Suara ketukan di pagar kayu itu berbeda dari ketukan biasanya.
Bukan ketukan Nenek Sarmi yang pendek dan langsung seperti orang yang sudah tahu akan masuk. Bukan ketukan Mas Rudin yang sopan dan sedikit ragu seperti orang yang tidak yakin apakah selamat datang berlaku untuknya. Bukan ketukan Bu Lastri yang keras karena ia selalu menganggap semua orang setengah tuli.
Ketukan ini lambat. Tiga kali. Dengan jeda yang terlalu panjang di antara masing-masing, seperti seseorang yang mengetuk bukan untuk memberitahu kehadirannya, tapi untuk menikmati fakta bahwa ia ada di sana.
Kakek Warso sedang memberi makan Jalu dan Warisno ketika mendengarnya. Ia tidak langsung menoleh. Ia selesaikan dulu menaburkan dedak, menggeser mangkok Warisno yang terlalu mepet ke mangkok Jalu, lalu baru berdiri dan memandang ke arah pagar.
Di balik pagar kayu itu berdiri seorang lelaki tua, kira-kira setua Kakek Warso, mungkin lebih tua dua atau tiga tahun, dengan tubuh yang lebih gemuk, kumis yang lebih tebal, dan topi pet hitam yang dipakai miring ke kanan dengan sudut yang tidak bisa terjadi secara tidak sengaja.
Kakek Warso memandangnya lama.
“Mampus aku,” katanya.
Lelaki tua itu tersenyum lebar. “Halo juga, War.”
—
Namanya Sujoyono. Tapi tidak ada yang memanggilnya begitu sejak 1987.
Semua orang memanggilnya Joyo, termasuk istrinya, termasuk anak-anaknya, termasuk cucunya yang masih empat tahun dan belum bisa mengucapkan nama panjang siapa pun. Joyo adalah nama yang cocok untuknya: pendek, langsung, tidak minta perhatian tapi selalu dapat perhatian.
Joyo dan Kakek Warso berteman sejak SMP, bukan karena mereka cocok, tapi karena bangku mereka berdekatan dan guru mereka pelit memindahkan tempat duduk. Selama tiga tahun mereka duduk berdampingan dan selama tiga tahun itu mereka mengembangkan persahabatan yang fondasinya adalah saling mengganggu dengan cara yang efisien.
Setelah SMP mereka berpencar. Joyo menikah, punya anak tiga, pindah ke kota sebelah, buka bengkel motor, bengkelnya tutup, buka warung, warungnya lumayan, pensiun dari warung, sekarang tinggal bersama anak bungsunya yang sabar.
Mereka bertemu lagi sesekali, di hajatan, di pertemuan keluarga yang kebetulan bercabang, di momen-momen yang tidak direncanakan. Setiap bertemu, percakapan mereka selalu dimulai dari titik yang sama persis dengan terakhir mereka bicara, seolah waktu di antaranya tidak pernah terjadi.
Joyo adalah satu-satunya orang yang tidak memanggil Kakek Warso dengan “Pak Warso.”
Ia memanggil “War.” Singkat. Tanpa embel-embel. Seperti memanggil seseorang yang tidak perlu dikasih hormat karena sudah kenal terlalu lama untuk masih berpura-pura.
—
Kakek Warso membuka pagar dengan ekspresi yang tidak berubah dari ekspresi sehari-harinya, datar, sedikit cemberut, seperti seseorang yang hidupnya sudah cukup dan tidak membutuhkan tambahan apa pun.
Joyo masuk sambil memandang sekeliling halaman dengan gaya seorang inspektur yang tidak diundang.
“Rumahnya masih jelek ya,” komentarnya.
“Kamu datang jauh-jauh buat bilang itu?”
“Tidak. Datang jauh-jauh karena anak saya minta saya keluar rumah. Katanya saya mengganggu. Saya bilang, siapa yang mengganggu siapa, itu rumah saya, tapi tidak ada yang mendengarkan orang tua sekarang. Jadilah saya ke sini.”
“Kenapa ke sini?”
“Karena kamu satu-satunya orang yang kondisi rumahnya lebih menyedihkan dari kondisi saya, jadi saya merasa lebih baik kalau ke sini.”
Kakek Warso memandangnya.
“Masuk,” katanya.
—
Mereka duduk di teras. Kakek Warso di kursi kayunya. Joyo di kursi plastik, ia duduk dengan cara yang segera membuat kursi plastik itu tampak seperti singgasana, karena Joyo memang punya bakat alami untuk tampak berkuasa di mana pun ia duduk.
Jalu memandang Joyo dari pagar dengan tatapan yang tidak bersahabat.
Warisno, yang belum punya preferensi soal tamu, hanya mematuk tanah.
“Itu ayammu?” tanya Joyo, menunjuk Jalu.
“Bukan, ayam tetangga yang nyasar.”
“Satu lagi?”
“Hadiah RT.”
“Kamu dapat hadiah ayam dari RT?” Joyo memandangnya dengan ekspresi antara kagum dan kasihan. “Hidupmu sudah di titik itu sekarang, War?”
“Hidupmu sudah di titik diusir dari rumah sendiri?”
Joyo mengangguk mengakui. “Imbang.”
—
Seperti yang sudah menjadi hukum alam di Gang Melati Nomor Tiga, Nenek Sarmi muncul dua belas menit setelah ada tamu di teras Kakek Warso. Mekanisme deteksinya tidak pernah dijelaskan dan tidak pernah ditanyakan.
Ia datang dengan dua gelas teh, yang kemudian ia pandang, lalu memandang Joyo, lalu kembali ke dapur Kakek Warso tanpa komentar, dan kembali lagi dengan tiga gelas.
“Ini siapa?” tanyanya kepada Kakek Warso sambil menyodorkan gelas.
“Joyo. Teman lama.”
“Teman baik?”
“Tidak,” kata Kakek Warso.
“Tidak juga,” kata Joyo bersamaan.
Nenek Sarmi memandang keduanya bergantian lalu duduk di kursi yang tersisa dengan ekspresi orang yang sudah memutuskan akan menemani percakapan ini sampai selesai.
Joyo memandang Nenek Sarmi, lalu memandang Kakek Warso, lalu senyumnya melebar ke arah yang tidak menyenangkan. Kakek Warso mengenali senyum itu. Senyum yang sama persis dengan yang dipakai Joyo tahun 1985 sebelum ia mengatakan sesuatu yang tidak perlu dikatakan.
“Tetanggamu?” tanya Joyo dengan nada yang terlalu casual untuk benar-benar casual.
“Ya.”
“Yang bawa teh setiap pagi itu?”
Kakek Warso memandangnya tajam. “Darimana kamu tahu?”
“Tebakanku.” Joyo menyesap tehnya. “Enak tehnya. Kamu yang bikin, Bu?”
“Ya,” kata Nenek Sarmi.
“Pantas.” Joyo mengangguk dengan ekspresi seorang ahli. “Warso tidak bisa bikin teh. Dulu tehnya selalu terlalu pahit atau terlalu tawar, tidak ada tengahnya.”
“Masih sama sampai sekarang,” kata Nenek Sarmi.
“Ha!” Joyo menunjuk Kakek Warso dengan telunjuk penuh kemenangan. “Dia masih kenal kamu, War, padahal baru ketemu.”
“Diam, Jo,” kata Kakek Warso.
—
Joyo tinggal sampai siang. Selama itu mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan kesungguhan yang seharusnya disimpan untuk hal-hal yang penting.
Mereka membahas mengapa lutut kiri lebih cepat sakit dari lutut kanan padahal perlakuannya sama. Mereka membahas apakah nasi uduk sekarang lebih berminyak dari nasi uduk dua puluh tahun lalu atau lidah mereka yang berubah. Mereka membahas seorang teman SMP bernama Karso yang kabarnya kini buka usaha ternak lele di Purwokerto dan apakah itu keputusan yang bijak atau tidak.
Nenek Sarmi duduk mendengarkan dan sesekali berkomentar, cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan, tidak cukup untuk mengubah arah pembicaraan.
Jalu akhirnya turun dari pagar dan duduk di dekat kaki Kakek Warso seperti biasa. Warisno tidur di sudut teras.
Joyo memandang Jalu, lalu memandang Kakek Warso.
“Sudah berapa tahun ayamnya?”
“Dua belas.”
Joyo menghitung sesuatu dalam kepalanya. “Berarti Sumirah yang, ”
“Ya.”
“Oh.”
Dua suku kata itu mengandung lebih banyak pengertian dari kalimat panjang mana pun. Itulah salah satu hal yang membuat berteman dengan seseorang selama puluhan tahun menjadi berbeda, kamu tidak perlu menyelesaikan kalimat untuk dimengerti.
Mereka diam sebentar. Diam yang berbeda dari biasanya, bukan diam yang canggung, tapi diam yang sudah duduk nyaman di antara dua orang dan tidak perlu pergi ke mana-mana.
—
Kemudian Joyo melakukan sesuatu yang tidak terduga.
Ia membungkuk ke arah Jalu, dengan susah payah karena perutnya tidak semudah dulu untuk dibungkukkan, dan menjulurkan tangannya ke arah ayam tua itu.
Jalu memandang tangan itu. Memandang Joyo. Memandang tangan lagi.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak Joyo datang, Jalu tidak mundur.
Joyo mengelus punggung Jalu dengan dua jari, pelan, seperti orang yang sudah terbiasa dengan hewan. Jalu diam. Tidak menghindar. Tidak kluruk.
“Hei, tua,” kata Joyo kepada Jalu dengan suara yang lebih pelan dari suara yang ia pakai sepanjang hari ini. “Jaga dia ya. Orangnya susah dijaga, tapi jaga saja.”
Kakek Warso memandang ke arah lain pura-pura memperhatikan pohon mangga tetangga.
Nenek Sarmi menyesap tehnya.
—
Sore menjelang, Joyo bangkit dari kursi dengan gerakan seorang lelaki yang badannya menyimpan protes di setiap sendinya.
“Saya pulang.”
“Siapa yang minta kamu datang.”
“Tidak ada. Makanya enak.” Joyo memakai topinya kembali, tetap miring ke kanan, sudut yang sama persis. “Kapan-kapan saya ke sini lagi.”
“Jangan.”
“Pasti.”
Joyo berpamitan kepada Nenek Sarmi dengan hormat yang tidak ia berikan kepada Kakek Warso, membungkuk sedikit, senyum yang lebih sopan, lalu berjalan ke arah pagar.
Di pagar ia berhenti. Menoleh.
“War.”
“Apa.”
“Kamu beruntung.”
Kakek Warso mengernyit. “Beruntung apanya. Rumah jelek, gigi tinggal tiga, dapat hadiah ayam dari RT.”
Joyo memandangnya sebentar. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang Jalu yang kini sudah naik kembali ke pagar. Lalu Warisno yang tidur di sudut.
Lalu kembali memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya hari ini, tidak mengandung niat mengganggu sama sekali.
“Ya. Beruntung apanya, kamu yang hitung sendiri.”
Ia melangkah keluar. Pagar kayu berbunyi pelan saat ditutupnya dari luar.
Kakek Warso duduk. Memandang pagar yang sudah tertutup. Memandang Jalu. Memandang Warisno. Memandang gelas teh ketiga yang sudah dingin di antara kursinya dan kursi plastik sebelahnya.
Nenek Sarmi tidak bergerak dari kursinya.
“Temanmu menyebalkan,” katanya akhirnya.
“Ya.”
“Tapi dia tahu kamu.”
“Ya.”
Nenek Sarmi mengangguk pelan, anggukan orang yang sudah mendapat jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan.
Sore itu turun pelan-pelan di atas Gang Melati Nomor Tiga. Jalu kluruk sekali dari atas pagar, entah untuk apa, karena ini bukan waktunya kluruk, bukan pagi, bukan penanda hari baru.
Mungkin hanya karena ia bisa.
Mungkin karena ada hal-hal yang perlu dirayakan tanpa harus mengerti persis apa yang sedang dirayakan.
Bukan ayam goreng, bukan ayam bakar, bukan ayam dalam bentuk apa pun yang sudah selesai dengan hidupnya. Tapi seekor ayam jago muda, belum genap setahun, bulunya merah menyala seperti baru keluar dari toko cat, jenggernya masih terlalu besar untuk kepalanya sehingga tampak sedikit oleng ke kiri.
Pak RT, namanya Bambang, tapi tidak ada yang memanggilnya begitu karena jabatan lebih kuat dari nama di kampung mana pun, datang dengan ayam itu dalam kedua tangannya, tersenyum dengan senyum orang yang merasa sedang melakukan sesuatu yang mulia.
“Pak Warso, ini dari warga. Patungan. Biar ada teman si Jalu.”
Kakek Warso memandang ayam itu.
Ayam itu memandang Kakek Warso.
Di atas pagar kayu, Jalu, tua, bulunya sudah sedikit kusam di beberapa tempat, tapi jenggernya masih tegak dengan martabat penuh, juga memandang ayam muda itu. Dengan ekspresi yang sulit dibaca. Atau mungkin mudah dibaca, tapi tidak ada yang mau membacanya dengan keras.
Ceritanya bermula seminggu sebelumnya.
Pak Bambang RT sedang melakukan kunjungan rutin, yang sejujurnya bukan rutin, tapi ia menyebutnya rutin agar terdengar lebih resmi, ke rumah-rumah warga lansia di Gang Melati Nomor Tiga. Ia singgah di rumah Kakek Warso, duduk di teras, menerima teh yang diseduhkan Nenek Sarmi yang kebetulan ada di sana, dan dalam percakapan yang mengalir ia bertanya dengan nada yang ia kira santai:
“Pak Warso, Jalu sudah tua ya? Kalau nanti, ya, kalau nanti tidak ada, bapak mau bagaimana?”
Kakek Warso memandangnya dengan tatapan yang membuat Pak Bambang merasa ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat salah tanpa mengerti bagian mana yang salah.
“Maksud saya, biar ada penggantinya gitu, Pak. Biar tidak sepi.”
“Saya tidak sepi.”
“Ya, tapi, ”
“Saya tidak sepi.”
Pak Bambang pulang dengan perasaan orang yang baru selesai wawancara kerja dan tidak yakin hasilnya. Tapi di perjalanan pulang ia berbisik ke Mas Udin yang kebetulan lagi cuci motor: “Kasihan Pak Warso. Nanti kalau Jalunya mati, dia sendirian.”
Mas Udin berbisik ke Mbak Yanti. Mbak Yanti berbisik ke Bu Lastri. Bu Lastri tidak berbisik, Bu Lastri mengumumkan ke seluruh pelanggan warungnya. Dan dalam dua hari terkumpullah uang patungan yang cukup untuk membeli seekor ayam jago muda dari peternak di desa sebelah.
Tidak ada yang bertanya apakah Kakek Warso menginginkannya.
Kakek Warso menerima ayam itu dengan tangan yang tidak antusias dan ekspresi yang lebih tidak antusias lagi.
Ayam muda itu, yang belum diberi nama oleh siapa pun karena semua orang berasumsi Kakek Warso yang akan menamai, langsung melompat dari tangan Kakek Warso begitu diletakkan di teras, berlari keliling halaman dua putaran penuh seperti anak baru yang sedang orientasi, lalu berhenti di bawah pagar kayu dan mendongak ke arah Jalu.
Jalu memandang ke bawah.
Ayam muda itu kluruk, suaranya masih belum bulat, masih sedikit sember, seperti suara remaja yang sedang mengalami perubahan.
Jalu tidak menjawab.
Pak Bambang pamit dengan senyum lebar dan kepuasan orang yang sudah berbuat baik. Kakek Warso menutup pintu pagar dan berdiri di tengah halaman dengan seekor ayam tua di atas pagar dan seekor ayam muda di bawahnya, dan sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya: sekarang apa?
Jalu tidak turun dari pagar seharian.
Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya Jalu turun untuk makan, turun untuk berkeliling, turun untuk mengusik ayam betina milik Nenek Sarmi, turun untuk hal-hal yang ia anggap perlu. Tapi hari itu Jalu bertengger dari pagi sampai sore dengan posisi seorang pensiunan jenderal yang tidak diajak rapat.
Ayam muda itu, yang sementara dipanggil “Hei” oleh Kakek Warso karena belum ada nama resmi, berlari-lari di halaman dengan energi yang melelahkan hanya untuk ditonton. Ia mematuk ini, mematuk itu, berlari ke sana, berlari ke sini, sesekali mendongak ke Jalu dengan ekspresi penuh harap, lalu berlari lagi karena tidak mendapat respons.
Sore harinya Kakek Warso membawa dua mangkok dedak dan nasi basi. Satu ia taruh di bawah pagar untuk si Hei. Satu ia angkat dan taruh di atas pagar di sebelah Jalu.
Jalu memandang mangkok itu.
Lalu membuang muka.
“Lebay,” gumam Kakek Warso.
Nenek Sarmi datang keesokan paginya dan langsung menilai situasi dengan akurasi seseorang yang sudah tujuh puluh tahun mengamati makhluk hidup.
“Jalu cemburu.”
“Ayam tidak bisa cemburu.”
“Kamu juga katanya tidak bisa sepi, tapi lihat.”
Kakek Warso tidak merespons bagian itu.
Mas Udin yang ikut nimbrung dari balik pagar, karena di Gang Melati, percakapan di teras adalah tontonan publik, menambahkan dengan semangat orang yang baru membaca artikel psikologi: “Itu namanya territorial behavior, Pak. Wajar. Nanti juga adaptasi.”
“Siapa yang minta analisis kamu,” kata Kakek Warso.
Mas Udin mundur selangkah tapi tidak pergi.
Mbak Yanti yang berdiri di belakang suaminya berbisik: “Kita yang salah beli ayam, Mas.”
“Niatnya baik.”
“Niat baik tidak selalu menghasilkan situasi baik.”
Mas Udin tidak punya jawaban untuk itu.
Hari ketiga, si Hei masih belum punya nama.
Kakek Warso tidak mau menamai. Entah kenapa. Setiap kali ia hampir memikirkan nama, sesuatu di dalam dirinya mundur. Memberi nama berarti menerima. Menerima berarti mengakui bahwa memang butuh. Dan Kakek Warso belum siap mengakui itu.
Tapi hari ketiga itu, sesuatu terjadi.
Pagi-pagi sekali, sebelum Kakek Warso sempat keluar, terdengar suara ribut di halaman. Bukan ribut yang mengkhawatirkan, lebih mirip ribut yang konyol. Suara kepakan sayap, suara kaki-kaki kecil di tanah, suara dua ekor ayam yang sedang menentukan sesuatu.
Kakek Warso membuka pintu.
Di halaman, Jalu dan si Hei sedang berhadapan. Bukan dalam posisi berkelahi, tidak ada bulu yang berdiri, tidak ada taji yang diancungkan. Tapi keduanya berdiri saling memandang dengan jarak setengah meter, dan si Hei, yang lebih kecil, lebih muda, lebih sember kluruknya, tidak bergerak mundur.
Mereka berdiri begitu sampai Kakek Warso batuk.
Lalu Jalu, dengan gerakan yang sangat perlahan dan sangat enggan, menggeser badannya dua langkah ke kiri.
Si Hei berjalan ke titik yang tadi ditempati Jalu. Berdiri di sana. Memandang sekeliling dengan ekspresi pemilik baru.
Jalu berjalan ke pagar. Naik. Bertengger. Memandang ke arah yang lain.
“Warisno,” kata Kakek Warso tiba-tiba.
Nenek Sarmi yang ternyata sudah berdiri di balik pagar sejak tadi, entah kapan datangnya, menoleh. “Apa?”
“Namanya Warisno.”
Warisno adalah nama yang tidak puitis, tidak punya makna tersembunyi, dan tidak ada hubungannya dengan taji atau keberanian atau hal-hal yang biasanya dijadikan nama ayam jago.
Warisno adalah nama yang sangat biasa. Nama tetangga, nama tukang ojek, nama orang-orang yang mengisi gang-gang sempit di kota kecil.
Nenek Sarmi memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang menunggu penjelasan.
“Namanya Warisno,” ulang Kakek Warso. “Penerus. Pewaris.”
“Pewaris apa?”
Kakek Warso tidak menjawab. Ia masuk ke dapur mengambil dedak dan nasi basi, kali ini menyiapkan dua mangkok tanpa disuruh, dan keluar lagi ke teras.
Jalu makan di kiri. Warisno makan di kanan. Tidak berdesakan. Tidak bertengkar. Hanya dua ekor ayam yang makan bersama dengan jarak yang cukup untuk menjaga harga diri masing-masing.
Kakek Warso duduk di kursi kayunya dan memandang keduanya.
Nenek Sarmi duduk di kursi plastik sebelahnya, ia sudah membawa tehnya sendiri hari ini, tidak perlu basa-basi, dan juga memandang keduanya.
“Jalu mau terima dia,” kata Nenek Sarmi akhirnya.
“Terpaksa terima.”
“Sama saja.”
Kakek Warso menyesap teh yang disodorkan Nenek Sarmi. Hangatnya pas.
Yang tidak diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun, bukan kepada Nenek Sarmi, bukan kepada Pak Bambang RT, bukan kepada Mas Udin yang suka menganalisis, adalah bahwa malam pertama Warisno tiba, ia tidak langsung tidur.
Ia duduk di teras dalam gelap, ditemani suara jangkrik dan cahaya bulan yang masuk miring dari celah pohon mangga tetangga.
Jalu tidur di pagar. Warisno tidur di lantai teras, belum menemukan tempat permanennya, seperti anak kos baru yang belum tahu di pojok mana harus menaruh sandal.
Kakek Warso memandang keduanya bergantian.
Ia tidak mau mengakui kepada siapa pun bahwa Pak Bambang tidak sepenuhnya salah. Bahwa ia memang sudah beberapa minggu belakangan memandang Jalu dengan perasaan yang ia tidak punya kata-katanya, perasaan seorang lelaki tua yang menyadari bahwa sesuatu yang ia anggap permanen mungkin tidak sepermanen yang ia kira.
Bahwa mungkin selama ini ia bukan merawat Jalu.
Tapi bersiap untuk kehilangan Jalu, dengan cara memastikan ada sesuatu yang tersisa setelahnya.
Warisno bergerak dalam tidurnya, kakinya menghentak pelan ke lantai teras, lalu diam lagi.
Kakek Warso masuk. Menutup pintu. Berbaring di ranjangnya.
Di luar, Jalu kluruk sekali, pendek, pelan, seperti kata iya yang tidak ingin terlalu keras diucapkan.
Tiga minggu kemudian, pukul lima pagi, Gang Melati Nomor Tiga dibangunkan oleh suara kluruk.
Tapi bukan satu suara.
Dua suara. Hampir bersamaan. Satu dalam, satu masih sedikit sember, tapi tidak sesember tiga minggu lalu. Satu dari atas pagar, satu dari bawahnya.
Mbak Yanti yang sedang menyiapkan sarapan berhenti mengaduk telur dan tersenyum tanpa tahu kenapa.
Mas Udin yang masih setengah tidur bergumam: “Kok jadi dua?” lalu tidur lagi.
Nenek Sarmi yang mendengarnya dari balik tembok mengangguk kecil ke arah tidak ada.
Dan Kakek Warso, yang sudah duduk di kursi kayunya dengan dua mangkok dedak di lantai teras, memandang Jalu di atas pagar dan Warisno di bawahnya, berpikir bahwa mungkin suara yang paling menenangkan di dunia adalah suara yang kamu kira hanya akan kamu dengar sekali ternyata masih terus berbunyi, dalam nada yang berbeda, dari tenggorokan yang berbeda, tapi dengan ritme yang sama.
Lalu dari balik pagar, suara Nenek Sarmi:
“Pak Warso. Tehnya.”
Kakek Warso mengambil gelas yang disodorkan dari balik pagar tanpa menoleh, karena setelah dua belas tahun, tangan yang menyodorkan teh itu sudah bisa ia kenali hanya dari bunyinya.
“Makasih,” katanya.
Satu kata. Untuk teh. Untuk tiga minggu. Untuk dua belas tahun. Untuk semua yang tidak pernah ia ucapkan karena Kakek Warso memang tidak pandai mengucapkan hal-hal yang paling ia maksudkan.
Pagi itu, aroma ketupat dan opor tercium dari dapur rumah. Suara takbir masih terasa membekas di telinga Nahwa, meski sudah sejak semalam berkumandang. Idul Adha tahun ini ia rayakan di rumah — libur bersama dari pesantren, katanya kepada adik-adiknya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Namun di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali ia duduk di teras, menatap tetangga yang hilir mudik membawa daging kurban, pikirannya justru melayang jauh, kembali ke halaman Pesma An-Najah, ke lorong asrama yang entah mengapa selalu terasa seperti satu-satunya tempat di dunia tempat hatinya benar-benar diam, ke bunyi langkah sandal menuju masjid sebelum subuh.
Selalu terngiang pesan Abah Roqib di telinganya setiap kali hatinya mulai merasa jauh dari rumah kedua itu.
“Berbagi itu tidak mengurangi, Ndo. Justru dari sanalah kamu akan belajar arti memiliki yang sesungguhnya.”
Nahwa tidak sepenuhnya mengerti kala pertama kali mendengarnya. Tapi kini ia paham. Di Pesma An-Najah, ia belajar bukan hanya dari buku. Ia belajar dari teman sebaya yang dengan sabar mengajarinya melipat baju yang benar, dari kakak kelas yang membangunkannya ketika alarm tidak berbunyi, dari ustad yang tidak pernah marah meski ia salah menjawab. Nilai-nilai itu tidak tertulis di papan mana pun, tapi ia tahu, tanpa sadar ia sudah membawanya pulang dalam setiap laku hariannya.
Dan kini ada sesuatu yang sejak lama membuat dadanya terasa lebih penuh. Pesantren tempat ia tumbuh itu kini melahirkan sesuatu yang baru: SMP Sains An-Najah, sekolah yang baru saja berdiri dan mulai membuka diri untuk generasi pertamanya. Nahwa sudah mendengar kabar itu jauh-jauh hari, dan rasa bangga itu tidak pernah benar-benar pergi dari dadanya.
Bukan karena sedih, tapi karena bangga. Karena ia tahu betul benih seperti apa yang ditanam di tanah itu.
Nahwa menghela napas panjang. Liburan ini tinggal sebentar lagi, dan ia tahu tidak lama kemudian ia akan kembali. Ia teringat dawuh Abah Roqib tentang penerimaan santri baru, bahwa pintu Pesma An-Najah dan SMP Sains An-Najah terbuka lebar, menunggu generasi muda yang siap tumbuh, belajar, dan membentuk diri. Bukan sekadar pengumuman, melainkan undangan yang tulus untuk adik-adik di luar sana yang belum tahu bahwa di sana belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk jiwa.
“Lingkungan yang religius, nyaman, bersih, dan berprestasi,” begitu dawuh Abah Roqib. Abah juga sering ngendika bahwa lingkungan pesantren harus dijaga kebersihannya — sebersih hotel. Sebab, kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan Nahwa tahu itu bukan sekadar nasihat kosong. Ia sendiri buktinya.
Ia berdiri pelan, merapikan jaz pondoknya yang masih tergantung rapi di balik pintu kamar. Belum waktunya dipakai, tapi ia senang melihatnya di sana. Seperti pengingat bahwa liburan ini sementara, dan ada tempat yang menunggunya pulang.
Di luar, adzan dhuhur mulai berkumandang. Nahwa mengambil mukenanya, melangkah ke mushala kecil di rumah, dan dalam hatinya ia menggenggam satu hal yang tidak akan pernah ia lepaskan:
Bahwa keikhlasan berbagi dan semangat menuntut ilmu adalah dua sayap dari satu burung yang sama. Tanpa keduanya, ia tak akan pernah bisa terbang.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.
Semoga semangat berbagi dan menuntut ilmu selalu tumbuh dalam diri generasi muda.
27 Mei 2026
Tentang Penulis
(Nahwa)
Nahwa Nurfadilah adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam kesehariannya, ia lebih fokus menjalani kegiatan perkuliahan dan kehidupan pesantren.
Nahwa memiliki ketertarikan dalam bidang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, termasuk pernah mengikuti lomba cerpen. Ketertarikan tersebut masih berlanjut saat menempuh pendidikan di MTs melalui kebiasaan menulis pada waktu-waktu tertentu. Meski kini belum terlalu sering menekuni kegiatan menulis, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan belajarnya dan menjadi salah satu hal yang ia sukai.
Penulis dapat dihubungi melalui Email: nahwaanur@gmail.com atau nomor telepon: 085173448545
Dua belas tahun terakhir ia hidup dari warung Bu Lastri, dari kiriman tetangga yang kasihan, dan dari kemampuan alaminya untuk tidak terlalu lapar. Tapi setiap pagi dan sore, tanpa gagal, ia selalu menyiapkan satu hal, dedak campur nasi basi untuk Jalu.
Nasi basi itu ia masak sendiri.
Atau lebih tepatnya, ia sengaja memasak nasi terlalu banyak, membiarkannya sehari semalam di dalam panci tanpa tutup, lalu mencampurnya dengan dedak yang ia beli dari toko pakan di ujung jalan besar. Proses itu ia lakukan dengan kesungguhan yang tidak ia berikan pada masakan untuk dirinya sendiri.
Nenek Sarmi pernah berkomentar, “Ayamnya makan lebih sehat dari pemiliknya.”
Kakek Warso tidak membantah.
Pagi itu biasa saja. Matahari naik dengan kecepatan yang sama seperti kemarin dan kemarin-kemarin sebelumnya. Jalu sudah bertengger di pagar sejak pukul lima, kluruknya membangunkan gang dengan hormat yang tidak perlu diminta.
Kakek Warso keluar dengan mangkok di tangan. Duduk di kursi kayunya. Menaburkan dedak dan nasi basi ke lantai teras dengan gerakan yang sudah menjadi otot, bukan pikiran.
Jalu turun. Makan.
Kakek Warso memandang.
Pagi-pagi seperti ini, dalam sunyi yang familiar dan cahaya yang masih kekuningan, pikiran Kakek Warso sering pergi ke tempat yang tidak ia rencanakan. Bukan karena ia sengaja mengenang, ia tidak percaya pada pengenangan yang disengaja, terlalu mirip menyiksa diri, tapi karena sunyi memang punya cara untuk membuka pintu-pintu yang lupa dikunci.
Pagi ini pintunya terbuka ke arah istrinya.
Nama istrinya Sumirah. Tapi Kakek Warso tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Ia memanggilnya “Hei”, bukan karena tidak hormat, tapi karena di antara mereka nama terasa terlalu formal untuk dipakai setiap hari. Sumirah juga memanggilnya “Hei”. Mereka sudah lupa siapa yang memulai kebiasaan itu, dan tidak pernah merasa perlu mengingat.
Sumirah adalah perempuan yang tidak bisa diam.
Bukan berarti ia cerewet, ia tidak cerewet. Tapi tangannya selalu bergerak. Selalu ada yang dikerjakan. Kalau tidak menyapu ya menampi beras. Kalau tidak menampi beras ya mencabut rumput di pot. Kalau tidak mencabut rumput ya melipat handuk yang sejujurnya sudah dilipat kemarin.
Kakek Warso, yang waktu muda bernama Warso saja, tanpa embel-embel kakek, pernah bilang, “Kamu kalau udah duduk, diam bisa tidak?”
“Bisa,” jawab Sumirah. “Tapi ngapain?”
Kakek Warso tidak punya jawaban untuk itu.
Jalu mematuk sesuatu di lantai teras. Kakek Warso memandangnya, dan tanpa ia rencanakan, ingatannya pergi ke sore dua belas tahun lalu, sore terakhir sebelum Sumirah masuk rumah sakit dan tidak keluar lagi.
Sore itu Sumirah sedang duduk di kursi kayu ini, kursi yang sekarang diduduki Kakek Warso, sambil mengerok jahe untuk wedang. Kakek Warso duduk di sebelahnya di kursi plastik yang sekarang sudah tidak ada. Dan di halaman, seekor anak ayam jago berbulu merah gelap berjalan-jalan dengan gaya pejabat baru.
“Itu ayam siapa?” tanya Sumirah.
“Tidak tahu. Nyasar mungkin.”
“Diberi makan tidak?”
“Bukan ayam kita.”
Sumirah bangkit, masuk ke dapur, keluar lagi membawa segenggam nasi sisa. Ia taburkan di halaman. Anak ayam itu makan dengan lahap.
“Sekarang ayam kita,” kata Sumirah sambil duduk lagi dan melanjutkan mengerok jahe.
Kakek Warso, Warso muda, waktu itu, memandang ayam itu, lalu memandang istrinya. “Kamu tidak tanya dulu sama yang punya?”
“Yang punya tidak kasih makan. Berarti yang punya tidak layak punya.”
Logika yang tidak bisa dibantah.
Anak ayam jago berbulu merah gelap itu akhirnya diberi nama Jalu oleh Sumirah. Bukan Kakek Warso. Selama ini Kakek Warso membiarkan orang-orang mengira ia yang memberi nama, ia tidak pernah mengklarifikasi, dan tidak ada yang bertanya.
Jalu mematuk nasi terakhir di lantai teras dan mendongak, satu matanya menatap Kakek Warso dengan cara yang selalu membuat Kakek Warso tidak nyaman, seolah ayam itu bisa membaca sesuatu di wajahnya.
Ada yang tidak pernah diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun di Gang Melati Nomor Tiga.
Bahwa Jalu bukan ayam tujuh atau delapan tahun. Jalu sudah dua belas tahun. Jalu sudah ada sejak sebelum Sumirah pergi. Jalu adalah satu-satunya makhluk hidup di rumah ini yang juga mengenal Sumirah, yang juga pernah diberi makan oleh tangannya, yang juga pernah diusir dari dapur olehnya, yang juga pernah dikasih nama olehnya.
Dan mungkin itulah sebabnya Kakek Warso tidak pernah mengurungnya. Bukan karena filosofi tentang ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Tapi karena Sumirah yang dulu memungutnya dari halaman tidak pernah mengurungnya. Dan Kakek Warso tidak mau mengubah satu pun kebiasaan Sumirah yang masih bisa ia pertahankan.
Dedak campur nasi basi. Itu juga bukan resep Kakek Warso.
Itu resep Sumirah.
Nenek Sarmi datang tanpa diumumkan, seperti biasa, dengan dua gelas teh panas dan ekspresi orang yang pura-pura lewat padahal sudah menyiapkan teh dari tadi.
Ia duduk di kursi plastik baru yang sudah menggantikan kursi plastik lama yang sudah tidak ada. Menyodorkan satu gelas ke Kakek Warso.
Mereka duduk. Jalu bertengger kembali ke pagar. Teh mengepul pelan.
“Lagi melamun,” kata Nenek Sarmi. Bukan pertanyaan.
“Tidak.”
“Mukanya seperti melamun.”
“Muka saya memang begini.”
Nenek Sarmi menyesap tehnya. “Ingat dia?”
Kakek Warso tidak menjawab. Yang berarti iya.
“Jalu sudah tua,” kata Nenek Sarmi pelan. “Kamu juga sudah tua. Tapi kamu masih masak nasi basi setiap hari.”
“Nasi basi tidak perlu keahlian khusus.”
“Bukan soal keahlian.”
Kakek Warso memandang tehnya.
“Sumirah yang mulai,” katanya akhirnya. Pertama kalinya ia menyebut nama itu dengan suara yang bisa didengar orang lain, bukan hanya di dalam kepala. “Ayamnya, namanya, masakannya. Saya cuma yang melanjutkan.”
Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
Lalu ia berkata, dengan nada yang sangat biasa, seperti menyebutkan harga bawang di pasar,
“Iya. Sumirah yang suruh saya jagain kamu juga.”
Kakek Warso meletakkan gelasnya.
Memandang Nenek Sarmi.
“Apa?”
“Dua belas tahun lalu. Di rumah sakit. Sebelum dia, ” Nenek Sarmi tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi tidak perlu diselesaikan. “Dia minta saya. Katanya, Sarmi, Warso itu tidak bisa hidup sendiri. Tolong lihat-lihatkan. Jangan sampai dia lupa makan. Jangan sampai dia kesepian. Jangan sampai dia lupa bayar listrik.”
Udara di teras itu tiba-tiba terasa berbeda beratnya.
“Kamu tidak pernah bilang,” kata Kakek Warso. Suaranya aneh, bukan marah, bukan sedih, tapi seperti orang yang baru menemukan satu potongan puzzle yang selama dua belas tahun ia kira sudah hilang.
“Kalau saya bilang, kamu mau marah. Merasa dikasihani.”
“Ya memang saya mau marah.”
“Makanya tidak saya bilang.”
Jalu kluruk sekali dari atas pagar. Pendek. Seperti komentar.
Kakek Warso memandang Jalu. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang gelas tehnya yang masih setengah.
Dua belas tahun. Selama dua belas tahun ia mengira dirinya hidup sendirian, dengan tabah, dengan keras kepala, dengan tiga gigi dan kursi kosong dan nasi basi untuk ayam. Selama dua belas tahun ia bangga bahwa ia tidak merepotkan siapa pun.
Tapi rupanya Sumirah sudah mengatur semuanya. Dari rumah sakit itu. Sebelum pergi.
Termasuk tetangga yang setiap pagi membawakan teh.
Termasuk mungkin, ini yang membuat dadanya terasa seperti ditekan dari dalam, ayam yang tidak pernah pergi.
“Jalu juga,” gumam Kakek Warso. “Kamu yang suruh dia tidak kemana-mana?”
Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu mengangkat bahu dengan ekspresi orang tua yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk masih bisa berpura-pura bercanda.
Tumbuh menjadi Parentless bukanlah pilihan yang bisa kita kendalikan,kini murni yang datang tanpa permintaan, sering kali meninggalkan luka mendalam sejak usia dini. Rumah bukan hanya sekedar atap dan dinding, ia adalah tawa yang pecah dibawah sinar matahari, dan dekapan hangat yang meyakinkan kita bahwa dunia baik-baik saja. Kehadiran sosok orang tua adalah pondasi , dari mereka kita belajar nada kehidupan, dan merasakan kasih sayang dalam setiap suapan kecil yang mereka berikan. Namun, apa jadinya jika sosok perlindungan itu hilang? mereka terbiasa dengan ketidakharmonisan itu, suasana canggung yang membuat menunjukkan kasih sayang terasa asing, dimana suara bentakan lebih sering terdengar daripada kata-kata dukungan. Bahkan mereka lupa bagaimana rasanya diberikan kasih sayang se utuh nya seperti layaknya anak-anak lain, dan mereka pun menginginkan.
Kesepian ini menjalar ke sudut sekolah, ke bangku taman, hingga ke bawah kolong tempat tidur . Mereka kehilangan kompas, sekaligus kehilangan tempat untuk bercerita tentang hari ini, kini sering membuat mereka mengalami perubahan, menjadi lebih tertutup, tidak mudah percaya dengan orang lain, mereka pun mudah menyalahkan diri sendiri dan gampang murung. Dunia terasa begitu menyeramkan bagi mereka yang tak punya sandaran, tanpa bimbingan, masa depan seringkali terlihat seperti kabut di pagi hari yang tak kunjung cerah.
Luka ini tak berdarah yang dapat nampak secara fisik, namun sering bergulat dengan gejolak emosi hebat dan pencarian jati diri yang tak kunjung henti di tengah kesunyian. Ini akibat kurang nya peran rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan memberikan dukungan membuat segalanya terasa lebih berat. Kurang nya peran keharmonis sering melemahkan motivasi belajar, mereka termotivasi kuat untuk belajar, demi wujudkan impian untuk di masa depan, namun, ada sisi lain, kepercayaan diri yang rendah sering menghambat motivasi belajar tersebut. Rasa rendah diri ini perlahan menggerus motivasi, membuat mereka enggan berusaha keras. Akhirnya, potensi yang sebenarnya terpendam pun terabaikan begitu saja.
Tekanan atau pengabaian tersebut membuat mereka tidak mampu membedakan antara perasaan sedih dan bahagia. Mereka pun menginginkan kehidupan harmonis itu, dipenuhi dengan cinta dan kenyamanan. Contoh kecil momen wisuda yang seharusnya penuh kebahagiaan, malah berubah jadi enggan, canggung dan ragu mengungkapkan rasa sayang. Bagi siapa pun yang sedang berada dalam situasi yang sama, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa semua ini adalah bagian dari proses yang akan membentuk dirimu menjadi pribadi yang utuh. Suatu saat, kamu akan merasakan kasih sayang yang selalu kamu impikan.
Mungkin, dengan berbagai ketidakharmonisan, dan ketidaknyamanan yang ada, kita dapat menjadi lebih kuat, kalau tak ingin di rendahkan oleh kebodohan, maka berdamailah dengan pahitnya kehidupan, sebab luka hari ini adalah kuatnya esok hari. Jika tuhan memberikan ujian itu artinya kita mampu menghadapinya. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Seseorang yang memberi izin pada dirinya untuk berbuat kesalahan, lalu memaafkan serta mengambil pelajaran dari pengalaman hidup, dengan itulah kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan melalui proses tersebut, kita juga bisa mencapai kesuksesan, meskipun kesuksesan, kegagalan, kebaikan, dan keburukan adalah hal yang relatif.
Tentang Penulis
(Anisa Ahlun P)
Anisa Ahlun Prihatiningsih adalah seorang mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Penulis dapat dihubungi melalui Email: anisahlun@gmail.com atau nomor telepon: 082323710779.
Sunyi pertama adalah sunyi biasa, sunyi malam, sunyi siang bolong, sunyi yang datang ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sunyi itu tidak mengusik siapa pun.
Sunyi kedua adalah sunyi yang salah. Sunyi yang terasa seperti ada sesuatu yang seharusnya berbunyi, tapi tidak berbunyi. Sunyi yang membuat bulu kuduk berdiri bukan karena dingin, tapi karena absennya sesuatu yang selama ini kau anggap pasti.
Sabtu pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga diselimuti sunyi yang kedua.
Bukan Kakek Warso yang pertama menyadarinya.
Adalah Mbak Yanti, istri Mas Udin, tetangga baru yang belum genap dua bulan pindah, yang pertama merasa ada yang ganjil. Ia sedang menjemur handuk di tali depan rumah ketika ia menyadari bahwa ia sudah selesai menjemur, sudah masuk, sudah menyalakan kompor, sudah menunggu air mendidih, dan selama semua itu tidak ada satu pun suara kluruk dari ujung gang.
Mbak Yanti mematikan kompor.
Ia berdiri di dapur dengan perasaan orang yang lupa mematikan setrika tapi tidak yakin setrikanya menyala.
Sejak insiden opor dua bulan lalu, Mbak Yanti hafal betul ritme Gang Melati, termasuk kluruk Jalu yang setiap pagi pukul lima menjadi penanda bahwa hari boleh dimulai. Ia tidak pernah menyangka akan bergantung pada suara ayam tetangga, tapi begitulah hidup di gang sempit, kamu menyerap kebiasaan orang sekitarmu tanpa memintanya.
Ia mengintip dari jendela dapur ke arah rumah Kakek Warso.
Pagar kayu itu kosong.
Di kampung, kabar tidak membutuhkan telepon. Ia berjalan dengan kaki sendiri, dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi, dan dalam waktu setengah jam seluruh gang bisa tahu sesuatu yang belum tentu benar tapi sudah terlanjur dipercaya.
Mbak Yanti menyebut ke Bu Lastri yang kebetulan lewat membawa belanjaan,
“Bu, Jalu kok tidak bunyi pagi ini ya?”
Bu Lastri berhenti. Berpikir. Lalu mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa ia pun tidak mendengar apa-apa. “Iya ya. Tidak bunyi.”
Kabar itu sampai ke Mas Udin yang sedang mencuci motor. Mas Udin menghentikan tangannya. Kemudian kabar itu menembus dinding tipis gang dan sampai ke telinga Pak Gimin, pensiunan pos yang rumahnya di seberang, yang langsung berdiri dari kursi rotan dan mengambil sandalnya.
Dan akhirnya, sebagaimana semua kabar di Gang Melati selalu akhirnya sampai ke sana, kabar itu tiba di telinga Nenek Sarmi.
Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan sapu lidinya, mengikat jariknya lebih kencang, dan berjalan ke rumah Kakek Warso.
Kakek Warso duduk di kursi kayunya. Posisinya sama seperti setiap pagi. Tangannya memegang mangkok dedak campur nasi basi. Tapi tangannya tidak bergerak menaburkan apa pun, karena tidak ada yang perlu ditaburi.
Pagar kayu di depannya kosong.
Ia sudah berkeliling sejak pukul setengah lima. Sudah memeriksa kebun singkong. Sudah mengintip kolong rumah. Sudah menengok kandang Nenek Sarmi, tapi kali ini tidak ada Jalu yang nguber-nguber ayam lain. Sudah berjalan sampai ujung gang dan balik lagi.
Tidak ada Jalu.
Nenek Sarmi duduk di teras tanpa dipersilakan, karena di usia tujuh puluh tahun dan setelah puluhan tahun bertetangga, seseorang tidak perlu dipersilakan lagi.
Tidak ada yang bicara beberapa saat.
“Sudah berapa lama?” tanya Nenek Sarmi akhirnya.
“Dari kemarin sore tidak kelihatan.”
“Kemarin sore terakhir di mana?”
“Di sini.” Kakek Warso mengangguk ke arah pagar.
“Seperti biasa. Saya kasih makan. Makan. Lalu saya masuk. Waktu saya keluar lagi sudah tidak ada.”
Nenek Sarmi mengangguk pelan.
“Sudah tua dia,” kata Kakek Warso. Suaranya rata. Terlalu rata.
“Berapa tahun?”
“Tujuh. Mungkin delapan.”
Nenek Sarmi tidak berkata bahwa tujuh atau delapan tahun adalah usia yang panjang untuk ayam jago. Ia tidak berkata apa-apa tentang itu. Ia hanya duduk, dan keberadaannya saja sudah cukup menjadi sesuatu.
Mas Udin datang setengah jam kemudian, dengan Mbak Yanti di belakangnya dan ekspresi sukarela yang terlalu bersemangat untuk situasi sesedih ini.
“ Pak Warso, kami mau bantu cari.”
Kakek Warso memandangnya.
“Cari di mana?”
“Ya, di sekitar sini dulu. Mungkin nyasar ke gang sebelah.”
Pak Gimin menyusul. Lalu Bu Lastri. Dalam waktu singkat, teras Kakek Warso yang biasanya lengang berubah menjadi semacam posko tanpa ada yang mendeklarasikannya sebagai posko.
Mas Udin dan Pak Gimin menyisir gang sebelah. Mbak Yanti mengetuk beberapa pintu dan bertanya dengan sopan apakah ada yang melihat ayam jago berbulu merah gelap dengan jengger tegak dan cara berjalan seperti pejabat. Bu Lastri, yang jaringan pergaulannya paling luas di gang ini, menelepon beberapa orang dengan ponselnya.
Kakek Warso tidak ikut mencari. Ia tetap duduk di kursinya, memegang mangkok dedak yang sudah dingin, memandang pagar yang kosong.
Nenek Sarmi tetap duduk di sampingnya.
Satu Jam Kemudian
Mas Udin pulang dengan tangan kosong tapi muka penuh laporan, gang sebelah tidak ada, belakang gang tidak ada, sampai depan mushola juga tidak ada.
Pak Gimin pulang dan langsung duduk karena kakinya yang sudah tua tidak cocok untuk operasi pencarian.
Mbak Yanti pulang terakhir, dan di wajahnya ada sesuatu yang ia coba sembunyikan tapi tidak cukup berhasil, ekspresi orang yang mendapat informasi tapi tidak yakin apakah informasi itu baik atau buruk.
“Pak Warso,” katanya pelan.
Semua orang menoleh.
“Tadi saya tanya ke Pak Hendra, yang rumahnya di ujung gang tembus jalan besar itu. Katanya kemarin sore dia lihat seekor ayam jago merah jalan sendiri ke arah jalan besar.”
Hening.
“Jalan besar” di mulut Gang Melati Nomor Tiga adalah jalan yang dilalui truk, angkot, dan motor yang tidak peduli marka. Semua orang di teras itu tahu artinya. Mereka tidak mengucapkannya, tapi mereka tahu.
Kakek Warso tidak bergerak.
Lalu ia meletakkan mangkok dedaknya pelan di lantai teras, dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah, dan memandang jauh ke ujung gang.
Tiga menit kemudian, atau mungkin lima, tidak ada yang menghitung, terdengar suara dari ujung gang.
Bukan kluruk.
Tapi langkah. Langkah yang berat, tidak rata, seperti sesuatu yang berjalan dengan susah payah.
Semua kepala menoleh.
Dari ujung Gang Melati Nomor Tiga, dalam cahaya pagi yang masih tipis, muncullah Jalu.
Ia berjalan pelan. Sangat pelan. Salah satu sayapnya terkulai sedikit, bukan patah, tapi lelah. Bulunya kusut di beberapa tempat. Jenggernya masih tegak, tapi merahnya sedikit lebih pucat dari biasa.
Di punggungnya, bertengger dengan santai seperti penumpang angkot yang sudah beli tiket, seekor anak kucing belang tidur.
Anak kucing itu tidur. Tidur. Di punggung ayam jago yang berjalan.
Jalu berjalan terus. Masuk gang. Melewati orang-orang yang memandangnya dengan mulut terbuka. Naik ke teras. Berjalan ke arah pagar kayunya. Dan bertengger di sana, dengan anak kucing yang masih tidur di punggungnya, tidak terusik, tidak peduli.
Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik.
Kemudian Nenek Sarmi, dengan suara yang datar seperti membacakan pengumuman RT, berkata,
“Rupanya dia pergi tak bilang-bilang, pulang ngusung kucing orang.”
Mbak Yanti tertawa duluan. Lalu Bu Lastri. Lalu Mas Udin yang menahan tawa sebentar sebelum akhirnya menyerah. Pak Gimin terkekeh sambil menepuk lututnya.
Kakek Warso memandang Jalu. Lalu anak kucing itu. Lalu Jalu lagi.
Ia mengambil mangkok dedaknya. Menaburkan isinya di lantai teras pelan-pelan.
Jalu turun dari pagar. Anak kucing itu tergelincir sedikit, membuka satu mata, memandang sekelilingnya dengan ekspresi makhluk yang tidak merasa bersalah sama sekali, lalu menutup matanya lagi dan melanjutkan tidur di lantai teras.
Kakek Warso duduk di kursinya.
“Ganti nama kamu,” gumamnya kepada Jalu.
“Bukan ayam jago. Tapi Tukang ojek.”
Dan pagi itu untuk pertama kali dalam waktu yang lama, teras rumah Kakek Warso ramai, penuh orang, penuh tawa, penuh sesuatu yang hangat dan tidak bernama, sementara seekor ayam makan dedak dan seekor anak kucing tidur di antara kaki-kaki manusia yang tidak lagi ingat mengapa mereka semula merasa sedih.
Kakek Warso tidak pernah mengundang siapa pun makan di rumahnya.
Bukan karena pelit. Bukan karena tidak suka orang. Tapi karena meja makannya hanya cukup untuk dua kursi, satu untuknya, satu untuk kursi yang sudah dua belas tahun tidak diduduki siapa pun. Kursi mendiang istrinya. Kakek Warso tidak pernah memindahkannya. Tidak pernah menawarkannya untuk diduduki tamu. Orang-orang di Gang Melati Nomor Tiga sudah tahu itu, dan mereka menghormatinya dengan cara yang paling kampungan.
Pura-pura tidak tahu.
Jalu juga tahu aturan itu.
Ayam jago itu tidak pernah masuk ke dalam rumah. Ia hidup di teras, di pagar, di halaman, di wilayah antara rumah dan dunia luar. Seolah ia pun mengerti bahwa ada ruang-ruang yang tidak boleh dimasukinya.
Maka ketika suatu pagi Kakek Warso membuka pintu dan mendapati Jalu sudah berada di dalam rumah, duduk tenang di atas kursi kosong itu, kursi mendiang istrinya, ia tidak langsung marah.
Ia hanya berdiri di ambang pintu. Lama sekali.
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Pintu belakang mungkin lupa dikunci semalam. Atau mungkin jendela dapur yang selalu sedikit miring itu akhirnya menyerah sepenuhnya. Kakek Warso tidak terlalu mau menyelidiki caranya, yang ada di hadapannya sekarang adalah fakta yang tidak bisa dibantah, bahwasanya Jalu bertengger di kursi itu dengan dada membusung, seperti tamu yang merasa sudah reservasi jauh-jauh hari.
“Turun!” kata Kakek Warso.
Jalu memiringkan kepalanya. Satu mata memandang kakek itu dengan ekspresi yang, kalau ayam bisa punya ekspresi, bisa dibaca sebagai,
“kenapa?”
“Turun, kataku!”
Jalu tidak turun.
Kakek Warso menarik napas panjang. Ia pergi ke dapur, mengambil segenggam dedak, lalu menaburkannya di lantai depan kursi itu. Jalu memandang dedak itu, memandang Kakek Warso, lalu turun dengan anggun dan mulai makan.
Kakek Warso duduk di kursinya sendiri.
Mereka sarapan bersama. Pertama kalinya dalam dua belas tahun, meja makan itu terasa, bukan kebersamaan, tapi setidaknya tidak kosong.
Masalah, seperti biasa di Gang Melati Nomor Tiga, datang dari luar.
Pagi itu Mas Udin, tetangga sebelah yang belum genap sebulan pindah, datang mengetuk pagar dengan wajah yang sudah minta maaf bahkan sebelum mulai bicara.
Maklum, sejak insiden opor beberapa minggu lalu, Mas Udin selalu datang ke rumah Kakek Warso dengan postur orang yang baru saja lolos dari bencana dan tidak mau mengulanginya.
“Pak Warso, maaf mengganggu. Ini ada paket, salah antar ke rumah kami.”
Ia menyorongkan sebuah kotak kecil. Kakek Warso membukanya di teras.
Isinya, sebotol kecap manis, seperempat kilo bawang merah, dan selembar kertas bertulisan tangan, untuk Pak Warso, titip Nenek Sarmi.
Kakek Warso mengernyit. Ia melongok ke arah rumah Nenek Sarmi. Pintu tertutup. Sepi.
“Tadi pagi Nenek Sarmi pergi ke anaknya di Magelang,” kata Mas Udin menjelaskan tanpa ditanya.
“Katanya seminggu. Nitip ini sebelum berangkat.”
Kakek Warso memandang kecap dan bawang merah itu bergantian.
“Ini maksudnya apa?”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.”
Kakek Warso membawa kotak itu masuk. Ia duduk di kursinya. Jalu sudah kembali ke teras, bertengger di pagar, memandang jalan dengan gaya seorang pengamat yang tidak perlu berkomentar.
Kecap. Bawang merah. Tanpa penjelasan.
Otak Kakek Warso, yang bertahun-tahun diasah oleh sunyi dan kesendirian, mulai bekerja dengan caranya sendiri.
Di kampung, tidak ada pemberian yang tanpa makna. Kecap dan bawang merah adalah bahan masakan. Bahan masakan adalah undangan untuk memasak.
Memasak untuk siapa?
Untuk diri sendiri?
Tapi kenapa dititipkan?
Atau…
Dan ini yang membuat Kakek Warso tiba-tiba duduk lebih tegak, apakah ini semacam kode?
Bahwa Nenek Sarmi ingin dimasakkan sesuatu ketika pulang nanti?
Atau…
Dan ini yang membuat telinganya memanas,
apakah ini semacam perhatian?
Kakek Warso berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi.
Ia pergi ke sumur, mencuci muka, lalu berdiri di depan cermin retak di kamar mandi dan memandangi wajahnya sendiri untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama.
Rambutnya putih semua. Kumisnya tidak karuan. Gigi depannya tinggal tiga. Melihat kharisma memancar dari wajahnya.
Ia kembali ke teras dan duduk dengan ekspresi seorang lelaki yang sedang bertempur melawan sesuatu di dalam dadanya, dan tidak yakin siapa yang menang.
Tiga hari kemudian, bukan seminggu, Nenek Sarmi pulang.
Kakek Warso mendengar suara becak berhenti di depan gang, lalu suara khas sandal jepit Nenek Sarmi di aspal.
Ia pura-pura sibuk memberi makan Jalu, meski Jalu sudah kenyang dan lebih tertarik memandang kupu-kupu di pohon pepaya.
Nenek Sarmi berjalan masuk ke gang sambil membawa tas kresek. Ia melihat Kakek Warso. Kakek Warso melihat ia. Keduanya pura-pura ini bukan momen apa-apa.
“Cepat pulangnya,”
kata Kakek Warso akhirnya.
“Anak saya ribut. Lebih enak di sini.”
Hening sebentar.
“Titipan kecapnya sudah saya terima,”
kata Kakek Warso dengan suara yang dicoba dibuat datar.
“Maksudnya apa itu?”
Nenek Sarmi berhenti melangkah. Ia memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, atau mungkin bisa dibaca, tapi Kakek Warso tidak mau terburu-buru membacanya.
“Maksudnya apa gimana?”
“Ya, kecap sama bawang merah. Untuk apa?”
Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu tertawa, tawa kecil, bukan tawa keras, tawa orang yang menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak menyangka akan lucu.
“Pak Warso,” katanya, “kemarin saya minta tolong Mas Udin belikan kecap sama bawang merah di warung, tapi saya keburu berangkat. Jadi saya bilang, taruh saja di rumah Pak Warso, nanti saya ambil waktu pulang.”
Kakek Warso membuka mulutnya.
Menutupnya.
Membuka lagi.
“Jadi, ini punya sampeyan?”
“Ya. Boleh saya ambil?”
Nenek Sarmi mengambil kotak kecilnya dan melanjutkan langkah ke rumahnya. Kakek Warso duduk di kursi kayunya dengan ekspresi seorang lelaki yang baru saja membangun istana megah di dalam kepala, lalu mendapati istana itu adalah kandang ayam.
Jalu melompat turun dari pagar, berjalan ke arah Kakek Warso, dan mematuk ujung sandalnya sekali, pelan, hampir seperti tepukan di bahu.
Kakek Warso memandang ayam itu.
“Diam kamu,” katanya.
Jalu kluruk sekali. Pendek. Lalu kembali ke pagar.
Di dalam rumah, kursi mendiang istri Kakek Warso berdiri diam seperti biasa, kosong, sabar, tidak berkomentar apa pun tentang apa yang baru saja terjadi di luar.
“Ia bahkan tak tahu, sejak kapan semuanya terasa berubah. Bukan orang-orang dan sesuatu di sekitarnya, melainkan ada sebagian dari dalam dirinya yang menjauh. yang membuatnya merasa kosong dan rapuh.”
Bagi Taka, hari itu sebenarnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak menjumpai ada sesuatu yang istimewa, hanya beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat bekerja, dan bertemu dengan berbagai hal random lainnya. Hanya rutinitas harian, yang bahkan semakin lama sudah terasa seperti template hidup yang itu-itu saja baginya. Sedikit hambar dan melelahkan memang, tapi itulah adanya.
Kilauan matahari senja, saat itu sepertinya tidak akan menampakan keindahannya. Langit yang belum sepenuhnya terang, masih menyisakan warna abu-abu gelap yang menggantung rendah. di antara kabel listrik dan pucuk-pucuk pohon mahoni di pinggir jalan. Seolah menyisakan cerita hujan yang belum sepenuhnya selesai. Meninggalkan jejak yang belum benar-benar hilang. Jalanan yang masih terlihat basah, dan aroma tanah yang tertangisi langit pun masih tercium samar.
Sore itu, ia keluar dari tempatnya bekerja. Menyalakan motor, lalu melaju secara pelan. Tidak terburu-buru, tidak juga ingin cepat sampai. Melintasi jalanan yang masih tergenang air akibat hujan siang hari itu. Tanpa alasan yang jelas, seolah tidak benar-benar memiliki tujuan. Seperti ada bagian dari dirinya yang sengaja memperlambat segalanya.
Sampai akhirnya…
Ia pun melintasi sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan, dan memutuskan untuk berhenti.
Tempatnya sederhana, dengan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Tidak terlalu ramai. hanya terdapat beberapa meja kayu dengan kursi yang tampak sudah cukup lama digunakan, meninggalkan berbagai kenangan orang-orang yang pernah mengunjunginya.
Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk perlahan.
Denting lonceng kecil yang tergantung di pintu terdengar singkat olehnya, bunyi yang sedikit memecah kesunyian di dalam. Seperti menyapa kedatangan dirinya tanpa benar-benar ingin diperhatikan. Aroma kopi yang pekat dan hangat segera menyambutnya. Lampu-lampu gantung yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan yang lembut. Terdengar olehnya suara dengung pelan mesin kopi di sudut ruangan yang sesekali mendesis saat uap panas dilepaskan, berpadu dengan alunan musik pelan yang nyaris tak terdengar.
Ia memutuskan untuk memesan secangkir kopi hitam. Tanpa gula, seperti biasa. Pilihan yang sederhana, yang sudah terlalu sering diulang hingga tak lagi perlu dipikirkan olehnya.
Ia pun memilih untuk duduk di dekat jendela.
Entah mengapa…
Baginya, tempat seperti itu selalu terasa lebih nyaman. Mungkin karena ia bisa melihat dunia luar bergerak sebagaimana mestinya dari sana. Orang-orang berjalan, kendaraan yang melaju, dan waktu yang terus berlalu tanpa pernah peduli pada siapa pun.
Tanpa menunggu terlalu lama, secangkir kopi yang ia pesan pun datang. Permukaan yang berputar halus, seolah menyimpan panas yang masih hidup di dalamnya. Uap tipisnya mengepul perlahan, membawa aroma pahit di hidungnya sebelum akhirnya menghilang di udara.
Ia tidak langsung menyesapnya. Tangannya hanya menyentuh cangkir itu sejenak, merasakan panasnya yang menjalar pelan ke telapak tangan miliknya. Terasa hangat, cukup untuk meredakan hawa dingin dari udara luar yang lembap akibat hujan.
Namun, sudah seperti kebiasaan yang tidak ia sadari. Pandangannya sesekali tertuju pada pintu, setiap kali lonceng di pintu itu berbunyi, refleksnya pun kembali bekerja.
Ia menoleh. Seolah berharap ada sesuatu, atau seseorang yang akan dating menemuinya. Tapi, yang ada hanyalah orang-orang asing. Wajah yang tidak pernah benar-benar ingin diingat olehnya.
Kemudian…
Ia pun mengangkat cangkir di depannya, lalu menyesapnya perlahan.
Entah mengapa, secara tiba-tiba…
Ia teringat pada kejadian kala itu. Bayangan tentang gadis berkacamata bundar yang terlintas begitu saja. Bukan karena wajahnya, bukan pula karena singkat dalam pertemuannya. Mungkin karena percakapan mereka. atau mungkin, karena satu pertanyaan dari gadis itu yang hingga kini masih tertinggal di kepalanya.
Tentang dingin.
Tentang sesuatu yang tak pernah datang.
Ia menghela napas pelan, lalu menunduk menatap kopi yang ada di hadapannya. Uapnya masih terlihat, namun tak lagi setebal sebelumnya. Perlahan, hangatnya mulai berkurang, seperti sesuatu yang sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk lama bertahan.
Ia pun tersenyum tipis.
Entah karena menyadari kebodohan kecil dalam dirinya sendiri, atau karena akhirnya ia mulai mengerti akan sesuatu yang dulu masih terasa samar olehnya.
Ia terdiam sejenak. Menyadari ada sesuatu yang begitu halus dirasa, namun nyata. Bahwa hari ini ia kembali melakukan hal yang sama.
Menunggu.
Tanpa kepastian. Tanpa alasan yang benar-benar jelas. Apa, untuk siapa dan mengapa ia melakukanya. Bahkan, ia sendiri pun tidak tahu, sekarang ia sedang menunggu atau sekedar membuang waktu.
Kembali ia menyesapi kopi itu.
Pahit…
Namun kali ini, terasa lebih jujur.
Di luar, terlihat lampu jalanan kini mulai menyala. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, bergerak dengan urusan masing-masing. Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang sedang menunggu, atau apa yang sedang diharapkan.
Dan mungkin, memang seperti itulah seharusnya.
Ia pun kembali bersandar.
Kali ini, ia tidak lagi melihat ke arah pintu. Tidak lagi menunggu bunyi lonceng. Tidak lagi berharap akan ada seseorang yang datang menghampirinya dan mengubah hari itu menjadi sesuatu yang berbeda baginya.
Ia hanya duduk. Diam.
Mendengarkan suara mesin kopi, denting gelas, dan langkah kaki yang datang lalu pergi.
Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sederhana.
Dan anehnya… itu cukup.
Akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menunggu sesuatu dari luar. Seolah-olah kehadiran orang lain adalah satu-satunya cara untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya. Padahal, ruang itu tidak pernah benar-benar kosong. Hanya saja, ia yang jarang benar-benar berhenti untuk melihatnya.
Ia menatap keluar jendela.
Cahaya matahari mulai menghilang. Tergantikan sorot lampu kota dan kendaraan yang melintas di jalanan, memantul di permukaan aspal yang masih basah dan perlahan mengering. Segalanya kembali seperti biasa, dan untuk pertama kalinya, dirinya tidak merasa tertinggal di dalamnya.
Ia kembali menyesap kopi.
Kini hangatnya terasa lebih berarti. Bukan karena suhunya, melainkan karena ia benar-benar merasakannya.
Tanpa terburu-buru, tanpa distraksi, dan tanpa harapan yang berlebihan,
yang ada, ia hanya merasakan… bahwa dirinya ada.
Dan di situlah ia akhirnya mengerti, bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian. Terkadang, sendiri adalah cara paling jujur untuk menenangkan diri. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk kembali.
Kembali pada diri sendiri. Kembali pada hal-hal sederhana yang selama ini ia lewatkan. Kembali pada ketenangan yang tidak bergantung kepada apapun. Dan kembali untuk tidak berharap akan kehadiran siapapun.
Kopi di hadapannya pun perlahan mendingin. Namun kali ini, ia tidak merasa kehilangan apapun. Ia berdiri perlahan, meraih tas, lalu berjalan menuju pintu. Lonceng kecil itu kembali berbunyi saat ia membukanya. Udara di luar dirasanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.
Ia melangkah keluar.
Tanpa menoleh kembali, dan tanpa menunggu apapun lagi.
Karena sekarang ia pun mengerti, bahwa tidak semua kehangatan harus datang dari orang lain. Terkadang, kesendirian adalah cara paling jujur untuk pulang, dan menemukan kembali diri yang sempat hilang dalam penantian.
Tentang Penulis
Rio Triyono
Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.
Selepas ngaji ba’da Isya, Abah Kiai Muslih memintaku menemui beliau di ndalem. Setelah menunggu sejenak, beliau datang ke ruang tamu, duduk di kursi yang telah kusiapkan, sementara aku bersimpuh di hadapannya.
“Lim, besok pagi kamu ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Sampaikan surat ini kepada Mbah Wira. Jangan pulang sebelum beliau mengizinkanmu kembali ke pondok.”
“Nggih, Bah. Sendiko dawuh.”
Sebelumnya aku belum pernah menerima amanah seperti ini. Aku kembali ke kamar dengan sekantung rasa penasaran akan maksud beliau. Namun yang terpenting, tugasku adalah khidmat kepada pesantren fokus menunaikan amanah dari Abah Kiai Muslih sampai tuntas. Kurang beruntung apa lagi? Aku yang yatim piatu ini masih diberi nikmat menimba ilmu di pesantren. Sudah lebih dari duabelas tahun, pesan terakhir bapakku sebelum meninggal masih selalu kupegang.
“Lhe, kowe kudu nurut karo Abah Kiai, pokoke sendiko dawuh. Bapakmu ini tidak punya apa-apa untuk membekali dirimu. Bapak hanya bisa mendoakan agar kamu menjadi orang yang berguna.”
Pesan itu beliau sampaikan saat menyerahkanku kepada Abah Kiai Muslih di Pondok Pesantren Al Kautsar, ketika aku mulai masuk Aliyah. Ibu telah lebih dulu meninggal, sejak aku masih tujuh tahun.
Dalam cengkerik malam, selepas tahajud, aku membuka lemari. Di balik pintu tertempel foto lama bapak dan ibuku.
“Assalamu’alaikum, Pak, Bu. Pagi ini Ngalim mendapat amanah dari Abah Kiai untuk pergi ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Pangestunipun nggih,” ucapku sambil tersenyum.
Bapakku hanyalah buruh tani sederhana. Namun aku tak pernah melihatnya mengeluh, ia selalu merasa cukup. Sejak dulu, beliau sangat khurmat dan takdzim kepada Abah Kiai Muslih. Aku pun sering diajak sowan ke ndalem beliau.
***
Tidak banyak yang kubawa, dua baju koko, dua sarung, dua celana, satu kaos lengan panjang, dan peci. Surat untuk Mbah Wira kubungkus plastik, jaga-jaga jika hujan turun di perjalanan. Semua kususun rapi dalam tas.
Sebelum berangkat, aku meminta izin kepada ketua pengelola Kebun Kendana untuk memetik beberapa ubi ungu. Ubi-ubi itu akan kubawa sebagai buah tangan untuk Mbah Wira. Aku tak tahu pasti berapa lama perjalanan menuju Kampung Katamasingkir. Dari cerita Kang Dahlan, kampung itu berada di ujung Utara kabupaten ini. Ia sendiri tidak begitu tahu, hanya pernah mendengar nama Hutan Punjok Pinong dari orang-orang.
“Kang Ngalim, sampean boleh pakai motorku kalau mau. Tapi sudah tua… bisa mogok sewaktu-waktu,” katanya.
“Wah, maturnuwun, Kang. Tak pinjam nggih. Moga-moga motore ora ngasi ngambek yo,” jawabku sambil tertawa kecil, menepuk pundaknya. Ia pun ikut terkekeh.
***
Tepat ba’da sholat Subuh, aku bersiap berangkat. Motor Astrea keluaran tahun delapan puluhan itu meluncur pelan, meninggalkan Pondok Pesantren Al Kautshar. Aku sempat menoleh ke arah ndalem Abah seperti mengikat janji dalam diam: “amanah ini harus sampai. Semoga hasil maqsud”.
Kuarahkan laju ke Utara. Sesekali berhenti, bertanya, lalu melanjutkan lagi. Matahari meninggi, panasnya menekan kulit, peluh tak lagi terasa asing. Lapar kutahan. Uang di saku hanya cukup untuk berjaga jika bensin habis.
Setengah hari berlalu. Pertanyaan yang sama jawaban yang sama: tidak tahu. Senja mulai turun. Jalan terasa semakin lengang.
Aku berhenti di pinggir, membiarkan sunyi mengambil alih. Ada yang terasa janggal seperti arah yang kutempuh tak benar-benar membawa ke mana-mana. Aku menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ragu menyelinap. Saat itulah, dari entah arah mana, seorang kakek-kakek datang. Rambutnya putih panjang, bajunya pucat seperti sisa cahaya.
“Nyari apa, Lhe?”
“Kampung Katamasingkir, Mbah…”
Kakek itu tersenyum samar.
“Sing kok goleki… ora mesthi ketemu karo sing nggoleki.”
Aku terdiam.
“Semakin kamu memaksa sampai, semakin jauh ia menjauh.”
“Lajeng pripun Mbah ?”
“Terus mlakuo. Tapi ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati.”
Aku ingin bertanya lagi, tapi kata-kata seperti tertahan.
“Nek wis tekan waktune… kowe bakal nemu.”
Aku menunduk,
“Nggih Mbah… maturnuwun…”
Tangan tuanya sempat menyentuh kepalaku ringan, tapi terasa lama. Aku tertunduk merenung. Saat aku mengangkat wajah, ia sudah pergi.
Di seberang jalan, ada masjid kecil. Aku berhenti untuk sholat. Selesai salat, seorang nenek-nenek keluar tergopoh, membawa kantong plastik.
“Lhe… kowe lagi lelungan ? Iki ono panganan!”. Aku menerimanya.
“Nggih Mbah… matur nuwun…”
“Kowe arep lunga endi, Lhe?”
“Kampung Katamasingkir, Mbah…” Nenek itu diam sejenak.
“Owh… sing cedhak Punjok Pinong kuwi?” Aku mengangguk cepat.
“Aku ora ngerti persise, yo uwis ditata niate yo Lhe…” katanya pelan, sambil tersenyum tipis seperti menyimpan sesuatu.
Setelah makan, aku kembali melaju ke Utara. Jalan masih sama, tapi rasanya tidak lagi sama. Langit mulai gelap. Angin berhembus lebih dingin dari sebelumnya. Aku tidak lagi yakin apakah aku sedang mendekat atau justru semakin jauh. Namun kali ini, aku tidak bertanya. Aku hanya melaju membiarkan arah menemukan jalannya sendiri. Sampai tidak sampai kupasrahkan semuanya kepada Gusti Allah.
***
Malam benar-benar menggerayangiku. Aku masih melaju, menembus gelap yang semakin pekat. Bensin sudah kuisi penuh beruntung Si Astrea tidak sampai ngambek. Semakin ke Utara, rumah-rumah mulai menghilang. Jalanan sunyi, tanpa lampu, tanpa tanda. Sampai akhirnya aku berhenti. Di depanku terbentang telaga luas. Airnya jernih, tenang, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin diketahui siapa pun. Tak ada manusia. Tak ada suara, kecuali suara jangkrik yang tengah bersenandung riuh. Hanya ada gubug bambu yang tampak renta, dan sebuah bangku kayu panjang di depannya.
Aku duduk. Diam. Menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa. Kutatap sekeliling, kosong. Benar-benar kosong. Aku berdiri, melangkah mendekati telaga. Gelap, namun sinar rembulan yang memantul di telaga itu turut memantulkan bayanganku yang samar.
“Ini, aku di mana sebenarnya?” Pikiranku mulai gaduh.
“Apakah ini Kampung Katamasingkir?”
“Ataukah ini Hutan Punjok Pinong?”
“Kalau benar ini hutan itu, lalu di mana jalannya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu saling berkejaran, semakin keras, semakin liar. Aku mengusap wajah. Napas terasa berat.
“Kalau aku salah jalan…?”
“Kalau aku tidak sampai…?”
“Bagaimana kalau amanah ini gagal?”
Dadaku mulai sesak. Untuk pertama kalinya, muncul keinginan itu
berhenti.
“Sudah, sampai sini saja…”
Langkahku goyah. Aku menatap gelap di seberang telaga, hutan yang tak jelas bentuknya. Rasanya jauh. Terlalu jauh.
“Apa mungkin, aku memang tidak akan pernah sampai?”
Kalimat itu terucap lirih, tapi terasa menghantam keras. Aku menunduk.
Tangan gemetar. Bayangan Abah Kiai Muslih muncul. Wajahnya tenang, tapi justru itu yang membuatku semakin takut. Aku takut mengecewakan beliau.
“Aku ini siapa ?, berani-beraninya merasa mampu!”
Rasanya ingin berteriak. Sekencang-kencangnya. Tapi suaraku tertahan di dada.
“Astaghfirullahal’adzim…”
Aku menarik napas panjang. Pesan kakek-kakek itu terlintas kembali.
“Ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati”.
Aku terdiam. Pelan-pelan, aku mendekati telaga. Kuambil airnya untuk berwudhu. Dingin. Menusuk. Seakan menyadarkan sesuatu yang hampir runtuh. Aku dirikan shalat. Dalam sujudku yang terakhir, aku tidak lagi bertanya tentang arah. Aku hanya mengadu.
“Yaa Allah, kalau ini jalan-Mu, tuntun aku…”
“Kalau aku salah, luruskan…”
“Kalau aku lemah, kuatkan…”
Sujud terasa lebih lama. Lebih dalam. Seperti ada yang perlahan diturunkan,menenangkan, menata ulang yang sempat kacau. Setelah salam, aku masih duduk. Hening. Tidak ada jawaban. Tapi, ada yang berubah. Bukan jalannya. Bukan tempatnya. Hatiku. Namun justru di titik itu ketika aku tidak lagi yakin harus bagaimana. Aku masih duduk tempat yang sama. Badan rasanya sudah sangat lelah. Aku rabahkan badanku sejenak. Rasa kantuk tak tertahan, seolah suara-suara jangkrik dan kericak air telaga itu dengan lembut meninabobokanku.
***
“Lhe, tangi !”
Suara itu datang pelan, seolah menyelinap di antara sisa-sisa lelapku. Sebuah tangan mengusap pundakku dengan lembut. Aku tergeriap, bangkit dengan napas yang masih tersengal.
Di hadapanku berdiri seorang lelaki paruh baya. Wajahnya teduh, diterangi cahaya temaram malam.
“Nyuwun sewu, Bapak sinten nggih? Saya kira, tidak ada orang di sini,” kataku masih setengah bingung.
“Saya Martaji,” jawabnya lirih namun mantap.
“Diutus Mbah Wira untuk menjemput sampean. Sampean Ngalim, leres?”
“Nggih… leres, Pak…” Aku menatapnya lekat, mencoba memastikan ini bukan sisa mimpi.
“MasyaAllah, niki kulo boten ngimpi, nggih?”.
Beliau tersenyum tipis.
Aku mencubit pipiku sendiri, pelan. Nyeri itu nyata. Aku masih terperanjat heran, bagaimana mungkin Mbah Wira mengetahui kedatanganku? Namun di saat yang sama, hatiku terasa lapang, seolah beban panjang sejak pagi tadi perlahan luruh.
Tanpa banyak kata, Pak Martaji mengajakku menuju tepian telaga. Sebuah perahu kecil terikat di sana, bergoyang pelan disentuh riak air yang nyaris tak bersuara. Motor Astrea kutinggalkan di gubug. Pak Martaji meyakinkanku, “Aman, insyaAllah.”
Kami pun naik. Perahu bergerak pelan, membelah air yang gelap dan tenang. Aku ikut mendayung, meski lebih sering diam mendengarkan bunyi dayung yang menyentuh air, berulang, ritmis, seperti zikir yang tak terucap.
Telaga itu terasa panjang dan sunyi. Seolah tak bertepi. Senterku mulai meredup, cahayanya patah-patah. Kini hanya obor yang dibawa Pak Martaji menjadi satu-satunya penunjuk arah. Nyala apinya kecil, tapi cukup untuk menjaga kami tetap percaya bahwa kami sedang menuju sesuatu. Entah berapa lama, akhirnya perahu menyentuh tepian.
“Ini Hutan Punjok Pinong,” ujar Pak Martaji pelan.
“Di dalam sana, ada Kampung Katamasingkir.” Aku mengangguk, tanpa kata.
Kami melangkah masuk. Hutan itu gelap lebih gelap dari yang pernah kubayangkan. Semak belukar menjalar liar, pohon-pohon besar menjulang seperti bayang-bayang yang diam mengawasi. Angin berembus pelan, membawa suara-suara samar yang tak jelas asalnya.
“Tenang Lhe!, diakehi dzikir,” bisik Pak Martaji. Aku menurut.
Langkah demi langkah kami tempuh. Menanjak, lalu menurun landai. Nafasku mulai teratur, meski hati masih menyimpan sisa-sisa tanya. Hingga di kejauhan, tampak titik-titik cahaya. Awalnya samar. Lalu perlahan jelas. Dini hari menyambut ketika kami sampai. Sebuah perkampungan sederhana terbentang di hadapanku. Rumah-rumah bambu dan kayu berbentuk joglo berdiri berjajar, masing-masing diterangi obor di depannya. Cahaya api menari pelan, memberi kesan hangat di tengah dinginnya malam.
Pak Martaji membawaku menuju rumah yang berada tepat di tengah. Di sampingnya terdapat sebuah pendopo, seperti surau. Tampak tempat pengimaman, bedug, dan kentongan mungil yang tergantung rapi.
Beliau mengetuk pintu. Tok… tok…
“Assalamu’alaikum…”
Pintu terbuka perlahan. Aku terperanjat kaget, dadaku langsung berdegup kencang. Orang yang berdiri di hadapanku adalah sosok yang sama dengan kakek yang kutemui di perjalanan tadi. Aku menatapnya tak berkedip. Dari ujung rambut hingga kaki. Tak mungkin salah. Pak Martaji menunduk hormat, menyalami dan mencium tangannya. Aku pun mengikuti, meski tanganku terasa dingin.
“Ini Mbah Wira,” ucap Pak Martaji singkat.
Aku tercekat.
Dengan suara yang sedikit bergetar, kusampaikan salam, lalu kusodorkan surat dari Abah Kiai Muslih. Ubi ungu yang kubawa pun kuletakkan di hadapan beliau. Mbah Wira menerimanya dengan senyum tenang.
“Alhamdulillah, uwis tekan Lhe!” ucapnya lembut.
Suara itu sama. Senyumnya sama.
“Silakan masuk. Istriku sudah menyiapkan makan dan tempat istirahat. Bersih-bersihlah dulu di belakang.”
“Nggih, Mbah, maturnuwun”
Aku menunduk dalam. Masih dengan hati yang bergetar antara takjub, bingung, dan rasa cukup yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
***
Fajar perlahan merekah. Cahaya tipis menyusup di sela-sela dinding bambu, membasuh kampung dengan warna pucat yang tenang. Dari surau di depan, terdengar lantunan puji-pujian untuk Kanjeng Rasulullah Saw., lirih, berulang, seperti aliran yang tak putus.
Aku bergegas menuju surau. Beberapa orang sudah duduk bersila, sebagian membaca al Qur’an, sebagian lagi hanya menunduk khusyuk. Suara mereka berpadu, mengisi ruang yang sederhana itu dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Aku menunaikan Shalat Qabliah, lalu duduk di sudut, mengamati. Dinding bambu, lampu minyak yang masih menyala, bedug kecil di samping semuanya terasa asing, tapi sekaligus akrab. Tiba-tiba seseorang mendekat.
“Kang, nyuwun sewu, monggo panjenengan dados imam,” ucapnya pelan.
Aku terdiam sejenak. Nama itu seperti mengetuk sesuatu dalam hatiku. Tanpa banyak bertanya, aku berdiri. Langkahku terasa pelan menuju tempat imam. Sekilas aku menoleh ke belakang barisan sudah rapi. Namun sosok Mbah Wira tak kutemukan. Shalat berlangsung khidmat. Suara takbir, bacaan ayat, dan gerakan yang serempak semuanya terasa mengalir, seolah aku hanya mengikuti sesuatu yang sudah lebih dulu diatur.
Usai salam, lelaki tadi kembali mendekat.
“Kang, nyuwun sewu… panjenengan dipun amanahi ngisi majelis ba’da Subuh.”
Aku menatapnya, ragu.
“Kulo?”
“Nggih, monggo…”
Aku benar-benar tak siap. Namun ketika menoleh ke belakang, jamaah sudah membentuk halaqah. Anak-anak duduk di depan, orang dewasa melingkar di belakangnya. Semua mata tertuju menunggu. Aku menarik napas panjang. Dengan suara pelan, aku membuka majelis: tawasul kepada Kanjeng Nabi, dilanjutkan Surah Al-Fatihah.
Di tengah kegugupan, ingatanku melayang pada pengajian bersama Abah Kiai Muslih tentang keutamaan ilmu dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Mbah Kiai Hadratusyaikh Hasyim Asya’ari. Itulah satu-satunya yang terlintas. Meski hati kecilku berkata aku belum pantas, namun kalimat-kalimat itu tetap mengalir. Perlahan. Seadanya.
Majelis pun usai. Aku mendekati pemuda tadi.
“Kang, nyuwun sewu… njenengan sinten nggih? Kulo badhe nyuwun pirsa, Mbah Wira wonten pundi? Kok mboten katingal?”
“Kulo Amin, Kang,” jawabnya sopan.
“Mbah Wira, kadang tindakan tanpa pamit. Kulo ugi mboten sumerap tindak pundi.”
Aku terdiam.
“Tapiii,” lanjutnya, “Kulo dipun titipi dawuh.Menawi Kang Ngalim, dipun suwun ngurus surau punika, ngantos Mbah Wira kondur.”
Ada jeda yang cukup panjang dalam hatiku. Seakan semua yang kualami sejak kemarin perjalanan, pertemuan, hingga pagi ini bermuara pada satu titik: amanah.
Aku menunduk pelan.
“Nggih…”
Tak ada pilihan lain. Bukan sekadar karena diminta tapi karena ini bagian dari sendiko dawuh yang harus kutunaikan.
“Bismillah…”
***
Sudah satu bulan aku di Kampung Katamasingkir. Mbah Wira belum juga tampak. Hari-hari berjalan begitu saja, tapi tidak benar-benar sama. Ada ritme yang pelan-pelan terbentuk. Aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Surau menjadi pusatnya.
Anak-anak mulai kukumpulkan setiap sore, TPQ berjalan, meski sederhana. Huruf demi huruf, ayat demi ayat. Kadang diselingi tawa, kadang harus diulang berkali-kali. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun mulai ikut duduk. Tidak selalu mengaji, kadang hanya mendengarkan.
Yang membuatku takjub, setiap bedug dan kentongan dipukul, orang-orang seperti memiliki kesadaran yang sama. Aktivitas berhenti. Mereka bergegas ke surau. Tidak perlu dipanggil dua kali.
Seusai shalat, selalu ada majelis meski hanya sebentar. Seolah kampung ini hidup dari jeda-jeda itu. Pesan Abah Kiai Muslih sering terngiang:
“Gandengno ibadah karo ilmu…”
Dari situ, pelan-pelan kami menyusun sesuatu. Anak-anak muda dikumpulkan. Dibentuk kepengurusan sederhana untuk mengurus kegiatan surau. Tidak resmi, tapi terasa.
Pagi hari, setelah Duha, aku sering bersama Kang Amin masuk ke Hutan Punjok Pinong. Mencari kayu bakar untuk Mbah Putri, begitu aku memanggil istri Mbah Wira. Di sela itu, aku belajar banyak hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
Air hujan, misalnya. Kami mulai membuat sumur resapan di samping rumah-rumah warga. Tidak besar, tapi cukup untuk menahan air agar tidak langsung lari ke bawah. Di belakang rumah Mbah Wira, ada kebun yang semula dibiarkan. Atas saran Mbah Putri, aku mulai menggarapnya. Singkong, ubi, bayam, bawang tanah itu perlahan berubah. Tidak cepat, tapi pasti.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sudah tiga bulan. Aku mulai merasa bukan lagi tamu. Warga tidak lagi memanggilku “orang pondok”, tapi bagian dari mereka. Namun satu hal tetap menggantung, Mbah Wira belum juga kembali. Kadang, di sela malam, kegelisahan itu datang. Kemana beliau pergi? Apakah aku melakukan ini dengan benar? Tapi setiap kali itu muncul, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah berjalan.
Hingga suatu pagi, selepas majelis ba’da Subuh Aku melihat seseorang berdiri di pintu surau. Awalnya samar. Seperti bayangan yang belum sepenuhnya hadir. Aku mengucek mata. Dan saat pandanganku kembali jernih aku mengenalinya. Mbah Wira.
“Alhamdulillah…” tanpa sadar aku mengelus dada.
Jamaah yang lain satu per satu menghampiri, menyalami beliau. Suasana menjadi hangat, tapi juga hening dengan caranya sendiri. Aku mendekat terakhir.
Menunduk, mencium tangan beliau.
“Lhe, wis cukup yo!,” ucapnya pelan, sembari mengusap kepalaku.
“Hari ini, kamu boleh pulang ke pondok.”
Aku terdiam sejenak.
“Alhamdulillah… nggih, Mbah. Maturnuwun sanget…”
Aku tidak bertanya apa-apa. Tentang kepergian beliau. Tentang maksud semua ini. Aku hanya menceritakan apa yang telah kulakukan selama di sini, tentang surau, TPQ, kebun, dan warga. Tentang Kang Amin yang banyak membantuku. Beliau hanya mengangguk-angguk pelan. Selebihnya, diam.
Aku pun berpamitan, dengan Mbah Wira, dengan Mbah Putri, dengan Kang Amin dan dengan warga yang kini terasa begitu dekat. Ada berat yang tak bisa dijelaskan. Namun ada juga rasa cukup yang diam-diam menenangkan.
Pak Martaji kembali mengantarku. Menyusuri Hutan Punjok Pinong yang kini terasa berbeda. Menyebrangi telaga yang dulu terasa panjang. Saat sampai di gubug, motor Astrea itu masih di tempatnya. Berdebu, tapi utuh. Kucoba menyalakan. Sekali tidak hidup. Dua kali masih diam. Tiga, empat. Baru pada yang kelima mesin itu menyala. Pelan. Seperti mengerti perjalanan ini belum benar-benar selesai. Ah kenapa ajaib sekali. Baru kusadari, mungkin sejak awal aku tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.
***
Perjalanan pulang terasa lebih cepat, jalan yang kemarin asing kini seperti sudah akrab. Setiba di pondok, aku segera membersihkan diri, lalu menuju ndalem Abah Kiai Muslih. Kutitipkan pesan pada santri ndalem bahwa aku ingin sowan.
Aku menunggu sambil bersimpuh. Beberapa saat kemudian, yang datang bukan Abah Kiai Muslih, melainkan Ibu Nyai Nafisah. Mungkin Abah sedang beristirahat atau berhalangan. Aku menunduk hormat, lalu menyampaikan maksud kedatanganku bahwa amanah telah kutunaikan. Surat telah kusampaikan kepada Mbah Wira di Kampung Katamasingkir.
Perlahan, aku lanjutkan ceritaku. Tentang perjalanan, tentang pertemuan-pertemuan yang tak terduga, hingga apa saja yang kulakukan selama di sana. Namun di tengah bercerita, aku melihat mata Ibu Nyai mulai berkaca-kaca. Air mukanya berubah seperti ada kesedihan yang tak sempat disembunyikan.
Aku gugup. Tak berani menatap lama. Meski terbata, aku tetap melanjutkan bercerita sampai selesai. Setelah itu, aku menunduk dalam. Aku tak mengerti mengapa cerita itu justru menghadirkan kesedihan di wajah beliau. Hingga tiba-tiba, Ibu Nyai Nafisah memanggil seseorang.
“Sini, Nak… keluar.”
“Ning Kautshar…?” batinku lirih.
Ia melangkah pelan dari balik pintu ruang tengah, lalu duduk di samping Ibu Nyai. Ia memang tersembunyi. Ia terjaga. Sungguh ia seperti telaga yang teduh, tenang, mekar ranum bunga teratai. Aku tak berani lama menatap. Ibu Nyai Nafisah menahan napas sejenak, lalu berkata pelan, “Abah menitipkan wasiat khusus untukmu, Ibu mohon, tunaikan..”
Kalimat itu jatuh perlahan namun terasa berat.
“Wasiat ?” Tubuhku seketika gemetar. Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.
“Abah…” suaraku pecah, tak sempurna.
Aku menunduk dalam. Air mata jatuh tanpa sempat kutahan dan tanpa suara. Segalanya seperti tiba-tiba menjadi jelas, sekaligus tak sepenuhnya bisa kupahami.
“Nggih, Lhe…” lanjut Ibu Nyai lirih,
“Kautshar telah menunggumu!”
***
@iiz_oanes_99
Iis Sugiarti, kelahiran Kebumen, 08 Februari. Alumnus Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pegiat di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Karyanya telah termaktub di beberapa buku antologi: Senandung Cinta Untuk Ibunda (Asrifa Publisher: 2014), Radar Lupus (Asrifa Publisher: 2014), 100 Makna Kasih Sayang Ayah Ibunda (Gerbang Sastra: 2014), Bisikan Kata Teriakan Jiwa (Meta Kata: 2014), Senarai Diksi (Pena House: 2014), Cerita Mei (Goresan Pena: 2014), Pelangi Syair Sang Penyair (Fornusa Indonesia: 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 5 (Forum Sastra Surakarta: 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta: 2015), Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (Kosa Kata Kita: 2015), Balada Badut-Badut dan Rumput (Oase Pustaka: 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta: 2016), Creative Writing (Kaldera:2016), Koran HarianSatelit Post (2015), Koran Madura (2016), Pilar Puisi 3 (SKSP: 2016), Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan (Kosa Kata Kita: 2017), Seberkas Cinta (2017), Kidung Patani (2017), Kampus Hijau 3 (SKSP: 2017), Puisi Menolak Korupsi Jilid 6 (Forum Sastra Surakarta: 2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8: Kosa Kata Kita, 2018), A Skyful of Rain (Banjabaru’s Day Literary Festival: 2018), Palung Tradisi (Perempuan Penyair Indonesia: 2019), dan karya cerpennya termaktub di Mawar yang Tertanam di Pelaminan Air Mata (Oase Pustaka: 2015), Isyarat (CV: Landasan Ilmu: 2016), Senandung Cinta dari Pesantren (Diva Press: 2022). Esainya termaktub dalam buku “Revitalisasi Sastra Pesantren” (An Najah Press: 2016). Adapun terbitan buku akademik, berjudul “Pengembangan Budaya Penginyongan” (2026). Selain itu penulis aktif dalam publikasi ilmiah (2021-2026). Publikasi artikel dapat diakses melalui Google Schoolar penulis: yrnFB-gAAAAJ. Penulis dapat dihubungi via Instagram: @iiz_oanes_99.
Hujan turun tanpa aba-aba, seperti sesuatu yang datang membawa kabar tanpa sempat ditolak. Sore itu, langit menggulung dirinya dalam kelabu yang pekat, lalu menjatuhkan isinya ke bumi dengan deras dan tak memberi jeda. Sialnya, aku yang sedang dalam perjalanan pulang dan tidak membawa jas hujan hanya bisa menghela napas pendek, lalu memutuskan untuk berhenti dan menepi. Tepat di terasan toko dengan setengah pintu terbuka yang bahkan aku pun tak tahu apa isi di dalamnya.
Dengan segera aku memarkirkan motorku. Hanya sekedar untuk berteduh menunggu hujan sedikit reda. Tak ada kursi. Tak ada lampu yang menyala. Hanya atap seadanya dan ruang sempit yang cukup untuk berdiri. Sambil kutatapi langit yang kian kelabu, dan sesekali memandangi genangan di jalan yang perlahan menyatu, sambil berharap hujan ini segera usai.
Tiba-tiba, suara mesin motor memecah riuh derasnya hujan. seorang gadis berkacamata bundar dengan motor matic berwarna putih berhenti tepat di sebelahku. Ia turun dengan tergesa-gesa. Bajunya sudah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan tubuhnya nampak sedikit gemetar, entah karena dingin atau karena lelah.
Tas slempang berwarna coklat pekat yang terbuat dari kain miliknya pun ikut basah. Segeralah ia buka tasnya itu, untuk memeriksa isi di dalamnya. Wajahnya sedikit lega tatkala mendapati barang bawaannya masih kering setelah menerjang hujan tadi.
“Permisi tuan. Bolehkah saya ikut berteduh di sini?” tanya gadis itu tiba-tiba.
Suaranya lembut, tapi cukup jelas untuk membuatku tersentak dari lamunanku.
“Boleh saja, nona. Silahkan” Aku sedikit bergeser untuk memberinya ruang sebagai isyarat kepada gadis itu agar berteduh di sebelahku.
Kami tak saling bicara untuk beberapa saat. Hanya berdiri berdampingan, sama-sama memandangi hujan yang kian deras, seolah masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pandanganku kembali menatapi jalanan. Perasaanku berkecamuk dengan sedikit rasa khawatir jika hujan akan turun lebih lama lagi.
Benar saja, setelah sekian lama menunggu. Bukannya mereda, yang ada adalah semakin lebat.
“Hujannya semakin deras,” ucapku. Hanya sekedar untuk membuka pembicaraan setelah kami berdua saling terdiam. Lebih karena ingin memecah sunyi daripada benar-benar menyampaikan sesuatu.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Sepertinya masih lama untuk mereda. Anginnya juga kencang.” lanjutnya ramah dengan sedikit kekhawatiran akan masuk angin karena baju dan sekujur tubuh yang basah.
Hujan pun kian deras. Riuh air yang jatuh d atap toko pun kian gaduh. Angin pun semakin kencang membawa rasa dingin yang agaknya mulai sulit ditepis tubuh yang mulai membeku. Langit sepertinya sedang sangat bersedih. Entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya. Beginilah saat hujan turun mengguyur. Hanya karena aku lupa membawa jas hujan, aku menjadi terpaku dan hanya termenung menunggu hujan reda. Aku yang bebas menjadi tahanan yang dikurung di dalam rintik air yang teruapkan oleh terik matahari siang tadi.
Aku yang tengah mengutuki diri, menarik nafas panjang. Tubuh yang kian lama merasakan hawa dingin yang terbawa angin kini pelan-pelan terasa menusuk sampai ke tulang.
Namun, di tengah lamunan yang berubah menjadi keterjebakan yang sunyi akibat dingin, aku tersentak tatkala gadis di sebelahku tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang mencengangkan hingga membuat aku begitu bingung.
“Menurutmu, apa perasaanmu tentang hujan?” sepenggal kalimat tanya keluar dari sela-sela bibir yang mulai membiru.
“Ehh… Anu,” reaksiku akibat kaget. “Aku suka hujan.” lanjutku.
Dia membawa kebaikan pada penduduk bumi. Tapi untuk saat ini, aku tak terlalu menyukai hujan. Bukan karena hujan itu sendiri, tetapi Angin dan hawa dingin yang ikut membersamainya.” jawabku dengan sedikit canggung dan kebingungan.
“Ohh, begitu.” sahutnya.
“Bagiku, hujan itu terlalu kejam,” Sebuah pernyataan singkat yang keluar dari bibir yang kian sendu dari gadis itu sembari mengeluarkan kain yang kemudian digunakannya untuk membersihkan kacamatanya yang berembun.
“Terkadang dia datang saat tak diharapkan. Burung-burung pun tak menyukainya. Hujan membawa hawa dingin. Akibatnya mereka harus mencari daun-daun lebar untuk menutupi sayap-sayap mereka. Setidaknya untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat.” pungkasnya.
“Iya, seperti itulah hujan. Setidaknya dingin akibat hujan lebih baik karena disertai irama dan harmoni yang membuatnya syahdu.” tanggapku. Meskipun aku juga mulai merasa membeku akibat hujan yang tak kunjung berhenti.
“Lantas menurutmu, mana yang lebih dingin, hujan disertai angin, atau angan yang sebatas ingin?” Sahutnya yang membuatku tertegun dan bibirku pun membeku tak mampu berucap apa-apa.
Aku tak begitu paham mengapa gadis itu menanyakan hal tersebut. Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku tentang hidupnya?
Aku terdiam. Termenung dalam kerasnya suara hujan yang seakan-akan membungkam semua percakapan kami tadi.
Aku terdiam cukup lama setelah pertanyaannya. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena pertanyaan itu terasa seperti bukan sekadar pertanyaan. Ada sesuatu yang diselipkan di dalamnya. Sesuatu yang secara tiba-tiba, nampak remeh namun terasa berat.
Gadis itupun kembali mengenakan kacamatanya. Ia menatap lurus ke arah jalan yang basah, seolah mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar ada di sana.
“Aku pernah kehujanan seperti ini,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng toko.
“Bedanya, waktu itu aku sendiri.” ungkapnya.
Aku menoleh. Ada nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita biasa. seperti pintu yang mengarah ke sesuatu yang lebih dalam yang mungkin tidak ingin dibuka begitu saja
“Dia bilang akan menjemputku,” lanjutnya.
“Aku menunggu di tempat yang sama seperti ini. Hujannya juga deras. Aku kira,.. itu akan jadi kenangan yang indah.”
Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa rapuh. Tak ada dramatisasi. Tak ada tangisan. Namun, justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.
“Tapi dia tidak pernah datang.”
Aku tak menyela. Hanya bisa mendengarkan.
“Sejak saat itu,.. aku selalu merasa hujan itu kejam. Dia seperti mengulang kenangan yang sama, dalam waktu yang berbeda.” katanya lagi.
“Dia mengingatkan pada sesuatu yang sudah terjadi, bahkan tidak pernah benar-benar terjadi.” lanjutnya.
Aku menarik napas perlahan. Kini aku mulai memahami arah pertanyaannya tadi.
Aku pun menunduk sedikit.
“Hujan dan angin itu dingin,”
“Tapi angan yang sebatas ingin… mungkin lebih dingin. Karena dia tidak pernah benar-benar ada untuk menghangatkan.” kataku akhirnya.
Gadis itu terdiam. Untuk sesaat, hanya suara hujan yang berbicara di antara kami.
“Kamu benar,” ucapnya lirih.
“Yang diharap dan tidak pernah datang… selalu terasa lebih dingin dan menusuk daripada yang pernah pergi.”
Ia menoleh. Tatapannya berbeda kali ini. Lebih tenang, tapi juga lebih dalam.
“Sesuatu yang diharapkan, tapi tak pernah terjadi memang terasa lebih menyakitkan daripada yang sudah berakhir.” pungkasnya.
Angin kembali berembus. Ia merapatkan lengannya, mencoba menghangatkan diri. Tanpa banyak berpikir, aku melepas jaket yang kupakai dan menyodorkannya.
“Pakai saja. Kamu lebih membutuhkannya.” tawarku padanya.
Ia menatapku. “Kalau kamu?” balasnya sedikit ragu.
“Aku masih bisa menahan dingin,” jawabku singkat.
Ia pun menerima jaket itu perlahan. “Terima kasih.” katanya.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian hujan mulai mereda. Tak lagi seganas sebelumnya. Rintiknya berubah menjadi gerimis yang pelan, seolah langit mulai lelah menangis.
Kami berdua bersiap. Ia merapikan tasnya, Aku pun menyalakan motorku. dan kami pun bersiap untuk pergi masing-masing.
Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku,
“Terima kasih… bukan cuma untuk jaketnya, untuk jawabannya juga.” katanya dengan senyum tipis. sambil menyodorkan jaket untuk dikembalikan kepadaku yang sebelumnya ia pakai.
Aku pun mengangguk kecil dengan masih menyisakan kebingungan.
“Kalau suatu hari kamu kehujanan lagi, semoga kamu tidak sendirian.” ucapnya padaku.
“Begitu juga kamu.” jawabku padannya.
Ia pun pergi lebih dulu, menghilang di ujung jalan yang masih basah. Aku masih terdiam sejenak, sambil memandangi jejak air yang ditinggalkan roda motornya.
Selepas itu, aku pun melaju perlahan. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang tertinggal. Bukan bawaan miliku ataupun miliknya, tapi mungkin perasaanku sendiri yang ikut tersentuh ceritanya. Meninggalkan kenangan di tengah sisa gerimis sore itu.
Hingga akhirnya aku mengerti. bahwa sesuatu yang paling dingin bukanlah hujan yang disertai angin, melainkan adalah sesuatu harapan yang kita tunggu, yang kita yakini akan datang, namun pada akhirnya, hanya tinggal sebagai kemungkinan yang tak pernah sempat menjadi kenyataan.
Tentang Penulis
Rio Triyono
Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.