Man and rooster in quiet exchange

Ayam Jago Kakek

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso percaya bahwa ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Seperti lelaki yang tahu ke mana harus pulang, seekor ayam jago yang benar akan selalu kembali sendiri, dengan dada membusung dan taji yang bersih dari lumpur.

Dan Jalu memang selalu pulang.

Begitulah nama yang diberikan Kakek Warso pada ayam jagonya, Jalu. Bukan nama yang puitis, tapi nama yang jujur. Jalu adalah taji, dan seekor ayam jago hidup dengan tajinya. Kakek Warso tidak suka basa-basi, termasuk dalam soal penamaan.

Setiap pagi pukul empat, sebelum adzan shubuh pecah memenuhi udara, Jalu sudah bertengger di atas pagar kayu depan rumah. Kluruknya bukan sekadar bunyi, ia adalah pengumuman.

Bahwa hari baru telah tiba.

Bahwa si tua Warso boleh membuka mata.

Bahwa semesta masih bekerja sebagaimana mestinya.

Tiap pagi dan sore, Kakek Warso duduk di kursi kayu di depan rumahnya, kursi yang sama sejak istrinya meninggal dua belas tahun lalu. Lalu ia menaburkan dedak campur nasi basi ke lantai teras. Jalu makan dengan takzim. Kakek Warso menonton dengan tenang. Tidak ada yang dibicarakan.

Tidak ada yang perlu dibicarakan.

Tetangga-tetangga di Gang Melati Nomor Tiga sudah hafal ritual itu. Bu Lastri yang berjualan sayur di ujung gang kadang bilang,

“Pak Warso, kalau ayamnya mati duluan, bapak pasti ikutan.”

Kakek Warso hanya nyengir. Gigi depannya tinggal tiga.

Masalah dimulai pada suatu sabtu. Atau lebih tepatnya, masalah dimulai pada jumat malam, ketika sebuah truk pick-up berhenti di depan rumah kosong sebelah, menurunkan kardus-kardus, lemari kayu, dan satu unit televisi dua puluh inci yang dibungkus lakban cokelat.

Keluarga baru. Suami-istri muda. Mereka memperkenalkan diri sebagai Mas Udin dan Mbak Yanti. Ramah, senyumnya lebar, bawa martabak manis ketika bertegur sapa dengan Kakek Warso di pagar. Kakek Warso menerima martabak itu dengan ekspresi datar yang bisa berarti apa saja, terima kasih, atau curiga, atau keduanya.

Sabtu pagi tiba.

Pukul lima lewat tujuh menit, Kakek Warso terbangun bukan oleh kluruk Jalu, tapi oleh sunyi yang ganjil. Sunyi yang memiliki bobot. Sunyi yang berbunyi dengan caranya sendiri—yaitu dengan tidak berbunyi sama sekali.

Ia duduk di tepian ranjang. Menunggu. Satu menit. Dua menit.

Tidak ada kluruk.

Kakek Warso keluar ke teras. Pagar kayu itu kosong. Hanya ada embun yang menggenang di atas serat kayu tua, dan seekor cicak yang berjalan pelan seolah tidak ada urusan dengan kepanikan seorang kakek.

Jalu tidak ada.

Kakek Warso berkeliling halaman. Memeriksa kebun singkong di belakang. Mengintip kolong rumah. Memanggil dengan suara yang lebih mirip rintihan daripada panggilan: “Jalu… Jalu…”

Tidak ada jawaban.

Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Aroma santan yang mendidih, daun salam, lengkuas yang dimemarkan, dan, di balik semua itu, aroma daging yang dimasak perlahan hingga lunak. Aroma itu mengambang dari arah rumah sebelah. Rumah Mas Udin dan Mbak Yanti yang baru saja pindah kemarin malam.

Kakek Warso berdiri mematung.

Ia menghitung dalam hatinya. Ayam hilang. Tetangga baru. Tetangga baru memasak ayam. Aroma santan. Opor.

Matematika sederhana. Kesimpulan yang, bagi Kakek Warso saat itu, terasa sekeras bata.

Belum selesai ia menarik napas untuk berteriak, pintu rumah sebelah terbuka. Mbak Yanti muncul dengan senyum selebar fajar, membawa mangkok putih berisi opor yang mengepul. Kuahnya kuning kecokelatan, kental, dan di dalamnya, ya, di dalamnya, ada potongan ayam yang warnanya sudah tidak bisa membohongi siapa pun.

“Pak Warso, ini kami bawakan opor. Ayam jago, biar tetangga kenal-kenalan,” kata Mbak Yanti sambil menyorongkan mangkok itu.

Kakek Warso menatap mangkok itu. Lalu menatap perempuan muda itu. Lalu menatap mangkok lagi. Di dalam otaknya, api mulai menyala dengan kecepatan yang tidak seimbang dengan usianya.

“Ini ayam saya!”

Suara Kakek Warso membelah pagi Gang Melati Nomor Tiga seperti petasan yang disulut di ruangan sempit. Mbak Yanti terlompat. Mangkok hampir jatuh.

“Pak, pak, ini kami beli di pasar”

“Pasar apa! Ayam saya hilang pagi ini! Ini Jalu saya, saya kenal dagingnya!”

Tentu saja tidak ada manusia yang bisa mengenali dagingnya sendiri setelah dimasak dengan santan dan kunyit. Tapi Kakek Warso sedang tidak berada dalam kondisi untuk berdebat soal epistemologi.

Mas Udin keluar. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya belum disisir, mungkin belum sempat cuci muka. Ia memandang istrinya, memandang Kakek Warso, memandang mangkok opor yang kini jadi barang bukti.

“Pak, beneran itu kami beli tadi malam di pasar malam”

“Bohong! Tetangga baru langsung nyolong ayam orang! Ini namanya apa?! Tidak punya adab! Tidak punya sopan santun! Masuk kampung langsung maling!”

Beberapa pintu rumah mulai terbuka. Kepala-kepala menjulur. Anak-anak kecil berdiri di balik kaki ibu mereka dengan mata yang bersinar penasaran,.karena keributan di pagi hari selalu lebih menarik daripada kartun.

Mbak Yanti hampir menangis. Mas Udin menelan ludah berkali-kali. Tidak ada kalimat yang cukup tepat untuk menghadapi seorang kakek yang naik pitam sebelum sarapan.

Dari ujung gang, langkah sandal jepit berbunyi pelan tapi pasti. Nenek Sarmi, tetangga Kakek Warso yang lain, perempuan tujuh puluh tahunan yang punggungnya sudah sedikit melengkung tapi matanya masih awas seperti elang kampung, datang sambil mengeringkan tangan di kain jariknya.

 

“Pak Warso,” katanya. Suaranya datar seperti aspal.

“Ayam sampeyan dari tadi pagi nguber, nguber si Lastri.”

 

Hening sejenak.

 

“Nguber siapa?”

 

“Lastri. Ayam betina saya. Yang berbulu hitam. Dari jam setengah lima Jalu sudah ada di kandang saya, nguber-nguber Lastri muter-muter. Tidak saya usir karena saya kira Pak Warso sudah tahu.”

Semua orang yang menonton dari pintu masing-masing tiba-tiba mengeluarkan suara bermacam-macam, ada yang tertawa tertahan, ada yang berdehem, ada yang pura-pura sibuk menyapu teras.

Dan tepat pada saat itulah, seolah semesta memang suka dramaturgi, Jalu muncul dari arah rumah Nenek Sarmi. Jalannya sedikit sempoyongan, bukan karena sakit, tapi karena kelelahan yang memuaskan. Bulunya sedikit awut-awutan. Matanya sipit. Tapi dadanya tetap membusung, sebagaimana semestinya seekor ayam jago yang baru menyelesaikan urusannya.

Jalu berjalan melintasi halaman tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan, naik ke teras, lalu bertengger di pagar kayu, seolah ia baru kembali dari liburan singkat yang sangat pribadi dan tidak merasa perlu memberikan penjelasan kepada siapa pun.

Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada ekspresi bersalah. Hanya dada yang membusung dan mata yang sedikit mengantuk.

Kakek Warso berdiri lama di depan pagar itu. Mangkok opor masih di tangannya. Uapnya sudah tidak sehangat tadi.

Ia menatap Mbak Yanti. Perempuan muda itu sudah tidak hampir menangis lagi, tapi matanya masih sedikit merah.

Kakek Warso menggumam sesuatu yang tidak jelas. Mungkin permintaan maaf. Mungkin bukan. Bahasa Kakek Warso memang tidak pernah terlalu terang dalam soal-soal yang memalukan.

Yang jelas, ia kemudian masuk ke dapur, mengambil piring, memindahkan sebagian opor ke piringnya sendiri, lalu kembali ke teras dan makan dengan pelan.

Opor itu enak. Santannya pas. Dagingnya empuk. Ayam pasar memang beda dengan ayam kampung, tapi tetap saja enak bila dimasak dengan benar.

Jalu bertengger di pagar, sesekali menengok ke arah Kakek Warso, lalu menengok ke arah rumah nenek Sarmi dengan tatapan, kalau ayam bisa punya tatapan seperti itu, yang bisa disebut penuh kenangan.

Nenek Sarmi lewat sambil membawa ember cucian. Ia melirik Kakek Warso sebentar, lalu berkata pelan tapi cukup keras untuk didengar: “Lain kali tanya dulu, Pak. Baru marah.”

Kakek Warso tidak menjawab. Ia mengambil sesuap opor lagi.

Di ujung gang, Mbak Yanti berbisik kepada suaminya: “Mas, kita pindah ke sini sudah disambut ribut. Tanda apa ini?”

Mas Udin berpikir sebentar. “Tanda kita sudah benar-benar jadi warga Gang Melati, Yan.”

Dan pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga kembali sunyi, sunyi yang berbeda dari sunyi tadi, karena kini ia berisi sebuah kisah yang akan diceritakan ulang bertahun-tahun kemudian, setiap kali ada yang bertanya:

siapa itu si Jalu?

———————-

Baturraden, 9 April 2026

Mencari harapan di tengah kenyataan

Apakah Lulusan UIN Sulit untuk Mencari Kerja? Membaca Atas Realitas Sosial

Oleh: Farraz Azzahy Setiaji

Belakangan ini, isu liar yang menyangkut kampus keagamaan (sebut saja UIN) menjadi perbincangan hangat. perbincangan ini di fokuskan kepada pertanyaan mendasar, apakah lulusan UIN susah untuk mencari kerja? atau bahkan mudah mencari kerja?.

‎Asumsi tersebut dilatarbelakangi karena jurusan UIN yang semakin banyak dan ‘kurang’ relevan dengan kebutuhan industri sehingga kebanyakan mahasiswa khususnya dalam ranah akhir kesulitan mencari kerja karena jurusan mereka tidak ada dalam list kebutuhan industri tersebut.

‎Untuk itu, bagaimana kita seorang lulusan UIN membaca atas realitas tersebut? disini penulis akan sedikit membedah secara objektif maupun subjektif supaya perbincangan ini tidak stuck begitu saja.

‎Kemana sebenarnya arah UIN?

‎Sebelum masuk ke isu hangat diatas, kita bedah terlebih dahulu dengan pertanyaan mendasar, apa sih yang di pelajari dalam kampus UIN? apakah sebagai penyalur teori industri berkelanjutan atau terfokus pada keagamaan saja?

Pertama, dalam segi keilmuan, UIN tergolong kampus mumpuni yang terfokus pada dunia studi Islam, mengingat kompleksitas Islam yang sangat luas maka diperlukan ketajaman berpikir dan memecahkan masalah pada masyarakat awam. posisi UIN disini menjadi penting, mengapa penting? disatu sisi untuk melestarikan keilmuan Islam, disatu sisi yang lain berfokus terhadap pemecahan masalah dalam bidang agama yang tergolong rumit.

contoh, masyarakat kesulitan untuk memahami kandungan Al-Quran, disini UIN khususnya prodi tafsir menjawab kesulitan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami serta mengarahkan masyarakat supaya tidak salah tafsir. hal ini lah yang menjadi pembeda antara UIN dan kampus yang lain.

Kedua, jika dibandingkan dengan PTN jelas berbeda arah keilmuan, setiap kampus pasti memiliki alasan dibukanya jurusan tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. apakah UIN penyalur industri? jawabannya mungkin iya, (untuk saat sekarang) karena kurun waktu perkembangan UIN tidak hanya dilihat dari agamanya saja, melainkan dapat mengintegrasikan ilmu yang lain seperti, sosial-humaniora, informatika, Ilmu sains (kimia, fisika, biologi, matematika) mulai bermunculan. integrasi tersebut lah yang menjadikan alasan UIN ‘mampu’ menjawab kebutuhan industri masa kini.

Lalu, apakah stigma ‘sulit mencari kerja’ terus menempel pada kampus UIN?

‎apabila dilihat dari segi objektif, banyak juga lulusan PTN maupun PTKIN yang sama-sama sulit mencari kerja. penulis melakukan wawancara sederhana terhadap salah satu aktivis-akademis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia memberikan pernyataan terkait isu ini meliputi;

kemungkinan pertama, asumsi diatas tepat, secara objektif, bukan hanya lulusan UIN, namun kampus umum yang memiliki segudang prestasi dan ‘nama’ baik di Indonesia juga tidak bisa menjamin. Hal ini di pengaruhi oleh kesiapan mahasiswa terhadap dunia kerja. Semakin sering berlatih dan mencari peluang, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap mahasiswa ntah dari kampus terbaik maupun biasa saja, juga mampu berkecimpung di dunia kerja.

kemungkinan kedua, asumsi diatas kurang tepat, setiap kampus memiliki kegelisahan akademik sendiri, memiliki kekhasan masing-masing. Kampus UIN cenderung melakukan pemecahan masalah dari sudut pandang agama, sedangkan kampus umum cenderung kepada pemecahan masalah secara sosial, sains dan humaniora.

Setiap kampus juga mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat serta dimensi industri dengan mengintegrasikan keilmuan sesuai dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kembali lagi kepada diri mahasiswa, siap untuk menerima perkembangan tersebut atau justru stuck terhadap dinamisnya dunia.

Bagaimana solusinya?

Mungkin solusi ini tidak bisa memberikan sesuatu yang konkrit, namun saran ini mungkin bisa diterima oleh beberapa mahasiswa terutama kecemasan-kecemasan kesulitan mencari kerja.

Pertama, tentukan arah yang jelas, hal ini penting sebagai pondasi utama dalam belajar di dunia perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa masuk terhadap jurusan tersebut masih seringkali kebingungan menentukan arah sehingga menyesal di kemudian hari.

Kedua, asah soft skill sejak masuk kampus. Kampus adalah ladang yang sangat luas dan peluang yang sangat banyak. Sangat disayangkan ketika mahasiswa diberikan privilege untuk masuk dalam dunia perkuliahan tidak bisa memanfaatkan hal tersebut.

Ketiga, menghidari kecemasan berlebihan. Kebanyakan mahasiswa tidak siap untuk bekerja faktor utama adalah rasa ‘cemas’ padahal untuk mendapatkan pekerjaan harus disiapkan, dicoba secara berkala serta selalu melihat peluang yang tersedia.

Dengan solusi diatas, jika diterapkan mungkin stigma mahasiswa UIN ‘sulit’ cari kerja hanyalah sebatas asumsi belaka, tidak salah kampus memiliki banyak jurusan, semua tergantung diri seorang mahasiswa, apakah siap kita sebagai lulusan UIN untuk bekerja? Atau kita terus menyalahkan keadaan, padahal yang menjadi masalah utama adalah kemalasan kita dalam mencari peluang di kampus UIN yang besar.

Akhir kata, semoga dengan tulisan ini, penulis berharap kepada pembaca dapat merefleksikan diri, asumsi judul diatas mungkin hanya sebatas ‘angin’ belaka. Kita diberi privilege lebih dan dimanfaatkan secara baik dan bijaksana.

 

Daftar Pustaka

Artikel; https://uinbanten.ac.id/stigma-atau-realita-menimbang-posisi-lulusan-uin-iain-di-dunia-kerja/

Wawancara dengan salah satu aktivis-akademis UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Artikel: https://id.quora.com/Apakah-lulusan-prodi-umum-di-UIN-susah-dapet-kerja

Tentang Penulis

Farraz Azzahy Setiaji

Farraz Azzahy Setiaji adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam perjalanan intelektual, menekuni pada bidang studi islam dan hermeneutika Al-Qur’an. Pernah menjuarai kompetisi ilmiah nasional mahasiswa ushuludin (KINMU 2025) dan perlombaan artikel lainnya. Penulis dapat dihubungi via,  Email: farrazazzahyy@gmail.com , Telp. 085226271268.

White Orange Social Media Marketing Live Webinar Youtube Thumbnail (Website) (1)

QS World Ranking: Ketika UIN Jakarta, Yogyakarta, dan Malang Naik Peringkat, Apa yang Sebenarnya Dinilai?

Oleh: Moh. Nailul Muna, M.Ag.

Euforia yang Perlu Dipertanyakan

Belakangan ini, kabar tentang naiknya peringkat kampus-kampus Indonesia di level global terasa seperti angin segar. Apalagi ketika nama-nama seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mulai muncul dalam percakapan tentang QS World University Rankings. Ada rasa bangga yang sulit disembunyikan, seolah-olah kita akhirnya “diakui” oleh dunia.

Namun, di tengah euforia itu, ada satu pertanyaan yang justru jarang diajukan: ketika peringkat itu naik, apa sebenarnya yang sedang dinilai?

Pertanyaan ini penting, karena kita sering kali menerima ranking sebagai sesuatu yang netral, objektif, dan tak terbantahkan. Seolah-olah angka-angka itu berbicara sendiri. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa sistem pemeringkatan global bukan sekadar cermin realitas, melainkan konstruksi yang dibentuk oleh indikator, metodologi, dan asumsi tertentu tentang apa itu “universitas yang baik”.

Ranking, Reputasi, dan Ilusi Objektivitas

Dalam kasus QS, sebagian besar penilaian justru bertumpu pada reputasi. Sekitar 40 persen bobotnya berasal dari survei akademisi yang diminta menilai universitas mana yang mereka anggap terbaik.  Artinya, yang diukur bukan hanya kualitas, tetapi persepsi tentang kualitas. Dan persepsi tidak pernah benar-benar netral.

Reputasi cenderung mengikuti pola yang sudah mapan. Universitas yang sudah lama dikenal akan terus diingat dan dinilai tinggi, sementara yang lain harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk dilihat. Dalam konteks ini, ranking tidak sekadar mengukur dunia akademik, ia juga ikut membentuknya.

Selain itu, indikator seperti sitasi publikasi pun tidak sepenuhnya bebas dari bias. Ia sangat dipengaruhi oleh bahasa, bidang ilmu, dan jaringan global. Kampus yang aktif dalam publikasi internasional akan lebih diuntungkan, sementara penelitian yang berfokus pada konteks lokal sering kali kurang terlihat. Bahkan, fluktuasi indikator seperti citation per faculty dapat menunjukkan ketidakstabilan dalam penilaian.

Pada titik ini, menjadi jelas bahwa QS tidak hanya mengukur kualitas, tetapi juga visibilitas, siapa yang terlihat, siapa yang dikenal, dan siapa yang diakui.

Ketika Kampus Menyesuaikan Diri

Lalu di mana posisi UIN dalam lanskap ini?

Kenaikan peringkat UIN dapat dibaca sebagai keberhasilan adaptasi. Dalam beberapa tahun terakhir, UIN bergerak cepat: memperbanyak publikasi internasional, memperluas jejaring global, serta mengembangkan program-program yang lebih kompatibel dengan standar internasional. UIN, dalam banyak hal, sedang belajar “berbicara” dalam bahasa global.

Namun, justru di titik ini muncul kegelisahan yang lebih dalam. Ketika sebuah institusi terlalu sibuk menyesuaikan diri dengan standar eksternal, ada risiko bahwa ia perlahan kehilangan arah internalnya. Kita mulai mengejar apa yang mudah diukur, dan perlahan melupakan apa yang sebenarnya penting.

Publikasi meningkat, tetapi apakah pemikiran menjadi lebih mendalam?
Kolaborasi internasional bertambah, tetapi apakah kebermanfaatan lokal ikut tumbuh?
Reputasi global naik, tetapi apakah otoritas keilmuan benar-benar menguat?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak mudah dijawab. Namun, justru karena sulit diukur, ia sering kali diabaikan.

Apa yang Tidak Pernah Diukur

Di sinilah letak persoalan yang paling mendasar. QS dan sistem ranking global lainnya tidak pernah benar-benar mengukur keseluruhan makna pendidikan.

Dalam tradisi pendidikan Islam, kualitas sering kali terletak pada hal-hal yang tidak kasat mata: sanad keilmuan, kedalaman pemahaman, adab dalam belajar, serta relasi antara guru dan murid. Ilmu tidak hanya dilihat sebagai akumulasi pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan diri.

Semua ini nyaris tidak memiliki tempat dalam sistem ranking global. Ia tidak bisa dikalkulasi, tidak bisa disurvei, dan tidak bisa diringkas menjadi angka.

Ironisnya, justru karena tidak terukur, ia menjadi tidak terlihat. Dan apa yang tidak terlihat, perlahan dianggap tidak penting.

Di titik ini, kita perlu jujur: QS World Ranking tidak sedang mengukur “segala hal”. Ia hanya mengukur hal-hal tertentu yang sesuai dengan logika akademik global hari ini. Masalahnya bukan pada QS itu sendiri, tetapi pada cara kita memaknainya.

Ketika ranking dijadikan tujuan, bukan sekadar alat, di situlah masalah mulai muncul.

Kenaikan peringkat UIN memang layak diapresiasi. Ia menunjukkan bahwa kampus-kampus Islam mampu hadir dalam percakapan global. Namun, jika kita berhenti pada angka, kita berisiko kehilangan makna yang lebih dalam.

Karena pada akhirnya, pertanyaan paling penting bukanlah apakah kita naik peringkat, tetapi apakah kita naik arah.

Jika ranking hanya mengukur apa yang terlihat, maka tugas kita adalah menjaga agar yang tidak terlihat tetap hidup. Sebab di sanalah, barangkali, letak makna pendidikan yang sesungguhnya.

Referensi

Huang, M.H. (2012). Opening the Black Box of QS World University Rankings.

Anowar, F., et al. (2015). A Critical Review on World University Ranking in Terms of Top Four Ranking Systems.

QS World University Rankings Methodology Report.


SPMB SMP Sains An Najah Purwokerto Batch 2 masih DIBUKA! 📢

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

https://png.pngtree.com

Menjemput Keselamatan: Dari Doa Menuju Cara Hidup

Catatan Refleksi Ngaji Kehidupan
Bersama: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Dalam setiap selesai salat, kita diajarkan membaca doa:
“Allāhumma anta as-salām wa minka as-salām, wa ilaika ya‘ūdus-salām, faḥayyinā rabbanā bis-salām, wa adkhilnā al-jannata dāras-salām.”

Doa ini bukan sekadar rangkaian lafadz, melainkan fondasi cara pandang hidup. Ia dimulai dengan pengakuan bahwa Allah adalah sumber segala keselamatan. Dari-Nya keselamatan berasal, dan kepada-Nya pula seluruh keselamatan kembali. Dengan kesadaran ini, hidup tidak lagi dipahami sebagai rangkaian peristiwa acak, tetapi sebagai perjalanan yang selalu berada dalam lingkaran perlindungan dan kehendak-Nya.

Dalam kenyataan hidup, manusia tidak lepas dari kesulitan, kegelisahan, dan berbagai ujian. Namun doa ini mengajarkan perspektif yang berbeda: bahwa di balik setiap ujian, selalu ada peluang untuk menemukan ketenangan, membangun kedewasaan, dan menghadirkan kedamaian dalam diri. Keselamatan bukan sekadar kondisi tanpa masalah, tetapi kemampuan memaknai setiap keadaan dengan jernih dan positif.

Karena itu, keselamatan tidak cukup hanya dimohonkan—ia harus diupayakan. Di sinilah pentingnya berpikir positif sekaligus antisipatif. Hal-hal kecil yang sering diabaikan justru bisa menjadi sumber masalah jika tidak ditangani. Sampah yang dibiarkan, misalnya, dapat menyumbat saluran dan menimbulkan bahaya. Maka doa tentang keselamatan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata: menjaga kebersihan, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.

Makna “antas-salām wa minkas-salām” menegaskan bahwa hakikat keselamatan sepenuhnya berada dalam kuasa Allah. Manusia boleh merencanakan dan berikhtiar, bahkan menghadapi ancaman dari sesama manusia. Namun jika Allah belum berkehendak, tidak ada satu pun yang mampu mencelakakan.

Hal ini tergambar dalam kisah Suraqah bin Malik ketika mengejar Nabi Muhammad saat peristiwa hijrah. Dengan ambisi mendapatkan hadiah dari kaum Quraisy, ia berusaha mendekat. Namun setiap kali mendekat, kudanya justru terperosok dan menjatuhkannya. Peristiwa berulang itu menyadarkannya bahwa Nabi berada dalam perlindungan Allah. Nabi pun tidak membalas dengan kebencian, melainkan memberikan perlindungan dan memaafkannya. Dari sini kita belajar: ketika Allah menjaga, ancaman bisa berubah menjadi keamanan.

Kesadaran ini membawa kita pada sikap hidup yang lebih utuh: menghadirkan keselamatan dalam setiap aspek—menjaga diri, lingkungan, relasi sosial, hingga setiap keputusan yang diambil. Allah telah menunjukkan tanda-tanda dalam kehidupan, dan tugas manusialah untuk membaca serta menindaklanjutinya.

“Wa ilaika ya‘ūdus-salām” menegaskan bahwa Allah adalah pusat dari segala sesuatu. Dalam perspektif spiritual, seluruh kehidupan berporos kepada-Nya. Manusia hanyalah bagian kecil dari semesta, namun diberi amanah untuk menjaga harmoni dan kebaikan.

“Faḥayyinā rabbanā bis-salām” adalah doa agar kehidupan kita dipenuhi keselamatan—bukan hanya secara fisik, tetapi juga batin: hati yang lapang, pikiran yang jernih, dan jiwa yang damai.

“Wa adkhilnā al-jannata dāras-salām” mengarah pada tujuan akhir: surga sebagai tempat keselamatan sejati. Namun dalam kehidupan dunia, nilai ini bisa dihadirkan dalam bentuk sederhana: rumah yang aman dan menenangkan (baiti jannati), lingkungan yang nyaman, serta kehidupan yang diliputi rasa syukur.

Syukur (tasyakkur bin ni‘mah) tidak berhenti pada ucapan, tetapi harus diwujudkan dalam ikhtiar. Bekerja keras dengan hati yang lapang, menjalani aktivitas dengan rasa senang dan penuh makna, adalah bagian dari bentuk syukur itu sendiri.

Pada akhirnya, doa yang kita munajatkan harus menjelma menjadi karakter hidup: hidup yang sadar, berikhtiar, bersyukur, dan selalu berorientasi pada keselamatan.

Semoga Allah senantiasa menghidupkan kita dalam keselamatan: “Faḥayyinā rabbanā bis-salām.” (IS)


Pendaftaran SPMB SMP Sains An Najah masih DIBUKA! 📢

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

#SMPSainsAnNajah #AnNajah #pesmaannajah

 

IMG_0061

Pelantikan Pengurus Pesma An Najah 2026: Integrasi Kepemimpinan, Kaderisasi Kuat, dan Kolaborasi sebagai Kunci Kemajuan

AnnajahNews– Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto secara resmi melantik jajaran pengurus baru yang terdiri dari Pengurus Pusat, Madrasah Diniyyah, Pengurus Komplek, serta OSMA (Organisasi Santri Mahasiswa). Prosesi pelantikan dilaksanakan di serambi Masjid Pesma An Najah dan dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesma, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag (4/4).

Pelantikan ini menjadi momentum strategis dalam melanjutkan estafet kepemimpinan sekaligus memperkuat sistem organisasi yang adaptif dan inklusif. Dalam struktur terbaru, Pengurus Pusat dibentuk secara integratif antara santri putra dan putri, sebagai wujud sinergi, kesetaraan, dan penguatan tata kelola organisasi berbasis kolaborasi.

Adapun yang dilantik sebagai Lurah Pesma An Najah Purwokerto Masa Khidmat 2026/2027 adalah Najah Puput Masruri, yang diharapkan mampu mengemban amanah kepemimpinan dengan visi yang progresif dan integratif. Sementara itu, posisi Direktur Madrasah Diniyyah (Madin) Pesma An Najah Purwokerto Masa Khidmat 2026/2027 diamanahkan kepada Amin Ma’ruf, yang akan mengawal penguatan tradisi keilmuan dan pendidikan keagamaan di lingkungan Pesma.

Serah terima jabatan Pengurus Pesma An Najah Purwokerto (4/4).

Pada kesempatan tersebut, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. menyampaikan lima pesan kunci yang sarat makna dan relevansi kontekstual bagi para pengurus yang baru dilantik.

Pertama, kepemimpinan adalah amanah yang berkaitan erat dengan iman, aman, dan imun.
Kepemimpinan tidak sekadar jabatan struktural, tetapi merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Iman menjadi fondasi moral, “aman” mencerminkan kemampuan menghadirkan rasa kepercayaan dan ketenangan dalam organisasi, sementara “imun” menunjukkan ketahanan pemimpin dari godaan penyimpangan, konflik, dan kepentingan pribadi.

Kedua, kaderisasi adalah keniscayaan dalam kehidupan organisasi.
Setiap individu harus siap dalam tiga fase: siap memimpin, siap digantikan, dan siap “lengser”. Prinsip ini menegaskan pentingnya regenerasi yang sehat. Organisasi yang ingin terus maju harus memiliki sistem kaderisasi yang kuat dan berkelanjutan.

Ketiga, menumbuhkan mental “jika orang lain bisa, saya juga bisa.”
Semangat ini menjadi energi penting dalam membangun kepercayaan diri dan daya juang. Ikhtiar maksimal perlu disertai kesadaran bahwa takdir memiliki jalannya sendiri—dan pada akhirnya, setiap orang akan menemukan perannya masing-masing.

Keempat, kesuksesan akan lebih mudah diraih melalui kolaborasi.
Tidak ada keberhasilan besar yang dicapai secara individual. Sinergi antar pengurus, lintas unit, serta kekompakan tim menjadi fondasi utama dalam mewujudkan program yang berdampak.

Kelima, tidak ada sosok hebat dan berpengaruh tanpa organisasi.
Organisasi merupakan ruang pembelajaran dan penggemblengan kepemimpinan. Dari sinilah lahir pribadi-pribadi yang tangguh, visioner, dan mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pelantikan ini diharapkan menjadi titik awal bagi para pengurus untuk menjalankan amanah dengan penuh integritas, tanggung jawab, dan semangat pengabdian. Dengan kepemimpinan yang integratif serta kaderisasi yang kuat, Pesma An Najah Purwokerto optimis mampu melahirkan generasi santri mahasiswa yang unggul, berdaya saing, dan berkontribusi luas bagi umat dan bangsa. (IS)


*SPMB SMP Sains An Najah Purwokerto Batch 2 masih DIBUKA! 📢*

​📍 Daftar Sekarang di: bit.ly/SPMB-SMP-Sains-Annajah
📞 Hubungi Admin: 085189000857 / 088214874023

#SMPSainsAnNajah #AnNajah #pesmaannajah