White Orange Social Media Marketing Live Webinar Youtube Thumbnail (Website) (1)

QS World Ranking: Ketika UIN Jakarta, Yogyakarta, dan Malang Naik Peringkat, Apa yang Sebenarnya Dinilai?

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag.

Euforia yang Perlu Dipertanyakan

Belakangan ini, kabar tentang naiknya peringkat kampus-kampus Indonesia di level global terasa seperti angin segar. Apalagi ketika nama-nama seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai muncul dalam percakapan tentang QS World University Rankings. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan, seolah-olah kita akhirnya “diakui” oleh dunia.

Namun, di tengah euforia itu, ada satu pertanyaan yang justru jarang diajukan: ketika peringkat itu naik, apa sebenarnya yang sedang dinilai?

Pertanyaan ini penting, karena kita sering kali menerima ranking sebagai sesuatu yang netral, objektif, dan tak terbantahkan. Seolah-olah angka-angka itu berbicara sendiri. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa sistem pemeringkatan global bukan sekadar cermin realitas, melainkan konstruksi yang dibentuk oleh indikator, metodologi, dan asumsi tertentu tentang apa itu “universitas yang baik”.

Ranking, Reputasi, dan Ilusi Objektivitas

Dalam kasus QS, sebagian besar penilaian justru bertumpu pada reputasi. Sekitar 40 persen bobotnya berasal dari survei akademisi yang diminta menilai universitas mana yang mereka anggap terbaik.  Artinya, yang diukur bukan hanya kualitas, tetapi persepsi tentang kualitas. Dan persepsi tidak pernah benar-benar netral.

Reputasi cenderung mengikuti pola yang sudah mapan. Universitas yang sudah lama dikenal akan terus diingat dan dinilai tinggi, sementara yang lain harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk dilihat. Dalam konteks ini, ranking tidak sekadar mengukur dunia akademik, ia juga ikut membentuknya.

Selain itu, indikator seperti sitasi publikasi pun tidak sepenuhnya bebas dari bias. Ia sangat dipengaruhi oleh bahasa, bidang ilmu, dan jaringan global. Kampus yang aktif dalam publikasi internasional akan lebih diuntungkan, sementara penelitian yang berfokus pada konteks lokal sering kali kurang terlihat. Bahkan, fluktuasi indikator seperti citation per faculty dapat menunjukkan ketidakstabilan dalam penilaian.

Pada titik ini, menjadi jelas bahwa QS tidak hanya mengukur kualitas, tetapi juga visibilitas, siapa yang terlihat, siapa yang dikenal, dan siapa yang diakui.

Ketika Kampus Menyesuaikan Diri

Lalu di mana posisi UIN dalam lanskap ini?

Kenaikan peringkat UIN dapat dibaca sebagai keberhasilan adaptasi. Dalam beberapa tahun terakhir, UIN bergerak cepat: memperbanyak publikasi internasional, memperluas jejaring global, serta mengembangkan program-program yang lebih kompatibel dengan standar internasional. UIN, dalam banyak hal, sedang belajar “berbicara” dalam bahasa global.

Namun, justru di titik ini muncul kegelisahan yang lebih dalam. Ketika sebuah institusi terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan standar eksternal, ada risiko bahwa ia perlahan kehilangan arah internalnya. Kita mulai mengejar apa yang mudah diukur, dan perlahan melupakan apa yang sebenarnya penting.

Publikasi meningkat, tetapi apakah pemikiran menjadi lebih mendalam?
Kolaborasi internasional bertambah, tetapi apakah kebermanfaatan lokal ikut tumbuh?
Reputasi global naik, tetapi apakah otoritas keilmuan benar-benar menguat?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Namun, justru karena sulit diukur, ia sering kali diabaikan.

Apa yang Tidak Pernah Diukur

Di sinilah letak persoalan yang paling mendasar. QS dan sistem ranking global lainnya tidak pernah benar-benar mengukur keseluruhan makna pendidikan.

Dalam tradisi pendidikan Islam, kualitas sering kali terletak pada hal-hal yang tidak kasat mata: sanad keilmuan, kedalaman pemahaman, adab dalam belajar, serta relasi antara guru dan murid. Ilmu tidak hanya dilihat sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri.

Semua ini nyaris tidak memiliki tempat dalam sistem ranking global. Ia tidak bisa dikalkulasi, tidak bisa disurvei, dan tidak bisa diringkas menjadi angka.

Ironisnya, justru karena tidak terukur, ia menjadi tidak terlihat. Dan apa yang tidak terlihat, perlahan dianggap tidak penting.

Di titik ini, kita perlu jujur: QS World Ranking tidak sedang mengukur “segala hal”. Ia hanya mengukur hal-hal tertentu yang sesuai dengan logika akademik global hari ini. Masalahnya bukan pada QS itu sendiri, tetapi pada cara kita memaknainya.

Ketika ranking dijadikan tujuan, bukan sekadar alat, di situlah masalah mulai muncul.

Kenaikan peringkat UIN memang layak diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa kampus-kampus Islam mampu hadir dalam percakapan global. Namun, jika kita berhenti pada angka, kita berisiko kehilangan makna yang lebih dalam.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah kita naik peringkat, tetapi apakah kita naik arah.

Jika ranking hanya mengukur apa yang terlihat, maka tugas kita adalah menjaga agar yang tidak terlihat tetap hidup. Sebab di sanalah, barangkali, letak makna pendidikan yang sesungguhnya.

Referensi

Huang, M.H. (2012). Opening the Black Box of QS World University Rankings.

Anowar, F., et al. (2015). A Critical Review on World University Ranking in Terms of Top Four Ranking Systems.

QS World University Rankings Methodology Report.


SPMB SMP Sains An Najah Purwokerto Batch 2 masih DIBUKA! 📢

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

muhammad-7571024_1280

Jalan Baru Rekontekstualisasi Tradisi, Ilmu, dan Spiritualitas: Review atas Buku “Filsafat Pendidikan Profetik” Karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik
Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik

Identitas Buku

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w.

Penulis : Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Penerbit : Pesma An Najah Press, Purwokerto

Terbit : September 2022

Cetakan : Kedua

Jumlah Halaman : xx + 390

Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Jenis Buku : Pendidikan

Editor : Abdul Wachid B.S.

Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w., karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. lahir dari kegelisahan atas perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang dikuasai Barat, serta adanya krisis sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membuat umat Islam seringkali berada dalam posisi terdesak. Sebagian komunitas muslim bereaksi dengan kebingungan, sementara sebagian lain bersikap pasif, merasa cukup dengan kebanggaan atas khazanah intelektual dan tradisi keagamaannya. Sikap statis yang menutup diri dari dinamika zaman ini kerap berakar pada kecenderungan pengkultusan tradisi (turats) maupun pemikiran keagamaan (taqdis al-afkār ad-dīniyy), sehingga dianggap tabu untuk direkonstruksi, apalagi didekonstruksi.

Dalam konteks inilah pendidikan profetik ditawarkan sebagai jawaban. Pendidikan profetik dipahami sebagai proses transfer ilmu dan nilai yang tidak hanya mendekatkan manusia pada Tuhan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan membangun komunitas sosial yang ideal. Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi, yang menjadi fondasi filosofis dan budaya profetik.

Tradisi sendiri menempati posisi penting dalam kerangka pendidikan profetik. Sebagai aspek subjektif budaya, tradisi tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Dalam konteks Islam di Indonesia, tradisi keagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk: tradisi Islam santri, tradisi Islam Jawa, dan tradisi Islam konvergensi. Pendidikan profetik berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, namun tetap memberi ruang pada konteks sosial, tradisi lokal, serta tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi pada keterampilan, etos kerja, dan vokasi lebih tepat menggunakan pendekatan teknologis daripada sekadar akademis atau humanistis.

Pendidik dalam kerangka profetik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengemban amanah Ilahiyah untuk membentuk umat yang cerdas, taat beribadah, dan berakhlak mulia. Umat dipandang sebagai komunitas sosial yang dinamis, memiliki visi yang jelas, bergerak melalui program nyata, dan dipimpin secara bijaksana. Dengan demikian, pendidikan profetik harus dibangun atas empat fondasi: komunitas, visi dan tujuan, gerak dinamis, serta kepemimpinan; semuanya dijiwai oleh tiga pilar utama tadi.

Keunikan buku ini terletak pada bagaimana Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. mengontekstualisasikan konsep pendidikan profetik melalui karya-karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai edukatif dalam sastra Tohari dapat dipetakan ke dalam tiga pilar profetik: transendensi, liberasi, dan humanisasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan profetik tidak hanya menjadi gagasan abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam wacana budaya lokal. Implikasi praktisnya, pendidikan profetik berlandaskan tauhid sebagai epistemologi, mengintegrasikan moral ketuhanan dengan ilmu pengetahuan, menghargai kearifan lokal (local wisdom), mendorong tradisi berpikir kritis, serta bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan sosial.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki keunggulan karena ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, dan didukung kajian pustaka yang cukup memadai. Lebih jauh, penggunaan karya Ahmad Tohari justru menjadi ciri khas dan keistimewaan buku ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan kekuatan gagasan Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. dalam menghubungkan filsafat pendidikan profetik dengan realitas budaya lokal Jawa, sehingga menjadikan pendidikan profetik lebih kontekstual, membumi, dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, santri, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan gagasan besar tentang pendidikan profetik sebagai arah transformasi pendidikan Islam yang lebih membumi dan kontekstual. (IS)

📍 Segera miliki buku ini di An Najah Book Store (WA: 0882-1487-4023)

Dampak Penggunaan Gadget terhadap Santri Tahfidz Pesma An Najah Purwokerto

          Pesantren mahasiswa An Najah Purwokerto memberikan wadah bagi para santri yang ingin menghafalkan dan mempelajari Al Qur’an. Sebagai santri tahfidz sekaligus mahasiswa tentunya memiliki tantangan yang sangat besar dalam hal pengelolaan waktu antara penggunaan gadget dan menghafal serta membaca Al Qur’an, agar tetap seimbang menjalankan peran sebagai santri tahfidz sekaligus mahasiswa. Menjalani peran sebagai seorang mahasiswa tentunya tidak bisa lepas dari penggunaan gadget, terlebih lagi di era digital ini, gadget memiliki peran yang sangat penting untuk mendukung aktivitas mahasiswa agar mudah dalam mengakses informasi, komunikasi, bahkan sebagai akses pembelajaran online, sedangkan dalam proses menghafal Al Qur’an diperlukan fikiran yang fokus, tenang, fresh serta konsisten dalam menghafal dan membaca Al Qur’an. Namun, sangat disayangkan mayoritas santri tahfidz pesantren mahasiswa An Najah masih belum bisa mengelola waktu dengan baik, sehingga lebih banyak menimbulkan dampak negatif dibanding dampak positif dari penggunaan gadget.

Dampak Negatif Penggunaan Gadget

          Penggunaan gadget membawa dampak negatif yang signifikan, beberapa dampak negatif penggunaan gadget yakni berpotensi terganggunya konsentrasi dan disiplin dalam proses menghafal Al Qur’an. Penggunaan gadget juga dapat mengurangi cepatnya daya tangkap hafalan karena pengaruh penggunaan gadget yang berlebihan akan mengakibatkan mata mudah lelah dan hilangnya fokus sehingga mengurangi daya tangkap hafalan. Selain berdampak pada proses menghafal, ketergantungan gadget juga berpengaruh pada interaksi sosial di lingkungan pesantren. Kecenderungan pada gadget juga dapat mengganggu fokus santri ketika sedang berada di majelis ilmu, mereka akan hilang fokus dan tidak mendengarkan penjelasan dari ustadz, mereka akan cenderung memikirkan pesan yang belum terbalas, pemutaran film yang belum terselesaikan ataupun lainya.

          Selain itu penggunaan gadget yang berlebih juga tidak baik untuk kesehatan mata, ketergantungan dan kecanduan gadget dapat menurunkan kualitas tidur akibat terlalu lama terjaga di malam hari untuk bermain gadet, seperi kecanduan game online mobile legend dan Pubg yang dialami oleh novia ramadhani salah satu santri tahfidz di pesantren mahasiswa An Najah, menanggapi hal ini dia mengatakan “game online sebenarnya hanya untuk mengisi waktu luang, tetapi saya malah kecanduan dan akhirnya malas untuk muroja’ah dan menambah hafalan Al Qur’an”. Hal ini tentunya dapat mengurangi waktu untuk membaca Al Qur’an, dan dapat berdampak pada kesehatan tubuh.

          Berdasarkan statement dari Hidayaturrohmah, proses menghafal mayoritas santri tahfidz pesantren mahasiswa An Najah Purwokerto terganggu karena notifikasi dari media sosial, sehingga dapat mengalihkan fokus mereka dalam menghafal Al Qur’an, hal ini dapat menyita banyak waktu, karena platform media sosial seperti tik tok, instagram, youtube dan lainya menampilkan konten-konten yang menarik untuk ditonton, selain konten-konten posistif, banyak juga konten negatif yang perlu dipilah agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi kehidupan santri tahfidz, seperti pengaruh trend penggunaan pakaian berbudaya barat serta konten joged tik tok yang berlebihan. Sudah menjadi keharusan bagi santri tahfidz untuk memperhatikan, menjaga diri, dan senantiasa menjaga akhlak serta perilaku yang baik.

Dampak Positif Penggunaan Gadget

          Tidak semua penggunaan gadget dan media sosial membawa dampak yang negatif bagi para penghafal al qur’an, gadget dapat di manfaatkan untuk mengakses konten-konten positif agar mendapat motivasi dan menumbuhkan kembali semangat dalam menyelesaikan hafalan Al Qur’an. Selain itu dampak positif gadget bagi santri tahfidz pesantren mahasiswa An Najah purwokerto yakni dapat mempermudah untuk membantu kita dalam mengrjakan tugas kuliah, sebagai sumber belajar serta sebagai sarana agar tidak ketinggalan informasi, peran gadget juga sangat penting sebagai alat komunikasi antara santri tahfidz dengan keluarga, maupun teman untuk mendengar kabar, ataupun bertukar cerita dengan orang tua, sehingga dapat menumbuhkan kembali rasa semangat dalam menghafal Al Qur’an.

          Penggunaan gadget juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana hiburan seperti untuk menonton film, mendengarkan musik, agar dapat menghilangkan kejenuhan santri karena banyaknya tugas kuliah serta proses dalam menyelesaikan hafalan al qur’an . Dengan adanya gadget, tentunya akan mempermudah santri tahfidz untuk mengakses platform pembelajaran digial seperti pembelajaran tajwid, Al Qur’an online, tafsir, bahkan santri dapat mengakses youtube untuk mendengarkan bacaan al qur’an dari qari terkenal untuk membantu mereka dalam memperbaiki tajwid serta dapat melatih para santri agar bisa melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan melodi yang indah. Selain itu, gadget dapat dimanfaatkan sebagai pengingat hafalan dan membantu santri dalam merencanakan dan memantau progres hafalan mereka dengan lebih teratur dan efisien.

           Penggunaan gadget dapat membawa dampak negatif maupun positif, penggunaan gadget santri tahfidz pesantren mahasiswa An Najah Purwokerto lebih cenderung mendatangkan dampak negatif karena mereka belum bisa mengurangi kecanduan dalam mengakses media sosial, namun dengan pengelolaan yang bijak, penggunaan gadget dapat menjadi alat yang yang bermanfaat dalam mendukung proses menghafal Al Qur’an maupun proses dalam menempuh Pendidikan, karena selain menjalankan perannya sebagai penghafal Al Qur’an, mereka juga menjalankan peranya sebagai seorang mahasiswa, jika dikelola dengan baik dan konsisten menjalankannya maka penggunaan gadget tidak akan mengganggu proses santri dalam menghafal Al Qur’an.

          Perlu adanya edukasi untuk para santri tahfidz mengenai manajemen waktu dan pemanfaatan gadget dengan bijak. Mereka perlu diarahkan agar dapat mengelola waktunya untuk menghafal, mengakses pembelajaran serta mengelola waktunya untuk hal-hal yang lebih positif, serta memberikan edukasi kepada para santri bahwa penggunaan gadget bukan hanya sebagai sumber hiburan semata, melainkan dapat dimanfaatkan untuk mengakses konten-konten positif untuk meng upgrade diri, selain itu mereka juga perlu di arahkan untuk tidak mengakses konten-konten negatif karena hal ini sangat mempengaruhi pola fikir, serta perilaku santri. Seorang santri akan lebih mudah dalam pengelolaan waktu ketika membuat catatan kegiatan yang harus dilakukan setiap harinya, sehingga kegiatan yang dilakukan akan lebih terarah. Peran pengasuh serta pengurus juga sangat penting untuk memantau dan membimbing santri tahfidz dalam mengelola penggunaan gadget yang bijak.

           Menilik sistem peraturan pondok pesantren Athohiriyah purwokerto yang hanya membatasi penggunaan gadget pada santrinya sampai sore hari, hal ini dapat meningkatkan fokus para santri tahfidz pesantren Athohiriyah dalam proses menghafal Al Qur’an. Saat malam hari fokus dan disiplin mereka tidak akan terganggu karena tidak adanya notifikasi platform dari media

 

sosial, hal ini juga dapat meminimalisir penggunaan game online sehingga proses menghafal Al Quran mereka akan lebih maksimal, fokus serta konsisten. Selain itu pola tidur santri tahfidz pondok pesantren Athohiriyah juga akan lebih teratur karena mereka tidak bisa mengakses media sosial pada malam hari.