasi lintas gerakan antara Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke, serta disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama antropolog Cypri Dale.

Secara simbolik, film Pesta Babi menyoroti realitas pahit yang dihadapi oleh masyarakat adat di Papua Selatan terutama suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang ruang hidupnya terancam oleh proyek skala besar swasembada pangan (food estate), perkebunan sawit, dan industri tebu. Di balik judulnya yang satir, ‘Pesta Babi’ menjadi simbolisasi dari sebuah ironi: bagaimana ritual, tradisi, dan kekayaan alam yang seharusnya dikelola secara sakral oleh masyarakat adat justru ‘dipesan’ dan dieksploitasi demi syahwat kapitalistik segelintir elite penguasa dan korporasi.

Eksploitasi masif ini menciptakan krisis ekologis dan kultural yang akut di atas tanah ulayat. Jika ditinjau dari kacamata akademis, apa yang digambarkan dalam film tersebut bukan sekadar isu pelanggaran hak asasi manusia atau sengketa agraria biasa, melainkan sebuah bentuk nyata dari krisis ekoteologi. Tulisan sederhana ini bertujuan untuk membedah krisis ekoteologi di Tanah Ibu Pertiwi melalui lensa film dokumenter Pesta Babi, serta menganalisisnya menggunakan pendekatan konseptual Hifdz al-Bi’ah (perlindungan lingkungan) dalam kerangka Maqashid al-Syari’ah (tujuan-tujuan hukum Islam).

Analisis Sinematik: Mengurai Gurita Korporasi dan Jeritan Ruang Hidup
Dalam film Pesta Babi, penonton disajikan data investigatif dan penelusuran lapangan yang memperlihatkan bagaimana hutan adat perlahan digunduli, sungai-sungai dicemari, dan hak-hak ulayat dipangkas demi kepentingan industri raksasa. Narasi film ini dibangun secara emosional dan faktual melalui kesaksian para tokoh lokal yang berdiri di garis depan perjuangan. Salah satunya adalah Yasinta Moiwend dari suku Marind Anim, yang dengan getir menyaksikan bagaimana hutan tempat mereka berburu dan meramu yang selama berabad-abad menjadi tumpuan hidup berubah wujud menjadi bentangan perkebunan monokultur yang dijaga ketat oleh aparat keamanan.

Tak kalah memilukan, kesaksian Vincent Kwipalo dari suku Yei memperlihatkan dimensi militeristik dalam perampasan lahan tersebut. Ia menemukan tanah milik marganya secara sepihak dipatok dengan papan pengumuman bertuliskan ‘Tanah Milik TNI AD’. Penolakan masyarakat adat terhadap pembongkaran hutan ini membawa mereka pada titik nadir pertahanan terakhir, yang meluas hingga ke pesisir Sungai Digoel. Film ini secara berani menguliti data kepemilikan dan afiliasi bisnis di balik megaproyek tersebut, menunjukkan dengan gamblang siapa saja aktor utama dan penerima manfaat (beneficial ownership) dari pengosongan ruang hidup di Papua Selatan.

Tragisnya, krisis yang digambarkan dalam film ternyata juga tercermin dalam realitas sosial distribusinya di dunia nyata. Sepanjang penayangannya di berbagai daerah di Indonesia pada medio Mei 2026, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mencatat setidaknya terjadi 21 kali intimidasi serius dan pembubaran paksa terhadap acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi. Mulai dari pembubaran acara setelah tiga menit penayangan di salah satu universitas negeri di Mataram, hingga tekanan dari aparat keamanan di berbagai kota. Fenomena pembungkaman ini mengonfirmasi pesan utama film bahwa ada ketakutan kolektif dari pemegang kekuasaan apabila narasi kerusakan lingkungan dan ketidakadilan agraria ini meluas ke kesadaran publik.

Membaca Krisis Melalui Lensa Ekoteologi
Secara teologis, hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta adalah sebuah kesatuan yang utuh (holistik). Pemikir Muslim kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr sering kali menegaskan bahwa krisis lingkungan global pada dasarnya merupakan manifestasi eksternal dari krisis spiritual manusia modern. Ketika manusia melepaskan dimensi sakral dari dirinya, mereka juga mencabut kesucian dari alam semesta. Alam tidak lagi dipandang sebagai ‘ayat-ayat’ (tanda kebesaran) Tuhan yang harus dirawat, melainkan sekadar komoditas materialistis yang siap dikuras habis demi keuntungan finansial.

Krisis inilah yang disebut sebagai krisis ekoteologi. Bagi masyarakat adat di Papua, tanah dan hutan adalah ibu (Ibu Pertiwi) yang memberi kehidupan, tempat di mana spiritualitas leluhur dan identitas kultural mereka melekat. Ketika korporasi datang dengan buldoser atas nama pembangunan, mereka tidak hanya menebang pohon, tetapi juga memutus hubungan spiritual antara manusia dan penciptanya melalui pengrusakan alam. Eksploitasi hutan Papua dalam film Pesta Babi memamerkan keserakahan (israf) dan kerusakan di muka bumi (fasad fil-ardh) yang secara tegas dilarang dalam teks keagamaan. Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…(QS. Al-A’raf [7]: 56).

Ketika fungsi ekologis bumi dirusak demi kepuasan sesaat sekelompok kecil manusia, maka hak-hak makhluk hidup lainnya termasuk generasi manusia masa depan telah dirampas. ‘Pesta Babi’ dalam konteks ini menjadi metafora bagi perilaku konsumtif dan eksploitatif yang rakus, yang mengorbankan masa depan ekosistem demi pesta pora ekonomi jangka pendek.

Hifdz al-Bi’ah sebagai Fondasi Maqashid kontemporer
Dalam tradisi hukum Islam klasik (fikih), terdapat rumusan konsep al-Dharuriyyat al-Khams (lima kebutuhan primer manusia) yang wajib dilindungi dalam kerangka Maqashid al-Syari’ah, yaitu: menjaga agama (hifdz al-din), jiwa (hifdz al-nafs), akal (hifdz al-aql), keturunan (hifdz al-nasl), dan harta (hifdz al-mal). Namun, merespons eskalasi kerusakan alam di era modern, para ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qardhawi (melalui kitabnya Ri’ayat al-Bi’ah fi Syari’ah al-Islam) dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) meluncurkan ijtihad transformatif dengan memasukkan Hifdz al-Bi’ah (perlindungan lingkungan) sebagai bagian integral dari tujuan syariat, bahkan menjadikannya prasyarat utama agar kelima kebutuhan primer lainnya dapat terpenuhi.

Hubungan dengan Hifdz al-Nafs (Menjaga Jiwa): Penggundulan hutan skala besar mengecoh siklus hidrologi, memicu bencana banjir, kekeringan, serta hilangnya sumber pangan alami. Ketika hutan Papua Selatan diubah menjadi industri monokultur tebu dan sawit, ketahanan pangan lokal runtuh. Tanpa lingkungan yang sehat, hak hidup manusia secara fisik terancam.

Hubungan dengan Hifdz al-Din (Menjaga Agama): Rusaknya alam menghilangkan sarana manusia untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta. Bagi masyarakat adat, kehancuran ruang hidup berarti hilangnya tempat-tempat sakral dan runtuhnya tatanan nilai moral yang selama ini menjaga harmoni sosial mereka.

Hubungan dengan Hifdz al-Mal (Menjaga Harta): Hutan dan tanah ulayat merupakan modalitas ekonomi lestari bagi masyarakat setempat. Konversi lahan secara paksa memindahkan kepemilikan aset kolektif rakyat menjadi milik segelintir korporasi, menciptakan pemiskinan struktural yang nyata.
Oleh karena itu, tindakan merusak lingkungan demi proyek ketahanan pangan yang salah sasaran seperti yang digambarkan dalam Pesta Babi merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip Hifdz al-Bi’ah. Islam menuntut manusia menjalankan peran sebagai khalifah fil-ardh (wakil Tuhan di bumi) yang bertugas mengelola dan merawat alam dengan prinsip keadilan, kesederhanaan, dan tanggung jawab, bukan sebagai penakluk yang destruktif.

Kesimpulan
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita berhasil membuka tabir krisis ekoteologi yang sedang berlangsung di hilir pembangunan Indonesia, khususnya di tanah Papua Selatan. Pengrusakan hutan adat atas nama proyek swasembada pangan mencerminkan cara pandang antroposentrisme yang akut, di mana alam diposisikan semata-mata sebagai objek eksploitasi tanpa nilai sakral.

Melalui kacamata ekoteologi Islam dan prinsip Hifdz al-Bi’ah, krisis ini menegaskan perlunya rekonstruksi radikal terhadap kebijakan pembangunan nasional. Menjaga nafas Ibu Pertiwi bukan lagi sekadar pilihan etis atau gerakan moral sekunder, melainkan sebuah kewajiban teologis mutlak (fardhu) demi keberlangsungan hidup manusia dan alam. Negara dan korporasi harus menghentikan syahwat eksploitasi yang merampas ruang hidup masyarakat adat, karena merawat bumi adalah bentuk nyata dari menjaga kelangsungan syariat itu sendiri.

Daftar Pustaka
Link Film Pesta babi : https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=6QHHFc0KKpeHBfQq
https://www.researchgate.net/publication/365858705_Fiqh_Bi’ah_Urgensi_Teologi_Al-Quran
https://kupi.or.id/artikel/berita/seruan-ulama-perempuan-indonesia-terkait-pelestarian-alam-dan-pengelolaan-sampah-berkelanjutan
https://media.neliti.com/media/publications/337854-hakikat-pemikiran-seyyed-hossein-nasr-9bd9faed.pdf
https://ylbhi.or.id/informasi/siaran-pers/pelarangan-pemutaran-film-pesta-babi-adalah-pelanggaran-hukum-dan-tindakan-yang-mengangkangi-konstitusi/

IMG-20260611-WA0012

Satu Langkah

Oleh: Isnaeni Putri Azkiya

“Banyak orang gagal bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka terlalu takut dan ragu untuk memulai satu langkah pertama”.

Perjalanan ribuan mil di dunia ini, semua berawal dari satu langkah, langkah kecil, langkah pertama.Pernahkah kamu merasa dititik dimana jalan pulang pun terasa gelap, bahkan hilang? Kehilangan arah hanya untuk mencari tepat aman besinggah? Aku pernah disana.Saat dimana dunia terasa gelap gulita dan bangkit pun tampak mustahil.Tapi aku belajar satu hal: “kita tidak butuh peta besar untuk keluar dari kegelapan, kita hanya butuh satu langkah, langkah kecil, langkah pertama”.Dititik terendah itu keberhasilanya adalah “cukup bertahan hidup”.Dengan proses yang panjang, jalan yang curam, permukaan yang tak selalu rata, tikungan yang berliku tajam dan semuanya yang terasa gelap gulita ternyata mulai bisa memudar, menempis perlahan karena satu tekad “aku harus melangkah meski hanya satu langkah”.

“Apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan”.kata yang begitu sederhana namun tersirat makna yang mungkin tak cukup mudah untuk sebagian orang mengahadapinya.Dan itu termasuk aku.Menurut kalian kapan masa tersulit yang pernah dialami dalam hidup ini? Apakah saat kalian gagal? Apakah saat kalian merasa tertinggal dengan pencapaian orang lain? Atau apakah saat kalian merasa gagal sebelum gagal? Setiap individu memiliki definitifnya sendiri dalam memaknai masa tersulit dalam hidupnya.Namun definitif yang kupakai adalah “Ketika aku ragu, dan itu meragukan diriku sendiri”.

Banyak ribuan peristiwa yang terjadi dalam hidup ini.Baik itu disekitar kita maupun yang menimpa kehidupan kita.Terkadang peristiwa-peristiwa itu datang tak diundang, terjadi tanpa permisi, terlaksana tanpa rencana, berjalan tanpa persetujuan.Namun semua itu kembali lagi bahwa hakikatnya yang memiliki kendali penuh atas diri kita, keputusan yang dibuat serta langkah yang diambil ya diri kita sendiri. Diri kita yang harus bertanggung jawab dalam menghadapi itu semua.Terima maupun tidak? Pada intinya kita!.Lantas bagiamana jika diri kita sendiri saja meragukan nya? Bagimana dengan orang lain? Disitulah letak kesulitanya.Kesulitan bukan dalam menghadapi besarnya masalah, namun kesulitan dalam menerima diri, memeprcayai diri, serta meyakinkan diri.

Dalam upaya mengambil kendali penuh itu, aku teringat kembali pada salah satu bait Kitab Al-Umrithi ke 17 yang telah kupelajari dulu dipondok pesantren-tentang kekuatan tekad (himmah).Satu bait yang tak panjang, namun makna nya mendalam.

إذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ * وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
“Karena kemuliaan kaum muda tergantung tekadnya. Barang siapa tidak mempunyai tekad yang kuat maka akan gagal meraih keberhasilanya”.

Begitulah bait yang hingga saat ini menjadi salah satu prinsip dalam hidupku.Tekad inilah yang menjadi mesin penggerak bagiku; sebuah keyakinan bahwa meski aku tidak tahu apa yang ada di depan, kemauan untuk mencoba, memulai, berusaha dan melangkah adalah kunci awal yang paling sakral.Dan semua itu kembali lagi pada: satu langkah, langkah kecil, langkah pertama.

Ribuan momentum yang telah terjadi dalam kehidupan ini membuatku belajar akan banyak hal; termasuk bagaimana caraku memaknai kehidupan serta bagaimana aku harus menghadapinya.Prinsip hidupku pun mulai berubah.Aku mulai memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini layak untuk mendapatkan ruang dipikiranku, perhatian dalam pandanganku serta tempat singgah dalam kehidupanku.Aku belajar dan mulai memahami apa yang dalam kendaliku dan apa yang diluar kendaliku.Karena kebahagian sejati datang dari hal-hal yang bisa kita kendalikan.Baik tidaknya hidup kita hanya bisa dinilai dari hal-hal dibawah kendali kita-begitu kurang lebih intisari yang kudapat setelah membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Yang cukup aku pikirkan dan usahakan adalah apa yang bisa aku lakukan hari ini-presepsi, reaksi, dan eksekusiku.Selebihnya, seperti kegagalan dimasa lalu atau ketidakpastian di masa depan, aku serahkan sepenuhnya pada jalanya takdir; pastinya setelah ikhtiar yang kubisa sudah kulakukan sepenuhnya.Kegagalan dan kesalahan masa lalu memang tidak bisa diubah, tidak bisa dihapus. Namun, kita masih bisa memperbaikinya dan itu tanpa harus bergantung pada validasi opini orang lain.Karena sekali lagi, opini orang lain termasuk dalam hal diluar kendali kita.Bagiku fokus pada hal-hal yang memang dalam kendali kita, membuat langkah terasa lebih ringan.Karena aku tidak lagi terbebani untuk “mencapai garis finish secepat mungkin”,tidak pula terbebani dengan statement “bahwa aku harus sempurna dalam presepsi mereka” melainkann cukup konsisten melakukan “satu langkah, langkah kecil, langkah pertama” setiap hari.

Berbekal prinsip tekad yang kuat dan kendali diri inilah yang akhirnya membawaku ke ttitk produktif saat ini.Bisnis yang sedang aku rintis sekarang, meskipun masih dalam skala kecil-kecilan-menjadi distributor, reseller dan sedang mencoba juga menjadi founder-adalah laboratorium tempatku mempraktikan filosofi “satu langkah” tersebut.Aku tidak lagi trauma gagal, tidak lagi ragu memulai, tidak lagi takut mencoba; hal-hal baru yang mungkin belum pernah kucoba dalam hidup ini.Karena bagiku kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, dan itu tandanya aku sedang dalam proses belajar, proses tumbuh dan proses membentuk diri menjadi insan yang lebih baik-terutama menjadi seorang hamba yang baik di hadapan Tuhan nya.

Kalian tau? orang yang masuk ke jurang curam, pilihanya hanya ada dua; mati tenggelam disana atau berusaha naik keluar dari curamnya jurang itu.Mungkin dulu satu langkah ku saat itu hanya untuk bertahan hidup; agar aku tidak tenggelam.Namun sekarang satu langkah itu tak hanya sebagai simbolik bertahan hidup-melainkan untuk melanjutkan hidup mewujudkan mimpi-mimpi, memberi kehidupan yang lebih baik, serta membahagiakan keluarga-terutama kedua orang tuaku.Kini makna satu langkah itu adalah untuk mendaki perbukitan mimpi besar menuju mimpi yang sudah lama kutanam; menjadi seorang pengusaha sukses yang berkah manfaat. Aamiin.

Mungkin bagi sebagian orang melihat bisnisku hanya sebagai produktivitas belaka-atau bahkan hanya mengira sebagai penggugur kewajiban tugas kuliah karena sesuai prodiku-ekonomi syariah.Namun jauh dari semua itu, bagiku setiap peluh dalam bisnis kecil ini adalah langkah awal yang mendekatkanku pada gerbang suci Baitullah-Allahummasoli’ala sayyidina Muhammad. Karena aku sadar sebagai anak bungsu dari dua bersaudara aku adalah harapan terakhir keluarga, dan ada harapan besar yang dititipkan dipundakku. Dengan tekad yang kuat, dengan satu langkah, langkah kecil, langkah pertamaku dihari ini adalah janji untuk membawa orang tuaku-dan juga aku bersujud di tanah suci-Allahummasolli’ala sayyidina Muhammad.

Kini, langkah-langkah kecilku mulai menemukan ritmenya dalam dunia bisnis.Aku yang dulu sempat tenggelam, hilang arah, kini perlahan mulai produktif lagi-satu langkah.Bukan karena jalanya tiba-tiba rata, bukan juga karena tikungan tajamnya sudah tidak ada, tapi karena aku punya tekad dan alasan yang kuat untuk tidak lagi berhenti.Cukup perlahan, konsisten, tapi pasti.Aku mendaki perbukitan mimpi besar itu-bukan hanya sebagai pencapaian pribadi-tapi tentang baktiku sebagai anak bungsu-sebagai harapan terakhir keluarga.Setiap lika liku dalam bisnis ini aku hadapi dengan prinsip “bahwa aku pemegang kendali penuh atas presepsi, reaksi, dan eksekusi ku sendiri”.

Saat lelah mulai menyapa, hingga niat awal sempat ikut tergoda-aku mengingat kembali tujuanku-menyelesaikan pendakian diperbukitan mimpi besar itu dan keinginan mulia menghaji umrohkan kedua orang tua-beserta diriku sendiri.Keyakinan dan alasan inilah yang membuat “satu langkah” terasa begitu bertenaga.Aku ingin membuktikan pada dunia-terutama pada diriku sendiri, bahwa dari titik terendah sekalipun, satu langkah yang konsisten bisa membawamu terbang mewujudkan mimpi yang tinggi.

Kini satu langkah yang dulu kuambil hanya untuk bertahan hidup, menjelma menjadi detak jantung dari sebuah mimpi besar; menjadi pengusaha sukses yang berkah manfaat serta keinginann memuliakan orang tua menghantarkanya ke Baitullah.Dengan tekad yang kuat aku memilih untuk tidak meragukan diriku sendiri karena keraguan adalah beban yang menghambat perjalanan.Jangan menunggu siap, jangan mengandalkan peta besar tapi cukup mulai dari satu langkah hari ini.Biarkan ketulusan niatmu menjadi kompas yang menuntunmu menuju mimpi yang paling tinggi.Hari ini, apa satu langkah yang berani kamu ambil untuk dirimu dan orang-orang yang kamu cintai? Mulailah sekarang karena satu langkah jauh lebih berharga daripada seribu rencana yang hanya diam dikepala.Kamu tidak butuh peta besar, kamu hanya butuh keberanian untuk memulai.Melangkahlah, meski hanya satu langkah.Karena diujung langkah-langkah kecilmu ada keajaiban yang menunggu. Percayalah.

Tentang Penulis

(Isnaeni Putri A.)

Isnaeni Putri Azkiya adalah mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang memiliki minat besar dalam bidang bisnis, kewirausahaan, dan pengembangan diri. Sejak kecil, ia telah tertarik pada dunia usaha dan hingga kini aktif mengelola beberapa bisnis serta membangun jaringan reseller. Selain berwirausaha, Isnaeni juga gemar menulis sebagai sarana berbagi pemikiran, pengalaman, dan pembelajaran hidup. Baginya, setiap tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh, dan setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat membawa seseorang lebih dekat kepada mimpi dan tujuan hidupnya.

 

 

ChatGPT Image 1 Jun 2026, 02.15.18

Indonesia Emas 2045: Visi Besar atau Sekadar Slogan Politik?

Oleh: Irkham Auladi, M.Pd.

Indonesia Emas 2045 bukan gagasan yang keliru. Justru, secara historis, 2045 adalah momentum penting karena Indonesia genap berusia 100 tahun. Namun, pertanyaan utamanya bukan “apakah visinya bagus?”, melainkan: apakah fondasi pendidikannya, ekonominya, politiknya, hukumnya, dan kualitas SDM-nya sudah cukup kuat untuk membawa Indonesia menjadi negara maju?

Jika melihat kondisi Indonesia saat ini, arahnya sudah ada, tetapi jalannya belum cukup kokoh. Indonesia memiliki modal besar, namun masih menghadapi masalah serius yang bisa membuat Indonesia Emas 2045 berhenti sebagai slogan politik.

Apakah Indonesia Sudah di Jalan yang Tepat?

Sebagian sudah. Indonesia punya modal penting seperti bonus demografi, pasar domestik besar, sumber daya alam melimpah, posisi geopolitik strategis, serta potensi ekonomi digital. Namun, negara maju tidak hanya dibangun oleh jumlah penduduk dan kekayaan alam. Negara maju dibentuk oleh manusia berkualitas, institusi yang bersih, industri bernilai tambah tinggi, riset kuat, pendidikan bermutu, dan hukum yang pasti.

Di titik ini, Indonesia masih tertinggal.

Masalah utamanya terlihat pada beberapa hal:

Pertama, kualitas pendidikan belum merata. Sekolah memang banyak, tetapi mutu pembelajaran, literasi, numerasi, dan kualitas guru masih menjadi pekerjaan besar.

Kedua, ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada komoditas dan konsumsi domestik. Padahal negara maju bertumpu pada produktivitas, inovasi, industri teknologi, dan ekspor bernilai tinggi.

Ketiga, kualitas politik dan birokrasi belum sepenuhnya mendukung pembangunan jangka panjang. Korupsi, politik transaksional, hukum yang tidak konsisten, dan kebijakan yang sering berubah membuat pembangunan sulit bergerak cepat.

Jadi, Indonesia sedang berjalan menuju 2045, tetapi belum bisa dikatakan sepenuhnya berada di jalur aman.

Lalu Apa Saja Modal Utama Menuju Negara Maju?

Jika dibandingkan dengan Jepang, Korea Selatan, Singapura, Jerman, dan Tiongkok, ada beberapa modal utama yang selalu muncul.

Pertama: pendidikan berkualitas

Korea Selatan dan Jepang menjadi maju bukan karena sumber daya alam, tetapi karena manusia. Mereka serius membangun sekolah, universitas, riset, disiplin kerja, dan budaya ilmu.

Indonesia harus berhenti melihat pendidikan hanya sebagai urusan ijazah. Pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia yang bisa berpikir kritis, menguasai teknologi, bekerja produktif, dan berintegritas.

Kedua: industrialisasi

Negara maju tidak hanya menjual bahan mentah. Mereka mengolah, menciptakan teknologi, dan menguasai rantai produksi.

Indonesia tidak boleh puas hanya mengekspor nikel, batu bara, sawit, atau hasil tambang. Hilirisasi penting, tetapi harus naik kelas: dari sekadar smelter menuju industri baterai, kendaraan listrik, farmasi, semikonduktor, alat kesehatan, dan teknologi pertanian.

Ketiga: riset dan inovasi

Negara maju mengandalkan pengetahuan. Anggaran riset mereka besar, universitasnya kuat, dan industrinya terhubung dengan laboratorium.

Indonesia masih lemah di sini. Banyak kampus belum menjadi pusat inovasi. Dunia usaha juga belum cukup banyak berinvestasi pada riset.

Keempat: tata kelola negara

Singapura maju karena pemerintahannya efisien, bersih, dan tegas. Jerman kuat karena institusinya stabil. Korea Selatan berhasil karena negara mampu mengarahkan industri secara strategis.

Indonesia membutuhkan birokrasi yang cepat, hukum yang pasti, dan politik yang tidak hanya sibuk dengan elektoral lima tahunan.

Sektor Mana yang Paling Harus Diperkuat?

ada lima sektor yang harus menjadi prioritas nasional.

Pertama, pendidikan dasar dan vokasi. Ini fondasi utama. Tanpa SDM kuat, hilirisasi hanya akan menciptakan lapangan kerja murah, bukan ekonomi maju.

Kedua, kesehatan dan gizi. Stunting, anemia, kesehatan ibu-anak, dan akses layanan kesehatan menentukan kualitas generasi 2045.

Ketiga, industri manufaktur bernilai tambah tinggi. Indonesia perlu masuk ke industri baterai, kendaraan listrik, mesin, farmasi, pangan modern, digital, dan energi terbarukan.

Keempat, pertanian dan pangan modern. Negara maju tetap menjaga ketahanan pangan. Indonesia perlu teknologi irigasi, benih unggul, mekanisasi, logistik dingin, dan perlindungan petani.

Kelima, reformasi hukum dan birokrasi. Investor, ilmuwan, pelaku UMKM, dan masyarakat membutuhkan kepastian. Tanpa hukum yang adil, semua strategi ekonomi akan rapuh.

Apa Yang Harus Dirubah Agar Indonesia Emas 2045 Tidak Sekadar Tagline?

Indonesia perlu berani melakukan perubahan yang lebih mendasar.

Pertama, ubah pendidikan dari sekadar administratif menjadi substantif. Kurikulum boleh berganti, tetapi yang lebih penting adalah kualitas guru, kemampuan membaca, berpikir logis, sains, matematika, karakter, dan etos kerja.

Kedua, pastikan hilirisasi tidak hanya menguntungkan elite ekonomi. Hilirisasi harus menciptakan transfer teknologi, lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat industri nasional.

Ketiga, bangun meritokrasi. Orang harus naik karena kemampuan, bukan koneksi politik. Negara maju tidak bisa dibangun dengan budaya “siapa dekat siapa”.

Keempat, perkuat demokrasi yang produktif. Kritik publik jangan dianggap musuh. Dalam negara modern, kritik adalah mekanisme koreksi agar kebijakan tidak melenceng.

Kelima, arahkan APBN untuk investasi masa depan: pendidikan, riset, kesehatan, infrastruktur produktif, dan teknologi. Jangan terlalu besar terserap untuk belanja birokrasi dan proyek simbolik.

Kesimpulannya adalah?

Indonesia Emas 2045 adalah visi yang layak diperjuangkan, tetapi belum boleh dirayakan terlalu cepat. Dengan kondisi pendidikan yang belum merata, ekonomi yang masih rentan, politik yang transaksional, dan kualitas institusi yang belum kuat, Indonesia masih menghadapi risiko besar terjebak sebagai negara berpendapatan menengah.

Visi 2045 akan menjadi kenyataan bila negara berani membangun manusia, memperkuat industri, menegakkan hukum, memperbaiki politik, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan.

Namun, bila pembangunan hanya berhenti pada slogan, seremoni, proyek mercusuar, dan pidato optimistik, maka Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi sekadar narasi indah yang gagal menyentuh kehidupan rakyat.

Tentang Penulis

(Irkham Auladi)

Irkham Auladi, M.Pd., merupakan santri Pesantren Mahasiswa An Najah dan alumnus Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, serta baru saja menuntaskan Pendidikan Magisternya di almamater yang sama. Ia aktif dalam publikasi ilmiah, dengan beberapa artikelnya terbit di jurnal bereputasi, serta beberapa kali meraih kejuaraan kompetisi futsal. Berasal dari Sidareja, Cilacap, Irkham dapat dihubungi melalui Instagram @irkhamau.

ChatGPT Image 29 Apr 2026, 22.51.58

Langkah yang Tak Pernah Sepi Makna

 

Oleh: Ayu Condro Ningrum

Menjalani rutinitas sebagai mahasiswa sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto terasa seperti memerankan dua peran yang saling melengkapi. Dalam satu hari, hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Di pagi hari, kami sudah harus menghadapi dinginnya udara Purwokerto untuk mengikuti jamaah salat subuh. Setelah itu, kami bergegas ke kampus, menjalani peran sebagai mahasiswa terlibat dalam diskusi kelas, melakukan presentasi, hingga kebingungan mencari referensi jurnal di perpustakaan. Semua berlangsung cepat, dipenuhi tugas-tugas yang seolah tak berujung.

Namun, saat melangkah kembali melewati gerbang pesantren, kebisingan kampus terasa tertinggal. Suasana berubah menjadi lebih tenang. Laptop dan buku tebal disimpan sejenak, digantikan oleh kitab kuning dan sarung. Di sini, kami tidak lagi sekadar mahasiswa, tetapi kembali menjadi santri yang duduk bersila di lantai masjid. Mendengarkan ngaji kehidupan dari Abah Roqib setelah jamaah salat magrib terasa seperti mengisi ulang energi setelah seharian bergulat dengan teori di kampus.

Tantangan terbesar adalah membagi waktu. Kadang terasa ironis melihat meja belajar di kamar. Di satu sudut, ada tumpukan tugas yang harus segera diselesaikan; di sudut lain, ada kitab yang menunggu untuk dipelajari demi setoran pagi berikutnya. Tak jarang, mata terasa sangat lelah karena semalaman mengerjakan tugas kuliah. Namun, ketika suara bel kompleks atau panggilan salat berjamaah terdengar, kami harus segera bangkit dan bersiap kembali.

Lelah? Tentu saja. Namun di situlah letak keindahannya. Kami belajar hal-hal yang mungkin tidak didapatkan oleh mahasiswa lain. Kami memahami makna thalabul ‘ilmi melalui pendidikan formal, sekaligus diingatkan untuk menjaga adab dan kerendahan hati melalui pendidikan pesantren. Pesma An-Najah, dengan segala kesibukannya, menjadi saksi perjuangan kami bahwa mengejar gelar sarjana adalah penting untuk masa depan, tetapi menjaga nilai-nilai santri adalah cara agar kami tidak kehilangan arah di tengah dunia yang semakin gaduh.

Pada akhirnya, menjalani dua peran ini melatih mental untuk tetap kuat sebagaimana pelajaran yang pernah saya baca dalam buku Filosofi Teras.

Tentang penulis:

Ayu Condro Ningrum

Ayu Condro Ningrum adalah mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Sejalan dengan minat akademiknya, ia menaruh perhatian besar pada bidang jurnalistik dan aktif terlibat dalam aktivitas jurnalistik di kampus, melalui LPM SAKA. Penulis dapat dihubungi melalui Email: ayucondroningrumayu@gmail.com atau nomor telepon:  082220762232.

 

ChatGPT Image 28 Apr 2026, 13.24.52

Ketika Belajar Tak Lagi Tahan Uji: Potret Rapuhnya Generasi Muda

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag., A.H.

(LPDP Awardee, University of Birmingham, UK)

Generasi yang Cepat Lelah

Di ruang-ruang kelas hari ini, kita semakin sering menemukan pemandangan yang serupa: pelajar yang cepat lelah, mudah menyerah, dan kehilangan daya tahan saat berhadapan dengan kesulitan. Tugas yang sedikit kompleks terasa memberatkan, proses belajar yang panjang dianggap membosankan, dan kegagalan kecil kerap berujung pada keputusasaan. Belajar tidak lagi dilihat sebagai perjalanan intelektual, melainkan sekadar beban yang harus segera diselesaikan.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan subjektif generasi tua terhadap generasi muda. Ia adalah gejala yang nyata bahwa ada sesuatu yang berubah dalam cara generasi hari ini berinteraksi dengan pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.

Motivasi yang Kian Menurun

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa penurunan performa akademik sering kali beriringan dengan menurunnya motivasi belajar. Siswa tidak lagi terdorong oleh rasa ingin tahu, melainkan oleh tuntutan nilai, ujian, dan tekanan eksternal. Akibatnya, ketika tekanan itu hilang, motivasi pun ikut merosot.

Belajar kehilangan makna intrinsiknya. Ia tidak lagi dipahami sebagai proses memahami dunia, melainkan sekadar alat untuk mencapai target jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika pelajar mudah kehilangan energi ketika menghadapi tantangan. Tanpa motivasi yang kuat dari dalam, proses belajar akan terasa berat dan mudah ditinggalkan.

Krisis Ketahanan Intelektual

Di titik inilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih mendasar: krisis ketahanan intelektual atau academic resilience. Dalam kajian pendidikan, ketahanan intelektual merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, beradaptasi, dan bahkan berkembang meskipun menghadapi kesulitan akademik.

Masalahnya, banyak pelajar hari ini menunjukkan tanda-tanda melemahnya kemampuan ini. Mereka cenderung menghindari tantangan, cepat merasa tidak mampu, dan kesulitan mengelola tekanan. Padahal, justru dalam proses menghadapi kesulitan itulah kemampuan berpikir berkembang.

Dengan kata lain, persoalan utama generasi muda hari ini bukan pada kurangnya kecerdasan, tetapi pada lemahnya daya tahan dalam menggunakan kecerdasan tersebut. Mereka memiliki akses pengetahuan yang luas, tetapi tidak selalu memiliki ketekunan untuk menggali dan mengolahnya secara mendalam.

Ekosistem Instan yang Membentuk Kerapuhan

Kerapuhan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh ekosistem yang semakin mengutamakan kecepatan daripada kedalaman. Di era digital, informasi tersedia secara instan, jawaban dapat ditemukan dalam hitungan detik, dan proses berpikir sering kali dipersingkat melalui berbagai kemudahan teknologi.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Namun di sisi lain, ia juga membawa konsekuensi: pelajar menjadi kurang terbiasa dengan proses berpikir yang panjang dan melelahkan. Ketika segala sesuatu bisa diperoleh dengan cepat, kesabaran untuk berproses perlahan menjadi semakin langka.

Selain itu, sistem pendidikan juga sering kali belum sepenuhnya mendorong ketahanan intelektual. Tekanan akademik yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Kegagalan masih sering dipandang sebagai aib, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, pelajar lebih memilih menghindari risiko daripada menghadapinya.

Mengembalikan Daya Tahan Belajar

Menghadapi situasi ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kritik terhadap generasi muda, tetapi refleksi bersama tentang bagaimana kita membangun ekosistem belajar. Ketahanan intelektual tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari proses yang menuntut usaha, kesabaran, dan keberanian untuk gagal.

Karena itu, penting untuk mengembalikan makna belajar sebagai proses, bukan sekadar hasil. Pelajar perlu diberi ruang untuk mengalami kesulitan tanpa langsung dihakimi. Mereka perlu dilatih untuk bertahan, bukan hanya untuk berhasil. Di sisi lain, sistem pendidikan juga perlu bergeser, dari yang hanya menilai hasil akhir, menjadi yang menghargai proses berpikir.

Pada akhirnya, potret rapuhnya generasi muda bukanlah vonis, melainkan peringatan. Di tengah kemudahan yang semakin melimpah, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih mendasar, yakni daya tahan untuk berpikir, bertanya, dan terus belajar. Dan tanpa itu, pendidikan hanya akan menghasilkan generasi yang tahu banyak hal, tetapi tidak cukup kuat untuk memahaminya secara mendalam.

 

ChatGPT Image Apr 26, 2026, 09_37_04 PM_095121

Hidup itu Absurd, Jangan Lari Darinya

Oleh: Lili Rahayu Usfatun Khasanah

“Hidup itu absurd, jangan lari darinya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan ketegangan yang dalam antara harapan manusia dan kenyataan dunia. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup seharusnya punya arah yang jelas, makna yang tegas, dan akhir yang bisa dipahami. Namun, seiring waktu, kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan: usaha tidak selalu berbuah hasil, doa tidak selalu segera terjawab, dan kebaikan tidak selalu dibalas setimpal. Di titik inilah absurditas muncul sebuah jarak antara apa yang kita cari dan apa yang dunia berikan.

Filsuf seperti Albert Camus menyebut absurditas sebagai kondisi dasar manusia. Kita adalah makhluk yang haus makna, tetapi hidup di semesta yang tidak selalu menyediakan jawaban. Dalam pandangan ini, absurditas bukanlah kesalahan yang harus diperbaiki, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. Masalahnya bukan pada dunia yang tidak masuk akal, tetapi pada harapan kita yang terlalu ingin segala sesuatu menjadi masuk akal.

Namun, menghadapi absurditas tidak berarti menyerah. Justru sebaliknya, di sanalah letak kebebasan manusia. Ketika tidak ada makna yang diberikan secara pasti, manusia memiliki ruang untuk menciptakan maknanya sendiri. Ini bukan tugas yang ringan. Ia menuntut keberanian untuk tetap berjalan meski arah tidak sepenuhnya jelas, untuk tetap mencinta meski tidak ada jaminan, dan untuk tetap berbuat baik meski hasilnya tidak selalu terlihat.

“Jangan lari darinya” berarti tidak menghindar dari kenyataan pahit, tidak menutup mata terhadap ketidakpastian, dan tidak berpura-pura bahwa hidup selalu rapi. Lari dari absurditas bisa berarti mencari pelarian yang semu entah dalam ilusi, penyangkalan, atau harapan-harapan instan yang rapuh. Tetapi menghadapi absurditas berarti berdiri tegak di tengah ketidakjelasan, sambil tetap memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh.

Di sinilah hidup menemukan martabatnya. Bukan karena ia selalu bermakna, tetapi karena manusia terus berusaha memberi makna. Dalam pekerjaan sehari-hari, dalam hubungan sederhana, dalam pengorbanan kecil yang sering tak terlihat semua itu adalah bentuk perlawanan terhadap absurditas. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan seluruh jalannya hidup, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita menjalaninya.

Akhirnya, menerima absurditas bukan berarti kehilangan harapan. Justru sebaliknya, harapan menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi bergantung pada kepastian, melainkan tumbuh dari keberanian. Hidup tetap dijalani, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena kita memilih untuk tidak menyerah pada ketidakjelasan itu.

Maka, hidup memang absurd. Namun, jangan lari darinya. Hadapilah, hiduplah di dalamnya, dan di sanalah perlahan, dalam sunyi dan kesadaran makna itu akan kita ciptakan sendiri.

Tentang Penulis

Lili Rahayu

Lili Rahayu Usfatun Khasanah, merupakan alumnus Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, sekaligus lulusan Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia tengah belajar menjalani perannya sebagai “Ibu” untuk dua buah hatinya: Ali dan Alia.

 

Wanita berhijab dengan buku bercahaya (1)

Menebar Cahaya Ilmu: Perjalanan Mahasantri Menuju Puncak Pendidikan

Oleh: Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Sebagai seorang Mahasantri, aku menyadari bahwa Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan. Aku memilih untuk terus belajar, tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa. Aku terinspirasi oleh Abah Roqib, Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, yang selalu menekankan pentingnya “Sinau Terus Sundul Langit”, tiada hari tanpa tambah Ilmu, belajar tanpa henti hingga mencapai puncak Ilmu.

Pendidikan adalah sarana dimana manusia belajar bagaimana menjalani hidup. Secara teoritis,  pendidikan  diartikan  sebagai  usaha  sadar  yang  dilakukan  oleh  keluarga, masyarakat,  dan  pemerintah  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran,  dan  pelatihan. Kegiatan tersebut berlangsung di lembaga formal, informal, dan nonformal dan berlanjut sepanjang hidup seseorang. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan individu-individu yang  cerdas  secara  intelektual,  emosional,  dan  spiritual  (IQ,  EQ,  dan  SQ)  agar  mampu mengaplikasikan ilmu  yang diperolehnya  dalam berbagai  lini kehidupan  secara dinamis untuk masa depan.

Tahukah kamu?, berdasarkan penelitian genetika, menunjukan bahwa kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh gen yang diturunkan dari Ibu. Hal ini karena kromosom X yang berperan penting dalam fungsi otak dimiliki dua buah pada Perempuan, sehingga kemungkinan menurunkan gen yang memengaruhi IQ lebih besar dari pihak ibu dibandingkan ayah, kecerdasan turun temurun sekitar 40%-60% sisanya bisa dari faktor eksternal seperti lingkungan, Pendidikan, kasih sayang dan lain sebagainya.

Seorang Perempuan yang berpendidikan akan dapat membesarkan generasi yang berpendidikan dalam rumah tangganya karena ia akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Cara seorang Ibu dalam memberikan pendidikan pertama bagi anak-anaknya akan memiliki dampak yang signifikan terhadap apakah anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sukses.

Ketika seorang Perempuan memilih untuk terus belajar, sejatinya ia sedang menanam benih yang tak hanya tumbuh untuk dirinya sendiri. Ia sedang mempersiapkan masa depan, membangun fondasi kecerdasan yang kelak hidup dan berdenyut dalam diri anak-anaknya. Sebab dari Rahim seorang Ibu, bukan hanya kehidupan yang lahir, tetapi juga cara berpikir, cara memandang dunia, dan keberanian untuk bermimpi.

Perempuan yang mencintai Ilmu sedang menciptakan generasi yang kuat akal dan jiwanya. Pengetahuannya akan menjadi doa yang diam-diam bekerja, sikap belajarnya akan menjadi teladan yang tertanam tanpa paksaan. Anak-anak yang tumbuh di dekat Perempuan pembelajar akan belajar bahwa hidup bukan sekadar menjalani, tetapi memahami, bertanya dan terus berkembang.

Jika kecerdasan anak berasal dari ibunya, maka perjuangan Perempuan hari ini bukanlah hal kecil. Perempuan yang terus bertumbuh bukan hanya sedang menyelamatkan dirinya, tapi juga sedang membangun fondasi bagi generasi yang lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih penuh cinta. Setiap ilmu yang dipelajari, setiap air mata yang berhasil dikuatkan, adalah warisan tak terlihat untuk masa depan. Karena di balik Perempuan yang terus belajar, ada dunia yang sedang ia bentuk perlahan, dalam diam, tanpa banyak pengakuan. Dan mungkin hari ini terlihat biasa saja, hanya seorang Perempuan yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Padahal sesungguhnya, ia sedang menulis arah masa depan dengan pikirannya, dengan kekuatannya, dengan segala hal yang ia pilih untuk tidak menyerah. Karena satu perempuan yang bertumbuh, tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga arah dunia yang akan datang.

Kita semua selamanya adalah seorang pembelajar. Karena, hanya dengan Ilmu semua persoalan yang terjadi bisa diselesaikan. Pada akhirnya, puncak dari ilmu bukanlah kekaguman orang lain, melainkan ketundukan yang tenang. Belajar menunduk, bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan batin yang sadar bahwa semua ini titipan. Dari banyaknya jenis warisan, warisan paling mahal dan satu-satunya warisan yang tidak akan diperebutkan adalah Pendidikan. Mari terus belajar, terus tumbuh, dan menerangi dunia dengan Ilmu.

Tentang Penulis

Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Nisrina Tuhfatul Azizah adalah seorang santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Saat ini ia sedang menempuh Studi Doktoral jurusan Studi Islam di Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dengan konsentrasi pada Ekonomi Islam. Sebelumnya, ia menyelesaikan Pendidikan S-1 pada Program Studi Ekonomi Syariah dan S-2 Program Studi Magister Ekonomi Syariah di almamater yang sama. Selain menjadi seorang akademisi, Nisrina juga mulai aktif di dunia literasi dan kepenulisan. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @nisrina_azizahh.

 

Mencari harapan di tengah kenyataan

Apakah Lulusan UIN Sulit untuk Mencari Kerja? Membaca Atas Realitas Sosial

Oleh: Farraz Azzahy Setiaji

Belakangan ini, isu liar yang menyangkut kampus keagamaan (sebut saja UIN) menjadi perbincangan hangat. perbincangan ini di fokuskan kepada pertanyaan mendasar, apakah lulusan UIN susah untuk mencari kerja? atau bahkan mudah mencari kerja?.

‎Asumsi tersebut dilatarbelakangi karena jurusan UIN yang semakin banyak dan ‘kurang’ relevan dengan kebutuhan industri sehingga kebanyakan mahasiswa khususnya dalam ranah akhir kesulitan mencari kerja karena jurusan mereka tidak ada dalam list kebutuhan industri tersebut.

‎Untuk itu, bagaimana kita seorang lulusan UIN membaca atas realitas tersebut? disini penulis akan sedikit membedah secara objektif maupun subjektif supaya perbincangan ini tidak stuck begitu saja.

‎Kemana sebenarnya arah UIN?

‎Sebelum masuk ke isu hangat diatas, kita bedah terlebih dahulu dengan pertanyaan mendasar, apa sih yang di pelajari dalam kampus UIN? apakah sebagai penyalur teori industri berkelanjutan atau terfokus pada keagamaan saja?

Pertama, dalam segi keilmuan, UIN tergolong kampus mumpuni yang terfokus pada dunia studi Islam, mengingat kompleksitas Islam yang sangat luas maka diperlukan ketajaman berpikir dan memecahkan masalah pada masyarakat awam. posisi UIN disini menjadi penting, mengapa penting? disatu sisi untuk melestarikan keilmuan Islam, disatu sisi yang lain berfokus terhadap pemecahan masalah dalam bidang agama yang tergolong rumit.

contoh, masyarakat kesulitan untuk memahami kandungan Al-Quran, disini UIN khususnya prodi tafsir menjawab kesulitan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami serta mengarahkan masyarakat supaya tidak salah tafsir. hal ini lah yang menjadi pembeda antara UIN dan kampus yang lain.

Kedua, jika dibandingkan dengan PTN jelas berbeda arah keilmuan, setiap kampus pasti memiliki alasan dibukanya jurusan tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. apakah UIN penyalur industri? jawabannya mungkin iya, (untuk saat sekarang) karena kurun waktu perkembangan UIN tidak hanya dilihat dari agamanya saja, melainkan dapat mengintegrasikan ilmu yang lain seperti, sosial-humaniora, informatika, Ilmu sains (kimia, fisika, biologi, matematika) mulai bermunculan. integrasi tersebut lah yang menjadikan alasan UIN ‘mampu’ menjawab kebutuhan industri masa kini.

Lalu, apakah stigma ‘sulit mencari kerja’ terus menempel pada kampus UIN?

‎apabila dilihat dari segi objektif, banyak juga lulusan PTN maupun PTKIN yang sama-sama sulit mencari kerja. penulis melakukan wawancara sederhana terhadap salah satu aktivis-akademis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia memberikan pernyataan terkait isu ini meliputi;

kemungkinan pertama, asumsi diatas tepat, secara objektif, bukan hanya lulusan UIN, namun kampus umum yang memiliki segudang prestasi dan ‘nama’ baik di Indonesia juga tidak bisa menjamin. Hal ini di pengaruhi oleh kesiapan mahasiswa terhadap dunia kerja. Semakin sering berlatih dan mencari peluang, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap mahasiswa ntah dari kampus terbaik maupun biasa saja, juga mampu berkecimpung di dunia kerja.

kemungkinan kedua, asumsi diatas kurang tepat, setiap kampus memiliki kegelisahan akademik sendiri, memiliki kekhasan masing-masing. Kampus UIN cenderung melakukan pemecahan masalah dari sudut pandang agama, sedangkan kampus umum cenderung kepada pemecahan masalah secara sosial, sains dan humaniora.

Setiap kampus juga mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat serta dimensi industri dengan mengintegrasikan keilmuan sesuai dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kembali lagi kepada diri mahasiswa, siap untuk menerima perkembangan tersebut atau justru stuck terhadap dinamisnya dunia.

Bagaimana solusinya?

Mungkin solusi ini tidak bisa memberikan sesuatu yang konkrit, namun saran ini mungkin bisa diterima oleh beberapa mahasiswa terutama kecemasan-kecemasan kesulitan mencari kerja.

Pertama, tentukan arah yang jelas, hal ini penting sebagai pondasi utama dalam belajar di dunia perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa masuk terhadap jurusan tersebut masih seringkali kebingungan menentukan arah sehingga menyesal di kemudian hari.

Kedua, asah soft skill sejak masuk kampus. Kampus adalah ladang yang sangat luas dan peluang yang sangat banyak. Sangat disayangkan ketika mahasiswa diberikan privilege untuk masuk dalam dunia perkuliahan tidak bisa memanfaatkan hal tersebut.

Ketiga, menghidari kecemasan berlebihan. Kebanyakan mahasiswa tidak siap untuk bekerja faktor utama adalah rasa ‘cemas’ padahal untuk mendapatkan pekerjaan harus disiapkan, dicoba secara berkala serta selalu melihat peluang yang tersedia.

Dengan solusi diatas, jika diterapkan mungkin stigma mahasiswa UIN ‘sulit’ cari kerja hanyalah sebatas asumsi belaka, tidak salah kampus memiliki banyak jurusan, semua tergantung diri seorang mahasiswa, apakah siap kita sebagai lulusan UIN untuk bekerja? Atau kita terus menyalahkan keadaan, padahal yang menjadi masalah utama adalah kemalasan kita dalam mencari peluang di kampus UIN yang besar.

Akhir kata, semoga dengan tulisan ini, penulis berharap kepada pembaca dapat merefleksikan diri, asumsi judul diatas mungkin hanya sebatas ‘angin’ belaka. Kita diberi privilege lebih dan dimanfaatkan secara baik dan bijaksana.

 

Daftar Pustaka

Artikel; https://uinbanten.ac.id/stigma-atau-realita-menimbang-posisi-lulusan-uin-iain-di-dunia-kerja/

Wawancara dengan salah satu aktivis-akademis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Artikel: https://id.quora.com/Apakah-lulusan-prodi-umum-di-UIN-susah-dapet-kerja

Tentang Penulis

Farraz Azzahy Setiaji

Farraz Azzahy Setiaji adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam perjalanan intelektual, menekuni pada bidang studi islam dan hermeneutika Al-Qur’an. Pernah menjuarai kompetisi ilmiah nasional mahasiswa ushuludin (KINMU 2025) dan perlombaan artikel lainnya. Penulis dapat dihubungi via,  Email: farrazazzahyy@gmail.com , Telp. 085226271268.