Sunyi pertama adalah sunyi biasa, sunyi malam, sunyi siang bolong, sunyi yang datang ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sunyi itu tidak mengusik siapa pun.
Sunyi kedua adalah sunyi yang salah. Sunyi yang terasa seperti ada sesuatu yang seharusnya berbunyi, tapi tidak berbunyi. Sunyi yang membuat bulu kuduk berdiri bukan karena dingin, tapi karena absennya sesuatu yang selama ini kau anggap pasti.
Sabtu pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga diselimuti sunyi yang kedua.
Bukan Kakek Warso yang pertama menyadarinya.
Adalah Mbak Yanti, istri Mas Udin, tetangga baru yang belum genap dua bulan pindah, yang pertama merasa ada yang ganjil. Ia sedang menjemur handuk di tali depan rumah ketika ia menyadari bahwa ia sudah selesai menjemur, sudah masuk, sudah menyalakan kompor, sudah menunggu air mendidih, dan selama semua itu tidak ada satu pun suara kluruk dari ujung gang.
Mbak Yanti mematikan kompor.
Ia berdiri di dapur dengan perasaan orang yang lupa mematikan setrika tapi tidak yakin setrikanya menyala.
Sejak insiden opor dua bulan lalu, Mbak Yanti hafal betul ritme Gang Melati, termasuk kluruk Jalu yang setiap pagi pukul lima menjadi penanda bahwa hari boleh dimulai. Ia tidak pernah menyangka akan bergantung pada suara ayam tetangga, tapi begitulah hidup di gang sempit, kamu menyerap kebiasaan orang sekitarmu tanpa memintanya.
Ia mengintip dari jendela dapur ke arah rumah Kakek Warso.
Pagar kayu itu kosong.
Di kampung, kabar tidak membutuhkan telepon. Ia berjalan dengan kaki sendiri, dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi, dan dalam waktu setengah jam seluruh gang bisa tahu sesuatu yang belum tentu benar tapi sudah terlanjur dipercaya.
Mbak Yanti menyebut ke Bu Lastri yang kebetulan lewat membawa belanjaan,
“Bu, Jalu kok tidak bunyi pagi ini ya?”
Bu Lastri berhenti. Berpikir. Lalu mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa ia pun tidak mendengar apa-apa. “Iya ya. Tidak bunyi.”
Kabar itu sampai ke Mas Udin yang sedang mencuci motor. Mas Udin menghentikan tangannya. Kemudian kabar itu menembus dinding tipis gang dan sampai ke telinga Pak Gimin, pensiunan pos yang rumahnya di seberang, yang langsung berdiri dari kursi rotan dan mengambil sandalnya.
Dan akhirnya, sebagaimana semua kabar di Gang Melati selalu akhirnya sampai ke sana, kabar itu tiba di telinga Nenek Sarmi.
Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan sapu lidinya, mengikat jariknya lebih kencang, dan berjalan ke rumah Kakek Warso.
Kakek Warso duduk di kursi kayunya. Posisinya sama seperti setiap pagi. Tangannya memegang mangkok dedak campur nasi basi. Tapi tangannya tidak bergerak menaburkan apa pun, karena tidak ada yang perlu ditaburi.
Pagar kayu di depannya kosong.
Ia sudah berkeliling sejak pukul setengah lima. Sudah memeriksa kebun singkong. Sudah mengintip kolong rumah. Sudah menengok kandang Nenek Sarmi, tapi kali ini tidak ada Jalu yang nguber-nguber ayam lain. Sudah berjalan sampai ujung gang dan balik lagi.
Tidak ada Jalu.
Nenek Sarmi duduk di teras tanpa dipersilakan, karena di usia tujuh puluh tahun dan setelah puluhan tahun bertetangga, seseorang tidak perlu dipersilakan lagi.
Tidak ada yang bicara beberapa saat.
“Sudah berapa lama?” tanya Nenek Sarmi akhirnya.
“Dari kemarin sore tidak kelihatan.”
“Kemarin sore terakhir di mana?”
“Di sini.” Kakek Warso mengangguk ke arah pagar.
“Seperti biasa. Saya kasih makan. Makan. Lalu saya masuk. Waktu saya keluar lagi sudah tidak ada.”
Nenek Sarmi mengangguk pelan.
“Sudah tua dia,” kata Kakek Warso. Suaranya rata. Terlalu rata.
“Berapa tahun?”
“Tujuh. Mungkin delapan.”
Nenek Sarmi tidak berkata bahwa tujuh atau delapan tahun adalah usia yang panjang untuk ayam jago. Ia tidak berkata apa-apa tentang itu. Ia hanya duduk, dan keberadaannya saja sudah cukup menjadi sesuatu.
Mas Udin datang setengah jam kemudian, dengan Mbak Yanti di belakangnya dan ekspresi sukarela yang terlalu bersemangat untuk situasi sesedih ini.
“ Pak Warso, kami mau bantu cari.”
Kakek Warso memandangnya.
“Cari di mana?”
“Ya, di sekitar sini dulu. Mungkin nyasar ke gang sebelah.”
Pak Gimin menyusul. Lalu Bu Lastri. Dalam waktu singkat, teras Kakek Warso yang biasanya lengang berubah menjadi semacam posko tanpa ada yang mendeklarasikannya sebagai posko.
Mas Udin dan Pak Gimin menyisir gang sebelah. Mbak Yanti mengetuk beberapa pintu dan bertanya dengan sopan apakah ada yang melihat ayam jago berbulu merah gelap dengan jengger tegak dan cara berjalan seperti pejabat. Bu Lastri, yang jaringan pergaulannya paling luas di gang ini, menelepon beberapa orang dengan ponselnya.
Kakek Warso tidak ikut mencari. Ia tetap duduk di kursinya, memegang mangkok dedak yang sudah dingin, memandang pagar yang kosong.
Nenek Sarmi tetap duduk di sampingnya.
Satu Jam Kemudian
Mas Udin pulang dengan tangan kosong tapi muka penuh laporan, gang sebelah tidak ada, belakang gang tidak ada, sampai depan mushola juga tidak ada.
Pak Gimin pulang dan langsung duduk karena kakinya yang sudah tua tidak cocok untuk operasi pencarian.
Mbak Yanti pulang terakhir, dan di wajahnya ada sesuatu yang ia coba sembunyikan tapi tidak cukup berhasil, ekspresi orang yang mendapat informasi tapi tidak yakin apakah informasi itu baik atau buruk.
“Pak Warso,” katanya pelan.
Semua orang menoleh.
“Tadi saya tanya ke Pak Hendra, yang rumahnya di ujung gang tembus jalan besar itu. Katanya kemarin sore dia lihat seekor ayam jago merah jalan sendiri ke arah jalan besar.”
Hening.
“Jalan besar” di mulut Gang Melati Nomor Tiga adalah jalan yang dilalui truk, angkot, dan motor yang tidak peduli marka. Semua orang di teras itu tahu artinya. Mereka tidak mengucapkannya, tapi mereka tahu.
Kakek Warso tidak bergerak.
Lalu ia meletakkan mangkok dedaknya pelan di lantai teras, dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah, dan memandang jauh ke ujung gang.
Tiga menit kemudian, atau mungkin lima, tidak ada yang menghitung, terdengar suara dari ujung gang.
Bukan kluruk.
Tapi langkah. Langkah yang berat, tidak rata, seperti sesuatu yang berjalan dengan susah payah.
Semua kepala menoleh.
Dari ujung Gang Melati Nomor Tiga, dalam cahaya pagi yang masih tipis, muncullah Jalu.
Ia berjalan pelan. Sangat pelan. Salah satu sayapnya terkulai sedikit, bukan patah, tapi lelah. Bulunya kusut di beberapa tempat. Jenggernya masih tegak, tapi merahnya sedikit lebih pucat dari biasa.
Di punggungnya, bertengger dengan santai seperti penumpang angkot yang sudah beli tiket, seekor anak kucing belang tidur.
Anak kucing itu tidur. Tidur. Di punggung ayam jago yang berjalan.
Jalu berjalan terus. Masuk gang. Melewati orang-orang yang memandangnya dengan mulut terbuka. Naik ke teras. Berjalan ke arah pagar kayunya. Dan bertengger di sana, dengan anak kucing yang masih tidur di punggungnya, tidak terusik, tidak peduli.
Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik.
Kemudian Nenek Sarmi, dengan suara yang datar seperti membacakan pengumuman RT, berkata,
“Rupanya dia pergi tak bilang-bilang, pulang ngusung kucing orang.”
Mbak Yanti tertawa duluan. Lalu Bu Lastri. Lalu Mas Udin yang menahan tawa sebentar sebelum akhirnya menyerah. Pak Gimin terkekeh sambil menepuk lututnya.
Kakek Warso memandang Jalu. Lalu anak kucing itu. Lalu Jalu lagi.
Ia mengambil mangkok dedaknya. Menaburkan isinya di lantai teras pelan-pelan.
Jalu turun dari pagar. Anak kucing itu tergelincir sedikit, membuka satu mata, memandang sekelilingnya dengan ekspresi makhluk yang tidak merasa bersalah sama sekali, lalu menutup matanya lagi dan melanjutkan tidur di lantai teras.
Kakek Warso duduk di kursinya.
“Ganti nama kamu,” gumamnya kepada Jalu.
“Bukan ayam jago. Tapi Tukang ojek.”
Dan pagi itu untuk pertama kali dalam waktu yang lama, teras rumah Kakek Warso ramai, penuh orang, penuh tawa, penuh sesuatu yang hangat dan tidak bernama, sementara seekor ayam makan dedak dan seekor anak kucing tidur di antara kaki-kaki manusia yang tidak lagi ingat mengapa mereka semula merasa sedih.
Kakek Warso tidak pernah mengundang siapa pun makan di rumahnya.
Bukan karena pelit. Bukan karena tidak suka orang. Tapi karena meja makannya hanya cukup untuk dua kursi, satu untuknya, satu untuk kursi yang sudah dua belas tahun tidak diduduki siapa pun. Kursi mendiang istrinya. Kakek Warso tidak pernah memindahkannya. Tidak pernah menawarkannya untuk diduduki tamu. Orang-orang di Gang Melati Nomor Tiga sudah tahu itu, dan mereka menghormatinya dengan cara yang paling kampungan.
Pura-pura tidak tahu.
Jalu juga tahu aturan itu.
Ayam jago itu tidak pernah masuk ke dalam rumah. Ia hidup di teras, di pagar, di halaman, di wilayah antara rumah dan dunia luar. Seolah ia pun mengerti bahwa ada ruang-ruang yang tidak boleh dimasukinya.
Maka ketika suatu pagi Kakek Warso membuka pintu dan mendapati Jalu sudah berada di dalam rumah, duduk tenang di atas kursi kosong itu, kursi mendiang istrinya, ia tidak langsung marah.
Ia hanya berdiri di ambang pintu. Lama sekali.
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Pintu belakang mungkin lupa dikunci semalam. Atau mungkin jendela dapur yang selalu sedikit miring itu akhirnya menyerah sepenuhnya. Kakek Warso tidak terlalu mau menyelidiki caranya, yang ada di hadapannya sekarang adalah fakta yang tidak bisa dibantah, bahwasanya Jalu bertengger di kursi itu dengan dada membusung, seperti tamu yang merasa sudah reservasi jauh-jauh hari.
“Turun!” kata Kakek Warso.
Jalu memiringkan kepalanya. Satu mata memandang kakek itu dengan ekspresi yang, kalau ayam bisa punya ekspresi, bisa dibaca sebagai,
“kenapa?”
“Turun, kataku!”
Jalu tidak turun.
Kakek Warso menarik napas panjang. Ia pergi ke dapur, mengambil segenggam dedak, lalu menaburkannya di lantai depan kursi itu. Jalu memandang dedak itu, memandang Kakek Warso, lalu turun dengan anggun dan mulai makan.
Kakek Warso duduk di kursinya sendiri.
Mereka sarapan bersama. Pertama kalinya dalam dua belas tahun, meja makan itu terasa, bukan kebersamaan, tapi setidaknya tidak kosong.
Masalah, seperti biasa di Gang Melati Nomor Tiga, datang dari luar.
Pagi itu Mas Udin, tetangga sebelah yang belum genap sebulan pindah, datang mengetuk pagar dengan wajah yang sudah minta maaf bahkan sebelum mulai bicara.
Maklum, sejak insiden opor beberapa minggu lalu, Mas Udin selalu datang ke rumah Kakek Warso dengan postur orang yang baru saja lolos dari bencana dan tidak mau mengulanginya.
“Pak Warso, maaf mengganggu. Ini ada paket, salah antar ke rumah kami.”
Ia menyorongkan sebuah kotak kecil. Kakek Warso membukanya di teras.
Isinya, sebotol kecap manis, seperempat kilo bawang merah, dan selembar kertas bertulisan tangan, untuk Pak Warso, titip Nenek Sarmi.
Kakek Warso mengernyit. Ia melongok ke arah rumah Nenek Sarmi. Pintu tertutup. Sepi.
“Tadi pagi Nenek Sarmi pergi ke anaknya di Magelang,” kata Mas Udin menjelaskan tanpa ditanya.
“Katanya seminggu. Nitip ini sebelum berangkat.”
Kakek Warso memandang kecap dan bawang merah itu bergantian.
“Ini maksudnya apa?”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.”
Kakek Warso membawa kotak itu masuk. Ia duduk di kursinya. Jalu sudah kembali ke teras, bertengger di pagar, memandang jalan dengan gaya seorang pengamat yang tidak perlu berkomentar.
Kecap. Bawang merah. Tanpa penjelasan.
Otak Kakek Warso, yang bertahun-tahun diasah oleh sunyi dan kesendirian, mulai bekerja dengan caranya sendiri.
Di kampung, tidak ada pemberian yang tanpa makna. Kecap dan bawang merah adalah bahan masakan. Bahan masakan adalah undangan untuk memasak.
Memasak untuk siapa?
Untuk diri sendiri?
Tapi kenapa dititipkan?
Atau…
Dan ini yang membuat Kakek Warso tiba-tiba duduk lebih tegak, apakah ini semacam kode?
Bahwa Nenek Sarmi ingin dimasakkan sesuatu ketika pulang nanti?
Atau…
Dan ini yang membuat telinganya memanas,
apakah ini semacam perhatian?
Kakek Warso berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi.
Ia pergi ke sumur, mencuci muka, lalu berdiri di depan cermin retak di kamar mandi dan memandangi wajahnya sendiri untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama.
Rambutnya putih semua. Kumisnya tidak karuan. Gigi depannya tinggal tiga. Melihat kharisma memancar dari wajahnya.
Ia kembali ke teras dan duduk dengan ekspresi seorang lelaki yang sedang bertempur melawan sesuatu di dalam dadanya, dan tidak yakin siapa yang menang.
Tiga hari kemudian, bukan seminggu, Nenek Sarmi pulang.
Kakek Warso mendengar suara becak berhenti di depan gang, lalu suara khas sandal jepit Nenek Sarmi di aspal.
Ia pura-pura sibuk memberi makan Jalu, meski Jalu sudah kenyang dan lebih tertarik memandang kupu-kupu di pohon pepaya.
Nenek Sarmi berjalan masuk ke gang sambil membawa tas kresek. Ia melihat Kakek Warso. Kakek Warso melihat ia. Keduanya pura-pura ini bukan momen apa-apa.
“Cepat pulangnya,”
kata Kakek Warso akhirnya.
“Anak saya ribut. Lebih enak di sini.”
Hening sebentar.
“Titipan kecapnya sudah saya terima,”
kata Kakek Warso dengan suara yang dicoba dibuat datar.
“Maksudnya apa itu?”
Nenek Sarmi berhenti melangkah. Ia memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, atau mungkin bisa dibaca, tapi Kakek Warso tidak mau terburu-buru membacanya.
“Maksudnya apa gimana?”
“Ya, kecap sama bawang merah. Untuk apa?”
Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu tertawa, tawa kecil, bukan tawa keras, tawa orang yang menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak menyangka akan lucu.
“Pak Warso,” katanya, “kemarin saya minta tolong Mas Udin belikan kecap sama bawang merah di warung, tapi saya keburu berangkat. Jadi saya bilang, taruh saja di rumah Pak Warso, nanti saya ambil waktu pulang.”
Kakek Warso membuka mulutnya.
Menutupnya.
Membuka lagi.
“Jadi, ini punya sampeyan?”
“Ya. Boleh saya ambil?”
Nenek Sarmi mengambil kotak kecilnya dan melanjutkan langkah ke rumahnya. Kakek Warso duduk di kursi kayunya dengan ekspresi seorang lelaki yang baru saja membangun istana megah di dalam kepala, lalu mendapati istana itu adalah kandang ayam.
Jalu melompat turun dari pagar, berjalan ke arah Kakek Warso, dan mematuk ujung sandalnya sekali, pelan, hampir seperti tepukan di bahu.
Kakek Warso memandang ayam itu.
“Diam kamu,” katanya.
Jalu kluruk sekali. Pendek. Lalu kembali ke pagar.
Di dalam rumah, kursi mendiang istri Kakek Warso berdiri diam seperti biasa, kosong, sabar, tidak berkomentar apa pun tentang apa yang baru saja terjadi di luar.
“Ia bahkan tak tahu, sejak kapan semuanya terasa berubah. Bukan orang-orang dan sesuatu di sekitarnya, melainkan ada sebagian dari dalam dirinya yang menjauh. yang membuatnya merasa kosong dan rapuh.”
Bagi Taka, hari itu sebenarnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak menjumpai ada sesuatu yang istimewa, hanya beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat bekerja, dan bertemu dengan berbagai hal random lainnya. Hanya rutinitas harian, yang bahkan semakin lama sudah terasa seperti template hidup yang itu-itu saja baginya. Sedikit hambar dan melelahkan memang, tapi itulah adanya.
Kilauan matahari senja, saat itu sepertinya tidak akan menampakan keindahannya. Langit yang belum sepenuhnya terang, masih menyisakan warna abu-abu gelap yang menggantung rendah. di antara kabel listrik dan pucuk-pucuk pohon mahoni di pinggir jalan. Seolah menyisakan cerita hujan yang belum sepenuhnya selesai. Meninggalkan jejak yang belum benar-benar hilang. Jalanan yang masih terlihat basah, dan aroma tanah yang tertangisi langit pun masih tercium samar.
Sore itu, ia keluar dari tempatnya bekerja. Menyalakan motor, lalu melaju secara pelan. Tidak terburu-buru, tidak juga ingin cepat sampai. Melintasi jalanan yang masih tergenang air akibat hujan siang hari itu. Tanpa alasan yang jelas, seolah tidak benar-benar memiliki tujuan. Seperti ada bagian dari dirinya yang sengaja memperlambat segalanya.
Sampai akhirnya…
Ia pun melintasi sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan, dan memutuskan untuk berhenti.
Tempatnya sederhana, dengan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Tidak terlalu ramai. hanya terdapat beberapa meja kayu dengan kursi yang tampak sudah cukup lama digunakan, meninggalkan berbagai kenangan orang-orang yang pernah mengunjunginya.
Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk perlahan.
Denting lonceng kecil yang tergantung di pintu terdengar singkat olehnya, bunyi yang sedikit memecah kesunyian di dalam. Seperti menyapa kedatangan dirinya tanpa benar-benar ingin diperhatikan. Aroma kopi yang pekat dan hangat segera menyambutnya. Lampu-lampu gantung yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan yang lembut. Terdengar olehnya suara dengung pelan mesin kopi di sudut ruangan yang sesekali mendesis saat uap panas dilepaskan, berpadu dengan alunan musik pelan yang nyaris tak terdengar.
Ia memutuskan untuk memesan secangkir kopi hitam. Tanpa gula, seperti biasa. Pilihan yang sederhana, yang sudah terlalu sering diulang hingga tak lagi perlu dipikirkan olehnya.
Ia pun memilih untuk duduk di dekat jendela.
Entah mengapa…
Baginya, tempat seperti itu selalu terasa lebih nyaman. Mungkin karena ia bisa melihat dunia luar bergerak sebagaimana mestinya dari sana. Orang-orang berjalan, kendaraan yang melaju, dan waktu yang terus berlalu tanpa pernah peduli pada siapa pun.
Tanpa menunggu terlalu lama, secangkir kopi yang ia pesan pun datang. Permukaan yang berputar halus, seolah menyimpan panas yang masih hidup di dalamnya. Uap tipisnya mengepul perlahan, membawa aroma pahit di hidungnya sebelum akhirnya menghilang di udara.
Ia tidak langsung menyesapnya. Tangannya hanya menyentuh cangkir itu sejenak, merasakan panasnya yang menjalar pelan ke telapak tangan miliknya. Terasa hangat, cukup untuk meredakan hawa dingin dari udara luar yang lembap akibat hujan.
Namun, sudah seperti kebiasaan yang tidak ia sadari. Pandangannya sesekali tertuju pada pintu, setiap kali lonceng di pintu itu berbunyi, refleksnya pun kembali bekerja.
Ia menoleh. Seolah berharap ada sesuatu, atau seseorang yang akan dating menemuinya. Tapi, yang ada hanyalah orang-orang asing. Wajah yang tidak pernah benar-benar ingin diingat olehnya.
Kemudian…
Ia pun mengangkat cangkir di depannya, lalu menyesapnya perlahan.
Entah mengapa, secara tiba-tiba…
Ia teringat pada kejadian kala itu. Bayangan tentang gadis berkacamata bundar yang terlintas begitu saja. Bukan karena wajahnya, bukan pula karena singkat dalam pertemuannya. Mungkin karena percakapan mereka. atau mungkin, karena satu pertanyaan dari gadis itu yang hingga kini masih tertinggal di kepalanya.
Tentang dingin.
Tentang sesuatu yang tak pernah datang.
Ia menghela napas pelan, lalu menunduk menatap kopi yang ada di hadapannya. Uapnya masih terlihat, namun tak lagi setebal sebelumnya. Perlahan, hangatnya mulai berkurang, seperti sesuatu yang sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk lama bertahan.
Ia pun tersenyum tipis.
Entah karena menyadari kebodohan kecil dalam dirinya sendiri, atau karena akhirnya ia mulai mengerti akan sesuatu yang dulu masih terasa samar olehnya.
Ia terdiam sejenak. Menyadari ada sesuatu yang begitu halus dirasa, namun nyata. Bahwa hari ini ia kembali melakukan hal yang sama.
Menunggu.
Tanpa kepastian. Tanpa alasan yang benar-benar jelas. Apa, untuk siapa dan mengapa ia melakukanya. Bahkan, ia sendiri pun tidak tahu, sekarang ia sedang menunggu atau sekedar membuang waktu.
Kembali ia menyesapi kopi itu.
Pahit…
Namun kali ini, terasa lebih jujur.
Di luar, terlihat lampu jalanan kini mulai menyala. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, bergerak dengan urusan masing-masing. Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang sedang menunggu, atau apa yang sedang diharapkan.
Dan mungkin, memang seperti itulah seharusnya.
Ia pun kembali bersandar.
Kali ini, ia tidak lagi melihat ke arah pintu. Tidak lagi menunggu bunyi lonceng. Tidak lagi berharap akan ada seseorang yang datang menghampirinya dan mengubah hari itu menjadi sesuatu yang berbeda baginya.
Ia hanya duduk. Diam.
Mendengarkan suara mesin kopi, denting gelas, dan langkah kaki yang datang lalu pergi.
Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sederhana.
Dan anehnya… itu cukup.
Akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menunggu sesuatu dari luar. Seolah-olah kehadiran orang lain adalah satu-satunya cara untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya. Padahal, ruang itu tidak pernah benar-benar kosong. Hanya saja, ia yang jarang benar-benar berhenti untuk melihatnya.
Ia menatap keluar jendela.
Cahaya matahari mulai menghilang. Tergantikan sorot lampu kota dan kendaraan yang melintas di jalanan, memantul di permukaan aspal yang masih basah dan perlahan mengering. Segalanya kembali seperti biasa, dan untuk pertama kalinya, dirinya tidak merasa tertinggal di dalamnya.
Ia kembali menyesap kopi.
Kini hangatnya terasa lebih berarti. Bukan karena suhunya, melainkan karena ia benar-benar merasakannya.
Tanpa terburu-buru, tanpa distraksi, dan tanpa harapan yang berlebihan,
yang ada, ia hanya merasakan… bahwa dirinya ada.
Dan di situlah ia akhirnya mengerti, bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian. Terkadang, sendiri adalah cara paling jujur untuk menenangkan diri. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk kembali.
Kembali pada diri sendiri. Kembali pada hal-hal sederhana yang selama ini ia lewatkan. Kembali pada ketenangan yang tidak bergantung kepada apapun. Dan kembali untuk tidak berharap akan kehadiran siapapun.
Kopi di hadapannya pun perlahan mendingin. Namun kali ini, ia tidak merasa kehilangan apapun. Ia berdiri perlahan, meraih tas, lalu berjalan menuju pintu. Lonceng kecil itu kembali berbunyi saat ia membukanya. Udara di luar dirasanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.
Ia melangkah keluar.
Tanpa menoleh kembali, dan tanpa menunggu apapun lagi.
Karena sekarang ia pun mengerti, bahwa tidak semua kehangatan harus datang dari orang lain. Terkadang, kesendirian adalah cara paling jujur untuk pulang, dan menemukan kembali diri yang sempat hilang dalam penantian.
Tentang Penulis
Rio Triyono
Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.
Selepas ngaji ba’da Isya, Abah Kiai Muslih memintaku menemui beliau di ndalem. Setelah menunggu sejenak, beliau datang ke ruang tamu, duduk di kursi yang telah kusiapkan, sementara aku bersimpuh di hadapannya.
“Lim, besok pagi kamu ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Sampaikan surat ini kepada Mbah Wira. Jangan pulang sebelum beliau mengizinkanmu kembali ke pondok.”
“Nggih, Bah. Sendiko dawuh.”
Sebelumnya aku belum pernah menerima amanah seperti ini. Aku kembali ke kamar dengan sekantung rasa penasaran akan maksud beliau. Namun yang terpenting, tugasku adalah khidmat kepada pesantren fokus menunaikan amanah dari Abah Kiai Muslih sampai tuntas. Kurang beruntung apa lagi? Aku yang yatim piatu ini masih diberi nikmat menimba ilmu di pesantren. Sudah lebih dari duabelas tahun, pesan terakhir bapakku sebelum meninggal masih selalu kupegang.
“Lhe, kowe kudu nurut karo Abah Kiai, pokoke sendiko dawuh. Bapakmu ini tidak punya apa-apa untuk membekali dirimu. Bapak hanya bisa mendoakan agar kamu menjadi orang yang berguna.”
Pesan itu beliau sampaikan saat menyerahkanku kepada Abah Kiai Muslih di Pondok Pesantren Al Kautsar, ketika aku mulai masuk Aliyah. Ibu telah lebih dulu meninggal, sejak aku masih tujuh tahun.
Dalam cengkerik malam, selepas tahajud, aku membuka lemari. Di balik pintu tertempel foto lama bapak dan ibuku.
“Assalamu’alaikum, Pak, Bu. Pagi ini Ngalim mendapat amanah dari Abah Kiai untuk pergi ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Pangestunipun nggih,” ucapku sambil tersenyum.
Bapakku hanyalah buruh tani sederhana. Namun aku tak pernah melihatnya mengeluh, ia selalu merasa cukup. Sejak dulu, beliau sangat khurmat dan takdzim kepada Abah Kiai Muslih. Aku pun sering diajak sowan ke ndalem beliau.
***
Tidak banyak yang kubawa, dua baju koko, dua sarung, dua celana, satu kaos lengan panjang, dan peci. Surat untuk Mbah Wira kubungkus plastik, jaga-jaga jika hujan turun di perjalanan. Semua kususun rapi dalam tas.
Sebelum berangkat, aku meminta izin kepada ketua pengelola Kebun Kendana untuk memetik beberapa ubi ungu. Ubi-ubi itu akan kubawa sebagai buah tangan untuk Mbah Wira. Aku tak tahu pasti berapa lama perjalanan menuju Kampung Katamasingkir. Dari cerita Kang Dahlan, kampung itu berada di ujung Utara kabupaten ini. Ia sendiri tidak begitu tahu, hanya pernah mendengar nama Hutan Punjok Pinong dari orang-orang.
“Kang Ngalim, sampean boleh pakai motorku kalau mau. Tapi sudah tua… bisa mogok sewaktu-waktu,” katanya.
“Wah, maturnuwun, Kang. Tak pinjam nggih. Moga-moga motore ora ngasi ngambek yo,” jawabku sambil tertawa kecil, menepuk pundaknya. Ia pun ikut terkekeh.
***
Tepat ba’da sholat Subuh, aku bersiap berangkat. Motor Astrea keluaran tahun delapan puluhan itu meluncur pelan, meninggalkan Pondok Pesantren Al Kautshar. Aku sempat menoleh ke arah ndalem Abah seperti mengikat janji dalam diam: “amanah ini harus sampai. Semoga hasil maqsud”.
Kuarahkan laju ke Utara. Sesekali berhenti, bertanya, lalu melanjutkan lagi. Matahari meninggi, panasnya menekan kulit, peluh tak lagi terasa asing. Lapar kutahan. Uang di saku hanya cukup untuk berjaga jika bensin habis.
Setengah hari berlalu. Pertanyaan yang sama jawaban yang sama: tidak tahu. Senja mulai turun. Jalan terasa semakin lengang.
Aku berhenti di pinggir, membiarkan sunyi mengambil alih. Ada yang terasa janggal seperti arah yang kutempuh tak benar-benar membawa ke mana-mana. Aku menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ragu menyelinap. Saat itulah, dari entah arah mana, seorang kakek-kakek datang. Rambutnya putih panjang, bajunya pucat seperti sisa cahaya.
“Nyari apa, Lhe?”
“Kampung Katamasingkir, Mbah…”
Kakek itu tersenyum samar.
“Sing kok goleki… ora mesthi ketemu karo sing nggoleki.”
Aku terdiam.
“Semakin kamu memaksa sampai, semakin jauh ia menjauh.”
“Lajeng pripun Mbah ?”
“Terus mlakuo. Tapi ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati.”
Aku ingin bertanya lagi, tapi kata-kata seperti tertahan.
“Nek wis tekan waktune… kowe bakal nemu.”
Aku menunduk,
“Nggih Mbah… maturnuwun…”
Tangan tuanya sempat menyentuh kepalaku ringan, tapi terasa lama. Aku tertunduk merenung. Saat aku mengangkat wajah, ia sudah pergi.
Di seberang jalan, ada masjid kecil. Aku berhenti untuk sholat. Selesai salat, seorang nenek-nenek keluar tergopoh, membawa kantong plastik.
“Lhe… kowe lagi lelungan ? Iki ono panganan!”. Aku menerimanya.
“Nggih Mbah… matur nuwun…”
“Kowe arep lunga endi, Lhe?”
“Kampung Katamasingkir, Mbah…” Nenek itu diam sejenak.
“Owh… sing cedhak Punjok Pinong kuwi?” Aku mengangguk cepat.
“Aku ora ngerti persise, yo uwis ditata niate yo Lhe…” katanya pelan, sambil tersenyum tipis seperti menyimpan sesuatu.
Setelah makan, aku kembali melaju ke Utara. Jalan masih sama, tapi rasanya tidak lagi sama. Langit mulai gelap. Angin berhembus lebih dingin dari sebelumnya. Aku tidak lagi yakin apakah aku sedang mendekat atau justru semakin jauh. Namun kali ini, aku tidak bertanya. Aku hanya melaju membiarkan arah menemukan jalannya sendiri. Sampai tidak sampai kupasrahkan semuanya kepada Gusti Allah.
***
Malam benar-benar menggerayangiku. Aku masih melaju, menembus gelap yang semakin pekat. Bensin sudah kuisi penuh beruntung Si Astrea tidak sampai ngambek. Semakin ke Utara, rumah-rumah mulai menghilang. Jalanan sunyi, tanpa lampu, tanpa tanda. Sampai akhirnya aku berhenti. Di depanku terbentang telaga luas. Airnya jernih, tenang, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin diketahui siapa pun. Tak ada manusia. Tak ada suara, kecuali suara jangkrik yang tengah bersenandung riuh. Hanya ada gubug bambu yang tampak renta, dan sebuah bangku kayu panjang di depannya.
Aku duduk. Diam. Menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa. Kutatap sekeliling, kosong. Benar-benar kosong. Aku berdiri, melangkah mendekati telaga. Gelap, namun sinar rembulan yang memantul di telaga itu turut memantulkan bayanganku yang samar.
“Ini, aku di mana sebenarnya?” Pikiranku mulai gaduh.
“Apakah ini Kampung Katamasingkir?”
“Ataukah ini Hutan Punjok Pinong?”
“Kalau benar ini hutan itu, lalu di mana jalannya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu saling berkejaran, semakin keras, semakin liar. Aku mengusap wajah. Napas terasa berat.
“Kalau aku salah jalan…?”
“Kalau aku tidak sampai…?”
“Bagaimana kalau amanah ini gagal?”
Dadaku mulai sesak. Untuk pertama kalinya, muncul keinginan itu
berhenti.
“Sudah, sampai sini saja…”
Langkahku goyah. Aku menatap gelap di seberang telaga, hutan yang tak jelas bentuknya. Rasanya jauh. Terlalu jauh.
“Apa mungkin, aku memang tidak akan pernah sampai?”
Kalimat itu terucap lirih, tapi terasa menghantam keras. Aku menunduk.
Tangan gemetar. Bayangan Abah Kiai Muslih muncul. Wajahnya tenang, tapi justru itu yang membuatku semakin takut. Aku takut mengecewakan beliau.
“Aku ini siapa ?, berani-beraninya merasa mampu!”
Rasanya ingin berteriak. Sekencang-kencangnya. Tapi suaraku tertahan di dada.
“Astaghfirullahal’adzim…”
Aku menarik napas panjang. Pesan kakek-kakek itu terlintas kembali.
“Ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati”.
Aku terdiam. Pelan-pelan, aku mendekati telaga. Kuambil airnya untuk berwudhu. Dingin. Menusuk. Seakan menyadarkan sesuatu yang hampir runtuh. Aku dirikan shalat. Dalam sujudku yang terakhir, aku tidak lagi bertanya tentang arah. Aku hanya mengadu.
“Yaa Allah, kalau ini jalan-Mu, tuntun aku…”
“Kalau aku salah, luruskan…”
“Kalau aku lemah, kuatkan…”
Sujud terasa lebih lama. Lebih dalam. Seperti ada yang perlahan diturunkan,menenangkan, menata ulang yang sempat kacau. Setelah salam, aku masih duduk. Hening. Tidak ada jawaban. Tapi, ada yang berubah. Bukan jalannya. Bukan tempatnya. Hatiku. Namun justru di titik itu ketika aku tidak lagi yakin harus bagaimana. Aku masih duduk tempat yang sama. Badan rasanya sudah sangat lelah. Aku rabahkan badanku sejenak. Rasa kantuk tak tertahan, seolah suara-suara jangkrik dan kericak air telaga itu dengan lembut meninabobokanku.
***
“Lhe, tangi !”
Suara itu datang pelan, seolah menyelinap di antara sisa-sisa lelapku. Sebuah tangan mengusap pundakku dengan lembut. Aku tergeriap, bangkit dengan napas yang masih tersengal.
Di hadapanku berdiri seorang lelaki paruh baya. Wajahnya teduh, diterangi cahaya temaram malam.
“Nyuwun sewu, Bapak sinten nggih? Saya kira, tidak ada orang di sini,” kataku masih setengah bingung.
“Saya Martaji,” jawabnya lirih namun mantap.
“Diutus Mbah Wira untuk menjemput sampean. Sampean Ngalim, leres?”
“Nggih… leres, Pak…” Aku menatapnya lekat, mencoba memastikan ini bukan sisa mimpi.
“MasyaAllah, niki kulo boten ngimpi, nggih?”.
Beliau tersenyum tipis.
Aku mencubit pipiku sendiri, pelan. Nyeri itu nyata. Aku masih terperanjat heran, bagaimana mungkin Mbah Wira mengetahui kedatanganku? Namun di saat yang sama, hatiku terasa lapang, seolah beban panjang sejak pagi tadi perlahan luruh.
Tanpa banyak kata, Pak Martaji mengajakku menuju tepian telaga. Sebuah perahu kecil terikat di sana, bergoyang pelan disentuh riak air yang nyaris tak bersuara. Motor Astrea kutinggalkan di gubug. Pak Martaji meyakinkanku, “Aman, insyaAllah.”
Kami pun naik. Perahu bergerak pelan, membelah air yang gelap dan tenang. Aku ikut mendayung, meski lebih sering diam mendengarkan bunyi dayung yang menyentuh air, berulang, ritmis, seperti zikir yang tak terucap.
Telaga itu terasa panjang dan sunyi. Seolah tak bertepi. Senterku mulai meredup, cahayanya patah-patah. Kini hanya obor yang dibawa Pak Martaji menjadi satu-satunya penunjuk arah. Nyala apinya kecil, tapi cukup untuk menjaga kami tetap percaya bahwa kami sedang menuju sesuatu. Entah berapa lama, akhirnya perahu menyentuh tepian.
“Ini Hutan Punjok Pinong,” ujar Pak Martaji pelan.
“Di dalam sana, ada Kampung Katamasingkir.” Aku mengangguk, tanpa kata.
Kami melangkah masuk. Hutan itu gelap lebih gelap dari yang pernah kubayangkan. Semak belukar menjalar liar, pohon-pohon besar menjulang seperti bayang-bayang yang diam mengawasi. Angin berembus pelan, membawa suara-suara samar yang tak jelas asalnya.
“Tenang Lhe!, diakehi dzikir,” bisik Pak Martaji. Aku menurut.
Langkah demi langkah kami tempuh. Menanjak, lalu menurun landai. Nafasku mulai teratur, meski hati masih menyimpan sisa-sisa tanya. Hingga di kejauhan, tampak titik-titik cahaya. Awalnya samar. Lalu perlahan jelas. Dini hari menyambut ketika kami sampai. Sebuah perkampungan sederhana terbentang di hadapanku. Rumah-rumah bambu dan kayu berbentuk joglo berdiri berjajar, masing-masing diterangi obor di depannya. Cahaya api menari pelan, memberi kesan hangat di tengah dinginnya malam.
Pak Martaji membawaku menuju rumah yang berada tepat di tengah. Di sampingnya terdapat sebuah pendopo, seperti surau. Tampak tempat pengimaman, bedug, dan kentongan mungil yang tergantung rapi.
Beliau mengetuk pintu. Tok… tok…
“Assalamu’alaikum…”
Pintu terbuka perlahan. Aku terperanjat kaget, dadaku langsung berdegup kencang. Orang yang berdiri di hadapanku adalah sosok yang sama dengan kakek yang kutemui di perjalanan tadi. Aku menatapnya tak berkedip. Dari ujung rambut hingga kaki. Tak mungkin salah. Pak Martaji menunduk hormat, menyalami dan mencium tangannya. Aku pun mengikuti, meski tanganku terasa dingin.
“Ini Mbah Wira,” ucap Pak Martaji singkat.
Aku tercekat.
Dengan suara yang sedikit bergetar, kusampaikan salam, lalu kusodorkan surat dari Abah Kiai Muslih. Ubi ungu yang kubawa pun kuletakkan di hadapan beliau. Mbah Wira menerimanya dengan senyum tenang.
“Alhamdulillah, uwis tekan Lhe!” ucapnya lembut.
Suara itu sama. Senyumnya sama.
“Silakan masuk. Istriku sudah menyiapkan makan dan tempat istirahat. Bersih-bersihlah dulu di belakang.”
“Nggih, Mbah, maturnuwun”
Aku menunduk dalam. Masih dengan hati yang bergetar antara takjub, bingung, dan rasa cukup yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
***
Fajar perlahan merekah. Cahaya tipis menyusup di sela-sela dinding bambu, membasuh kampung dengan warna pucat yang tenang. Dari surau di depan, terdengar lantunan puji-pujian untuk Kanjeng Rasulullah Saw., lirih, berulang, seperti aliran yang tak putus.
Aku bergegas menuju surau. Beberapa orang sudah duduk bersila, sebagian membaca al Qur’an, sebagian lagi hanya menunduk khusyuk. Suara mereka berpadu, mengisi ruang yang sederhana itu dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Aku menunaikan Shalat Qabliah, lalu duduk di sudut, mengamati. Dinding bambu, lampu minyak yang masih menyala, bedug kecil di samping semuanya terasa asing, tapi sekaligus akrab. Tiba-tiba seseorang mendekat.
“Kang, nyuwun sewu, monggo panjenengan dados imam,” ucapnya pelan.
Aku terdiam sejenak. Nama itu seperti mengetuk sesuatu dalam hatiku. Tanpa banyak bertanya, aku berdiri. Langkahku terasa pelan menuju tempat imam. Sekilas aku menoleh ke belakang barisan sudah rapi. Namun sosok Mbah Wira tak kutemukan. Shalat berlangsung khidmat. Suara takbir, bacaan ayat, dan gerakan yang serempak semuanya terasa mengalir, seolah aku hanya mengikuti sesuatu yang sudah lebih dulu diatur.
Usai salam, lelaki tadi kembali mendekat.
“Kang, nyuwun sewu… panjenengan dipun amanahi ngisi majelis ba’da Subuh.”
Aku menatapnya, ragu.
“Kulo?”
“Nggih, monggo…”
Aku benar-benar tak siap. Namun ketika menoleh ke belakang, jamaah sudah membentuk halaqah. Anak-anak duduk di depan, orang dewasa melingkar di belakangnya. Semua mata tertuju menunggu. Aku menarik napas panjang. Dengan suara pelan, aku membuka majelis: tawasul kepada Kanjeng Nabi, dilanjutkan Surah Al-Fatihah.
Di tengah kegugupan, ingatanku melayang pada pengajian bersama Abah Kiai Muslih tentang keutamaan ilmu dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Mbah Kiai Hadratusyaikh Hasyim Asya’ari. Itulah satu-satunya yang terlintas. Meski hati kecilku berkata aku belum pantas, namun kalimat-kalimat itu tetap mengalir. Perlahan. Seadanya.
Majelis pun usai. Aku mendekati pemuda tadi.
“Kang, nyuwun sewu… njenengan sinten nggih? Kulo badhe nyuwun pirsa, Mbah Wira wonten pundi? Kok mboten katingal?”
“Kulo Amin, Kang,” jawabnya sopan.
“Mbah Wira, kadang tindakan tanpa pamit. Kulo ugi mboten sumerap tindak pundi.”
Aku terdiam.
“Tapiii,” lanjutnya, “Kulo dipun titipi dawuh.Menawi Kang Ngalim, dipun suwun ngurus surau punika, ngantos Mbah Wira kondur.”
Ada jeda yang cukup panjang dalam hatiku. Seakan semua yang kualami sejak kemarin perjalanan, pertemuan, hingga pagi ini bermuara pada satu titik: amanah.
Aku menunduk pelan.
“Nggih…”
Tak ada pilihan lain. Bukan sekadar karena diminta tapi karena ini bagian dari sendiko dawuh yang harus kutunaikan.
“Bismillah…”
***
Sudah satu bulan aku di Kampung Katamasingkir. Mbah Wira belum juga tampak. Hari-hari berjalan begitu saja, tapi tidak benar-benar sama. Ada ritme yang pelan-pelan terbentuk. Aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Surau menjadi pusatnya.
Anak-anak mulai kukumpulkan setiap sore, TPQ berjalan, meski sederhana. Huruf demi huruf, ayat demi ayat. Kadang diselingi tawa, kadang harus diulang berkali-kali. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun mulai ikut duduk. Tidak selalu mengaji, kadang hanya mendengarkan.
Yang membuatku takjub, setiap bedug dan kentongan dipukul, orang-orang seperti memiliki kesadaran yang sama. Aktivitas berhenti. Mereka bergegas ke surau. Tidak perlu dipanggil dua kali.
Seusai shalat, selalu ada majelis meski hanya sebentar. Seolah kampung ini hidup dari jeda-jeda itu. Pesan Abah Kiai Muslih sering terngiang:
“Gandengno ibadah karo ilmu…”
Dari situ, pelan-pelan kami menyusun sesuatu. Anak-anak muda dikumpulkan. Dibentuk kepengurusan sederhana untuk mengurus kegiatan surau. Tidak resmi, tapi terasa.
Pagi hari, setelah Duha, aku sering bersama Kang Amin masuk ke Hutan Punjok Pinong. Mencari kayu bakar untuk Mbah Putri, begitu aku memanggil istri Mbah Wira. Di sela itu, aku belajar banyak hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
Air hujan, misalnya. Kami mulai membuat sumur resapan di samping rumah-rumah warga. Tidak besar, tapi cukup untuk menahan air agar tidak langsung lari ke bawah. Di belakang rumah Mbah Wira, ada kebun yang semula dibiarkan. Atas saran Mbah Putri, aku mulai menggarapnya. Singkong, ubi, bayam, bawang tanah itu perlahan berubah. Tidak cepat, tapi pasti.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sudah tiga bulan. Aku mulai merasa bukan lagi tamu. Warga tidak lagi memanggilku “orang pondok”, tapi bagian dari mereka. Namun satu hal tetap menggantung, Mbah Wira belum juga kembali. Kadang, di sela malam, kegelisahan itu datang. Kemana beliau pergi? Apakah aku melakukan ini dengan benar? Tapi setiap kali itu muncul, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah berjalan.
Hingga suatu pagi, selepas majelis ba’da Subuh Aku melihat seseorang berdiri di pintu surau. Awalnya samar. Seperti bayangan yang belum sepenuhnya hadir. Aku mengucek mata. Dan saat pandanganku kembali jernih aku mengenalinya. Mbah Wira.
“Alhamdulillah…” tanpa sadar aku mengelus dada.
Jamaah yang lain satu per satu menghampiri, menyalami beliau. Suasana menjadi hangat, tapi juga hening dengan caranya sendiri. Aku mendekat terakhir.
Menunduk, mencium tangan beliau.
“Lhe, wis cukup yo!,” ucapnya pelan, sembari mengusap kepalaku.
“Hari ini, kamu boleh pulang ke pondok.”
Aku terdiam sejenak.
“Alhamdulillah… nggih, Mbah. Maturnuwun sanget…”
Aku tidak bertanya apa-apa. Tentang kepergian beliau. Tentang maksud semua ini. Aku hanya menceritakan apa yang telah kulakukan selama di sini, tentang surau, TPQ, kebun, dan warga. Tentang Kang Amin yang banyak membantuku. Beliau hanya mengangguk-angguk pelan. Selebihnya, diam.
Aku pun berpamitan, dengan Mbah Wira, dengan Mbah Putri, dengan Kang Amin dan dengan warga yang kini terasa begitu dekat. Ada berat yang tak bisa dijelaskan. Namun ada juga rasa cukup yang diam-diam menenangkan.
Pak Martaji kembali mengantarku. Menyusuri Hutan Punjok Pinong yang kini terasa berbeda. Menyebrangi telaga yang dulu terasa panjang. Saat sampai di gubug, motor Astrea itu masih di tempatnya. Berdebu, tapi utuh. Kucoba menyalakan. Sekali tidak hidup. Dua kali masih diam. Tiga, empat. Baru pada yang kelima mesin itu menyala. Pelan. Seperti mengerti perjalanan ini belum benar-benar selesai. Ah kenapa ajaib sekali. Baru kusadari, mungkin sejak awal aku tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.
***
Perjalanan pulang terasa lebih cepat, jalan yang kemarin asing kini seperti sudah akrab. Setiba di pondok, aku segera membersihkan diri, lalu menuju ndalem Abah Kiai Muslih. Kutitipkan pesan pada santri ndalem bahwa aku ingin sowan.
Aku menunggu sambil bersimpuh. Beberapa saat kemudian, yang datang bukan Abah Kiai Muslih, melainkan Ibu Nyai Nafisah. Mungkin Abah sedang beristirahat atau berhalangan. Aku menunduk hormat, lalu menyampaikan maksud kedatanganku bahwa amanah telah kutunaikan. Surat telah kusampaikan kepada Mbah Wira di Kampung Katamasingkir.
Perlahan, aku lanjutkan ceritaku. Tentang perjalanan, tentang pertemuan-pertemuan yang tak terduga, hingga apa saja yang kulakukan selama di sana. Namun di tengah bercerita, aku melihat mata Ibu Nyai mulai berkaca-kaca. Air mukanya berubah seperti ada kesedihan yang tak sempat disembunyikan.
Aku gugup. Tak berani menatap lama. Meski terbata, aku tetap melanjutkan bercerita sampai selesai. Setelah itu, aku menunduk dalam. Aku tak mengerti mengapa cerita itu justru menghadirkan kesedihan di wajah beliau. Hingga tiba-tiba, Ibu Nyai Nafisah memanggil seseorang.
“Sini, Nak… keluar.”
“Ning Kautshar…?” batinku lirih.
Ia melangkah pelan dari balik pintu ruang tengah, lalu duduk di samping Ibu Nyai. Ia memang tersembunyi. Ia terjaga. Sungguh ia seperti telaga yang teduh, tenang, mekar ranum bunga teratai. Aku tak berani lama menatap. Ibu Nyai Nafisah menahan napas sejenak, lalu berkata pelan, “Abah menitipkan wasiat khusus untukmu, Ibu mohon, tunaikan..”
Kalimat itu jatuh perlahan namun terasa berat.
“Wasiat ?” Tubuhku seketika gemetar. Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.
“Abah…” suaraku pecah, tak sempurna.
Aku menunduk dalam. Air mata jatuh tanpa sempat kutahan dan tanpa suara. Segalanya seperti tiba-tiba menjadi jelas, sekaligus tak sepenuhnya bisa kupahami.
“Nggih, Lhe…” lanjut Ibu Nyai lirih,
“Kautshar telah menunggumu!”
***
@iiz_oanes_99
Iis Sugiarti, kelahiran Kebumen, 08 Februari. Alumnus Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pegiat di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Karyanya telah termaktub di beberapa buku antologi: Senandung Cinta Untuk Ibunda (Asrifa Publisher: 2014), Radar Lupus (Asrifa Publisher: 2014), 100 Makna Kasih Sayang Ayah Ibunda (Gerbang Sastra: 2014), Bisikan Kata Teriakan Jiwa (Meta Kata: 2014), Senarai Diksi (Pena House: 2014), Cerita Mei (Goresan Pena: 2014), Pelangi Syair Sang Penyair (Fornusa Indonesia: 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 5 (Forum Sastra Surakarta: 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta: 2015), Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (Kosa Kata Kita: 2015), Balada Badut-Badut dan Rumput (Oase Pustaka: 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta: 2016), Creative Writing (Kaldera:2016), Koran HarianSatelit Post (2015), Koran Madura (2016), Pilar Puisi 3 (SKSP: 2016), Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan (Kosa Kata Kita: 2017), Seberkas Cinta (2017), Kidung Patani (2017), Kampus Hijau 3 (SKSP: 2017), Puisi Menolak Korupsi Jilid 6 (Forum Sastra Surakarta: 2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8: Kosa Kata Kita, 2018), A Skyful of Rain (Banjabaru’s Day Literary Festival: 2018), Palung Tradisi (Perempuan Penyair Indonesia: 2019), dan karya cerpennya termaktub di Mawar yang Tertanam di Pelaminan Air Mata (Oase Pustaka: 2015), Isyarat (CV: Landasan Ilmu: 2016), Senandung Cinta dari Pesantren (Diva Press: 2022). Esainya termaktub dalam buku “Revitalisasi Sastra Pesantren” (An Najah Press: 2016). Adapun terbitan buku akademik, berjudul “Pengembangan Budaya Penginyongan” (2026). Selain itu penulis aktif dalam publikasi ilmiah (2021-2026). Publikasi artikel dapat diakses melalui Google Schoolar penulis: yrnFB-gAAAAJ. Penulis dapat dihubungi via Instagram: @iiz_oanes_99.
Hujan turun tanpa aba-aba, seperti sesuatu yang datang membawa kabar tanpa sempat ditolak. Sore itu, langit menggulung dirinya dalam kelabu yang pekat, lalu menjatuhkan isinya ke bumi dengan deras dan tak memberi jeda. Sialnya, aku yang sedang dalam perjalanan pulang dan tidak membawa jas hujan hanya bisa menghela napas pendek, lalu memutuskan untuk berhenti dan menepi. Tepat di terasan toko dengan setengah pintu terbuka yang bahkan aku pun tak tahu apa isi di dalamnya.
Dengan segera aku memarkirkan motorku. Hanya sekedar untuk berteduh menunggu hujan sedikit reda. Tak ada kursi. Tak ada lampu yang menyala. Hanya atap seadanya dan ruang sempit yang cukup untuk berdiri. Sambil kutatapi langit yang kian kelabu, dan sesekali memandangi genangan di jalan yang perlahan menyatu, sambil berharap hujan ini segera usai.
Tiba-tiba, suara mesin motor memecah riuh derasnya hujan. seorang gadis berkacamata bundar dengan motor matic berwarna putih berhenti tepat di sebelahku. Ia turun dengan tergesa-gesa. Bajunya sudah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan tubuhnya nampak sedikit gemetar, entah karena dingin atau karena lelah.
Tas slempang berwarna coklat pekat yang terbuat dari kain miliknya pun ikut basah. Segeralah ia buka tasnya itu, untuk memeriksa isi di dalamnya. Wajahnya sedikit lega tatkala mendapati barang bawaannya masih kering setelah menerjang hujan tadi.
“Permisi tuan. Bolehkah saya ikut berteduh di sini?” tanya gadis itu tiba-tiba.
Suaranya lembut, tapi cukup jelas untuk membuatku tersentak dari lamunanku.
“Boleh saja, nona. Silahkan” Aku sedikit bergeser untuk memberinya ruang sebagai isyarat kepada gadis itu agar berteduh di sebelahku.
Kami tak saling bicara untuk beberapa saat. Hanya berdiri berdampingan, sama-sama memandangi hujan yang kian deras, seolah masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pandanganku kembali menatapi jalanan. Perasaanku berkecamuk dengan sedikit rasa khawatir jika hujan akan turun lebih lama lagi.
Benar saja, setelah sekian lama menunggu. Bukannya mereda, yang ada adalah semakin lebat.
“Hujannya semakin deras,” ucapku. Hanya sekedar untuk membuka pembicaraan setelah kami berdua saling terdiam. Lebih karena ingin memecah sunyi daripada benar-benar menyampaikan sesuatu.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Sepertinya masih lama untuk mereda. Anginnya juga kencang.” lanjutnya ramah dengan sedikit kekhawatiran akan masuk angin karena baju dan sekujur tubuh yang basah.
Hujan pun kian deras. Riuh air yang jatuh d atap toko pun kian gaduh. Angin pun semakin kencang membawa rasa dingin yang agaknya mulai sulit ditepis tubuh yang mulai membeku. Langit sepertinya sedang sangat bersedih. Entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya. Beginilah saat hujan turun mengguyur. Hanya karena aku lupa membawa jas hujan, aku menjadi terpaku dan hanya termenung menunggu hujan reda. Aku yang bebas menjadi tahanan yang dikurung di dalam rintik air yang teruapkan oleh terik matahari siang tadi.
Aku yang tengah mengutuki diri, menarik nafas panjang. Tubuh yang kian lama merasakan hawa dingin yang terbawa angin kini pelan-pelan terasa menusuk sampai ke tulang.
Namun, di tengah lamunan yang berubah menjadi keterjebakan yang sunyi akibat dingin, aku tersentak tatkala gadis di sebelahku tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang mencengangkan hingga membuat aku begitu bingung.
“Menurutmu, apa perasaanmu tentang hujan?” sepenggal kalimat tanya keluar dari sela-sela bibir yang mulai membiru.
“Ehh… Anu,” reaksiku akibat kaget. “Aku suka hujan.” lanjutku.
Dia membawa kebaikan pada penduduk bumi. Tapi untuk saat ini, aku tak terlalu menyukai hujan. Bukan karena hujan itu sendiri, tetapi Angin dan hawa dingin yang ikut membersamainya.” jawabku dengan sedikit canggung dan kebingungan.
“Ohh, begitu.” sahutnya.
“Bagiku, hujan itu terlalu kejam,” Sebuah pernyataan singkat yang keluar dari bibir yang kian sendu dari gadis itu sembari mengeluarkan kain yang kemudian digunakannya untuk membersihkan kacamatanya yang berembun.
“Terkadang dia datang saat tak diharapkan. Burung-burung pun tak menyukainya. Hujan membawa hawa dingin. Akibatnya mereka harus mencari daun-daun lebar untuk menutupi sayap-sayap mereka. Setidaknya untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat.” pungkasnya.
“Iya, seperti itulah hujan. Setidaknya dingin akibat hujan lebih baik karena disertai irama dan harmoni yang membuatnya syahdu.” tanggapku. Meskipun aku juga mulai merasa membeku akibat hujan yang tak kunjung berhenti.
“Lantas menurutmu, mana yang lebih dingin, hujan disertai angin, atau angan yang sebatas ingin?” Sahutnya yang membuatku tertegun dan bibirku pun membeku tak mampu berucap apa-apa.
Aku tak begitu paham mengapa gadis itu menanyakan hal tersebut. Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku tentang hidupnya?
Aku terdiam. Termenung dalam kerasnya suara hujan yang seakan-akan membungkam semua percakapan kami tadi.
Aku terdiam cukup lama setelah pertanyaannya. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena pertanyaan itu terasa seperti bukan sekadar pertanyaan. Ada sesuatu yang diselipkan di dalamnya. Sesuatu yang secara tiba-tiba, nampak remeh namun terasa berat.
Gadis itupun kembali mengenakan kacamatanya. Ia menatap lurus ke arah jalan yang basah, seolah mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar ada di sana.
“Aku pernah kehujanan seperti ini,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng toko.
“Bedanya, waktu itu aku sendiri.” ungkapnya.
Aku menoleh. Ada nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita biasa. seperti pintu yang mengarah ke sesuatu yang lebih dalam yang mungkin tidak ingin dibuka begitu saja
“Dia bilang akan menjemputku,” lanjutnya.
“Aku menunggu di tempat yang sama seperti ini. Hujannya juga deras. Aku kira,.. itu akan jadi kenangan yang indah.”
Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa rapuh. Tak ada dramatisasi. Tak ada tangisan. Namun, justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.
“Tapi dia tidak pernah datang.”
Aku tak menyela. Hanya bisa mendengarkan.
“Sejak saat itu,.. aku selalu merasa hujan itu kejam. Dia seperti mengulang kenangan yang sama, dalam waktu yang berbeda.” katanya lagi.
“Dia mengingatkan pada sesuatu yang sudah terjadi, bahkan tidak pernah benar-benar terjadi.” lanjutnya.
Aku menarik napas perlahan. Kini aku mulai memahami arah pertanyaannya tadi.
Aku pun menunduk sedikit.
“Hujan dan angin itu dingin,”
“Tapi angan yang sebatas ingin… mungkin lebih dingin. Karena dia tidak pernah benar-benar ada untuk menghangatkan.” kataku akhirnya.
Gadis itu terdiam. Untuk sesaat, hanya suara hujan yang berbicara di antara kami.
“Kamu benar,” ucapnya lirih.
“Yang diharap dan tidak pernah datang… selalu terasa lebih dingin dan menusuk daripada yang pernah pergi.”
Ia menoleh. Tatapannya berbeda kali ini. Lebih tenang, tapi juga lebih dalam.
“Sesuatu yang diharapkan, tapi tak pernah terjadi memang terasa lebih menyakitkan daripada yang sudah berakhir.” pungkasnya.
Angin kembali berembus. Ia merapatkan lengannya, mencoba menghangatkan diri. Tanpa banyak berpikir, aku melepas jaket yang kupakai dan menyodorkannya.
“Pakai saja. Kamu lebih membutuhkannya.” tawarku padanya.
Ia menatapku. “Kalau kamu?” balasnya sedikit ragu.
“Aku masih bisa menahan dingin,” jawabku singkat.
Ia pun menerima jaket itu perlahan. “Terima kasih.” katanya.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian hujan mulai mereda. Tak lagi seganas sebelumnya. Rintiknya berubah menjadi gerimis yang pelan, seolah langit mulai lelah menangis.
Kami berdua bersiap. Ia merapikan tasnya, Aku pun menyalakan motorku. dan kami pun bersiap untuk pergi masing-masing.
Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku,
“Terima kasih… bukan cuma untuk jaketnya, untuk jawabannya juga.” katanya dengan senyum tipis. sambil menyodorkan jaket untuk dikembalikan kepadaku yang sebelumnya ia pakai.
Aku pun mengangguk kecil dengan masih menyisakan kebingungan.
“Kalau suatu hari kamu kehujanan lagi, semoga kamu tidak sendirian.” ucapnya padaku.
“Begitu juga kamu.” jawabku padannya.
Ia pun pergi lebih dulu, menghilang di ujung jalan yang masih basah. Aku masih terdiam sejenak, sambil memandangi jejak air yang ditinggalkan roda motornya.
Selepas itu, aku pun melaju perlahan. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang tertinggal. Bukan bawaan miliku ataupun miliknya, tapi mungkin perasaanku sendiri yang ikut tersentuh ceritanya. Meninggalkan kenangan di tengah sisa gerimis sore itu.
Hingga akhirnya aku mengerti. bahwa sesuatu yang paling dingin bukanlah hujan yang disertai angin, melainkan adalah sesuatu harapan yang kita tunggu, yang kita yakini akan datang, namun pada akhirnya, hanya tinggal sebagai kemungkinan yang tak pernah sempat menjadi kenyataan.
Tentang Penulis
Rio Triyono
Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.
Kakek Warso percaya bahwa ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Seperti lelaki yang tahu ke mana harus pulang, seekor ayam jago yang benar akan selalu kembali sendiri, dengan dada membusung dan taji yang bersih dari lumpur.
Dan Jalu memang selalu pulang.
Begitulah nama yang diberikan Kakek Warso pada ayam jagonya, Jalu. Bukan nama yang puitis, tapi nama yang jujur. Jalu adalah taji, dan seekor ayam jago hidup dengan tajinya. Kakek Warso tidak suka basa-basi, termasuk dalam soal penamaan.
Setiap pagi pukul empat, sebelum adzan shubuh pecah memenuhi udara, Jalu sudah bertengger di atas pagar kayu depan rumah. Kluruknya bukan sekadar bunyi, ia adalah pengumuman.
Bahwa hari baru telah tiba.
Bahwa si tua Warso boleh membuka mata.
Bahwa semesta masih bekerja sebagaimana mestinya.
Tiap pagi dan sore, Kakek Warso duduk di kursi kayu di depan rumahnya, kursi yang sama sejak istrinya meninggal dua belas tahun lalu. Lalu ia menaburkan dedak campur nasi basi ke lantai teras. Jalu makan dengan takzim. Kakek Warso menonton dengan tenang. Tidak ada yang dibicarakan.
Tidak ada yang perlu dibicarakan.
Tetangga-tetangga di Gang Melati Nomor Tiga sudah hafal ritual itu. Bu Lastri yang berjualan sayur di ujung gang kadang bilang,
“Pak Warso, kalau ayamnya mati duluan, bapak pasti ikutan.”
Kakek Warso hanya nyengir. Gigi depannya tinggal tiga.
—
Masalah dimulai pada suatu sabtu. Atau lebih tepatnya, masalah dimulai pada jumat malam, ketika sebuah truk pick-up berhenti di depan rumah kosong sebelah, menurunkan kardus-kardus, lemari kayu, dan satu unit televisi dua puluh inci yang dibungkus lakban cokelat.
Keluarga baru. Suami-istri muda. Mereka memperkenalkan diri sebagai Mas Udin dan Mbak Yanti. Ramah, senyumnya lebar, bawa martabak manis ketika bertegur sapa dengan Kakek Warso di pagar. Kakek Warso menerima martabak itu dengan ekspresi datar yang bisa berarti apa saja, terima kasih, atau curiga, atau keduanya.
Sabtu pagi tiba.
Pukul lima lewat tujuh menit, Kakek Warso terbangun bukan oleh kluruk Jalu, tapi oleh sunyi yang ganjil. Sunyi yang memiliki bobot. Sunyi yang berbunyi dengan caranya sendiri—yaitu dengan tidak berbunyi sama sekali.
Ia duduk di tepian ranjang. Menunggu. Satu menit. Dua menit.
Tidak ada kluruk.
Kakek Warso keluar ke teras. Pagar kayu itu kosong. Hanya ada embun yang menggenang di atas serat kayu tua, dan seekor cicak yang berjalan pelan seolah tidak ada urusan dengan kepanikan seorang kakek.
Jalu tidak ada.
—
Kakek Warso berkeliling halaman. Memeriksa kebun singkong di belakang. Mengintip kolong rumah. Memanggil dengan suara yang lebih mirip rintihan daripada panggilan: “Jalu… Jalu…”
Tidak ada jawaban.
Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Aroma santan yang mendidih, daun salam, lengkuas yang dimemarkan, dan, di balik semua itu, aroma daging yang dimasak perlahan hingga lunak. Aroma itu mengambang dari arah rumah sebelah. Rumah Mas Udin dan Mbak Yanti yang baru saja pindah kemarin malam.
Kakek Warso berdiri mematung.
Ia menghitung dalam hatinya. Ayam hilang. Tetangga baru. Tetangga baru memasak ayam. Aroma santan. Opor.
Matematika sederhana. Kesimpulan yang, bagi Kakek Warso saat itu, terasa sekeras bata.
Belum selesai ia menarik napas untuk berteriak, pintu rumah sebelah terbuka. Mbak Yanti muncul dengan senyum selebar fajar, membawa mangkok putih berisi opor yang mengepul. Kuahnya kuning kecokelatan, kental, dan di dalamnya, ya, di dalamnya, ada potongan ayam yang warnanya sudah tidak bisa membohongi siapa pun.
“Pak Warso, ini kami bawakan opor. Ayam jago, biar tetangga kenal-kenalan,” kata Mbak Yanti sambil menyorongkan mangkok itu.
Kakek Warso menatap mangkok itu. Lalu menatap perempuan muda itu. Lalu menatap mangkok lagi. Di dalam otaknya, api mulai menyala dengan kecepatan yang tidak seimbang dengan usianya.
—
“Ini ayam saya!”
Suara Kakek Warso membelah pagi Gang Melati Nomor Tiga seperti petasan yang disulut di ruangan sempit. Mbak Yanti terlompat. Mangkok hampir jatuh.
“Pak, pak, ini kami beli di pasar”
“Pasar apa! Ayam saya hilang pagi ini! Ini Jalu saya, saya kenal dagingnya!”
Tentu saja tidak ada manusia yang bisa mengenali dagingnya sendiri setelah dimasak dengan santan dan kunyit. Tapi Kakek Warso sedang tidak berada dalam kondisi untuk berdebat soal epistemologi.
Mas Udin keluar. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya belum disisir, mungkin belum sempat cuci muka. Ia memandang istrinya, memandang Kakek Warso, memandang mangkok opor yang kini jadi barang bukti.
“Pak, beneran itu kami beli tadi malam di pasar malam”
“Bohong! Tetangga baru langsung nyolong ayam orang! Ini namanya apa?! Tidak punya adab! Tidak punya sopan santun! Masuk kampung langsung maling!”
Beberapa pintu rumah mulai terbuka. Kepala-kepala menjulur. Anak-anak kecil berdiri di balik kaki ibu mereka dengan mata yang bersinar penasaran,.karena keributan di pagi hari selalu lebih menarik daripada kartun.
Mbak Yanti hampir menangis. Mas Udin menelan ludah berkali-kali. Tidak ada kalimat yang cukup tepat untuk menghadapi seorang kakek yang naik pitam sebelum sarapan.
—
Dari ujung gang, langkah sandal jepit berbunyi pelan tapi pasti. Nenek Sarmi, tetangga Kakek Warso yang lain, perempuan tujuh puluh tahunan yang punggungnya sudah sedikit melengkung tapi matanya masih awas seperti elang kampung, datang sambil mengeringkan tangan di kain jariknya.
“Pak Warso,” katanya. Suaranya datar seperti aspal.
“Ayam sampeyan dari tadi pagi nguber, nguber si Lastri.”
Hening sejenak.
“Nguber siapa?”
“Lastri. Ayam betina saya. Yang berbulu hitam. Dari jam setengah lima Jalu sudah ada di kandang saya, nguber-nguber Lastri muter-muter. Tidak saya usir karena saya kira Pak Warso sudah tahu.”
Semua orang yang menonton dari pintu masing-masing tiba-tiba mengeluarkan suara bermacam-macam, ada yang tertawa tertahan, ada yang berdehem, ada yang pura-pura sibuk menyapu teras.
Dan tepat pada saat itulah, seolah semesta memang suka dramaturgi, Jalu muncul dari arah rumah Nenek Sarmi. Jalannya sedikit sempoyongan, bukan karena sakit, tapi karena kelelahan yang memuaskan. Bulunya sedikit awut-awutan. Matanya sipit. Tapi dadanya tetap membusung, sebagaimana semestinya seekor ayam jago yang baru menyelesaikan urusannya.
Jalu berjalan melintasi halaman tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan, naik ke teras, lalu bertengger di pagar kayu, seolah ia baru kembali dari liburan singkat yang sangat pribadi dan tidak merasa perlu memberikan penjelasan kepada siapa pun.
Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada ekspresi bersalah. Hanya dada yang membusung dan mata yang sedikit mengantuk.
—
Kakek Warso berdiri lama di depan pagar itu. Mangkok opor masih di tangannya. Uapnya sudah tidak sehangat tadi.
Ia menatap Mbak Yanti. Perempuan muda itu sudah tidak hampir menangis lagi, tapi matanya masih sedikit merah.
Kakek Warso menggumam sesuatu yang tidak jelas. Mungkin permintaan maaf. Mungkin bukan. Bahasa Kakek Warso memang tidak pernah terlalu terang dalam soal-soal yang memalukan.
Yang jelas, ia kemudian masuk ke dapur, mengambil piring, memindahkan sebagian opor ke piringnya sendiri, lalu kembali ke teras dan makan dengan pelan.
Opor itu enak. Santannya pas. Dagingnya empuk. Ayam pasar memang beda dengan ayam kampung, tapi tetap saja enak bila dimasak dengan benar.
Jalu bertengger di pagar, sesekali menengok ke arah Kakek Warso, lalu menengok ke arah rumah nenek Sarmi dengan tatapan, kalau ayam bisa punya tatapan seperti itu, yang bisa disebut penuh kenangan.
Nenek Sarmi lewat sambil membawa ember cucian. Ia melirik Kakek Warso sebentar, lalu berkata pelan tapi cukup keras untuk didengar: “Lain kali tanya dulu, Pak. Baru marah.”
Kakek Warso tidak menjawab. Ia mengambil sesuap opor lagi.
Di ujung gang, Mbak Yanti berbisik kepada suaminya: “Mas, kita pindah ke sini sudah disambut ribut. Tanda apa ini?”
Mas Udin berpikir sebentar. “Tanda kita sudah benar-benar jadi warga Gang Melati, Yan.”
Dan pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga kembali sunyi, sunyi yang berbeda dari sunyi tadi, karena kini ia berisi sebuah kisah yang akan diceritakan ulang bertahun-tahun kemudian, setiap kali ada yang bertanya:
Aku adalah kaca. Dibuat oleh manusia dengan tujuan menjalankan ibadah serta menghidupi keluarga bahagia. Aku dipotong, dipoles, dirancang dengan sedemikian rupa. Bingkai garis tepi mengelilingiku dan merubah namaku kaca menjadi jendela.
Aku ini sangat diperlukan dalam unsur-unsur bangunan. Dengan adanya aku, sirkulasi udara dan cahaya mempengaruhi kesehatanmu. Lantas mengapa kau selalu acuh denganku ketika hujan tiba? Air hujan masuk dalam ruangan dan aku dalam keadaan terbuka. Dalam keadaan gerah, kau selalu membukaku demi segarnya angin menerpamu. Namun kau seringkali melupakanku ketika sudah tidak dibutuhkan dan membiarkanku terbuka begitu saja hingga entah kapan aku ditutup kembali?
Salah satu temanku sudah sangat menderita. Kaku dan susah untuk ditutup menerpanya dalam menjalankan tugas sebagai salah satu unsur bangunan. Sampai kapan temanku menghadapi hari-harinya seperti itu?.
Harapanku tidak banyak. Cukup perhatikan aku dan jangan sampai apa yang dirasakan salah satu temanku merambat ke teman-temanku yang lainnya. Terima kasih orang baik✌️🤝
Tentang Penulis:
Aku adalah salah satu BANGLADES (Bangsa Lamongan Desa) yang menapakkan kaki di bumi Satria. Banyumas merupakan doa dan harapan untuk diriku agar bisa menjadi ‘banyu’ dan ‘emas’; menjadi sumber kehidupan (air) dan berharga tanpa ada nilai dan kualitas yang turun seperti halnya emas. Meskipun emas dijatuhkan, terinjak-injak, tercampur dengan kotoran, ia akan tetap bernilai dan berkualitas tanpa ada rasa dendam dan hina. Selamat berproses untuk kita semua 😊
Kehidupanku tak cukup mewah . Mengingat tempat ini yang jauh dari peradaban dan keramaian kota. Permainan-permainan kecil yang sederhana, telah membawaku larut dalam senyum yang tiada habisnya. Hati ini begitu menikmati suasana ini .
Rumahku yang cukup sederhana, dari bambu dan kayu hutan,menjadi saksi bisu perjalanan kisah ini. Atapnya yang terbuat dari daun rumbia yang dianyam, kemudian dijahit pada rangka rotan telah cukup menjadi tempat untuk berteduh dari panas dan hujan.Tetapi ketika aku menginjak kelas 5 SD rumah tempat tinggalku mengalami renovasi dengan mengganti atapnya menjadi genting karena dinilai lebih efektif.
Lereng gunung dan bukit-bukit menjadi pemandangan yang harus aku temui setiap harinya. Udara yang terkesan dingin menjadi rutinitas yang harus aku hadapi,terlebih ketika masuk musim penghujan .Hati ini selalu risau , kekhawatiranku terhadap bencana longsor menghantui pikiranku.Tak ada suara bising dari kendaraan bermotor ataupun suara deru mesin pabrik.karena memang tempatku yang terlalu jauh dari pusat keramaian.
Aku terbangun,rupanya sinar matahari sudah mengintipku sembari tadi. Lewat lubang-lubang kecil bilik bambu kamarku yang nampaknya mulai rapuh dan menimbulkan banyak celah. Dia mencoba memecah suasana dan berusaha membangkitkanku.Akupun beranjak dari pembaringan dan melangkah mendekati lobang kotak ukuran 100 x 50 cm dikamarku.Lobang inilah yang biasa aku sebut dengan nama jendela.
Lobang yang aku beri nama sebagai jendela itu segera ku buka, pintunya yang terbuat dari kayu hutan perlahan ku dorong .Terlihat diluar matahari belum terlalu tinggi,namun sinarnya sudah cukup untuk menembus dinding kamarku yang terbuat dari anyaman bambu.Burung-burung berkicau seolah mereka menyambutku.Suara ayam jago milik tentangga terdengar bersautan dan berisik.Pandanganku masih kosong, perlahan kusandarkan lengan diantara jendela kecil ini.
“Mulai hari Senin besok, kegiatan pembelajaran dilaksanakan dari rumah masing-masing sesuai dengan anjuran pemerintah.Mengingat wabah virus covid-19 yah semakin merebak di negara kita ini.”,Ujar pak Suratman yang merupakan Guru kelas 6 SD disekolahku.
“Sampai kapan pak? “ ,tanya seorang murid yang duduk di bangku paling depan ,dia merupakan murid paling pandai di kelasku ini.
“Sampai waktu yang belum bisa ditentukan”
Jawaban dari pak Suratman tadi benar-benar membuat kami semua terdiam,bisu,tanpa suara. Tak ada yang memulai kata-kata,ruang kelas kami menjadi hening.Andi,yang merupakan murid paling nakal di kelaspun terdiam.Sejenak tanpa suara seolah semua murid setuju atas kekecewaan dalam hati masing-masing.
Keadaan menuntut kami untuk lebih bersabar,situasi ini memang tak menyenangkan.Bahkan bisa dikatakan sangat mengecewakan, bagimana bisa kami akan belajar dari rumah ? sedangkan buku pelajaran dalam satu kelas hanya ada satu saja,dan itupun merupakan buku ajar pegangan Guru.
Semua berharap semua ini akan cepat berlalu.Aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi .Bagaimana kami bisa menerima pelajaran jarak jauh.Sedangkan untuk alat komunikasi didaerahku hanya mengandalkan kentongan.Listrik hanya mengalir pada jam tertentu saja ,kadang juga masih terkendala cuaca buruk yang mengharuskan dilakukan pemadaman.
Tempat kami jauh dari sentuhan teknologi yang banyak diceritakan buku-buku pelajaran di sekolah. Siapa yang mau membangun daerahku? Kalau bukan kami sendiri. Kesunyian malam selalu menemani. Hiburan-hiburan kecil,hanya itu yang mampu menghibur diri kami.
Aku ,Robi, Usman dan Yogi pulang kerumah dengan wajah yang masam.Sesekali kami beristirahat ditengah perjalanan yang panjang.Jalan ini yang harus kami lalui setiap pagi dan siang. Jarak dari rumah ke sekolah sejauh 10 kilometer harus kami tempuh.Kaki-kaki mungil kami yang tanpa alas kaki,dipaksa melewati jalan yang berlumpur. Tak hanya itu,kaki ini juga harus dipaksakan untuk memijaki batu -batu kecil yang sedikit tajam.Kamipun sesekali harus menyebrangi sungai yang tanpa jembatan. Kami harus berpegang satu dengan yang lainnya, berjalan beriringan menyusuri rimbunan pohon diantara ladang- ladang .
Akhirnya kami semua sampai di gapura pintu masuk desa .Terpampang jelas sebuah tulisan “Desa Pesawahan” .Entah siapa yang memberi nama tempat ini dengan sebutan itu,aku tak cukup tahu . Sementara itu kami semua berpisah diujung perempatan untuk menuju kediaman masing-masing.
Aku yang seolah masih tak percaya akan hal ini.Dimana hari-hariku hanya mengerjakan sesuatu dirumah .Tanpa adanya pertemuan dengan teman-teman sekelasku.Ku buka lembaran-lembaran kusam yang biasa disebut dengan ‘buku.Perlahan aku mencoba menikmati dan menerima kenyataan. Meski tanpa bahan pelajaran yang baru,aku terus mengulang kembali materi yang tertulis di buku kusam ini.
Hal ini telah berlangsung cukup lama,aku dan yang lainnya terlalu lelah menanti kabar dari sekolah.Meski Ujian Nasional telah ditiadakan.Aku tetap menginginkan agar bisa menatap bapak Guru mengajar dihadapanku.
Hari itu seseorang datang kerumahku, menyampaikan sebuah pesan yang ditulis dalam lembaran kertas.
“Hari Senin depan sekolah akan dibuka kembali dengan menerapkan protokol kesehatan”
Tulisan dalam kertas tersebut membuat hatiku menangis bahagia.Aku yang selalu mengharapkan temu, akhirnya akan segera terwujud. Rupanya orang yang memberikan surat tersebut adalah Pak Suratman yang merupakan wali kelasku disekolah.Aku gembira bukan main,sampai larut malam aku pun terus membayangkan pertemuanku hari esok.
Sekian lamanya aku jauh dari bangku sekolah.Suasana bising dalam kelasku yang telah lama hilang. Esok aku akan mendengarmu lagi.Tak sabar lagi mengingat pembelajaran daring takan bisa maksimal tanpa alat komunikasi internet.
“Nduk,sudah bangun belum?”
Terdengar suara ibu memanggilku.Rupanya aku terjebak dalam lamunan diantara jendela kecil kamarku ini.
“Sudah Bu, “
Sejenak suara ibu menghilang dan menjauh.Yah,pagi ini adalah hari kembalinya murid-murid kesekolah .Aku beranjak dari lamunanku dan bersiap menuju ke sekolah.
Seperti biasa, teman-temanku yang lain sudah menunggu di bawah gapura pintu masuk desa.Saat aku datang, terlihat raut muka mereka yang begitu bahagia.Akupun demikian.Senyumku tak pernah berhenti,hatiku berdebar kencang layaknya siswa baru yang akan memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Sesampainya disekolah , Untuk menghindari kerumunan Pak Suratman wali kelasku membagi beberapa kelompok belajar.Rupanya kegiatan belajar tidak sepenuhnya dilakukan dalam kelas.Himbauan pemerintah yang mengharuskan social distancing diterapkan dalam sekolahku.Pak Suratman menyebut namaku,Yogi,Angga ,Yuli,Andin dan Fatma untuk menjadi satu kelompok belajar yang berada di bawah pohon beringin depan kelasku.
Sementara itu,pak Suratman juga membagi teman-teman yang lain dalam beberapa kelompok kecil.Ada yang di teras kelas dan ada juga yang tetap di dalam kelas.Setelah itu beliau juga membagikan masker kain untuk kami gunakan.Pak Suratman mencontohkan bagaimana cara memakainya,kamisemua mengikuti arahannya dengan baik.
Kami menikmati hal ini,tak ada yang mengeluh.Aku sangat bahagia bisa kembali berdiri diantara teman-temanku.Kembali menerima pelajaran dari Guruku .Meski keadaan belum sepenuhnya pulih,kami disini bertekad untuk tetap menggelar kegiatan pembelajaran seperti biasa.Alat komunikasi kami sangat terbatas,dan jarak masih menjadi halangan .
Lewat pandemi virus ini,aku dapat merasakan kepedihan dalam batin.Memang , barangkali tuhan menciptakan kepedihan ini untuk kita lebih bersabar.Kerinduanku terhadap pembelajaran bisa terbalaskan.Rindu yang kini menjadi temu diantara wabah yang terus menjangkit.Semoga semua ini lekas berlalu dan pergi.