Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.
Banyak orang berkomentar tentang pesantren sementara ia belum pernah nyantri, atau pernah nyantri tetapi belum menghayati dan mendalami tradisi pesantren yang oleh Gus Dur disebut sebagai sub-kultur budaya Jawa yang khas. Orang yang belum memahaminya, jika mengomentari pesantren, ia akan jatuh pada pemahaman yang jauh dari kenyataan dan substansi kulturnya. Betapa tidak, seorang kiai dengan keyakinan penuh menyediakan diri untuk kemaslahatan umat dan mendidiknya secara totalājiwa raga. Ia siapkan harta dan tenaga yang ia punya, disertai tirakat dhahir batin agar semua santrinya menjadi generasi yang berilmu dan sholih-sholihah.
Dimulai dari perjalanan panjang di masa mudanya, kiai telah menimba ilmu dari berbagai pondok pesantren, bahkan sampai ke luar negeriāsemisal Timur Tengah, MakkahāMadinahābersamaan dengan menunaikan ibadah haji. Peristiwa heroik selalu menyertai petualangannya. Setelah diyakini cukup dengan bekal ilmu dan juga jiwa yang matang, barulah ia mendirikan pesantren, menebar ilmu dan kemaslahatan. Perilaku seperti ini adalah keanehan bagi masyarakat umum, apalagi orang awam tentang pesantren, sehingga perilaku ini dianggap aneh dan bodohāmembuang waktu, pikiran, dan tenaga tanpa ada hasil materi di kemudian hari. Begitulah kiranya background sosial-historisnya mengapa ada berita miring dan kemudian viral akhir-akhir ini.
Kasus tersebut mengingatkan saya yang juga telah malang melintang di belantara dunia pesantrenāmulai dari Pesantren Hidayatul Ummah Pringgoboyo Lamongan, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tebuireng Jombang, dan Pesantren Denanyar Jombang. Nah, di tengah-tengah nyantri di Denanyar inilah saya mengaji puasanan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pondok Lirboyo pada tahun 1986 sangatlah terkenal dengan pengasuh pertamanya, Mbah KH. Abdul Manaf atau KH. Abdul Karim, dan kemudian diteruskan oleh KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.
Pada tahun 1986 tersebut, saya ikut mengaji di antaranya pada KH. Idris Marzuqi, KH. Imam Yahya Mahrus, dan KH. Maksum Jauhari. Mengaji ke Gus Maksum di sore hari yang biasanya menunggu sambil melihat tingkah lucu kera yang ada di depan rumahnya. Jika direnungkan, betapa āunikā beliau para pengasuh pondok ini juga pondok-pondok pada umumnya: di tengah-tengah menjalankan ibadah puasa, beliau masih menyempatkan diri mengaji setelah atau bakda salat fardlu sampai dengan menjelang waktu salat berikutnya. Sedang bakda salat Tarawih, santri mengaji sampai tengah malam atau dini hari. Demikian terus berjalan, apalagi di bulan puasa yang diyakini sebagai bulan penuh berkah.
Contoh keteladanan kiai yang begitu kuat, disertai ketinggian ilmu dan kewibawaan substantifnya, menarik perhatian para pecinta ilmu dari berbagai daerah. Tidak ketinggalan kami yang dari Desa Kanugrahan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, jauh dari Lirboyo Kediri harus menyiapkan diri dengan penuh semangat dan tekad yang kuat. Berangkat dari rumah berbekal beras se-kanthong, sambal kering, dan ikan gereh atau ikan asin, dengan mantap saya bersama kakak sepupu putra bude, Muhammad Sholeh, berangkat ke Lirboyo. Dari rumah Lamongan ke Lirboyo Kediri dengan kendaraan umum harus berganti-ganti kendaraan sampai sekitar enam kali. Akhirnya kami sampai di pesantren dambaanābesar, dengan santri yang berdisiplin ketat dalam jamaah dan mengaji. Hati ini terasa gembira sekaligus bangga karena merasa mendapatkan anugerah besar berupa ākesempatan nyecep ilmuā di pondok besar dengan beberapa kiai besar dan masyhur yang mengasuh Pondok Lirboyo ini.
Selama sebulan di pesantren ini, kami seolah tidak terbebani biayaāhanya semacam administrasi yang tidak seberapa. Masak sendiri untuk sahur dan buka, dan jika tidak sempat masak, kami baru ke kantin pondok untuk makan seporsi Rp75 kala itu. Pembiayaan yang ringan dan kebiasaan hidup yang sederhana seperti ini terasa nyaman dan tenteram. Setiap hari kegiatannya dari ilmu, ibadah, dan ilmu lagi. Begitu seterusnya. Saat ada waktu senggang, kami berjalan kaki pakai sarung ke pertokoan kota Kediri, meski seringnya kami hanya window shopping alias lihat-lihat saja. Selain itu, seringnya di waktu senggang di antara waktu ngaji kami manfaatkan untuk mengkhatamkan Al-Qurāan di maqbarah Mbah KH. Abdul Karim. Kegiatan membaca Al-Qurāan di maqbarah ini biasa dilakukan santri, juga saya lakukan saat mengaji di Tebuireng di maqam Mbah KH. Hasyim Asyāari. Demikian juga tatkala saya mondok di Langitan, Denanyar, dan Krapyak Yogyakarta. Membaca Al-Qurāan di makam atau maqbarah memang menjadi kecintaan santri karena meyakini ada berkah di dalamnya.
Perilaku keteladanan kiai yang diikuti santri dalam kesederhanaan dan penuh pengabdian seperti di Lirboyo iniājuga pesantren lainnyaāmerupakan tradisi kuat bagaimana totalitas kiai berkhidmat dengan ilmu dan kompetensinya untuk santri dan umat. Demikian juga santri, mereka mencari ilmu dengan penuh semangat disertai hormat dan berkhidmat yang tulus pada kiainya. Hubungan yang ikhlas seperti ini begitu kuatnya tanpa kontrak yang bersifat material sepeser pun. Bahkan sebagian santri menghadap kiai untuk mengaji tanpa membawa materi apa pun, pokoknya pasrah bongkokan sama kiai, bahkan ada yang sampai dinikahkan oleh kiai. Apalagi Lirboyo, sebagai pesantren besar pastilah banyak ragam santri dengan berbagai latar pendidikan dan ekonominya.
Saya di Pondok Lirboyo tinggal di asrama yang konon pertama kali dibangun oleh Mbah Karim atau pondok induk yang lokasinya di utara masjid. Kebetulan bersama dengan santri senior asal Lamonganāsayang saya lupa namanyaāyang bersedia membantu memasakkan kami. Ia bilang: āDik, mana beras dan ikan asinmu? Sini aku yang masak, baik untuk sahur maupun untuk bukanya. Jika sudah waktunya sahur maupun buka, silakan gabung, kita sahur dan buka bersama.ā Waduh, senang sekali rasanyaāsudah mendapatkan kawan senior sekaligus membantu masakāsehingga kami berdua bisa punya waktu tambahan untuk menghatamkan Al-Qurāan di maqam Mbah Karim. Jika ada halangan, barulah kami ke warung pondok untuk makan dengan harga super murah.
Ya Allah, betapa mulianya para pengasuh pesantren dan betapa mulia para santri yang mengikuti jejak para kiainya. Saya bersyukur bisa mengaji di Pesantren Lirboyo Kediri yang telah memberikan ilmu dan keberkahan. Karena keberkahan ilmu dari para kiai, kini saya diberi kemampuan untuk mendirikan pesantren mengikuti jejak sang kiai, menjadi dosen, dan rektor di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Tanpa keberkahan tersebut, rasanya saya masih sangat jauh memperoleh kesempatan setinggi itu.
Realitas sosiologis sebagai sub-kultur sebagaimana saya ceritakan secara singkat di atas akan menjadi sulit sekali dipahami, apalagi diterima oleh orang yang belum pernah menjadi santri. Siapa pun akan mengalami kesulitan memahami, bagaimana mungkin ada orang mau secara sukarela mengabdikan diri untuk menebar ilmu dan agama siang malam tanpa digajiājika ia mendapatkan imbalan pun tak seberapa jumlahnya. Kiai terbiasa bersedekah, dan diikuti oleh santri juga bersedekah pada kiai yang mereka hormati dan cintai dengan amplop atau cangkingan apa saja yang mereka punya. Bagi orang awam dan dengki terhadap pesantren, muncullah framing negatif terhadap pesantren yang mereka katakan sebagai feodal, dan pengasuhnya yang kaya dengan sarung dan mobil mahal, tetapi tega menerima amplop dari santri yang umumnya miskin. Ini pemikiran paham materialisme dan kapitalisme yang memahami kehidupan ini serba kontraktualāsiapa memberi apa, dapat apa secara material.
Narasi yang kebangeten alias keterlaluan itu mengingatkan kembali bayangan saya pada tahun 1986 itu, saat di Pesantren Lirboyo dan beberapa kali silaturrahim untuk ziyarah ke sana bersama rombongan santri. Sepengetahuan saya, pesantren ini tetap sederhana dan bersahaja. Mungkin yang terlihat berubah adalah berdirinya bangunan bertingkat dan lebih rapi. Saya bangga melihat perkembangan Pondok Lirboyo dan terus berdoa agar pesantren ini terus berkembang dan bermanfaat bagi umat. Apa pun yang dikatakan oleh orang yang tidak senang pada pesantren, kegiatan tetap berjalan stabil. Karena bagi orang yang senang pondok, itu tidak akan kekurangan kata untuk memuji; begitu juga bagi orang yang tidak suka pesantren, mereka tidak kurang juga untuk membuat argumen dan narasi untuk mencela dan menjatuhkannya.
Salam, Jayalah Lirboyoku!
Selamat Hari Santri Nasional !
Wallahu aālam bisshawab.
Pesma An Najah, 21 Rabiāul Akhir 1447 H