ChatGPT Image 29 Apr 2026, 23.13.48

Jalu Tidak Kluruk Lagi Hari Ini

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Ada dua jenis sunyi di Gang Melati Nomor Tiga.

Sunyi pertama adalah sunyi biasa, sunyi malam, sunyi siang bolong, sunyi yang datang ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sunyi itu tidak mengusik siapa pun.

Sunyi kedua adalah sunyi yang salah. Sunyi yang terasa seperti ada sesuatu yang seharusnya berbunyi, tapi tidak berbunyi. Sunyi yang membuat bulu kuduk berdiri bukan karena dingin, tapi karena absennya sesuatu yang selama ini kau anggap pasti.

Sabtu pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga diselimuti sunyi yang kedua.

Bukan Kakek Warso yang pertama menyadarinya.

Adalah Mbak Yanti, istri Mas Udin, tetangga baru yang belum genap dua bulan pindah, yang pertama merasa ada yang ganjil. Ia sedang menjemur handuk di tali depan rumah ketika ia menyadari bahwa ia sudah selesai menjemur, sudah masuk, sudah menyalakan kompor, sudah menunggu air mendidih, dan selama semua itu tidak ada satu pun suara kluruk dari ujung gang.

Mbak Yanti mematikan kompor.

Ia berdiri di dapur dengan perasaan orang yang lupa mematikan setrika tapi tidak yakin setrikanya menyala.

Sejak insiden opor dua bulan lalu, Mbak Yanti hafal betul ritme Gang Melati, termasuk kluruk Jalu yang setiap pagi pukul lima menjadi penanda bahwa hari boleh dimulai. Ia tidak pernah menyangka akan bergantung pada suara ayam tetangga, tapi begitulah hidup di gang sempit, kamu menyerap kebiasaan orang sekitarmu tanpa memintanya.

Ia mengintip dari jendela dapur ke arah rumah Kakek Warso.

Pagar kayu itu kosong.

Di kampung, kabar tidak membutuhkan telepon. Ia berjalan dengan kaki sendiri, dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi, dan dalam waktu setengah jam seluruh gang bisa tahu sesuatu yang belum tentu benar tapi sudah terlanjur dipercaya.

Mbak Yanti menyebut ke Bu Lastri yang kebetulan lewat membawa belanjaan,

“Bu, Jalu kok tidak bunyi pagi ini ya?”

Bu Lastri berhenti. Berpikir. Lalu mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa ia pun tidak mendengar apa-apa. “Iya ya. Tidak bunyi.”

Kabar itu sampai ke Mas Udin yang sedang mencuci motor. Mas Udin menghentikan tangannya. Kemudian kabar itu menembus dinding tipis gang dan sampai ke telinga Pak Gimin, pensiunan pos yang rumahnya di seberang, yang langsung berdiri dari kursi rotan dan mengambil sandalnya.

Dan akhirnya, sebagaimana semua kabar di Gang Melati selalu akhirnya sampai ke sana, kabar itu tiba di telinga Nenek Sarmi.

Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan sapu lidinya, mengikat jariknya lebih kencang, dan berjalan ke rumah Kakek Warso.

Kakek Warso duduk di kursi kayunya. Posisinya sama seperti setiap pagi. Tangannya memegang mangkok dedak campur nasi basi. Tapi tangannya tidak bergerak menaburkan apa pun, karena tidak ada yang perlu ditaburi.

Pagar kayu di depannya kosong.

Ia sudah berkeliling sejak pukul setengah lima. Sudah memeriksa kebun singkong. Sudah mengintip kolong rumah. Sudah menengok kandang Nenek Sarmi, tapi kali ini tidak ada Jalu yang nguber-nguber ayam lain. Sudah berjalan sampai ujung gang dan balik lagi.

Tidak ada Jalu.

Nenek Sarmi duduk di teras tanpa dipersilakan, karena di usia tujuh puluh tahun dan setelah puluhan tahun bertetangga, seseorang tidak perlu dipersilakan lagi.

Tidak ada yang bicara beberapa saat.

“Sudah berapa lama?” tanya Nenek Sarmi akhirnya.

“Dari kemarin sore tidak kelihatan.”

“Kemarin sore terakhir di mana?”

“Di sini.” Kakek Warso mengangguk ke arah pagar.

“Seperti biasa. Saya kasih makan. Makan. Lalu saya masuk. Waktu saya keluar lagi sudah tidak ada.”

Nenek Sarmi mengangguk pelan.

“Sudah tua dia,” kata Kakek Warso. Suaranya rata. Terlalu rata.

“Berapa tahun?”

“Tujuh. Mungkin delapan.”

Nenek Sarmi tidak berkata bahwa tujuh atau delapan tahun adalah usia yang panjang untuk ayam jago. Ia tidak berkata apa-apa tentang itu. Ia hanya duduk, dan keberadaannya saja sudah cukup menjadi sesuatu.

Mas Udin datang setengah jam kemudian, dengan Mbak Yanti di belakangnya dan ekspresi sukarela yang terlalu bersemangat untuk situasi sesedih ini.

“ Pak Warso, kami mau bantu cari.”

Kakek Warso memandangnya.

“Cari di mana?”

“Ya, di sekitar sini dulu. Mungkin nyasar ke gang sebelah.”

Pak Gimin menyusul. Lalu Bu Lastri. Dalam waktu singkat, teras Kakek Warso yang biasanya lengang berubah menjadi semacam posko tanpa ada yang mendeklarasikannya sebagai posko.

Mas Udin dan Pak Gimin menyisir gang sebelah. Mbak Yanti mengetuk beberapa pintu dan bertanya dengan sopan apakah ada yang melihat ayam jago berbulu merah gelap dengan jengger tegak dan cara berjalan seperti pejabat. Bu Lastri, yang jaringan pergaulannya paling luas di gang ini, menelepon beberapa orang dengan ponselnya.

Kakek Warso tidak ikut mencari. Ia tetap duduk di kursinya, memegang mangkok dedak yang sudah dingin, memandang pagar yang kosong.

Nenek Sarmi tetap duduk di sampingnya.

Satu Jam Kemudian

Mas Udin pulang dengan tangan kosong tapi muka penuh laporan, gang sebelah tidak ada, belakang gang tidak ada, sampai depan mushola juga tidak ada.

Pak Gimin pulang dan langsung duduk karena kakinya yang sudah tua tidak cocok untuk operasi pencarian.

Mbak Yanti pulang terakhir, dan di wajahnya ada sesuatu yang ia coba sembunyikan tapi tidak cukup berhasil, ekspresi orang yang mendapat informasi tapi tidak yakin apakah informasi itu baik atau buruk.

“Pak Warso,” katanya pelan.

Semua orang menoleh.

“Tadi saya tanya ke Pak Hendra, yang rumahnya di ujung gang tembus jalan besar itu. Katanya kemarin sore dia lihat seekor ayam jago merah jalan sendiri ke arah jalan besar.”

Hening.

“Jalan besar” di mulut Gang Melati Nomor Tiga adalah jalan yang dilalui truk, angkot, dan motor yang tidak peduli marka. Semua orang di teras itu tahu artinya. Mereka tidak mengucapkannya, tapi mereka tahu.

Kakek Warso tidak bergerak.

Lalu ia meletakkan mangkok dedaknya pelan di lantai teras, dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah, dan memandang jauh ke ujung gang.

Tiga menit kemudian, atau mungkin lima, tidak ada yang menghitung, terdengar suara dari ujung gang.

Bukan kluruk.

Tapi langkah. Langkah yang berat, tidak rata, seperti sesuatu yang berjalan dengan susah payah.

Semua kepala menoleh.

Dari ujung Gang Melati Nomor Tiga, dalam cahaya pagi yang masih tipis, muncullah Jalu.

Ia berjalan pelan. Sangat pelan. Salah satu sayapnya terkulai sedikit, bukan patah, tapi lelah. Bulunya kusut di beberapa tempat. Jenggernya masih tegak, tapi merahnya sedikit lebih pucat dari biasa.

Di punggungnya, bertengger dengan santai seperti penumpang angkot yang sudah beli tiket, seekor anak kucing belang tidur.

Anak kucing itu tidur. Tidur. Di punggung ayam jago yang berjalan.

Jalu berjalan terus. Masuk gang. Melewati orang-orang yang memandangnya dengan mulut terbuka. Naik ke teras. Berjalan ke arah pagar kayunya. Dan bertengger di sana, dengan anak kucing yang masih tidur di punggungnya, tidak terusik, tidak peduli.

Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik.

Kemudian Nenek Sarmi, dengan suara yang datar seperti membacakan pengumuman RT, berkata,

“Rupanya dia pergi tak bilang-bilang, pulang ngusung kucing orang.”

Mbak Yanti tertawa duluan. Lalu Bu Lastri. Lalu Mas Udin yang menahan tawa sebentar sebelum akhirnya menyerah. Pak Gimin terkekeh sambil menepuk lututnya.

Kakek Warso memandang Jalu. Lalu anak kucing itu. Lalu Jalu lagi.

Ia mengambil mangkok dedaknya. Menaburkan isinya di lantai teras pelan-pelan.

Jalu turun dari pagar. Anak kucing itu tergelincir sedikit, membuka satu mata, memandang sekelilingnya dengan ekspresi makhluk yang tidak merasa bersalah sama sekali, lalu menutup matanya lagi dan melanjutkan tidur di lantai teras.

Kakek Warso duduk di kursinya.

“Ganti nama kamu,” gumamnya kepada Jalu.

“Bukan ayam jago. Tapi Tukang ojek.”

Dan pagi itu untuk pertama kali dalam waktu yang lama, teras rumah Kakek Warso ramai, penuh orang, penuh tawa, penuh sesuatu yang hangat dan tidak bernama, sementara seekor ayam makan dedak dan seekor anak kucing tidur di antara kaki-kaki manusia yang tidak lagi ingat mengapa mereka semula merasa sedih.

Baturraden, 28 April 2026

 

ChatGPT Image 29 Apr 2026, 22.51.58

Langkah yang Tak Pernah Sepi Makna

 

Oleh: Ayu Condro Ningrum

Menjalani rutinitas sebagai mahasiswa sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto terasa seperti memerankan dua peran yang saling melengkapi. Dalam satu hari, hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Di pagi hari, kami sudah harus menghadapi dinginnya udara Purwokerto untuk mengikuti jamaah salat subuh. Setelah itu, kami bergegas ke kampus, menjalani peran sebagai mahasiswa terlibat dalam diskusi kelas, melakukan presentasi, hingga kebingungan mencari referensi jurnal di perpustakaan. Semua berlangsung cepat, dipenuhi tugas-tugas yang seolah tak berujung.

Namun, saat melangkah kembali melewati gerbang pesantren, kebisingan kampus terasa tertinggal. Suasana berubah menjadi lebih tenang. Laptop dan buku tebal disimpan sejenak, digantikan oleh kitab kuning dan sarung. Di sini, kami tidak lagi sekadar mahasiswa, tetapi kembali menjadi santri yang duduk bersila di lantai masjid. Mendengarkan ngaji kehidupan dari Abah Roqib setelah jamaah salat magrib terasa seperti mengisi ulang energi setelah seharian bergulat dengan teori di kampus.

Tantangan terbesar adalah membagi waktu. Kadang terasa ironis melihat meja belajar di kamar. Di satu sudut, ada tumpukan tugas yang harus segera diselesaikan; di sudut lain, ada kitab yang menunggu untuk dipelajari demi setoran pagi berikutnya. Tak jarang, mata terasa sangat lelah karena semalaman mengerjakan tugas kuliah. Namun, ketika suara bel kompleks atau panggilan salat berjamaah terdengar, kami harus segera bangkit dan bersiap kembali.

Lelah? Tentu saja. Namun di situlah letak keindahannya. Kami belajar hal-hal yang mungkin tidak didapatkan oleh mahasiswa lain. Kami memahami makna thalabul ‘ilmi melalui pendidikan formal, sekaligus diingatkan untuk menjaga adab dan kerendahan hati melalui pendidikan pesantren. Pesma An-Najah, dengan segala kesibukannya, menjadi saksi perjuangan kami bahwa mengejar gelar sarjana adalah penting untuk masa depan, tetapi menjaga nilai-nilai santri adalah cara agar kami tidak kehilangan arah di tengah dunia yang semakin gaduh.

Pada akhirnya, menjalani dua peran ini melatih mental untuk tetap kuat sebagaimana pelajaran yang pernah saya baca dalam buku Filosofi Teras.

Tentang penulis:

Ayu Condro Ningrum

Ayu Condro Ningrum adalah mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Sejalan dengan minat akademiknya, ia menaruh perhatian besar pada bidang jurnalistik dan aktif terlibat dalam aktivitas jurnalistik di kampus, melalui LPM SAKA. Penulis dapat dihubungi melalui Email: ayucondroningrumayu@gmail.com atau nomor telepon:  082220762232.

 

ChatGPT Image 28 Apr 2026, 13.24.52

Ketika Belajar Tak Lagi Tahan Uji: Potret Rapuhnya Generasi Muda

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag., A.H.

(LPDP Awardee, University of Birmingham, UK)

Generasi yang Cepat Lelah

Di ruang-ruang kelas hari ini, kita semakin sering menemukan pemandangan yang serupa: pelajar yang cepat lelah, mudah menyerah, dan kehilangan daya tahan saat berhadapan dengan kesulitan. Tugas yang sedikit kompleks terasa memberatkan, proses belajar yang panjang dianggap membosankan, dan kegagalan kecil kerap berujung pada keputusasaan. Belajar tidak lagi dilihat sebagai perjalanan intelektual, melainkan sekadar beban yang harus segera diselesaikan.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan subjektif generasi tua terhadap generasi muda. Ia adalah gejala yang nyata bahwa ada sesuatu yang berubah dalam cara generasi hari ini berinteraksi dengan pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.

Motivasi yang Kian Menurun

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa penurunan performa akademik sering kali beriringan dengan menurunnya motivasi belajar. Siswa tidak lagi terdorong oleh rasa ingin tahu, melainkan oleh tuntutan nilai, ujian, dan tekanan eksternal. Akibatnya, ketika tekanan itu hilang, motivasi pun ikut merosot.

Belajar kehilangan makna intrinsiknya. Ia tidak lagi dipahami sebagai proses memahami dunia, melainkan sekadar alat untuk mencapai target jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika pelajar mudah kehilangan energi ketika menghadapi tantangan. Tanpa motivasi yang kuat dari dalam, proses belajar akan terasa berat dan mudah ditinggalkan.

Krisis Ketahanan Intelektual

Di titik inilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih mendasar: krisis ketahanan intelektual atau academic resilience. Dalam kajian pendidikan, ketahanan intelektual merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, beradaptasi, dan bahkan berkembang meskipun menghadapi kesulitan akademik.

Masalahnya, banyak pelajar hari ini menunjukkan tanda-tanda melemahnya kemampuan ini. Mereka cenderung menghindari tantangan, cepat merasa tidak mampu, dan kesulitan mengelola tekanan. Padahal, justru dalam proses menghadapi kesulitan itulah kemampuan berpikir berkembang.

Dengan kata lain, persoalan utama generasi muda hari ini bukan pada kurangnya kecerdasan, tetapi pada lemahnya daya tahan dalam menggunakan kecerdasan tersebut. Mereka memiliki akses pengetahuan yang luas, tetapi tidak selalu memiliki ketekunan untuk menggali dan mengolahnya secara mendalam.

Ekosistem Instan yang Membentuk Kerapuhan

Kerapuhan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh ekosistem yang semakin mengutamakan kecepatan daripada kedalaman. Di era digital, informasi tersedia secara instan, jawaban dapat ditemukan dalam hitungan detik, dan proses berpikir sering kali dipersingkat melalui berbagai kemudahan teknologi.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Namun di sisi lain, ia juga membawa konsekuensi: pelajar menjadi kurang terbiasa dengan proses berpikir yang panjang dan melelahkan. Ketika segala sesuatu bisa diperoleh dengan cepat, kesabaran untuk berproses perlahan menjadi semakin langka.

Selain itu, sistem pendidikan juga sering kali belum sepenuhnya mendorong ketahanan intelektual. Tekanan akademik yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Kegagalan masih sering dipandang sebagai aib, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, pelajar lebih memilih menghindari risiko daripada menghadapinya.

Mengembalikan Daya Tahan Belajar

Menghadapi situasi ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kritik terhadap generasi muda, tetapi refleksi bersama tentang bagaimana kita membangun ekosistem belajar. Ketahanan intelektual tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari proses yang menuntut usaha, kesabaran, dan keberanian untuk gagal.

Karena itu, penting untuk mengembalikan makna belajar sebagai proses, bukan sekadar hasil. Pelajar perlu diberi ruang untuk mengalami kesulitan tanpa langsung dihakimi. Mereka perlu dilatih untuk bertahan, bukan hanya untuk berhasil. Di sisi lain, sistem pendidikan juga perlu bergeser, dari yang hanya menilai hasil akhir, menjadi yang menghargai proses berpikir.

Pada akhirnya, potret rapuhnya generasi muda bukanlah vonis, melainkan peringatan. Di tengah kemudahan yang semakin melimpah, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih mendasar, yakni daya tahan untuk berpikir, bertanya, dan terus belajar. Dan tanpa itu, pendidikan hanya akan menghasilkan generasi yang tahu banyak hal, tetapi tidak cukup kuat untuk memahaminya secara mendalam.

 

ChatGPT Image Apr 26, 2026, 09_37_04 PM_095121

Hidup itu Absurd, Jangan Lari Darinya

Oleh: Lili Rahayu Usfatun Khasanah

“Hidup itu absurd, jangan lari darinya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan ketegangan yang dalam antara harapan manusia dan kenyataan dunia. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup seharusnya punya arah yang jelas, makna yang tegas, dan akhir yang bisa dipahami. Namun, seiring waktu, kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan: usaha tidak selalu berbuah hasil, doa tidak selalu segera terjawab, dan kebaikan tidak selalu dibalas setimpal. Di titik inilah absurditas muncul sebuah jarak antara apa yang kita cari dan apa yang dunia berikan.

Filsuf seperti Albert Camus menyebut absurditas sebagai kondisi dasar manusia. Kita adalah makhluk yang haus makna, tetapi hidup di semesta yang tidak selalu menyediakan jawaban. Dalam pandangan ini, absurditas bukanlah kesalahan yang harus diperbaiki, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. Masalahnya bukan pada dunia yang tidak masuk akal, tetapi pada harapan kita yang terlalu ingin segala sesuatu menjadi masuk akal.

Namun, menghadapi absurditas tidak berarti menyerah. Justru sebaliknya, di sanalah letak kebebasan manusia. Ketika tidak ada makna yang diberikan secara pasti, manusia memiliki ruang untuk menciptakan maknanya sendiri. Ini bukan tugas yang ringan. Ia menuntut keberanian untuk tetap berjalan meski arah tidak sepenuhnya jelas, untuk tetap mencinta meski tidak ada jaminan, dan untuk tetap berbuat baik meski hasilnya tidak selalu terlihat.

“Jangan lari darinya” berarti tidak menghindar dari kenyataan pahit, tidak menutup mata terhadap ketidakpastian, dan tidak berpura-pura bahwa hidup selalu rapi. Lari dari absurditas bisa berarti mencari pelarian yang semu entah dalam ilusi, penyangkalan, atau harapan-harapan instan yang rapuh. Tetapi menghadapi absurditas berarti berdiri tegak di tengah ketidakjelasan, sambil tetap memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh.

Di sinilah hidup menemukan martabatnya. Bukan karena ia selalu bermakna, tetapi karena manusia terus berusaha memberi makna. Dalam pekerjaan sehari-hari, dalam hubungan sederhana, dalam pengorbanan kecil yang sering tak terlihat semua itu adalah bentuk perlawanan terhadap absurditas. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan seluruh jalannya hidup, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita menjalaninya.

Akhirnya, menerima absurditas bukan berarti kehilangan harapan. Justru sebaliknya, harapan menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi bergantung pada kepastian, melainkan tumbuh dari keberanian. Hidup tetap dijalani, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena kita memilih untuk tidak menyerah pada ketidakjelasan itu.

Maka, hidup memang absurd. Namun, jangan lari darinya. Hadapilah, hiduplah di dalamnya, dan di sanalah perlahan, dalam sunyi dan kesadaran makna itu akan kita ciptakan sendiri.

Tentang Penulis

Lili Rahayu

Lili Rahayu Usfatun Khasanah, merupakan alumnus Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, sekaligus lulusan Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia tengah belajar menjalani perannya sebagai “Ibu” untuk dua buah hatinya: Ali dan Alia.

 

ChatGPT Image 25 Apr 2026, 00.42.52

Tamu di Meja Makan

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso tidak pernah mengundang siapa pun makan di rumahnya.

Bukan karena pelit. Bukan karena tidak suka orang. Tapi karena meja makannya hanya cukup untuk dua kursi, satu untuknya, satu untuk kursi yang sudah dua belas tahun tidak diduduki siapa pun. Kursi mendiang istrinya. Kakek Warso tidak pernah memindahkannya. Tidak pernah menawarkannya untuk diduduki tamu. Orang-orang di Gang Melati Nomor Tiga sudah tahu itu, dan mereka menghormatinya dengan cara yang paling kampungan.

Pura-pura tidak tahu.

Jalu juga tahu aturan itu.

Ayam jago itu tidak pernah masuk ke dalam rumah. Ia hidup di teras, di pagar, di halaman, di wilayah antara rumah dan dunia luar. Seolah ia pun mengerti bahwa ada ruang-ruang yang tidak boleh dimasukinya.

Maka ketika suatu pagi Kakek Warso membuka pintu dan mendapati Jalu sudah berada di dalam rumah, duduk tenang di atas kursi kosong itu, kursi mendiang istrinya, ia tidak langsung marah.

Ia hanya berdiri di ambang pintu. Lama sekali.

Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Pintu belakang mungkin lupa dikunci semalam. Atau mungkin jendela dapur yang selalu sedikit miring itu akhirnya menyerah sepenuhnya. Kakek Warso tidak terlalu mau menyelidiki caranya, yang ada di hadapannya sekarang adalah fakta yang tidak bisa dibantah, bahwasanya Jalu bertengger di kursi itu dengan dada membusung, seperti tamu yang merasa sudah reservasi jauh-jauh hari.

“Turun!” kata Kakek Warso.

Jalu memiringkan kepalanya. Satu mata memandang kakek itu dengan ekspresi yang, kalau ayam bisa punya ekspresi, bisa dibaca sebagai,

“kenapa?”

“Turun, kataku!”

Jalu tidak turun.

Kakek Warso menarik napas panjang. Ia pergi ke dapur, mengambil segenggam dedak, lalu menaburkannya di lantai depan kursi itu. Jalu memandang dedak itu, memandang Kakek Warso, lalu turun dengan anggun dan mulai makan.

Kakek Warso duduk di kursinya sendiri.

Mereka sarapan bersama. Pertama kalinya dalam dua belas tahun, meja makan itu terasa, bukan kebersamaan, tapi setidaknya tidak kosong.

Masalah, seperti biasa di Gang Melati Nomor Tiga, datang dari luar.

Pagi itu Mas Udin, tetangga sebelah yang belum genap sebulan pindah, datang mengetuk pagar dengan wajah yang sudah minta maaf bahkan sebelum mulai bicara.

Maklum, sejak insiden opor beberapa minggu lalu, Mas Udin selalu datang ke rumah Kakek Warso dengan postur orang yang baru saja lolos dari bencana dan tidak mau mengulanginya.

“Pak Warso, maaf mengganggu. Ini ada paket, salah antar ke rumah kami.”

Ia menyorongkan sebuah kotak kecil. Kakek Warso membukanya di teras.

Isinya, sebotol kecap manis, seperempat kilo bawang merah, dan selembar kertas bertulisan tangan, untuk Pak Warso, titip Nenek Sarmi.

Kakek Warso mengernyit. Ia melongok ke arah rumah Nenek Sarmi. Pintu tertutup. Sepi.

“Tadi pagi Nenek Sarmi pergi ke anaknya di Magelang,” kata Mas Udin menjelaskan tanpa ditanya.

“Katanya seminggu. Nitip ini sebelum berangkat.”

Kakek Warso memandang kecap dan bawang merah itu bergantian.

“Ini maksudnya apa?”

“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.”

Kakek Warso membawa kotak itu masuk. Ia duduk di kursinya. Jalu sudah kembali ke teras, bertengger di pagar, memandang jalan dengan gaya seorang pengamat yang tidak perlu berkomentar.

Kecap. Bawang merah. Tanpa penjelasan.

Otak Kakek Warso, yang bertahun-tahun diasah oleh sunyi dan kesendirian, mulai bekerja dengan caranya sendiri.

Di kampung, tidak ada pemberian yang tanpa makna. Kecap dan bawang merah adalah bahan masakan. Bahan masakan adalah undangan untuk memasak.

Memasak untuk siapa?

Untuk diri sendiri?

Tapi kenapa dititipkan?

Atau…

Dan ini yang membuat Kakek Warso tiba-tiba duduk lebih tegak, apakah ini semacam kode?

Bahwa Nenek Sarmi ingin dimasakkan sesuatu ketika pulang nanti?

Atau…

Dan ini yang membuat telinganya memanas,

apakah ini semacam perhatian?

Kakek Warso berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi.

Ia pergi ke sumur, mencuci muka, lalu berdiri di depan cermin retak di kamar mandi dan memandangi wajahnya sendiri untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama.

Rambutnya putih semua. Kumisnya tidak karuan. Gigi depannya tinggal tiga. Melihat kharisma memancar dari wajahnya.

Ia kembali ke teras dan duduk dengan ekspresi seorang lelaki yang sedang bertempur melawan sesuatu di dalam dadanya, dan tidak yakin siapa yang menang.

Tiga hari kemudian, bukan seminggu, Nenek Sarmi pulang.

Kakek Warso mendengar suara becak berhenti di depan gang, lalu suara khas sandal jepit Nenek Sarmi di aspal.

Ia pura-pura sibuk memberi makan Jalu, meski Jalu sudah kenyang dan lebih tertarik memandang kupu-kupu di pohon pepaya.

Nenek Sarmi berjalan masuk ke gang sambil membawa tas kresek. Ia melihat Kakek Warso. Kakek Warso melihat ia. Keduanya pura-pura ini bukan momen apa-apa.

“Cepat pulangnya,”

kata Kakek Warso akhirnya.

“Anak saya ribut. Lebih enak di sini.”

Hening sebentar.

“Titipan kecapnya sudah saya terima,”

kata Kakek Warso dengan suara yang dicoba dibuat datar.

“Maksudnya apa itu?”

Nenek Sarmi berhenti melangkah. Ia memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, atau mungkin bisa dibaca, tapi Kakek Warso tidak mau terburu-buru membacanya.

“Maksudnya apa gimana?”

“Ya, kecap sama bawang merah. Untuk apa?”

Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu tertawa, tawa kecil, bukan tawa keras, tawa orang yang menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak menyangka akan lucu.

“Pak Warso,” katanya, “kemarin saya minta tolong Mas Udin belikan kecap sama bawang merah di warung, tapi saya keburu berangkat. Jadi saya bilang, taruh saja di rumah Pak Warso, nanti saya ambil waktu pulang.”

Kakek Warso membuka mulutnya.

Menutupnya.

Membuka lagi.

“Jadi, ini punya sampeyan?”

“Ya. Boleh saya ambil?”

Nenek Sarmi mengambil kotak kecilnya dan melanjutkan langkah ke rumahnya. Kakek Warso duduk di kursi kayunya dengan ekspresi seorang lelaki yang baru saja membangun istana megah di dalam kepala, lalu mendapati istana itu adalah kandang ayam.

Jalu melompat turun dari pagar, berjalan ke arah Kakek Warso, dan mematuk ujung sandalnya sekali, pelan, hampir seperti tepukan di bahu.

Kakek Warso memandang ayam itu.

“Diam kamu,” katanya.

Jalu kluruk sekali. Pendek. Lalu kembali ke pagar.

Di dalam rumah, kursi mendiang istri Kakek Warso berdiri diam seperti biasa, kosong, sabar, tidak berkomentar apa pun tentang apa yang baru saja terjadi di luar.

Sebagaimana mestinya kursi yang bijak.


 

ChatGPT Image Apr 16, 2026, 05_45_50 PM (1)

Kembali

Oleh: Rio Triyono

“Ia bahkan tak tahu, sejak kapan semuanya terasa berubah. Bukan orang-orang dan sesuatu di sekitarnya, melainkan ada sebagian dari dalam dirinya yang menjauh. yang membuatnya merasa kosong dan rapuh.”

Bagi Taka, hari itu sebenarnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak menjumpai ada sesuatu yang istimewa, hanya beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat bekerja, dan bertemu dengan berbagai hal random lainnya. Hanya rutinitas harian, yang bahkan semakin lama sudah terasa seperti template hidup yang itu-itu saja baginya. Sedikit hambar dan melelahkan memang, tapi itulah adanya.

Kilauan matahari senja, saat itu sepertinya tidak akan menampakan keindahannya. Langit yang belum sepenuhnya terang, masih menyisakan warna abu-abu gelap yang menggantung rendah. di antara kabel listrik dan pucuk-pucuk pohon mahoni di pinggir jalan. Seolah menyisakan cerita hujan yang belum sepenuhnya selesai. Meninggalkan jejak yang belum benar-benar hilang. Jalanan yang masih terlihat basah, dan aroma tanah yang tertangisi langit pun masih tercium samar.

Sore itu, ia keluar dari tempatnya bekerja. Menyalakan motor, lalu melaju secara pelan. Tidak terburu-buru, tidak juga ingin cepat sampai. Melintasi jalanan yang masih tergenang air akibat hujan siang hari itu. Tanpa alasan yang jelas, seolah tidak benar-benar memiliki tujuan. Seperti ada bagian dari dirinya yang sengaja memperlambat segalanya.

Sampai akhirnya…

Ia pun melintasi sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan, dan memutuskan untuk berhenti.

Tempatnya sederhana, dengan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Tidak terlalu ramai. hanya terdapat beberapa meja kayu dengan kursi yang tampak sudah cukup lama digunakan, meninggalkan berbagai kenangan orang-orang yang pernah mengunjunginya.

Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk perlahan.

Denting lonceng kecil yang tergantung di pintu terdengar singkat olehnya, bunyi yang sedikit memecah kesunyian di dalam. Seperti menyapa kedatangan dirinya tanpa benar-benar ingin diperhatikan. Aroma kopi yang pekat dan hangat segera menyambutnya. Lampu-lampu gantung yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan yang lembut. Terdengar olehnya suara dengung pelan mesin kopi di sudut ruangan yang sesekali mendesis saat uap panas dilepaskan, berpadu dengan alunan musik pelan yang nyaris tak terdengar.

Ia memutuskan untuk memesan secangkir kopi hitam. Tanpa gula, seperti biasa. Pilihan yang sederhana, yang sudah terlalu sering diulang hingga tak lagi perlu dipikirkan olehnya.

Ia pun memilih untuk duduk di dekat jendela.

Entah mengapa…

Baginya, tempat seperti itu selalu terasa lebih nyaman. Mungkin karena ia bisa melihat dunia luar bergerak sebagaimana mestinya dari sana. Orang-orang berjalan, kendaraan yang melaju, dan waktu yang terus berlalu tanpa pernah peduli pada siapa pun.

Tanpa menunggu terlalu lama, secangkir kopi yang ia pesan pun datang. Permukaan yang berputar halus, seolah menyimpan panas yang masih hidup di dalamnya. Uap tipisnya mengepul perlahan, membawa aroma pahit di hidungnya sebelum akhirnya menghilang di udara.

Ia tidak langsung menyesapnya. Tangannya hanya menyentuh cangkir itu sejenak, merasakan panasnya yang menjalar pelan ke telapak tangan miliknya. Terasa hangat, cukup untuk meredakan hawa dingin dari udara luar yang lembap akibat hujan.

Namun, sudah seperti kebiasaan yang tidak ia sadari. Pandangannya sesekali tertuju pada pintu, setiap kali lonceng di pintu itu berbunyi, refleksnya pun kembali bekerja.

Ia menoleh. Seolah berharap ada sesuatu, atau seseorang yang akan dating menemuinya. Tapi, yang ada hanyalah orang-orang asing. Wajah yang tidak pernah benar-benar ingin diingat olehnya.

Kemudian…

Ia pun mengangkat cangkir di depannya, lalu menyesapnya perlahan.

Entah mengapa, secara tiba-tiba…

Ia teringat pada kejadian kala itu. Bayangan tentang gadis berkacamata bundar yang terlintas begitu saja. Bukan karena wajahnya, bukan pula karena singkat dalam pertemuannya. Mungkin karena percakapan mereka. atau mungkin, karena satu pertanyaan dari gadis itu yang hingga kini masih tertinggal di kepalanya.

Tentang dingin.

Tentang sesuatu yang tak pernah datang.

Ia menghela napas pelan, lalu menunduk menatap kopi yang ada di hadapannya. Uapnya masih terlihat, namun tak lagi setebal sebelumnya. Perlahan, hangatnya mulai berkurang, seperti sesuatu yang sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk lama bertahan.

Ia pun tersenyum tipis.

Entah karena menyadari kebodohan kecil dalam dirinya sendiri, atau karena akhirnya ia mulai mengerti akan sesuatu yang dulu masih terasa samar olehnya.

Ia terdiam sejenak. Menyadari ada sesuatu yang begitu halus dirasa, namun nyata. Bahwa hari ini ia kembali melakukan hal yang sama.

Menunggu.

Tanpa kepastian. Tanpa alasan yang benar-benar jelas. Apa, untuk siapa dan mengapa ia melakukanya. Bahkan, ia sendiri pun tidak tahu, sekarang ia sedang menunggu atau sekedar membuang waktu.

Kembali ia menyesapi kopi itu.

Pahit…

Namun kali ini, terasa lebih jujur.

Di luar, terlihat lampu jalanan kini mulai menyala. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, bergerak dengan urusan masing-masing. Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang sedang menunggu, atau apa yang sedang diharapkan.

Dan mungkin, memang seperti itulah seharusnya.

Ia pun kembali bersandar.

Kali ini, ia tidak lagi melihat ke arah pintu. Tidak lagi menunggu bunyi lonceng. Tidak lagi berharap akan ada seseorang yang datang menghampirinya dan mengubah hari itu menjadi sesuatu yang berbeda baginya.

Ia hanya duduk. Diam.

Mendengarkan suara mesin kopi, denting gelas, dan langkah kaki yang datang lalu pergi.

Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sederhana.

Dan anehnya… itu cukup.

Akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menunggu sesuatu dari luar. Seolah-olah kehadiran orang lain adalah satu-satunya cara untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya. Padahal, ruang itu tidak pernah benar-benar kosong. Hanya saja, ia yang jarang benar-benar berhenti untuk melihatnya.

Ia menatap keluar jendela.

Cahaya matahari mulai menghilang. Tergantikan sorot lampu kota dan kendaraan yang melintas di jalanan, memantul di permukaan aspal yang masih basah dan perlahan mengering. Segalanya kembali seperti biasa, dan untuk pertama kalinya, dirinya tidak merasa tertinggal di dalamnya.

Ia kembali menyesap kopi.

Kini hangatnya terasa lebih berarti. Bukan karena suhunya, melainkan karena ia benar-benar merasakannya.

Tanpa terburu-buru, tanpa distraksi, dan tanpa harapan yang berlebihan,

yang ada, ia hanya merasakan… bahwa dirinya ada.

Dan di situlah ia akhirnya mengerti, bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian. Terkadang, sendiri adalah cara paling jujur untuk menenangkan diri. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk kembali.

Kembali pada diri sendiri. Kembali pada hal-hal sederhana yang selama ini ia lewatkan. Kembali pada ketenangan yang tidak bergantung kepada apapun. Dan kembali untuk tidak berharap akan kehadiran siapapun.

Kopi di hadapannya pun perlahan mendingin. Namun kali ini, ia tidak merasa kehilangan apapun. Ia berdiri perlahan, meraih tas, lalu berjalan menuju pintu. Lonceng kecil itu kembali berbunyi saat ia membukanya. Udara di luar dirasanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.

Ia melangkah keluar.

Tanpa menoleh kembali, dan tanpa menunggu apapun lagi.

Karena sekarang ia pun mengerti, bahwa tidak semua kehangatan harus datang dari orang lain. Terkadang, kesendirian adalah cara paling jujur untuk pulang, dan menemukan kembali diri yang sempat hilang dalam penantian.

Tentang Penulis

Rio Triyono

Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.


 

Pria di tepi sungai misterius

Kautshar

Oleh: Iis Sugiarti

Selepas ngaji ba’da Isya, Abah Kiai Muslih memintaku menemui beliau di ndalem. Setelah menunggu sejenak, beliau datang ke ruang tamu, duduk di kursi yang telah kusiapkan, sementara aku bersimpuh di hadapannya.

“Lim, besok pagi kamu ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Sampaikan surat ini kepada Mbah Wira. Jangan pulang sebelum beliau mengizinkanmu kembali ke pondok.”

“Nggih, Bah. Sendiko dawuh.”

Sebelumnya aku belum pernah menerima amanah seperti ini. Aku kembali ke kamar dengan sekantung rasa penasaran akan maksud beliau. Namun yang terpenting, tugasku adalah khidmat kepada pesantren fokus menunaikan amanah dari Abah Kiai Muslih sampai tuntas. Kurang beruntung apa lagi? Aku yang yatim piatu ini masih diberi nikmat menimba ilmu di pesantren. Sudah lebih dari duabelas tahun, pesan terakhir bapakku sebelum meninggal masih selalu kupegang.

“Lhe, kowe kudu nurut karo Abah Kiai, pokoke sendiko dawuh. Bapakmu ini tidak punya apa-apa untuk membekali dirimu. Bapak hanya bisa mendoakan agar kamu menjadi orang yang berguna.”

Pesan itu beliau sampaikan saat menyerahkanku kepada Abah Kiai Muslih di Pondok Pesantren Al Kautsar, ketika aku mulai masuk Aliyah. Ibu telah lebih dulu meninggal, sejak aku masih tujuh tahun.

Dalam cengkerik malam, selepas tahajud, aku membuka lemari. Di balik pintu tertempel foto lama bapak dan ibuku.

“Assalamu’alaikum, Pak, Bu. Pagi ini Ngalim mendapat amanah dari Abah Kiai untuk pergi ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Pangestunipun nggih,” ucapku sambil tersenyum.

Bapakku hanyalah buruh tani sederhana. Namun aku tak pernah melihatnya mengeluh, ia selalu merasa cukup. Sejak dulu, beliau sangat khurmat dan takdzim kepada Abah Kiai Muslih. Aku pun sering diajak sowan ke ndalem beliau.

***

Tidak banyak yang kubawa, dua baju koko, dua sarung, dua celana, satu kaos lengan panjang, dan peci. Surat untuk Mbah Wira kubungkus plastik, jaga-jaga jika hujan turun di perjalanan. Semua kususun rapi dalam tas.

Sebelum berangkat, aku meminta izin kepada ketua pengelola Kebun Kendana untuk memetik beberapa ubi ungu. Ubi-ubi itu akan kubawa sebagai buah tangan untuk Mbah Wira. Aku tak tahu pasti berapa lama perjalanan menuju Kampung Katamasingkir. Dari cerita Kang Dahlan, kampung itu berada di ujung Utara kabupaten ini. Ia sendiri tidak begitu tahu, hanya pernah mendengar nama Hutan Punjok Pinong dari orang-orang.

“Kang Ngalim, sampean boleh pakai motorku kalau mau. Tapi sudah tua… bisa mogok sewaktu-waktu,” katanya.

Wah, maturnuwun, Kang. Tak pinjam nggih. Moga-moga motore ora ngasi ngambek yo,” jawabku sambil tertawa kecil, menepuk pundaknya. Ia pun ikut terkekeh.

***

Tepat ba’da sholat Subuh, aku bersiap berangkat. Motor Astrea keluaran tahun delapan puluhan itu meluncur pelan, meninggalkan Pondok Pesantren Al Kautshar. Aku sempat menoleh ke arah ndalem Abah seperti mengikat janji dalam diam: “amanah ini harus sampai. Semoga hasil maqsud”.

Kuarahkan laju ke Utara. Sesekali berhenti, bertanya, lalu melanjutkan lagi. Matahari meninggi, panasnya menekan kulit, peluh tak lagi terasa asing. Lapar kutahan. Uang di saku hanya cukup untuk berjaga jika bensin habis.

Setengah hari berlalu. Pertanyaan yang sama jawaban yang sama: tidak tahu. Senja mulai turun. Jalan terasa semakin lengang.

Aku berhenti di pinggir, membiarkan sunyi mengambil alih. Ada yang terasa janggal seperti arah yang kutempuh tak benar-benar membawa ke mana-mana. Aku menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ragu menyelinap. Saat itulah, dari entah arah mana, seorang kakek-kakek datang. Rambutnya putih panjang, bajunya pucat seperti sisa cahaya.

“Nyari apa, Lhe?”

“Kampung Katamasingkir, Mbah…”

Kakek itu tersenyum samar.

“Sing kok goleki… ora mesthi ketemu karo sing nggoleki.”

Aku terdiam.

“Semakin kamu memaksa sampai, semakin jauh ia menjauh.”

“Lajeng pripun Mbah ?”

“Terus mlakuo. Tapi ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati.”

Aku ingin bertanya lagi, tapi kata-kata seperti tertahan.

“Nek wis tekan waktune… kowe bakal nemu.”

Aku menunduk,

“Nggih Mbah… maturnuwun…”

Tangan tuanya sempat menyentuh kepalaku ringan, tapi terasa lama. Aku tertunduk merenung. Saat aku mengangkat wajah, ia sudah pergi.

Di seberang jalan, ada masjid kecil. Aku berhenti untuk sholat. Selesai salat, seorang nenek-nenek keluar tergopoh, membawa kantong plastik.

“Lhe… kowe lagi lelungan ? Iki ono panganan!”. Aku menerimanya.

“Nggih Mbah… matur nuwun…”

“Kowe arep lunga endi, Lhe?”

“Kampung Katamasingkir, Mbah…” Nenek itu diam sejenak.

Owh… sing cedhak Punjok Pinong kuwi?” Aku mengangguk cepat.

“Aku ora ngerti persise, yo uwis ditata niate yo Lhe…” katanya pelan, sambil tersenyum tipis seperti menyimpan sesuatu.

Setelah makan, aku kembali melaju ke Utara. Jalan masih sama, tapi rasanya tidak lagi sama. Langit mulai gelap. Angin berhembus lebih dingin dari sebelumnya. Aku tidak lagi yakin apakah aku sedang mendekat atau justru semakin jauh. Namun kali ini, aku tidak bertanya. Aku hanya melaju membiarkan arah menemukan jalannya sendiri. Sampai tidak sampai kupasrahkan semuanya kepada Gusti Allah.

***

Malam benar-benar menggerayangiku. Aku masih melaju, menembus gelap yang semakin pekat. Bensin sudah kuisi penuh beruntung Si Astrea tidak sampai ngambek. Semakin ke Utara, rumah-rumah mulai menghilang. Jalanan sunyi, tanpa lampu, tanpa tanda. Sampai akhirnya aku berhenti. Di depanku terbentang telaga luas. Airnya jernih, tenang, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin diketahui siapa pun. Tak ada manusia. Tak ada suara, kecuali suara jangkrik yang tengah bersenandung riuh. Hanya ada gubug bambu yang tampak renta, dan sebuah bangku kayu panjang di depannya.

Aku duduk. Diam. Menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa. Kutatap sekeliling, kosong. Benar-benar kosong. Aku berdiri, melangkah mendekati telaga. Gelap, namun sinar rembulan yang memantul di telaga itu turut memantulkan bayanganku yang samar.

“Ini, aku di mana sebenarnya?” Pikiranku mulai gaduh.

“Apakah ini Kampung Katamasingkir?”

“Ataukah ini Hutan Punjok Pinong?”

“Kalau benar ini hutan itu, lalu di mana jalannya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu saling berkejaran, semakin keras, semakin liar. Aku mengusap wajah. Napas terasa berat.

“Kalau aku salah jalan…?”

“Kalau aku tidak sampai…?”

“Bagaimana kalau amanah ini gagal?”

Dadaku mulai sesak. Untuk pertama kalinya, muncul keinginan itu

berhenti.

“Sudah, sampai sini saja…”

Langkahku goyah. Aku menatap gelap di seberang telaga, hutan yang tak jelas bentuknya. Rasanya jauh. Terlalu jauh.

“Apa mungkin, aku memang tidak akan pernah sampai?”

Kalimat itu terucap lirih, tapi terasa menghantam keras. Aku menunduk.

Tangan gemetar. Bayangan Abah Kiai Muslih muncul. Wajahnya tenang, tapi justru itu yang membuatku semakin takut. Aku takut mengecewakan beliau.

“Aku ini siapa ?, berani-beraninya merasa mampu!”

Rasanya ingin berteriak. Sekencang-kencangnya. Tapi suaraku tertahan di dada.

“Astaghfirullahal’adzim…”

Aku menarik napas panjang. Pesan kakek-kakek itu terlintas kembali.

“Ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati”.

Aku terdiam. Pelan-pelan, aku mendekati telaga. Kuambil airnya untuk berwudhu. Dingin. Menusuk. Seakan menyadarkan sesuatu yang hampir runtuh. Aku dirikan shalat. Dalam sujudku yang terakhir, aku tidak lagi bertanya tentang arah. Aku hanya mengadu.

“Yaa Allah, kalau ini jalan-Mu, tuntun aku…”

“Kalau aku salah, luruskan…”

“Kalau aku lemah, kuatkan…”

Sujud terasa lebih lama. Lebih dalam. Seperti ada yang perlahan diturunkan,menenangkan, menata ulang yang sempat kacau. Setelah salam, aku masih duduk. Hening. Tidak ada jawaban. Tapi, ada yang berubah. Bukan jalannya. Bukan tempatnya. Hatiku. Namun justru di titik itu ketika aku tidak lagi yakin harus bagaimana. Aku masih duduk tempat yang sama. Badan rasanya sudah sangat lelah. Aku rabahkan badanku sejenak. Rasa kantuk tak tertahan, seolah suara-suara jangkrik dan kericak air telaga itu dengan lembut meninabobokanku.

***

“Lhe, tangi !”

Suara itu datang pelan, seolah menyelinap di antara sisa-sisa lelapku. Sebuah tangan mengusap pundakku dengan lembut. Aku tergeriap, bangkit dengan napas yang masih tersengal.

Di hadapanku berdiri seorang lelaki paruh baya. Wajahnya teduh, diterangi cahaya temaram malam.

“Nyuwun sewu, Bapak sinten nggih? Saya kira, tidak ada orang di sini,” kataku masih setengah bingung.

“Saya Martaji,” jawabnya lirih namun mantap.

“Diutus Mbah Wira untuk menjemput sampean. Sampean Ngalim, leres?”

“Nggih… leres, Pak…” Aku menatapnya lekat, mencoba memastikan ini bukan sisa mimpi.

MasyaAllah, niki kulo boten ngimpi, nggih?”.

Beliau tersenyum tipis.

Aku mencubit pipiku sendiri, pelan. Nyeri itu nyata. Aku masih terperanjat heran, bagaimana mungkin Mbah Wira mengetahui kedatanganku? Namun di saat yang sama, hatiku terasa lapang, seolah beban panjang sejak pagi tadi perlahan luruh.

“Alhamdulillah… maturnuwun sanget, Gusti…” bisikku lirih.

Tanpa banyak kata, Pak Martaji mengajakku menuju tepian telaga. Sebuah perahu kecil terikat di sana, bergoyang pelan disentuh riak air yang nyaris tak bersuara. Motor Astrea kutinggalkan di gubug. Pak Martaji meyakinkanku, “Aman, insyaAllah.”

Kami pun naik. Perahu bergerak pelan, membelah air yang gelap dan tenang. Aku ikut mendayung, meski lebih sering diam mendengarkan bunyi dayung yang menyentuh air, berulang, ritmis, seperti zikir yang tak terucap.

Telaga itu terasa panjang dan sunyi. Seolah tak bertepi. Senterku mulai meredup, cahayanya patah-patah. Kini hanya obor yang dibawa Pak Martaji  menjadi satu-satunya penunjuk arah. Nyala apinya kecil, tapi cukup untuk menjaga kami tetap percaya bahwa kami sedang menuju sesuatu. Entah berapa lama, akhirnya perahu menyentuh tepian.

“Ini Hutan Punjok Pinong,” ujar Pak Martaji pelan.

“Di dalam sana, ada Kampung Katamasingkir.” Aku mengangguk, tanpa kata.

Kami melangkah masuk. Hutan itu gelap lebih gelap dari yang pernah kubayangkan. Semak belukar menjalar liar, pohon-pohon besar menjulang seperti bayang-bayang yang diam mengawasi. Angin berembus pelan, membawa suara-suara samar yang tak jelas asalnya.

“Tenang Lhe!, diakehi dzikir,” bisik Pak Martaji. Aku menurut.

Langkah demi langkah kami tempuh. Menanjak, lalu menurun landai. Nafasku mulai teratur, meski hati masih menyimpan sisa-sisa tanya. Hingga di kejauhan, tampak titik-titik cahaya. Awalnya samar. Lalu perlahan jelas. Dini hari menyambut ketika kami sampai. Sebuah perkampungan sederhana terbentang di hadapanku. Rumah-rumah bambu dan kayu berbentuk joglo berdiri berjajar, masing-masing diterangi obor di depannya. Cahaya api menari pelan, memberi kesan hangat di tengah dinginnya malam.

Pak Martaji membawaku menuju rumah yang berada tepat di tengah. Di sampingnya terdapat sebuah pendopo, seperti surau. Tampak tempat pengimaman, bedug, dan kentongan mungil yang tergantung rapi.

Beliau mengetuk pintu. Tok… tok…

“Assalamu’alaikum…”

Pintu terbuka perlahan. Aku terperanjat kaget, dadaku langsung berdegup kencang. Orang yang berdiri di hadapanku adalah sosok yang sama dengan kakek yang kutemui di perjalanan tadi. Aku menatapnya tak berkedip. Dari ujung rambut hingga kaki. Tak mungkin salah. Pak Martaji menunduk hormat, menyalami dan mencium tangannya. Aku pun mengikuti, meski tanganku terasa dingin.

“Ini Mbah Wira,” ucap Pak Martaji singkat.

Aku tercekat.

Dengan suara yang sedikit bergetar, kusampaikan salam, lalu kusodorkan surat dari Abah Kiai Muslih. Ubi ungu yang kubawa pun kuletakkan di hadapan beliau. Mbah Wira menerimanya dengan senyum tenang.

“Alhamdulillah, uwis tekan Lhe!” ucapnya lembut.

Suara itu sama. Senyumnya sama.

“Silakan masuk. Istriku sudah menyiapkan makan dan tempat istirahat. Bersih-bersihlah dulu di belakang.”

“Nggih, Mbah, maturnuwun”

Aku menunduk dalam. Masih dengan hati yang bergetar antara takjub, bingung, dan rasa cukup yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.

***

Fajar perlahan merekah. Cahaya tipis menyusup di sela-sela dinding bambu, membasuh kampung dengan warna pucat yang tenang. Dari surau di depan, terdengar lantunan puji-pujian untuk Kanjeng Rasulullah Saw., lirih, berulang, seperti aliran yang tak putus.

Aku bergegas menuju surau. Beberapa orang sudah duduk bersila, sebagian membaca al Qur’an, sebagian lagi hanya menunduk khusyuk. Suara mereka berpadu, mengisi ruang yang sederhana itu dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.

Aku menunaikan Shalat Qabliah, lalu duduk di sudut, mengamati. Dinding bambu, lampu minyak yang masih menyala, bedug kecil di samping semuanya terasa asing, tapi sekaligus akrab. Tiba-tiba seseorang mendekat.

“Kang, nyuwun sewu, monggo panjenengan dados imam,” ucapnya pelan.

Aku terkejut.

“Kulo? Ngapunten, Kang… kulo boten wantun.”

“Boten nopo-nopo, Kang. Meniko pesanipun Mbah Wira, saestu.”

Aku terdiam sejenak. Nama itu seperti mengetuk sesuatu dalam hatiku. Tanpa banyak bertanya, aku berdiri. Langkahku terasa pelan menuju tempat imam. Sekilas aku menoleh ke belakang barisan sudah rapi. Namun sosok Mbah Wira tak kutemukan. Shalat berlangsung khidmat. Suara takbir, bacaan ayat, dan gerakan yang serempak semuanya terasa mengalir, seolah aku hanya mengikuti sesuatu yang sudah lebih dulu diatur.

Usai salam, lelaki tadi kembali mendekat.

“Kang, nyuwun sewu… panjenengan dipun amanahi ngisi majelis ba’da Subuh.”

Aku menatapnya, ragu.

“Kulo?”

“Nggih, monggo…”

Aku benar-benar tak siap. Namun ketika menoleh ke belakang, jamaah sudah membentuk halaqah. Anak-anak duduk di depan, orang dewasa melingkar di belakangnya. Semua mata tertuju menunggu. Aku menarik napas panjang. Dengan suara pelan, aku membuka majelis: tawasul kepada Kanjeng Nabi, dilanjutkan Surah Al-Fatihah.

Di tengah kegugupan, ingatanku melayang pada pengajian bersama Abah Kiai Muslih tentang keutamaan ilmu dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Mbah Kiai Hadratusyaikh Hasyim Asya’ari. Itulah satu-satunya yang terlintas. Meski hati kecilku berkata aku belum pantas, namun kalimat-kalimat itu tetap mengalir. Perlahan. Seadanya.

Majelis pun usai. Aku mendekati pemuda tadi.

“Kang, nyuwun sewu… njenengan sinten nggih? Kulo badhe nyuwun pirsa, Mbah Wira wonten pundi? Kok mboten katingal?”

“Kulo Amin, Kang,” jawabnya sopan.

“Mbah Wira, kadang tindakan tanpa pamit. Kulo ugi mboten sumerap tindak pundi.”

Aku terdiam.

“Tapiii,” lanjutnya, “Kulo dipun titipi dawuh. Menawi Kang Ngalim, dipun suwun ngurus surau punika, ngantos Mbah Wira kondur.”

Ada jeda yang cukup panjang dalam hatiku. Seakan semua yang kualami sejak kemarin perjalanan, pertemuan, hingga pagi ini bermuara pada satu titik: amanah.

Aku menunduk pelan.

“Nggih…”

Tak ada pilihan lain. Bukan sekadar karena diminta tapi karena ini bagian dari sendiko dawuh yang harus kutunaikan.

“Bismillah…”

***

Sudah satu bulan aku di Kampung Katamasingkir. Mbah Wira belum juga tampak. Hari-hari berjalan begitu saja, tapi tidak benar-benar sama. Ada ritme yang pelan-pelan terbentuk. Aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Surau menjadi pusatnya.

Anak-anak mulai kukumpulkan setiap sore, TPQ berjalan, meski sederhana. Huruf demi huruf, ayat demi ayat. Kadang diselingi tawa, kadang harus diulang berkali-kali. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun mulai ikut duduk. Tidak selalu mengaji, kadang hanya mendengarkan.

Yang membuatku takjub, setiap bedug dan kentongan dipukul, orang-orang seperti memiliki kesadaran yang sama. Aktivitas berhenti. Mereka bergegas ke surau. Tidak perlu dipanggil dua kali.

Seusai shalat, selalu ada majelis meski hanya sebentar. Seolah kampung ini hidup dari jeda-jeda itu. Pesan Abah Kiai Muslih sering terngiang:

“Gandengno ibadah karo ilmu…”

Dari situ, pelan-pelan kami menyusun sesuatu. Anak-anak muda dikumpulkan. Dibentuk kepengurusan sederhana untuk mengurus kegiatan surau. Tidak resmi, tapi terasa.

Pagi hari, setelah Duha, aku sering bersama Kang Amin masuk ke Hutan Punjok Pinong. Mencari kayu bakar untuk Mbah Putri, begitu aku memanggil istri Mbah Wira. Di sela itu, aku belajar banyak hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.

Air hujan, misalnya. Kami mulai membuat sumur resapan di samping rumah-rumah warga. Tidak besar, tapi cukup untuk menahan air agar tidak langsung lari ke bawah. Di belakang rumah Mbah Wira, ada kebun yang semula dibiarkan. Atas saran Mbah Putri, aku mulai menggarapnya. Singkong, ubi, bayam, bawang tanah itu perlahan berubah. Tidak cepat, tapi pasti.

Waktu berjalan tanpa terasa. Sudah tiga bulan. Aku mulai merasa bukan lagi tamu. Warga tidak lagi memanggilku “orang pondok”, tapi bagian dari mereka. Namun satu hal tetap menggantung, Mbah Wira belum juga kembali. Kadang, di sela malam, kegelisahan itu datang. Kemana beliau pergi? Apakah aku melakukan ini dengan benar? Tapi setiap kali itu muncul, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah berjalan.

Hingga suatu pagi, selepas majelis ba’da Subuh Aku melihat seseorang berdiri di pintu surau. Awalnya samar. Seperti bayangan yang belum sepenuhnya hadir. Aku mengucek mata. Dan saat pandanganku kembali jernih aku mengenalinya. Mbah Wira.

“Alhamdulillah…” tanpa sadar aku mengelus dada.

Jamaah yang lain satu per satu menghampiri, menyalami beliau. Suasana menjadi hangat, tapi juga hening dengan caranya sendiri. Aku mendekat terakhir.

Menunduk, mencium tangan beliau.

“Lhe, wis cukup yo!,” ucapnya pelan, sembari mengusap kepalaku.

“Hari ini, kamu boleh pulang ke pondok.”

Aku terdiam sejenak.

Alhamdulillah… nggih, Mbah. Maturnuwun sanget…”

Aku tidak bertanya apa-apa. Tentang kepergian beliau. Tentang maksud semua ini. Aku hanya menceritakan apa yang telah kulakukan selama di sini, tentang surau, TPQ, kebun, dan warga. Tentang Kang Amin yang banyak membantuku. Beliau hanya mengangguk-angguk pelan. Selebihnya, diam.

Aku pun berpamitan, dengan Mbah Wira, dengan Mbah Putri, dengan Kang Amin dan dengan warga yang kini terasa begitu dekat. Ada berat yang tak bisa dijelaskan. Namun ada juga rasa cukup yang diam-diam menenangkan.

Pak Martaji kembali mengantarku. Menyusuri Hutan Punjok Pinong yang kini terasa berbeda. Menyebrangi telaga yang dulu terasa panjang. Saat sampai di gubug, motor Astrea itu masih di tempatnya. Berdebu, tapi utuh. Kucoba menyalakan. Sekali tidak hidup. Dua kali masih diam. Tiga, empat. Baru pada yang kelima mesin itu menyala. Pelan. Seperti mengerti perjalanan ini belum benar-benar selesai. Ah kenapa ajaib sekali. Baru kusadari, mungkin sejak awal aku tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.

***

Perjalanan pulang terasa lebih cepat, jalan yang kemarin asing kini seperti sudah akrab. Setiba di pondok, aku segera membersihkan diri, lalu menuju ndalem Abah Kiai Muslih. Kutitipkan pesan pada santri ndalem bahwa aku ingin sowan.

Aku menunggu sambil bersimpuh. Beberapa saat kemudian, yang datang bukan Abah Kiai Muslih, melainkan Ibu Nyai Nafisah. Mungkin Abah sedang beristirahat atau berhalangan. Aku menunduk hormat, lalu menyampaikan maksud kedatanganku bahwa amanah telah kutunaikan. Surat telah kusampaikan kepada Mbah Wira di Kampung Katamasingkir.

Perlahan, aku lanjutkan ceritaku. Tentang perjalanan, tentang pertemuan-pertemuan yang tak terduga, hingga apa saja yang kulakukan selama di sana. Namun di tengah bercerita, aku melihat mata Ibu Nyai mulai berkaca-kaca. Air mukanya berubah seperti ada kesedihan yang tak sempat disembunyikan.

Aku gugup. Tak berani menatap lama. Meski terbata, aku tetap melanjutkan bercerita sampai selesai. Setelah itu, aku menunduk dalam. Aku tak mengerti mengapa cerita itu justru menghadirkan kesedihan di wajah beliau. Hingga tiba-tiba, Ibu Nyai Nafisah memanggil seseorang.

“Sini, Nak… keluar.”

“Ning Kautshar…?” batinku lirih.

Ia melangkah pelan dari balik pintu ruang tengah, lalu duduk di samping Ibu Nyai. Ia memang tersembunyi. Ia terjaga. Sungguh ia seperti telaga yang teduh, tenang, mekar ranum bunga teratai. Aku tak berani lama menatap. Ibu Nyai Nafisah menahan napas sejenak, lalu berkata pelan, “Abah menitipkan wasiat khusus untukmu, Ibu mohon, tunaikan..”

Kalimat itu jatuh perlahan namun terasa berat.

“Wasiat ?” Tubuhku seketika gemetar. Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.

“Abah…” suaraku pecah, tak sempurna.

Aku menunduk dalam. Air mata jatuh tanpa sempat kutahan dan tanpa suara. Segalanya seperti tiba-tiba menjadi jelas, sekaligus tak sepenuhnya bisa kupahami.

“Nggih, Lhe…” lanjut Ibu Nyai lirih,

“Kautshar telah menunggumu!”

***

@iiz_oanes_99

Iis Sugiarti, kelahiran Kebumen, 08 Februari. Alumnus Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pegiat di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Karyanya telah termaktub di beberapa buku antologi: Senandung Cinta Untuk Ibunda (Asrifa Publisher: 2014), Radar Lupus (Asrifa Publisher: 2014), 100 Makna Kasih Sayang Ayah Ibunda (Gerbang Sastra: 2014), Bisikan Kata Teriakan Jiwa (Meta Kata: 2014), Senarai Diksi (Pena House: 2014), Cerita Mei (Goresan Pena: 2014), Pelangi Syair Sang Penyair (Fornusa Indonesia: 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 5 (Forum Sastra Surakarta: 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta: 2015), Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (Kosa Kata Kita: 2015), Balada Badut-Badut dan Rumput (Oase Pustaka: 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta: 2016), Creative Writing (Kaldera:2016), Koran Harian Satelit Post (2015), Koran Madura (2016), Pilar Puisi 3 (SKSP: 2016), Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan (Kosa Kata Kita: 2017), Seberkas Cinta (2017), Kidung Patani (2017), Kampus Hijau 3 (SKSP: 2017), Puisi Menolak Korupsi Jilid 6 (Forum Sastra Surakarta: 2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8: Kosa Kata Kita, 2018), A Skyful of Rain (Banjabaru’s Day Literary Festival: 2018), Palung Tradisi (Perempuan Penyair Indonesia: 2019), dan karya cerpennya termaktub di Mawar yang Tertanam di Pelaminan Air Mata (Oase Pustaka: 2015), Isyarat (CV: Landasan Ilmu: 2016), Senandung Cinta dari Pesantren (Diva Press: 2022). Esainya termaktub dalam buku “Revitalisasi Sastra Pesantren” (An Najah Press: 2016). Adapun terbitan buku akademik, berjudul “Pengembangan Budaya Penginyongan” (2026). Selain itu penulis aktif dalam publikasi ilmiah (2021-2026). Publikasi artikel dapat diakses melalui Google Schoolar penulis: yrnFB-gAAAAJ. Penulis dapat dihubungi via Instagram: @iiz_oanes_99.

 

 

 

 

 

Wanita berhijab dengan buku bercahaya (1)

Menebar Cahaya Ilmu: Perjalanan Mahasantri Menuju Puncak Pendidikan

Oleh: Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Sebagai seorang Mahasantri, aku menyadari bahwa Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan. Aku memilih untuk terus belajar, tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa. Aku terinspirasi oleh Abah Roqib, Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, yang selalu menekankan pentingnya “Sinau Terus Sundul Langit”, tiada hari tanpa tambah Ilmu, belajar tanpa henti hingga mencapai puncak Ilmu.

Pendidikan adalah sarana dimana manusia belajar bagaimana menjalani hidup. Secara teoritis,  pendidikan  diartikan  sebagai  usaha  sadar  yang  dilakukan  oleh  keluarga, masyarakat,  dan  pemerintah  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran,  dan  pelatihan. Kegiatan tersebut berlangsung di lembaga formal, informal, dan nonformal dan berlanjut sepanjang hidup seseorang. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan individu-individu yang  cerdas  secara  intelektual,  emosional,  dan  spiritual  (IQ,  EQ,  dan  SQ)  agar  mampu mengaplikasikan ilmu  yang diperolehnya  dalam berbagai  lini kehidupan  secara dinamis untuk masa depan.

Tahukah kamu?, berdasarkan penelitian genetika, menunjukan bahwa kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh gen yang diturunkan dari Ibu. Hal ini karena kromosom X yang berperan penting dalam fungsi otak dimiliki dua buah pada Perempuan, sehingga kemungkinan menurunkan gen yang memengaruhi IQ lebih besar dari pihak ibu dibandingkan ayah, kecerdasan turun temurun sekitar 40%-60% sisanya bisa dari faktor eksternal seperti lingkungan, Pendidikan, kasih sayang dan lain sebagainya.

Seorang Perempuan yang berpendidikan akan dapat membesarkan generasi yang berpendidikan dalam rumah tangganya karena ia akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Cara seorang Ibu dalam memberikan pendidikan pertama bagi anak-anaknya akan memiliki dampak yang signifikan terhadap apakah anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sukses.

Ketika seorang Perempuan memilih untuk terus belajar, sejatinya ia sedang menanam benih yang tak hanya tumbuh untuk dirinya sendiri. Ia sedang mempersiapkan masa depan, membangun fondasi kecerdasan yang kelak hidup dan berdenyut dalam diri anak-anaknya. Sebab dari Rahim seorang Ibu, bukan hanya kehidupan yang lahir, tetapi juga cara berpikir, cara memandang dunia, dan keberanian untuk bermimpi.

Perempuan yang mencintai Ilmu sedang menciptakan generasi yang kuat akal dan jiwanya. Pengetahuannya akan menjadi doa yang diam-diam bekerja, sikap belajarnya akan menjadi teladan yang tertanam tanpa paksaan. Anak-anak yang tumbuh di dekat Perempuan pembelajar akan belajar bahwa hidup bukan sekadar menjalani, tetapi memahami, bertanya dan terus berkembang.

Jika kecerdasan anak berasal dari ibunya, maka perjuangan Perempuan hari ini bukanlah hal kecil. Perempuan yang terus bertumbuh bukan hanya sedang menyelamatkan dirinya, tapi juga sedang membangun fondasi bagi generasi yang lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih penuh cinta. Setiap ilmu yang dipelajari, setiap air mata yang berhasil dikuatkan, adalah warisan tak terlihat untuk masa depan. Karena di balik Perempuan yang terus belajar, ada dunia yang sedang ia bentuk perlahan, dalam diam, tanpa banyak pengakuan. Dan mungkin hari ini terlihat biasa saja, hanya seorang Perempuan yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Padahal sesungguhnya, ia sedang menulis arah masa depan dengan pikirannya, dengan kekuatannya, dengan segala hal yang ia pilih untuk tidak menyerah. Karena satu perempuan yang bertumbuh, tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga arah dunia yang akan datang.

Kita semua selamanya adalah seorang pembelajar. Karena, hanya dengan Ilmu semua persoalan yang terjadi bisa diselesaikan. Pada akhirnya, puncak dari ilmu bukanlah kekaguman orang lain, melainkan ketundukan yang tenang. Belajar menunduk, bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan batin yang sadar bahwa semua ini titipan. Dari banyaknya jenis warisan, warisan paling mahal dan satu-satunya warisan yang tidak akan diperebutkan adalah Pendidikan. Mari terus belajar, terus tumbuh, dan menerangi dunia dengan Ilmu.

Tentang Penulis

Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Nisrina Tuhfatul Azizah adalah seorang santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Saat ini ia sedang menempuh Studi Doktoral jurusan Studi Islam di Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dengan konsentrasi pada Ekonomi Islam. Sebelumnya, ia menyelesaikan Pendidikan S-1 pada Program Studi Ekonomi Syariah dan S-2 Program Studi Magister Ekonomi Syariah di almamater yang sama. Selain menjadi seorang akademisi, Nisrina juga mulai aktif di dunia literasi dan kepenulisan. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @nisrina_azizahh.

 

5019499-HSC00001-32

Yang Lebih Dingin dari Hujan

Oleh: Rio Triyono

Hujan turun tanpa aba-aba, seperti sesuatu yang datang membawa kabar tanpa sempat ditolak. Sore itu, langit menggulung dirinya dalam kelabu yang pekat, lalu menjatuhkan isinya ke bumi dengan deras dan tak memberi jeda. Sialnya, aku yang sedang dalam perjalanan pulang dan tidak membawa jas hujan hanya bisa menghela napas pendek, lalu memutuskan untuk berhenti dan menepi. Tepat di terasan toko dengan setengah pintu terbuka yang bahkan aku pun tak tahu apa isi di dalamnya.

Dengan segera aku memarkirkan motorku. Hanya sekedar untuk berteduh menunggu hujan sedikit reda. Tak ada kursi. Tak ada lampu yang menyala. Hanya atap seadanya dan ruang sempit yang cukup untuk berdiri.  Sambil kutatapi langit yang kian kelabu, dan sesekali memandangi genangan di jalan yang perlahan menyatu, sambil berharap hujan ini segera usai.

Tiba-tiba, suara mesin motor memecah riuh derasnya hujan. seorang gadis berkacamata bundar dengan motor matic berwarna putih berhenti tepat di sebelahku. Ia turun dengan tergesa-gesa. Bajunya sudah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan tubuhnya nampak sedikit gemetar, entah karena dingin atau karena lelah.

Tas slempang berwarna coklat pekat yang terbuat dari kain miliknya pun ikut basah. Segeralah ia buka tasnya itu, untuk memeriksa isi di dalamnya. Wajahnya sedikit lega tatkala mendapati barang bawaannya masih kering setelah menerjang hujan tadi.

“Permisi tuan. Bolehkah saya ikut berteduh di sini?” tanya gadis itu tiba-tiba.

Suaranya lembut, tapi cukup jelas untuk membuatku tersentak dari lamunanku.

“Boleh saja, nona. Silahkan” Aku sedikit bergeser untuk memberinya ruang sebagai isyarat kepada gadis itu agar berteduh di sebelahku.

Kami tak saling bicara untuk beberapa saat. Hanya berdiri berdampingan, sama-sama memandangi hujan yang kian deras, seolah masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pandanganku kembali menatapi jalanan. Perasaanku berkecamuk dengan sedikit rasa khawatir jika hujan akan turun lebih lama lagi.

Benar saja, setelah sekian lama menunggu. Bukannya mereda, yang ada adalah semakin lebat.

“Hujannya semakin deras,” ucapku. Hanya sekedar untuk membuka pembicaraan setelah kami berdua saling terdiam. Lebih karena ingin memecah sunyi daripada benar-benar menyampaikan sesuatu.

“Iya,” jawabnya pelan.

“Sepertinya masih lama untuk mereda. Anginnya juga kencang.” lanjutnya ramah dengan sedikit kekhawatiran akan masuk angin karena baju dan sekujur tubuh yang basah.

Hujan pun kian deras. Riuh air yang jatuh d atap toko pun kian gaduh. Angin pun semakin kencang membawa rasa dingin yang agaknya mulai sulit ditepis tubuh yang mulai membeku. Langit sepertinya sedang sangat bersedih. Entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya. Beginilah saat hujan turun mengguyur. Hanya karena aku lupa membawa jas hujan, aku menjadi terpaku dan hanya termenung menunggu hujan reda. Aku yang bebas menjadi tahanan yang dikurung di dalam rintik air yang teruapkan oleh terik matahari siang tadi.

Aku yang tengah mengutuki diri, menarik nafas panjang. Tubuh yang kian lama merasakan hawa dingin yang terbawa angin kini pelan-pelan terasa menusuk sampai ke tulang.

Namun, di tengah lamunan yang berubah menjadi keterjebakan yang sunyi akibat dingin, aku tersentak tatkala gadis di sebelahku tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang mencengangkan hingga membuat aku begitu bingung.

“Menurutmu, apa perasaanmu tentang hujan?” sepenggal kalimat tanya keluar dari sela-sela bibir yang mulai membiru.

“Ehh… Anu,” reaksiku akibat kaget. “Aku suka hujan.” lanjutku.

Dia membawa kebaikan pada penduduk bumi. Tapi untuk saat ini, aku tak terlalu menyukai hujan. Bukan karena hujan itu sendiri, tetapi Angin dan hawa dingin yang ikut membersamainya.” jawabku dengan sedikit canggung dan kebingungan.

“Ohh, begitu.” sahutnya.

“Bagiku, hujan itu terlalu kejam,” Sebuah pernyataan singkat yang keluar dari bibir yang kian sendu dari gadis itu sembari mengeluarkan kain yang kemudian digunakannya untuk membersihkan kacamatanya yang berembun.

“Terkadang dia datang saat tak diharapkan. Burung-burung pun tak menyukainya. Hujan membawa hawa dingin.  Akibatnya mereka harus mencari daun-daun lebar untuk menutupi sayap-sayap mereka. Setidaknya untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat.” pungkasnya.

“Iya, seperti itulah hujan. Setidaknya dingin akibat hujan lebih baik karena disertai irama dan harmoni yang membuatnya syahdu.” tanggapku. Meskipun aku juga mulai merasa membeku akibat hujan yang tak kunjung berhenti.

“Lantas menurutmu, mana yang lebih dingin, hujan disertai angin, atau angan yang sebatas ingin?” Sahutnya yang membuatku tertegun dan bibirku pun membeku tak mampu berucap apa-apa.

Aku tak begitu paham mengapa gadis itu menanyakan hal tersebut. Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku tentang hidupnya?

Aku terdiam. Termenung dalam kerasnya suara hujan yang seakan-akan membungkam semua percakapan kami tadi.

Aku terdiam cukup lama setelah pertanyaannya. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena pertanyaan itu terasa seperti bukan sekadar pertanyaan. Ada sesuatu yang diselipkan di dalamnya. Sesuatu yang secara tiba-tiba, nampak remeh namun terasa berat.

Gadis itupun kembali mengenakan kacamatanya. Ia menatap lurus ke arah jalan yang basah, seolah mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar ada di sana.

“Aku pernah kehujanan seperti ini,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng toko.

“Bedanya, waktu itu aku sendiri.” ungkapnya.

Aku menoleh. Ada nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita biasa. seperti pintu yang mengarah ke sesuatu yang lebih dalam yang mungkin tidak ingin dibuka begitu saja

“Dia bilang akan menjemputku,” lanjutnya.

“Aku menunggu di tempat yang sama seperti ini. Hujannya juga deras. Aku kira,.. itu akan jadi kenangan yang indah.”

Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa rapuh. Tak ada dramatisasi. Tak ada tangisan. Namun, justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.

“Tapi dia tidak pernah datang.”

Aku tak menyela. Hanya bisa mendengarkan.

“Sejak saat itu,.. aku selalu merasa hujan itu kejam. Dia seperti mengulang kenangan yang sama, dalam waktu yang berbeda.” katanya lagi.

“Dia mengingatkan pada sesuatu yang sudah terjadi, bahkan tidak pernah benar-benar terjadi.” lanjutnya.

Aku menarik napas perlahan. Kini aku mulai memahami arah pertanyaannya tadi.

Aku pun menunduk sedikit.

“Hujan dan angin itu dingin,”

“Tapi angan yang sebatas ingin… mungkin lebih dingin. Karena dia tidak pernah benar-benar ada untuk menghangatkan.” kataku akhirnya.

Gadis itu terdiam. Untuk sesaat, hanya suara hujan yang berbicara di antara kami.

“Kamu benar,” ucapnya lirih.

“Yang diharap dan tidak pernah datang… selalu terasa lebih dingin dan menusuk daripada yang pernah pergi.”

Ia menoleh. Tatapannya berbeda kali ini. Lebih tenang, tapi juga lebih dalam.

“Sesuatu yang diharapkan, tapi tak pernah terjadi memang terasa lebih menyakitkan daripada yang sudah berakhir.” pungkasnya.

Angin kembali berembus. Ia merapatkan lengannya, mencoba menghangatkan diri. Tanpa banyak berpikir, aku melepas jaket yang kupakai dan menyodorkannya.

“Pakai saja. Kamu lebih membutuhkannya.” tawarku padanya.

Ia menatapku. “Kalau kamu?” balasnya sedikit ragu.

“Aku masih bisa menahan dingin,” jawabku singkat.

Ia pun menerima jaket itu perlahan. “Terima kasih.” katanya.

Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian hujan mulai mereda. Tak lagi seganas sebelumnya. Rintiknya berubah menjadi gerimis yang pelan, seolah langit mulai lelah menangis.

Kami berdua bersiap. Ia merapikan tasnya, Aku pun menyalakan motorku. dan kami pun bersiap untuk pergi masing-masing.

Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku,

“Terima kasih… bukan cuma untuk jaketnya, untuk jawabannya juga.” katanya dengan senyum tipis. sambil menyodorkan jaket untuk dikembalikan kepadaku yang sebelumnya ia pakai.

Aku pun mengangguk kecil dengan masih menyisakan kebingungan.

“Kalau suatu hari kamu kehujanan lagi, semoga kamu tidak sendirian.” ucapnya padaku.

“Begitu juga kamu.” jawabku padannya.

Ia pun pergi lebih dulu, menghilang di ujung jalan yang masih basah. Aku masih terdiam sejenak, sambil memandangi jejak air yang ditinggalkan roda motornya.

Selepas itu, aku pun melaju perlahan. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang tertinggal. Bukan bawaan miliku ataupun miliknya, tapi mungkin perasaanku sendiri yang ikut tersentuh ceritanya. Meninggalkan kenangan di tengah sisa gerimis sore itu.

Hingga akhirnya aku mengerti. bahwa sesuatu yang paling dingin bukanlah hujan yang disertai angin, melainkan adalah sesuatu harapan yang kita tunggu, yang kita yakini akan datang, namun pada akhirnya, hanya tinggal sebagai kemungkinan yang tak pernah sempat menjadi kenyataan.

Tentang Penulis

Rio Triyono

Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.