Man and rooster in quiet exchange

Ayam Jago Kakek

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso percaya bahwa ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Seperti lelaki yang tahu ke mana harus pulang, seekor ayam jago yang benar akan selalu kembali sendiri, dengan dada membusung dan taji yang bersih dari lumpur.

Dan Jalu memang selalu pulang.

Begitulah nama yang diberikan Kakek Warso pada ayam jagonya, Jalu. Bukan nama yang puitis, tapi nama yang jujur. Jalu adalah taji, dan seekor ayam jago hidup dengan tajinya. Kakek Warso tidak suka basa-basi, termasuk dalam soal penamaan.

Setiap pagi pukul empat, sebelum adzan shubuh pecah memenuhi udara, Jalu sudah bertengger di atas pagar kayu depan rumah. Kluruknya bukan sekadar bunyi, ia adalah pengumuman.

Bahwa hari baru telah tiba.

Bahwa si tua Warso boleh membuka mata.

Bahwa semesta masih bekerja sebagaimana mestinya.

Tiap pagi dan sore, Kakek Warso duduk di kursi kayu di depan rumahnya, kursi yang sama sejak istrinya meninggal dua belas tahun lalu. Lalu ia menaburkan dedak campur nasi basi ke lantai teras. Jalu makan dengan takzim. Kakek Warso menonton dengan tenang. Tidak ada yang dibicarakan.

Tidak ada yang perlu dibicarakan.

Tetangga-tetangga di Gang Melati Nomor Tiga sudah hafal ritual itu. Bu Lastri yang berjualan sayur di ujung gang kadang bilang,

“Pak Warso, kalau ayamnya mati duluan, bapak pasti ikutan.”

Kakek Warso hanya nyengir. Gigi depannya tinggal tiga.

Masalah dimulai pada suatu sabtu. Atau lebih tepatnya, masalah dimulai pada jumat malam, ketika sebuah truk pick-up berhenti di depan rumah kosong sebelah, menurunkan kardus-kardus, lemari kayu, dan satu unit televisi dua puluh inci yang dibungkus lakban cokelat.

Keluarga baru. Suami-istri muda. Mereka memperkenalkan diri sebagai Mas Udin dan Mbak Yanti. Ramah, senyumnya lebar, bawa martabak manis ketika bertegur sapa dengan Kakek Warso di pagar. Kakek Warso menerima martabak itu dengan ekspresi datar yang bisa berarti apa saja, terima kasih, atau curiga, atau keduanya.

Sabtu pagi tiba.

Pukul lima lewat tujuh menit, Kakek Warso terbangun bukan oleh kluruk Jalu, tapi oleh sunyi yang ganjil. Sunyi yang memiliki bobot. Sunyi yang berbunyi dengan caranya sendiri—yaitu dengan tidak berbunyi sama sekali.

Ia duduk di tepian ranjang. Menunggu. Satu menit. Dua menit.

Tidak ada kluruk.

Kakek Warso keluar ke teras. Pagar kayu itu kosong. Hanya ada embun yang menggenang di atas serat kayu tua, dan seekor cicak yang berjalan pelan seolah tidak ada urusan dengan kepanikan seorang kakek.

Jalu tidak ada.

Kakek Warso berkeliling halaman. Memeriksa kebun singkong di belakang. Mengintip kolong rumah. Memanggil dengan suara yang lebih mirip rintihan daripada panggilan: “Jalu… Jalu…”

Tidak ada jawaban.

Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Aroma santan yang mendidih, daun salam, lengkuas yang dimemarkan, dan, di balik semua itu, aroma daging yang dimasak perlahan hingga lunak. Aroma itu mengambang dari arah rumah sebelah. Rumah Mas Udin dan Mbak Yanti yang baru saja pindah kemarin malam.

Kakek Warso berdiri mematung.

Ia menghitung dalam hatinya. Ayam hilang. Tetangga baru. Tetangga baru memasak ayam. Aroma santan. Opor.

Matematika sederhana. Kesimpulan yang, bagi Kakek Warso saat itu, terasa sekeras bata.

Belum selesai ia menarik napas untuk berteriak, pintu rumah sebelah terbuka. Mbak Yanti muncul dengan senyum selebar fajar, membawa mangkok putih berisi opor yang mengepul. Kuahnya kuning kecokelatan, kental, dan di dalamnya, ya, di dalamnya, ada potongan ayam yang warnanya sudah tidak bisa membohongi siapa pun.

“Pak Warso, ini kami bawakan opor. Ayam jago, biar tetangga kenal-kenalan,” kata Mbak Yanti sambil menyorongkan mangkok itu.

Kakek Warso menatap mangkok itu. Lalu menatap perempuan muda itu. Lalu menatap mangkok lagi. Di dalam otaknya, api mulai menyala dengan kecepatan yang tidak seimbang dengan usianya.

“Ini ayam saya!”

Suara Kakek Warso membelah pagi Gang Melati Nomor Tiga seperti petasan yang disulut di ruangan sempit. Mbak Yanti terlompat. Mangkok hampir jatuh.

“Pak, pak, ini kami beli di pasar”

“Pasar apa! Ayam saya hilang pagi ini! Ini Jalu saya, saya kenal dagingnya!”

Tentu saja tidak ada manusia yang bisa mengenali dagingnya sendiri setelah dimasak dengan santan dan kunyit. Tapi Kakek Warso sedang tidak berada dalam kondisi untuk berdebat soal epistemologi.

Mas Udin keluar. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya belum disisir, mungkin belum sempat cuci muka. Ia memandang istrinya, memandang Kakek Warso, memandang mangkok opor yang kini jadi barang bukti.

“Pak, beneran itu kami beli tadi malam di pasar malam”

“Bohong! Tetangga baru langsung nyolong ayam orang! Ini namanya apa?! Tidak punya adab! Tidak punya sopan santun! Masuk kampung langsung maling!”

Beberapa pintu rumah mulai terbuka. Kepala-kepala menjulur. Anak-anak kecil berdiri di balik kaki ibu mereka dengan mata yang bersinar penasaran,.karena keributan di pagi hari selalu lebih menarik daripada kartun.

Mbak Yanti hampir menangis. Mas Udin menelan ludah berkali-kali. Tidak ada kalimat yang cukup tepat untuk menghadapi seorang kakek yang naik pitam sebelum sarapan.

Dari ujung gang, langkah sandal jepit berbunyi pelan tapi pasti. Nenek Sarmi, tetangga Kakek Warso yang lain, perempuan tujuh puluh tahunan yang punggungnya sudah sedikit melengkung tapi matanya masih awas seperti elang kampung, datang sambil mengeringkan tangan di kain jariknya.

 

“Pak Warso,” katanya. Suaranya datar seperti aspal.

“Ayam sampeyan dari tadi pagi nguber, nguber si Lastri.”

 

Hening sejenak.

 

“Nguber siapa?”

 

“Lastri. Ayam betina saya. Yang berbulu hitam. Dari jam setengah lima Jalu sudah ada di kandang saya, nguber-nguber Lastri muter-muter. Tidak saya usir karena saya kira Pak Warso sudah tahu.”

Semua orang yang menonton dari pintu masing-masing tiba-tiba mengeluarkan suara bermacam-macam, ada yang tertawa tertahan, ada yang berdehem, ada yang pura-pura sibuk menyapu teras.

Dan tepat pada saat itulah, seolah semesta memang suka dramaturgi, Jalu muncul dari arah rumah Nenek Sarmi. Jalannya sedikit sempoyongan, bukan karena sakit, tapi karena kelelahan yang memuaskan. Bulunya sedikit awut-awutan. Matanya sipit. Tapi dadanya tetap membusung, sebagaimana semestinya seekor ayam jago yang baru menyelesaikan urusannya.

Jalu berjalan melintasi halaman tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan, naik ke teras, lalu bertengger di pagar kayu, seolah ia baru kembali dari liburan singkat yang sangat pribadi dan tidak merasa perlu memberikan penjelasan kepada siapa pun.

Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada ekspresi bersalah. Hanya dada yang membusung dan mata yang sedikit mengantuk.

Kakek Warso berdiri lama di depan pagar itu. Mangkok opor masih di tangannya. Uapnya sudah tidak sehangat tadi.

Ia menatap Mbak Yanti. Perempuan muda itu sudah tidak hampir menangis lagi, tapi matanya masih sedikit merah.

Kakek Warso menggumam sesuatu yang tidak jelas. Mungkin permintaan maaf. Mungkin bukan. Bahasa Kakek Warso memang tidak pernah terlalu terang dalam soal-soal yang memalukan.

Yang jelas, ia kemudian masuk ke dapur, mengambil piring, memindahkan sebagian opor ke piringnya sendiri, lalu kembali ke teras dan makan dengan pelan.

Opor itu enak. Santannya pas. Dagingnya empuk. Ayam pasar memang beda dengan ayam kampung, tapi tetap saja enak bila dimasak dengan benar.

Jalu bertengger di pagar, sesekali menengok ke arah Kakek Warso, lalu menengok ke arah rumah nenek Sarmi dengan tatapan, kalau ayam bisa punya tatapan seperti itu, yang bisa disebut penuh kenangan.

Nenek Sarmi lewat sambil membawa ember cucian. Ia melirik Kakek Warso sebentar, lalu berkata pelan tapi cukup keras untuk didengar: “Lain kali tanya dulu, Pak. Baru marah.”

Kakek Warso tidak menjawab. Ia mengambil sesuap opor lagi.

Di ujung gang, Mbak Yanti berbisik kepada suaminya: “Mas, kita pindah ke sini sudah disambut ribut. Tanda apa ini?”

Mas Udin berpikir sebentar. “Tanda kita sudah benar-benar jadi warga Gang Melati, Yan.”

Dan pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga kembali sunyi, sunyi yang berbeda dari sunyi tadi, karena kini ia berisi sebuah kisah yang akan diceritakan ulang bertahun-tahun kemudian, setiap kali ada yang bertanya:

siapa itu si Jalu?

———————-

Baturraden, 9 April 2026

Mencari harapan di tengah kenyataan

Apakah Lulusan UIN Sulit untuk Mencari Kerja? Membaca Atas Realitas Sosial

Oleh: Farraz Azzahy Setiaji

Belakangan ini, isu liar yang menyangkut kampus keagamaan (sebut saja UIN) menjadi perbincangan hangat. perbincangan ini di fokuskan kepada pertanyaan mendasar, apakah lulusan UIN susah untuk mencari kerja? atau bahkan mudah mencari kerja?.

‎Asumsi tersebut dilatarbelakangi karena jurusan UIN yang semakin banyak dan ‘kurang’ relevan dengan kebutuhan industri sehingga kebanyakan mahasiswa khususnya dalam ranah akhir kesulitan mencari kerja karena jurusan mereka tidak ada dalam list kebutuhan industri tersebut.

‎Untuk itu, bagaimana kita seorang lulusan UIN membaca atas realitas tersebut? disini penulis akan sedikit membedah secara objektif maupun subjektif supaya perbincangan ini tidak stuck begitu saja.

‎Kemana sebenarnya arah UIN?

‎Sebelum masuk ke isu hangat diatas, kita bedah terlebih dahulu dengan pertanyaan mendasar, apa sih yang di pelajari dalam kampus UIN? apakah sebagai penyalur teori industri berkelanjutan atau terfokus pada keagamaan saja?

Pertama, dalam segi keilmuan, UIN tergolong kampus mumpuni yang terfokus pada dunia studi Islam, mengingat kompleksitas Islam yang sangat luas maka diperlukan ketajaman berpikir dan memecahkan masalah pada masyarakat awam. posisi UIN disini menjadi penting, mengapa penting? disatu sisi untuk melestarikan keilmuan Islam, disatu sisi yang lain berfokus terhadap pemecahan masalah dalam bidang agama yang tergolong rumit.

contoh, masyarakat kesulitan untuk memahami kandungan Al-Quran, disini UIN khususnya prodi tafsir menjawab kesulitan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami serta mengarahkan masyarakat supaya tidak salah tafsir. hal ini lah yang menjadi pembeda antara UIN dan kampus yang lain.

Kedua, jika dibandingkan dengan PTN jelas berbeda arah keilmuan, setiap kampus pasti memiliki alasan dibukanya jurusan tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. apakah UIN penyalur industri? jawabannya mungkin iya, (untuk saat sekarang) karena kurun waktu perkembangan UIN tidak hanya dilihat dari agamanya saja, melainkan dapat mengintegrasikan ilmu yang lain seperti, sosial-humaniora, informatika, Ilmu sains (kimia, fisika, biologi, matematika) mulai bermunculan. integrasi tersebut lah yang menjadikan alasan UIN ‘mampu’ menjawab kebutuhan industri masa kini.

Lalu, apakah stigma ‘sulit mencari kerja’ terus menempel pada kampus UIN?

‎apabila dilihat dari segi objektif, banyak juga lulusan PTN maupun PTKIN yang sama-sama sulit mencari kerja. penulis melakukan wawancara sederhana terhadap salah satu aktivis-akademis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia memberikan pernyataan terkait isu ini meliputi;

kemungkinan pertama, asumsi diatas tepat, secara objektif, bukan hanya lulusan UIN, namun kampus umum yang memiliki segudang prestasi dan ‘nama’ baik di Indonesia juga tidak bisa menjamin. Hal ini di pengaruhi oleh kesiapan mahasiswa terhadap dunia kerja. Semakin sering berlatih dan mencari peluang, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap mahasiswa ntah dari kampus terbaik maupun biasa saja, juga mampu berkecimpung di dunia kerja.

kemungkinan kedua, asumsi diatas kurang tepat, setiap kampus memiliki kegelisahan akademik sendiri, memiliki kekhasan masing-masing. Kampus UIN cenderung melakukan pemecahan masalah dari sudut pandang agama, sedangkan kampus umum cenderung kepada pemecahan masalah secara sosial, sains dan humaniora.

Setiap kampus juga mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat serta dimensi industri dengan mengintegrasikan keilmuan sesuai dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kembali lagi kepada diri mahasiswa, siap untuk menerima perkembangan tersebut atau justru stuck terhadap dinamisnya dunia.

Bagaimana solusinya?

Mungkin solusi ini tidak bisa memberikan sesuatu yang konkrit, namun saran ini mungkin bisa diterima oleh beberapa mahasiswa terutama kecemasan-kecemasan kesulitan mencari kerja.

Pertama, tentukan arah yang jelas, hal ini penting sebagai pondasi utama dalam belajar di dunia perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa masuk terhadap jurusan tersebut masih seringkali kebingungan menentukan arah sehingga menyesal di kemudian hari.

Kedua, asah soft skill sejak masuk kampus. Kampus adalah ladang yang sangat luas dan peluang yang sangat banyak. Sangat disayangkan ketika mahasiswa diberikan privilege untuk masuk dalam dunia perkuliahan tidak bisa memanfaatkan hal tersebut.

Ketiga, menghidari kecemasan berlebihan. Kebanyakan mahasiswa tidak siap untuk bekerja faktor utama adalah rasa ‘cemas’ padahal untuk mendapatkan pekerjaan harus disiapkan, dicoba secara berkala serta selalu melihat peluang yang tersedia.

Dengan solusi diatas, jika diterapkan mungkin stigma mahasiswa UIN ‘sulit’ cari kerja hanyalah sebatas asumsi belaka, tidak salah kampus memiliki banyak jurusan, semua tergantung diri seorang mahasiswa, apakah siap kita sebagai lulusan UIN untuk bekerja? Atau kita terus menyalahkan keadaan, padahal yang menjadi masalah utama adalah kemalasan kita dalam mencari peluang di kampus UIN yang besar.

Akhir kata, semoga dengan tulisan ini, penulis berharap kepada pembaca dapat merefleksikan diri, asumsi judul diatas mungkin hanya sebatas ‘angin’ belaka. Kita diberi privilege lebih dan dimanfaatkan secara baik dan bijaksana.

 

Daftar Pustaka

Artikel; https://uinbanten.ac.id/stigma-atau-realita-menimbang-posisi-lulusan-uin-iain-di-dunia-kerja/

Wawancara dengan salah satu aktivis-akademis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Artikel: https://id.quora.com/Apakah-lulusan-prodi-umum-di-UIN-susah-dapet-kerja

Tentang Penulis

Farraz Azzahy Setiaji

Farraz Azzahy Setiaji adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam perjalanan intelektual, menekuni pada bidang studi islam dan hermeneutika Al-Qur’an. Pernah menjuarai kompetisi ilmiah nasional mahasiswa ushuludin (KINMU 2025) dan perlombaan artikel lainnya. Penulis dapat dihubungi via,  Email: farrazazzahyy@gmail.com , Telp. 085226271268.

White Orange Social Media Marketing Live Webinar Youtube Thumbnail (Website) (1)

QS World Ranking: Ketika UIN Jakarta, Yogyakarta, dan Malang Naik Peringkat, Apa yang Sebenarnya Dinilai?

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag.

Euforia yang Perlu Dipertanyakan

Belakangan ini, kabar tentang naiknya peringkat kampus-kampus Indonesia di level global terasa seperti angin segar. Apalagi ketika nama-nama seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai muncul dalam percakapan tentang QS World University Rankings. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan, seolah-olah kita akhirnya “diakui” oleh dunia.

Namun, di tengah euforia itu, ada satu pertanyaan yang justru jarang diajukan: ketika peringkat itu naik, apa sebenarnya yang sedang dinilai?

Pertanyaan ini penting, karena kita sering kali menerima ranking sebagai sesuatu yang netral, objektif, dan tak terbantahkan. Seolah-olah angka-angka itu berbicara sendiri. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa sistem pemeringkatan global bukan sekadar cermin realitas, melainkan konstruksi yang dibentuk oleh indikator, metodologi, dan asumsi tertentu tentang apa itu “universitas yang baik”.

Ranking, Reputasi, dan Ilusi Objektivitas

Dalam kasus QS, sebagian besar penilaian justru bertumpu pada reputasi. Sekitar 40 persen bobotnya berasal dari survei akademisi yang diminta menilai universitas mana yang mereka anggap terbaik.  Artinya, yang diukur bukan hanya kualitas, tetapi persepsi tentang kualitas. Dan persepsi tidak pernah benar-benar netral.

Reputasi cenderung mengikuti pola yang sudah mapan. Universitas yang sudah lama dikenal akan terus diingat dan dinilai tinggi, sementara yang lain harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk dilihat. Dalam konteks ini, ranking tidak sekadar mengukur dunia akademik, ia juga ikut membentuknya.

Selain itu, indikator seperti sitasi publikasi pun tidak sepenuhnya bebas dari bias. Ia sangat dipengaruhi oleh bahasa, bidang ilmu, dan jaringan global. Kampus yang aktif dalam publikasi internasional akan lebih diuntungkan, sementara penelitian yang berfokus pada konteks lokal sering kali kurang terlihat. Bahkan, fluktuasi indikator seperti citation per faculty dapat menunjukkan ketidakstabilan dalam penilaian.

Pada titik ini, menjadi jelas bahwa QS tidak hanya mengukur kualitas, tetapi juga visibilitas, siapa yang terlihat, siapa yang dikenal, dan siapa yang diakui.

Ketika Kampus Menyesuaikan Diri

Lalu di mana posisi UIN dalam lanskap ini?

Kenaikan peringkat UIN dapat dibaca sebagai keberhasilan adaptasi. Dalam beberapa tahun terakhir, UIN bergerak cepat: memperbanyak publikasi internasional, memperluas jejaring global, serta mengembangkan program-program yang lebih kompatibel dengan standar internasional. UIN, dalam banyak hal, sedang belajar “berbicara” dalam bahasa global.

Namun, justru di titik ini muncul kegelisahan yang lebih dalam. Ketika sebuah institusi terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan standar eksternal, ada risiko bahwa ia perlahan kehilangan arah internalnya. Kita mulai mengejar apa yang mudah diukur, dan perlahan melupakan apa yang sebenarnya penting.

Publikasi meningkat, tetapi apakah pemikiran menjadi lebih mendalam?
Kolaborasi internasional bertambah, tetapi apakah kebermanfaatan lokal ikut tumbuh?
Reputasi global naik, tetapi apakah otoritas keilmuan benar-benar menguat?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Namun, justru karena sulit diukur, ia sering kali diabaikan.

Apa yang Tidak Pernah Diukur

Di sinilah letak persoalan yang paling mendasar. QS dan sistem ranking global lainnya tidak pernah benar-benar mengukur keseluruhan makna pendidikan.

Dalam tradisi pendidikan Islam, kualitas sering kali terletak pada hal-hal yang tidak kasat mata: sanad keilmuan, kedalaman pemahaman, adab dalam belajar, serta relasi antara guru dan murid. Ilmu tidak hanya dilihat sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri.

Semua ini nyaris tidak memiliki tempat dalam sistem ranking global. Ia tidak bisa dikalkulasi, tidak bisa disurvei, dan tidak bisa diringkas menjadi angka.

Ironisnya, justru karena tidak terukur, ia menjadi tidak terlihat. Dan apa yang tidak terlihat, perlahan dianggap tidak penting.

Di titik ini, kita perlu jujur: QS World Ranking tidak sedang mengukur “segala hal”. Ia hanya mengukur hal-hal tertentu yang sesuai dengan logika akademik global hari ini. Masalahnya bukan pada QS itu sendiri, tetapi pada cara kita memaknainya.

Ketika ranking dijadikan tujuan, bukan sekadar alat, di situlah masalah mulai muncul.

Kenaikan peringkat UIN memang layak diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa kampus-kampus Islam mampu hadir dalam percakapan global. Namun, jika kita berhenti pada angka, kita berisiko kehilangan makna yang lebih dalam.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah kita naik peringkat, tetapi apakah kita naik arah.

Jika ranking hanya mengukur apa yang terlihat, maka tugas kita adalah menjaga agar yang tidak terlihat tetap hidup. Sebab di sanalah, barangkali, letak makna pendidikan yang sesungguhnya.

Referensi

Huang, M.H. (2012). Opening the Black Box of QS World University Rankings.

Anowar, F., et al. (2015). A Critical Review on World University Ranking in Terms of Top Four Ranking Systems.

QS World University Rankings Methodology Report.


SPMB SMP Sains An Najah Purwokerto Batch 2 masih DIBUKA! 📢

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

IMG_0061

Pelantikan Pengurus Pesma An Najah 2026: Integrasi Kepemimpinan, Kaderisasi Kuat, dan Kolaborasi sebagai Kunci Kemajuan

AnnajahNews– Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto secara resmi melantik jajaran pengurus baru yang terdiri dari Pengurus Pusat, Madrasah Diniyyah, Pengurus Komplek, serta OSMA (Organisasi Santri Mahasiswa). Prosesi pelantikan dilaksanakan di serambi Masjid Pesma An Najah dan dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesma, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag (4/4).

Pelantikan ini menjadi momentum strategis dalam melanjutkan estafet kepemimpinan sekaligus memperkuat sistem organisasi yang adaptif dan inklusif. Dalam struktur terbaru, Pengurus Pusat dibentuk secara integratif antara santri putra dan putri, sebagai wujud sinergi, kesetaraan, dan penguatan tata kelola organisasi berbasis kolaborasi.

Adapun yang dilantik sebagai Lurah Pesma An Najah Purwokerto Masa Khidmat 2026/2027 adalah Najah Puput Masruri, yang diharapkan mampu mengemban amanah kepemimpinan dengan visi yang progresif dan integratif. Sementara itu, posisi Direktur Madrasah Diniyyah (Madin) Pesma An Najah Purwokerto Masa Khidmat 2026/2027 diamanahkan kepada Amin Ma’ruf, yang akan mengawal penguatan tradisi keilmuan dan pendidikan keagamaan di lingkungan Pesma.

Serah terima jabatan Pengurus Pesma An Najah Purwokerto (4/4).

Pada kesempatan tersebut, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. menyampaikan lima pesan kunci yang sarat makna dan relevansi kontekstual bagi para pengurus yang baru dilantik.

Pertama, kepemimpinan adalah amanah yang berkaitan erat dengan iman, aman, dan imun.
Kepemimpinan tidak sekadar jabatan struktural, tetapi merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Iman menjadi fondasi moral, “aman” mencerminkan kemampuan menghadirkan rasa kepercayaan dan ketenangan dalam organisasi, sementara “imun” menunjukkan ketahanan pemimpin dari godaan penyimpangan, konflik, dan kepentingan pribadi.

Kedua, kaderisasi adalah keniscayaan dalam kehidupan organisasi.
Setiap individu harus siap dalam tiga fase: siap memimpin, siap digantikan, dan siap “lengser”. Prinsip ini menegaskan pentingnya regenerasi yang sehat. Organisasi yang ingin terus maju harus memiliki sistem kaderisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Ketiga, menumbuhkan mental “jika orang lain bisa, saya juga bisa.”
Semangat ini menjadi energi penting dalam membangun kepercayaan diri dan daya juang. Ikhtiar maksimal perlu disertai kesadaran bahwa takdir memiliki jalannya sendiri—dan pada akhirnya, setiap orang akan menemukan perannya masing-masing.

Keempat, kesuksesan akan lebih mudah diraih melalui kolaborasi.
Tidak ada keberhasilan besar yang dicapai secara individual. Sinergi antar pengurus, lintas unit, serta kekompakan tim menjadi fondasi utama dalam mewujudkan program yang berdampak.

Kelima, tidak ada sosok hebat dan berpengaruh tanpa organisasi.
Organisasi merupakan ruang pembelajaran dan penggemblengan kepemimpinan. Dari sinilah lahir pribadi-pribadi yang tangguh, visioner, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pelantikan ini diharapkan menjadi titik awal bagi para pengurus untuk menjalankan amanah dengan penuh integritas, tanggung jawab, dan semangat pengabdian. Dengan kepemimpinan yang integratif serta kaderisasi yang kuat, Pesma An Najah Purwokerto optimis mampu melahirkan generasi santri mahasiswa yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi luas bagi umat dan bangsa. (IS)


*SPMB SMP Sains An Najah Purwokerto Batch 2 masih DIBUKA! 📢*

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

#SMPSainsAnNajah #AnNajah #pesmaannajah

sil dan pos

Saat Liburan Menjadi Jalan Ilmu: Refleksi SIIL & POSS ke-20 Pesma An Najah

Liburan kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas, termasuk dari aktivitas belajar. Namun, Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto justru memberi makna lain: liburan adalah ruang untuk menumbuhkan diri. Semangat inilah yang mewarnai pembukaan Studi Islam Intensif Liburan dan Pekan Olahraga Seni Santri (SIIL & POSS) ke-20, yang digelar pada Kamis malam, 2 Januari 2026, di Masjid lantai 3 Pesma An Najah.

(Kajian Tematik: Membangun Jejaring Santri Gen Z di Era Digital)

Mengusung tema “Semarak Liburan Santri, Mengaji, dan Menginspirasi”, SIIL & POSS menjadi ikhtiar pesantren dalam menghadirkan liburan yang bernilai. Di tengah hiruk-pikuk pengumuman duniawi yang kerap menjanjikan kesuksesan instan, agenda ini justru menawarkan jalan keilmuan: kajian kitab kuning, kajian tematik, serta perlombaan yang diikuti seluruh santri sebagai sarana belajar, berlatih, dan bertumbuh.

(Kreativitas tanpa batas: Olahraga dan Edutainment)

Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB berlangsung khidmat. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, lurah pesantren, dan direktur Madrasah Diniyah. Puncak refleksi tersaji dalam Mau‘idhah Hasanah yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., sebelum ditutup dengan lantunan shalawat oleh Luthfunnajah.

Dalam mau‘idhahnya, beliau menegaskan bahwa mencari ilmu tidak mengenal kata libur. Bahkan, proses belajar telah dimulai jauh sebelum manusia lahir. Dalam perspektif Islam, pendidikan bersifat pranatal—sejak ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia empat bulan, pendengaran menjadi indera pertama yang dibuka. Artinya, belajar adalah proses seumur hidup (long life education), dari kandungan hingga akhir hayat.

Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang ingin sukses, tetapi tidak semua bersedia menempuh jalan kesuksesan. Sukses tidak hadir dengan menunggu, melainkan diikhtiarkan melalui strategi, mekanisme, dan prosedur yang benar. Dalam konteks seorang murid, kunci utamanya adalah irādah—kemauan yang kuat—dan ṭalabah, kesungguhan dalam mencari ilmu. Ciri orang yang berpotensi sukses, lanjut beliau, dapat dilihat dari sejauh mana ia merespons stimulus kehidupan secara total, menjadikan setiap simbol kehidupan sebagai pelajaran, dan tidak pernah merasa “selesai” dalam belajar.

(“Yang terpenting dari seorang murid adalah iradah dan thalabah” – K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.)

Namun ikhtiar tidak berdiri sendiri. Ada mekanisme spiritual yang menyertainya, yakni doa. Perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan ketergantungan kepada Allah menjadi fondasi penting dalam proses meraih keberhasilan.

Melalui SIIL & POSS ke-20, Pesantren Mahasiswa An Najah tidak hanya mengisi liburan santri dengan kegiatan, tetapi juga menanamkan kesadaran: bahwa belajar adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesungguhan, konsistensi, dan spiritualitas. Sebab yang terpenting dari seorang murid bukan sekadar capaian, melainkan kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh. (Sofi Amelia/Ketua Komunitas Pondok Pena)

muhammad-7571024_1280

Jalan Baru Rekontekstualisasi Tradisi, Ilmu, dan Spiritualitas: Review atas Buku “Filsafat Pendidikan Profetik” Karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik
Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik

Identitas Buku

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w.

Penulis : Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Penerbit : Pesma An Najah Press, Purwokerto

Terbit : September 2022

Cetakan : Kedua

Jumlah Halaman : xx + 390

Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Jenis Buku : Pendidikan

Editor : Abdul Wachid B.S.

Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w., karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. lahir dari kegelisahan atas perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang dikuasai Barat, serta adanya krisis sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membuat umat Islam seringkali berada dalam posisi terdesak. Sebagian komunitas muslim bereaksi dengan kebingungan, sementara sebagian lain bersikap pasif, merasa cukup dengan kebanggaan atas khazanah intelektual dan tradisi keagamaannya. Sikap statis yang menutup diri dari dinamika zaman ini kerap berakar pada kecenderungan pengkultusan tradisi (turats) maupun pemikiran keagamaan (taqdis al-afkār ad-dīniyy), sehingga dianggap tabu untuk direkonstruksi, apalagi didekonstruksi.

Dalam konteks inilah pendidikan profetik ditawarkan sebagai jawaban. Pendidikan profetik dipahami sebagai proses transfer ilmu dan nilai yang tidak hanya mendekatkan manusia pada Tuhan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan membangun komunitas sosial yang ideal. Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi, yang menjadi fondasi filosofis dan budaya profetik.

Tradisi sendiri menempati posisi penting dalam kerangka pendidikan profetik. Sebagai aspek subjektif budaya, tradisi tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Dalam konteks Islam di Indonesia, tradisi keagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk: tradisi Islam santri, tradisi Islam Jawa, dan tradisi Islam konvergensi. Pendidikan profetik berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, namun tetap memberi ruang pada konteks sosial, tradisi lokal, serta tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi pada keterampilan, etos kerja, dan vokasi lebih tepat menggunakan pendekatan teknologis daripada sekadar akademis atau humanistis.

Pendidik dalam kerangka profetik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengemban amanah Ilahiyah untuk membentuk umat yang cerdas, taat beribadah, dan berakhlak mulia. Umat dipandang sebagai komunitas sosial yang dinamis, memiliki visi yang jelas, bergerak melalui program nyata, dan dipimpin secara bijaksana. Dengan demikian, pendidikan profetik harus dibangun atas empat fondasi: komunitas, visi dan tujuan, gerak dinamis, serta kepemimpinan; semuanya dijiwai oleh tiga pilar utama tadi.

Keunikan buku ini terletak pada bagaimana Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. mengontekstualisasikan konsep pendidikan profetik melalui karya-karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai edukatif dalam sastra Tohari dapat dipetakan ke dalam tiga pilar profetik: transendensi, liberasi, dan humanisasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan profetik tidak hanya menjadi gagasan abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam wacana budaya lokal. Implikasi praktisnya, pendidikan profetik berlandaskan tauhid sebagai epistemologi, mengintegrasikan moral ketuhanan dengan ilmu pengetahuan, menghargai kearifan lokal (local wisdom), mendorong tradisi berpikir kritis, serta bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan sosial.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki keunggulan karena ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, dan didukung kajian pustaka yang cukup memadai. Lebih jauh, penggunaan karya Ahmad Tohari justru menjadi ciri khas dan keistimewaan buku ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan kekuatan gagasan Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. dalam menghubungkan filsafat pendidikan profetik dengan realitas budaya lokal Jawa, sehingga menjadikan pendidikan profetik lebih kontekstual, membumi, dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, santri, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan gagasan besar tentang pendidikan profetik sebagai arah transformasi pendidikan Islam yang lebih membumi dan kontekstual. (IS)

📍 Segera miliki buku ini di An Najah Book Store (WA: 0882-1487-4023)

IMG-20221010-WA0064 (1)

Dari Kesederhanaan Menuju Keberkahan : Perjalanan Hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.

(K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. memberikan potongan tumpeng Miladnya kepada Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., 16/08)

Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.

Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.

Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.

Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.

Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu

Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.

Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.

Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Menghormati Orang Tua dan Guru

Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.

Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.

Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.

Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta

Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.

Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.

Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.

Dari Anak Desa Menjadi Profesor

Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.

Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.

Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)

gema solawat

Peringati Maulid Nabi Muhammad Saw., dan Milad Luthfunnajah, Pesma An Najah Gelar Gema Sholawat

AnnajahNews – 19 September 2024 — Pada malam Kamis yang lalu, Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah berhasil menggelar acara Gema Sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad Luthfunnajah yang ke-10. Acara yang bertajuk “Menumbuhkan Jiwa Harmoni dalam Kiprah Maulid Nabi” ini dilaksanakan dengan meriah di Masjid Baitul Mu’min, dihadiri oleh ratusan santri, anggota masyarakat, dan penggemar seni hadrah.

Rangkaian acara dimulai dengan Mauidoh Hasanah oleh Pengasuh Pesma An Najah, dalam sambutannya, menekankan pentingnya acara ini sebagai momentum untuk merenungkan ajaran-ajaran Nabi dan menumbuhkan rasa cinta serta persatuan di antara umat. “Kami ingin menjadikan acara ini sebagai wadah untuk memperkuat ukhuwah dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Mari kita tingkatkan cinta kita kepada Nabi dengan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari,”

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat yang dipimpin oleh santri, menggugah semangat dan kehangatan di antara para peserta. Suara merdu dan syahdu memenuhi masjid, menyatukan hati dan jiwa dalam mengagungkan nama Nabi. Peserta dari berbagai usia tampak antusias mengikuti rangkaian sholawat, yang menandakan betapa besarnya cinta mereka terhadap Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya itu, peserta juga diajak untuk berdoa bersama, memohon kepada Allah SWT agar masyarakat diberkahi dengan kedamaian dan keharmonisan. Suasana khidmat terasa saat setiap orang menutup mata, menyatukan harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik.

Acara ini juga menjadi kesempatan bagi santri dan warga untuk saling berkenalan dan berbagi pengalaman. Banyak peserta yang menyatakan rasa syukur bisa berpartisipasi dalam perayaan yang penuh makna ini. “Saya merasa sangat terinspirasi dan termotivasi setelah mengikuti acara ini. Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar salah satu santri.

Sebagai penutup, acara Gema Sholawat ini diakhiri dengan pembacaan doa bersama, mengharapkan agar semangat harmoni terus terjalin di antara seluruh peserta. Pesma An Najah berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serupa, sebagai bentuk cinta kepada Nabi dan upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat.

Dengan kesuksesan acara ini, Pesma An Najah berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis, serta mengajak semua pihak untuk bersatu dalam misi mencintai dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mari bersama-sama kita jaga dan perkuat ukhuwah di tengah masyarakat demi masa depan yang lebih baik! (Annisa Lutfiana)

pagar kenabian

“Mengintip Makna dari Celah Pagar Kenabian”

Oleh: Iis Sugiarti

Puisi “Pagar Kenabian” Karya Sofyan RH. Zaid: Manifestasi Sastra Pesantren Kontemporer

Membaca buku kumpulan puisi “Pagar Kenabian” karya Sofyan RH. Zaid kita akan disuguhi puisi-puisi yang secara estetik mempunyai keunikan tersendiri dan terbilang keluar dari konvensi perpuisian yang telah ada. Mengapa demikian? mari kita lihat bentuk fisik puisi “Ziarah”, berikut:

ZIARAH

dari kubur ke kubur # diri hancur dan lebur
bunga kenanga gugur # kicau burung melipur
:aku siapa? # kau siapa?
siapa nama? # siapa sukma

aku dihempas daun # seperti butiran embun
tersungkur ke nisan # air mata berserakan
rintih menulis dosa # usia yang luka
baris demi baris # ingatan jadi giris
;ada yang tak terungkap # sebab tak sanggup mengucap

dari kubur ke kubur # badan pun tanah kapur

2013

Secara eksplisit telah tampak dalam puisi tersebut terdapat perbedaan secara fisik dengan puisi-puisi kontemporer lainnya. Yakni adanya tanda pagar di tengah-tengah kalimat sebagai pembatas dan penggunaan rima yang sama antara sebelum dan sesudah tanda pagar. Hal tersebut membangun kekuatan estetik yang unik dan enak dibaca. Sofyan menyebutnya “Puisi Nadham dalam Tanda Kutip”.

Nadham atau ‘nazam’ menurut KBBI adalah puisi yang berasal dari Parsi, terdiri atas dua belas larik, berima dua-dua atau empat-empat, isinya perihal hamba sahaya istana yang setia dan budiman. Di dalam mukodimah Pagar Kenabian Sofyan, menyebutkan bahwa nadham subur berkembang di pesantren dan memiliki fungsi penting dalam kurikulum pesantren. Dalam hal ini adalah penggunaan kitab-kitab yang berbentuk nadham sebagai bahan ajar untuk santri.

Beberapa waktu lalu Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto mengadakan Lomba Cipta Esai Nasional yakni Pesantren Menulis 3, dengan mengangkat tema “Membangkitkan Sastra Pesantren”. Yang kemudian lahirlah buku antologi esai dengan judul “Revitalisasi Sastra Pesantren”. Setelah saya baca, saya berkesimpulan bahwa sebagian besar penulis menyampaikan bahwa nadham adalah akar dari kesusastraan sastra pesantren di Indonesia. Yakni karya-karya para ulama yang ditulis dalam bentuk nadham, seperti Nadham Al-Fiyah, Nadham ‘Imrithi, Burdah, Diba’, Al Barzanji, dsb. Kebiasaan santri membaca nadham-nadham tersebutlah yang memberikan spirit santri dalam bersastra. Seperti yang dikatakan oleh A’yat Khalili (Moh. Roqib, Dkk: 2016) dalam esainya menyebutkan,

“Segala materi dan pelajaran (di pesantren) sampai ke norma-norma selalu menyimpan sentuhan nilai sastrawi, apalagi pada kitab-kitab yang dikaji, berisi syiiran, burdah, nadhaman sebagai suatu formasi dan materi pembiasaan bersyair, bershalawat,  menyanyi/melagukan/memuji, memaknai, menerjemah, memahami, dan menuliskan. Mengenai proses perkembangan tersebut berekesesuaian dengan pengetahuan yang ditemukan, dibaca, dan diterima santri dari berbagai sisi-sisi kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, nilai-nilai estetis (sastrawi) telah bersama santri sejak mengenal pesantren.”

Hal tersebut mengindikasikan bahwa kitab-kitab yang ditulis dalam bentuk Nadham atau Syiir telah mempengaruhi geliat sastra di pesantren, yang kemudian muncul istilah Sastra Pesantren dengan berbagai macam sudut pandang.

Menurut Swingewood (Faruk, 2014) setiap penulis bekerja dalam suatu tradisi, suatu kebudayaan sastra yang diwarisi, dan karyanya sendiri akan menunjukkan dengan berbagai cara pengaruh dari latar belakang tersebut. Jika Penayir Sofyan RH Zaid menuliskan puisi nadham seperti yang terdapat dalam buku Pagar Kenabian, maka tidaklah mengherankan, karena secara historis beliau berlatar belakang santri di Pesantren Annuqayah Madura, yang telah terbiasa melafalkan nadham, dan mendalami ilmu agama serta tasawuf. Dengan lahirnya Pagar Kenabian maka Penyair Sofyan RH Zaid telah melakukan proses reflektif terkait pemahaman bagaimana ia menyerap suatu tradisi dan darinya mengembangkan suara otentiknya sendiri, gagasan dan pandangannya sendiri mengenai manusia, Tuhan dan alam melalui puisi pagarnya atau yang disebutnya puisi nadham.

Bagi yang awam dengan istilah nadham mungkin ini akan terasa aneh, bisa diterima-terima saja, atau menggugat penggunaan tanda pagar yang tidak lazim digunakan dalam konvensi penulisan puisi ataupun karya tulis lainnya. Sedangkan untuk kalangan pesantren, pertama bagi yang paham benar terkait dengan tata cara penulisan nadham dengan ilmu ‘Arudh-nya maka akan mempermasalakan pelabelan nama nadham dalam puisi Sofyan, karena puisi-puisi yang dituliskan Sofyan tidak menggunakan kaidah ilmu’Arudh. Puisinya cenderung bebas tidak terikat secara makna, baris dan suku kata, hanya dibatasi dengan pagar dan rima yang sama sebelum dan sesudah tanda pagar.

Seperti bantahan Raedhu Basha dalam esainya yang pada intinya Puisi Sofyan tidaklah tepat jika dilabeli sebagai Puisi Nadham karena tidak menggunakan kaidah ilmu ‘Arudh. Sekalipun Raedhu mengakui dalam esainya yang termaktub di buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Raedhu mencontohkan Sofyan RH Zaid sebagai salah satu penyair yang menulis puisi khas santri, yakni melakukan percobaan tanda pagar (#) menirukan bait nadham. Kedua, akan mengapresiasi karya tersebut sebagai puisi modifikasi dari puisi nadham klasik menjadi sebuah karya sastra pesantren kontemporer yang relevan dengan kebudayaan kesusastraan hari ini di Indonesia. Maka dari itu kata pelabelan Nadham pada puisi Sofyan janganlah diartikan dengan mentah-mentah. Karena puisi dengan model tersebut, adalah Puisi Nadham dalam Tanda Kutip, seperti yang disebutkan Sofyan dalam mukodimah buku Pagar Kenabian.

Meski mendapat berbagai macam kritikan oleh penulis-penulis lain terhadap gaya penulisan Sofyan yang secara konvensi berbeda dari puisi-puisi yang biasanya. Namun karya tersebut patut dipresiasi dan saya rasa penting dibahas sebagai salah satu genre baru dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Selain itu, dengan hadirnya Pagar Kenabian Karya Penyair Sofyan RH Zaid telah membawa angin segar bagi geliat sastra pesantren kontemporer.

Dari Sabda Kebenaran hingga Sabda Keselamatan

Apa yang menjadi alasan Sofyan memberi judul bukunya “Pagar Kenabian”? Tentunya dalam hal ini Sofyan tidak serta merta menamakan demikian tanpa ada maksud atau filosofi tertentu. Meski saya belum tahu alasan penyair memilih nama tersebut, saya akan mencoba mengintepretasi menurut persepsi saya. Pagar adalah  sesuatu yang digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan, tanah, rumah, kebun, dan sebagainya. Simbolnya adalah (#). Kata “nabi” mendapat awalan ke- dan akhiran kan- menjadi “kenabian”, maka “kenabian” lebih merujuk pada sifat yang berkenaan dengan nabi. Misalnya jujur, amanah, komunikatif, cerdas, dan pesan-pesan yang sifatnya prinsipil maupun yang universal.

Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa Pagar Kenabian menurut saya adalah bagaimana kita manusia mencapai tujuan yang satu (dalam hal ini Rumah Tuhan) adalah dengan cara melampaui pagar yang menjadi batas antara yang kelam dan yang terang. Kelam disini merujuk kepada persifatan manusia yang materialistik, sedangkan yang terang adalah manusia yang telah terlimpahkan kebijaksanaan.

Bagaimana cara melampaui pagar tersebut?, yakni dengan menginternalisasikan sifat kenabian ke dalam diri kita dan direalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi khairu ummah seperti yang diungkapkan dalam kajian Filsafat Profetik. Sehingga selamat menuju Rumah Tuhan.

Di dalam buku kumpulan puisi “Pagar Kenabian”, terdapat empat sabda, yakni Sabda Kebenaran, Sabda Kesunyian, Sabda Kebijaksanaan dan Sabda Keselamatan. Membaca sabda-sabda tersebut secara berurutan seperti mata rantai yang tak terputus. Keempatnya harus dilalui sebagai jalan menuju keselamatan.

Martin Heidigger mengatakan bahwa puisi sejati merupakan fondasi atau asas bagi kebenaran (Stiftung der Wahrheit). Dalam hal ini, Sofyan telah berusaha dengan segenap jiwa dan batinnya dalam menyerap sari pati atau telah mengalami sublimasi dari pengetahuannya tentang filsafat, dimana filsafat merupakan kegiatan pencarian dan petualangan tanpa henti mengenai makna kebenaran dan kebijaksanaan dalam pentas kehidupan, baik tentang Tuhan Sang Pencipta, eksistensi dan tujuan hidup manusia, maupun realitas alam semesta (Zaprulkhan, 2016). Mari kita cermati puisi berikut:

KAMPUNG KEBENARAN

bercumbu di sumbu waktu # antara nafsu dan rindu
kemesraan menjadi api # meremangi bentala diri
gairah meledak menyebar # kita terkapar sadar
(Marx mengibarkan bendera # dari puncak menara
: kalian hanya mencintai dunia # tanpa tahu cara merubahnya)

kita berjalan menuju senja # melintasi siang yang bara
tubuh berubah warna # perlahan jadi kirana
melukis lapis awan # seperti darah keabadian
(Kant di atas bukit # mengacungkan jari ke langit
: mata tak akan sampai # tanpa akal yang melambai

kita berpendar pencar # memoles ufuk bergetar
burung pulang ke sarang # kembali menjadi pohon rindang
laron mulai menembang # angin menabuh genderang
(Plato memanggil gua # menulis kalimat pada dindingnya
:suluh menyebabkan bayangan # gerak menjadikan pengetahuan

matahari karam ke kelam # kita padam menjelma malam
menyimpan segala rahasia # kesenyapan melahirkan serigala
seketika bulan gerhana # kentongan membangunkan segala
(Farabi memainkan qanun # menari bersama daun
: mulanya adalah cahaya # kemudian tercipta semesta)

****
Dalam puisi tersebut sangat kental sekali nuansa filsafat yang disuguhkan Sofyan, dimana beberapa tokoh filsafat dan pemikiranya, yakni Marx, Kant, Plato dan Farabi dirangkum secara estetik dalam sebuah puisi. Dimulai dari Filsafat Barat sampai Filsafat Timur. Sampai pada kesimpulan pada bait terakhir puisi di atas yang mengandung sentuhan sufistik, bahwa nanti akan sampai pada yang hakekat, asalkan punya tujuan yang sama meski dengan jalan yang berbeda. Seperti lanjutan kutipan puisi berikut:

kita tersesat dalam gelap # meraba arah lalu lelap
paginya kita terpisah # mata mengucur kisah
kau tertinggal dalam gua # aku tersangkut di menara
kita percaya pada surga# kembali berjumpa suatu masa
: melihat Kant, mendengar Farabi # lalu mendaki puncak puisi

Agama: Jalan Akal dan Hati menuju Tuhan
Islam datang menyempurnakan akhlak dengan menempuh jalan Ilahiah. Sudah sejak lama perdebatan  mengenai kontradiksi antara akal dan hati, manakah yang dapat mengantarkan manusia mengenal Tuhannya. Dalam novelnya Hayy Ibnu Yaqzan, Ibnu Thufail menggambarkan bagaimana seorang anak yang hidup sendirian jauh dari peradaban di alam dapat menemukan jalan spiritual dengan mengandalkan penuh pada akalnya. Diduga kuat novel ini merupakan jawaban atas tuduhan Al-Ghazali yang menghukumi filosof atheis.

Berkat bukunya Talafut Al-Falasifah, orang-orang jadi takut untuk berfilsafat. Tetapi jika direnungi, para atheis, meski ada, hampir semuanya tidak menemukan jalan spiritual, mereka tidak mengenal tuhan meski mereka selalu hidup dengan akal. Jadi akal memerlukan rambu-rambu berpikir agar buah pemikirannya mencapai inti, mengenal Tuhan. Rambu-rambu tersebut ialah syari’at. Dalam dunia tasawuf sendiri, syari’at diibaratkan sebagai sebuah bahtera, kemudian Tuhan ada di tengah laut, untuk sampai pada Tuhan maka perlu menempuh perjalan, setelah baik syari’atnya, pelaku tasawuf menempuh jalan ke tengah laut (thariqah). Namun dengan apa sebuah bahtera sampai di tengah laut? Tentu dengan ilmu. Dan akal menempati posisi penting di sini. Dalam tahap pertama Hay Ibnu Yaqzan hidup di alam liar dan menemukan jalan spiritual, dia memulai dengan melakukan pengamatan inderawi, kemudian rasio dan ke tiga hatinya. Akal menempati posisi awal dalam upaya mengenal Tuhan. Kemudian banyak orang yang memposisikan diri di tengah, bahwa filsafat dan tasawuf itu tidak bertentangan. Ke duanya dapat saling menyempurnakan dalam upaya mengenal Tuhan. Lalu berfilsafat untuk mengenal Tuhan oleh muslim disamakan dengan ilmu hikmah. Sama halnya dengan penyair Sofyan RH Zaid, dalam beberapa puisinya dalam buku kumpulan puisi Pagar Kenabian, nampak ia memposisikan hati dan akal, filsafat dan tasawuf sebagai komponen-komponen yang membentuk perangkat penghubung kepada Tuhan. Kita tahu bahwa filsafat menempatkan akal sebagai ukuran kebenaran, jika akal mengiyakan maka itulah kebenaran. Namun dalam pandangan penyair, kebenaran dicari dengan dua alat ini, akal dan hati melalui jalan agama. Kita bisa melihatnya dalam puisi Butterfly Effect, Filsafat Agama dan Kampung kebenaran (Karl Marx dan Al-farabi). Demikian.

Penulis: Iis Sugiarti, kelahiran Kebumen, 08 Februari. Aktif di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah, sekaligus juga sebagai Pimpinan Redaksi Buletin BENER FKUB Banyumas, inisiator Buletin JISDA (Jiwa Semangat Pemuda) untuk Jamiah Islam Syekh Daud Al Fathoni Yala Thailand (2016). Karyanya telah termaktub di beberapa buku antologi: Senandung Cinta Untuk Ibunda (Asrifa Publisher: 2014), Radar Lupus (Asrifa Publisher: 2014), 100 Makna Kasih Sayang Ayah Ibunda (Gerbang Sastra: 2014), Bisikan Kata Teriakan Jiwa (Meta Kata: 2014), Senarai Diksi (Pena House: 2014), Cerita Mei (Goresan Pena: 2014), Pelangi Syair Sang Penyair (Fornusa Indonesia: 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 5 (Forum Sastra Surakarta: 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta: 2015), Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (Kosa Kata Kita: 2015), Balada Badut-Badut dan Rumput (Oase Pustaka: 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta: 2016), Creative Writing (Kaldera:2016), Koran Harian Satelit Post (2015), Koran Madura (2016), Pilar Puisi 3 (SKSP: 2016), Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan (Kosa Kata Kita: 2017), Seberkas Cinta (2017), Kidung Patani (2017), Kampus Hijau 3 (SKSP: 2017), Puisi Menolak Korupsi Jilid 6 (Forum Sastra Surakarta: 2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8: Kosa Kata Kita, 2018), A Skyful of Rain (Banjabaru’s Day Literary Festival: 2018), Palung Tradisi (Perempuan Penyair Indonesia: 2019), dan karya cerpennya termaktub di Mawar yang Tertanam di Pelaminan Air Mata (Oase Pustaka: 2015), Isyarat (CV: Landasan Ilmu: 2016), Senandung Cinta dari Pesantren (Diva Press: 2022). Esainya termaktub di Revitalisasi Sastra Pesantren (An Najah Press: 2016) dan beberapa artikel ilmiahnya telah terbit di beberapa jurnal ilmiah (2021-2024). Penulis dapat dihubungi via Instagram: @iiz_oanes_99.

image of flowers, butterfly and snail in the garden

Siput di antara Bunga Matahari

Oleh: Zahwa Aprilita

20 Mei 2024, tertanda seorang siswi telah resmi lulus di sebuah sekolah negeri favorit di daerahnya. Berbekal segudang mimpi, ia mengumpulkan tekad untuk terus melangkah menuju tangga kehidupan selanjutnya. Hendak dibawa kemana impiannya? Bisakah ia menerbangkan sejuta harapan orangtua?

Aku, Zahwa Aprilita. Seorang anak tunggal yang kala itu dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Antara mengikuti kata hati atau kata orangtua. Ditambah setelah ditolak Perguruan Tinggi Negeri dan PTKIN sekaligus di jurusan impian, rasanya untuk membuka mata dan menyapa dunia sangat susah.

Aku malu, bahkan untuk sekadar mengatakan bahwa aku malu. Harapan dan impian seakan pupus. Rencana yang sudah aku susun dari lama hancur lebur diganti pertanyaan, “Terus mau gimana? Akhirnya lanjut dimana?”

Setelah berminggu-minggu meratapi ketidakberuntunganku, aku akhirnya kembali mulai menyusun rencana lagi. Jika satu jalan tertutup, aku akan membuka jalan yang lain. Aku mendaftar Seleksi Nasional Berbasis Tes di PTN dan Mandiri di PTKIN.

BOOMMMM!!! Siapa sangka, aku diterima di keduanya. Sekarang permasalahannya ada di restu orangtua yang berbeda pendapat. Mama menginginkanku untuk ambil Universitas Jenderal Soedirman, sedangkan bapak lebih ingin aku mengambil UIN SAIZU. Lagi dan lagi, bahkan di saat mimpi rasanya sudah di depan mata, dukungan terbesarku malah pecah menjadi dua kubu.

Berhari-hari melewati diskusi panjang dengan orangtua dan keluarga besar, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil kesempatan berkuliah di Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Belum sampai di situ, kebimbangan masih terus muncul. Mau kos atau mondok, ya?

Dan dari sinilah awal ceritaku masuk di Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. Bapak memintaku untuk belajar mandiri dengan mondok, katanya supaya aku lebih bisa menghargai waktu, bisa berbagi dengan orang lain, dan tau bagaimana susahnya hidup tanpa orangtua. Pikirku saat itu akan mudah karena nantinya pasti ada banyak teman yang membantuku di sana. Aku tidak akan sendirian dan kesusahan.

Pertengahan Agustus, aku pemberangkatan pondok. Pertama kali yang ada dipikiranku bisa tidak ya berproses di sana nantinya, apalagi aku terbiasa hidup bersama orangtua yang perhatiannya hanya tertuju padaku. Sedangkan di pondok, aku harus mengikuti berbagai jadwal kegiatan dan berbaur dengan banyak orang dalam satu ruangan. Tapi lagi-lagi bapak menggugah rasa semangatku, mengatakan kalo di usiaku sekarang memang sudah saatnya memulai petualangan baru, di gerbang kehidupan baru, dengan orang-orang baru pula.

Dan sekarang, di sinilah aku berada. Zahwa Aprilita, anak tunggal yang dulunya masih ditimang, disiapkan berbagai kebutuhannya, ingin makan tinggal ambil, bisa tidur kapan saja, dan tidak perlu berbagi apapun dengan orang lain, harus berproses. Di tempat yang banyak orang sebut “Penjara Suci”, aku memulai satu persatu proses pendewasaan. Meniti tangga kehidupan dengan susah payah dan banyak kejutan di dalamnya, berbekal banyak harapan di pundak. Langkahku memang lambat, tapi aku berusaha untuk tidak merasa tertinggal dengan yang lainnya. Aku selalu membisikkan dalam hati, “Wahai aku, tidak ada yang berlaku keras ataupun memanjakanmu. Jika kamu lelah, maka istirahatlah. Perjalananmu masih panjang.”

*Naskah tersebut merupakan naskah juara satu hasil lomba kepenulisan dengan tema “Senangnya menjadi Santri An Najah” yang diselenggarakan oleh Panitia OPKIS 2024.

Ilustration: (istockphoto.com)