ChatGPT Image 31 Mei 2026, 13.12.06

Anak Baru di Pagar Kayu

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Pak RT datang membawa ayam.

Bukan ayam goreng, bukan ayam bakar, bukan ayam dalam bentuk apa pun yang sudah selesai dengan hidupnya. Tapi seekor ayam jago muda, belum genap setahun, bulunya merah menyala seperti baru keluar dari toko cat, jenggernya masih terlalu besar untuk kepalanya sehingga tampak sedikit oleng ke kiri.

Pak RT, namanya Bambang, tapi tidak ada yang memanggilnya begitu karena jabatan lebih kuat dari nama di kampung mana pun, datang dengan ayam itu dalam kedua tangannya, tersenyum dengan senyum orang yang merasa sedang melakukan sesuatu yang mulia.

“Pak Warso, ini dari warga. Patungan. Biar ada teman si Jalu.”

Kakek Warso memandang ayam itu.

Ayam itu memandang Kakek Warso.

Di atas pagar kayu, Jalu, tua, bulunya sudah sedikit kusam di beberapa tempat, tapi jenggernya masih tegak dengan martabat penuh, juga memandang ayam muda itu. Dengan ekspresi yang sulit dibaca. Atau mungkin mudah dibaca, tapi tidak ada yang mau membacanya dengan keras.

Ceritanya bermula seminggu sebelumnya.

Pak Bambang RT sedang melakukan kunjungan rutin, yang sejujurnya bukan rutin, tapi ia menyebutnya rutin agar terdengar lebih resmi, ke rumah-rumah warga lansia di Gang Melati Nomor Tiga. Ia singgah di rumah Kakek Warso, duduk di teras, menerima teh yang diseduhkan Nenek Sarmi yang kebetulan ada di sana, dan dalam percakapan yang mengalir ia bertanya dengan nada yang ia kira santai:

“Pak Warso, Jalu sudah tua ya? Kalau nanti, ya, kalau nanti tidak ada, bapak mau bagaimana?”

Kakek Warso memandangnya dengan tatapan yang membuat Pak Bambang merasa ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat salah tanpa mengerti bagian mana yang salah.

“Maksud saya, biar ada penggantinya gitu, Pak. Biar tidak sepi.”

“Saya tidak sepi.”

“Ya, tapi, ”

“Saya tidak sepi.”

Pak Bambang pulang dengan perasaan orang yang baru selesai wawancara kerja dan tidak yakin hasilnya. Tapi di perjalanan pulang ia berbisik ke Mas Udin yang kebetulan lagi cuci motor: “Kasihan Pak Warso. Nanti kalau Jalunya mati, dia sendirian.”

Mas Udin berbisik ke Mbak Yanti. Mbak Yanti berbisik ke Bu Lastri. Bu Lastri tidak berbisik, Bu Lastri mengumumkan ke seluruh pelanggan warungnya. Dan dalam dua hari terkumpullah uang patungan yang cukup untuk membeli seekor ayam jago muda dari peternak di desa sebelah.

Tidak ada yang bertanya apakah Kakek Warso menginginkannya.

Kakek Warso menerima ayam itu dengan tangan yang tidak antusias dan ekspresi yang lebih tidak antusias lagi.

Ayam muda itu, yang belum diberi nama oleh siapa pun karena semua orang berasumsi Kakek Warso yang akan menamai, langsung melompat dari tangan Kakek Warso begitu diletakkan di teras, berlari keliling halaman dua putaran penuh seperti anak baru yang sedang orientasi, lalu berhenti di bawah pagar kayu dan mendongak ke arah Jalu.

Jalu memandang ke bawah.

Ayam muda itu kluruk, suaranya masih belum bulat, masih sedikit sember, seperti suara remaja yang sedang mengalami perubahan.

Jalu tidak menjawab.

Pak Bambang pamit dengan senyum lebar dan kepuasan orang yang sudah berbuat baik. Kakek Warso menutup pintu pagar dan berdiri di tengah halaman dengan seekor ayam tua di atas pagar dan seekor ayam muda di bawahnya, dan sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya: sekarang apa?

Jalu tidak turun dari pagar seharian.

Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya Jalu turun untuk makan, turun untuk berkeliling, turun untuk mengusik ayam betina milik Nenek Sarmi, turun untuk hal-hal yang ia anggap perlu. Tapi hari itu Jalu bertengger dari pagi sampai sore dengan posisi seorang pensiunan jenderal yang tidak diajak rapat.

Ayam muda itu, yang sementara dipanggil “Hei” oleh Kakek Warso karena belum ada nama resmi, berlari-lari di halaman dengan energi yang melelahkan hanya untuk ditonton. Ia mematuk ini, mematuk itu, berlari ke sana, berlari ke sini, sesekali mendongak ke Jalu dengan ekspresi penuh harap, lalu berlari lagi karena tidak mendapat respons.

Sore harinya Kakek Warso membawa dua mangkok dedak dan nasi basi. Satu ia taruh di bawah pagar untuk si Hei. Satu ia angkat dan taruh di atas pagar di sebelah Jalu.

Jalu memandang mangkok itu.

Lalu membuang muka.

“Lebay,” gumam Kakek Warso.

Nenek Sarmi datang keesokan paginya dan langsung menilai situasi dengan akurasi seseorang yang sudah tujuh puluh tahun mengamati makhluk hidup.

“Jalu cemburu.”

“Ayam tidak bisa cemburu.”

“Kamu juga katanya tidak bisa sepi, tapi lihat.”

Kakek Warso tidak merespons bagian itu.

Mas Udin yang ikut nimbrung dari balik pagar, karena di Gang Melati, percakapan di teras adalah tontonan publik, menambahkan dengan semangat orang yang baru membaca artikel psikologi: “Itu namanya territorial behavior, Pak. Wajar. Nanti juga adaptasi.”

“Siapa yang minta analisis kamu,” kata Kakek Warso.

Mas Udin mundur selangkah tapi tidak pergi.

Mbak Yanti yang berdiri di belakang suaminya berbisik: “Kita yang salah beli ayam, Mas.”

“Niatnya baik.”

“Niat baik tidak selalu menghasilkan situasi baik.”

Mas Udin tidak punya jawaban untuk itu.

Hari ketiga, si Hei masih belum punya nama.

Kakek Warso tidak mau menamai. Entah kenapa. Setiap kali ia hampir memikirkan nama, sesuatu di dalam dirinya mundur. Memberi nama berarti menerima. Menerima berarti mengakui bahwa memang butuh. Dan Kakek Warso belum siap mengakui itu.

Tapi hari ketiga itu, sesuatu terjadi.

Pagi-pagi sekali, sebelum Kakek Warso sempat keluar, terdengar suara ribut di halaman. Bukan ribut yang mengkhawatirkan, lebih mirip ribut yang konyol. Suara kepakan sayap, suara kaki-kaki kecil di tanah, suara dua ekor ayam yang sedang menentukan sesuatu.

Kakek Warso membuka pintu.

Di halaman, Jalu dan si Hei sedang berhadapan. Bukan dalam posisi berkelahi, tidak ada bulu yang berdiri, tidak ada taji yang diancungkan. Tapi keduanya berdiri saling memandang dengan jarak setengah meter, dan si Hei, yang lebih kecil, lebih muda, lebih sember kluruknya, tidak bergerak mundur.

Mereka berdiri begitu sampai Kakek Warso batuk.

Lalu Jalu, dengan gerakan yang sangat perlahan dan sangat enggan, menggeser badannya dua langkah ke kiri.

Si Hei berjalan ke titik yang tadi ditempati Jalu. Berdiri di sana. Memandang sekeliling dengan ekspresi pemilik baru.

Jalu berjalan ke pagar. Naik. Bertengger. Memandang ke arah yang lain.

“Warisno,” kata Kakek Warso tiba-tiba.

Nenek Sarmi yang ternyata sudah berdiri di balik pagar sejak tadi, entah kapan datangnya, menoleh. “Apa?”

“Namanya Warisno.”

Warisno adalah nama yang tidak puitis, tidak punya makna tersembunyi, dan tidak ada hubungannya dengan taji atau keberanian atau hal-hal yang biasanya dijadikan nama ayam jago.

Warisno adalah nama yang sangat biasa. Nama tetangga, nama tukang ojek, nama orang-orang yang mengisi gang-gang sempit di kota kecil.

Nenek Sarmi memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang menunggu penjelasan.

“Namanya Warisno,” ulang Kakek Warso. “Penerus. Pewaris.”

“Pewaris apa?”

Kakek Warso tidak menjawab. Ia masuk ke dapur mengambil dedak dan nasi basi, kali ini menyiapkan dua mangkok tanpa disuruh, dan keluar lagi ke teras.

Jalu makan di kiri. Warisno makan di kanan. Tidak berdesakan. Tidak bertengkar. Hanya dua ekor ayam yang makan bersama dengan jarak yang cukup untuk menjaga harga diri masing-masing.

Kakek Warso duduk di kursi kayunya dan memandang keduanya.

Nenek Sarmi duduk di kursi plastik sebelahnya, ia sudah membawa tehnya sendiri hari ini, tidak perlu basa-basi, dan juga memandang keduanya.

“Jalu mau terima dia,” kata Nenek Sarmi akhirnya.

“Terpaksa terima.”

“Sama saja.”

Kakek Warso menyesap teh yang disodorkan Nenek Sarmi. Hangatnya pas.

Yang tidak diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun, bukan kepada Nenek Sarmi, bukan kepada Pak Bambang RT, bukan kepada Mas Udin yang suka menganalisis, adalah bahwa malam pertama Warisno tiba, ia tidak langsung tidur.

Ia duduk di teras dalam gelap, ditemani suara jangkrik dan cahaya bulan yang masuk miring dari celah pohon mangga tetangga.

Jalu tidur di pagar. Warisno tidur di lantai teras, belum menemukan tempat permanennya, seperti anak kos baru yang belum tahu di pojok mana harus menaruh sandal.

Kakek Warso memandang keduanya bergantian.

Ia tidak mau mengakui kepada siapa pun bahwa Pak Bambang tidak sepenuhnya salah. Bahwa ia memang sudah beberapa minggu belakangan memandang Jalu dengan perasaan yang ia tidak punya kata-katanya, perasaan seorang lelaki tua yang menyadari bahwa sesuatu yang ia anggap permanen mungkin tidak sepermanen yang ia kira.

Bahwa mungkin selama ini ia bukan merawat Jalu.

Tapi bersiap untuk kehilangan Jalu, dengan cara memastikan ada sesuatu yang tersisa setelahnya.

Warisno bergerak dalam tidurnya, kakinya menghentak pelan ke lantai teras, lalu diam lagi.

Kakek Warso masuk. Menutup pintu. Berbaring di ranjangnya.

Di luar, Jalu kluruk sekali, pendek, pelan, seperti kata iya yang tidak ingin terlalu keras diucapkan.

Tiga minggu kemudian, pukul lima pagi, Gang Melati Nomor Tiga dibangunkan oleh suara kluruk.

Tapi bukan satu suara.

Dua suara. Hampir bersamaan. Satu dalam, satu masih sedikit sember, tapi tidak sesember tiga minggu lalu. Satu dari atas pagar, satu dari bawahnya.

Mbak Yanti yang sedang menyiapkan sarapan berhenti mengaduk telur dan tersenyum tanpa tahu kenapa.

Mas Udin yang masih setengah tidur bergumam: “Kok jadi dua?” lalu tidur lagi.

Nenek Sarmi yang mendengarnya dari balik tembok mengangguk kecil ke arah tidak ada.

Dan Kakek Warso, yang sudah duduk di kursi kayunya dengan dua mangkok dedak di lantai teras, memandang Jalu di atas pagar dan Warisno di bawahnya, berpikir bahwa mungkin suara yang paling menenangkan di dunia adalah suara yang kamu kira hanya akan kamu dengar sekali ternyata masih terus berbunyi, dalam nada yang berbeda, dari tenggorokan yang berbeda, tapi dengan ritme yang sama.

Lalu dari balik pagar, suara Nenek Sarmi:

“Pak Warso. Tehnya.”

Kakek Warso mengambil gelas yang disodorkan dari balik pagar tanpa menoleh, karena setelah dua belas tahun, tangan yang menyodorkan teh itu sudah bisa ia kenali hanya dari bunyinya.

“Makasih,” katanya.

Satu kata. Untuk teh. Untuk tiga minggu. Untuk dua belas tahun. Untuk semua yang tidak pernah ia ucapkan karena Kakek Warso memang tidak pandai mengucapkan hal-hal yang paling ia maksudkan.

Nenek Sarmi tidak menjawab.

Tapi ia tidak langsung pergi juga.

—–

Baturraden, 6 Mei 2026

 

ChatGPT Image 28 Mei 2026, 13.52.01

Di Bawah Langit Idul Adha

Oleh: Nahwa Nurfadilah

Pagi itu, aroma ketupat dan opor tercium dari dapur rumah. Suara takbir masih terasa membekas di telinga Nahwa, meski sudah sejak semalam berkumandang. Idul Adha tahun ini ia rayakan di rumah — libur bersama dari pesantren, katanya kepada adik-adiknya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

Namun di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali ia duduk di teras, menatap tetangga yang hilir mudik membawa daging kurban, pikirannya justru melayang jauh, kembali ke halaman Pesma An-Najah, ke lorong asrama yang entah mengapa selalu terasa seperti satu-satunya tempat di dunia tempat hatinya benar-benar diam, ke bunyi langkah sandal menuju masjid sebelum subuh.

Selalu terngiang pesan Abah Roqib di telinganya setiap kali hatinya mulai merasa jauh dari rumah kedua itu.

“Berbagi itu tidak mengurangi, Ndo. Justru dari sanalah kamu akan belajar arti memiliki yang sesungguhnya.”

Nahwa tidak sepenuhnya mengerti kala pertama kali mendengarnya. Tapi kini ia paham. Di Pesma An-Najah, ia belajar bukan hanya dari buku. Ia belajar dari teman sebaya yang dengan sabar mengajarinya melipat baju yang benar, dari kakak kelas yang membangunkannya ketika alarm tidak berbunyi, dari ustad yang tidak pernah marah meski ia salah menjawab. Nilai-nilai itu tidak tertulis di papan mana pun, tapi ia tahu, tanpa sadar ia sudah membawanya pulang dalam setiap laku hariannya.

Dan kini ada sesuatu yang sejak lama membuat dadanya terasa lebih penuh. Pesantren tempat ia tumbuh itu kini melahirkan sesuatu yang baru: SMP Sains An-Najah, sekolah yang baru saja berdiri dan mulai membuka diri untuk generasi pertamanya. Nahwa sudah mendengar kabar itu jauh-jauh hari, dan rasa bangga itu tidak pernah benar-benar pergi dari dadanya.

Bukan karena sedih, tapi karena bangga. Karena ia tahu betul benih seperti apa yang ditanam di tanah itu.

Nahwa menghela napas panjang. Liburan ini tinggal sebentar lagi, dan ia tahu tidak lama kemudian ia akan kembali. Ia teringat dawuh Abah Roqib tentang penerimaan santri baru, bahwa pintu Pesma An-Najah dan SMP Sains An-Najah terbuka lebar, menunggu generasi muda yang siap tumbuh, belajar, dan membentuk diri. Bukan sekadar pengumuman, melainkan undangan yang tulus untuk adik-adik di luar sana yang belum tahu bahwa di sana belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk jiwa.

“Lingkungan yang religius, nyaman, bersih, dan berprestasi,” begitu dawuh Abah Roqib. Abah juga sering ngendika bahwa lingkungan pesantren harus dijaga kebersihannya — sebersih hotel. Sebab, kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan Nahwa tahu itu bukan sekadar nasihat kosong. Ia sendiri buktinya.

Ia berdiri pelan, merapikan jaz pondoknya yang masih tergantung rapi di balik pintu kamar. Belum waktunya dipakai, tapi ia senang melihatnya di sana. Seperti pengingat bahwa liburan ini sementara, dan ada tempat yang menunggunya pulang.

Di luar, adzan dhuhur mulai berkumandang. Nahwa mengambil mukenanya, melangkah ke mushala kecil di rumah, dan dalam hatinya ia menggenggam satu hal yang tidak akan pernah ia lepaskan:

Bahwa keikhlasan berbagi dan semangat menuntut ilmu adalah dua sayap dari satu burung yang sama. Tanpa keduanya, ia tak akan pernah bisa terbang.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.

Semoga semangat berbagi dan menuntut ilmu selalu tumbuh dalam diri generasi muda.

27 Mei 2026

Tentang Penulis

(Nahwa)

Nahwa Nurfadilah adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam kesehariannya, ia lebih fokus menjalani kegiatan perkuliahan dan kehidupan pesantren.

Nahwa memiliki ketertarikan dalam bidang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, termasuk pernah mengikuti lomba cerpen. Ketertarikan tersebut masih berlanjut saat menempuh pendidikan di MTs melalui kebiasaan menulis pada waktu-waktu tertentu. Meski kini belum terlalu sering menekuni kegiatan menulis, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan belajarnya dan menjadi salah satu hal yang ia sukai.

Penulis dapat dihubungi melalui Email: nahwaanur@gmail.com atau nomor telepon: 085173448545

 

ChatGPT Image 21 Mei 2026, 21.31.31

Nasi Basi dan Perempuan Itu

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso tidak pernah memasak.

Dua belas tahun terakhir ia hidup dari warung Bu Lastri, dari kiriman tetangga yang kasihan, dan dari kemampuan alaminya untuk tidak terlalu lapar. Tapi setiap pagi dan sore, tanpa gagal, ia selalu menyiapkan satu hal, dedak campur nasi basi untuk Jalu.

Nasi basi itu ia masak sendiri.

Atau lebih tepatnya, ia sengaja memasak nasi terlalu banyak, membiarkannya sehari semalam di dalam panci tanpa tutup, lalu mencampurnya dengan dedak yang ia beli dari toko pakan di ujung jalan besar. Proses itu ia lakukan dengan kesungguhan yang tidak ia berikan pada masakan untuk dirinya sendiri.

Nenek Sarmi pernah berkomentar, “Ayamnya makan lebih sehat dari pemiliknya.”

Kakek Warso tidak membantah.

Pagi itu biasa saja. Matahari naik dengan kecepatan yang sama seperti kemarin dan kemarin-kemarin sebelumnya. Jalu sudah bertengger di pagar sejak pukul lima, kluruknya membangunkan gang dengan hormat yang tidak perlu diminta.

Kakek Warso keluar dengan mangkok di tangan. Duduk di kursi kayunya. Menaburkan dedak dan nasi basi ke lantai teras dengan gerakan yang sudah menjadi otot, bukan pikiran.

Jalu turun. Makan.

Kakek Warso memandang.

Pagi-pagi seperti ini, dalam sunyi yang familiar dan cahaya yang masih kekuningan, pikiran Kakek Warso sering pergi ke tempat yang tidak ia rencanakan. Bukan karena ia sengaja mengenang, ia tidak percaya pada pengenangan yang disengaja, terlalu mirip menyiksa diri, tapi karena sunyi memang punya cara untuk membuka pintu-pintu yang lupa dikunci.

Pagi ini pintunya terbuka ke arah istrinya.

Nama istrinya Sumirah. Tapi Kakek Warso tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Ia memanggilnya “Hei”, bukan karena tidak hormat, tapi karena di antara mereka nama terasa terlalu formal untuk dipakai setiap hari. Sumirah juga memanggilnya “Hei”. Mereka sudah lupa siapa yang memulai kebiasaan itu, dan tidak pernah merasa perlu mengingat.

Sumirah adalah perempuan yang tidak bisa diam.

Bukan berarti ia cerewet, ia tidak cerewet. Tapi tangannya selalu bergerak. Selalu ada yang dikerjakan. Kalau tidak menyapu ya menampi beras. Kalau tidak menampi beras ya mencabut rumput di pot. Kalau tidak mencabut rumput ya melipat handuk yang sejujurnya sudah dilipat kemarin.

Kakek Warso, yang waktu muda bernama Warso saja, tanpa embel-embel kakek, pernah bilang, “Kamu kalau udah duduk, diam bisa tidak?”

“Bisa,” jawab Sumirah. “Tapi ngapain?”

Kakek Warso tidak punya jawaban untuk itu.

Jalu mematuk sesuatu di lantai teras. Kakek Warso memandangnya, dan tanpa ia rencanakan, ingatannya pergi ke sore dua belas tahun lalu, sore terakhir sebelum Sumirah masuk rumah sakit dan tidak keluar lagi.

Sore itu Sumirah sedang duduk di kursi kayu ini, kursi yang sekarang diduduki Kakek Warso, sambil mengerok jahe untuk wedang. Kakek Warso duduk di sebelahnya di kursi plastik yang sekarang sudah tidak ada. Dan di halaman, seekor anak ayam jago berbulu merah gelap berjalan-jalan dengan gaya pejabat baru.

“Itu ayam siapa?” tanya Sumirah.

“Tidak tahu. Nyasar mungkin.”

“Diberi makan tidak?”

“Bukan ayam kita.”

Sumirah bangkit, masuk ke dapur, keluar lagi membawa segenggam nasi sisa. Ia taburkan di halaman. Anak ayam itu makan dengan lahap.

“Sekarang ayam kita,” kata Sumirah sambil duduk lagi dan melanjutkan mengerok jahe.

Kakek Warso, Warso muda, waktu itu, memandang ayam itu, lalu memandang istrinya. “Kamu tidak tanya dulu sama yang punya?”

“Yang punya tidak kasih makan. Berarti yang punya tidak layak punya.”

Logika yang tidak bisa dibantah.

Anak ayam jago berbulu merah gelap itu akhirnya diberi nama Jalu oleh Sumirah. Bukan Kakek Warso. Selama ini Kakek Warso membiarkan orang-orang mengira ia yang memberi nama, ia tidak pernah mengklarifikasi, dan tidak ada yang bertanya.

Jalu mematuk nasi terakhir di lantai teras dan mendongak, satu matanya menatap Kakek Warso dengan cara yang selalu membuat Kakek Warso tidak nyaman, seolah ayam itu bisa membaca sesuatu di wajahnya.

Ada yang tidak pernah diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun di Gang Melati Nomor Tiga.

Bahwa Jalu bukan ayam tujuh atau delapan tahun. Jalu sudah dua belas tahun. Jalu sudah ada sejak sebelum Sumirah pergi. Jalu adalah satu-satunya makhluk hidup di rumah ini yang juga mengenal Sumirah, yang juga pernah diberi makan oleh tangannya, yang juga pernah diusir dari dapur olehnya, yang juga pernah dikasih nama olehnya.

Dan mungkin itulah sebabnya Kakek Warso tidak pernah mengurungnya. Bukan karena filosofi tentang ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Tapi karena Sumirah yang dulu memungutnya dari halaman tidak pernah mengurungnya. Dan Kakek Warso tidak mau mengubah satu pun kebiasaan Sumirah yang masih bisa ia pertahankan.

Dedak campur nasi basi. Itu juga bukan resep Kakek Warso.

Itu resep Sumirah.

Nenek Sarmi datang tanpa diumumkan, seperti biasa, dengan dua gelas teh panas dan ekspresi orang yang pura-pura lewat padahal sudah menyiapkan teh dari tadi.

Ia duduk di kursi plastik baru yang sudah menggantikan kursi plastik lama yang sudah tidak ada. Menyodorkan satu gelas ke Kakek Warso.

Mereka duduk. Jalu bertengger kembali ke pagar. Teh mengepul pelan.

“Lagi melamun,” kata Nenek Sarmi. Bukan pertanyaan.

“Tidak.”

“Mukanya seperti melamun.”

“Muka saya memang begini.”

Nenek Sarmi menyesap tehnya. “Ingat dia?”

Kakek Warso tidak menjawab. Yang berarti iya.

“Jalu sudah tua,” kata Nenek Sarmi pelan. “Kamu juga sudah tua. Tapi kamu masih masak nasi basi setiap hari.”

“Nasi basi tidak perlu keahlian khusus.”

“Bukan soal keahlian.”

Kakek Warso memandang tehnya.

“Sumirah yang mulai,” katanya akhirnya. Pertama kalinya ia menyebut nama itu dengan suara yang bisa didengar orang lain, bukan hanya di dalam kepala. “Ayamnya, namanya, masakannya. Saya cuma yang melanjutkan.”

Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.

Lalu ia berkata, dengan nada yang sangat biasa, seperti menyebutkan harga bawang di pasar,

“Iya. Sumirah yang suruh saya jagain kamu juga.”

Kakek Warso meletakkan gelasnya.

Memandang Nenek Sarmi.

“Apa?”

“Dua belas tahun lalu. Di rumah sakit. Sebelum dia, ” Nenek Sarmi tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi tidak perlu diselesaikan. “Dia minta saya. Katanya, Sarmi, Warso itu tidak bisa hidup sendiri. Tolong lihat-lihatkan. Jangan sampai dia lupa makan. Jangan sampai dia kesepian. Jangan sampai dia lupa bayar listrik.”

Udara di teras itu tiba-tiba terasa berbeda beratnya.

“Kamu tidak pernah bilang,” kata Kakek Warso. Suaranya aneh, bukan marah, bukan sedih, tapi seperti orang yang baru menemukan satu potongan puzzle yang selama dua belas tahun ia kira sudah hilang.

“Kalau saya bilang, kamu mau marah. Merasa dikasihani.”

“Ya memang saya mau marah.”

“Makanya tidak saya bilang.”

Jalu kluruk sekali dari atas pagar. Pendek. Seperti komentar.

Kakek Warso memandang Jalu. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang gelas tehnya yang masih setengah.

Dua belas tahun. Selama dua belas tahun ia mengira dirinya hidup sendirian, dengan tabah, dengan keras kepala, dengan tiga gigi dan kursi kosong dan nasi basi untuk ayam. Selama dua belas tahun ia bangga bahwa ia tidak merepotkan siapa pun.

Tapi rupanya Sumirah sudah mengatur semuanya. Dari rumah sakit itu. Sebelum pergi.

Termasuk tetangga yang setiap pagi membawakan teh.

Termasuk mungkin, ini yang membuat dadanya terasa seperti ditekan dari dalam, ayam yang tidak pernah pergi.

“Jalu juga,” gumam Kakek Warso. “Kamu yang suruh dia tidak kemana-mana?”

Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu mengangkat bahu dengan ekspresi orang tua yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk masih bisa berpura-pura bercanda.

“Saya tidak bisa bicara sama ayam, Pak Warso.”

Ia menyesap tehnya lagi.

“Itu Sumirah sendiri yang urus.”

Baturraden, 24 April 2026

 

2025-05-28 (1)

Mantan Menag RI – Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., Apresiasi Berdirinya SMP Sains An Najah Purwokerto

AnNajah News – Suasana hangat terasa di Pesantren An Najah Purwokerto saat Menteri Agama RI periode 2014-2019, Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., bersama sejumlah mantan rektor PTKIN dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam agenda silaturahim, Sabtu (16/5).

Namun, di balik ramah tamah dengan sajian mendoan khas Banyumas dan soto Lamongan, ada satu hal yang mencuri perhatian para tamu. Hal itu adalah hadirnya SMP Sains An Najah Purwokerto, sekolah baru yang sedang dipersiapkan untuk menjawab tantangan pendidikan generasi masa depan.

Pengasuh Pesma An Najah Purwokerto, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., menjelaskan bahwa SMP Sains An Najah akan mulai membuka pembelajaran pada Juli 2026 mendatang. Meski baru dibuka, SMP Sains An Najah Purwokerto mulai mendapat perhatian masyarakat. Hingga pertengahan Mei 2026, tercatat sebanyak 34 calon siswa telah mendaftar.

“Kami masih membuka penerimaan murid baru sesuai kuota dua kelas yang telah ditetapkan,” ujar Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., di hadapan para tamu undangan.

Menjawab Tantangan Zaman

Menurut Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag.,  SMP Sains An Najah hadir bukan sekadar menjadi sekolah biasa. Sekolah ini dirancang untuk menggabungkan kekuatan moral, penguasaan Al-Qur’an, dan kemampuan sains teknologi dalam satu sistem pendidikan.

Ia menilai tantangan generasi muda saat ini bukan hanya soal akademik, tetapi juga karakter dan akhlak.

“Anak-anak hari ini harus memiliki moralitas yang kuat, memahami Al-Qur’an dengan baik, sekaligus mampu menguasai sains dan teknologi,” jelasnya.

Konsep itu juga diperkuat dengan lingkungan pesantren yang sudah lebih dulu berkembang di Pesma An Najah. Saat ini, pesantren tersebut memiliki 11 komplek asrama yang tersebar di empat RT dan menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Beberapa program unggulan yang selama ini berjalan di antaranya tahfidz Al-Qur’an dan pengembangan bahasa Arab, Jawa Krama Inggil, serta bahasa Inggris melalui program AARJEC.

Dapat Dukungan Tokoh Nasional dan para Akademisi

Kehadiran SMP Sains An Najah ternyata mendapat perhatian positif dari para Akademisi Perguruan Tinggi Islam yang hadir dalam silaturahim tersebut.

Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., menyampaikan apresiasi atas semangat Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., dalam mengembangkan pendidikan yang tidak hanya fokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun nilai kemanusiaan dan kebersamaan.

Dalam suasana santai, ia bahkan menyoroti luasnya pergaulan lintas agama yang dimiliki Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag. Diketahui bahwa selain menjadi Pengasuh Pesantren An Najah, ia juga sebagai Ketua FKUB Banyumas. Sebelum agenda silaturahim berlangsung, pada pagi harinya Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., juga turut hadir dalam kegiatan Gowes Kerukunan yang diselenggarakan FKUB Banyumas.

“Biasanya teman-teman kami itu Ahmad atau Fauzi. Tapi Pak Roqib ini temannya ada Yohanes, Yosua, dan lainnya. Saya sangat mengapresiasi persahabatan lintas iman seperti ini,” katanya.

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa lingkungan pendidikan di An Najah tidak hanya berbicara soal kecerdasan akademik, tetapi juga semangat toleransi dan hidup berdampingan di tengah masyarakat yang beragam.

Dari Mendoan hingga Pendidikan Masa Depan

Silaturahim yang berlangsung sederhana itu terasa begitu hangat. Para tamu menikmati hidangan khas Banyumas sambil berbincang tentang masa depan pendidikan Islam Indonesia.

(Dr. (H.C) K.H. Lukman Hakim Saifuddin berfoto bersama para Mantan Rektor PTKIN di Pesantren An Najah Purwokerto)

Beberapa Mantan Rektor PTKIN yang hadir antara lain Prof. Dr. H. Mudhofir (Surakarta), Prof. Dr. H. Ibrahim Siregar (Padang Sidempuan), Prof. Dr. Masdar Hilmi (Surabaya), Prof. Dr. H. Mukri (Lampung), Prof. Dr. H. Mudzakir (Kudus), Prof. Dr. Hj. Amani Lubis (Jakarta), Prof. Dr. Ilyasin (Samarinda), Prof. Dr. Hj. Nurjanah (UIN Metro),, hingga Rektor UIN Saizu Prof. Dr. H. Ridwan beserta istri.

Di akhir acara, Prof. Dr. H. Mukri yang juga Ketua PBNU menyampaikan doa dan harapan agar Pesantren  dan SMP Sains An Najah Purwokerto dapat terus berkembang dan membawa manfaat luas bagi umat dan masyarakat. Doa penutup kemudian dipimpin oleh Prof. Dr. Mudzakir dari UIN Kudus. (Irkham Auladi)

IMG-20260516-WA0082

FKUB Banyumas Gandeng Mantan Menag RI-Lukman Hakim Saifuddin Gowes Kerukunan 

Purwokerto – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas menggelar kegiatan Gowes Kerukunan bertajuk “Menyalakan Harapan, Menyemai Perdamaian”, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi langsung oleh Ketua FKUB Banyumas, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., bersama pengurus, berlangsung meriah dan penuh nuansa persaudaraan lintas agama.

Kegiatan gowes diikuti oleh Mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., bersama keluarga besar FKUB Banyumas, Forkopimda Banyumas, Polresta Banyumas, Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, tokoh lintas agama, Generasi Muda FKUB Banyumas, FORSA Banyumas, Wanita Lintas Iman Banyumas, pelajar SMA/SMK/MAN di Purwokerto, serta masyarakat umum.

Sebelum pelepasan peserta gowes, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A. menyampaikan apresiasi kepada FKUB Banyumas yang dinilainya konsisten menghadirkan ruang-ruang perjumpaan lintas iman yang menyejukkan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata moderasi beragama yang tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan melalui kebersamaan dan persaudaraan.

(Mantan Menag RI – Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan sekaligus memimpin start gowes)

 

“Saya mengapresiasi FKUB Banyumas yang terus merawat kerukunan melalui kegiatan kreatif dan membahagiakan seperti ini. Gowes Kerukunan menjadi simbol bahwa keberagaman dapat dirawat dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan,” ujarnya.

Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag yang juga sebagai Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gowes Kerukunan merupakan agenda rutin FKUB Banyumas dalam memperkuat moderasi beragama, membangun budaya damai, dan mempererat persaudaraan lintas iman di Banyumas.

Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui perjumpaan, dialog, dan kebersamaan lintas iman dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut juga tercermin dalam jargon khas FKUB Banyumas:

“Beda Ning Rukun. Beda itu biasa, rukun itu luar biasa.”

Menurut Ketua Panitia Kegiatan FA. Agus Wahyudi, tema Gowes kali ini ialah “Menyalakan Harapan, Menyemai Perdamaian”. Tema tersebut merupakan ajakan bersama untuk terus menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Banyumas.

Rute Gowes Kerukunan dimulai dari Pendopo Sipanji Purwokerto, kemudian menuju GKI Purwokerto, Masjid Jami Mangunjaya Purwokerto, dilanjutkan dengan aksi pembagian bunga mawar kepada masyarakat di kawasan GOR Satria Purwokerto. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Vihara Buddha Dipa Purwokerto, Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto, dan berakhir di Gereja Katedral Purwokerto.

(Ketua FKUB Banyumas bersama Lukman Hakim Saifuddin serta rombongan saat berkunjung ke GKI Purwokerto)

Kegiatan gowes ini sekaligus menjadi sarana edukasi lintas agama, khususnya bagi para pelajar SMA/SMK/MAN di Purwokerto yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Para peserta diajak mengenal rumah-rumah ibadah lintas agama secara langsung sebagai bentuk pembelajaran moderasi beragama dan penguatan nilai toleransi.

Di setiap rumah ibadah yang dikunjungi, peserta mendapatkan sambutan hangat dari tokoh agama dan pengurus tempat ibadah sebagai simbol persaudaraan dan semangat kebhinekaan. Para pelajar juga diberi kesempatan untuk bertanya serta membuka ruang dialog dengan tokoh agama setempat. Melalui dialog tersebut, peserta dapat memahami nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kehidupan beragama dari perspektif yang lebih luas.

(Rombongan Gowes saat tiba di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto)

Dalam kesempatan tersebut, Ketua FKUB Banyumas, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., menyerahkan bunga mawar kepada para tokoh agama sebagai simbol kasih, persahabatan, dan perdamaian lintas umat beragama.

Suasana semakin meriah dengan pembagian berbagai doorprize menarik kepada peserta gowes. Hadiah utama berupa televisi, mesin cuci, air fryer, kompor, serta tiga unit sepeda menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Salah satu sepeda merupakan hadiah spesial dari Bupati Banyumas, sementara hadiah lainnya berasal dari dukungan para sponsor dan mitra kegiatan.

(Salah satu peserta Gowes dari elemen pelajar mendapatkan doorprize 1 unit sepeda, spesial dari Bupati Banyumas, diserahkan oleh Prof. Dr. K.H. Supani, M.Ag.)

Kegiatan Gowes Kerukunan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan mempererat hubungan antarumat beragama di Kabupaten Banyumas. Melalui olahraga, silaturahmi, kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan ruang dialog lintas iman, FKUB Banyumas menunjukkan bahwa kerukunan dapat tumbuh melalui langkah-langkah sederhana yang penuh makna.

Di akhir kegiatan, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Gowes Kerukunan, di antaranya Pemerintah Kabupaten Banyumas, Kapolresta Banyumas, Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Forkopimda Banyumas, tokoh agama lintas iman, para sponsor, serta seluruh relawan dan masyarakat yang turut berpartisipasi.

Dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan, Gowes Kerukunan diharapkan terus menjadi agenda inspiratif dalam merawat toleransi, memperkuat moderasi beragama, serta menyalakan harapan perdamaian di tengah masyarakat Banyumas yang majemuk. (IS)

 

ChatGPT Image 19 Mei 2026, 02.47.09

Tumbuh Tanpa Pelabuhan: Luka Diam Anak  yang Kehilangan Rumah dalam Dirinya

Oleh: Anisa Ahlun Prihatiningsih

Tumbuh menjadi Parentless bukanlah pilihan yang bisa kita kendalikan,kini murni yang datang tanpa permintaan, sering kali meninggalkan luka mendalam sejak usia dini. Rumah bukan hanya sekedar atap dan dinding, ia adalah tawa yang pecah dibawah sinar matahari, dan dekapan hangat yang meyakinkan kita bahwa dunia baik-baik saja. Kehadiran sosok orang tua adalah pondasi , dari mereka kita belajar nada kehidupan, dan merasakan kasih sayang dalam setiap suapan kecil yang mereka berikan. Namun, apa jadinya jika sosok perlindungan itu hilang? mereka terbiasa dengan ketidakharmonisan itu, suasana canggung yang membuat menunjukkan kasih sayang terasa asing, dimana suara bentakan lebih sering terdengar daripada kata-kata dukungan. Bahkan mereka lupa bagaimana rasanya diberikan kasih sayang se utuh nya seperti layaknya anak-anak lain, dan mereka pun menginginkan.

Kesepian ini menjalar ke sudut sekolah, ke bangku taman, hingga ke bawah kolong tempat tidur . Mereka kehilangan kompas, sekaligus kehilangan tempat untuk bercerita tentang hari ini, kini sering membuat mereka mengalami perubahan, menjadi lebih tertutup, tidak mudah percaya dengan orang lain, mereka pun mudah menyalahkan diri sendiri dan gampang murung. Dunia terasa begitu menyeramkan bagi mereka yang tak punya sandaran, tanpa bimbingan, masa depan seringkali terlihat seperti kabut di pagi hari yang tak kunjung cerah.

Luka ini tak berdarah yang dapat nampak secara fisik, namun sering bergulat dengan gejolak emosi hebat dan pencarian jati diri yang tak kunjung henti di tengah kesunyian.  Ini akibat kurang nya peran rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan memberikan dukungan membuat segalanya terasa lebih berat. Kurang nya peran keharmonis sering melemahkan motivasi belajar, mereka termotivasi kuat untuk belajar, demi wujudkan impian untuk di masa depan, namun, ada sisi lain, kepercayaan diri yang rendah sering menghambat motivasi belajar tersebut. Rasa rendah diri ini perlahan menggerus motivasi, membuat mereka enggan berusaha keras. Akhirnya, potensi yang sebenarnya terpendam pun terabaikan begitu saja.

Tekanan atau pengabaian tersebut membuat mereka tidak mampu membedakan antara perasaan sedih dan bahagia. Mereka pun menginginkan kehidupan harmonis itu, dipenuhi dengan cinta dan kenyamanan. Contoh kecil momen wisuda yang seharusnya penuh kebahagiaan, malah berubah jadi enggan, canggung dan ragu mengungkapkan rasa sayang. Bagi siapa pun yang sedang berada dalam situasi yang sama, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa semua ini adalah bagian dari proses yang akan membentuk dirimu menjadi pribadi yang utuh. Suatu saat, kamu akan merasakan kasih sayang yang selalu kamu impikan.

Mungkin, dengan berbagai ketidakharmonisan, dan ketidaknyamanan yang ada, kita dapat menjadi lebih kuat, kalau tak ingin di rendahkan oleh kebodohan, maka berdamailah dengan pahitnya kehidupan, sebab luka hari ini adalah kuatnya esok hari. Jika tuhan memberikan ujian itu artinya kita mampu menghadapinya. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Seseorang yang memberi izin pada dirinya untuk berbuat kesalahan, lalu memaafkan serta mengambil pelajaran dari pengalaman hidup, dengan itulah kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan melalui proses tersebut, kita juga bisa mencapai kesuksesan, meskipun kesuksesan, kegagalan, kebaikan, dan keburukan adalah hal yang relatif.

Tentang Penulis

(Anisa Ahlun P)

Anisa Ahlun Prihatiningsih adalah seorang mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Penulis dapat dihubungi melalui Email: anisahlun@gmail.com atau nomor telepon: 082323710779.

 

IMG-20260519-WA0008

Mantan Menag RI, Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., dan Para Mantan Rektor PTKIN Bersilaturahmi ke Pesantren An Najah Purwokerto

AnNajahNews – Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., bersama sejumlah mantan Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai daerah melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren An Najah Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (16/5/2026). Kunjungan tersebut didampingi oleh Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag.

Pengasuh Pesantren An Najah Purwokerto, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., yang juga pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Purwokerto (2019–2021), Rektor UIN Saizu Purwokerto (2021–2024), Ketua FKUB Banyumas, serta Wakil Ketua A’wan Syuriah PWNU Jawa Tengah, menyambut hangat kedatangan para tamu dengan jamuan khas Banyumas berupa mendoan dan soto Lamongan yang disiapkan oleh para santri.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., memaparkan berbagai perkembangan pesantren yang diasuhnya. Pesantren An Najah kini telah memiliki 11 asrama atau komplek, termasuk komplek takhassus tahfidz Al-Qur’an serta pengembangan bahasa Arab, Jawa Krama Inggil, dan bahasa Inggris melalui program AARJEC (An Najah Arabic, Javanese, and English Community). Seluruh komplek tersebut tersebar di empat RT dan menyatu langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Beliau juga menyampaikan bahwa pesantren tengah membuka penerimaan murid baru untuk SMP Sains An Najah Purwokerto dengan kuota dua kelas pada tahun pelajaran yang dimulai Juli 2026. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 34 calon murid telah mendaftar. Menurutnya, SMP Sains An Najah hadir sebagai respons terhadap tantangan global dengan mengedepankan tiga pilar utama, yakni penguatan moralitas peserta didik, pemahaman Al-Qur’an, serta penguasaan sains dan teknologi.

Selain itu, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., juga menyampaikan kabar bahagia atas kelahiran cucu keduanya dari pasangan Najiha Yustika Ghina Puspita dan Muhammad Nailul Muna. Pada kesempatan tersebut, beliau turut memohon doa dan dukungan bagi rencana sang menantu yang akan melanjutkan studi doktoral (S-3) di University of Birmingham, Inggris.

Mewakili seluruh rombongan, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A. menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Pesantren An Najah. Ia mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Purwokerto kali ini merupakan pertemuan keempatnya dengan Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., dalam berbagai forum berbeda, termasuk kegiatan Gowes Kerukunan yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas pada pagi harinya.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman Hakim Saifuddin juga mengapresiasi sikap inklusif Pengasuh Pesantren An Najah yang memiliki jejaring pertemanan lintas agama.

“Biasanya para mantan rektor yang hadir ini pertemanannya sesama Ahmad, Fauzi, dan nama-nama Islam lainnya. Namun tidak demikian dengan Pak Roqib. Saat gowes tadi saya melihat kawan-kawannya ada Yohanes, Yosua, dan lainnya,” ujarnya.

Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., juga membagikan kisah historis mengenai proses penamaan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN saizu). Saat masih menjabat sebagai Rektor IAIN Purwokerto (2019) dan mengusulkan nama Prof. K.H. Saifuddin Zuhri sebagai nama universitas yang tengah berproses alih status menjadi UIN, Lukman Hakim Saifuddin sempat merasa keberatan. Sebagai putra Prof. K.H. Saifuddin Zuhri sekaligus Menteri Agama saat itu, ia khawatir usulan tersebut dipersepsikan sebagai kehendak pribadinya.

Namun, setelah meminta pendapat kepada K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan K.H. Maimun Zubair (Mbah Mun), keduanya justru mendukung penggunaan nama Prof. K.H. Saifuddin Zuhri dan menilai bahwa menolaknya tidak tepat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan doa penutup yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Mukri, mantan Rektor UIN Lampung sekaligus pengurus PBNU, atas permintaan Lukman Hakim Saifuddin. Doa penutup dipimpin oleh Prof. Dr. Mudzakir, mantan Rektor UIN Kudus.

Silaturahmi ini dihadiri sekitar 30 orang beserta pendamping dari berbagai PTKIN dan UIN Saizu Purwokerto, di antaranya: Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A. beserta istri (Menteri Agama RI 2014–2019); Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag. (Pengasuh Pesantren An Najah/UIN Saizu Purwokerto); Prof. Dr. H. Mudhofir beserta istri (UIN Surakarta); Prof. Dr. H. Ibrahim Siregar beserta istri (UIN Padangsidimpuan); Prof. Dr. Masdar Hilmi beserta istri (UIN Surabaya); Prof. Dr. H. Mukri beserta istri (UIN Lampung / PBNU); Prof. Dr. H. Mudzakir beserta istri  (UIN Kudus); Prof. Dr. Hj. Amani Lubis (UIN Jakarta); Prof. Dr. Ilyasin beserta istri (UIN Samarinda); Prof. Dr. Hj. Nurjanah beserta suami (UIN Metro); Nyai Hj. A’la (Sumenep, Madura); Prof. Dr. H. Ridwan beserta istri (UIN Saizu Purwokerto).

Kunjungan silaturahmi ini mencerminkan kuatnya jaringan keilmuan dan ukhuwah di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Selain itu, momentum ini juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat pengembangan Pesantren An Najah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdaya saing global, moderat, dan inklusif. (ANM)

 

IMG-20260505-WA0039

Memperkuat Sinergi untuk Pendidikan Unggul: SMP Sains An Najah Purwokerto

AnnajahNews – SMP Sains An Najah Purwokerto menggelar rapat kolaboratif antara pihak yayasan dan komite sekolah dalam rangka memperkuat sinergi untuk peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, dihadiri oleh para pengurus yayasan, komite sekolah, serta jajaran pimpinan sekolah (05/05).

Acara dibuka secara resmi oleh K.H. Prof. Dr. Moh. Roqib, M.Ag., muassis yayasan SMP Sains An Najah Purwokerto. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara seluruh elemen pendidikan sebagai kunci dalam membangun lembaga yang unggul dan berdaya saing. Beliau menyoroti peran strategis pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman yang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk integrasi sains dan teknologi.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Komite, beliau Sabar Munanto, M.Pd., yang menegaskan komitmen komite dalam mendukung program-program sekolah. Beliau mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga komunikasi yang efektif dan partisipasi aktif demi kemajuan peserta didik.

Rapat ini membahas berbagai agenda strategis, mulai dari penguatan kurikulum berbasis sains dan keislaman, peningkatan kualitas tenaga pendidik, hingga optimalisasi sarana dan prasarana pembelajaran. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang diskusi terbuka untuk menyampaikan aspirasi serta merumuskan langkah-langkah konkret ke depan.

Dengan terselenggaranya rapat kolaboratif ini, diharapkan terbangun kesepahaman dan kerja sama yang semakin erat antara yayasan dan komite, sehingga SMP Sains An Najah Purwokerto dapat terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang unggul, inovatif, dan berkarakter. (Khafifatul Fian)