Oleh: Iis Sugiarti
Selepas ngaji ba’da Isya, Abah Kiai Muslih memintaku menemui beliau di ndalem. Setelah menunggu sejenak, beliau datang ke ruang tamu, duduk di kursi yang telah kusiapkan, sementara aku bersimpuh di hadapannya.
“Lim, besok pagi kamu ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Sampaikan surat ini kepada Mbah Wira. Jangan pulang sebelum beliau mengizinkanmu kembali ke pondok.”
“Nggih, Bah. Sendiko dawuh.”
Sebelumnya aku belum pernah menerima amanah seperti ini. Aku kembali ke kamar dengan sekantung rasa penasaran akan maksud beliau. Namun yang terpenting, tugasku adalah khidmat kepada pesantren fokus menunaikan amanah dari Abah Kiai Muslih sampai tuntas. Kurang beruntung apa lagi? Aku yang yatim piatu ini masih diberi nikmat menimba ilmu di pesantren. Sudah lebih dari duabelas tahun, pesan terakhir bapakku sebelum meninggal masih selalu kupegang.
“Lhe, kowe kudu nurut karo Abah Kiai, pokoke sendiko dawuh. Bapakmu ini tidak punya apa-apa untuk membekali dirimu. Bapak hanya bisa mendoakan agar kamu menjadi orang yang berguna.”
Pesan itu beliau sampaikan saat menyerahkanku kepada Abah Kiai Muslih di Pondok Pesantren Al Kautsar, ketika aku mulai masuk Aliyah. Ibu telah lebih dulu meninggal, sejak aku masih tujuh tahun.
Dalam cengkerik malam, selepas tahajud, aku membuka lemari. Di balik pintu tertempel foto lama bapak dan ibuku.
“Assalamu’alaikum, Pak, Bu. Pagi ini Ngalim mendapat amanah dari Abah Kiai untuk pergi ke Kampung Katamasingkir, dekat Hutan Punjok Pinong. Pangestunipun nggih,” ucapku sambil tersenyum.
Bapakku hanyalah buruh tani sederhana. Namun aku tak pernah melihatnya mengeluh, ia selalu merasa cukup. Sejak dulu, beliau sangat khurmat dan takdzim kepada Abah Kiai Muslih. Aku pun sering diajak sowan ke ndalem beliau.
***
Tidak banyak yang kubawa, dua baju koko, dua sarung, dua celana, satu kaos lengan panjang, dan peci. Surat untuk Mbah Wira kubungkus plastik, jaga-jaga jika hujan turun di perjalanan. Semua kususun rapi dalam tas.
Sebelum berangkat, aku meminta izin kepada ketua pengelola Kebun Kendana untuk memetik beberapa ubi ungu. Ubi-ubi itu akan kubawa sebagai buah tangan untuk Mbah Wira. Aku tak tahu pasti berapa lama perjalanan menuju Kampung Katamasingkir. Dari cerita Kang Dahlan, kampung itu berada di ujung Utara kabupaten ini. Ia sendiri tidak begitu tahu, hanya pernah mendengar nama Hutan Punjok Pinong dari orang-orang.
“Kang Ngalim, sampean boleh pakai motorku kalau mau. Tapi sudah tua… bisa mogok sewaktu-waktu,” katanya.
“Wah, maturnuwun, Kang. Tak pinjam nggih. Moga-moga motore ora ngasi ngambek yo,” jawabku sambil tertawa kecil, menepuk pundaknya. Ia pun ikut terkekeh.
***
Tepat ba’da sholat Subuh, aku bersiap berangkat. Motor Astrea keluaran tahun delapan puluhan itu meluncur pelan, meninggalkan Pondok Pesantren Al Kautshar. Aku sempat menoleh ke arah ndalem Abah seperti mengikat janji dalam diam: “amanah ini harus sampai. Semoga hasil maqsud”.
Kuarahkan laju ke Utara. Sesekali berhenti, bertanya, lalu melanjutkan lagi. Matahari meninggi, panasnya menekan kulit, peluh tak lagi terasa asing. Lapar kutahan. Uang di saku hanya cukup untuk berjaga jika bensin habis.
Setengah hari berlalu. Pertanyaan yang sama jawaban yang sama: tidak tahu. Senja mulai turun. Jalan terasa semakin lengang.
Aku berhenti di pinggir, membiarkan sunyi mengambil alih. Ada yang terasa janggal seperti arah yang kutempuh tak benar-benar membawa ke mana-mana. Aku menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, ragu menyelinap. Saat itulah, dari entah arah mana, seorang kakek-kakek datang. Rambutnya putih panjang, bajunya pucat seperti sisa cahaya.
“Nyari apa, Lhe?”
“Kampung Katamasingkir, Mbah…”
Kakek itu tersenyum samar.
“Sing kok goleki… ora mesthi ketemu karo sing nggoleki.”
Aku terdiam.
“Semakin kamu memaksa sampai, semakin jauh ia menjauh.”
“Lajeng pripun Mbah ?”
“Terus mlakuo. Tapi ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati.”
Aku ingin bertanya lagi, tapi kata-kata seperti tertahan.
“Nek wis tekan waktune… kowe bakal nemu.”
Aku menunduk,
“Nggih Mbah… maturnuwun…”
Tangan tuanya sempat menyentuh kepalaku ringan, tapi terasa lama. Aku tertunduk merenung. Saat aku mengangkat wajah, ia sudah pergi.
Di seberang jalan, ada masjid kecil. Aku berhenti untuk sholat. Selesai salat, seorang nenek-nenek keluar tergopoh, membawa kantong plastik.
“Lhe… kowe lagi lelungan ? Iki ono panganan!”. Aku menerimanya.
“Nggih Mbah… matur nuwun…”
“Kowe arep lunga endi, Lhe?”
“Kampung Katamasingkir, Mbah…” Nenek itu diam sejenak.
“Owh… sing cedhak Punjok Pinong kuwi?” Aku mengangguk cepat.
“Aku ora ngerti persise, yo uwis ditata niate yo Lhe…” katanya pelan, sambil tersenyum tipis seperti menyimpan sesuatu.
Setelah makan, aku kembali melaju ke Utara. Jalan masih sama, tapi rasanya tidak lagi sama. Langit mulai gelap. Angin berhembus lebih dingin dari sebelumnya. Aku tidak lagi yakin apakah aku sedang mendekat atau justru semakin jauh. Namun kali ini, aku tidak bertanya. Aku hanya melaju membiarkan arah menemukan jalannya sendiri. Sampai tidak sampai kupasrahkan semuanya kepada Gusti Allah.
***
Malam benar-benar menggerayangiku. Aku masih melaju, menembus gelap yang semakin pekat. Bensin sudah kuisi penuh beruntung Si Astrea tidak sampai ngambek. Semakin ke Utara, rumah-rumah mulai menghilang. Jalanan sunyi, tanpa lampu, tanpa tanda. Sampai akhirnya aku berhenti. Di depanku terbentang telaga luas. Airnya jernih, tenang, seperti menyimpan sesuatu yang tak ingin diketahui siapa pun. Tak ada manusia. Tak ada suara, kecuali suara jangkrik yang tengah bersenandung riuh. Hanya ada gubug bambu yang tampak renta, dan sebuah bangku kayu panjang di depannya.
Aku duduk. Diam. Menunggu sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak tahu apa. Kutatap sekeliling, kosong. Benar-benar kosong. Aku berdiri, melangkah mendekati telaga. Gelap, namun sinar rembulan yang memantul di telaga itu turut memantulkan bayanganku yang samar.
“Ini, aku di mana sebenarnya?” Pikiranku mulai gaduh.
“Apakah ini Kampung Katamasingkir?”
“Ataukah ini Hutan Punjok Pinong?”
“Kalau benar ini hutan itu, lalu di mana jalannya?”
Pertanyaan-pertanyaan itu saling berkejaran, semakin keras, semakin liar. Aku mengusap wajah. Napas terasa berat.
“Kalau aku salah jalan…?”
“Kalau aku tidak sampai…?”
“Bagaimana kalau amanah ini gagal?”
Dadaku mulai sesak. Untuk pertama kalinya, muncul keinginan itu
berhenti.
“Sudah, sampai sini saja…”
Langkahku goyah. Aku menatap gelap di seberang telaga, hutan yang tak jelas bentuknya. Rasanya jauh. Terlalu jauh.
“Apa mungkin, aku memang tidak akan pernah sampai?”
Kalimat itu terucap lirih, tapi terasa menghantam keras. Aku menunduk.
Tangan gemetar. Bayangan Abah Kiai Muslih muncul. Wajahnya tenang, tapi justru itu yang membuatku semakin takut. Aku takut mengecewakan beliau.
“Aku ini siapa ?, berani-beraninya merasa mampu!”
Rasanya ingin berteriak. Sekencang-kencangnya. Tapi suaraku tertahan di dada.
“Astaghfirullahal’adzim…”
Aku menarik napas panjang. Pesan kakek-kakek itu terlintas kembali.
“Ojo mung mlaku nganggo sikil, mlakua nganggo ati”.
Aku terdiam. Pelan-pelan, aku mendekati telaga. Kuambil airnya untuk berwudhu. Dingin. Menusuk. Seakan menyadarkan sesuatu yang hampir runtuh. Aku dirikan shalat. Dalam sujudku yang terakhir, aku tidak lagi bertanya tentang arah. Aku hanya mengadu.
“Yaa Allah, kalau ini jalan-Mu, tuntun aku…”
“Kalau aku salah, luruskan…”
“Kalau aku lemah, kuatkan…”
Sujud terasa lebih lama. Lebih dalam. Seperti ada yang perlahan diturunkan,menenangkan, menata ulang yang sempat kacau. Setelah salam, aku masih duduk. Hening. Tidak ada jawaban. Tapi, ada yang berubah. Bukan jalannya. Bukan tempatnya. Hatiku. Namun justru di titik itu ketika aku tidak lagi yakin harus bagaimana. Aku masih duduk tempat yang sama. Badan rasanya sudah sangat lelah. Aku rabahkan badanku sejenak. Rasa kantuk tak tertahan, seolah suara-suara jangkrik dan kericak air telaga itu dengan lembut meninabobokanku.
***
“Lhe, tangi !”
Suara itu datang pelan, seolah menyelinap di antara sisa-sisa lelapku. Sebuah tangan mengusap pundakku dengan lembut. Aku tergeriap, bangkit dengan napas yang masih tersengal.
Di hadapanku berdiri seorang lelaki paruh baya. Wajahnya teduh, diterangi cahaya temaram malam.
“Nyuwun sewu, Bapak sinten nggih? Saya kira, tidak ada orang di sini,” kataku masih setengah bingung.
“Saya Martaji,” jawabnya lirih namun mantap.
“Diutus Mbah Wira untuk menjemput sampean. Sampean Ngalim, leres?”
“Nggih… leres, Pak…” Aku menatapnya lekat, mencoba memastikan ini bukan sisa mimpi.
“MasyaAllah, niki kulo boten ngimpi, nggih?”.
Beliau tersenyum tipis.
Aku mencubit pipiku sendiri, pelan. Nyeri itu nyata. Aku masih terperanjat heran, bagaimana mungkin Mbah Wira mengetahui kedatanganku? Namun di saat yang sama, hatiku terasa lapang, seolah beban panjang sejak pagi tadi perlahan luruh.
“Alhamdulillah… maturnuwun sanget, Gusti…” bisikku lirih.
Tanpa banyak kata, Pak Martaji mengajakku menuju tepian telaga. Sebuah perahu kecil terikat di sana, bergoyang pelan disentuh riak air yang nyaris tak bersuara. Motor Astrea kutinggalkan di gubug. Pak Martaji meyakinkanku, “Aman, insyaAllah.”
Kami pun naik. Perahu bergerak pelan, membelah air yang gelap dan tenang. Aku ikut mendayung, meski lebih sering diam mendengarkan bunyi dayung yang menyentuh air, berulang, ritmis, seperti zikir yang tak terucap.
Telaga itu terasa panjang dan sunyi. Seolah tak bertepi. Senterku mulai meredup, cahayanya patah-patah. Kini hanya obor yang dibawa Pak Martaji menjadi satu-satunya penunjuk arah. Nyala apinya kecil, tapi cukup untuk menjaga kami tetap percaya bahwa kami sedang menuju sesuatu. Entah berapa lama, akhirnya perahu menyentuh tepian.
“Ini Hutan Punjok Pinong,” ujar Pak Martaji pelan.
“Di dalam sana, ada Kampung Katamasingkir.” Aku mengangguk, tanpa kata.
Kami melangkah masuk. Hutan itu gelap lebih gelap dari yang pernah kubayangkan. Semak belukar menjalar liar, pohon-pohon besar menjulang seperti bayang-bayang yang diam mengawasi. Angin berembus pelan, membawa suara-suara samar yang tak jelas asalnya.
“Tenang Lhe!, diakehi dzikir,” bisik Pak Martaji. Aku menurut.
Langkah demi langkah kami tempuh. Menanjak, lalu menurun landai. Nafasku mulai teratur, meski hati masih menyimpan sisa-sisa tanya. Hingga di kejauhan, tampak titik-titik cahaya. Awalnya samar. Lalu perlahan jelas. Dini hari menyambut ketika kami sampai. Sebuah perkampungan sederhana terbentang di hadapanku. Rumah-rumah bambu dan kayu berbentuk joglo berdiri berjajar, masing-masing diterangi obor di depannya. Cahaya api menari pelan, memberi kesan hangat di tengah dinginnya malam.
Pak Martaji membawaku menuju rumah yang berada tepat di tengah. Di sampingnya terdapat sebuah pendopo, seperti surau. Tampak tempat pengimaman, bedug, dan kentongan mungil yang tergantung rapi.
Beliau mengetuk pintu. Tok… tok…
“Assalamu’alaikum…”
Pintu terbuka perlahan. Aku terperanjat kaget, dadaku langsung berdegup kencang. Orang yang berdiri di hadapanku adalah sosok yang sama dengan kakek yang kutemui di perjalanan tadi. Aku menatapnya tak berkedip. Dari ujung rambut hingga kaki. Tak mungkin salah. Pak Martaji menunduk hormat, menyalami dan mencium tangannya. Aku pun mengikuti, meski tanganku terasa dingin.
“Ini Mbah Wira,” ucap Pak Martaji singkat.
Aku tercekat.
Dengan suara yang sedikit bergetar, kusampaikan salam, lalu kusodorkan surat dari Abah Kiai Muslih. Ubi ungu yang kubawa pun kuletakkan di hadapan beliau. Mbah Wira menerimanya dengan senyum tenang.
“Alhamdulillah, uwis tekan Lhe!” ucapnya lembut.
Suara itu sama. Senyumnya sama.
“Silakan masuk. Istriku sudah menyiapkan makan dan tempat istirahat. Bersih-bersihlah dulu di belakang.”
“Nggih, Mbah, maturnuwun”
Aku menunduk dalam. Masih dengan hati yang bergetar antara takjub, bingung, dan rasa cukup yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata.
***
Fajar perlahan merekah. Cahaya tipis menyusup di sela-sela dinding bambu, membasuh kampung dengan warna pucat yang tenang. Dari surau di depan, terdengar lantunan puji-pujian untuk Kanjeng Rasulullah Saw., lirih, berulang, seperti aliran yang tak putus.
Aku bergegas menuju surau. Beberapa orang sudah duduk bersila, sebagian membaca al Qur’an, sebagian lagi hanya menunduk khusyuk. Suara mereka berpadu, mengisi ruang yang sederhana itu dengan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Aku menunaikan Shalat Qabliah, lalu duduk di sudut, mengamati. Dinding bambu, lampu minyak yang masih menyala, bedug kecil di samping semuanya terasa asing, tapi sekaligus akrab. Tiba-tiba seseorang mendekat.
“Kang, nyuwun sewu, monggo panjenengan dados imam,” ucapnya pelan.
Aku terkejut.
“Kulo? Ngapunten, Kang… kulo boten wantun.”
“Boten nopo-nopo, Kang. Meniko pesanipun Mbah Wira, saestu.”
Aku terdiam sejenak. Nama itu seperti mengetuk sesuatu dalam hatiku. Tanpa banyak bertanya, aku berdiri. Langkahku terasa pelan menuju tempat imam. Sekilas aku menoleh ke belakang barisan sudah rapi. Namun sosok Mbah Wira tak kutemukan. Shalat berlangsung khidmat. Suara takbir, bacaan ayat, dan gerakan yang serempak semuanya terasa mengalir, seolah aku hanya mengikuti sesuatu yang sudah lebih dulu diatur.
Usai salam, lelaki tadi kembali mendekat.
“Kang, nyuwun sewu… panjenengan dipun amanahi ngisi majelis ba’da Subuh.”
Aku menatapnya, ragu.
“Kulo?”
“Nggih, monggo…”
Aku benar-benar tak siap. Namun ketika menoleh ke belakang, jamaah sudah membentuk halaqah. Anak-anak duduk di depan, orang dewasa melingkar di belakangnya. Semua mata tertuju menunggu. Aku menarik napas panjang. Dengan suara pelan, aku membuka majelis: tawasul kepada Kanjeng Nabi, dilanjutkan Surah Al-Fatihah.
Di tengah kegugupan, ingatanku melayang pada pengajian bersama Abah Kiai Muslih tentang keutamaan ilmu dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Mbah Kiai Hadratusyaikh Hasyim Asya’ari. Itulah satu-satunya yang terlintas. Meski hati kecilku berkata aku belum pantas, namun kalimat-kalimat itu tetap mengalir. Perlahan. Seadanya.
Majelis pun usai. Aku mendekati pemuda tadi.
“Kang, nyuwun sewu… njenengan sinten nggih? Kulo badhe nyuwun pirsa, Mbah Wira wonten pundi? Kok mboten katingal?”
“Kulo Amin, Kang,” jawabnya sopan.
“Mbah Wira, kadang tindakan tanpa pamit. Kulo ugi mboten sumerap tindak pundi.”
Aku terdiam.
“Tapiii,” lanjutnya, “Kulo dipun titipi dawuh. Menawi Kang Ngalim, dipun suwun ngurus surau punika, ngantos Mbah Wira kondur.”
Ada jeda yang cukup panjang dalam hatiku. Seakan semua yang kualami sejak kemarin perjalanan, pertemuan, hingga pagi ini bermuara pada satu titik: amanah.
Aku menunduk pelan.
“Nggih…”
Tak ada pilihan lain. Bukan sekadar karena diminta tapi karena ini bagian dari sendiko dawuh yang harus kutunaikan.
“Bismillah…”
***
Sudah satu bulan aku di Kampung Katamasingkir. Mbah Wira belum juga tampak. Hari-hari berjalan begitu saja, tapi tidak benar-benar sama. Ada ritme yang pelan-pelan terbentuk. Aku melakukan apa yang bisa kulakukan. Surau menjadi pusatnya.
Anak-anak mulai kukumpulkan setiap sore, TPQ berjalan, meski sederhana. Huruf demi huruf, ayat demi ayat. Kadang diselingi tawa, kadang harus diulang berkali-kali. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun mulai ikut duduk. Tidak selalu mengaji, kadang hanya mendengarkan.
Yang membuatku takjub, setiap bedug dan kentongan dipukul, orang-orang seperti memiliki kesadaran yang sama. Aktivitas berhenti. Mereka bergegas ke surau. Tidak perlu dipanggil dua kali.
Seusai shalat, selalu ada majelis meski hanya sebentar. Seolah kampung ini hidup dari jeda-jeda itu. Pesan Abah Kiai Muslih sering terngiang:
“Gandengno ibadah karo ilmu…”
Dari situ, pelan-pelan kami menyusun sesuatu. Anak-anak muda dikumpulkan. Dibentuk kepengurusan sederhana untuk mengurus kegiatan surau. Tidak resmi, tapi terasa.
Pagi hari, setelah Duha, aku sering bersama Kang Amin masuk ke Hutan Punjok Pinong. Mencari kayu bakar untuk Mbah Putri, begitu aku memanggil istri Mbah Wira. Di sela itu, aku belajar banyak hal yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya.
Air hujan, misalnya. Kami mulai membuat sumur resapan di samping rumah-rumah warga. Tidak besar, tapi cukup untuk menahan air agar tidak langsung lari ke bawah. Di belakang rumah Mbah Wira, ada kebun yang semula dibiarkan. Atas saran Mbah Putri, aku mulai menggarapnya. Singkong, ubi, bayam, bawang tanah itu perlahan berubah. Tidak cepat, tapi pasti.
Waktu berjalan tanpa terasa. Sudah tiga bulan. Aku mulai merasa bukan lagi tamu. Warga tidak lagi memanggilku “orang pondok”, tapi bagian dari mereka. Namun satu hal tetap menggantung, Mbah Wira belum juga kembali. Kadang, di sela malam, kegelisahan itu datang. Kemana beliau pergi? Apakah aku melakukan ini dengan benar? Tapi setiap kali itu muncul, aku hanya bisa melanjutkan apa yang sudah berjalan.
Hingga suatu pagi, selepas majelis ba’da Subuh Aku melihat seseorang berdiri di pintu surau. Awalnya samar. Seperti bayangan yang belum sepenuhnya hadir. Aku mengucek mata. Dan saat pandanganku kembali jernih aku mengenalinya. Mbah Wira.
“Alhamdulillah…” tanpa sadar aku mengelus dada.
Jamaah yang lain satu per satu menghampiri, menyalami beliau. Suasana menjadi hangat, tapi juga hening dengan caranya sendiri. Aku mendekat terakhir.
Menunduk, mencium tangan beliau.
“Lhe, wis cukup yo!,” ucapnya pelan, sembari mengusap kepalaku.
“Hari ini, kamu boleh pulang ke pondok.”
Aku terdiam sejenak.
“Alhamdulillah… nggih, Mbah. Maturnuwun sanget…”
Aku tidak bertanya apa-apa. Tentang kepergian beliau. Tentang maksud semua ini. Aku hanya menceritakan apa yang telah kulakukan selama di sini, tentang surau, TPQ, kebun, dan warga. Tentang Kang Amin yang banyak membantuku. Beliau hanya mengangguk-angguk pelan. Selebihnya, diam.
Aku pun berpamitan, dengan Mbah Wira, dengan Mbah Putri, dengan Kang Amin dan dengan warga yang kini terasa begitu dekat. Ada berat yang tak bisa dijelaskan. Namun ada juga rasa cukup yang diam-diam menenangkan.
Pak Martaji kembali mengantarku. Menyusuri Hutan Punjok Pinong yang kini terasa berbeda. Menyebrangi telaga yang dulu terasa panjang. Saat sampai di gubug, motor Astrea itu masih di tempatnya. Berdebu, tapi utuh. Kucoba menyalakan. Sekali tidak hidup. Dua kali masih diam. Tiga, empat. Baru pada yang kelima mesin itu menyala. Pelan. Seperti mengerti perjalanan ini belum benar-benar selesai. Ah kenapa ajaib sekali. Baru kusadari, mungkin sejak awal aku tidak pernah benar-benar berjalan sendiri.
***
Perjalanan pulang terasa lebih cepat, jalan yang kemarin asing kini seperti sudah akrab. Setiba di pondok, aku segera membersihkan diri, lalu menuju ndalem Abah Kiai Muslih. Kutitipkan pesan pada santri ndalem bahwa aku ingin sowan.
Aku menunggu sambil bersimpuh. Beberapa saat kemudian, yang datang bukan Abah Kiai Muslih, melainkan Ibu Nyai Nafisah. Mungkin Abah sedang beristirahat atau berhalangan. Aku menunduk hormat, lalu menyampaikan maksud kedatanganku bahwa amanah telah kutunaikan. Surat telah kusampaikan kepada Mbah Wira di Kampung Katamasingkir.
Perlahan, aku lanjutkan ceritaku. Tentang perjalanan, tentang pertemuan-pertemuan yang tak terduga, hingga apa saja yang kulakukan selama di sana. Namun di tengah bercerita, aku melihat mata Ibu Nyai mulai berkaca-kaca. Air mukanya berubah seperti ada kesedihan yang tak sempat disembunyikan.
Aku gugup. Tak berani menatap lama. Meski terbata, aku tetap melanjutkan bercerita sampai selesai. Setelah itu, aku menunduk dalam. Aku tak mengerti mengapa cerita itu justru menghadirkan kesedihan di wajah beliau. Hingga tiba-tiba, Ibu Nyai Nafisah memanggil seseorang.
“Sini, Nak… keluar.”
“Ning Kautshar…?” batinku lirih.
Ia melangkah pelan dari balik pintu ruang tengah, lalu duduk di samping Ibu Nyai. Ia memang tersembunyi. Ia terjaga. Sungguh ia seperti telaga yang teduh, tenang, mekar ranum bunga teratai. Aku tak berani lama menatap. Ibu Nyai Nafisah menahan napas sejenak, lalu berkata pelan, “Abah menitipkan wasiat khusus untukmu, Ibu mohon, tunaikan..”
Kalimat itu jatuh perlahan namun terasa berat.
“Wasiat ?” Tubuhku seketika gemetar. Seperti ada sesuatu yang runtuh di dalam dada.
“Abah…” suaraku pecah, tak sempurna.
Aku menunduk dalam. Air mata jatuh tanpa sempat kutahan dan tanpa suara. Segalanya seperti tiba-tiba menjadi jelas, sekaligus tak sepenuhnya bisa kupahami.
“Nggih, Lhe…” lanjut Ibu Nyai lirih,
“Kautshar telah menunggumu!”
***
Iis Sugiarti, kelahiran Kebumen, 08 Februari. Alumnus Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Pegiat di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, Sekolah Kepenulisan Sastra Peradaban (SKSP). Karyanya telah termaktub di beberapa buku antologi: Senandung Cinta Untuk Ibunda (Asrifa Publisher: 2014), Radar Lupus (Asrifa Publisher: 2014), 100 Makna Kasih Sayang Ayah Ibunda (Gerbang Sastra: 2014), Bisikan Kata Teriakan Jiwa (Meta Kata: 2014), Senarai Diksi (Pena House: 2014), Cerita Mei (Goresan Pena: 2014), Pelangi Syair Sang Penyair (Fornusa Indonesia: 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 5 (Forum Sastra Surakarta: 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta: 2015), Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (Kosa Kata Kita: 2015), Balada Badut-Badut dan Rumput (Oase Pustaka: 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta: 2016), Creative Writing (Kaldera:2016), Koran Harian Satelit Post (2015), Koran Madura (2016), Pilar Puisi 3 (SKSP: 2016), Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan (Kosa Kata Kita: 2017), Seberkas Cinta (2017), Kidung Patani (2017), Kampus Hijau 3 (SKSP: 2017), Puisi Menolak Korupsi Jilid 6 (Forum Sastra Surakarta: 2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8: Kosa Kata Kita, 2018), A Skyful of Rain (Banjabaru’s Day Literary Festival: 2018), Palung Tradisi (Perempuan Penyair Indonesia: 2019), dan karya cerpennya termaktub di Mawar yang Tertanam di Pelaminan Air Mata (Oase Pustaka: 2015), Isyarat (CV: Landasan Ilmu: 2016), Senandung Cinta dari Pesantren (Diva Press: 2022). Esainya termaktub dalam buku “Revitalisasi Sastra Pesantren” (An Najah Press: 2016). Adapun terbitan buku akademik, berjudul “Pengembangan Budaya Penginyongan” (2026). Selain itu penulis aktif dalam publikasi ilmiah (2021-2026). Publikasi artikel dapat diakses melalui Google Schoolar penulis: yrnFB-gAAAAJ. Penulis dapat dihubungi via Instagram: @iiz_oanes_99.
Leave A Comment