IMG-20260516-WA0082

FKUB Banyumas Gandeng Mantan Menag RI-Lukman Hakim Saifuddin Gowes Kerukunan 

Purwokerto – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Banyumas menggelar kegiatan Gowes Kerukunan bertajuk “Menyalakan Harapan, Menyemai Perdamaian”, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan yang diinisiasi langsung oleh Ketua FKUB Banyumas, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., bersama pengurus, berlangsung meriah dan penuh nuansa persaudaraan lintas agama.

Kegiatan gowes diikuti oleh Mantan Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., bersama keluarga besar FKUB Banyumas, Forkopimda Banyumas, Polresta Banyumas, Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, tokoh lintas agama, Generasi Muda FKUB Banyumas, FORSA Banyumas, Wanita Lintas Iman Banyumas, pelajar SMA/SMK/MAN di Purwokerto, serta masyarakat umum.

Sebelum pelepasan peserta gowes, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A. menyampaikan apresiasi kepada FKUB Banyumas yang dinilainya konsisten menghadirkan ruang-ruang perjumpaan lintas iman yang menyejukkan. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud nyata moderasi beragama yang tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan melalui kebersamaan dan persaudaraan.

(Mantan Menag RI – Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan sambutan sekaligus memimpin start gowes)

 

“Saya mengapresiasi FKUB Banyumas yang terus merawat kerukunan melalui kegiatan kreatif dan membahagiakan seperti ini. Gowes Kerukunan menjadi simbol bahwa keberagaman dapat dirawat dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan,” ujarnya.

Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag yang juga sebagai Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, dalam sambutannya menegaskan bahwa Gowes Kerukunan merupakan agenda rutin FKUB Banyumas dalam memperkuat moderasi beragama, membangun budaya damai, dan mempererat persaudaraan lintas iman di Banyumas.

Menurutnya, kerukunan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diwujudkan melalui perjumpaan, dialog, dan kebersamaan lintas iman dalam kehidupan sehari-hari. Semangat tersebut juga tercermin dalam jargon khas FKUB Banyumas:

“Beda Ning Rukun. Beda itu biasa, rukun itu luar biasa.”

Menurut Ketua Panitia Kegiatan FA. Agus Wahyudi, tema Gowes kali ini ialah “Menyalakan Harapan, Menyemai Perdamaian”. Tema tersebut merupakan ajakan bersama untuk terus menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman masyarakat Banyumas.

Rute Gowes Kerukunan dimulai dari Pendopo Sipanji Purwokerto, kemudian menuju GKI Purwokerto, Masjid Jami Mangunjaya Purwokerto, dilanjutkan dengan aksi pembagian bunga mawar kepada masyarakat di kawasan GOR Satria Purwokerto. Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Vihara Buddha Dipa Purwokerto, Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto, dan berakhir di Gereja Katedral Purwokerto.

(Ketua FKUB Banyumas bersama Lukman Hakim Saifuddin serta rombongan saat berkunjung ke GKI Purwokerto)

Kegiatan gowes ini sekaligus menjadi sarana edukasi lintas agama, khususnya bagi para pelajar SMA/SMK/MAN di Purwokerto yang turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Para peserta diajak mengenal rumah-rumah ibadah lintas agama secara langsung sebagai bentuk pembelajaran moderasi beragama dan penguatan nilai toleransi.

Di setiap rumah ibadah yang dikunjungi, peserta mendapatkan sambutan hangat dari tokoh agama dan pengurus tempat ibadah sebagai simbol persaudaraan dan semangat kebhinekaan. Para pelajar juga diberi kesempatan untuk bertanya serta membuka ruang dialog dengan tokoh agama setempat. Melalui dialog tersebut, peserta dapat memahami nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan kehidupan beragama dari perspektif yang lebih luas.

(Rombongan Gowes saat tiba di Klenteng Hok Tek Bio Purwokerto)

Dalam kesempatan tersebut, Ketua FKUB Banyumas, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., menyerahkan bunga mawar kepada para tokoh agama sebagai simbol kasih, persahabatan, dan perdamaian lintas umat beragama.

Suasana semakin meriah dengan pembagian berbagai doorprize menarik kepada peserta gowes. Hadiah utama berupa televisi, mesin cuci, air fryer, kompor, serta tiga unit sepeda menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta. Salah satu sepeda merupakan hadiah spesial dari Bupati Banyumas, sementara hadiah lainnya berasal dari dukungan para sponsor dan mitra kegiatan.

(Salah satu peserta Gowes dari elemen pelajar mendapatkan doorprize 1 unit sepeda, spesial dari Bupati Banyumas, diserahkan oleh Prof. Dr. K.H. Supani, M.Ag.)

Kegiatan Gowes Kerukunan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat solidaritas sosial dan mempererat hubungan antarumat beragama di Kabupaten Banyumas. Melalui olahraga, silaturahmi, kunjungan ke rumah-rumah ibadah, dan ruang dialog lintas iman, FKUB Banyumas menunjukkan bahwa kerukunan dapat tumbuh melalui langkah-langkah sederhana yang penuh makna.

Di akhir kegiatan, Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag., menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya Gowes Kerukunan, di antaranya Pemerintah Kabupaten Banyumas, Kapolresta Banyumas, Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Forkopimda Banyumas, tokoh agama lintas iman, para sponsor, serta seluruh relawan dan masyarakat yang turut berpartisipasi.

Dengan semangat kebersamaan dan persaudaraan, Gowes Kerukunan diharapkan terus menjadi agenda inspiratif dalam merawat toleransi, memperkuat moderasi beragama, serta menyalakan harapan perdamaian di tengah masyarakat Banyumas yang majemuk. (IS)

 

ChatGPT Image 19 Mei 2026, 02.47.09

Tumbuh Tanpa Pelabuhan: Luka Diam Anak  yang Kehilangan Rumah dalam Dirinya

Oleh: Anisa Ahlun Prihatiningsih

Tumbuh menjadi Parentless bukanlah pilihan yang bisa kita kendalikan,kini murni yang datang tanpa permintaan, sering kali meninggalkan luka mendalam sejak usia dini. Rumah bukan hanya sekedar atap dan dinding, ia adalah tawa yang pecah dibawah sinar matahari, dan dekapan hangat yang meyakinkan kita bahwa dunia baik-baik saja. Kehadiran sosok orang tua adalah pondasi , dari mereka kita belajar nada kehidupan, dan merasakan kasih sayang dalam setiap suapan kecil yang mereka berikan. Namun, apa jadinya jika sosok perlindungan itu hilang? mereka terbiasa dengan ketidakharmonisan itu, suasana canggung yang membuat menunjukkan kasih sayang terasa asing, dimana suara bentakan lebih sering terdengar daripada kata-kata dukungan. Bahkan mereka lupa bagaimana rasanya diberikan kasih sayang se utuh nya seperti layaknya anak-anak lain, dan mereka pun menginginkan.

Kesepian ini menjalar ke sudut sekolah, ke bangku taman, hingga ke bawah kolong tempat tidur . Mereka kehilangan kompas, sekaligus kehilangan tempat untuk bercerita tentang hari ini, kini sering membuat mereka mengalami perubahan, menjadi lebih tertutup, tidak mudah percaya dengan orang lain, mereka pun mudah menyalahkan diri sendiri dan gampang murung. Dunia terasa begitu menyeramkan bagi mereka yang tak punya sandaran, tanpa bimbingan, masa depan seringkali terlihat seperti kabut di pagi hari yang tak kunjung cerah.

Luka ini tak berdarah yang dapat nampak secara fisik, namun sering bergulat dengan gejolak emosi hebat dan pencarian jati diri yang tak kunjung henti di tengah kesunyian.  Ini akibat kurang nya peran rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang dan memberikan dukungan membuat segalanya terasa lebih berat. Kurang nya peran keharmonis sering melemahkan motivasi belajar, mereka termotivasi kuat untuk belajar, demi wujudkan impian untuk di masa depan, namun, ada sisi lain, kepercayaan diri yang rendah sering menghambat motivasi belajar tersebut. Rasa rendah diri ini perlahan menggerus motivasi, membuat mereka enggan berusaha keras. Akhirnya, potensi yang sebenarnya terpendam pun terabaikan begitu saja.

Tekanan atau pengabaian tersebut membuat mereka tidak mampu membedakan antara perasaan sedih dan bahagia. Mereka pun menginginkan kehidupan harmonis itu, dipenuhi dengan cinta dan kenyamanan. Contoh kecil momen wisuda yang seharusnya penuh kebahagiaan, malah berubah jadi enggan, canggung dan ragu mengungkapkan rasa sayang. Bagi siapa pun yang sedang berada dalam situasi yang sama, ketahuilah bahwa kamu tidak sendiri. Percayalah bahwa semua ini adalah bagian dari proses yang akan membentuk dirimu menjadi pribadi yang utuh. Suatu saat, kamu akan merasakan kasih sayang yang selalu kamu impikan.

Mungkin, dengan berbagai ketidakharmonisan, dan ketidaknyamanan yang ada, kita dapat menjadi lebih kuat, kalau tak ingin di rendahkan oleh kebodohan, maka berdamailah dengan pahitnya kehidupan, sebab luka hari ini adalah kuatnya esok hari. Jika tuhan memberikan ujian itu artinya kita mampu menghadapinya. Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan. Seseorang yang memberi izin pada dirinya untuk berbuat kesalahan, lalu memaafkan serta mengambil pelajaran dari pengalaman hidup, dengan itulah kita bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi tantangan hidup. Dengan melalui proses tersebut, kita juga bisa mencapai kesuksesan, meskipun kesuksesan, kegagalan, kebaikan, dan keburukan adalah hal yang relatif.

Tentang Penulis

(Anisa Ahlun P)

Anisa Ahlun Prihatiningsih adalah seorang mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Penulis dapat dihubungi melalui Email: anisahlun@gmail.com atau nomor telepon: 082323710779.

 

IMG-20260519-WA0008

Mantan Menag RI, Dr. (H.C), K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., dan Para Mantan Rektor PTKIN Bersilaturahmi ke Pesantren An Najah Purwokerto

AnNajahNews – Menteri Agama Republik Indonesia periode 2014–2019, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A., bersama sejumlah mantan Rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dari berbagai daerah melakukan kunjungan silaturahmi ke Pesantren An Najah Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (16/5/2026). Kunjungan tersebut didampingi oleh Rektor Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto, Prof. Dr. H. Ridwan, M.Ag.

Pengasuh Pesantren An Najah Purwokerto, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., yang juga pernah menjabat sebagai Rektor IAIN Purwokerto (2019–2021), Rektor UIN Saizu Purwokerto (2021–2024), Ketua FKUB Banyumas, serta Wakil Ketua A’wan Syuriah PWNU Jawa Tengah, menyambut hangat kedatangan para tamu dengan jamuan khas Banyumas berupa mendoan dan soto Lamongan yang disiapkan oleh para santri.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., memaparkan berbagai perkembangan pesantren yang diasuhnya. Pesantren An Najah kini telah memiliki 11 asrama atau komplek, termasuk komplek takhassus tahfidz Al-Qur’an serta pengembangan bahasa Arab, Jawa Krama Inggil, dan bahasa Inggris melalui program AARJEC (An Najah Arabic, Javanese, and English Community). Seluruh komplek tersebut tersebar di empat RT dan menyatu langsung dengan kehidupan masyarakat sekitar.

Beliau juga menyampaikan bahwa pesantren tengah membuka penerimaan murid baru untuk SMP Sains An Najah Purwokerto dengan kuota dua kelas pada tahun pelajaran yang dimulai Juli 2026. Hingga saat ini, tercatat sebanyak 34 calon murid telah mendaftar. Menurutnya, SMP Sains An Najah hadir sebagai respons terhadap tantangan global dengan mengedepankan tiga pilar utama, yakni penguatan moralitas peserta didik, pemahaman Al-Qur’an, serta penguasaan sains dan teknologi.

Selain itu, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., juga menyampaikan kabar bahagia atas kelahiran cucu keduanya dari pasangan Najiha Yustika Ghina Puspita dan Muhammad Nailul Muna. Pada kesempatan tersebut, beliau turut memohon doa dan dukungan bagi rencana sang menantu yang akan melanjutkan studi doktoral (S-3) di University of Birmingham, Inggris.

Mewakili seluruh rombongan, Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A. menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Pesantren An Najah. Ia mengungkapkan bahwa kunjungannya ke Purwokerto kali ini merupakan pertemuan keempatnya dengan Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., dalam berbagai forum berbeda, termasuk kegiatan Gowes Kerukunan yang diselenggarakan oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas pada pagi harinya.

Dalam kesempatan tersebut, Lukman Hakim Saifuddin juga mengapresiasi sikap inklusif Pengasuh Pesantren An Najah yang memiliki jejaring pertemanan lintas agama.

“Biasanya para mantan rektor yang hadir ini pertemanannya sesama Ahmad, Fauzi, dan nama-nama Islam lainnya. Namun tidak demikian dengan Pak Roqib. Saat gowes tadi saya melihat kawan-kawannya ada Yohanes, Yosua, dan lainnya,” ujarnya.

Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., juga membagikan kisah historis mengenai proses penamaan UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto (UIN saizu). Saat masih menjabat sebagai Rektor IAIN Purwokerto (2019) dan mengusulkan nama Prof. K.H. Saifuddin Zuhri sebagai nama universitas yang tengah berproses alih status menjadi UIN, Lukman Hakim Saifuddin sempat merasa keberatan. Sebagai putra Prof. K.H. Saifuddin Zuhri sekaligus Menteri Agama saat itu, ia khawatir usulan tersebut dipersepsikan sebagai kehendak pribadinya.

Namun, setelah meminta pendapat kepada K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan K.H. Maimun Zubair (Mbah Mun), keduanya justru mendukung penggunaan nama Prof. K.H. Saifuddin Zuhri dan menilai bahwa menolaknya tidak tepat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dan doa penutup yang dipimpin oleh Prof. Dr. H. Mukri, mantan Rektor UIN Lampung sekaligus pengurus PBNU, atas permintaan Lukman Hakim Saifuddin. Doa penutup dipimpin oleh Prof. Dr. Mudzakir, mantan Rektor UIN Kudus.

Silaturahmi ini dihadiri sekitar 30 orang beserta pendamping dari berbagai PTKIN dan UIN Saizu Purwokerto, di antaranya: Dr. (H.C.) K.H. Lukman Hakim Saifuddin, M.A. beserta istri (Menteri Agama RI 2014–2019); Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag. (Pengasuh Pesantren An Najah/UIN Saizu Purwokerto); Prof. Dr. H. Mudhofir beserta istri (UIN Surakarta); Prof. Dr. H. Ibrahim Siregar beserta istri (UIN Padangsidimpuan); Prof. Dr. Masdar Hilmi beserta istri (UIN Surabaya); Prof. Dr. H. Mukri beserta istri (UIN Lampung / PBNU); Prof. Dr. H. Mudzakir beserta istri  (UIN Kudus); Prof. Dr. Hj. Amani Lubis (UIN Jakarta); Prof. Dr. Ilyasin beserta istri (UIN Samarinda); Prof. Dr. Hj. Nurjanah beserta suami (UIN Metro); Nyai Hj. A’la (Sumenep, Madura); Prof. Dr. H. Ridwan beserta istri (UIN Saizu Purwokerto).

Kunjungan silaturahmi ini mencerminkan kuatnya jaringan keilmuan dan ukhuwah di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Selain itu, momentum ini juga menjadi ruang strategis untuk memperkuat pengembangan Pesantren An Najah sebagai lembaga pendidikan Islam yang berdaya saing global, moderat, dan inklusif. (ANM)

 

IMG-20260505-WA0039

Memperkuat Sinergi untuk Pendidikan Unggul: SMP Sains An Najah Purwokerto

AnnajahNews – SMP Sains An Najah Purwokerto menggelar rapat kolaboratif antara pihak yayasan dan komite sekolah dalam rangka memperkuat sinergi untuk peningkatan mutu pendidikan. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan, dihadiri oleh para pengurus yayasan, komite sekolah, serta jajaran pimpinan sekolah (05/05).

Acara dibuka secara resmi oleh K.H. Prof. Dr. Moh. Roqib, M.Ag., muassis yayasan SMP Sains An Najah Purwokerto. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kolaborasi antara seluruh elemen pendidikan sebagai kunci dalam membangun lembaga yang unggul dan berdaya saing. Beliau menyoroti peran strategis pendidikan berbasis nilai-nilai keislaman yang adaptif terhadap perkembangan zaman, termasuk integrasi sains dan teknologi.

Selanjutnya, sambutan disampaikan oleh Ketua Komite, beliau Sabar Munanto, M.Pd., yang menegaskan komitmen komite dalam mendukung program-program sekolah. Beliau mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga komunikasi yang efektif dan partisipasi aktif demi kemajuan peserta didik.

Rapat ini membahas berbagai agenda strategis, mulai dari penguatan kurikulum berbasis sains dan keislaman, peningkatan kualitas tenaga pendidik, hingga optimalisasi sarana dan prasarana pembelajaran. Selain itu, forum ini juga menjadi ruang diskusi terbuka untuk menyampaikan aspirasi serta merumuskan langkah-langkah konkret ke depan.

Dengan terselenggaranya rapat kolaboratif ini, diharapkan terbangun kesepahaman dan kerja sama yang semakin erat antara yayasan dan komite, sehingga SMP Sains An Najah Purwokerto dapat terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang unggul, inovatif, dan berkarakter. (Khafifatul Fian)

 

ChatGPT Image 29 Apr 2026, 23.13.48

Jalu Tidak Kluruk Lagi Hari Ini

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Ada dua jenis sunyi di Gang Melati Nomor Tiga.

Sunyi pertama adalah sunyi biasa, sunyi malam, sunyi siang bolong, sunyi yang datang ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sunyi itu tidak mengusik siapa pun.

Sunyi kedua adalah sunyi yang salah. Sunyi yang terasa seperti ada sesuatu yang seharusnya berbunyi, tapi tidak berbunyi. Sunyi yang membuat bulu kuduk berdiri bukan karena dingin, tapi karena absennya sesuatu yang selama ini kau anggap pasti.

Sabtu pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga diselimuti sunyi yang kedua.

Bukan Kakek Warso yang pertama menyadarinya.

Adalah Mbak Yanti, istri Mas Udin, tetangga baru yang belum genap dua bulan pindah, yang pertama merasa ada yang ganjil. Ia sedang menjemur handuk di tali depan rumah ketika ia menyadari bahwa ia sudah selesai menjemur, sudah masuk, sudah menyalakan kompor, sudah menunggu air mendidih, dan selama semua itu tidak ada satu pun suara kluruk dari ujung gang.

Mbak Yanti mematikan kompor.

Ia berdiri di dapur dengan perasaan orang yang lupa mematikan setrika tapi tidak yakin setrikanya menyala.

Sejak insiden opor dua bulan lalu, Mbak Yanti hafal betul ritme Gang Melati, termasuk kluruk Jalu yang setiap pagi pukul lima menjadi penanda bahwa hari boleh dimulai. Ia tidak pernah menyangka akan bergantung pada suara ayam tetangga, tapi begitulah hidup di gang sempit, kamu menyerap kebiasaan orang sekitarmu tanpa memintanya.

Ia mengintip dari jendela dapur ke arah rumah Kakek Warso.

Pagar kayu itu kosong.

Di kampung, kabar tidak membutuhkan telepon. Ia berjalan dengan kaki sendiri, dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi, dan dalam waktu setengah jam seluruh gang bisa tahu sesuatu yang belum tentu benar tapi sudah terlanjur dipercaya.

Mbak Yanti menyebut ke Bu Lastri yang kebetulan lewat membawa belanjaan,

“Bu, Jalu kok tidak bunyi pagi ini ya?”

Bu Lastri berhenti. Berpikir. Lalu mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa ia pun tidak mendengar apa-apa. “Iya ya. Tidak bunyi.”

Kabar itu sampai ke Mas Udin yang sedang mencuci motor. Mas Udin menghentikan tangannya. Kemudian kabar itu menembus dinding tipis gang dan sampai ke telinga Pak Gimin, pensiunan pos yang rumahnya di seberang, yang langsung berdiri dari kursi rotan dan mengambil sandalnya.

Dan akhirnya, sebagaimana semua kabar di Gang Melati selalu akhirnya sampai ke sana, kabar itu tiba di telinga Nenek Sarmi.

Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan sapu lidinya, mengikat jariknya lebih kencang, dan berjalan ke rumah Kakek Warso.

Kakek Warso duduk di kursi kayunya. Posisinya sama seperti setiap pagi. Tangannya memegang mangkok dedak campur nasi basi. Tapi tangannya tidak bergerak menaburkan apa pun, karena tidak ada yang perlu ditaburi.

Pagar kayu di depannya kosong.

Ia sudah berkeliling sejak pukul setengah lima. Sudah memeriksa kebun singkong. Sudah mengintip kolong rumah. Sudah menengok kandang Nenek Sarmi, tapi kali ini tidak ada Jalu yang nguber-nguber ayam lain. Sudah berjalan sampai ujung gang dan balik lagi.

Tidak ada Jalu.

Nenek Sarmi duduk di teras tanpa dipersilakan, karena di usia tujuh puluh tahun dan setelah puluhan tahun bertetangga, seseorang tidak perlu dipersilakan lagi.

Tidak ada yang bicara beberapa saat.

“Sudah berapa lama?” tanya Nenek Sarmi akhirnya.

“Dari kemarin sore tidak kelihatan.”

“Kemarin sore terakhir di mana?”

“Di sini.” Kakek Warso mengangguk ke arah pagar.

“Seperti biasa. Saya kasih makan. Makan. Lalu saya masuk. Waktu saya keluar lagi sudah tidak ada.”

Nenek Sarmi mengangguk pelan.

“Sudah tua dia,” kata Kakek Warso. Suaranya rata. Terlalu rata.

“Berapa tahun?”

“Tujuh. Mungkin delapan.”

Nenek Sarmi tidak berkata bahwa tujuh atau delapan tahun adalah usia yang panjang untuk ayam jago. Ia tidak berkata apa-apa tentang itu. Ia hanya duduk, dan keberadaannya saja sudah cukup menjadi sesuatu.

Mas Udin datang setengah jam kemudian, dengan Mbak Yanti di belakangnya dan ekspresi sukarela yang terlalu bersemangat untuk situasi sesedih ini.

“ Pak Warso, kami mau bantu cari.”

Kakek Warso memandangnya.

“Cari di mana?”

“Ya, di sekitar sini dulu. Mungkin nyasar ke gang sebelah.”

Pak Gimin menyusul. Lalu Bu Lastri. Dalam waktu singkat, teras Kakek Warso yang biasanya lengang berubah menjadi semacam posko tanpa ada yang mendeklarasikannya sebagai posko.

Mas Udin dan Pak Gimin menyisir gang sebelah. Mbak Yanti mengetuk beberapa pintu dan bertanya dengan sopan apakah ada yang melihat ayam jago berbulu merah gelap dengan jengger tegak dan cara berjalan seperti pejabat. Bu Lastri, yang jaringan pergaulannya paling luas di gang ini, menelepon beberapa orang dengan ponselnya.

Kakek Warso tidak ikut mencari. Ia tetap duduk di kursinya, memegang mangkok dedak yang sudah dingin, memandang pagar yang kosong.

Nenek Sarmi tetap duduk di sampingnya.

Satu Jam Kemudian

Mas Udin pulang dengan tangan kosong tapi muka penuh laporan, gang sebelah tidak ada, belakang gang tidak ada, sampai depan mushola juga tidak ada.

Pak Gimin pulang dan langsung duduk karena kakinya yang sudah tua tidak cocok untuk operasi pencarian.

Mbak Yanti pulang terakhir, dan di wajahnya ada sesuatu yang ia coba sembunyikan tapi tidak cukup berhasil, ekspresi orang yang mendapat informasi tapi tidak yakin apakah informasi itu baik atau buruk.

“Pak Warso,” katanya pelan.

Semua orang menoleh.

“Tadi saya tanya ke Pak Hendra, yang rumahnya di ujung gang tembus jalan besar itu. Katanya kemarin sore dia lihat seekor ayam jago merah jalan sendiri ke arah jalan besar.”

Hening.

“Jalan besar” di mulut Gang Melati Nomor Tiga adalah jalan yang dilalui truk, angkot, dan motor yang tidak peduli marka. Semua orang di teras itu tahu artinya. Mereka tidak mengucapkannya, tapi mereka tahu.

Kakek Warso tidak bergerak.

Lalu ia meletakkan mangkok dedaknya pelan di lantai teras, dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah, dan memandang jauh ke ujung gang.

Tiga menit kemudian, atau mungkin lima, tidak ada yang menghitung, terdengar suara dari ujung gang.

Bukan kluruk.

Tapi langkah. Langkah yang berat, tidak rata, seperti sesuatu yang berjalan dengan susah payah.

Semua kepala menoleh.

Dari ujung Gang Melati Nomor Tiga, dalam cahaya pagi yang masih tipis, muncullah Jalu.

Ia berjalan pelan. Sangat pelan. Salah satu sayapnya terkulai sedikit, bukan patah, tapi lelah. Bulunya kusut di beberapa tempat. Jenggernya masih tegak, tapi merahnya sedikit lebih pucat dari biasa.

Di punggungnya, bertengger dengan santai seperti penumpang angkot yang sudah beli tiket, seekor anak kucing belang tidur.

Anak kucing itu tidur. Tidur. Di punggung ayam jago yang berjalan.

Jalu berjalan terus. Masuk gang. Melewati orang-orang yang memandangnya dengan mulut terbuka. Naik ke teras. Berjalan ke arah pagar kayunya. Dan bertengger di sana, dengan anak kucing yang masih tidur di punggungnya, tidak terusik, tidak peduli.

Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik.

Kemudian Nenek Sarmi, dengan suara yang datar seperti membacakan pengumuman RT, berkata,

“Rupanya dia pergi tak bilang-bilang, pulang ngusung kucing orang.”

Mbak Yanti tertawa duluan. Lalu Bu Lastri. Lalu Mas Udin yang menahan tawa sebentar sebelum akhirnya menyerah. Pak Gimin terkekeh sambil menepuk lututnya.

Kakek Warso memandang Jalu. Lalu anak kucing itu. Lalu Jalu lagi.

Ia mengambil mangkok dedaknya. Menaburkan isinya di lantai teras pelan-pelan.

Jalu turun dari pagar. Anak kucing itu tergelincir sedikit, membuka satu mata, memandang sekelilingnya dengan ekspresi makhluk yang tidak merasa bersalah sama sekali, lalu menutup matanya lagi dan melanjutkan tidur di lantai teras.

Kakek Warso duduk di kursinya.

“Ganti nama kamu,” gumamnya kepada Jalu.

“Bukan ayam jago. Tapi Tukang ojek.”

Dan pagi itu untuk pertama kali dalam waktu yang lama, teras rumah Kakek Warso ramai, penuh orang, penuh tawa, penuh sesuatu yang hangat dan tidak bernama, sementara seekor ayam makan dedak dan seekor anak kucing tidur di antara kaki-kaki manusia yang tidak lagi ingat mengapa mereka semula merasa sedih.

Baturraden, 28 April 2026

 

ChatGPT Image 29 Apr 2026, 22.51.58

Langkah yang Tak Pernah Sepi Makna

 

Oleh: Ayu Condro Ningrum

Menjalani rutinitas sebagai mahasiswa sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto terasa seperti memerankan dua peran yang saling melengkapi. Dalam satu hari, hidup bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Di pagi hari, kami sudah harus menghadapi dinginnya udara Purwokerto untuk mengikuti jamaah salat subuh. Setelah itu, kami bergegas ke kampus, menjalani peran sebagai mahasiswa terlibat dalam diskusi kelas, melakukan presentasi, hingga kebingungan mencari referensi jurnal di perpustakaan. Semua berlangsung cepat, dipenuhi tugas-tugas yang seolah tak berujung.

Namun, saat melangkah kembali melewati gerbang pesantren, kebisingan kampus terasa tertinggal. Suasana berubah menjadi lebih tenang. Laptop dan buku tebal disimpan sejenak, digantikan oleh kitab kuning dan sarung. Di sini, kami tidak lagi sekadar mahasiswa, tetapi kembali menjadi santri yang duduk bersila di lantai masjid. Mendengarkan ngaji kehidupan dari Abah Roqib setelah jamaah salat magrib terasa seperti mengisi ulang energi setelah seharian bergulat dengan teori di kampus.

Tantangan terbesar adalah membagi waktu. Kadang terasa ironis melihat meja belajar di kamar. Di satu sudut, ada tumpukan tugas yang harus segera diselesaikan; di sudut lain, ada kitab yang menunggu untuk dipelajari demi setoran pagi berikutnya. Tak jarang, mata terasa sangat lelah karena semalaman mengerjakan tugas kuliah. Namun, ketika suara bel kompleks atau panggilan salat berjamaah terdengar, kami harus segera bangkit dan bersiap kembali.

Lelah? Tentu saja. Namun di situlah letak keindahannya. Kami belajar hal-hal yang mungkin tidak didapatkan oleh mahasiswa lain. Kami memahami makna thalabul ‘ilmi melalui pendidikan formal, sekaligus diingatkan untuk menjaga adab dan kerendahan hati melalui pendidikan pesantren. Pesma An-Najah, dengan segala kesibukannya, menjadi saksi perjuangan kami bahwa mengejar gelar sarjana adalah penting untuk masa depan, tetapi menjaga nilai-nilai santri adalah cara agar kami tidak kehilangan arah di tengah dunia yang semakin gaduh.

Pada akhirnya, menjalani dua peran ini melatih mental untuk tetap kuat sebagaimana pelajaran yang pernah saya baca dalam buku Filosofi Teras.

Tentang penulis:

Ayu Condro Ningrum

Ayu Condro Ningrum adalah mahasiswa program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Saintek UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Sejalan dengan minat akademiknya, ia menaruh perhatian besar pada bidang jurnalistik dan aktif terlibat dalam aktivitas jurnalistik di kampus, melalui LPM SAKA. Penulis dapat dihubungi melalui Email: ayucondroningrumayu@gmail.com atau nomor telepon:  082220762232.

 

ChatGPT Image 28 Apr 2026, 13.24.52

Ketika Belajar Tak Lagi Tahan Uji: Potret Rapuhnya Generasi Muda

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag., A.H.

(LPDP Awardee, University of Birmingham, UK)

Generasi yang Cepat Lelah

Di ruang-ruang kelas hari ini, kita semakin sering menemukan pemandangan yang serupa: pelajar yang cepat lelah, mudah menyerah, dan kehilangan daya tahan saat berhadapan dengan kesulitan. Tugas yang sedikit kompleks terasa memberatkan, proses belajar yang panjang dianggap membosankan, dan kegagalan kecil kerap berujung pada keputusasaan. Belajar tidak lagi dilihat sebagai perjalanan intelektual, melainkan sekadar beban yang harus segera diselesaikan.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan subjektif generasi tua terhadap generasi muda. Ia adalah gejala yang nyata bahwa ada sesuatu yang berubah dalam cara generasi hari ini berinteraksi dengan pengetahuan dan proses belajar itu sendiri.

Motivasi yang Kian Menurun

Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa penurunan performa akademik sering kali beriringan dengan menurunnya motivasi belajar. Siswa tidak lagi terdorong oleh rasa ingin tahu, melainkan oleh tuntutan nilai, ujian, dan tekanan eksternal. Akibatnya, ketika tekanan itu hilang, motivasi pun ikut merosot.

Belajar kehilangan makna intrinsiknya. Ia tidak lagi dipahami sebagai proses memahami dunia, melainkan sekadar alat untuk mencapai target jangka pendek. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika pelajar mudah kehilangan energi ketika menghadapi tantangan. Tanpa motivasi yang kuat dari dalam, proses belajar akan terasa berat dan mudah ditinggalkan.

Krisis Ketahanan Intelektual

Di titik inilah kita berhadapan dengan persoalan yang lebih mendasar: krisis ketahanan intelektual atau academic resilience. Dalam kajian pendidikan, ketahanan intelektual merujuk pada kemampuan seseorang untuk tetap bertahan, beradaptasi, dan bahkan berkembang meskipun menghadapi kesulitan akademik.

Masalahnya, banyak pelajar hari ini menunjukkan tanda-tanda melemahnya kemampuan ini. Mereka cenderung menghindari tantangan, cepat merasa tidak mampu, dan kesulitan mengelola tekanan. Padahal, justru dalam proses menghadapi kesulitan itulah kemampuan berpikir berkembang.

Dengan kata lain, persoalan utama generasi muda hari ini bukan pada kurangnya kecerdasan, tetapi pada lemahnya daya tahan dalam menggunakan kecerdasan tersebut. Mereka memiliki akses pengetahuan yang luas, tetapi tidak selalu memiliki ketekunan untuk menggali dan mengolahnya secara mendalam.

Ekosistem Instan yang Membentuk Kerapuhan

Kerapuhan ini tidak lahir dalam ruang hampa. Ia dibentuk oleh ekosistem yang semakin mengutamakan kecepatan daripada kedalaman. Di era digital, informasi tersedia secara instan, jawaban dapat ditemukan dalam hitungan detik, dan proses berpikir sering kali dipersingkat melalui berbagai kemudahan teknologi.

Di satu sisi, ini adalah kemajuan. Namun di sisi lain, ia juga membawa konsekuensi: pelajar menjadi kurang terbiasa dengan proses berpikir yang panjang dan melelahkan. Ketika segala sesuatu bisa diperoleh dengan cepat, kesabaran untuk berproses perlahan menjadi semakin langka.

Selain itu, sistem pendidikan juga sering kali belum sepenuhnya mendorong ketahanan intelektual. Tekanan akademik yang tinggi tidak selalu diimbangi dengan dukungan yang memadai. Kegagalan masih sering dipandang sebagai aib, bukan bagian dari proses belajar. Akibatnya, pelajar lebih memilih menghindari risiko daripada menghadapinya.

Mengembalikan Daya Tahan Belajar

Menghadapi situasi ini, yang dibutuhkan bukan sekadar kritik terhadap generasi muda, tetapi refleksi bersama tentang bagaimana kita membangun ekosistem belajar. Ketahanan intelektual tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari proses yang menuntut usaha, kesabaran, dan keberanian untuk gagal.

Karena itu, penting untuk mengembalikan makna belajar sebagai proses, bukan sekadar hasil. Pelajar perlu diberi ruang untuk mengalami kesulitan tanpa langsung dihakimi. Mereka perlu dilatih untuk bertahan, bukan hanya untuk berhasil. Di sisi lain, sistem pendidikan juga perlu bergeser, dari yang hanya menilai hasil akhir, menjadi yang menghargai proses berpikir.

Pada akhirnya, potret rapuhnya generasi muda bukanlah vonis, melainkan peringatan. Di tengah kemudahan yang semakin melimpah, kita berisiko kehilangan sesuatu yang lebih mendasar, yakni daya tahan untuk berpikir, bertanya, dan terus belajar. Dan tanpa itu, pendidikan hanya akan menghasilkan generasi yang tahu banyak hal, tetapi tidak cukup kuat untuk memahaminya secara mendalam.

 

ChatGPT Image Apr 26, 2026, 09_37_04 PM_095121

Hidup itu Absurd, Jangan Lari Darinya

Oleh: Lili Rahayu Usfatun Khasanah

“Hidup itu absurd, jangan lari darinya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan ketegangan yang dalam antara harapan manusia dan kenyataan dunia. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup seharusnya punya arah yang jelas, makna yang tegas, dan akhir yang bisa dipahami. Namun, seiring waktu, kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan: usaha tidak selalu berbuah hasil, doa tidak selalu segera terjawab, dan kebaikan tidak selalu dibalas setimpal. Di titik inilah absurditas muncul sebuah jarak antara apa yang kita cari dan apa yang dunia berikan.

Filsuf seperti Albert Camus menyebut absurditas sebagai kondisi dasar manusia. Kita adalah makhluk yang haus makna, tetapi hidup di semesta yang tidak selalu menyediakan jawaban. Dalam pandangan ini, absurditas bukanlah kesalahan yang harus diperbaiki, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. Masalahnya bukan pada dunia yang tidak masuk akal, tetapi pada harapan kita yang terlalu ingin segala sesuatu menjadi masuk akal.

Namun, menghadapi absurditas tidak berarti menyerah. Justru sebaliknya, di sanalah letak kebebasan manusia. Ketika tidak ada makna yang diberikan secara pasti, manusia memiliki ruang untuk menciptakan maknanya sendiri. Ini bukan tugas yang ringan. Ia menuntut keberanian untuk tetap berjalan meski arah tidak sepenuhnya jelas, untuk tetap mencinta meski tidak ada jaminan, dan untuk tetap berbuat baik meski hasilnya tidak selalu terlihat.

“Jangan lari darinya” berarti tidak menghindar dari kenyataan pahit, tidak menutup mata terhadap ketidakpastian, dan tidak berpura-pura bahwa hidup selalu rapi. Lari dari absurditas bisa berarti mencari pelarian yang semu entah dalam ilusi, penyangkalan, atau harapan-harapan instan yang rapuh. Tetapi menghadapi absurditas berarti berdiri tegak di tengah ketidakjelasan, sambil tetap memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh.

Di sinilah hidup menemukan martabatnya. Bukan karena ia selalu bermakna, tetapi karena manusia terus berusaha memberi makna. Dalam pekerjaan sehari-hari, dalam hubungan sederhana, dalam pengorbanan kecil yang sering tak terlihat semua itu adalah bentuk perlawanan terhadap absurditas. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan seluruh jalannya hidup, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita menjalaninya.

Akhirnya, menerima absurditas bukan berarti kehilangan harapan. Justru sebaliknya, harapan menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi bergantung pada kepastian, melainkan tumbuh dari keberanian. Hidup tetap dijalani, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena kita memilih untuk tidak menyerah pada ketidakjelasan itu.

Maka, hidup memang absurd. Namun, jangan lari darinya. Hadapilah, hiduplah di dalamnya, dan di sanalah perlahan, dalam sunyi dan kesadaran makna itu akan kita ciptakan sendiri.

Tentang Penulis

Lili Rahayu

Lili Rahayu Usfatun Khasanah, merupakan alumnus Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, sekaligus lulusan Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia tengah belajar menjalani perannya sebagai “Ibu” untuk dua buah hatinya: Ali dan Alia.

 

ChatGPT Image 25 Apr 2026, 00.42.52

Tamu di Meja Makan

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso tidak pernah mengundang siapa pun makan di rumahnya.

Bukan karena pelit. Bukan karena tidak suka orang. Tapi karena meja makannya hanya cukup untuk dua kursi, satu untuknya, satu untuk kursi yang sudah dua belas tahun tidak diduduki siapa pun. Kursi mendiang istrinya. Kakek Warso tidak pernah memindahkannya. Tidak pernah menawarkannya untuk diduduki tamu. Orang-orang di Gang Melati Nomor Tiga sudah tahu itu, dan mereka menghormatinya dengan cara yang paling kampungan.

Pura-pura tidak tahu.

Jalu juga tahu aturan itu.

Ayam jago itu tidak pernah masuk ke dalam rumah. Ia hidup di teras, di pagar, di halaman, di wilayah antara rumah dan dunia luar. Seolah ia pun mengerti bahwa ada ruang-ruang yang tidak boleh dimasukinya.

Maka ketika suatu pagi Kakek Warso membuka pintu dan mendapati Jalu sudah berada di dalam rumah, duduk tenang di atas kursi kosong itu, kursi mendiang istrinya, ia tidak langsung marah.

Ia hanya berdiri di ambang pintu. Lama sekali.

Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Pintu belakang mungkin lupa dikunci semalam. Atau mungkin jendela dapur yang selalu sedikit miring itu akhirnya menyerah sepenuhnya. Kakek Warso tidak terlalu mau menyelidiki caranya, yang ada di hadapannya sekarang adalah fakta yang tidak bisa dibantah, bahwasanya Jalu bertengger di kursi itu dengan dada membusung, seperti tamu yang merasa sudah reservasi jauh-jauh hari.

“Turun!” kata Kakek Warso.

Jalu memiringkan kepalanya. Satu mata memandang kakek itu dengan ekspresi yang, kalau ayam bisa punya ekspresi, bisa dibaca sebagai,

“kenapa?”

“Turun, kataku!”

Jalu tidak turun.

Kakek Warso menarik napas panjang. Ia pergi ke dapur, mengambil segenggam dedak, lalu menaburkannya di lantai depan kursi itu. Jalu memandang dedak itu, memandang Kakek Warso, lalu turun dengan anggun dan mulai makan.

Kakek Warso duduk di kursinya sendiri.

Mereka sarapan bersama. Pertama kalinya dalam dua belas tahun, meja makan itu terasa, bukan kebersamaan, tapi setidaknya tidak kosong.

Masalah, seperti biasa di Gang Melati Nomor Tiga, datang dari luar.

Pagi itu Mas Udin, tetangga sebelah yang belum genap sebulan pindah, datang mengetuk pagar dengan wajah yang sudah minta maaf bahkan sebelum mulai bicara.

Maklum, sejak insiden opor beberapa minggu lalu, Mas Udin selalu datang ke rumah Kakek Warso dengan postur orang yang baru saja lolos dari bencana dan tidak mau mengulanginya.

“Pak Warso, maaf mengganggu. Ini ada paket, salah antar ke rumah kami.”

Ia menyorongkan sebuah kotak kecil. Kakek Warso membukanya di teras.

Isinya, sebotol kecap manis, seperempat kilo bawang merah, dan selembar kertas bertulisan tangan, untuk Pak Warso, titip Nenek Sarmi.

Kakek Warso mengernyit. Ia melongok ke arah rumah Nenek Sarmi. Pintu tertutup. Sepi.

“Tadi pagi Nenek Sarmi pergi ke anaknya di Magelang,” kata Mas Udin menjelaskan tanpa ditanya.

“Katanya seminggu. Nitip ini sebelum berangkat.”

Kakek Warso memandang kecap dan bawang merah itu bergantian.

“Ini maksudnya apa?”

“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.”

Kakek Warso membawa kotak itu masuk. Ia duduk di kursinya. Jalu sudah kembali ke teras, bertengger di pagar, memandang jalan dengan gaya seorang pengamat yang tidak perlu berkomentar.

Kecap. Bawang merah. Tanpa penjelasan.

Otak Kakek Warso, yang bertahun-tahun diasah oleh sunyi dan kesendirian, mulai bekerja dengan caranya sendiri.

Di kampung, tidak ada pemberian yang tanpa makna. Kecap dan bawang merah adalah bahan masakan. Bahan masakan adalah undangan untuk memasak.

Memasak untuk siapa?

Untuk diri sendiri?

Tapi kenapa dititipkan?

Atau…

Dan ini yang membuat Kakek Warso tiba-tiba duduk lebih tegak, apakah ini semacam kode?

Bahwa Nenek Sarmi ingin dimasakkan sesuatu ketika pulang nanti?

Atau…

Dan ini yang membuat telinganya memanas,

apakah ini semacam perhatian?

Kakek Warso berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi.

Ia pergi ke sumur, mencuci muka, lalu berdiri di depan cermin retak di kamar mandi dan memandangi wajahnya sendiri untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama.

Rambutnya putih semua. Kumisnya tidak karuan. Gigi depannya tinggal tiga. Melihat kharisma memancar dari wajahnya.

Ia kembali ke teras dan duduk dengan ekspresi seorang lelaki yang sedang bertempur melawan sesuatu di dalam dadanya, dan tidak yakin siapa yang menang.

Tiga hari kemudian, bukan seminggu, Nenek Sarmi pulang.

Kakek Warso mendengar suara becak berhenti di depan gang, lalu suara khas sandal jepit Nenek Sarmi di aspal.

Ia pura-pura sibuk memberi makan Jalu, meski Jalu sudah kenyang dan lebih tertarik memandang kupu-kupu di pohon pepaya.

Nenek Sarmi berjalan masuk ke gang sambil membawa tas kresek. Ia melihat Kakek Warso. Kakek Warso melihat ia. Keduanya pura-pura ini bukan momen apa-apa.

“Cepat pulangnya,”

kata Kakek Warso akhirnya.

“Anak saya ribut. Lebih enak di sini.”

Hening sebentar.

“Titipan kecapnya sudah saya terima,”

kata Kakek Warso dengan suara yang dicoba dibuat datar.

“Maksudnya apa itu?”

Nenek Sarmi berhenti melangkah. Ia memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, atau mungkin bisa dibaca, tapi Kakek Warso tidak mau terburu-buru membacanya.

“Maksudnya apa gimana?”

“Ya, kecap sama bawang merah. Untuk apa?”

Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu tertawa, tawa kecil, bukan tawa keras, tawa orang yang menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak menyangka akan lucu.

“Pak Warso,” katanya, “kemarin saya minta tolong Mas Udin belikan kecap sama bawang merah di warung, tapi saya keburu berangkat. Jadi saya bilang, taruh saja di rumah Pak Warso, nanti saya ambil waktu pulang.”

Kakek Warso membuka mulutnya.

Menutupnya.

Membuka lagi.

“Jadi, ini punya sampeyan?”

“Ya. Boleh saya ambil?”

Nenek Sarmi mengambil kotak kecilnya dan melanjutkan langkah ke rumahnya. Kakek Warso duduk di kursi kayunya dengan ekspresi seorang lelaki yang baru saja membangun istana megah di dalam kepala, lalu mendapati istana itu adalah kandang ayam.

Jalu melompat turun dari pagar, berjalan ke arah Kakek Warso, dan mematuk ujung sandalnya sekali, pelan, hampir seperti tepukan di bahu.

Kakek Warso memandang ayam itu.

“Diam kamu,” katanya.

Jalu kluruk sekali. Pendek. Lalu kembali ke pagar.

Di dalam rumah, kursi mendiang istri Kakek Warso berdiri diam seperti biasa, kosong, sabar, tidak berkomentar apa pun tentang apa yang baru saja terjadi di luar.

Sebagaimana mestinya kursi yang bijak.


 

ChatGPT Image Apr 16, 2026, 05_45_50 PM (1)

Kembali

Oleh: Rio Triyono

“Ia bahkan tak tahu, sejak kapan semuanya terasa berubah. Bukan orang-orang dan sesuatu di sekitarnya, melainkan ada sebagian dari dalam dirinya yang menjauh. yang membuatnya merasa kosong dan rapuh.”

Bagi Taka, hari itu sebenarnya masih sama seperti sebelumnya. Tidak menjumpai ada sesuatu yang istimewa, hanya beraktivitas seperti biasa. Bangun pagi, menyiapkan sarapan, berangkat bekerja, dan bertemu dengan berbagai hal random lainnya. Hanya rutinitas harian, yang bahkan semakin lama sudah terasa seperti template hidup yang itu-itu saja baginya. Sedikit hambar dan melelahkan memang, tapi itulah adanya.

Kilauan matahari senja, saat itu sepertinya tidak akan menampakan keindahannya. Langit yang belum sepenuhnya terang, masih menyisakan warna abu-abu gelap yang menggantung rendah. di antara kabel listrik dan pucuk-pucuk pohon mahoni di pinggir jalan. Seolah menyisakan cerita hujan yang belum sepenuhnya selesai. Meninggalkan jejak yang belum benar-benar hilang. Jalanan yang masih terlihat basah, dan aroma tanah yang tertangisi langit pun masih tercium samar.

Sore itu, ia keluar dari tempatnya bekerja. Menyalakan motor, lalu melaju secara pelan. Tidak terburu-buru, tidak juga ingin cepat sampai. Melintasi jalanan yang masih tergenang air akibat hujan siang hari itu. Tanpa alasan yang jelas, seolah tidak benar-benar memiliki tujuan. Seperti ada bagian dari dirinya yang sengaja memperlambat segalanya.

Sampai akhirnya…

Ia pun melintasi sebuah kedai kopi kecil di pinggir jalan, dan memutuskan untuk berhenti.

Tempatnya sederhana, dengan jendela besar yang langsung menghadap ke luar. Tidak terlalu ramai. hanya terdapat beberapa meja kayu dengan kursi yang tampak sudah cukup lama digunakan, meninggalkan berbagai kenangan orang-orang yang pernah mengunjunginya.

Ia memarkirkan motornya, lalu melangkah masuk perlahan.

Denting lonceng kecil yang tergantung di pintu terdengar singkat olehnya, bunyi yang sedikit memecah kesunyian di dalam. Seperti menyapa kedatangan dirinya tanpa benar-benar ingin diperhatikan. Aroma kopi yang pekat dan hangat segera menyambutnya. Lampu-lampu gantung yang masih menyala redup, memantulkan cahaya kekuningan yang lembut. Terdengar olehnya suara dengung pelan mesin kopi di sudut ruangan yang sesekali mendesis saat uap panas dilepaskan, berpadu dengan alunan musik pelan yang nyaris tak terdengar.

Ia memutuskan untuk memesan secangkir kopi hitam. Tanpa gula, seperti biasa. Pilihan yang sederhana, yang sudah terlalu sering diulang hingga tak lagi perlu dipikirkan olehnya.

Ia pun memilih untuk duduk di dekat jendela.

Entah mengapa…

Baginya, tempat seperti itu selalu terasa lebih nyaman. Mungkin karena ia bisa melihat dunia luar bergerak sebagaimana mestinya dari sana. Orang-orang berjalan, kendaraan yang melaju, dan waktu yang terus berlalu tanpa pernah peduli pada siapa pun.

Tanpa menunggu terlalu lama, secangkir kopi yang ia pesan pun datang. Permukaan yang berputar halus, seolah menyimpan panas yang masih hidup di dalamnya. Uap tipisnya mengepul perlahan, membawa aroma pahit di hidungnya sebelum akhirnya menghilang di udara.

Ia tidak langsung menyesapnya. Tangannya hanya menyentuh cangkir itu sejenak, merasakan panasnya yang menjalar pelan ke telapak tangan miliknya. Terasa hangat, cukup untuk meredakan hawa dingin dari udara luar yang lembap akibat hujan.

Namun, sudah seperti kebiasaan yang tidak ia sadari. Pandangannya sesekali tertuju pada pintu, setiap kali lonceng di pintu itu berbunyi, refleksnya pun kembali bekerja.

Ia menoleh. Seolah berharap ada sesuatu, atau seseorang yang akan dating menemuinya. Tapi, yang ada hanyalah orang-orang asing. Wajah yang tidak pernah benar-benar ingin diingat olehnya.

Kemudian…

Ia pun mengangkat cangkir di depannya, lalu menyesapnya perlahan.

Entah mengapa, secara tiba-tiba…

Ia teringat pada kejadian kala itu. Bayangan tentang gadis berkacamata bundar yang terlintas begitu saja. Bukan karena wajahnya, bukan pula karena singkat dalam pertemuannya. Mungkin karena percakapan mereka. atau mungkin, karena satu pertanyaan dari gadis itu yang hingga kini masih tertinggal di kepalanya.

Tentang dingin.

Tentang sesuatu yang tak pernah datang.

Ia menghela napas pelan, lalu menunduk menatap kopi yang ada di hadapannya. Uapnya masih terlihat, namun tak lagi setebal sebelumnya. Perlahan, hangatnya mulai berkurang, seperti sesuatu yang sejak awal memang tidak ditakdirkan untuk lama bertahan.

Ia pun tersenyum tipis.

Entah karena menyadari kebodohan kecil dalam dirinya sendiri, atau karena akhirnya ia mulai mengerti akan sesuatu yang dulu masih terasa samar olehnya.

Ia terdiam sejenak. Menyadari ada sesuatu yang begitu halus dirasa, namun nyata. Bahwa hari ini ia kembali melakukan hal yang sama.

Menunggu.

Tanpa kepastian. Tanpa alasan yang benar-benar jelas. Apa, untuk siapa dan mengapa ia melakukanya. Bahkan, ia sendiri pun tidak tahu, sekarang ia sedang menunggu atau sekedar membuang waktu.

Kembali ia menyesapi kopi itu.

Pahit…

Namun kali ini, terasa lebih jujur.

Di luar, terlihat lampu jalanan kini mulai menyala. Orang-orang berjalan dengan langkah cepat, bergerak dengan urusan masing-masing. Tak ada yang benar-benar peduli siapa yang sedang menunggu, atau apa yang sedang diharapkan.

Dan mungkin, memang seperti itulah seharusnya.

Ia pun kembali bersandar.

Kali ini, ia tidak lagi melihat ke arah pintu. Tidak lagi menunggu bunyi lonceng. Tidak lagi berharap akan ada seseorang yang datang menghampirinya dan mengubah hari itu menjadi sesuatu yang berbeda baginya.

Ia hanya duduk. Diam.

Mendengarkan suara mesin kopi, denting gelas, dan langkah kaki yang datang lalu pergi.

Untuk sesaat, semuanya terasa begitu sederhana.

Dan anehnya… itu cukup.

Akhirnya ia menyadari, bahwa selama ini dirinya terlalu sibuk menunggu sesuatu dari luar. Seolah-olah kehadiran orang lain adalah satu-satunya cara untuk mengisi ruang kosong dalam dirinya. Padahal, ruang itu tidak pernah benar-benar kosong. Hanya saja, ia yang jarang benar-benar berhenti untuk melihatnya.

Ia menatap keluar jendela.

Cahaya matahari mulai menghilang. Tergantikan sorot lampu kota dan kendaraan yang melintas di jalanan, memantul di permukaan aspal yang masih basah dan perlahan mengering. Segalanya kembali seperti biasa, dan untuk pertama kalinya, dirinya tidak merasa tertinggal di dalamnya.

Ia kembali menyesap kopi.

Kini hangatnya terasa lebih berarti. Bukan karena suhunya, melainkan karena ia benar-benar merasakannya.

Tanpa terburu-buru, tanpa distraksi, dan tanpa harapan yang berlebihan,

yang ada, ia hanya merasakan… bahwa dirinya ada.

Dan di situlah ia akhirnya mengerti, bahwa sendiri tidak selalu berarti kesepian. Terkadang, sendiri adalah cara paling jujur untuk menenangkan diri. Bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk kembali.

Kembali pada diri sendiri. Kembali pada hal-hal sederhana yang selama ini ia lewatkan. Kembali pada ketenangan yang tidak bergantung kepada apapun. Dan kembali untuk tidak berharap akan kehadiran siapapun.

Kopi di hadapannya pun perlahan mendingin. Namun kali ini, ia tidak merasa kehilangan apapun. Ia berdiri perlahan, meraih tas, lalu berjalan menuju pintu. Lonceng kecil itu kembali berbunyi saat ia membukanya. Udara di luar dirasanya terasa lebih hangat dari sebelumnya.

Ia melangkah keluar.

Tanpa menoleh kembali, dan tanpa menunggu apapun lagi.

Karena sekarang ia pun mengerti, bahwa tidak semua kehangatan harus datang dari orang lain. Terkadang, kesendirian adalah cara paling jujur untuk pulang, dan menemukan kembali diri yang sempat hilang dalam penantian.

Tentang Penulis

Rio Triyono

Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.