Man and rooster in quiet exchange

Ayam Jago Kakek

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Kakek Warso percaya bahwa ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Seperti lelaki yang tahu ke mana harus pulang, seekor ayam jago yang benar akan selalu kembali sendiri, dengan dada membusung dan taji yang bersih dari lumpur.

Dan Jalu memang selalu pulang.

Begitulah nama yang diberikan Kakek Warso pada ayam jagonya, Jalu. Bukan nama yang puitis, tapi nama yang jujur. Jalu adalah taji, dan seekor ayam jago hidup dengan tajinya. Kakek Warso tidak suka basa-basi, termasuk dalam soal penamaan.

Setiap pagi pukul empat, sebelum adzan shubuh pecah memenuhi udara, Jalu sudah bertengger di atas pagar kayu depan rumah. Kluruknya bukan sekadar bunyi, ia adalah pengumuman.

Bahwa hari baru telah tiba.

Bahwa si tua Warso boleh membuka mata.

Bahwa semesta masih bekerja sebagaimana mestinya.

Tiap pagi dan sore, Kakek Warso duduk di kursi kayu di depan rumahnya, kursi yang sama sejak istrinya meninggal dua belas tahun lalu. Lalu ia menaburkan dedak campur nasi basi ke lantai teras. Jalu makan dengan takzim. Kakek Warso menonton dengan tenang. Tidak ada yang dibicarakan.

Tidak ada yang perlu dibicarakan.

Tetangga-tetangga di Gang Melati Nomor Tiga sudah hafal ritual itu. Bu Lastri yang berjualan sayur di ujung gang kadang bilang,

“Pak Warso, kalau ayamnya mati duluan, bapak pasti ikutan.”

Kakek Warso hanya nyengir. Gigi depannya tinggal tiga.

Masalah dimulai pada suatu sabtu. Atau lebih tepatnya, masalah dimulai pada jumat malam, ketika sebuah truk pick-up berhenti di depan rumah kosong sebelah, menurunkan kardus-kardus, lemari kayu, dan satu unit televisi dua puluh inci yang dibungkus lakban cokelat.

Keluarga baru. Suami-istri muda. Mereka memperkenalkan diri sebagai Mas Udin dan Mbak Yanti. Ramah, senyumnya lebar, bawa martabak manis ketika bertegur sapa dengan Kakek Warso di pagar. Kakek Warso menerima martabak itu dengan ekspresi datar yang bisa berarti apa saja, terima kasih, atau curiga, atau keduanya.

Sabtu pagi tiba.

Pukul lima lewat tujuh menit, Kakek Warso terbangun bukan oleh kluruk Jalu, tapi oleh sunyi yang ganjil. Sunyi yang memiliki bobot. Sunyi yang berbunyi dengan caranya sendiri—yaitu dengan tidak berbunyi sama sekali.

Ia duduk di tepian ranjang. Menunggu. Satu menit. Dua menit.

Tidak ada kluruk.

Kakek Warso keluar ke teras. Pagar kayu itu kosong. Hanya ada embun yang menggenang di atas serat kayu tua, dan seekor cicak yang berjalan pelan seolah tidak ada urusan dengan kepanikan seorang kakek.

Jalu tidak ada.

Kakek Warso berkeliling halaman. Memeriksa kebun singkong di belakang. Mengintip kolong rumah. Memanggil dengan suara yang lebih mirip rintihan daripada panggilan: “Jalu… Jalu…”

Tidak ada jawaban.

Lalu hidungnya menangkap sesuatu. Aroma santan yang mendidih, daun salam, lengkuas yang dimemarkan, dan, di balik semua itu, aroma daging yang dimasak perlahan hingga lunak. Aroma itu mengambang dari arah rumah sebelah. Rumah Mas Udin dan Mbak Yanti yang baru saja pindah kemarin malam.

Kakek Warso berdiri mematung.

Ia menghitung dalam hatinya. Ayam hilang. Tetangga baru. Tetangga baru memasak ayam. Aroma santan. Opor.

Matematika sederhana. Kesimpulan yang, bagi Kakek Warso saat itu, terasa sekeras bata.

Belum selesai ia menarik napas untuk berteriak, pintu rumah sebelah terbuka. Mbak Yanti muncul dengan senyum selebar fajar, membawa mangkok putih berisi opor yang mengepul. Kuahnya kuning kecokelatan, kental, dan di dalamnya, ya, di dalamnya, ada potongan ayam yang warnanya sudah tidak bisa membohongi siapa pun.

“Pak Warso, ini kami bawakan opor. Ayam jago, biar tetangga kenal-kenalan,” kata Mbak Yanti sambil menyorongkan mangkok itu.

Kakek Warso menatap mangkok itu. Lalu menatap perempuan muda itu. Lalu menatap mangkok lagi. Di dalam otaknya, api mulai menyala dengan kecepatan yang tidak seimbang dengan usianya.

“Ini ayam saya!”

Suara Kakek Warso membelah pagi Gang Melati Nomor Tiga seperti petasan yang disulut di ruangan sempit. Mbak Yanti terlompat. Mangkok hampir jatuh.

“Pak, pak, ini kami beli di pasar”

“Pasar apa! Ayam saya hilang pagi ini! Ini Jalu saya, saya kenal dagingnya!”

Tentu saja tidak ada manusia yang bisa mengenali dagingnya sendiri setelah dimasak dengan santan dan kunyit. Tapi Kakek Warso sedang tidak berada dalam kondisi untuk berdebat soal epistemologi.

Mas Udin keluar. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya belum disisir, mungkin belum sempat cuci muka. Ia memandang istrinya, memandang Kakek Warso, memandang mangkok opor yang kini jadi barang bukti.

“Pak, beneran itu kami beli tadi malam di pasar malam”

“Bohong! Tetangga baru langsung nyolong ayam orang! Ini namanya apa?! Tidak punya adab! Tidak punya sopan santun! Masuk kampung langsung maling!”

Beberapa pintu rumah mulai terbuka. Kepala-kepala menjulur. Anak-anak kecil berdiri di balik kaki ibu mereka dengan mata yang bersinar penasaran,.karena keributan di pagi hari selalu lebih menarik daripada kartun.

Mbak Yanti hampir menangis. Mas Udin menelan ludah berkali-kali. Tidak ada kalimat yang cukup tepat untuk menghadapi seorang kakek yang naik pitam sebelum sarapan.

Dari ujung gang, langkah sandal jepit berbunyi pelan tapi pasti. Nenek Sarmi, tetangga Kakek Warso yang lain, perempuan tujuh puluh tahunan yang punggungnya sudah sedikit melengkung tapi matanya masih awas seperti elang kampung, datang sambil mengeringkan tangan di kain jariknya.

 

“Pak Warso,” katanya. Suaranya datar seperti aspal.

“Ayam sampeyan dari tadi pagi nguber, nguber si Lastri.”

 

Hening sejenak.

 

“Nguber siapa?”

 

“Lastri. Ayam betina saya. Yang berbulu hitam. Dari jam setengah lima Jalu sudah ada di kandang saya, nguber-nguber Lastri muter-muter. Tidak saya usir karena saya kira Pak Warso sudah tahu.”

Semua orang yang menonton dari pintu masing-masing tiba-tiba mengeluarkan suara bermacam-macam, ada yang tertawa tertahan, ada yang berdehem, ada yang pura-pura sibuk menyapu teras.

Dan tepat pada saat itulah, seolah semesta memang suka dramaturgi, Jalu muncul dari arah rumah Nenek Sarmi. Jalannya sedikit sempoyongan, bukan karena sakit, tapi karena kelelahan yang memuaskan. Bulunya sedikit awut-awutan. Matanya sipit. Tapi dadanya tetap membusung, sebagaimana semestinya seekor ayam jago yang baru menyelesaikan urusannya.

Jalu berjalan melintasi halaman tanpa menoleh ke kiri atau ke kanan, naik ke teras, lalu bertengger di pagar kayu, seolah ia baru kembali dari liburan singkat yang sangat pribadi dan tidak merasa perlu memberikan penjelasan kepada siapa pun.

Tidak ada permintaan maaf. Tidak ada ekspresi bersalah. Hanya dada yang membusung dan mata yang sedikit mengantuk.

Kakek Warso berdiri lama di depan pagar itu. Mangkok opor masih di tangannya. Uapnya sudah tidak sehangat tadi.

Ia menatap Mbak Yanti. Perempuan muda itu sudah tidak hampir menangis lagi, tapi matanya masih sedikit merah.

Kakek Warso menggumam sesuatu yang tidak jelas. Mungkin permintaan maaf. Mungkin bukan. Bahasa Kakek Warso memang tidak pernah terlalu terang dalam soal-soal yang memalukan.

Yang jelas, ia kemudian masuk ke dapur, mengambil piring, memindahkan sebagian opor ke piringnya sendiri, lalu kembali ke teras dan makan dengan pelan.

Opor itu enak. Santannya pas. Dagingnya empuk. Ayam pasar memang beda dengan ayam kampung, tapi tetap saja enak bila dimasak dengan benar.

Jalu bertengger di pagar, sesekali menengok ke arah Kakek Warso, lalu menengok ke arah rumah nenek Sarmi dengan tatapan, kalau ayam bisa punya tatapan seperti itu, yang bisa disebut penuh kenangan.

Nenek Sarmi lewat sambil membawa ember cucian. Ia melirik Kakek Warso sebentar, lalu berkata pelan tapi cukup keras untuk didengar: “Lain kali tanya dulu, Pak. Baru marah.”

Kakek Warso tidak menjawab. Ia mengambil sesuap opor lagi.

Di ujung gang, Mbak Yanti berbisik kepada suaminya: “Mas, kita pindah ke sini sudah disambut ribut. Tanda apa ini?”

Mas Udin berpikir sebentar. “Tanda kita sudah benar-benar jadi warga Gang Melati, Yan.”

Dan pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga kembali sunyi, sunyi yang berbeda dari sunyi tadi, karena kini ia berisi sebuah kisah yang akan diceritakan ulang bertahun-tahun kemudian, setiap kali ada yang bertanya:

siapa itu si Jalu?

———————-

Baturraden, 9 April 2026