abah dan lirboyo

Kenangan Nyantri di Lirboyo

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Banyak orang berkomentar tentang pesantren sementara ia belum pernah nyantri, atau pernah nyantri tetapi belum menghayati dan mendalami tradisi pesantren yang oleh Gus Dur disebut sebagai sub-kultur budaya Jawa yang khas. Orang yang belum memahaminya, jika mengomentari pesantren, ia akan jatuh pada pemahaman yang jauh dari kenyataan dan substansi kulturnya. Betapa tidak, seorang kiai dengan keyakinan penuh menyediakan diri untuk kemaslahatan umat dan mendidiknya secara total—jiwa raga. Ia siapkan harta dan tenaga yang ia punya, disertai tirakat dhahir batin agar semua santrinya menjadi generasi yang berilmu dan sholih-sholihah.

Dimulai dari perjalanan panjang di masa mudanya, kiai telah menimba ilmu dari berbagai pondok pesantren, bahkan sampai ke luar negeri—semisal Timur Tengah, Makkah–Madinah—bersamaan dengan menunaikan ibadah haji. Peristiwa heroik selalu menyertai petualangannya. Setelah diyakini cukup dengan bekal ilmu dan juga jiwa yang matang, barulah ia mendirikan pesantren, menebar ilmu dan kemaslahatan. Perilaku seperti ini adalah keanehan bagi masyarakat umum, apalagi orang awam tentang pesantren, sehingga perilaku ini dianggap aneh dan bodoh—membuang waktu, pikiran, dan tenaga tanpa ada hasil materi di kemudian hari. Begitulah kiranya background sosial-historisnya mengapa ada berita miring dan kemudian viral akhir-akhir ini.

Kasus tersebut mengingatkan saya yang juga telah malang melintang di belantara dunia pesantren—mulai dari Pesantren Hidayatul Ummah Pringgoboyo Lamongan, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tebuireng Jombang, dan Pesantren Denanyar Jombang. Nah, di tengah-tengah nyantri di Denanyar inilah saya mengaji puasanan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pondok Lirboyo pada tahun 1986 sangatlah terkenal dengan pengasuh pertamanya, Mbah KH. Abdul Manaf atau KH. Abdul Karim, dan kemudian diteruskan oleh KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.

Pada tahun 1986 tersebut, saya ikut mengaji di antaranya pada KH. Idris Marzuqi, KH. Imam Yahya Mahrus, dan KH. Maksum Jauhari. Mengaji ke Gus Maksum di sore hari yang biasanya menunggu sambil melihat tingkah lucu kera yang ada di depan rumahnya. Jika direnungkan, betapa “unik” beliau para pengasuh pondok ini juga pondok-pondok pada umumnya: di tengah-tengah menjalankan ibadah puasa, beliau masih menyempatkan diri mengaji setelah atau bakda salat fardlu sampai dengan menjelang waktu salat berikutnya. Sedang bakda salat Tarawih, santri mengaji sampai tengah malam atau dini hari. Demikian terus berjalan, apalagi di bulan puasa yang diyakini sebagai bulan penuh berkah.

Contoh keteladanan kiai yang begitu kuat, disertai ketinggian ilmu dan kewibawaan substantifnya, menarik perhatian para pecinta ilmu dari berbagai daerah. Tidak ketinggalan kami yang dari Desa Kanugrahan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, jauh dari Lirboyo Kediri harus menyiapkan diri dengan penuh semangat dan tekad yang kuat. Berangkat dari rumah berbekal beras se-kanthong, sambal kering, dan ikan gereh atau ikan asin, dengan mantap saya bersama kakak sepupu putra bude, Muhammad Sholeh, berangkat ke Lirboyo. Dari rumah Lamongan ke Lirboyo Kediri dengan kendaraan umum harus berganti-ganti kendaraan sampai sekitar enam kali. Akhirnya kami sampai di pesantren dambaan—besar, dengan santri yang berdisiplin ketat dalam jamaah dan mengaji. Hati ini terasa gembira sekaligus bangga karena merasa mendapatkan anugerah besar berupa “kesempatan nyecep ilmu” di pondok besar dengan beberapa kiai besar dan masyhur yang mengasuh Pondok Lirboyo ini.

Selama sebulan di pesantren ini, kami seolah tidak terbebani biaya—hanya semacam administrasi yang tidak seberapa. Masak sendiri untuk sahur dan buka, dan jika tidak sempat masak, kami baru ke kantin pondok untuk makan seporsi Rp75 kala itu. Pembiayaan yang ringan dan kebiasaan hidup yang sederhana seperti ini terasa nyaman dan tenteram. Setiap hari kegiatannya dari ilmu, ibadah, dan ilmu lagi. Begitu seterusnya. Saat ada waktu senggang, kami berjalan kaki pakai sarung ke pertokoan kota Kediri, meski seringnya kami hanya window shopping alias lihat-lihat saja. Selain itu, seringnya di waktu senggang di antara waktu ngaji kami manfaatkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di maqbarah Mbah KH. Abdul Karim. Kegiatan membaca Al-Qur’an di maqbarah ini biasa dilakukan santri, juga saya lakukan saat mengaji di Tebuireng di maqam Mbah KH. Hasyim Asy’ari. Demikian juga tatkala saya mondok di Langitan, Denanyar, dan Krapyak Yogyakarta. Membaca Al-Qur’an di makam atau maqbarah memang menjadi kecintaan santri karena meyakini ada berkah di dalamnya.

Perilaku keteladanan kiai yang diikuti santri dalam kesederhanaan dan penuh pengabdian seperti di Lirboyo ini—juga pesantren lainnya—merupakan tradisi kuat bagaimana totalitas kiai berkhidmat dengan ilmu dan kompetensinya untuk santri dan umat. Demikian juga santri, mereka mencari ilmu dengan penuh semangat disertai hormat dan berkhidmat yang tulus pada kiainya. Hubungan yang ikhlas seperti ini begitu kuatnya tanpa kontrak yang bersifat material sepeser pun. Bahkan sebagian santri menghadap kiai untuk mengaji tanpa membawa materi apa pun, pokoknya pasrah bongkokan sama kiai, bahkan ada yang sampai dinikahkan oleh kiai. Apalagi Lirboyo, sebagai pesantren besar pastilah banyak ragam santri dengan berbagai latar pendidikan dan ekonominya.

Saya di Pondok Lirboyo tinggal di asrama yang konon pertama kali dibangun oleh Mbah Karim atau pondok induk yang lokasinya di utara masjid. Kebetulan bersama dengan santri senior asal Lamongan—sayang saya lupa namanya—yang bersedia membantu memasakkan kami. Ia bilang: “Dik, mana beras dan ikan asinmu? Sini aku yang masak, baik untuk sahur maupun untuk bukanya. Jika sudah waktunya sahur maupun buka, silakan gabung, kita sahur dan buka bersama.” Waduh, senang sekali rasanya—sudah mendapatkan kawan senior sekaligus membantu masak—sehingga kami berdua bisa punya waktu tambahan untuk menghatamkan Al-Qur’an di maqam Mbah Karim. Jika ada halangan, barulah kami ke warung pondok untuk makan dengan harga super murah.

Ya Allah, betapa mulianya para pengasuh pesantren dan betapa mulia para santri yang mengikuti jejak para kiainya. Saya bersyukur bisa mengaji di Pesantren Lirboyo Kediri yang telah memberikan ilmu dan keberkahan. Karena keberkahan ilmu dari para kiai, kini saya diberi kemampuan untuk mendirikan pesantren mengikuti jejak sang kiai, menjadi dosen, dan rektor di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Tanpa keberkahan tersebut, rasanya saya masih sangat jauh memperoleh kesempatan setinggi itu.

Realitas sosiologis sebagai sub-kultur sebagaimana saya ceritakan secara singkat di atas akan menjadi sulit sekali dipahami, apalagi diterima oleh orang yang belum pernah menjadi santri. Siapa pun akan mengalami kesulitan memahami, bagaimana mungkin ada orang mau secara sukarela mengabdikan diri untuk menebar ilmu dan agama siang malam tanpa digaji—jika ia mendapatkan imbalan pun tak seberapa jumlahnya. Kiai terbiasa bersedekah, dan diikuti oleh santri juga bersedekah pada kiai yang mereka hormati dan cintai dengan amplop atau cangkingan apa saja yang mereka punya. Bagi orang awam dan dengki terhadap pesantren, muncullah framing negatif terhadap pesantren yang mereka katakan sebagai feodal, dan pengasuhnya yang kaya dengan sarung dan mobil mahal, tetapi tega menerima amplop dari santri yang umumnya miskin. Ini pemikiran paham materialisme dan kapitalisme yang memahami kehidupan ini serba kontraktual—siapa memberi apa, dapat apa secara material.

Narasi yang kebangeten alias keterlaluan itu mengingatkan kembali bayangan saya pada tahun 1986 itu, saat di Pesantren Lirboyo dan beberapa kali silaturrahim untuk ziyarah ke sana bersama rombongan santri. Sepengetahuan saya, pesantren ini tetap sederhana dan bersahaja. Mungkin yang terlihat berubah adalah berdirinya bangunan bertingkat dan lebih rapi. Saya bangga melihat perkembangan Pondok Lirboyo dan terus berdoa agar pesantren ini terus berkembang dan bermanfaat bagi umat. Apa pun yang dikatakan oleh orang yang tidak senang pada pesantren, kegiatan tetap berjalan stabil. Karena bagi orang yang senang pondok, itu tidak akan kekurangan kata untuk memuji; begitu juga bagi orang yang tidak suka pesantren, mereka tidak kurang juga untuk membuat argumen dan narasi untuk mencela dan menjatuhkannya.

Salam, Jayalah Lirboyoku!

Selamat Hari Santri Nasional !

Wallahu a’lam bisshawab.

Pesma An Najah, 21 Rabi’ul Akhir 1447 H

aiss posss

Silaturahmi dan Kolaborasi Pendidikan: SMP Sains An Najah Purwokerto Kunjungi Aqabah International School (AIS) Jombang

AnnajahNews — Dalam rangka mempererat silaturahmi dan memperluas wawasan pengembangan lembaga pendidikan Islam modern, SMP Sains An Najah Purwokerto melakukan kunjungan edukatif ke Aqabah International School (AIS) Jombang) (26/04).

Kunjungan ini dipimpin oleh Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto sekaligus pendiri SMP Sains An Najah Purwokerto, lembaga pendidikan formal yang dikembangkan sebagai bagian dari visi Pesma An Najah untuk membangun generasi berilmu, berakhlak, dan berwawasan global.

Rombongan disambut hangat oleh Pengasuh Utama AIS, K.H. Ahmad Junaidi Hidayat, S.H., dan Direktur AIS, Masrur, di lingkungan pesantren yang memadukan nilai tradisi salafus shalih dengan semangat modernitas global.

Pertemuan ini menjadi wadah saling berbagi praktik baik (best practice) dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren. Aqabah International School dikenal memiliki visi kuat sebagai “School of Life, Global Vision, Spirit and Tradition”, dengan pendekatan pendidikan yang menyeimbangkan pesantren studies, STEAM dan social studies, serta global exposure.

Dalam sesi dialog, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi pendidikan di AIS:

“Pertemuan ini mempertemukan dua semangat besar: membangun generasi beriman, berilmu, dan berdaya saing global tanpa kehilangan akar tradisi pesantren. Dari sini, pendidikan Islam dapat terus bertransformasi menjawab tantangan zaman,” ujarnya.

Selain berdiskusi tentang strategi manajemen, kurikulum, dan penguatan SDM guru, kedua lembaga juga menjajaki peluang kolaborasi dalam program penguatan kepemimpinan, riset pendidikan, dan pengembangan jejaring antar pesantren modern.

Kunjungan diakhiri dengan ramah tamah dan foto bersama di lingkungan Aqabah International School, menandai langkah sinergis dua lembaga pendidikan Islam progresif yang berkomitmen mencetak generasi unggul berkarakter, berilmu, dan berwawasan global.

 

📍 SMP Sains An Najah Purwokerto
Sekolah berbasis boarding school yang mengintegrasikan sains, iman, dan akhlak, serta menjadi bagian dari pengembangan pendidikan formal Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto.

Open Admission (SPMB)

📞 Info & Registration:  0851-8900-0857
🌐 Website: smpsainsannajah.sch.id | pesmaannajah.com
📲 IG & TikTok: @smpsainsannajahpurwokerto

Biru dan Oren Poster Geometris Modern Penerimaan Peserta Didik Baru (Instagram Post (45)) (1)

Resmi! Telah Dibuka Pendaftaran Murid Baru SMP Sains An Najah Purwokerto: An Najah Islamic Boarding School Tahun Ajaran 2026/2027

AnnajahNews SMP Sains An Najah Purwokerto resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027. Sekolah ini merupakan pengembangan lembaga pendidikan formal dari Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, yang telah lama berkiprah dalam pengembangan pendidikan Islam berbasis pesantren.

Pendirian SMP Sains An Najah Purwokerto merupakan bagian dari komitmen pesantren dalam melahirkan generasi Islam yang cerdas, berakhlak mulia, dan berdaya saing global, tanpa meninggalkan akar spiritual serta budaya luhur bangsa. Dengan sistem boarding school (pesantren), sekolah ini mengintegrasikan pembelajaran formal dan pembinaan keagamaan secara terpadu. Para siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga nyantri dan tinggal di lingkungan pesantren, sehingga pendidikan karakter, spiritualitas, dan kedisiplinan tertanam secara utuh.

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selaku Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto sekaligus Pendiri SMP Sains An Najah Purwokerto, menegaskan

“SMP Sains An Najah Purwokerto didesain sebagai sekolah yang terintegrasi dengan pola pendidikan berbasis pesantren (boarding school). Kami berkomitmen menjadikan pesantren sebagai laboratorium kehidupan global, tempat tumbuhnya generasi berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai kenabian.”

Segera daftarkan putra-putri terbaik Anda untuk menjadi bagian dari keluarga besar SMP Sains An Najah Purwokerto (An Najah Islamic Boarding School) — tempat tumbuhnya pemimpin muda Qur’ani, cerdas, dan berkarakter.


🌟 Program Unggulan SMP Sains An Najah Purwokerto

1️⃣ Tahfidzul Qur’an — Pembinaan intensif hafalan Al-Qur’an dengan metode tahsin-tahfidz yang terukur dan berkelanjutan.
2️⃣ Sains dan Teknologi — Penguatan literasi sains dan keterampilan teknologi digital untuk menyiapkan generasi unggul era 5.0.
3️⃣ Pengembangan Bahasa Arab dan Inggris — Program bilingual agar siswa mampu berkomunikasi global dengan dasar keislaman yang kuat.
4️⃣ Prophetic Leadership — Pembinaan kepemimpinan terpadu yang membentuk siswa berilmu, beriman, dan berakhlak mulia berdasarkan nilai-nilai kenabian Nabi Muhammad SAW.

📅 Periode Pendaftaran:

  • Gelombang I: 1 Oktober – 31 Desember 2025

  • Gelombang II: 2 Januari – 31 Mei 2026

📍 Lokasi:
Jl. Baturraden B, Kutasari, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas, Prov. Jawa Tengah | Jl. Moh. Besar No. 10, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas, Prof. Jawa Tengah.

🌐 Informasi & Pendaftaran:
📲 WhatsApp: 0851-8900-0857 (Admin 1) | 0882-1487-4023 (Admin 2)
📧 Email: smpsainsannajahpurwokerto@gmail.com
💻 Online: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah | www.smpsainsannajah.sch.id

bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah

🏫 Offline: Kantor SMP Sains An Najah Purwokerto

🔗 Media Sosial Resmi:
🌍 Website: www.pesmaannajah.com | www.smpsainsannajah.sch.id
📘 Facebook: SMP Sains An Najah Purwokerto
📸 Instagram: @smpsainsannajahpurwokerto

“Berakhlak Mulia, Meraih Prestasi”


#SPMBSMPSainsAnNajah
#AnNajahIslamicBoardingSchool
#BoardingSchoolPurwokerto
#BerakhlakMuliaMeraihPrestasi

abah mekah

Mendekati yang Lebih Baik dan Utama

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Saat memasuki Masjidil Haram, sering kita temui jamaah haji maupun umrah yang memilih shalat di halaman masjid, bahkan di area yang cukup jauh dari bangunan utama, imam, maupun Ka’bah. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa mereka memilih tempat sejauh itu, padahal waktu dan ruang di area depan masih tersedia?

Pengalaman kami bertiga, saya, Ustadz Halim, dan Gus Nailul Muna — menunjukkan bahwa masih banyak ruang kosong di dekat Ka’bah, bahkan di area Mathaf atas. Memang, di sana tidak disediakan karpet tebal yang membuat duduk terasa lebih nyaman. Namun, tampaknya kenyamanan inilah yang justru mereka cari dan temukan di tempat yang jauh itu.

Fenomena ini menunjukkan kecenderungan sebagian umat untuk lebih memilih kenyamanan daripada keutamaan. Hal yang sama juga sering kita temui di berbagai tempat. Saat shalat berjamaah, banyak yang tidak segera mengambil shaf terdepan di dekat imam. Saat mengaji, tidak sedikit yang enggan mendekat ke hadapan kiai. Begitu pula di ruang kuliah, sebagian mahasiswa memilih duduk di barisan belakang, padahal di depan mereka dapat lebih mudah berdialog dan mengklarifikasi penjelasan dosen.

Kebiasaan menjauh dari yang lebih utama tampaknya menjadi pekerjaan rumah panjang bagi umat Islam di mana pun berada. Padahal, kesediaan untuk mendekat kepada yang lebih utama merupakan langkah penting menuju kemuliaan.

Keberanian untuk menempuh jalan menuju yang lebih baik akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Keteguhan untuk mendekati orang yang lebih alim akan mengantarkan kita menjadi lebih berilmu. Demikian seterusnya, karena setiap langkah menuju yang utama adalah langkah menuju peningkatan diri.

Marilah kita membiasakan diri untuk senantiasa mendekati yang lebih utama, mengikuti yang lebih ideal, dan menjalankan yang lebih mulia. Dengan demikian, kita akan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas, bermanfaat, dan bahagia.

Strategi taqarrub — mendekat kepada yang lebih baik dan utama — adalah jalan peningkatan yang tiada henti.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Masjidil Haram, Makkah, 11 Rabiul Akhir 1447 H

sagara view

Syiar Jumat #3: Menemukan Keindahan dan Hikmah dalam Setiap Sisi Kehidupan

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kita hidup di dunia yang penuh keunikan. Di sekitar kita terbentang kenikmatan dan keindahan yang luar biasa yang bisa kita rasakan melalui mata, telinga, tangan, dan seluruh indra yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, sering kali kita lalai mengungkapkan rasa syukur atas segala karunia tersebut.

Betapa banyak keindahan yang terhampar di depan mata: laut yang membentang luas, sinar matahari yang menyinari, tumbuhan yang tumbuh rapi, dan hewan-hewan yang menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Lihatlah seekor kera yang bermain dengan kawannya, atau burung-burung yang terbang beriringan, mereka pun memiliki ikatan, kasih sayang, dan keharmonisan. Bahkan bebatuan yang keras sekalipun, menyampaikan pelajaran: bahwa kekokohan juga diperlukan agar bumi tetap seimbang dan stabil sebagaimana telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta.

Hidup ini, sebagaimana jalan yang kita lalui, kadang naik dan kadang turun. Inilah sunatullah. Kita melangkah dari satu undakan ke undakan lain, dari satu kesempatan ke kesempatan lain. Ada kalanya jalan menurun terasa nyaman, meskipun tajam dan terjal. Tapi justru di balik jalan menurun itulah terkadang tersimpan keindahan dan ketenangan.

Perhatikan para nelayan yang berani menantang ombak. Dengan tenang mereka melaut di tengah badai, angin yang kencang, dan ombak yang bergelora. Mereka menerima itu semua bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dari kehidupan yang penuh hikmah dan pengabdian. Laut yang ganas bagi orang lain, bagi mereka adalah ladang rezeki dan tempat mereka mengabdi kepada Allah.

Dari semua ini, kita belajar bahwa rasa syukur adalah inti dari kehidupan seorang hamba. Syukur adalah ekspresi keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT. Dalam kehidupan yang penuh ragam, berliku, dan kadang berlubang-lubang, tetap ada keindahan yang bisa kita nikmati. Justru dari situ kita bisa menemukan kenyamanan, kekuatan, dan ketangguhan.

Lihatlah tumbuhan yang menjulang tinggi, semakin tinggi ia tumbuh, semakin kuat pula angin yang menerpanya. Namun justru dari situlah ia menjadi kokoh. Demikian pula kita: semakin banyak tantangan, semakin kuat pula iman dan kepribadian kita terbentuk.

Setiap sisi kehidupan menyimpan manfaat. Setiap langkah adalah peluang untuk meneguhkan niat dan memperkuat harapan bahwa kita akan senantiasa naik, mendekat kepada anugerah dan ridha Allah SWT.

Selamat menikmati kehidupan dengan hati yang damai dan penuh rasa syukur.
Selamat berbahagia dalam limpahan karunia-Nya.
Semoga hidup kita selalu diwarnai oleh kemaslahatan, kekuatan, dan keberkahan.

Jumat, 4 Rabi’ul Akhir 1447 H

 

IMG_20250918_222920

Santri Pesma An Najah Dalami Moderasi Beragama dalam Perspektif Global: dari Jepang, Tiongkok, Australia hingga Inggris

AnnajahNews – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Dialog Keberagaman dengan tema “Strategi Penguatan Moderasi Beragama di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.” Kegiatan yang dipimpin oleh Ulul Huda, S.Pd.I., M.Si. ini berlangsung pada Kamis malam, 18 September 2025, di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto.

Dialog menghadirkan empat narasumber, yakni Roy Andreas, Ph.D., Haryadi, Ph.D., Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS., dan Dr. Ir. V. Prihananto.

(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)
(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)

 

Dalam pemaparannya, Roy Andreas, Ph.D. berbagi pengalaman keberagamaan di Jepang dan Tiongkok. Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Jepang meski kecil jumlahnya, tumbuh dinamis melalui komunitas mahasiswa, pusat studi Islam, dan keberadaan Islamic Center yang menjadi pusat ibadah sekaligus ruang silaturahmi lintas budaya. Di Tiongkok, selain tradisi Islam Tionghoa yang khas, sejumlah Islamic Center juga menjadi simbol keberadaan umat Islam, meskipun dalam praktiknya tetap menghadapi dinamika regulasi negara. Menurutnya, pengalaman ini menunjukkan pentingnya Islamic Center sebagai pusat moderasi, tempat umat Islam berdialog dengan masyarakat luas, membangun toleransi, sekaligus menjaga identitas keagamaan.

Sementara itu, Haryadi, P.hd., mengulas potret keberagamaan di Australia dan Inggris (London). Ia menuturkan, meski umat Islam merupakan minoritas, mereka mendapat ruang cukup baik untuk mengekspresikan identitas keagamaan, termasuk melalui masjid dan organisasi komunitas. Kerukunan dapat terjaga berkat regulasi negara yang inklusif serta kultur dialogis yang terbuka.

(Bpk. Haryadi, P.hd., saat menyampaikan materi)

Adapun Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS. memberikan motivasi dan tips kepada santri agar progresif dan sukses. Ia juga menekankan bahwa moderasi beragama harus berjalan seiring dengan etos kerja keras, keterbukaan berpikir, dan inovasi. “Santri yang moderat tidak boleh pasif. Justru harus progresif, siap bersaing, dan membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam setiap kiprah akademik maupun sosial,” tegasnya.

Dr. Ir. V. Prihananto menambahkan, moderasi beragama perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan dan aktivitas sosial pesantren agar menjadi sikap hidup yang nyata dalam keseharian santri.

Acara ini turut dihadiri oleh K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesma An Najah sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas. Beliau menyambut baik program pengabdian UNSOED dan memperkenalkan Pesma An Najah sebagai pesantren mahasiswa yang mengintegrasikan religiusitas, kebangsaan, dan kepedulian sosial.

“Pesma An Najah adalah ruang pembentukan karakter. Santri dibekali wawasan keagamaan sekaligus keterampilan sosial agar mampu menjadi kader bangsa yang toleran, moderat, dan berwawasan global. Kehadiran UNSOED melalui program pengabdian ini menjadi penguat bagi visi tersebut,” ungkapnya.

(Foto tim pengabdian LPPM Unsoed bersama Pengasuh dan Santri Pesma An Najah)

 

Dialog yang diikuti seluruh santri Pesma An Najah berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Melalui kegiatan ini, UNSOED menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan moderasi beragama, sekaligus memperkokoh harmoni sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.(IS)

DSC02005

Pesma An Najah Gelar Gema Sholawat Peringati Maulid Nabi dan Milad Luthfunnajah ke-11

AnnajahNews Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto bersama pengurus Masjid Baitul Mukmin Kutasari menggelar Gema Sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad Luthfunnajah ke-11 pada malam Ahad, 20 September 2025. Dengan mengusung tema “Memperkuat Iman dan Ukhuwah dalam Maulid dan Milad Luthfunnajah”, acara berlangsung penuh kekhidmatan dan diwarnai lantunan sholawat oleh Gus Aris Fathoni.

Ketua panitia, Faris Yusro, dalam prakatanya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, khususnya sinergi antara Pesma An Najah dan pengurus Masjid Baitul Mukmin yang selama ini terjalin erat. Ia juga menegaskan bahwa perjalanan 11 tahun Luthfunnajah adalah bukti konsistensi santri Pesma dalam menjadikan sholawat sebagai media dakwah, kebersamaan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Pengasuh Pesma An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., menekankan tiga hal utama yang harus dihidupkan dalam peringatan Maulid. Pertama, memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Kedua, meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, terus belajar dan menuntut ilmu sebagai bagian dari meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Sinau terus sundul langit, ini menjadi bagian dari motto Pesma An Najah. Apapun dan di manapun kita berada, menuntut ilmu adalah cara terbaik meneladani Rasulullah,” tegas Gus Anjaha.

Luthfunnajah sendiri merupakan grup sholawat dan hadroh Pesma An Najah yang lahir dari semangat santri untuk bersholawat dan melestarikan tradisi kesenian Islam. Selama 11 tahun perjalanannya, Luthfunnajah telah menjadi garda depan syiar Islam melalui lantunan sholawat, menghadirkan suasana spiritual di berbagai acara, sekaligus menjadi ruang ekspresi seni Islami bagi santri Pesma An Najah pada khususnya.

Acara ini turut dihadiri oleh pengurus takmir Masjid Baitul Mukmin, para alumni yang tergabung dalam Luthfunnajah, seluruh santri Pesma An Najah, serta jamaah Masjid Baitul Mukmin, sehingga menambah suasana kebersamaan dan kekhidmatan dalam memperingati Maulid Nabi sekaligus Milad Luthfunnajah. (IS)

 

perjalanan-hidup-848x490-5a8d3fba65334

Syiar Jumat #2: “Bersyukur di Atas Musibah”

Oleh: K. H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Sebagaimana disebutkan bahwa nikmat itu ada di semua waktu dan tempat. Bersyukur juga harus terus menerus dikukuhkan dalam hati di berbagai situasi dan kondisi, sebab di balik semua yang terjadi ada rahasia hikmah yang membutuhkan waktu untuk diketahui atau dipahami yang bersangkutan atau oleh generasi berikutnya.

Semisal orang pijat, yang ditekan terasa sakit di situlah posisi rahasianya. Nyeri dan perih yang dirasakan adalah bagian konsekwensi dari proses penyembuhan. Sesuai dengan jalur urat syaraf, rasa tidak nyaman itu dirasakan bahkan oleh sekujur tubuhnya. Bertahan, tidak putus asa untuk terus berproses merupakan bagian dari teknik penyembuhan yang harus dilalui oleh seseorang.

Pemahaman substantif terhadap liku-liku kehidupan ini mungkin masih tertutup bagi kebanyakan dan terbuka untuk orang yang bijak dan mengenal Allah dengan baik. Ketenangan dalam merespon fenomena apa yang terjadi tetapi tetap tanggap dan merespon cepat secara spiritual merupakan indikator kedekatannya pada Yang Maha Bijaksana. Respon spiritual secara bijak ini bisa jadi direspon ragam oleh orang di sekitarnya bahkan dimaknai konyol oleh yang lain.

Musibah biasanya dimaknai sebagai kejadian yang tidak menyenangkan atau tidak diharapkan. Jika pemaknaannya seperti ini berarti ada tumpukan dan rentetan musibah yang terjadi setiap hari, karena nafsu dan harapan setiap individu itu amat beragam dan kemampuannya sangat terbatas. Ada juga yang memaknai musibah sebagai kecelakaan atau kejadian yang menyayat hati dan fisiknya. Nasihat yang umum disampaikan kepadanya adalah “sabar” sementara untuk yang pertama karena sering dianggapnya biasa.

Menganggap suatu kejadian sebagai “yang biasa” dan logis saja merupakan media resiliensi ampuh bagi setiap orang untuk dapat tahan dalam menghadapi atau menerima musibah. Biasa atau bisa saja Allah menguji atau menggoda karena mencintai hamba-Nya. Biasa setiap proses kenaikan tingkat ada ujiannya. Biasa dalam perjalanan ada gangguannya. Biasa dalam mengambil kebijakan ada yang tidak bisa menerimanya. Meskipun demikian, gerak dinamis harus terus berjalan dengan berbagai konsekuensinya. Lebih menghadapi kendala bahkan musibah dari pada berdiam diri atau pasif tidak melakukan apapun untuk menghindari dari musibah.

Di balik musibah itu Allah menyelipkan anugerah baik keilmuan, pengalaman, kedewasaan, kemudahan, dan bahkan ketinggian martabat masa depan.

Terkadang musibah menimbulkan trauma berkepanjangan bagi siapa pun yang belum sadar akan sisi positif dan manfaat musibah dalam kehidupan. Untuk itu maknai saja musibah ini sebagai nyanyian kehidupan yang merdu yang terkadang terdengar fales. Maknai saja, Tuhan hendak menggoda kekasih-Nya atau menguji kesetiaan pada-Nya.

Yakinlah bagi kita bahwa semua yang terjadi adalah kehendak-Nya dan kita berkewajiban untuk menerima dengan tulus disertai ikhtiar sosial, material, intelektual, dan spiritual. Wallahu a’lam bisshawab…

 

Jum’at, 26 Rabi’ul Awal 1447 H

(Gambar Ilustrasi: https://static.limawaktu.id)

image

Syiar Jum’at #1: “Syukur”

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

 

Khoirul Mabadi’: 6/6, 1/8, 3/10, 5/12

“SYUKUR”, kata ini seringkali kita dengar dan sering pula kita ucapkan. Entah paham tentang arti dan kedalam pesan kata ini atau tidak, yang jelas laris manis di lidah umat Islam.

Bagi mahasiswa perkuliahan jalan dua pekan, yang terlibat dalam proses adalah mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, begitu juga di pesantren (mahasiswa). Bagi setiap insan yang sedang berproses dalam kegiatan dan kondisi apapun dituntut untuk memahami kata syukur ini.

Dalam kategori makna syukur apabila kita :

  • Melaksanakan pekerjaan atau tugas dan tanggungjawab dengan senang hati sesuai teori, mekanisme, dan prosedur. Tidak asal-asalan atau “semau gue”.
  • Mengerjakannya tepat waktu dan tidak tergesa-gesa apalagi memotong di tengah-tengah proses, harus menyelesaikannya sampai akhir dan titik. Tidak menggantung, tidak jelas hasilnya.
  • Berterima kasih pada yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, karena setiap pekerjaan ada kontribusi orang lain yang bersifat psikis maupun fisik. Tidak ada orang sukses sendirian tanpa dukungan orang lain. Berterima kasih pada sesama menguatkan rasa syukur kepada Allah Tuhan Alam Semesta. Pandai bersyukur berarti harus pandai berterima kasih kepada alam yang membantu kita.
  • Mengakui bahwa secara substantif semua yang terjadi ini anugrah atau nikmat dari Allah meskipun dalam perasaan kita tidak sesuai, kurang, atau bahkan mengganggu. Kita menginginkan sesuatu dan belum terkabul adalah nikmat. Kita punya pendamping rewel dan menyebalkan termasuk juga nikmat. Kita punya tetangga yang suka gaduh juga bermanfaat dan nikmat, ia bisa menghalau pencuri dengan prilakunya.

Ingat, sesuatu itu mengganggu di satu hal, bisa membantu di hal lain. Kecewa dalam satu sisi bisa puas di sisi yang lain. Jika kita rasakan dengan nurani yang dalam ternyata “NIKMAT ITU ADA DI SEMUA WAKTU DAN TEMPAT” tinggal kita mampu memanasnya atau malah membuangnya. Apakah kita menggerutu kecewa atau mensyukurinya.

Jika kita mensyukuri nikmat, Allah akan benar-benar menambahkan nikmatnya pada kita.

Jum’at, 19 Rabi’ul Awal 1447 H

muhammad-7571024_1280

Jalan Baru Rekontekstualisasi Tradisi, Ilmu, dan Spiritualitas: Review atas Buku “Filsafat Pendidikan Profetik” Karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik
Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik

Identitas Buku

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w.

Penulis : Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Penerbit : Pesma An Najah Press, Purwokerto

Terbit : September 2022

Cetakan : Kedua

Jumlah Halaman : xx + 390

Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Jenis Buku : Pendidikan

Editor : Abdul Wachid B.S.

Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w., karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. lahir dari kegelisahan atas perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang dikuasai Barat, serta adanya krisis sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membuat umat Islam seringkali berada dalam posisi terdesak. Sebagian komunitas muslim bereaksi dengan kebingungan, sementara sebagian lain bersikap pasif, merasa cukup dengan kebanggaan atas khazanah intelektual dan tradisi keagamaannya. Sikap statis yang menutup diri dari dinamika zaman ini kerap berakar pada kecenderungan pengkultusan tradisi (turats) maupun pemikiran keagamaan (taqdis al-afkār ad-dīniyy), sehingga dianggap tabu untuk direkonstruksi, apalagi didekonstruksi.

Dalam konteks inilah pendidikan profetik ditawarkan sebagai jawaban. Pendidikan profetik dipahami sebagai proses transfer ilmu dan nilai yang tidak hanya mendekatkan manusia pada Tuhan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan membangun komunitas sosial yang ideal. Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi, yang menjadi fondasi filosofis dan budaya profetik.

Tradisi sendiri menempati posisi penting dalam kerangka pendidikan profetik. Sebagai aspek subjektif budaya, tradisi tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Dalam konteks Islam di Indonesia, tradisi keagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk: tradisi Islam santri, tradisi Islam Jawa, dan tradisi Islam konvergensi. Pendidikan profetik berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, namun tetap memberi ruang pada konteks sosial, tradisi lokal, serta tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi pada keterampilan, etos kerja, dan vokasi lebih tepat menggunakan pendekatan teknologis daripada sekadar akademis atau humanistis.

Pendidik dalam kerangka profetik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengemban amanah Ilahiyah untuk membentuk umat yang cerdas, taat beribadah, dan berakhlak mulia. Umat dipandang sebagai komunitas sosial yang dinamis, memiliki visi yang jelas, bergerak melalui program nyata, dan dipimpin secara bijaksana. Dengan demikian, pendidikan profetik harus dibangun atas empat fondasi: komunitas, visi dan tujuan, gerak dinamis, serta kepemimpinan; semuanya dijiwai oleh tiga pilar utama tadi.

Keunikan buku ini terletak pada bagaimana Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. mengontekstualisasikan konsep pendidikan profetik melalui karya-karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai edukatif dalam sastra Tohari dapat dipetakan ke dalam tiga pilar profetik: transendensi, liberasi, dan humanisasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan profetik tidak hanya menjadi gagasan abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam wacana budaya lokal. Implikasi praktisnya, pendidikan profetik berlandaskan tauhid sebagai epistemologi, mengintegrasikan moral ketuhanan dengan ilmu pengetahuan, menghargai kearifan lokal (local wisdom), mendorong tradisi berpikir kritis, serta bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan sosial.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki keunggulan karena ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, dan didukung kajian pustaka yang cukup memadai. Lebih jauh, penggunaan karya Ahmad Tohari justru menjadi ciri khas dan keistimewaan buku ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan kekuatan gagasan Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. dalam menghubungkan filsafat pendidikan profetik dengan realitas budaya lokal Jawa, sehingga menjadikan pendidikan profetik lebih kontekstual, membumi, dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, santri, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan gagasan besar tentang pendidikan profetik sebagai arah transformasi pendidikan Islam yang lebih membumi dan kontekstual. (IS)

📍 Segera miliki buku ini di An Najah Book Store (WA: 0882-1487-4023)