ChatGPT Image 29 Apr 2026, 22.51.58

Langkah yang Tak Pernah Sepi Makna

 

Oleh: Ayu Condro Ningrum

Menjalani rutinitas sebagai mahasiswa sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto terasa seperti memerankan dua peran yang saling melengkapi. Dalam satu hari, hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Di pagi hari, kami sudah harus menghadapi dinginnya udara Purwokerto untuk mengikuti jamaah salat subuh. Setelah itu, kami bergegas ke kampus, menjalani peran sebagai mahasiswa terlibat dalam diskusi kelas, melakukan presentasi, hingga kebingungan mencari referensi jurnal di perpustakaan. Semua berlangsung cepat, dipenuhi tugas-tugas yang seolah tak berujung.

Namun, saat melangkah kembali melewati gerbang pesantren, kebisingan kampus terasa tertinggal. Suasana berubah menjadi lebih tenang. Laptop dan buku tebal disimpan sejenak, digantikan oleh kitab kuning dan sarung. Di sini, kami tidak lagi sekadar mahasiswa, tetapi kembali menjadi santri yang duduk bersila di lantai masjid. Mendengarkan ngaji kehidupan dari Abah Roqib setelah jamaah salat magrib terasa seperti mengisi ulang energi setelah seharian bergulat dengan teori di kampus.

Tantangan terbesar adalah membagi waktu. Kadang terasa ironis melihat meja belajar di kamar. Di satu sudut, ada tumpukan tugas yang harus segera diselesaikan; di sudut lain, ada kitab yang menunggu untuk dipelajari demi setoran pagi berikutnya. Tak jarang, mata terasa sangat lelah karena semalaman mengerjakan tugas kuliah. Namun, ketika suara bel kompleks atau panggilan salat berjamaah terdengar, kami harus segera bangkit dan bersiap kembali.

Lelah? Tentu saja. Namun di situlah letak keindahannya. Kami belajar hal-hal yang mungkin tidak didapatkan oleh mahasiswa lain. Kami memahami makna thalabul ‘ilmi melalui pendidikan formal, sekaligus diingatkan untuk menjaga adab dan kerendahan hati melalui pendidikan pesantren. Pesma An-Najah, dengan segala kesibukannya, menjadi saksi perjuangan kami bahwa mengejar gelar sarjana adalah penting untuk masa depan, tetapi menjaga nilai-nilai santri adalah cara agar kami tidak kehilangan arah di tengah dunia yang semakin gaduh.

Pada akhirnya, menjalani dua peran ini melatih mental untuk tetap kuat sebagaimana pelajaran yang pernah saya baca dalam buku Filosofi Teras.

Tentang penulis:

Ayu Condro Ningrum

Ayu Condro Ningrum adalah mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Sejalan dengan minat akademiknya, ia menaruh perhatian besar pada bidang jurnalistik dan aktif terlibat dalam aktivitas jurnalistik di kampus, melalui LPM SAKA. Penulis dapat dihubungi melalui Email: ayucondroningrumayu@gmail.com atau nomor telepon:  082220762232.

 

ChatGPT Image 28 Apr 2026, 13.24.52

Ketika Belajar Tak Lagi Tahan Uji: Potret Rapuhnya Generasi Muda

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag., A.H.

(LPDP Awardee, University of Birmingham, UK)

Generasi yang Cepat Lelah

Di ruang-ruang kelas hari ini, kita semakin sering menemukan pemandangan yang serupa: pelajar yang cepat lelah, mudah menyerah, dan kehilangan daya tahan saat berhadapan dengan kesulitan. Tugas yang sedikit kompleks terasa memberatkan, proses belajar yang panjang dianggap membosankan, dan kegagalan kecil kerap berujung pada keputusasaan. Belajar tidak lagi dilihat sebagai perjalanan intelektual, melainkan sekadar beban yang harus segera diselesaikan.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan subjektif generasi tua terhadap generasi muda. Ia adalah gejala yang nyata bahwa ada sesuatu yang berubah dalam cara generasi hari ini berinteraksi dengan pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.

Motivasi yang Kian Menurun

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa penurunan performa akademik sering kali beriringan dengan menurunnya motivasi belajar. Siswa tidak lagi terdorong oleh rasa ingin tahu, melainkan oleh tuntutan nilai, ujian, dan tekanan eksternal. Akibatnya, ketika tekanan itu hilang, motivasi pun ikut merosot.

Belajar kehilangan makna intrinsiknya. Ia tidak lagi dipahami sebagai proses memahami dunia, melainkan sekadar alat untuk mencapai target jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika pelajar mudah kehilangan energi ketika menghadapi tantangan. Tanpa motivasi yang kuat dari dalam, proses belajar akan terasa berat dan mudah ditinggalkan.

Krisis Ketahanan Intelektual

Di titik inilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih mendasar: krisis ketahanan intelektual atau academic resilience. Dalam kajian pendidikan, ketahanan intelektual merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, beradaptasi, dan bahkan berkembang meskipun menghadapi kesulitan akademik.

Masalahnya, banyak pelajar hari ini menunjukkan tanda-tanda melemahnya kemampuan ini. Mereka cenderung menghindari tantangan, cepat merasa tidak mampu, dan kesulitan mengelola tekanan. Padahal, justru dalam proses menghadapi kesulitan itulah kemampuan berpikir berkembang.

Dengan kata lain, persoalan utama generasi muda hari ini bukan pada kurangnya kecerdasan, tetapi pada lemahnya daya tahan dalam menggunakan kecerdasan tersebut. Mereka memiliki akses pengetahuan yang luas, tetapi tidak selalu memiliki ketekunan untuk menggali dan mengolahnya secara mendalam.

Ekosistem Instan yang Membentuk Kerapuhan

Kerapuhan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh ekosistem yang semakin mengutamakan kecepatan daripada kedalaman. Di era digital, informasi tersedia secara instan, jawaban dapat ditemukan dalam hitungan detik, dan proses berpikir sering kali dipersingkat melalui berbagai kemudahan teknologi.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Namun di sisi lain, ia juga membawa konsekuensi: pelajar menjadi kurang terbiasa dengan proses berpikir yang panjang dan melelahkan. Ketika segala sesuatu bisa diperoleh dengan cepat, kesabaran untuk berproses perlahan menjadi semakin langka.

Selain itu, sistem pendidikan juga sering kali belum sepenuhnya mendorong ketahanan intelektual. Tekanan akademik yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Kegagalan masih sering dipandang sebagai aib, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, pelajar lebih memilih menghindari risiko daripada menghadapinya.

Mengembalikan Daya Tahan Belajar

Menghadapi situasi ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kritik terhadap generasi muda, tetapi refleksi bersama tentang bagaimana kita membangun ekosistem belajar. Ketahanan intelektual tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari proses yang menuntut usaha, kesabaran, dan keberanian untuk gagal.

Karena itu, penting untuk mengembalikan makna belajar sebagai proses, bukan sekadar hasil. Pelajar perlu diberi ruang untuk mengalami kesulitan tanpa langsung dihakimi. Mereka perlu dilatih untuk bertahan, bukan hanya untuk berhasil. Di sisi lain, sistem pendidikan juga perlu bergeser, dari yang hanya menilai hasil akhir, menjadi yang menghargai proses berpikir.

Pada akhirnya, potret rapuhnya generasi muda bukanlah vonis, melainkan peringatan. Di tengah kemudahan yang semakin melimpah, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih mendasar, yakni daya tahan untuk berpikir, bertanya, dan terus belajar. Dan tanpa itu, pendidikan hanya akan menghasilkan generasi yang tahu banyak hal, tetapi tidak cukup kuat untuk memahaminya secara mendalam.

 

ChatGPT Image Apr 26, 2026, 09_37_04 PM_095121

Hidup itu Absurd, Jangan Lari Darinya

Oleh: Lili Rahayu Usfatun Khasanah

“Hidup itu absurd, jangan lari darinya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan ketegangan yang dalam antara harapan manusia dan kenyataan dunia. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup seharusnya punya arah yang jelas, makna yang tegas, dan akhir yang bisa dipahami. Namun, seiring waktu, kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan: usaha tidak selalu berbuah hasil, doa tidak selalu segera terjawab, dan kebaikan tidak selalu dibalas setimpal. Di titik inilah absurditas muncul sebuah jarak antara apa yang kita cari dan apa yang dunia berikan.

Filsuf seperti Albert Camus menyebut absurditas sebagai kondisi dasar manusia. Kita adalah makhluk yang haus makna, tetapi hidup di semesta yang tidak selalu menyediakan jawaban. Dalam pandangan ini, absurditas bukanlah kesalahan yang harus diperbaiki, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. Masalahnya bukan pada dunia yang tidak masuk akal, tetapi pada harapan kita yang terlalu ingin segala sesuatu menjadi masuk akal.

Namun, menghadapi absurditas tidak berarti menyerah. Justru sebaliknya, di sanalah letak kebebasan manusia. Ketika tidak ada makna yang diberikan secara pasti, manusia memiliki ruang untuk menciptakan maknanya sendiri. Ini bukan tugas yang ringan. Ia menuntut keberanian untuk tetap berjalan meski arah tidak sepenuhnya jelas, untuk tetap mencinta meski tidak ada jaminan, dan untuk tetap berbuat baik meski hasilnya tidak selalu terlihat.

“Jangan lari darinya” berarti tidak menghindar dari kenyataan pahit, tidak menutup mata terhadap ketidakpastian, dan tidak berpura-pura bahwa hidup selalu rapi. Lari dari absurditas bisa berarti mencari pelarian yang semu entah dalam ilusi, penyangkalan, atau harapan-harapan instan yang rapuh. Tetapi menghadapi absurditas berarti berdiri tegak di tengah ketidakjelasan, sambil tetap memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh.

Di sinilah hidup menemukan martabatnya. Bukan karena ia selalu bermakna, tetapi karena manusia terus berusaha memberi makna. Dalam pekerjaan sehari-hari, dalam hubungan sederhana, dalam pengorbanan kecil yang sering tak terlihat semua itu adalah bentuk perlawanan terhadap absurditas. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan seluruh jalannya hidup, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita menjalaninya.

Akhirnya, menerima absurditas bukan berarti kehilangan harapan. Justru sebaliknya, harapan menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi bergantung pada kepastian, melainkan tumbuh dari keberanian. Hidup tetap dijalani, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena kita memilih untuk tidak menyerah pada ketidakjelasan itu.

Maka, hidup memang absurd. Namun, jangan lari darinya. Hadapilah, hiduplah di dalamnya, dan di sanalah perlahan, dalam sunyi dan kesadaran makna itu akan kita ciptakan sendiri.

Tentang Penulis

Lili Rahayu

Lili Rahayu Usfatun Khasanah, merupakan alumnus Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, sekaligus lulusan Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia tengah belajar menjalani perannya sebagai “Ibu” untuk dua buah hatinya: Ali dan Alia.

 

Wanita berhijab dengan buku bercahaya (1)

Menebar Cahaya Ilmu: Perjalanan Mahasantri Menuju Puncak Pendidikan

Oleh: Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Sebagai seorang Mahasantri, aku menyadari bahwa Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan. Aku memilih untuk terus belajar, tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa. Aku terinspirasi oleh Abah Roqib, Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, yang selalu menekankan pentingnya “Sinau Terus Sundul Langit”, tiada hari tanpa tambah Ilmu, belajar tanpa henti hingga mencapai puncak Ilmu.

Pendidikan adalah sarana dimana manusia belajar bagaimana menjalani hidup. Secara teoritis,  pendidikan  diartikan  sebagai  usaha  sadar  yang  dilakukan  oleh  keluarga, masyarakat,  dan  pemerintah  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran,  dan  pelatihan. Kegiatan tersebut berlangsung di lembaga formal, informal, dan nonformal dan berlanjut sepanjang hidup seseorang. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan individu-individu yang  cerdas  secara  intelektual,  emosional,  dan  spiritual  (IQ,  EQ,  dan  SQ)  agar  mampu mengaplikasikan ilmu  yang diperolehnya  dalam berbagai  lini kehidupan  secara dinamis untuk masa depan.

Tahukah kamu?, berdasarkan penelitian genetika, menunjukan bahwa kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh gen yang diturunkan dari Ibu. Hal ini karena kromosom X yang berperan penting dalam fungsi otak dimiliki dua buah pada Perempuan, sehingga kemungkinan menurunkan gen yang memengaruhi IQ lebih besar dari pihak ibu dibandingkan ayah, kecerdasan turun temurun sekitar 40%-60% sisanya bisa dari faktor eksternal seperti lingkungan, Pendidikan, kasih sayang dan lain sebagainya.

Seorang Perempuan yang berpendidikan akan dapat membesarkan generasi yang berpendidikan dalam rumah tangganya karena ia akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Cara seorang Ibu dalam memberikan pendidikan pertama bagi anak-anaknya akan memiliki dampak yang signifikan terhadap apakah anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sukses.

Ketika seorang Perempuan memilih untuk terus belajar, sejatinya ia sedang menanam benih yang tak hanya tumbuh untuk dirinya sendiri. Ia sedang mempersiapkan masa depan, membangun fondasi kecerdasan yang kelak hidup dan berdenyut dalam diri anak-anaknya. Sebab dari Rahim seorang Ibu, bukan hanya kehidupan yang lahir, tetapi juga cara berpikir, cara memandang dunia, dan keberanian untuk bermimpi.

Perempuan yang mencintai Ilmu sedang menciptakan generasi yang kuat akal dan jiwanya. Pengetahuannya akan menjadi doa yang diam-diam bekerja, sikap belajarnya akan menjadi teladan yang tertanam tanpa paksaan. Anak-anak yang tumbuh di dekat Perempuan pembelajar akan belajar bahwa hidup bukan sekadar menjalani, tetapi memahami, bertanya dan terus berkembang.

Jika kecerdasan anak berasal dari ibunya, maka perjuangan Perempuan hari ini bukanlah hal kecil. Perempuan yang terus bertumbuh bukan hanya sedang menyelamatkan dirinya, tapi juga sedang membangun fondasi bagi generasi yang lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih penuh cinta. Setiap ilmu yang dipelajari, setiap air mata yang berhasil dikuatkan, adalah warisan tak terlihat untuk masa depan. Karena di balik Perempuan yang terus belajar, ada dunia yang sedang ia bentuk perlahan, dalam diam, tanpa banyak pengakuan. Dan mungkin hari ini terlihat biasa saja, hanya seorang Perempuan yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Padahal sesungguhnya, ia sedang menulis arah masa depan dengan pikirannya, dengan kekuatannya, dengan segala hal yang ia pilih untuk tidak menyerah. Karena satu perempuan yang bertumbuh, tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga arah dunia yang akan datang.

Kita semua selamanya adalah seorang pembelajar. Karena, hanya dengan Ilmu semua persoalan yang terjadi bisa diselesaikan. Pada akhirnya, puncak dari ilmu bukanlah kekaguman orang lain, melainkan ketundukan yang tenang. Belajar menunduk, bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan batin yang sadar bahwa semua ini titipan. Dari banyaknya jenis warisan, warisan paling mahal dan satu-satunya warisan yang tidak akan diperebutkan adalah Pendidikan. Mari terus belajar, terus tumbuh, dan menerangi dunia dengan Ilmu.

Tentang Penulis

Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Nisrina Tuhfatul Azizah adalah seorang santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Saat ini ia sedang menempuh Studi Doktoral jurusan Studi Islam di Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dengan konsentrasi pada Ekonomi Islam. Sebelumnya, ia menyelesaikan Pendidikan S-1 pada Program Studi Ekonomi Syariah dan S-2 Program Studi Magister Ekonomi Syariah di almamater yang sama. Selain menjadi seorang akademisi, Nisrina juga mulai aktif di dunia literasi dan kepenulisan. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @nisrina_azizahh.

 

Mencari harapan di tengah kenyataan

Apakah Lulusan UIN Sulit untuk Mencari Kerja? Membaca Atas Realitas Sosial

Oleh: Farraz Azzahy Setiaji

Belakangan ini, isu liar yang menyangkut kampus keagamaan (sebut saja UIN) menjadi perbincangan hangat. perbincangan ini di fokuskan kepada pertanyaan mendasar, apakah lulusan UIN susah untuk mencari kerja? atau bahkan mudah mencari kerja?.

‎Asumsi tersebut dilatarbelakangi karena jurusan UIN yang semakin banyak dan ‘kurang’ relevan dengan kebutuhan industri sehingga kebanyakan mahasiswa khususnya dalam ranah akhir kesulitan mencari kerja karena jurusan mereka tidak ada dalam list kebutuhan industri tersebut.

‎Untuk itu, bagaimana kita seorang lulusan UIN membaca atas realitas tersebut? disini penulis akan sedikit membedah secara objektif maupun subjektif supaya perbincangan ini tidak stuck begitu saja.

‎Kemana sebenarnya arah UIN?

‎Sebelum masuk ke isu hangat diatas, kita bedah terlebih dahulu dengan pertanyaan mendasar, apa sih yang di pelajari dalam kampus UIN? apakah sebagai penyalur teori industri berkelanjutan atau terfokus pada keagamaan saja?

Pertama, dalam segi keilmuan, UIN tergolong kampus mumpuni yang terfokus pada dunia studi Islam, mengingat kompleksitas Islam yang sangat luas maka diperlukan ketajaman berpikir dan memecahkan masalah pada masyarakat awam. posisi UIN disini menjadi penting, mengapa penting? disatu sisi untuk melestarikan keilmuan Islam, disatu sisi yang lain berfokus terhadap pemecahan masalah dalam bidang agama yang tergolong rumit.

contoh, masyarakat kesulitan untuk memahami kandungan Al-Quran, disini UIN khususnya prodi tafsir menjawab kesulitan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami serta mengarahkan masyarakat supaya tidak salah tafsir. hal ini lah yang menjadi pembeda antara UIN dan kampus yang lain.

Kedua, jika dibandingkan dengan PTN jelas berbeda arah keilmuan, setiap kampus pasti memiliki alasan dibukanya jurusan tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. apakah UIN penyalur industri? jawabannya mungkin iya, (untuk saat sekarang) karena kurun waktu perkembangan UIN tidak hanya dilihat dari agamanya saja, melainkan dapat mengintegrasikan ilmu yang lain seperti, sosial-humaniora, informatika, Ilmu sains (kimia, fisika, biologi, matematika) mulai bermunculan. integrasi tersebut lah yang menjadikan alasan UIN ‘mampu’ menjawab kebutuhan industri masa kini.

Lalu, apakah stigma ‘sulit mencari kerja’ terus menempel pada kampus UIN?

‎apabila dilihat dari segi objektif, banyak juga lulusan PTN maupun PTKIN yang sama-sama sulit mencari kerja. penulis melakukan wawancara sederhana terhadap salah satu aktivis-akademis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia memberikan pernyataan terkait isu ini meliputi;

kemungkinan pertama, asumsi diatas tepat, secara objektif, bukan hanya lulusan UIN, namun kampus umum yang memiliki segudang prestasi dan ‘nama’ baik di Indonesia juga tidak bisa menjamin. Hal ini di pengaruhi oleh kesiapan mahasiswa terhadap dunia kerja. Semakin sering berlatih dan mencari peluang, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap mahasiswa ntah dari kampus terbaik maupun biasa saja, juga mampu berkecimpung di dunia kerja.

kemungkinan kedua, asumsi diatas kurang tepat, setiap kampus memiliki kegelisahan akademik sendiri, memiliki kekhasan masing-masing. Kampus UIN cenderung melakukan pemecahan masalah dari sudut pandang agama, sedangkan kampus umum cenderung kepada pemecahan masalah secara sosial, sains dan humaniora.

Setiap kampus juga mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat serta dimensi industri dengan mengintegrasikan keilmuan sesuai dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kembali lagi kepada diri mahasiswa, siap untuk menerima perkembangan tersebut atau justru stuck terhadap dinamisnya dunia.

Bagaimana solusinya?

Mungkin solusi ini tidak bisa memberikan sesuatu yang konkrit, namun saran ini mungkin bisa diterima oleh beberapa mahasiswa terutama kecemasan-kecemasan kesulitan mencari kerja.

Pertama, tentukan arah yang jelas, hal ini penting sebagai pondasi utama dalam belajar di dunia perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa masuk terhadap jurusan tersebut masih seringkali kebingungan menentukan arah sehingga menyesal di kemudian hari.

Kedua, asah soft skill sejak masuk kampus. Kampus adalah ladang yang sangat luas dan peluang yang sangat banyak. Sangat disayangkan ketika mahasiswa diberikan privilege untuk masuk dalam dunia perkuliahan tidak bisa memanfaatkan hal tersebut.

Ketiga, menghidari kecemasan berlebihan. Kebanyakan mahasiswa tidak siap untuk bekerja faktor utama adalah rasa ‘cemas’ padahal untuk mendapatkan pekerjaan harus disiapkan, dicoba secara berkala serta selalu melihat peluang yang tersedia.

Dengan solusi diatas, jika diterapkan mungkin stigma mahasiswa UIN ‘sulit’ cari kerja hanyalah sebatas asumsi belaka, tidak salah kampus memiliki banyak jurusan, semua tergantung diri seorang mahasiswa, apakah siap kita sebagai lulusan UIN untuk bekerja? Atau kita terus menyalahkan keadaan, padahal yang menjadi masalah utama adalah kemalasan kita dalam mencari peluang di kampus UIN yang besar.

Akhir kata, semoga dengan tulisan ini, penulis berharap kepada pembaca dapat merefleksikan diri, asumsi judul diatas mungkin hanya sebatas ‘angin’ belaka. Kita diberi privilege lebih dan dimanfaatkan secara baik dan bijaksana.

 

Daftar Pustaka

Artikel; https://uinbanten.ac.id/stigma-atau-realita-menimbang-posisi-lulusan-uin-iain-di-dunia-kerja/

Wawancara dengan salah satu aktivis-akademis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Artikel: https://id.quora.com/Apakah-lulusan-prodi-umum-di-UIN-susah-dapet-kerja

Tentang Penulis

Farraz Azzahy Setiaji

Farraz Azzahy Setiaji adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam perjalanan intelektual, menekuni pada bidang studi islam dan hermeneutika Al-Qur’an. Pernah menjuarai kompetisi ilmiah nasional mahasiswa ushuludin (KINMU 2025) dan perlombaan artikel lainnya. Penulis dapat dihubungi via,  Email: farrazazzahyy@gmail.com , Telp. 085226271268.

White Orange Social Media Marketing Live Webinar Youtube Thumbnail (Website) (1)

QS World Ranking: Ketika UIN Jakarta, Yogyakarta, dan Malang Naik Peringkat, Apa yang Sebenarnya Dinilai?

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag.

Euforia yang Perlu Dipertanyakan

Belakangan ini, kabar tentang naiknya peringkat kampus-kampus Indonesia di level global terasa seperti angin segar. Apalagi ketika nama-nama seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai muncul dalam percakapan tentang QS World University Rankings. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan, seolah-olah kita akhirnya “diakui” oleh dunia.

Namun, di tengah euforia itu, ada satu pertanyaan yang justru jarang diajukan: ketika peringkat itu naik, apa sebenarnya yang sedang dinilai?

Pertanyaan ini penting, karena kita sering kali menerima ranking sebagai sesuatu yang netral, objektif, dan tak terbantahkan. Seolah-olah angka-angka itu berbicara sendiri. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa sistem pemeringkatan global bukan sekadar cermin realitas, melainkan konstruksi yang dibentuk oleh indikator, metodologi, dan asumsi tertentu tentang apa itu “universitas yang baik”.

Ranking, Reputasi, dan Ilusi Objektivitas

Dalam kasus QS, sebagian besar penilaian justru bertumpu pada reputasi. Sekitar 40 persen bobotnya berasal dari survei akademisi yang diminta menilai universitas mana yang mereka anggap terbaik.  Artinya, yang diukur bukan hanya kualitas, tetapi persepsi tentang kualitas. Dan persepsi tidak pernah benar-benar netral.

Reputasi cenderung mengikuti pola yang sudah mapan. Universitas yang sudah lama dikenal akan terus diingat dan dinilai tinggi, sementara yang lain harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk dilihat. Dalam konteks ini, ranking tidak sekadar mengukur dunia akademik, ia juga ikut membentuknya.

Selain itu, indikator seperti sitasi publikasi pun tidak sepenuhnya bebas dari bias. Ia sangat dipengaruhi oleh bahasa, bidang ilmu, dan jaringan global. Kampus yang aktif dalam publikasi internasional akan lebih diuntungkan, sementara penelitian yang berfokus pada konteks lokal sering kali kurang terlihat. Bahkan, fluktuasi indikator seperti citation per faculty dapat menunjukkan ketidakstabilan dalam penilaian.

Pada titik ini, menjadi jelas bahwa QS tidak hanya mengukur kualitas, tetapi juga visibilitas, siapa yang terlihat, siapa yang dikenal, dan siapa yang diakui.

Ketika Kampus Menyesuaikan Diri

Lalu di mana posisi UIN dalam lanskap ini?

Kenaikan peringkat UIN dapat dibaca sebagai keberhasilan adaptasi. Dalam beberapa tahun terakhir, UIN bergerak cepat: memperbanyak publikasi internasional, memperluas jejaring global, serta mengembangkan program-program yang lebih kompatibel dengan standar internasional. UIN, dalam banyak hal, sedang belajar “berbicara” dalam bahasa global.

Namun, justru di titik ini muncul kegelisahan yang lebih dalam. Ketika sebuah institusi terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan standar eksternal, ada risiko bahwa ia perlahan kehilangan arah internalnya. Kita mulai mengejar apa yang mudah diukur, dan perlahan melupakan apa yang sebenarnya penting.

Publikasi meningkat, tetapi apakah pemikiran menjadi lebih mendalam?
Kolaborasi internasional bertambah, tetapi apakah kebermanfaatan lokal ikut tumbuh?
Reputasi global naik, tetapi apakah otoritas keilmuan benar-benar menguat?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Namun, justru karena sulit diukur, ia sering kali diabaikan.

Apa yang Tidak Pernah Diukur

Di sinilah letak persoalan yang paling mendasar. QS dan sistem ranking global lainnya tidak pernah benar-benar mengukur keseluruhan makna pendidikan.

Dalam tradisi pendidikan Islam, kualitas sering kali terletak pada hal-hal yang tidak kasat mata: sanad keilmuan, kedalaman pemahaman, adab dalam belajar, serta relasi antara guru dan murid. Ilmu tidak hanya dilihat sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri.

Semua ini nyaris tidak memiliki tempat dalam sistem ranking global. Ia tidak bisa dikalkulasi, tidak bisa disurvei, dan tidak bisa diringkas menjadi angka.

Ironisnya, justru karena tidak terukur, ia menjadi tidak terlihat. Dan apa yang tidak terlihat, perlahan dianggap tidak penting.

Di titik ini, kita perlu jujur: QS World Ranking tidak sedang mengukur “segala hal”. Ia hanya mengukur hal-hal tertentu yang sesuai dengan logika akademik global hari ini. Masalahnya bukan pada QS itu sendiri, tetapi pada cara kita memaknainya.

Ketika ranking dijadikan tujuan, bukan sekadar alat, di situlah masalah mulai muncul.

Kenaikan peringkat UIN memang layak diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa kampus-kampus Islam mampu hadir dalam percakapan global. Namun, jika kita berhenti pada angka, kita berisiko kehilangan makna yang lebih dalam.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah kita naik peringkat, tetapi apakah kita naik arah.

Jika ranking hanya mengukur apa yang terlihat, maka tugas kita adalah menjaga agar yang tidak terlihat tetap hidup. Sebab di sanalah, barangkali, letak makna pendidikan yang sesungguhnya.

Referensi

Huang, M.H. (2012). Opening the Black Box of QS World University Rankings.

Anowar, F., et al. (2015). A Critical Review on World University Ranking in Terms of Top Four Ranking Systems.

QS World University Rankings Methodology Report.


SPMB SMP Sains An Najah Purwokerto Batch 2 masih DIBUKA! 📢

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

sil dan pos

Saat Liburan Menjadi Jalan Ilmu: Refleksi SIIL & POSS ke-20 Pesma An Najah

Liburan kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas, termasuk dari aktivitas belajar. Namun, Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto justru memberi makna lain: liburan adalah ruang untuk menumbuhkan diri. Semangat inilah yang mewarnai pembukaan Studi Islam Intensif Liburan dan Pekan Olahraga Seni Santri (SIIL & POSS) ke-20, yang digelar pada Kamis malam, 2 Januari 2026, di Masjid lantai 3 Pesma An Najah.

(Kajian Tematik: Membangun Jejaring Santri Gen Z di Era Digital)

Mengusung tema “Semarak Liburan Santri, Mengaji, dan Menginspirasi”, SIIL & POSS menjadi ikhtiar pesantren dalam menghadirkan liburan yang bernilai. Di tengah hiruk-pikuk pengumuman duniawi yang kerap menjanjikan kesuksesan instan, agenda ini justru menawarkan jalan keilmuan: kajian kitab kuning, kajian tematik, serta perlombaan yang diikuti seluruh santri sebagai sarana belajar, berlatih, dan bertumbuh.

(Kreativitas tanpa batas: Olahraga dan Edutainment)

Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB berlangsung khidmat. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, lurah pesantren, dan direktur Madrasah Diniyah. Puncak refleksi tersaji dalam Mau‘idhah Hasanah yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., sebelum ditutup dengan lantunan shalawat oleh Luthfunnajah.

Dalam mau‘idhahnya, beliau menegaskan bahwa mencari ilmu tidak mengenal kata libur. Bahkan, proses belajar telah dimulai jauh sebelum manusia lahir. Dalam perspektif Islam, pendidikan bersifat pranatal—sejak ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia empat bulan, pendengaran menjadi indera pertama yang dibuka. Artinya, belajar adalah proses seumur hidup (long life education), dari kandungan hingga akhir hayat.

Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang ingin sukses, tetapi tidak semua bersedia menempuh jalan kesuksesan. Sukses tidak hadir dengan menunggu, melainkan diikhtiarkan melalui strategi, mekanisme, dan prosedur yang benar. Dalam konteks seorang murid, kunci utamanya adalah irādah—kemauan yang kuat—dan ṭalabah, kesungguhan dalam mencari ilmu. Ciri orang yang berpotensi sukses, lanjut beliau, dapat dilihat dari sejauh mana ia merespons stimulus kehidupan secara total, menjadikan setiap simbol kehidupan sebagai pelajaran, dan tidak pernah merasa “selesai” dalam belajar.

(“Yang terpenting dari seorang murid adalah iradah dan thalabah” – K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.)

Namun ikhtiar tidak berdiri sendiri. Ada mekanisme spiritual yang menyertainya, yakni doa. Perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan ketergantungan kepada Allah menjadi fondasi penting dalam proses meraih keberhasilan.

Melalui SIIL & POSS ke-20, Pesantren Mahasiswa An Najah tidak hanya mengisi liburan santri dengan kegiatan, tetapi juga menanamkan kesadaran: bahwa belajar adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesungguhan, konsistensi, dan spiritualitas. Sebab yang terpenting dari seorang murid bukan sekadar capaian, melainkan kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh. (Sofi Amelia/Ketua Komunitas Pondok Pena)

muhammad-7571024_1280

Jalan Baru Rekontekstualisasi Tradisi, Ilmu, dan Spiritualitas: Review atas Buku “Filsafat Pendidikan Profetik” Karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik
Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik

Identitas Buku

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w.

Penulis : Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Penerbit : Pesma An Najah Press, Purwokerto

Terbit : September 2022

Cetakan : Kedua

Jumlah Halaman : xx + 390

Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Jenis Buku : Pendidikan

Editor : Abdul Wachid B.S.

Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w., karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. lahir dari kegelisahan atas perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang dikuasai Barat, serta adanya krisis sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membuat umat Islam seringkali berada dalam posisi terdesak. Sebagian komunitas muslim bereaksi dengan kebingungan, sementara sebagian lain bersikap pasif, merasa cukup dengan kebanggaan atas khazanah intelektual dan tradisi keagamaannya. Sikap statis yang menutup diri dari dinamika zaman ini kerap berakar pada kecenderungan pengkultusan tradisi (turats) maupun pemikiran keagamaan (taqdis al-afkār ad-dīniyy), sehingga dianggap tabu untuk direkonstruksi, apalagi didekonstruksi.

Dalam konteks inilah pendidikan profetik ditawarkan sebagai jawaban. Pendidikan profetik dipahami sebagai proses transfer ilmu dan nilai yang tidak hanya mendekatkan manusia pada Tuhan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan membangun komunitas sosial yang ideal. Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi, yang menjadi fondasi filosofis dan budaya profetik.

Tradisi sendiri menempati posisi penting dalam kerangka pendidikan profetik. Sebagai aspek subjektif budaya, tradisi tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Dalam konteks Islam di Indonesia, tradisi keagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk: tradisi Islam santri, tradisi Islam Jawa, dan tradisi Islam konvergensi. Pendidikan profetik berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, namun tetap memberi ruang pada konteks sosial, tradisi lokal, serta tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi pada keterampilan, etos kerja, dan vokasi lebih tepat menggunakan pendekatan teknologis daripada sekadar akademis atau humanistis.

Pendidik dalam kerangka profetik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengemban amanah Ilahiyah untuk membentuk umat yang cerdas, taat beribadah, dan berakhlak mulia. Umat dipandang sebagai komunitas sosial yang dinamis, memiliki visi yang jelas, bergerak melalui program nyata, dan dipimpin secara bijaksana. Dengan demikian, pendidikan profetik harus dibangun atas empat fondasi: komunitas, visi dan tujuan, gerak dinamis, serta kepemimpinan; semuanya dijiwai oleh tiga pilar utama tadi.

Keunikan buku ini terletak pada bagaimana Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. mengontekstualisasikan konsep pendidikan profetik melalui karya-karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai edukatif dalam sastra Tohari dapat dipetakan ke dalam tiga pilar profetik: transendensi, liberasi, dan humanisasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan profetik tidak hanya menjadi gagasan abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam wacana budaya lokal. Implikasi praktisnya, pendidikan profetik berlandaskan tauhid sebagai epistemologi, mengintegrasikan moral ketuhanan dengan ilmu pengetahuan, menghargai kearifan lokal (local wisdom), mendorong tradisi berpikir kritis, serta bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan sosial.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki keunggulan karena ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, dan didukung kajian pustaka yang cukup memadai. Lebih jauh, penggunaan karya Ahmad Tohari justru menjadi ciri khas dan keistimewaan buku ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan kekuatan gagasan Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. dalam menghubungkan filsafat pendidikan profetik dengan realitas budaya lokal Jawa, sehingga menjadikan pendidikan profetik lebih kontekstual, membumi, dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, santri, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan gagasan besar tentang pendidikan profetik sebagai arah transformasi pendidikan Islam yang lebih membumi dan kontekstual. (IS)

📍 Segera miliki buku ini di An Najah Book Store (WA: 0882-1487-4023)

IMG-20221010-WA0064 (1)

Dari Kesederhanaan Menuju Keberkahan : Perjalanan Hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.

(K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. memberikan potongan tumpeng Miladnya kepada Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., 16/08)

Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.

Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.

Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.

Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.

Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu

Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.

Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.

Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Menghormati Orang Tua dan Guru

Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.

Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.

Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.

Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta

Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.

Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.

Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.

Dari Anak Desa Menjadi Profesor

Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.

Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.

Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)