ChatGPT Image 21 Jun 2026, 23.11.21

Abah: “Tak Kancani Sukses”

Oleh : Putri Azkiya

Suasana Masjid Pesma An Najah Purwokerto malam itu, Kamis 18 Juni 2026, terasa begitu sejuk dan hening. Getaran do’a setelah istighosah dan tahlil masih menyisakan kekhidmatan di hati kami para santri. Di depan kami, seseorang yang berwibawa, berilmu dan sangat kami takdzimi, beliau K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang akrab kami sapa Abah, mulai memberi nasihat kepada para santri.

Bukan sekadar teori, Abah menyampaikan nasihat-nasihatnya melalui cerita perjalanan hidup beliau yang nyata dan inspiratif. Sesekali, suasana yang serius pecah oleh gurauan khas beliau yang mengundang tawa namun tetap santun-membuat nasihat yang disampaikan terasa begitu dekat dengan keseharian kami. Malam itu, Abah menekankan tentang “Keberanian dan Tekad yang Kuat”. “ Banyak orang ingin sukses tapi tidak mau menapaki jalan menuju sukses itu sendiri. Kesuksesan tidak datang sendiri, melainkan harus dijemput dengan usaha nyata, konsistensi dan tekad yang kuat. Orang sukses itu tidak takut gagal” begitu pesan beliau.

Salah satu bukti nyata keberanian Abah adalah ketika beliau masih semester satu. Dengan sepeda ontel, beliau menempuh jarak kurang lebih 9 KM berboncengan, menuju UGM demi menghadiri sebuah acara. Abah juga bercerita, kala itu satu-satunya sepeda ontel yang terparkir di UGM adalah milik beliau-karena semua nya sudah memakai motor yang bagus-bagus. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat dan tekadnya untuk tetap hadir di acara tersebut. Tidak hanya berhenti disitu, keberanian Abah ditunjukan saat MC mempersilahkan salah satu perwakilan tamu undangan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dengan memakai Bahasa Arab. Sela satu menit dua menit tidak ada satupun yang berani maju. Ditengah banyaknya audiens yang rata-rata dari semester 9 dan 11 saling menatap ragu, Abah dengan gagah berani penuh percaya diri maju ke podium untuk menyampaikan pidatonya-meski kala itu beliau masih semester satu. “Tidak ada kesalahan dalam berbicara, yang ada, kesalahan itu saat ujian/diujikan”, begitu kalimat yang disampaikan guru nya sehingga menjadikan beliau berani mencoba untuk berbicara didepan umum dengan lantang dan percaya diri.

Keberanian ini pulalah yang membuat Abah ditawari jabatan di berbagai organisasi sebagai orang pertama-ketua. Namun beliau lebih memilih menolak. Karena beliau sadar akan totalitas “..kalau saya jadi orang pertama (ketua) ada kemungkinan fokus mondok di Krapyak menjadi terganggu. Sedangkan saya bertekad bagaimanapun caranya harus tetap ngaji dan ngabdi di Krapyak sampai lulus. Aktivis boleh, tapi yang penting tidak melupakan ngaji dan mondoknya”. Begitulah prinsip yang dipegang Abah. Tekad untuk lulus sebagai santri yang mumpuni jauh lebih besar daripada sekedar jabatan. Karena bagi Abah sukses bukan hanya soal jabatan, tapi soal amar makruf nahi mungkar, berani menjadi pintar, berani menjadi hebat. Lebih jauh lagi, Abah mengingatkan bahwa keberaniaan kita untuk sukses bukan sekedar untuk diri sendiri, melainkan untuk membahagiakan orang tua. Karena kesuksesan adalah cahaya kebahagiaan bagi orang tua, bahkan bagi mereka yang sudah berada di alam barzah. “Duh senenge Ya Allah anakku dadi wong sukses, berkah bermanfaat”.

Dalam nasihatnya, Abah menekankan berpikir positif. Bahwa segala sesuatu yang diusahakan tidak pernah sia-sia. Beliau memberikan logika yang membesarkan hati: orang yang mencari memiliki dua kemungkinan: yaitu mendapatkan apa yang dia cari dan mendapatkan pengalaman berharga saat proses mencari. Begitupun saat berkompetisi (ikut lomba): jauh lebih baik ikut lomba meski belum menang, daripada menjadi orang yang tidak pernah menang karena tidak pernah ikut lomba. Kedua logika tersebut sama-sama memiliki harapan-peluang untuk mendapatkan, peluang untuk menang. “…setidaknya punya harapan, hidup ngga punya harapan itu untuk apa? Jadilah orang yang berani seperti Abah,” Begitu pesan beliau untuk menyalurkan semangat dan energi positif kepada kami para santrinya. Seraya mengingatkan kami agar selalu memiliki prasangka (umpama) yang positif seperti keyakinan untuk sukses.

Sebagai penguat hati kami dalam berjuang, Abah selalu memberikan penyemangat yang ikonik dan selalu menjadi pegangan kami sebagai santrinya “Tak Kancani Sukses”( Saya temani kalian menuju sukses) adalah sebuah janji tulus seorang guru yang tidak pernah membiarkan santrinya berjuang sendirian dalam meraih kesuksesan.

Menjelang akhir wejangan, suasana masjid kembali membara saat Abah melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membakar semangat dengan suara lantang: “Berani sukses? Berani bangun sebelum subuh? Berani jamaah di baris paling depan? Berani menjaga kebersihan komplek? Berani ikut lomba?”. Kami serentak menjawab “BERANI!!” dengan kompak, menggetarkan ruangan dan semangat di dalam jiwa sebelum akhirnya ditutup dengan doa khas beliau. Setelah iqomah berkumandang dan shalat isya berjamaah usai, kami menutup malam itu dengan bersalaman-santri putra dengan Abah dan santri putri dengan Umi. Dan kami pun pulang ke komplek masing-masing dengan tertib seraya membawa pulang janji hangat yang selalu menguatkan kami: “Tak Kancani Sukses”. Beliau-Abah akan setia menemani perjalanan kami menuju puncak kesuksesan.

Tentang Penulis

Putri Azkiya merupakan mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Selain menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, ia juga tengah menempuh pendidikan non formal di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.

ChatGPT Image 18 Jun 2026, 00.34.01

Mencari Diri di Balik Identitas Santri

Oleh: Zarifa Izatul Jannah

Ada momen yang hampir semua santri mahasiswa pernah mengalaminya, meski jarang ada yang mau mengakuinya dengan lantang: berdiri di depan cermin sembari bertanya, ini sebenarnya aku, atau karakter yang sedang aku mainkan?

Pertanyaan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ia datang perlahan, mungkin ketika kamu sedang tertawa lepas di kantin kampus lalu tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang terasa “tidak sesuai”. Atau ketika kamu ingin berpendapat keras dalam diskusi kelas, tetapi ada suara kecil di kepala yang berbisik: santri tidak begitu. Atau ketika kamu pulang ke kamar, duduk sendiri, dan merasa seperti orang yang seharian memakai baju yang ukurannya tidak pas.

Tekanannya nyata. Dan ia datang dari dua arah sekaligus.

Di satu sisi ada bayangan “santri ideal”, sosok yang selalu tenang, lisannya terjaga, prioritas lurus, tidak pernah ragu ataupun goyah. Sosok yang entah dibentuk dari nasihat, ekspektasi keluarga, atau akumulasi tatapan orang-orang sekitar yang seolah-olah terus mengukur *sudah cukup santri kah kamu hari ini?*

Dan di sisi lain, ada dirimu yang sesungguhnya, yang terkadang memiliki rasa malas, kadang ragu, kadang ingin melakukan hal-hal yang “tidak seharusnya?”, kadang bertanya tentang sesuatu yang terasa tabu untuk dipertanyakan. Dirimu yang tidak selalu bisa hidup di dalam cetakan yang disiapkan orang lain.

Dan di antara dua sisi itu, banyak santri memilih jalan yang paling aman. Berpura-pura.

Berpura-pura sudah selesai dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Berpura-pura nyaman. Berpura-pura bahwa santri ideal dan diri sendiri adalah hal yang sama. Padahal jauh di dalam, keduanya masih saling tarik menarik setiap hari.

Yang tidak banyak dibicarakan adalah bahwa ketegangan ini sebenarnya bukan masalah. Ia adalah tanda bahwa kamu sedang bertumbuh.

Identitas tidak datang dalam bentuk jadi. Ia bukan seragam yang tinggal dikenakan, bukan gelar yang cukup disandang, bukan label yang sekedar ditempel.
Identitas adalah sesuatu yang dipahat dari gesekan antara nilai yang diajarkan dan pengalaman yang dialami sendiri, antara siapa yang diharapkan orang dan siapa yang pelan-pelan kamu kenali dalam dirimu sendiri.

Menjadi santri yang autentik bukan berarti harus menjadi yang paling sempurna. Tetapi ia berarti menjadi santri yang jujur dalam segala hal, jujur dalam pergulatan, tentang keraguan, tentang bagian-bagian diri yang sedang berproses.

Dan mungkin, justru di situlah letak keberanian yang sesungguhnya. Bukan pada mereka yang terlihat paling tenang, tetapi pada mereka yang tetap memilih untuk tumbuh meski dari dalam dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Tentang Penulis

Zarifa Izatul Jannah merupakan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Selain menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, ia juga tengah menempuh pendidikan non formal di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.

 

ChatGPT Image 13 Jun 2026, 01.14.06

Film Pesta Babi: Krisis Ekoteologi di Tanah Ibu Pertiwi

Oleh: Farraz Azzahy Setiaji

Sinema dokumenter di Indonesia telah lama bertransformasi menjadi tempat kritik sosial yang tajam, melampaui fungsi tradisionalnya yang sekadar merekam realitas. Di tengah derasnya arus modernisasi dan ambisi pembangunan nasional, karya-karya dokumenter investigatif hadir sebagai cermin yang memantulkan luka-luka ekologis yang sering kali luput dari narasi utama media arus utama. Salah satu karya yang memicu diskursus publik di pertengahan tahun 2026 adalah film dokumenter berjudul Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film ini diproduksi melalui kolaborasi lintas gerakan antara Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, Jubi.id, Greenpeace Indonesia, dan LBH Papua Merauke, serta disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono bersama antropolog Cypri Dale.

Secara simbolik, film Pesta Babi menyoroti realitas pahit yang dihadapi oleh masyarakat adat di Papua Selatan terutama suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang ruang hidupnya terancam oleh proyek skala besar swasembada pangan (food estate), perkebunan sawit, dan industri tebu. Di balik judulnya yang satir, ‘Pesta Babi’ menjadi simbolisasi dari sebuah ironi: bagaimana ritual, tradisi, dan kekayaan alam yang seharusnya dikelola secara sakral oleh masyarakat adat justru ‘dipesan’ dan dieksploitasi demi syahwat kapitalistik segelintir elite penguasa dan korporasi.

Eksploitasi masif ini menciptakan krisis ekologis dan kultural yang akut di atas tanah ulayat. Jika ditinjau dari kacamata akademis, apa yang digambarkan dalam film tersebut bukan sekadar isu pelanggaran hak asasi manusia atau sengketa agraria biasa, melainkan sebuah bentuk nyata dari krisis ekoteologi. Tulisan sederhana ini bertujuan untuk membedah krisis ekoteologi di Tanah Ibu Pertiwi melalui lensa film dokumenter Pesta Babi, serta menganalisisnya menggunakan pendekatan konseptual Hifdz al-Bi’ah (perlindungan lingkungan) dalam kerangka Maqashid al-Syari’ah (tujuan-tujuan hukum Islam).

Analisis Sinematik: Mengurai Gurita Korporasi dan Jeritan Ruang Hidup
Dalam film Pesta Babi, penonton disajikan data investigatif dan penelusuran lapangan yang memperlihatkan bagaimana hutan adat perlahan digunduli, sungai-sungai dicemari, dan hak-hak ulayat dipangkas demi kepentingan industri raksasa. Narasi film ini dibangun secara emosional dan faktual melalui kesaksian para tokoh lokal yang berdiri di garis depan perjuangan. Salah satunya adalah Yasinta Moiwend dari suku Marind Anim, yang dengan getir menyaksikan bagaimana hutan tempat mereka berburu dan meramu yang selama berabad-abad menjadi tumpuan hidup berubah wujud menjadi bentangan perkebunan monokultur yang dijaga ketat oleh aparat keamanan.

Tak kalah memilukan, kesaksian Vincent Kwipalo dari suku Yei memperlihatkan dimensi militeristik dalam perampasan lahan tersebut. Ia menemukan tanah milik marganya secara sepihak dipatok dengan papan pengumuman bertuliskan ‘Tanah Milik TNI AD’. Penolakan masyarakat adat terhadap pembongkaran hutan ini membawa mereka pada titik nadir pertahanan terakhir, yang meluas hingga ke pesisir Sungai Digoel. Film ini secara berani menguliti data kepemilikan dan afiliasi bisnis di balik megaproyek tersebut, menunjukkan dengan gamblang siapa saja aktor utama dan penerima manfaat (beneficial ownership) dari pengosongan ruang hidup di Papua Selatan.

Tragisnya, krisis yang digambarkan dalam film ternyata juga tercermin dalam realitas sosial distribusinya di dunia nyata. Sepanjang penayangannya di berbagai daerah di Indonesia pada medio Mei 2026, Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mencatat setidaknya terjadi 21 kali intimidasi serius dan pembubaran paksa terhadap acara nonton bareng (nobar) dan diskusi film Pesta Babi. Mulai dari pembubaran acara setelah tiga menit penayangan di salah satu universitas negeri di Mataram, hingga tekanan dari aparat keamanan di berbagai kota. Fenomena pembungkaman ini mengonfirmasi pesan utama film bahwa ada ketakutan kolektif dari pemegang kekuasaan apabila narasi kerusakan lingkungan dan ketidakadilan agraria ini meluas ke kesadaran publik.

Membaca Krisis Melalui Lensa Ekoteologi
Secara teologis, hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta adalah sebuah kesatuan yang utuh (holistik). Pemikir Muslim kontemporer seperti Seyyed Hossein Nasr sering kali menegaskan bahwa krisis lingkungan global pada dasarnya merupakan manifestasi eksternal dari krisis spiritual manusia modern. Ketika manusia melepaskan dimensi sakral dari dirinya, mereka juga mencabut kesucian dari alam semesta. Alam tidak lagi dipandang sebagai ‘ayat-ayat’ (tanda kebesaran) Tuhan yang harus dirawat, melainkan sekadar komoditas materialistis yang siap dikuras habis demi keuntungan finansial.

Krisis inilah yang disebut sebagai krisis ekoteologi. Bagi masyarakat adat di Papua, tanah dan hutan adalah ibu (Ibu Pertiwi) yang memberi kehidupan, tempat di mana spiritualitas leluhur dan identitas kultural mereka melekat. Ketika korporasi datang dengan buldoser atas nama pembangunan, mereka tidak hanya menebang pohon, tetapi juga memutus hubungan spiritual antara manusia dan penciptanya melalui pengrusakan alam. Eksploitasi hutan Papua dalam film Pesta Babi memamerkan keserakahan (israf) dan kerusakan di muka bumi (fasad fil-ardh) yang secara tegas dilarang dalam teks keagamaan. Allah SWT telah memperingatkan dalam Al-Qur’an:
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya…(QS. Al-A’raf [7]: 56).

Ketika fungsi ekologis bumi dirusak demi kepuasan sesaat sekelompok kecil manusia, maka hak-hak makhluk hidup lainnya termasuk generasi manusia masa depan telah dirampas. ‘Pesta Babi’ dalam konteks ini menjadi metafora bagi perilaku konsumtif dan eksploitatif yang rakus, yang mengorbankan masa depan ekosistem demi pesta pora ekonomi jangka pendek.

Hifdz al-Bi’ah sebagai Fondasi Maqashid kontemporer
Dalam tradisi hukum Islam klasik (fikih), terdapat rumusan konsep al-Dharuriyyat al-Khams (lima kebutuhan primer manusia) yang wajib dilindungi dalam kerangka Maqashid al-Syari’ah, yaitu: menjaga agama (hifdz al-din), jiwa (hifdz al-nafs), akal (hifdz al-aql), keturunan (hifdz al-nasl), dan harta (hifdz al-mal). Namun, merespons eskalasi kerusakan alam di era modern, para ulama kontemporer seperti Yusuf al-Qardhawi (melalui kitabnya Ri’ayat al-Bi’ah fi Syari’ah al-Islam) dan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) meluncurkan ijtihad transformatif dengan memasukkan Hifdz al-Bi’ah (perlindungan lingkungan) sebagai bagian integral dari tujuan syariat, bahkan menjadikannya prasyarat utama agar kelima kebutuhan primer lainnya dapat terpenuhi.

Hubungan dengan Hifdz al-Nafs (Menjaga Jiwa): Penggundulan hutan skala besar mengecoh siklus hidrologi, memicu bencana banjir, kekeringan, serta hilangnya sumber pangan alami. Ketika hutan Papua Selatan diubah menjadi industri monokultur tebu dan sawit, ketahanan pangan lokal runtuh. Tanpa lingkungan yang sehat, hak hidup manusia secara fisik terancam.

Hubungan dengan Hifdz al-Din (Menjaga Agama): Rusaknya alam menghilangkan sarana manusia untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta. Bagi masyarakat adat, kehancuran ruang hidup berarti hilangnya tempat-tempat sakral dan runtuhnya tatanan nilai moral yang selama ini menjaga harmoni sosial mereka.

Hubungan dengan Hifdz al-Mal (Menjaga Harta): Hutan dan tanah ulayat merupakan modalitas ekonomi lestari bagi masyarakat setempat. Konversi lahan secara paksa memindahkan kepemilikan aset kolektif rakyat menjadi milik segelintir korporasi, menciptakan pemiskinan struktural yang nyata.
Oleh karena itu, tindakan merusak lingkungan demi proyek ketahanan pangan yang salah sasaran seperti yang digambarkan dalam Pesta Babi merupakan pelanggaran berat terhadap prinsip Hifdz al-Bi’ah. Islam menuntut manusia menjalankan peran sebagai khalifah fil-ardh (wakil Tuhan di bumi) yang bertugas mengelola dan merawat alam dengan prinsip keadilan, kesederhanaan, dan tanggung jawab, bukan sebagai penakluk yang destruktif.

Kesimpulan
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita berhasil membuka tabir krisis ekoteologi yang sedang berlangsung di hilir pembangunan Indonesia, khususnya di tanah Papua Selatan. Pengrusakan hutan adat atas nama proyek swasembada pangan mencerminkan cara pandang antroposentrisme yang akut, di mana alam diposisikan semata-mata sebagai objek eksploitasi tanpa nilai sakral.

Melalui kacamata ekoteologi Islam dan prinsip Hifdz al-Bi’ah, krisis ini menegaskan perlunya rekonstruksi radikal terhadap kebijakan pembangunan nasional. Menjaga nafas Ibu Pertiwi bukan lagi sekadar pilihan etis atau gerakan moral sekunder, melainkan sebuah kewajiban teologis mutlak (fardhu) demi keberlangsungan hidup manusia dan alam. Negara dan korporasi harus menghentikan syahwat eksploitasi yang merampas ruang hidup masyarakat adat, karena merawat bumi adalah bentuk nyata dari menjaga kelangsungan syariat itu sendiri.

Daftar Pustaka
Link Film Pesta babi : https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=6QHHFc0KKpeHBfQq
https://www.researchgate.net/publication/365858705_Fiqh_Bi’ah_Urgensi_Teologi_Al-Quran
https://kupi.or.id/artikel/berita/seruan-ulama-perempuan-indonesia-terkait-pelestarian-alam-dan-pengelolaan-sampah-berkelanjutan
https://media.neliti.com/media/publications/337854-hakikat-pemikiran-seyyed-hossein-nasr-9bd9faed.pdf
https://ylbhi.or.id/informasi/siaran-pers/pelarangan-pemutaran-film-pesta-babi-adalah-pelanggaran-hukum-dan-tindakan-yang-mengangkangi-konstitusi/

IMG-20260611-WA0012

Satu Langkah

Oleh: Isnaeni Putri Azkiya

“Banyak orang gagal bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka terlalu takut dan ragu untuk memulai satu langkah pertama”.

Perjalanan ribuan mil di dunia ini, semua berawal dari satu langkah, langkah kecil, langkah pertama.Pernahkah kamu merasa dititik dimana jalan pulang pun terasa gelap, bahkan hilang? Kehilangan arah hanya untuk mencari tepat aman besinggah? Aku pernah disana.Saat dimana dunia terasa gelap gulita dan bangkit pun tampak mustahil.Tapi aku belajar satu hal: “kita tidak butuh peta besar untuk keluar dari kegelapan, kita hanya butuh satu langkah, langkah kecil, langkah pertama”.Dititik terendah itu keberhasilanya adalah “cukup bertahan hidup”.Dengan proses yang panjang, jalan yang curam, permukaan yang tak selalu rata, tikungan yang berliku tajam dan semuanya yang terasa gelap gulita ternyata mulai bisa memudar, menempis perlahan karena satu tekad “aku harus melangkah meski hanya satu langkah”.

“Apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan”.kata yang begitu sederhana namun tersirat makna yang mungkin tak cukup mudah untuk sebagian orang mengahadapinya.Dan itu termasuk aku.Menurut kalian kapan masa tersulit yang pernah dialami dalam hidup ini? Apakah saat kalian gagal? Apakah saat kalian merasa tertinggal dengan pencapaian orang lain? Atau apakah saat kalian merasa gagal sebelum gagal? Setiap individu memiliki definitifnya sendiri dalam memaknai masa tersulit dalam hidupnya.Namun definitif yang kupakai adalah “Ketika aku ragu, dan itu meragukan diriku sendiri”.

Banyak ribuan peristiwa yang terjadi dalam hidup ini.Baik itu disekitar kita maupun yang menimpa kehidupan kita.Terkadang peristiwa-peristiwa itu datang tak diundang, terjadi tanpa permisi, terlaksana tanpa rencana, berjalan tanpa persetujuan.Namun semua itu kembali lagi bahwa hakikatnya yang memiliki kendali penuh atas diri kita, keputusan yang dibuat serta langkah yang diambil ya diri kita sendiri. Diri kita yang harus bertanggung jawab dalam menghadapi itu semua.Terima maupun tidak? Pada intinya kita!.Lantas bagiamana jika diri kita sendiri saja meragukan nya? Bagimana dengan orang lain? Disitulah letak kesulitanya.Kesulitan bukan dalam menghadapi besarnya masalah, namun kesulitan dalam menerima diri, memeprcayai diri, serta meyakinkan diri.

Dalam upaya mengambil kendali penuh itu, aku teringat kembali pada salah satu bait Kitab Al-Umrithi ke 17 yang telah kupelajari dulu dipondok pesantren-tentang kekuatan tekad (himmah).Satu bait yang tak panjang, namun makna nya mendalam.

إذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ * وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
“Karena kemuliaan kaum muda tergantung tekadnya. Barang siapa tidak mempunyai tekad yang kuat maka akan gagal meraih keberhasilanya”.

Begitulah bait yang hingga saat ini menjadi salah satu prinsip dalam hidupku.Tekad inilah yang menjadi mesin penggerak bagiku; sebuah keyakinan bahwa meski aku tidak tahu apa yang ada di depan, kemauan untuk mencoba, memulai, berusaha dan melangkah adalah kunci awal yang paling sakral.Dan semua itu kembali lagi pada: satu langkah, langkah kecil, langkah pertama.

Ribuan momentum yang telah terjadi dalam kehidupan ini membuatku belajar akan banyak hal; termasuk bagaimana caraku memaknai kehidupan serta bagaimana aku harus menghadapinya.Prinsip hidupku pun mulai berubah.Aku mulai memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini layak untuk mendapatkan ruang dipikiranku, perhatian dalam pandanganku serta tempat singgah dalam kehidupanku.Aku belajar dan mulai memahami apa yang dalam kendaliku dan apa yang diluar kendaliku.Karena kebahagian sejati datang dari hal-hal yang bisa kita kendalikan.Baik tidaknya hidup kita hanya bisa dinilai dari hal-hal dibawah kendali kita-begitu kurang lebih intisari yang kudapat setelah membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.

Yang cukup aku pikirkan dan usahakan adalah apa yang bisa aku lakukan hari ini-presepsi, reaksi, dan eksekusiku.Selebihnya, seperti kegagalan dimasa lalu atau ketidakpastian di masa depan, aku serahkan sepenuhnya pada jalanya takdir; pastinya setelah ikhtiar yang kubisa sudah kulakukan sepenuhnya.Kegagalan dan kesalahan masa lalu memang tidak bisa diubah, tidak bisa dihapus. Namun, kita masih bisa memperbaikinya dan itu tanpa harus bergantung pada validasi opini orang lain.Karena sekali lagi, opini orang lain termasuk dalam hal diluar kendali kita.Bagiku fokus pada hal-hal yang memang dalam kendali kita, membuat langkah terasa lebih ringan.Karena aku tidak lagi terbebani untuk “mencapai garis finish secepat mungkin”,tidak pula terbebani dengan statement “bahwa aku harus sempurna dalam presepsi mereka” melainkann cukup konsisten melakukan “satu langkah, langkah kecil, langkah pertama” setiap hari.

Berbekal prinsip tekad yang kuat dan kendali diri inilah yang akhirnya membawaku ke ttitk produktif saat ini.Bisnis yang sedang aku rintis sekarang, meskipun masih dalam skala kecil-kecilan-menjadi distributor, reseller dan sedang mencoba juga menjadi founder-adalah laboratorium tempatku mempraktikan filosofi “satu langkah” tersebut.Aku tidak lagi trauma gagal, tidak lagi ragu memulai, tidak lagi takut mencoba; hal-hal baru yang mungkin belum pernah kucoba dalam hidup ini.Karena bagiku kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, dan itu tandanya aku sedang dalam proses belajar, proses tumbuh dan proses membentuk diri menjadi insan yang lebih baik-terutama menjadi seorang hamba yang baik di hadapan Tuhan nya.

Kalian tau? orang yang masuk ke jurang curam, pilihanya hanya ada dua; mati tenggelam disana atau berusaha naik keluar dari curamnya jurang itu.Mungkin dulu satu langkah ku saat itu hanya untuk bertahan hidup; agar aku tidak tenggelam.Namun sekarang satu langkah itu tak hanya sebagai simbolik bertahan hidup-melainkan untuk melanjutkan hidup mewujudkan mimpi-mimpi, memberi kehidupan yang lebih baik, serta membahagiakan keluarga-terutama kedua orang tuaku.Kini makna satu langkah itu adalah untuk mendaki perbukitan mimpi besar menuju mimpi yang sudah lama kutanam; menjadi seorang pengusaha sukses yang berkah manfaat. Aamiin.

Mungkin bagi sebagian orang melihat bisnisku hanya sebagai produktivitas belaka-atau bahkan hanya mengira sebagai penggugur kewajiban tugas kuliah karena sesuai prodiku-ekonomi syariah.Namun jauh dari semua itu, bagiku setiap peluh dalam bisnis kecil ini adalah langkah awal yang mendekatkanku pada gerbang suci Baitullah-Allahummasoli’ala sayyidina Muhammad. Karena aku sadar sebagai anak bungsu dari dua bersaudara aku adalah harapan terakhir keluarga, dan ada harapan besar yang dititipkan dipundakku. Dengan tekad yang kuat, dengan satu langkah, langkah kecil, langkah pertamaku dihari ini adalah janji untuk membawa orang tuaku-dan juga aku bersujud di tanah suci-Allahummasolli’ala sayyidina Muhammad.

Kini, langkah-langkah kecilku mulai menemukan ritmenya dalam dunia bisnis.Aku yang dulu sempat tenggelam, hilang arah, kini perlahan mulai produktif lagi-satu langkah.Bukan karena jalanya tiba-tiba rata, bukan juga karena tikungan tajamnya sudah tidak ada, tapi karena aku punya tekad dan alasan yang kuat untuk tidak lagi berhenti.Cukup perlahan, konsisten, tapi pasti.Aku mendaki perbukitan mimpi besar itu-bukan hanya sebagai pencapaian pribadi-tapi tentang baktiku sebagai anak bungsu-sebagai harapan terakhir keluarga.Setiap lika liku dalam bisnis ini aku hadapi dengan prinsip “bahwa aku pemegang kendali penuh atas presepsi, reaksi, dan eksekusi ku sendiri”.

Saat lelah mulai menyapa, hingga niat awal sempat ikut tergoda-aku mengingat kembali tujuanku-menyelesaikan pendakian diperbukitan mimpi besar itu dan keinginan mulia menghaji umrohkan kedua orang tua-beserta diriku sendiri.Keyakinan dan alasan inilah yang membuat “satu langkah” terasa begitu bertenaga.Aku ingin membuktikan pada dunia-terutama pada diriku sendiri, bahwa dari titik terendah sekalipun, satu langkah yang konsisten bisa membawamu terbang mewujudkan mimpi yang tinggi.

Kini satu langkah yang dulu kuambil hanya untuk bertahan hidup, menjelma menjadi detak jantung dari sebuah mimpi besar; menjadi pengusaha sukses yang berkah manfaat serta keinginann memuliakan orang tua menghantarkanya ke Baitullah.Dengan tekad yang kuat aku memilih untuk tidak meragukan diriku sendiri karena keraguan adalah beban yang menghambat perjalanan.Jangan menunggu siap, jangan mengandalkan peta besar tapi cukup mulai dari satu langkah hari ini.Biarkan ketulusan niatmu menjadi kompas yang menuntunmu menuju mimpi yang paling tinggi.Hari ini, apa satu langkah yang berani kamu ambil untuk dirimu dan orang-orang yang kamu cintai? Mulailah sekarang karena satu langkah jauh lebih berharga daripada seribu rencana yang hanya diam dikepala.Kamu tidak butuh peta besar, kamu hanya butuh keberanian untuk memulai.Melangkahlah, meski hanya satu langkah.Karena diujung langkah-langkah kecilmu ada keajaiban yang menunggu. Percayalah.

Tentang Penulis

(Isnaeni Putri A.)

Isnaeni Putri Azkiya adalah mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang memiliki minat besar dalam bidang bisnis, kewirausahaan, dan pengembangan diri. Sejak kecil, ia telah tertarik pada dunia usaha dan hingga kini aktif mengelola beberapa bisnis serta membangun jaringan reseller. Selain berwirausaha, Isnaeni juga gemar menulis sebagai sarana berbagi pemikiran, pengalaman, dan pembelajaran hidup. Baginya, setiap tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh, dan setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat membawa seseorang lebih dekat kepada mimpi dan tujuan hidupnya.

 

 

ChatGPT Image 11 Jun 2026, 00.10.18

Tamu yang Tidak Diundang dan Tidak Perlu Diundang

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Suara ketukan di pagar kayu itu berbeda dari ketukan biasanya.

Bukan ketukan Nenek Sarmi yang pendek dan langsung seperti orang yang sudah tahu akan masuk. Bukan ketukan Mas Rudin yang sopan dan sedikit ragu seperti orang yang tidak yakin apakah selamat datang berlaku untuknya. Bukan ketukan Bu Lastri yang keras karena ia selalu menganggap semua orang setengah tuli.

Ketukan ini lambat. Tiga kali. Dengan jeda yang terlalu panjang di antara masing-masing, seperti seseorang yang mengetuk bukan untuk memberitahu kehadirannya, tapi untuk menikmati fakta bahwa ia ada di sana.

Kakek Warso sedang memberi makan Jalu dan Warisno ketika mendengarnya. Ia tidak langsung menoleh. Ia selesaikan dulu menaburkan dedak, menggeser mangkok Warisno yang terlalu mepet ke mangkok Jalu, lalu baru berdiri dan memandang ke arah pagar.

Di balik pagar kayu itu berdiri seorang lelaki tua, kira-kira setua Kakek Warso, mungkin lebih tua dua atau tiga tahun, dengan tubuh yang lebih gemuk, kumis yang lebih tebal, dan topi pet hitam yang dipakai miring ke kanan dengan sudut yang tidak bisa terjadi secara tidak sengaja.

Kakek Warso memandangnya lama.

“Mampus aku,” katanya.

Lelaki tua itu tersenyum lebar. “Halo juga, War.”

Namanya Sujoyono. Tapi tidak ada yang memanggilnya begitu sejak 1987.

Semua orang memanggilnya Joyo, termasuk istrinya, termasuk anak-anaknya, termasuk cucunya yang masih empat tahun dan belum bisa mengucapkan nama panjang siapa pun. Joyo adalah nama yang cocok untuknya: pendek, langsung, tidak minta perhatian tapi selalu dapat perhatian.

Joyo dan Kakek Warso berteman sejak SMP, bukan karena mereka cocok, tapi karena bangku mereka berdekatan dan guru mereka pelit memindahkan tempat duduk. Selama tiga tahun mereka duduk berdampingan dan selama tiga tahun itu mereka mengembangkan persahabatan yang fondasinya adalah saling mengganggu dengan cara yang efisien.

Setelah SMP mereka berpencar. Joyo menikah, punya anak tiga, pindah ke kota sebelah, buka bengkel motor, bengkelnya tutup, buka warung, warungnya lumayan, pensiun dari warung, sekarang tinggal bersama anak bungsunya yang sabar.

Mereka bertemu lagi sesekali, di hajatan, di pertemuan keluarga yang kebetulan bercabang, di momen-momen yang tidak direncanakan. Setiap bertemu, percakapan mereka selalu dimulai dari titik yang sama persis dengan terakhir mereka bicara, seolah waktu di antaranya tidak pernah terjadi.

Joyo adalah satu-satunya orang yang tidak memanggil Kakek Warso dengan “Pak Warso.”

Ia memanggil “War.” Singkat. Tanpa embel-embel. Seperti memanggil seseorang yang tidak perlu dikasih hormat karena sudah kenal terlalu lama untuk masih berpura-pura.

Kakek Warso membuka pagar dengan ekspresi yang tidak berubah dari ekspresi sehari-harinya, datar, sedikit cemberut, seperti seseorang yang hidupnya sudah cukup dan tidak membutuhkan tambahan apa pun.

Joyo masuk sambil memandang sekeliling halaman dengan gaya seorang inspektur yang tidak diundang.

“Rumahnya masih jelek ya,” komentarnya.

“Kamu datang jauh-jauh buat bilang itu?”

“Tidak. Datang jauh-jauh karena anak saya minta saya keluar rumah. Katanya saya mengganggu. Saya bilang, siapa yang mengganggu siapa, itu rumah saya, tapi tidak ada yang mendengarkan orang tua sekarang. Jadilah saya ke sini.”

“Kenapa ke sini?”

“Karena kamu satu-satunya orang yang kondisi rumahnya lebih menyedihkan dari kondisi saya, jadi saya merasa lebih baik kalau ke sini.”

Kakek Warso memandangnya.

“Masuk,” katanya.

Mereka duduk di teras. Kakek Warso di kursi kayunya. Joyo di kursi plastik, ia duduk dengan cara yang segera membuat kursi plastik itu tampak seperti singgasana, karena Joyo memang punya bakat alami untuk tampak berkuasa di mana pun ia duduk.

Jalu memandang Joyo dari pagar dengan tatapan yang tidak bersahabat.

Warisno, yang belum punya preferensi soal tamu, hanya mematuk tanah.

“Itu ayammu?” tanya Joyo, menunjuk Jalu.

“Bukan, ayam tetangga yang nyasar.”

“Satu lagi?”

“Hadiah RT.”

“Kamu dapat hadiah ayam dari RT?” Joyo memandangnya dengan ekspresi antara kagum dan kasihan. “Hidupmu sudah di titik itu sekarang, War?”

“Hidupmu sudah di titik diusir dari rumah sendiri?”

Joyo mengangguk mengakui. “Imbang.”

Seperti yang sudah menjadi hukum alam di Gang Melati Nomor Tiga, Nenek Sarmi muncul dua belas menit setelah ada tamu di teras Kakek Warso. Mekanisme deteksinya tidak pernah dijelaskan dan tidak pernah ditanyakan.

Ia datang dengan dua gelas teh, yang kemudian ia pandang, lalu memandang Joyo, lalu kembali ke dapur Kakek Warso tanpa komentar, dan kembali lagi dengan tiga gelas.

“Ini siapa?” tanyanya kepada Kakek Warso sambil menyodorkan gelas.

“Joyo. Teman lama.”

“Teman baik?”

“Tidak,” kata Kakek Warso.

“Tidak juga,” kata Joyo bersamaan.

Nenek Sarmi memandang keduanya bergantian lalu duduk di kursi yang tersisa dengan ekspresi orang yang sudah memutuskan akan menemani percakapan ini sampai selesai.

Joyo memandang Nenek Sarmi, lalu memandang Kakek Warso, lalu senyumnya melebar ke arah yang tidak menyenangkan. Kakek Warso mengenali senyum itu. Senyum yang sama persis dengan yang dipakai Joyo tahun 1985 sebelum ia mengatakan sesuatu yang tidak perlu dikatakan.

“Tetanggamu?” tanya Joyo dengan nada yang terlalu casual untuk benar-benar casual.

“Ya.”

“Yang bawa teh setiap pagi itu?”

Kakek Warso memandangnya tajam. “Darimana kamu tahu?”

“Tebakanku.” Joyo menyesap tehnya. “Enak tehnya. Kamu yang bikin, Bu?”

“Ya,” kata Nenek Sarmi.

“Pantas.” Joyo mengangguk dengan ekspresi seorang ahli. “Warso tidak bisa bikin teh. Dulu tehnya selalu terlalu pahit atau terlalu tawar, tidak ada tengahnya.”

“Masih sama sampai sekarang,” kata Nenek Sarmi.

“Ha!” Joyo menunjuk Kakek Warso dengan telunjuk penuh kemenangan. “Dia masih kenal kamu, War, padahal baru ketemu.”

“Diam, Jo,” kata Kakek Warso.

Joyo tinggal sampai siang. Selama itu mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan kesungguhan yang seharusnya disimpan untuk hal-hal yang penting.

Mereka membahas mengapa lutut kiri lebih cepat sakit dari lutut kanan padahal perlakuannya sama. Mereka membahas apakah nasi uduk sekarang lebih berminyak dari nasi uduk dua puluh tahun lalu atau lidah mereka yang berubah. Mereka membahas seorang teman SMP bernama Karso yang kabarnya kini buka usaha ternak lele di Purwokerto dan apakah itu keputusan yang bijak atau tidak.

Nenek Sarmi duduk mendengarkan dan sesekali berkomentar, cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan, tidak cukup untuk mengubah arah pembicaraan.

Jalu akhirnya turun dari pagar dan duduk di dekat kaki Kakek Warso seperti biasa. Warisno tidur di sudut teras.

Joyo memandang Jalu, lalu memandang Kakek Warso.

“Sudah berapa tahun ayamnya?”

“Dua belas.”

Joyo menghitung sesuatu dalam kepalanya. “Berarti Sumirah yang, ”

“Ya.”

“Oh.”

Dua suku kata itu mengandung lebih banyak pengertian dari kalimat panjang mana pun. Itulah salah satu hal yang membuat berteman dengan seseorang selama puluhan tahun menjadi berbeda, kamu tidak perlu menyelesaikan kalimat untuk dimengerti.

Mereka diam sebentar. Diam yang berbeda dari biasanya, bukan diam yang canggung, tapi diam yang sudah duduk nyaman di antara dua orang dan tidak perlu pergi ke mana-mana.

Kemudian Joyo melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Ia membungkuk ke arah Jalu, dengan susah payah karena perutnya tidak semudah dulu untuk dibungkukkan, dan menjulurkan tangannya ke arah ayam tua itu.

Jalu memandang tangan itu. Memandang Joyo. Memandang tangan lagi.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak Joyo datang, Jalu tidak mundur.

Joyo mengelus punggung Jalu dengan dua jari, pelan, seperti orang yang sudah terbiasa dengan hewan. Jalu diam. Tidak menghindar. Tidak kluruk.

“Hei, tua,” kata Joyo kepada Jalu dengan suara yang lebih pelan dari suara yang ia pakai sepanjang hari ini. “Jaga dia ya. Orangnya susah dijaga, tapi jaga saja.”

Kakek Warso memandang ke arah lain pura-pura memperhatikan pohon mangga tetangga.

Nenek Sarmi menyesap tehnya.

Sore menjelang, Joyo bangkit dari kursi dengan gerakan seorang lelaki yang badannya menyimpan protes di setiap sendinya.

“Saya pulang.”

“Siapa yang minta kamu datang.”

“Tidak ada. Makanya enak.” Joyo memakai topinya kembali, tetap miring ke kanan, sudut yang sama persis. “Kapan-kapan saya ke sini lagi.”

“Jangan.”

“Pasti.”

Joyo berpamitan kepada Nenek Sarmi dengan hormat yang tidak ia berikan kepada Kakek Warso, membungkuk sedikit, senyum yang lebih sopan, lalu berjalan ke arah pagar.

Di pagar ia berhenti. Menoleh.

“War.”

“Apa.”

“Kamu beruntung.”

Kakek Warso mengernyit. “Beruntung apanya. Rumah jelek, gigi tinggal tiga, dapat hadiah ayam dari RT.”

Joyo memandangnya sebentar. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang Jalu yang kini sudah naik kembali ke pagar. Lalu Warisno yang tidur di sudut.

Lalu kembali memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya hari ini, tidak mengandung niat mengganggu sama sekali.

“Ya. Beruntung apanya, kamu yang hitung sendiri.”

Ia melangkah keluar. Pagar kayu berbunyi pelan saat ditutupnya dari luar.

Kakek Warso duduk. Memandang pagar yang sudah tertutup. Memandang Jalu. Memandang Warisno. Memandang gelas teh ketiga yang sudah dingin di antara kursinya dan kursi plastik sebelahnya.

Nenek Sarmi tidak bergerak dari kursinya.

“Temanmu menyebalkan,” katanya akhirnya.

“Ya.”

“Tapi dia tahu kamu.”

“Ya.”

Nenek Sarmi mengangguk pelan, anggukan orang yang sudah mendapat jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan.

Sore itu turun pelan-pelan di atas Gang Melati Nomor Tiga. Jalu kluruk sekali dari atas pagar, entah untuk apa, karena ini bukan waktunya kluruk, bukan pagi, bukan penanda hari baru.

Mungkin hanya karena ia bisa.

Mungkin karena ada hal-hal yang perlu dirayakan tanpa harus mengerti persis apa yang sedang dirayakan.

Baturraden
02-06-2026.

ChatGPT Image 1 Jun 2026, 02.15.18

Indonesia Emas 2045: Visi Besar atau Sekadar Slogan Politik?

Oleh: Irkham Auladi, M.Pd.

Indonesia Emas 2045 bukan gagasan yang keliru. Justru, secara historis, 2045 adalah momentum penting karena Indonesia genap berusia 100 tahun. Namun, pertanyaan utamanya bukan “apakah visinya bagus?”, melainkan: apakah fondasi pendidikannya, ekonominya, politiknya, hukumnya, dan kualitas SDM-nya sudah cukup kuat untuk membawa Indonesia menjadi negara maju?

Jika melihat kondisi Indonesia saat ini, arahnya sudah ada, tetapi jalannya belum cukup kokoh. Indonesia memiliki modal besar, namun masih menghadapi masalah serius yang bisa membuat Indonesia Emas 2045 berhenti sebagai slogan politik.

Apakah Indonesia Sudah di Jalan yang Tepat?

Sebagian sudah. Indonesia punya modal penting seperti bonus demografi, pasar domestik besar, sumber daya alam melimpah, posisi geopolitik strategis, serta potensi ekonomi digital. Namun, negara maju tidak hanya dibangun oleh jumlah penduduk dan kekayaan alam. Negara maju dibentuk oleh manusia berkualitas, institusi yang bersih, industri bernilai tambah tinggi, riset kuat, pendidikan bermutu, dan hukum yang pasti.

Di titik ini, Indonesia masih tertinggal.

Masalah utamanya terlihat pada beberapa hal:

Pertama, kualitas pendidikan belum merata. Sekolah memang banyak, tetapi mutu pembelajaran, literasi, numerasi, dan kualitas guru masih menjadi pekerjaan besar.

Kedua, ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada komoditas dan konsumsi domestik. Padahal negara maju bertumpu pada produktivitas, inovasi, industri teknologi, dan ekspor bernilai tinggi.

Ketiga, kualitas politik dan birokrasi belum sepenuhnya mendukung pembangunan jangka panjang. Korupsi, politik transaksional, hukum yang tidak konsisten, dan kebijakan yang sering berubah membuat pembangunan sulit bergerak cepat.

Jadi, Indonesia sedang berjalan menuju 2045, tetapi belum bisa dikatakan sepenuhnya berada di jalur aman.

Lalu Apa Saja Modal Utama Menuju Negara Maju?

Jika dibandingkan dengan Jepang, Korea Selatan, Singapura, Jerman, dan Tiongkok, ada beberapa modal utama yang selalu muncul.

Pertama: pendidikan berkualitas

Korea Selatan dan Jepang menjadi maju bukan karena sumber daya alam, tetapi karena manusia. Mereka serius membangun sekolah, universitas, riset, disiplin kerja, dan budaya ilmu.

Indonesia harus berhenti melihat pendidikan hanya sebagai urusan ijazah. Pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia yang bisa berpikir kritis, menguasai teknologi, bekerja produktif, dan berintegritas.

Kedua: industrialisasi

Negara maju tidak hanya menjual bahan mentah. Mereka mengolah, menciptakan teknologi, dan menguasai rantai produksi.

Indonesia tidak boleh puas hanya mengekspor nikel, batu bara, sawit, atau hasil tambang. Hilirisasi penting, tetapi harus naik kelas: dari sekadar smelter menuju industri baterai, kendaraan listrik, farmasi, semikonduktor, alat kesehatan, dan teknologi pertanian.

Ketiga: riset dan inovasi

Negara maju mengandalkan pengetahuan. Anggaran riset mereka besar, universitasnya kuat, dan industrinya terhubung dengan laboratorium.

Indonesia masih lemah di sini. Banyak kampus belum menjadi pusat inovasi. Dunia usaha juga belum cukup banyak berinvestasi pada riset.

Keempat: tata kelola negara

Singapura maju karena pemerintahannya efisien, bersih, dan tegas. Jerman kuat karena institusinya stabil. Korea Selatan berhasil karena negara mampu mengarahkan industri secara strategis.

Indonesia membutuhkan birokrasi yang cepat, hukum yang pasti, dan politik yang tidak hanya sibuk dengan elektoral lima tahunan.

Sektor Mana yang Paling Harus Diperkuat?

ada lima sektor yang harus menjadi prioritas nasional.

Pertama, pendidikan dasar dan vokasi. Ini fondasi utama. Tanpa SDM kuat, hilirisasi hanya akan menciptakan lapangan kerja murah, bukan ekonomi maju.

Kedua, kesehatan dan gizi. Stunting, anemia, kesehatan ibu-anak, dan akses layanan kesehatan menentukan kualitas generasi 2045.

Ketiga, industri manufaktur bernilai tambah tinggi. Indonesia perlu masuk ke industri baterai, kendaraan listrik, mesin, farmasi, pangan modern, digital, dan energi terbarukan.

Keempat, pertanian dan pangan modern. Negara maju tetap menjaga ketahanan pangan. Indonesia perlu teknologi irigasi, benih unggul, mekanisasi, logistik dingin, dan perlindungan petani.

Kelima, reformasi hukum dan birokrasi. Investor, ilmuwan, pelaku UMKM, dan masyarakat membutuhkan kepastian. Tanpa hukum yang adil, semua strategi ekonomi akan rapuh.

Apa Yang Harus Dirubah Agar Indonesia Emas 2045 Tidak Sekadar Tagline?

Indonesia perlu berani melakukan perubahan yang lebih mendasar.

Pertama, ubah pendidikan dari sekadar administratif menjadi substantif. Kurikulum boleh berganti, tetapi yang lebih penting adalah kualitas guru, kemampuan membaca, berpikir logis, sains, matematika, karakter, dan etos kerja.

Kedua, pastikan hilirisasi tidak hanya menguntungkan elite ekonomi. Hilirisasi harus menciptakan transfer teknologi, lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat industri nasional.

Ketiga, bangun meritokrasi. Orang harus naik karena kemampuan, bukan koneksi politik. Negara maju tidak bisa dibangun dengan budaya “siapa dekat siapa”.

Keempat, perkuat demokrasi yang produktif. Kritik publik jangan dianggap musuh. Dalam negara modern, kritik adalah mekanisme koreksi agar kebijakan tidak melenceng.

Kelima, arahkan APBN untuk investasi masa depan: pendidikan, riset, kesehatan, infrastruktur produktif, dan teknologi. Jangan terlalu besar terserap untuk belanja birokrasi dan proyek simbolik.

Kesimpulannya adalah?

Indonesia Emas 2045 adalah visi yang layak diperjuangkan, tetapi belum boleh dirayakan terlalu cepat. Dengan kondisi pendidikan yang belum merata, ekonomi yang masih rentan, politik yang transaksional, dan kualitas institusi yang belum kuat, Indonesia masih menghadapi risiko besar terjebak sebagai negara berpendapatan menengah.

Visi 2045 akan menjadi kenyataan bila negara berani membangun manusia, memperkuat industri, menegakkan hukum, memperbaiki politik, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan.

Namun, bila pembangunan hanya berhenti pada slogan, seremoni, proyek mercusuar, dan pidato optimistik, maka Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi sekadar narasi indah yang gagal menyentuh kehidupan rakyat.

Tentang Penulis

(Irkham Auladi)

Irkham Auladi, M.Pd., merupakan santri Pesantren Mahasiswa An Najah dan alumnus Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, serta baru saja menuntaskan Pendidikan Magisternya di almamater yang sama. Ia aktif dalam publikasi ilmiah, dengan beberapa artikelnya terbit di jurnal bereputasi, serta beberapa kali meraih kejuaraan kompetisi futsal. Berasal dari Sidareja, Cilacap, Irkham dapat dihubungi melalui Instagram @irkhamau.

ChatGPT Image 31 Mei 2026, 13.12.06

Anak Baru di Pagar Kayu

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Pak RT datang membawa ayam.

Bukan ayam goreng, bukan ayam bakar, bukan ayam dalam bentuk apa pun yang sudah selesai dengan hidupnya. Tapi seekor ayam jago muda, belum genap setahun, bulunya merah menyala seperti baru keluar dari toko cat, jenggernya masih terlalu besar untuk kepalanya sehingga tampak sedikit oleng ke kiri.

Pak RT, namanya Bambang, tapi tidak ada yang memanggilnya begitu karena jabatan lebih kuat dari nama di kampung mana pun, datang dengan ayam itu dalam kedua tangannya, tersenyum dengan senyum orang yang merasa sedang melakukan sesuatu yang mulia.

“Pak Warso, ini dari warga. Patungan. Biar ada teman si Jalu.”

Kakek Warso memandang ayam itu.

Ayam itu memandang Kakek Warso.

Di atas pagar kayu, Jalu, tua, bulunya sudah sedikit kusam di beberapa tempat, tapi jenggernya masih tegak dengan martabat penuh, juga memandang ayam muda itu. Dengan ekspresi yang sulit dibaca. Atau mungkin mudah dibaca, tapi tidak ada yang mau membacanya dengan keras.

Ceritanya bermula seminggu sebelumnya.

Pak Bambang RT sedang melakukan kunjungan rutin, yang sejujurnya bukan rutin, tapi ia menyebutnya rutin agar terdengar lebih resmi, ke rumah-rumah warga lansia di Gang Melati Nomor Tiga. Ia singgah di rumah Kakek Warso, duduk di teras, menerima teh yang diseduhkan Nenek Sarmi yang kebetulan ada di sana, dan dalam percakapan yang mengalir ia bertanya dengan nada yang ia kira santai:

“Pak Warso, Jalu sudah tua ya? Kalau nanti, ya, kalau nanti tidak ada, bapak mau bagaimana?”

Kakek Warso memandangnya dengan tatapan yang membuat Pak Bambang merasa ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat salah tanpa mengerti bagian mana yang salah.

“Maksud saya, biar ada penggantinya gitu, Pak. Biar tidak sepi.”

“Saya tidak sepi.”

“Ya, tapi, ”

“Saya tidak sepi.”

Pak Bambang pulang dengan perasaan orang yang baru selesai wawancara kerja dan tidak yakin hasilnya. Tapi di perjalanan pulang ia berbisik ke Mas Udin yang kebetulan lagi cuci motor: “Kasihan Pak Warso. Nanti kalau Jalunya mati, dia sendirian.”

Mas Udin berbisik ke Mbak Yanti. Mbak Yanti berbisik ke Bu Lastri. Bu Lastri tidak berbisik, Bu Lastri mengumumkan ke seluruh pelanggan warungnya. Dan dalam dua hari terkumpullah uang patungan yang cukup untuk membeli seekor ayam jago muda dari peternak di desa sebelah.

Tidak ada yang bertanya apakah Kakek Warso menginginkannya.

Kakek Warso menerima ayam itu dengan tangan yang tidak antusias dan ekspresi yang lebih tidak antusias lagi.

Ayam muda itu, yang belum diberi nama oleh siapa pun karena semua orang berasumsi Kakek Warso yang akan menamai, langsung melompat dari tangan Kakek Warso begitu diletakkan di teras, berlari keliling halaman dua putaran penuh seperti anak baru yang sedang orientasi, lalu berhenti di bawah pagar kayu dan mendongak ke arah Jalu.

Jalu memandang ke bawah.

Ayam muda itu kluruk, suaranya masih belum bulat, masih sedikit sember, seperti suara remaja yang sedang mengalami perubahan.

Jalu tidak menjawab.

Pak Bambang pamit dengan senyum lebar dan kepuasan orang yang sudah berbuat baik. Kakek Warso menutup pintu pagar dan berdiri di tengah halaman dengan seekor ayam tua di atas pagar dan seekor ayam muda di bawahnya, dan sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya: sekarang apa?

Jalu tidak turun dari pagar seharian.

Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya Jalu turun untuk makan, turun untuk berkeliling, turun untuk mengusik ayam betina milik Nenek Sarmi, turun untuk hal-hal yang ia anggap perlu. Tapi hari itu Jalu bertengger dari pagi sampai sore dengan posisi seorang pensiunan jenderal yang tidak diajak rapat.

Ayam muda itu, yang sementara dipanggil “Hei” oleh Kakek Warso karena belum ada nama resmi, berlari-lari di halaman dengan energi yang melelahkan hanya untuk ditonton. Ia mematuk ini, mematuk itu, berlari ke sana, berlari ke sini, sesekali mendongak ke Jalu dengan ekspresi penuh harap, lalu berlari lagi karena tidak mendapat respons.

Sore harinya Kakek Warso membawa dua mangkok dedak dan nasi basi. Satu ia taruh di bawah pagar untuk si Hei. Satu ia angkat dan taruh di atas pagar di sebelah Jalu.

Jalu memandang mangkok itu.

Lalu membuang muka.

“Lebay,” gumam Kakek Warso.

Nenek Sarmi datang keesokan paginya dan langsung menilai situasi dengan akurasi seseorang yang sudah tujuh puluh tahun mengamati makhluk hidup.

“Jalu cemburu.”

“Ayam tidak bisa cemburu.”

“Kamu juga katanya tidak bisa sepi, tapi lihat.”

Kakek Warso tidak merespons bagian itu.

Mas Udin yang ikut nimbrung dari balik pagar, karena di Gang Melati, percakapan di teras adalah tontonan publik, menambahkan dengan semangat orang yang baru membaca artikel psikologi: “Itu namanya territorial behavior, Pak. Wajar. Nanti juga adaptasi.”

“Siapa yang minta analisis kamu,” kata Kakek Warso.

Mas Udin mundur selangkah tapi tidak pergi.

Mbak Yanti yang berdiri di belakang suaminya berbisik: “Kita yang salah beli ayam, Mas.”

“Niatnya baik.”

“Niat baik tidak selalu menghasilkan situasi baik.”

Mas Udin tidak punya jawaban untuk itu.

Hari ketiga, si Hei masih belum punya nama.

Kakek Warso tidak mau menamai. Entah kenapa. Setiap kali ia hampir memikirkan nama, sesuatu di dalam dirinya mundur. Memberi nama berarti menerima. Menerima berarti mengakui bahwa memang butuh. Dan Kakek Warso belum siap mengakui itu.

Tapi hari ketiga itu, sesuatu terjadi.

Pagi-pagi sekali, sebelum Kakek Warso sempat keluar, terdengar suara ribut di halaman. Bukan ribut yang mengkhawatirkan, lebih mirip ribut yang konyol. Suara kepakan sayap, suara kaki-kaki kecil di tanah, suara dua ekor ayam yang sedang menentukan sesuatu.

Kakek Warso membuka pintu.

Di halaman, Jalu dan si Hei sedang berhadapan. Bukan dalam posisi berkelahi, tidak ada bulu yang berdiri, tidak ada taji yang diancungkan. Tapi keduanya berdiri saling memandang dengan jarak setengah meter, dan si Hei, yang lebih kecil, lebih muda, lebih sember kluruknya, tidak bergerak mundur.

Mereka berdiri begitu sampai Kakek Warso batuk.

Lalu Jalu, dengan gerakan yang sangat perlahan dan sangat enggan, menggeser badannya dua langkah ke kiri.

Si Hei berjalan ke titik yang tadi ditempati Jalu. Berdiri di sana. Memandang sekeliling dengan ekspresi pemilik baru.

Jalu berjalan ke pagar. Naik. Bertengger. Memandang ke arah yang lain.

“Warisno,” kata Kakek Warso tiba-tiba.

Nenek Sarmi yang ternyata sudah berdiri di balik pagar sejak tadi, entah kapan datangnya, menoleh. “Apa?”

“Namanya Warisno.”

Warisno adalah nama yang tidak puitis, tidak punya makna tersembunyi, dan tidak ada hubungannya dengan taji atau keberanian atau hal-hal yang biasanya dijadikan nama ayam jago.

Warisno adalah nama yang sangat biasa. Nama tetangga, nama tukang ojek, nama orang-orang yang mengisi gang-gang sempit di kota kecil.

Nenek Sarmi memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang menunggu penjelasan.

“Namanya Warisno,” ulang Kakek Warso. “Penerus. Pewaris.”

“Pewaris apa?”

Kakek Warso tidak menjawab. Ia masuk ke dapur mengambil dedak dan nasi basi, kali ini menyiapkan dua mangkok tanpa disuruh, dan keluar lagi ke teras.

Jalu makan di kiri. Warisno makan di kanan. Tidak berdesakan. Tidak bertengkar. Hanya dua ekor ayam yang makan bersama dengan jarak yang cukup untuk menjaga harga diri masing-masing.

Kakek Warso duduk di kursi kayunya dan memandang keduanya.

Nenek Sarmi duduk di kursi plastik sebelahnya, ia sudah membawa tehnya sendiri hari ini, tidak perlu basa-basi, dan juga memandang keduanya.

“Jalu mau terima dia,” kata Nenek Sarmi akhirnya.

“Terpaksa terima.”

“Sama saja.”

Kakek Warso menyesap teh yang disodorkan Nenek Sarmi. Hangatnya pas.

Yang tidak diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun, bukan kepada Nenek Sarmi, bukan kepada Pak Bambang RT, bukan kepada Mas Udin yang suka menganalisis, adalah bahwa malam pertama Warisno tiba, ia tidak langsung tidur.

Ia duduk di teras dalam gelap, ditemani suara jangkrik dan cahaya bulan yang masuk miring dari celah pohon mangga tetangga.

Jalu tidur di pagar. Warisno tidur di lantai teras, belum menemukan tempat permanennya, seperti anak kos baru yang belum tahu di pojok mana harus menaruh sandal.

Kakek Warso memandang keduanya bergantian.

Ia tidak mau mengakui kepada siapa pun bahwa Pak Bambang tidak sepenuhnya salah. Bahwa ia memang sudah beberapa minggu belakangan memandang Jalu dengan perasaan yang ia tidak punya kata-katanya, perasaan seorang lelaki tua yang menyadari bahwa sesuatu yang ia anggap permanen mungkin tidak sepermanen yang ia kira.

Bahwa mungkin selama ini ia bukan merawat Jalu.

Tapi bersiap untuk kehilangan Jalu, dengan cara memastikan ada sesuatu yang tersisa setelahnya.

Warisno bergerak dalam tidurnya, kakinya menghentak pelan ke lantai teras, lalu diam lagi.

Kakek Warso masuk. Menutup pintu. Berbaring di ranjangnya.

Di luar, Jalu kluruk sekali, pendek, pelan, seperti kata iya yang tidak ingin terlalu keras diucapkan.

Tiga minggu kemudian, pukul lima pagi, Gang Melati Nomor Tiga dibangunkan oleh suara kluruk.

Tapi bukan satu suara.

Dua suara. Hampir bersamaan. Satu dalam, satu masih sedikit sember, tapi tidak sesember tiga minggu lalu. Satu dari atas pagar, satu dari bawahnya.

Mbak Yanti yang sedang menyiapkan sarapan berhenti mengaduk telur dan tersenyum tanpa tahu kenapa.

Mas Udin yang masih setengah tidur bergumam: “Kok jadi dua?” lalu tidur lagi.

Nenek Sarmi yang mendengarnya dari balik tembok mengangguk kecil ke arah tidak ada.

Dan Kakek Warso, yang sudah duduk di kursi kayunya dengan dua mangkok dedak di lantai teras, memandang Jalu di atas pagar dan Warisno di bawahnya, berpikir bahwa mungkin suara yang paling menenangkan di dunia adalah suara yang kamu kira hanya akan kamu dengar sekali ternyata masih terus berbunyi, dalam nada yang berbeda, dari tenggorokan yang berbeda, tapi dengan ritme yang sama.

Lalu dari balik pagar, suara Nenek Sarmi:

“Pak Warso. Tehnya.”

Kakek Warso mengambil gelas yang disodorkan dari balik pagar tanpa menoleh, karena setelah dua belas tahun, tangan yang menyodorkan teh itu sudah bisa ia kenali hanya dari bunyinya.

“Makasih,” katanya.

Satu kata. Untuk teh. Untuk tiga minggu. Untuk dua belas tahun. Untuk semua yang tidak pernah ia ucapkan karena Kakek Warso memang tidak pandai mengucapkan hal-hal yang paling ia maksudkan.

Nenek Sarmi tidak menjawab.

Tapi ia tidak langsung pergi juga.

—–

Baturraden, 6 Mei 2026

 

ChatGPT Image 28 Mei 2026, 13.52.01

Di Bawah Langit Idul Adha

Oleh: Nahwa Nurfadilah

Pagi itu, aroma ketupat dan opor tercium dari dapur rumah. Suara takbir masih terasa membekas di telinga Nahwa, meski sudah sejak semalam berkumandang. Idul Adha tahun ini ia rayakan di rumah — libur bersama dari pesantren, katanya kepada adik-adiknya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

Namun di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali ia duduk di teras, menatap tetangga yang hilir mudik membawa daging kurban, pikirannya justru melayang jauh, kembali ke halaman Pesma An-Najah, ke lorong asrama yang entah mengapa selalu terasa seperti satu-satunya tempat di dunia tempat hatinya benar-benar diam, ke bunyi langkah sandal menuju masjid sebelum subuh.

Selalu terngiang pesan Abah Roqib di telinganya setiap kali hatinya mulai merasa jauh dari rumah kedua itu.

“Berbagi itu tidak mengurangi, Ndo. Justru dari sanalah kamu akan belajar arti memiliki yang sesungguhnya.”

Nahwa tidak sepenuhnya mengerti kala pertama kali mendengarnya. Tapi kini ia paham. Di Pesma An-Najah, ia belajar bukan hanya dari buku. Ia belajar dari teman sebaya yang dengan sabar mengajarinya melipat baju yang benar, dari kakak kelas yang membangunkannya ketika alarm tidak berbunyi, dari ustad yang tidak pernah marah meski ia salah menjawab. Nilai-nilai itu tidak tertulis di papan mana pun, tapi ia tahu, tanpa sadar ia sudah membawanya pulang dalam setiap laku hariannya.

Dan kini ada sesuatu yang sejak lama membuat dadanya terasa lebih penuh. Pesantren tempat ia tumbuh itu kini melahirkan sesuatu yang baru: SMP Sains An-Najah, sekolah yang baru saja berdiri dan mulai membuka diri untuk generasi pertamanya. Nahwa sudah mendengar kabar itu jauh-jauh hari, dan rasa bangga itu tidak pernah benar-benar pergi dari dadanya.

Bukan karena sedih, tapi karena bangga. Karena ia tahu betul benih seperti apa yang ditanam di tanah itu.

Nahwa menghela napas panjang. Liburan ini tinggal sebentar lagi, dan ia tahu tidak lama kemudian ia akan kembali. Ia teringat dawuh Abah Roqib tentang penerimaan santri baru, bahwa pintu Pesma An-Najah dan SMP Sains An-Najah terbuka lebar, menunggu generasi muda yang siap tumbuh, belajar, dan membentuk diri. Bukan sekadar pengumuman, melainkan undangan yang tulus untuk adik-adik di luar sana yang belum tahu bahwa di sana belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk jiwa.

“Lingkungan yang religius, nyaman, bersih, dan berprestasi,” begitu dawuh Abah Roqib. Abah juga sering ngendika bahwa lingkungan pesantren harus dijaga kebersihannya — sebersih hotel. Sebab, kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan Nahwa tahu itu bukan sekadar nasihat kosong. Ia sendiri buktinya.

Ia berdiri pelan, merapikan jaz pondoknya yang masih tergantung rapi di balik pintu kamar. Belum waktunya dipakai, tapi ia senang melihatnya di sana. Seperti pengingat bahwa liburan ini sementara, dan ada tempat yang menunggunya pulang.

Di luar, adzan dhuhur mulai berkumandang. Nahwa mengambil mukenanya, melangkah ke mushala kecil di rumah, dan dalam hatinya ia menggenggam satu hal yang tidak akan pernah ia lepaskan:

Bahwa keikhlasan berbagi dan semangat menuntut ilmu adalah dua sayap dari satu burung yang sama. Tanpa keduanya, ia tak akan pernah bisa terbang.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.

Semoga semangat berbagi dan menuntut ilmu selalu tumbuh dalam diri generasi muda.

27 Mei 2026

Tentang Penulis

(Nahwa)

Nahwa Nurfadilah adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam kesehariannya, ia lebih fokus menjalani kegiatan perkuliahan dan kehidupan pesantren.

Nahwa memiliki ketertarikan dalam bidang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, termasuk pernah mengikuti lomba cerpen. Ketertarikan tersebut masih berlanjut saat menempuh pendidikan di MTs melalui kebiasaan menulis pada waktu-waktu tertentu. Meski kini belum terlalu sering menekuni kegiatan menulis, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan belajarnya dan menjadi salah satu hal yang ia sukai.

Penulis dapat dihubungi melalui Email: nahwaanur@gmail.com atau nomor telepon: 085173448545

 

ChatGPT Image 21 Mei 2026, 21.31.31

Nasi Basi dan Perempuan Itu

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso tidak pernah memasak.

Dua belas tahun terakhir ia hidup dari warung Bu Lastri, dari kiriman tetangga yang kasihan, dan dari kemampuan alaminya untuk tidak terlalu lapar. Tapi setiap pagi dan sore, tanpa gagal, ia selalu menyiapkan satu hal, dedak campur nasi basi untuk Jalu.

Nasi basi itu ia masak sendiri.

Atau lebih tepatnya, ia sengaja memasak nasi terlalu banyak, membiarkannya sehari semalam di dalam panci tanpa tutup, lalu mencampurnya dengan dedak yang ia beli dari toko pakan di ujung jalan besar. Proses itu ia lakukan dengan kesungguhan yang tidak ia berikan pada masakan untuk dirinya sendiri.

Nenek Sarmi pernah berkomentar, “Ayamnya makan lebih sehat dari pemiliknya.”

Kakek Warso tidak membantah.

Pagi itu biasa saja. Matahari naik dengan kecepatan yang sama seperti kemarin dan kemarin-kemarin sebelumnya. Jalu sudah bertengger di pagar sejak pukul lima, kluruknya membangunkan gang dengan hormat yang tidak perlu diminta.

Kakek Warso keluar dengan mangkok di tangan. Duduk di kursi kayunya. Menaburkan dedak dan nasi basi ke lantai teras dengan gerakan yang sudah menjadi otot, bukan pikiran.

Jalu turun. Makan.

Kakek Warso memandang.

Pagi-pagi seperti ini, dalam sunyi yang familiar dan cahaya yang masih kekuningan, pikiran Kakek Warso sering pergi ke tempat yang tidak ia rencanakan. Bukan karena ia sengaja mengenang, ia tidak percaya pada pengenangan yang disengaja, terlalu mirip menyiksa diri, tapi karena sunyi memang punya cara untuk membuka pintu-pintu yang lupa dikunci.

Pagi ini pintunya terbuka ke arah istrinya.

Nama istrinya Sumirah. Tapi Kakek Warso tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Ia memanggilnya “Hei”, bukan karena tidak hormat, tapi karena di antara mereka nama terasa terlalu formal untuk dipakai setiap hari. Sumirah juga memanggilnya “Hei”. Mereka sudah lupa siapa yang memulai kebiasaan itu, dan tidak pernah merasa perlu mengingat.

Sumirah adalah perempuan yang tidak bisa diam.

Bukan berarti ia cerewet, ia tidak cerewet. Tapi tangannya selalu bergerak. Selalu ada yang dikerjakan. Kalau tidak menyapu ya menampi beras. Kalau tidak menampi beras ya mencabut rumput di pot. Kalau tidak mencabut rumput ya melipat handuk yang sejujurnya sudah dilipat kemarin.

Kakek Warso, yang waktu muda bernama Warso saja, tanpa embel-embel kakek, pernah bilang, “Kamu kalau udah duduk, diam bisa tidak?”

“Bisa,” jawab Sumirah. “Tapi ngapain?”

Kakek Warso tidak punya jawaban untuk itu.

Jalu mematuk sesuatu di lantai teras. Kakek Warso memandangnya, dan tanpa ia rencanakan, ingatannya pergi ke sore dua belas tahun lalu, sore terakhir sebelum Sumirah masuk rumah sakit dan tidak keluar lagi.

Sore itu Sumirah sedang duduk di kursi kayu ini, kursi yang sekarang diduduki Kakek Warso, sambil mengerok jahe untuk wedang. Kakek Warso duduk di sebelahnya di kursi plastik yang sekarang sudah tidak ada. Dan di halaman, seekor anak ayam jago berbulu merah gelap berjalan-jalan dengan gaya pejabat baru.

“Itu ayam siapa?” tanya Sumirah.

“Tidak tahu. Nyasar mungkin.”

“Diberi makan tidak?”

“Bukan ayam kita.”

Sumirah bangkit, masuk ke dapur, keluar lagi membawa segenggam nasi sisa. Ia taburkan di halaman. Anak ayam itu makan dengan lahap.

“Sekarang ayam kita,” kata Sumirah sambil duduk lagi dan melanjutkan mengerok jahe.

Kakek Warso, Warso muda, waktu itu, memandang ayam itu, lalu memandang istrinya. “Kamu tidak tanya dulu sama yang punya?”

“Yang punya tidak kasih makan. Berarti yang punya tidak layak punya.”

Logika yang tidak bisa dibantah.

Anak ayam jago berbulu merah gelap itu akhirnya diberi nama Jalu oleh Sumirah. Bukan Kakek Warso. Selama ini Kakek Warso membiarkan orang-orang mengira ia yang memberi nama, ia tidak pernah mengklarifikasi, dan tidak ada yang bertanya.

Jalu mematuk nasi terakhir di lantai teras dan mendongak, satu matanya menatap Kakek Warso dengan cara yang selalu membuat Kakek Warso tidak nyaman, seolah ayam itu bisa membaca sesuatu di wajahnya.

Ada yang tidak pernah diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun di Gang Melati Nomor Tiga.

Bahwa Jalu bukan ayam tujuh atau delapan tahun. Jalu sudah dua belas tahun. Jalu sudah ada sejak sebelum Sumirah pergi. Jalu adalah satu-satunya makhluk hidup di rumah ini yang juga mengenal Sumirah, yang juga pernah diberi makan oleh tangannya, yang juga pernah diusir dari dapur olehnya, yang juga pernah dikasih nama olehnya.

Dan mungkin itulah sebabnya Kakek Warso tidak pernah mengurungnya. Bukan karena filosofi tentang ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Tapi karena Sumirah yang dulu memungutnya dari halaman tidak pernah mengurungnya. Dan Kakek Warso tidak mau mengubah satu pun kebiasaan Sumirah yang masih bisa ia pertahankan.

Dedak campur nasi basi. Itu juga bukan resep Kakek Warso.

Itu resep Sumirah.

Nenek Sarmi datang tanpa diumumkan, seperti biasa, dengan dua gelas teh panas dan ekspresi orang yang pura-pura lewat padahal sudah menyiapkan teh dari tadi.

Ia duduk di kursi plastik baru yang sudah menggantikan kursi plastik lama yang sudah tidak ada. Menyodorkan satu gelas ke Kakek Warso.

Mereka duduk. Jalu bertengger kembali ke pagar. Teh mengepul pelan.

“Lagi melamun,” kata Nenek Sarmi. Bukan pertanyaan.

“Tidak.”

“Mukanya seperti melamun.”

“Muka saya memang begini.”

Nenek Sarmi menyesap tehnya. “Ingat dia?”

Kakek Warso tidak menjawab. Yang berarti iya.

“Jalu sudah tua,” kata Nenek Sarmi pelan. “Kamu juga sudah tua. Tapi kamu masih masak nasi basi setiap hari.”

“Nasi basi tidak perlu keahlian khusus.”

“Bukan soal keahlian.”

Kakek Warso memandang tehnya.

“Sumirah yang mulai,” katanya akhirnya. Pertama kalinya ia menyebut nama itu dengan suara yang bisa didengar orang lain, bukan hanya di dalam kepala. “Ayamnya, namanya, masakannya. Saya cuma yang melanjutkan.”

Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu ia berkata, dengan nada yang sangat biasa, seperti menyebutkan harga bawang di pasar,

“Iya. Sumirah yang suruh saya jagain kamu juga.”

Kakek Warso meletakkan gelasnya.

Memandang Nenek Sarmi.

“Apa?”

“Dua belas tahun lalu. Di rumah sakit. Sebelum dia, ” Nenek Sarmi tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi tidak perlu diselesaikan. “Dia minta saya. Katanya, Sarmi, Warso itu tidak bisa hidup sendiri. Tolong lihat-lihatkan. Jangan sampai dia lupa makan. Jangan sampai dia kesepian. Jangan sampai dia lupa bayar listrik.”

Udara di teras itu tiba-tiba terasa berbeda beratnya.

“Kamu tidak pernah bilang,” kata Kakek Warso. Suaranya aneh, bukan marah, bukan sedih, tapi seperti orang yang baru menemukan satu potongan puzzle yang selama dua belas tahun ia kira sudah hilang.

“Kalau saya bilang, kamu mau marah. Merasa dikasihani.”

“Ya memang saya mau marah.”

“Makanya tidak saya bilang.”

Jalu kluruk sekali dari atas pagar. Pendek. Seperti komentar.

Kakek Warso memandang Jalu. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang gelas tehnya yang masih setengah.

Dua belas tahun. Selama dua belas tahun ia mengira dirinya hidup sendirian, dengan tabah, dengan keras kepala, dengan tiga gigi dan kursi kosong dan nasi basi untuk ayam. Selama dua belas tahun ia bangga bahwa ia tidak merepotkan siapa pun.

Tapi rupanya Sumirah sudah mengatur semuanya. Dari rumah sakit itu. Sebelum pergi.

Termasuk tetangga yang setiap pagi membawakan teh.

Termasuk mungkin, ini yang membuat dadanya terasa seperti ditekan dari dalam, ayam yang tidak pernah pergi.

“Jalu juga,” gumam Kakek Warso. “Kamu yang suruh dia tidak kemana-mana?”

Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu mengangkat bahu dengan ekspresi orang tua yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk masih bisa berpura-pura bercanda.

“Saya tidak bisa bicara sama ayam, Pak Warso.”

Ia menyesap tehnya lagi.

“Itu Sumirah sendiri yang urus.”

Baturraden, 24 April 2026

 

ChatGPT Image 19 Mei 2026, 02.47.09

Tumbuh Tanpa Pelabuhan: Luka Diam Anak  yang Kehilangan Rumah dalam Dirinya

Oleh: Anisa Ahlun Prihatiningsih

Tumbuh menjadi Parentless bukanlah pilihan yang bisa kita kendalikan,kini murni yang datang tanpa permintaan, sering kali meninggalkan luka mendalam sejak usia dini. Rumah bukan hanya sekedar atap dan dinding, ia adalah tawa yang pecah dibawah sinar matahari, dan dekapan hangat yang meyakinkan kita bahwa dunia baik-baik saja. Kehadiran sosok orang tua adalah pondasi , dari mereka kita belajar nada kehidupan, dan merasakan kasih sayang dalam setiap suapan kecil yang mereka berikan. Namun, apa jadinya jika sosok perlindungan itu hilang? mereka terbiasa dengan ketidakharmonisan itu, suasana canggung yang membuat menunjukkan kasih sayang terasa asing, dimana suara bentakan lebih sering terdengar daripada kata-kata dukungan. Bahkan mereka lupa bagaimana rasanya diberikan kasih sayang se utuh nya seperti layaknya anak-anak lain, dan mereka pun menginginkan.

Kesepian ini menjalar ke sudut sekolah, ke bangku taman, hingga ke bawah kolong tempat tidur . Mereka kehilangan kompas, sekaligus kehilangan tempat untuk bercerita tentang hari ini, kini sering membuat mereka mengalami perubahan, menjadi lebih tertutup, tidak mudah percaya dengan orang lain, mereka pun mudah menyalahkan diri sendiri dan gampang murung. Dunia terasa begitu menyeramkan bagi mereka yang tak punya sandaran, tanpa bimbingan, masa depan seringkali terlihat seperti kabut di pagi hari yang tak kunjung cerah.

Luka ini tak berdarah yang dapat nampak secara fisik, namun sering bergulat dengan gejolak emosi hebat dan pencarian jati diri yang tak kunjung henti di tengah kesunyian.  Ini akibat kurang nya peran rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan memberikan dukungan membuat segalanya terasa lebih berat. Kurang nya peran keharmonis sering melemahkan motivasi belajar, mereka termotivasi kuat untuk belajar, demi wujudkan impian untuk di masa depan, namun, ada sisi lain, kepercayaan diri yang rendah sering menghambat motivasi belajar tersebut. Rasa rendah diri ini perlahan menggerus motivasi, membuat mereka enggan berusaha keras. Akhirnya, potensi yang sebenarnya terpendam pun terabaikan begitu saja.

Tekanan atau pengabaian tersebut membuat mereka tidak mampu membedakan antara perasaan sedih dan bahagia. Mereka pun menginginkan kehidupan harmonis itu, dipenuhi dengan cinta dan kenyamanan. Contoh kecil momen wisuda yang seharusnya penuh kebahagiaan, malah berubah jadi enggan, canggung dan ragu mengungkapkan rasa sayang. Bagi siapa pun yang sedang berada dalam situasi yang sama, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa semua ini adalah bagian dari proses yang akan membentuk dirimu menjadi pribadi yang utuh. Suatu saat, kamu akan merasakan kasih sayang yang selalu kamu impikan.

Mungkin, dengan berbagai ketidakharmonisan, dan ketidaknyamanan yang ada, kita dapat menjadi lebih kuat, kalau tak ingin di rendahkan oleh kebodohan, maka berdamailah dengan pahitnya kehidupan, sebab luka hari ini adalah kuatnya esok hari. Jika tuhan memberikan ujian itu artinya kita mampu menghadapinya. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Seseorang yang memberi izin pada dirinya untuk berbuat kesalahan, lalu memaafkan serta mengambil pelajaran dari pengalaman hidup, dengan itulah kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan melalui proses tersebut, kita juga bisa mencapai kesuksesan, meskipun kesuksesan, kegagalan, kebaikan, dan keburukan adalah hal yang relatif.

Tentang Penulis

(Anisa Ahlun P)

Anisa Ahlun Prihatiningsih adalah seorang mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Penulis dapat dihubungi melalui Email: anisahlun@gmail.com atau nomor telepon: 082323710779.