Oleh: Anisa Ahlun Prihatiningsih
Tumbuh menjadi Parentless bukanlah pilihan yang bisa kita kendalikan,kini murni yang datang tanpa permintaan, sering kali meninggalkan luka mendalam sejak usia dini. Rumah bukan hanya sekedar atap dan dinding, ia adalah tawa yang pecah dibawah sinar matahari, dan dekapan hangat yang meyakinkan kita bahwa dunia baik-baik saja. Kehadiran sosok orang tua adalah pondasi , dari mereka kita belajar nada kehidupan, dan merasakan kasih sayang dalam setiap suapan kecil yang mereka berikan. Namun, apa jadinya jika sosok perlindungan itu hilang? mereka terbiasa dengan ketidakharmonisan itu, suasana canggung yang membuat menunjukkan kasih sayang terasa asing, dimana suara bentakan lebih sering terdengar daripada kata-kata dukungan. Bahkan mereka lupa bagaimana rasanya diberikan kasih sayang se utuh nya seperti layaknya anak-anak lain, dan mereka pun menginginkan.
Kesepian ini menjalar ke sudut sekolah, ke bangku taman, hingga ke bawah kolong tempat tidur . Mereka kehilangan kompas, sekaligus kehilangan tempat untuk bercerita tentang hari ini, kini sering membuat mereka mengalami perubahan, menjadi lebih tertutup, tidak mudah percaya dengan orang lain, mereka pun mudah menyalahkan diri sendiri dan gampang murung. Dunia terasa begitu menyeramkan bagi mereka yang tak punya sandaran, tanpa bimbingan, masa depan seringkali terlihat seperti kabut di pagi hari yang tak kunjung cerah.
Luka ini tak berdarah yang dapat nampak secara fisik, namun sering bergulat dengan gejolak emosi hebat dan pencarian jati diri yang tak kunjung henti di tengah kesunyian. Ini akibat kurang nya peran rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan memberikan dukungan membuat segalanya terasa lebih berat. Kurang nya peran keharmonis sering melemahkan motivasi belajar, mereka termotivasi kuat untuk belajar, demi wujudkan impian untuk di masa depan, namun, ada sisi lain, kepercayaan diri yang rendah sering menghambat motivasi belajar tersebut. Rasa rendah diri ini perlahan menggerus motivasi, membuat mereka enggan berusaha keras. Akhirnya, potensi yang sebenarnya terpendam pun terabaikan begitu saja.
Tekanan atau pengabaian tersebut membuat mereka tidak mampu membedakan antara perasaan sedih dan bahagia. Mereka pun menginginkan kehidupan harmonis itu, dipenuhi dengan cinta dan kenyamanan. Contoh kecil momen wisuda yang seharusnya penuh kebahagiaan, malah berubah jadi enggan, canggung dan ragu mengungkapkan rasa sayang. Bagi siapa pun yang sedang berada dalam situasi yang sama, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa semua ini adalah bagian dari proses yang akan membentuk dirimu menjadi pribadi yang utuh. Suatu saat, kamu akan merasakan kasih sayang yang selalu kamu impikan.
Mungkin, dengan berbagai ketidakharmonisan, dan ketidaknyamanan yang ada, kita dapat menjadi lebih kuat, kalau tak ingin di rendahkan oleh kebodohan, maka berdamailah dengan pahitnya kehidupan, sebab luka hari ini adalah kuatnya esok hari. Jika tuhan memberikan ujian itu artinya kita mampu menghadapinya. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Seseorang yang memberi izin pada dirinya untuk berbuat kesalahan, lalu memaafkan serta mengambil pelajaran dari pengalaman hidup, dengan itulah kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan melalui proses tersebut, kita juga bisa mencapai kesuksesan, meskipun kesuksesan, kegagalan, kebaikan, dan keburukan adalah hal yang relatif.
Tentang Penulis
Anisa Ahlun Prihatiningsih adalah seorang mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Penulis dapat dihubungi melalui Email: anisahlun@gmail.com atau nomor telepon: 082323710779.
Leave A Comment