Oleh: Irkham Auladi, M.Pd.
Indonesia Emas 2045 bukan gagasan yang keliru. Justru, secara historis, 2045 adalah momentum penting karena Indonesia genap berusia 100 tahun. Namun, pertanyaan utamanya bukan “apakah visinya bagus?”, melainkan: apakah fondasi pendidikannya, ekonominya, politiknya, hukumnya, dan kualitas SDM-nya sudah cukup kuat untuk membawa Indonesia menjadi negara maju?
Jika melihat kondisi Indonesia saat ini, arahnya sudah ada, tetapi jalannya belum cukup kokoh. Indonesia memiliki modal besar, namun masih menghadapi masalah serius yang bisa membuat Indonesia Emas 2045 berhenti sebagai slogan politik.
Apakah Indonesia Sudah di Jalan yang Tepat?
Sebagian sudah. Indonesia punya modal penting seperti bonus demografi, pasar domestik besar, sumber daya alam melimpah, posisi geopolitik strategis, serta potensi ekonomi digital. Namun, negara maju tidak hanya dibangun oleh jumlah penduduk dan kekayaan alam. Negara maju dibentuk oleh manusia berkualitas, institusi yang bersih, industri bernilai tambah tinggi, riset kuat, pendidikan bermutu, dan hukum yang pasti.
Di titik ini, Indonesia masih tertinggal.
Masalah utamanya terlihat pada beberapa hal:
Pertama, kualitas pendidikan belum merata. Sekolah memang banyak, tetapi mutu pembelajaran, literasi, numerasi, dan kualitas guru masih menjadi pekerjaan besar.
Kedua, ekonomi Indonesia masih terlalu bergantung pada komoditas dan konsumsi domestik. Padahal negara maju bertumpu pada produktivitas, inovasi, industri teknologi, dan ekspor bernilai tinggi.
Ketiga, kualitas politik dan birokrasi belum sepenuhnya mendukung pembangunan jangka panjang. Korupsi, politik transaksional, hukum yang tidak konsisten, dan kebijakan yang sering berubah membuat pembangunan sulit bergerak cepat.
Jadi, Indonesia sedang berjalan menuju 2045, tetapi belum bisa dikatakan sepenuhnya berada di jalur aman.
Lalu Apa Saja Modal Utama Menuju Negara Maju?
Jika dibandingkan dengan Jepang, Korea Selatan, Singapura, Jerman, dan Tiongkok, ada beberapa modal utama yang selalu muncul.
Pertama: pendidikan berkualitas
Korea Selatan dan Jepang menjadi maju bukan karena sumber daya alam, tetapi karena manusia. Mereka serius membangun sekolah, universitas, riset, disiplin kerja, dan budaya ilmu.
Indonesia harus berhenti melihat pendidikan hanya sebagai urusan ijazah. Pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia yang bisa berpikir kritis, menguasai teknologi, bekerja produktif, dan berintegritas.
Kedua: industrialisasi
Negara maju tidak hanya menjual bahan mentah. Mereka mengolah, menciptakan teknologi, dan menguasai rantai produksi.
Indonesia tidak boleh puas hanya mengekspor nikel, batu bara, sawit, atau hasil tambang. Hilirisasi penting, tetapi harus naik kelas: dari sekadar smelter menuju industri baterai, kendaraan listrik, farmasi, semikonduktor, alat kesehatan, dan teknologi pertanian.
Ketiga: riset dan inovasi
Negara maju mengandalkan pengetahuan. Anggaran riset mereka besar, universitasnya kuat, dan industrinya terhubung dengan laboratorium.
Indonesia masih lemah di sini. Banyak kampus belum menjadi pusat inovasi. Dunia usaha juga belum cukup banyak berinvestasi pada riset.
Keempat: tata kelola negara
Singapura maju karena pemerintahannya efisien, bersih, dan tegas. Jerman kuat karena institusinya stabil. Korea Selatan berhasil karena negara mampu mengarahkan industri secara strategis.
Indonesia membutuhkan birokrasi yang cepat, hukum yang pasti, dan politik yang tidak hanya sibuk dengan elektoral lima tahunan.
Sektor Mana yang Paling Harus Diperkuat?
ada lima sektor yang harus menjadi prioritas nasional.
Pertama, pendidikan dasar dan vokasi. Ini fondasi utama. Tanpa SDM kuat, hilirisasi hanya akan menciptakan lapangan kerja murah, bukan ekonomi maju.
Kedua, kesehatan dan gizi. Stunting, anemia, kesehatan ibu-anak, dan akses layanan kesehatan menentukan kualitas generasi 2045.
Ketiga, industri manufaktur bernilai tambah tinggi. Indonesia perlu masuk ke industri baterai, kendaraan listrik, mesin, farmasi, pangan modern, digital, dan energi terbarukan.
Keempat, pertanian dan pangan modern. Negara maju tetap menjaga ketahanan pangan. Indonesia perlu teknologi irigasi, benih unggul, mekanisasi, logistik dingin, dan perlindungan petani.
Kelima, reformasi hukum dan birokrasi. Investor, ilmuwan, pelaku UMKM, dan masyarakat membutuhkan kepastian. Tanpa hukum yang adil, semua strategi ekonomi akan rapuh.
Apa Yang Harus Dirubah Agar Indonesia Emas 2045 Tidak Sekadar Tagline?
Indonesia perlu berani melakukan perubahan yang lebih mendasar.
Pertama, ubah pendidikan dari sekadar administratif menjadi substantif. Kurikulum boleh berganti, tetapi yang lebih penting adalah kualitas guru, kemampuan membaca, berpikir logis, sains, matematika, karakter, dan etos kerja.
Kedua, pastikan hilirisasi tidak hanya menguntungkan elite ekonomi. Hilirisasi harus menciptakan transfer teknologi, lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat industri nasional.
Ketiga, bangun meritokrasi. Orang harus naik karena kemampuan, bukan koneksi politik. Negara maju tidak bisa dibangun dengan budaya “siapa dekat siapa”.
Keempat, perkuat demokrasi yang produktif. Kritik publik jangan dianggap musuh. Dalam negara modern, kritik adalah mekanisme koreksi agar kebijakan tidak melenceng.
Kelima, arahkan APBN untuk investasi masa depan: pendidikan, riset, kesehatan, infrastruktur produktif, dan teknologi. Jangan terlalu besar terserap untuk belanja birokrasi dan proyek simbolik.
Kesimpulannya adalah?
Indonesia Emas 2045 adalah visi yang layak diperjuangkan, tetapi belum boleh dirayakan terlalu cepat. Dengan kondisi pendidikan yang belum merata, ekonomi yang masih rentan, politik yang transaksional, dan kualitas institusi yang belum kuat, Indonesia masih menghadapi risiko besar terjebak sebagai negara berpendapatan menengah.
Visi 2045 akan menjadi kenyataan bila negara berani membangun manusia, memperkuat industri, menegakkan hukum, memperbaiki politik, dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai dasar kebijakan.
Namun, bila pembangunan hanya berhenti pada slogan, seremoni, proyek mercusuar, dan pidato optimistik, maka Indonesia Emas 2045 bisa berubah menjadi sekadar narasi indah yang gagal menyentuh kehidupan rakyat.
Tentang Penulis
Irkham Auladi, M.Pd., merupakan santri Pesantren Mahasiswa An Najah dan alumnus Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Prodi Pendidikan Agama Islam UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, serta baru saja menuntaskan Pendidikan Magisternya di almamater yang sama. Ia aktif dalam publikasi ilmiah, dengan beberapa artikelnya terbit di jurnal bereputasi, serta beberapa kali meraih kejuaraan kompetisi futsal. Berasal dari Sidareja, Cilacap, Irkham dapat dihubungi melalui Instagram @irkhamau.
Leave A Comment