ChatGPT Image Apr 16, 2026, 05_45_50 PM (1)

Kembali

Oleh: Rio Triyono

“Ia bahkan tak tahu, sejak kapan semuanya terasa berubah. Bukan orang-orang dan sesuatu di sekitarnya, melainkan ada sebagian dari dalam dirinya yang menjauh. yang membuatnya merasa kosong dan rapuh.”

Bagi Taka, hari itu sebenarnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak menjumpai ada sesuatu yang istimewa, hanya beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat bekerja, dan bertemu dengan berbagai hal random lainnya. Hanya rutinitas harian, yang bahkan semakin lama sudah terasa seperti template hidup yang itu-itu saja baginya. Sedikit hambar dan melelahkan memang, tapi itulah adanya.

Kilauan matahari senja, saat itu sepertinya tidak akan menampakan keindahannya. Langit yang belum sepenuhnya terang, masih menyisakan warna abu-abu gelap yang menggantung rendah. di antara kabel listrik dan pucuk-pucuk pohon mahoni di pinggir jalan. Seolah menyisakan cerita hujan yang belum sepenuhnya selesai. Meninggalkan jejak yang belum benar-benar hilang. Jalanan yang masih terlihat basah, dan aroma tanah yang tertangisi langit pun masih tercium samar.

Sore itu, ia keluar dari tempatnya bekerja. Menyalakan motor, lalu melaju secara pelan. Tidak terburu-buru, tidak juga ingin cepat sampai. Melintasi jalanan yang masih tergenang air akibat hujan siang hari itu. Tanpa alasan yang jelas, seolah tidak benar-benar memiliki tujuan. Seperti ada bagian dari dirinya yang sengaja memperlambat segalanya.

Sampai akhirnya…

Ia pun melintasi sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan, dan memutuskan untuk berhenti.

Tempatnya sederhana, dengan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Tidak terlalu ramai. hanya terdapat beberapa meja kayu dengan kursi yang tampak sudah cukup lama digunakan, meninggalkan berbagai kenangan orang-orang yang pernah mengunjunginya.

Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk perlahan.

Denting lonceng kecil yang tergantung di pintu terdengar singkat olehnya, bunyi yang sedikit memecah kesunyian di dalam. Seperti menyapa kedatangan dirinya tanpa benar-benar ingin diperhatikan. Aroma kopi yang pekat dan hangat segera menyambutnya. Lampu-lampu gantung yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan yang lembut. Terdengar olehnya suara dengung pelan mesin kopi di sudut ruangan yang sesekali mendesis saat uap panas dilepaskan, berpadu dengan alunan musik pelan yang nyaris tak terdengar.

Ia memutuskan untuk memesan secangkir kopi hitam. Tanpa gula, seperti biasa. Pilihan yang sederhana, yang sudah terlalu sering diulang hingga tak lagi perlu dipikirkan olehnya.

Ia pun memilih untuk duduk di dekat jendela.

Entah mengapa…

Baginya, tempat seperti itu selalu terasa lebih nyaman. Mungkin karena ia bisa melihat dunia luar bergerak sebagaimana mestinya dari sana. Orang-orang berjalan, kendaraan yang melaju, dan waktu yang terus berlalu tanpa pernah peduli pada siapa pun.

Tanpa menunggu terlalu lama, secangkir kopi yang ia pesan pun datang. Permukaan yang berputar halus, seolah menyimpan panas yang masih hidup di dalamnya. Uap tipisnya mengepul perlahan, membawa aroma pahit di hidungnya sebelum akhirnya menghilang di udara.

Ia tidak langsung menyesapnya. Tangannya hanya menyentuh cangkir itu sejenak, merasakan panasnya yang menjalar pelan ke telapak tangan miliknya. Terasa hangat, cukup untuk meredakan hawa dingin dari udara luar yang lembap akibat hujan.

Namun, sudah seperti kebiasaan yang tidak ia sadari. Pandangannya sesekali tertuju pada pintu, setiap kali lonceng di pintu itu berbunyi, refleksnya pun kembali bekerja.

Ia menoleh. Seolah berharap ada sesuatu, atau seseorang yang akan dating menemuinya. Tapi, yang ada hanyalah orang-orang asing. Wajah yang tidak pernah benar-benar ingin diingat olehnya.

Kemudian…

Ia pun mengangkat cangkir di depannya, lalu menyesapnya perlahan.

Entah mengapa, secara tiba-tiba…

Ia teringat pada kejadian kala itu. Bayangan tentang gadis berkacamata bundar yang terlintas begitu saja. Bukan karena wajahnya, bukan pula karena singkat dalam pertemuannya. Mungkin karena percakapan mereka. atau mungkin, karena satu pertanyaan dari gadis itu yang hingga kini masih tertinggal di kepalanya.

Tentang dingin.

Tentang sesuatu yang tak pernah datang.

Ia menghela napas pelan, lalu menunduk menatap kopi yang ada di hadapannya. Uapnya masih terlihat, namun tak lagi setebal sebelumnya. Perlahan, hangatnya mulai berkurang, seperti sesuatu yang sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk lama bertahan.

Ia pun tersenyum tipis.

Entah karena menyadari kebodohan kecil dalam dirinya sendiri, atau karena akhirnya ia mulai mengerti akan sesuatu yang dulu masih terasa samar olehnya.

Ia terdiam sejenak. Menyadari ada sesuatu yang begitu halus dirasa, namun nyata. Bahwa hari ini ia kembali melakukan hal yang sama.

Menunggu.

Tanpa kepastian. Tanpa alasan yang benar-benar jelas. Apa, untuk siapa dan mengapa ia melakukanya. Bahkan, ia sendiri pun tidak tahu, sekarang ia sedang menunggu atau sekedar membuang waktu.

Kembali ia menyesapi kopi itu.

Pahit…

Namun kali ini, terasa lebih jujur.

Di luar, terlihat lampu jalanan kini mulai menyala. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, bergerak dengan urusan masing-masing. Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang sedang menunggu, atau apa yang sedang diharapkan.

Dan mungkin, memang seperti itulah seharusnya.

Ia pun kembali bersandar.

Kali ini, ia tidak lagi melihat ke arah pintu. Tidak lagi menunggu bunyi lonceng. Tidak lagi berharap akan ada seseorang yang datang menghampirinya dan mengubah hari itu menjadi sesuatu yang berbeda baginya.

Ia hanya duduk. Diam.

Mendengarkan suara mesin kopi, denting gelas, dan langkah kaki yang datang lalu pergi.

Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sederhana.

Dan anehnya… itu cukup.

Akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menunggu sesuatu dari luar. Seolah-olah kehadiran orang lain adalah satu-satunya cara untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya. Padahal, ruang itu tidak pernah benar-benar kosong. Hanya saja, ia yang jarang benar-benar berhenti untuk melihatnya.

Ia menatap keluar jendela.

Cahaya matahari mulai menghilang. Tergantikan sorot lampu kota dan kendaraan yang melintas di jalanan, memantul di permukaan aspal yang masih basah dan perlahan mengering. Segalanya kembali seperti biasa, dan untuk pertama kalinya, dirinya tidak merasa tertinggal di dalamnya.

Ia kembali menyesap kopi.

Kini hangatnya terasa lebih berarti. Bukan karena suhunya, melainkan karena ia benar-benar merasakannya.

Tanpa terburu-buru, tanpa distraksi, dan tanpa harapan yang berlebihan,

yang ada, ia hanya merasakan… bahwa dirinya ada.

Dan di situlah ia akhirnya mengerti, bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian. Terkadang, sendiri adalah cara paling jujur untuk menenangkan diri. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk kembali.

Kembali pada diri sendiri. Kembali pada hal-hal sederhana yang selama ini ia lewatkan. Kembali pada ketenangan yang tidak bergantung kepada apapun. Dan kembali untuk tidak berharap akan kehadiran siapapun.

Kopi di hadapannya pun perlahan mendingin. Namun kali ini, ia tidak merasa kehilangan apapun. Ia berdiri perlahan, meraih tas, lalu berjalan menuju pintu. Lonceng kecil itu kembali berbunyi saat ia membukanya. Udara di luar dirasanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.

Ia melangkah keluar.

Tanpa menoleh kembali, dan tanpa menunggu apapun lagi.

Karena sekarang ia pun mengerti, bahwa tidak semua kehangatan harus datang dari orang lain. Terkadang, kesendirian adalah cara paling jujur untuk pulang, dan menemukan kembali diri yang sempat hilang dalam penantian.

Tentang Penulis

Rio Triyono

Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.


 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *