ChatGPT Image Feb 4, 2026, 03_04_39 AM

ISTAFTI QOLBAK

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Orientasi dan rujukan kehidupan manusia itu pada hati nuraninya. Jika ada perbedaan antara pikir (otak) dan dzikir (hati) maka pilihlah hati karena hati nurani tidak pernah bohong. Jika ada perbedaan antar individu, kelompok, organisasi, bahkan negara (misalnya Amerika vs Iran) kemudian analisis disampaikan dan argumentasi digelar untuk menguatkan pandangannya sekali lagi mintalah fatwa pada hatimu (istafti qolbak).

Selama mata masih melihat dan telinga masih mendengar maka perbedaan akan selalu ada dan menyita perhatian publik, pada saat yang demikian kita fungsikan bashiroh, mata hati untuk memberikan jawab dan solusi.

Meski dunia kita hari ini –dan selamanya– belum “nyaman” dihuni karena manusia selalu dengan rakusnya ingin menguasai, tetaplah kita harus pandai bersyukur. Dengan syukur, dunia ini bisa menjadi ladang akhirat yang menentramkan dan membahagiakan.

Wallahu a’lam bisshowab

Open Admission (SPMB) SMP Sains An Najah Purwokerto
🌐 www.sampsainsannajah.sch.id

📞 Information & Registration: 0857-9988-3533

📲 Follow us on social media: Instagram & TikTok — @smpsainsannajahpurwokerto

#SMP_Sains_AnNajah
#AnNajahBoardingSchool
#IslamicEducation
#FutureLeaders

1_0T2daR7MghoZDoc2DzpD1g

Ekoteologi di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah sejak berdiri tahun 2010 lalu telah mengangkat tema dan pemikiran tentang ekoteologi berupa kontekstualisasi nilai teologis dalam kajian Aqidah Islamiyah juga kajian fiqh dan akhlak tasawuf baik saat ngaji kitab kuning dan kajian reflektif di beberapa momen yang diadakan oleh pesantren. Bukan saja kajian teoritis dalam halaqah di ruang ngaji atau kajian, ajaran ini juga diaplikasikan dalam kehidupan para santri. Teologi aplikatif yang akhir-akhir ini dipopulerkan dengan istilah ekoteologi terus diupayakan oleh Pesma untuk keberlangsungan kehidupan manusia bersama makhluk lain alam semesta ini.

Pada tanggal 29 – 31 Oktober 2025 dilaksanakan kegiatan  AICIS, Annual international Conference on Islam, Science, and Sosiety di UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) Depok dengan mengambil tema Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidiciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future. Kajian ekoteologi dalam konferensi ini sesuai dengan kegiatan pesantren yang selama ini telah dilaksanakan. Tradisi Pesma mendapatkan dukungan teori yang didiskusikan serius dalam program tahunan konferensi ini sekaligus menemukan momentumnya saat ini.

Ekoteologi merupakan kajian tentang hubungan antara keyakian agama dan lingkungan di mana pemeluk agama ini hidup. Terdapat keterkaitan erat antara teologi dan lingkungan yang dipahami secara integratif dalam satu kesatuan utuh kemudian bagaimana teologi seseorang ini berdaya untuk memahami lingkungan, menemukan fungsi dan manfaatnya kemudian berpengaruh dalam sikap dan perilaku positifnya terhadap lingkungan bukan sajadi sisni dan saat ini tetapi di alam semesta untuk keberlangsungan hidup sepanjang masa.

Manusia secara teologis diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah di alam dan bersama makhluk ciptaan Allah lainnya yang dalam kebersamaannya itu manusia menjaga agar antar makhluk ini terjalin hubungan mesra, istimewa, dan mutualistik. Tugas dalam harmonitas sesama alam ciptaan Allah ini menjadi tanggungjawabnya di hadapan Penciptanya. Sikap merendahkan alam sekecil apapun dia sama artinya dengan merendahkan Penciptanya untuk itu alam harus diposisikan terhormat di mata hatinya dan harus dijaga kelestariaanya. Substainebel alam, bukan saja makhluk hidup tetapi semua ciptaan-Nya, harus mendapatkan tempat dan fungsi edukatif untuk menjadi media meraih keridloan Allah padanya.

Harmonitas ini terkoneksi dalam ikatan moralitas teologis sehingga semakin kuat keagamaan seseorang akan semakin erat hubungan mesranya dengan makhluk lain dan memberikan apresiasi tinggi bahwa semua ciptaan pasti banyak memberikan manfaat dalam bentuknya yang ragam baik itu sudah dapat dipahami oleh manusia maupun yang masih misterius, mahjub atau tertutup. Dalam posisi yang masih merterius ini menjadi kewajiban manusia untuk membukanya dalam kecanggihan ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi telah membuka rahasia alam yang selama ini menjadi misteri dan selanjutnya mengantarkan pada pemahaman keagungan Tuhan Yang Menciptakannya.

Kembali ke pesantren An Najah yang terus berusaha melakukan aplikasi ekoteologi ini, di antaranya berupa pembuatan biopori secara sederhana yaitu membuat lobang-lobang di beberapa titik baik dengan media galon cat yang ditanam dan sekitarnya diberi puing-puing terlebih dahulu sebelum diurug dengan tanah. Saat hujan, air dialirkan ke dalamnya melalui lobang tutupnya atau di sela-sela puing yang menutupinya. Pesma juga membuat semacam sepitang untuk menyimpan air hujan yang dindingnya dibuat lobang-lobang sehingga air di dalamnya dapat meresap perlahan ke pori-pori tanah sekitarnya. Fakta selama ini membuktikan bahwa dengan teknik sederhana ini air hujan yang deras sekalipun dapat tertampung.  Melalui media biopori ini bisa menjadi cadangan air di musim kemarau dan menahan banjir di musim hujan.

Selain itu ekoteologi berupa cinta alam dengan mejaga kebersihannya yang dilakukan oleh santri yang dipandu oleh pengasuh setiap hari dan utamanya di hari libur secara massal dilakukan kegiatan Ro’an (sebutan dari kata Arab mubarokan, yang dalam lidah Jawa kemudian disingkat dengan istilah Ro’an). Dalam ro’an ini para santri membersihkan kamar, asrama atau komplek, jalan sekitar, juga kali atau sungai di sekitar pesantren. Upaya ini diperkuat penanaman pohon atau taman bunga di lahan atau kebun yang dimiliki (pengasuh) pesantren. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menjaga agar bumi ini tetap hijau dan nyaman dihuni oleh manusia Bersama makhluk lainnya.

Demikian sebagian teknik sederhana model Pesantren An Najah yang merupakan aplikasi ekoteologi dalam pengembangan lingkungan berkelanjutan, konservasi alam, dan bentuk kesadaran lingkungan berdimensi religius yang mendasar dan kokoh. Tradisi ini terus diwariskan dan didesiminasi dalam kehidupan santri yang turun temurun sehingga menjadi subkultur bagi santri di manapun dan kapanpun mereka hidup.

Depok, 30 Oktober 2025

abah dan lirboyo

Kenangan Nyantri di Lirboyo

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Banyak orang berkomentar tentang pesantren sementara ia belum pernah nyantri, atau pernah nyantri tetapi belum menghayati dan mendalami tradisi pesantren yang oleh Gus Dur disebut sebagai sub-kultur budaya Jawa yang khas. Orang yang belum memahaminya, jika mengomentari pesantren, ia akan jatuh pada pemahaman yang jauh dari kenyataan dan substansi kulturnya. Betapa tidak, seorang kiai dengan keyakinan penuh menyediakan diri untuk kemaslahatan umat dan mendidiknya secara total—jiwa raga. Ia siapkan harta dan tenaga yang ia punya, disertai tirakat dhahir batin agar semua santrinya menjadi generasi yang berilmu dan sholih-sholihah.

Dimulai dari perjalanan panjang di masa mudanya, kiai telah menimba ilmu dari berbagai pondok pesantren, bahkan sampai ke luar negeri—semisal Timur Tengah, Makkah–Madinah—bersamaan dengan menunaikan ibadah haji. Peristiwa heroik selalu menyertai petualangannya. Setelah diyakini cukup dengan bekal ilmu dan juga jiwa yang matang, barulah ia mendirikan pesantren, menebar ilmu dan kemaslahatan. Perilaku seperti ini adalah keanehan bagi masyarakat umum, apalagi orang awam tentang pesantren, sehingga perilaku ini dianggap aneh dan bodoh—membuang waktu, pikiran, dan tenaga tanpa ada hasil materi di kemudian hari. Begitulah kiranya background sosial-historisnya mengapa ada berita miring dan kemudian viral akhir-akhir ini.

Kasus tersebut mengingatkan saya yang juga telah malang melintang di belantara dunia pesantren—mulai dari Pesantren Hidayatul Ummah Pringgoboyo Lamongan, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tebuireng Jombang, dan Pesantren Denanyar Jombang. Nah, di tengah-tengah nyantri di Denanyar inilah saya mengaji puasanan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pondok Lirboyo pada tahun 1986 sangatlah terkenal dengan pengasuh pertamanya, Mbah KH. Abdul Manaf atau KH. Abdul Karim, dan kemudian diteruskan oleh KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.

Pada tahun 1986 tersebut, saya ikut mengaji di antaranya pada KH. Idris Marzuqi, KH. Imam Yahya Mahrus, dan KH. Maksum Jauhari. Mengaji ke Gus Maksum di sore hari yang biasanya menunggu sambil melihat tingkah lucu kera yang ada di depan rumahnya. Jika direnungkan, betapa “unik” beliau para pengasuh pondok ini juga pondok-pondok pada umumnya: di tengah-tengah menjalankan ibadah puasa, beliau masih menyempatkan diri mengaji setelah atau bakda salat fardlu sampai dengan menjelang waktu salat berikutnya. Sedang bakda salat Tarawih, santri mengaji sampai tengah malam atau dini hari. Demikian terus berjalan, apalagi di bulan puasa yang diyakini sebagai bulan penuh berkah.

Contoh keteladanan kiai yang begitu kuat, disertai ketinggian ilmu dan kewibawaan substantifnya, menarik perhatian para pecinta ilmu dari berbagai daerah. Tidak ketinggalan kami yang dari Desa Kanugrahan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, jauh dari Lirboyo Kediri harus menyiapkan diri dengan penuh semangat dan tekad yang kuat. Berangkat dari rumah berbekal beras se-kanthong, sambal kering, dan ikan gereh atau ikan asin, dengan mantap saya bersama kakak sepupu putra bude, Muhammad Sholeh, berangkat ke Lirboyo. Dari rumah Lamongan ke Lirboyo Kediri dengan kendaraan umum harus berganti-ganti kendaraan sampai sekitar enam kali. Akhirnya kami sampai di pesantren dambaan—besar, dengan santri yang berdisiplin ketat dalam jamaah dan mengaji. Hati ini terasa gembira sekaligus bangga karena merasa mendapatkan anugerah besar berupa “kesempatan nyecep ilmu” di pondok besar dengan beberapa kiai besar dan masyhur yang mengasuh Pondok Lirboyo ini.

Selama sebulan di pesantren ini, kami seolah tidak terbebani biaya—hanya semacam administrasi yang tidak seberapa. Masak sendiri untuk sahur dan buka, dan jika tidak sempat masak, kami baru ke kantin pondok untuk makan seporsi Rp75 kala itu. Pembiayaan yang ringan dan kebiasaan hidup yang sederhana seperti ini terasa nyaman dan tenteram. Setiap hari kegiatannya dari ilmu, ibadah, dan ilmu lagi. Begitu seterusnya. Saat ada waktu senggang, kami berjalan kaki pakai sarung ke pertokoan kota Kediri, meski seringnya kami hanya window shopping alias lihat-lihat saja. Selain itu, seringnya di waktu senggang di antara waktu ngaji kami manfaatkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di maqbarah Mbah KH. Abdul Karim. Kegiatan membaca Al-Qur’an di maqbarah ini biasa dilakukan santri, juga saya lakukan saat mengaji di Tebuireng di maqam Mbah KH. Hasyim Asy’ari. Demikian juga tatkala saya mondok di Langitan, Denanyar, dan Krapyak Yogyakarta. Membaca Al-Qur’an di makam atau maqbarah memang menjadi kecintaan santri karena meyakini ada berkah di dalamnya.

Perilaku keteladanan kiai yang diikuti santri dalam kesederhanaan dan penuh pengabdian seperti di Lirboyo ini—juga pesantren lainnya—merupakan tradisi kuat bagaimana totalitas kiai berkhidmat dengan ilmu dan kompetensinya untuk santri dan umat. Demikian juga santri, mereka mencari ilmu dengan penuh semangat disertai hormat dan berkhidmat yang tulus pada kiainya. Hubungan yang ikhlas seperti ini begitu kuatnya tanpa kontrak yang bersifat material sepeser pun. Bahkan sebagian santri menghadap kiai untuk mengaji tanpa membawa materi apa pun, pokoknya pasrah bongkokan sama kiai, bahkan ada yang sampai dinikahkan oleh kiai. Apalagi Lirboyo, sebagai pesantren besar pastilah banyak ragam santri dengan berbagai latar pendidikan dan ekonominya.

Saya di Pondok Lirboyo tinggal di asrama yang konon pertama kali dibangun oleh Mbah Karim atau pondok induk yang lokasinya di utara masjid. Kebetulan bersama dengan santri senior asal Lamongan—sayang saya lupa namanya—yang bersedia membantu memasakkan kami. Ia bilang: “Dik, mana beras dan ikan asinmu? Sini aku yang masak, baik untuk sahur maupun untuk bukanya. Jika sudah waktunya sahur maupun buka, silakan gabung, kita sahur dan buka bersama.” Waduh, senang sekali rasanya—sudah mendapatkan kawan senior sekaligus membantu masak—sehingga kami berdua bisa punya waktu tambahan untuk menghatamkan Al-Qur’an di maqam Mbah Karim. Jika ada halangan, barulah kami ke warung pondok untuk makan dengan harga super murah.

Ya Allah, betapa mulianya para pengasuh pesantren dan betapa mulia para santri yang mengikuti jejak para kiainya. Saya bersyukur bisa mengaji di Pesantren Lirboyo Kediri yang telah memberikan ilmu dan keberkahan. Karena keberkahan ilmu dari para kiai, kini saya diberi kemampuan untuk mendirikan pesantren mengikuti jejak sang kiai, menjadi dosen, dan rektor di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Tanpa keberkahan tersebut, rasanya saya masih sangat jauh memperoleh kesempatan setinggi itu.

Realitas sosiologis sebagai sub-kultur sebagaimana saya ceritakan secara singkat di atas akan menjadi sulit sekali dipahami, apalagi diterima oleh orang yang belum pernah menjadi santri. Siapa pun akan mengalami kesulitan memahami, bagaimana mungkin ada orang mau secara sukarela mengabdikan diri untuk menebar ilmu dan agama siang malam tanpa digaji—jika ia mendapatkan imbalan pun tak seberapa jumlahnya. Kiai terbiasa bersedekah, dan diikuti oleh santri juga bersedekah pada kiai yang mereka hormati dan cintai dengan amplop atau cangkingan apa saja yang mereka punya. Bagi orang awam dan dengki terhadap pesantren, muncullah framing negatif terhadap pesantren yang mereka katakan sebagai feodal, dan pengasuhnya yang kaya dengan sarung dan mobil mahal, tetapi tega menerima amplop dari santri yang umumnya miskin. Ini pemikiran paham materialisme dan kapitalisme yang memahami kehidupan ini serba kontraktual—siapa memberi apa, dapat apa secara material.

Narasi yang kebangeten alias keterlaluan itu mengingatkan kembali bayangan saya pada tahun 1986 itu, saat di Pesantren Lirboyo dan beberapa kali silaturrahim untuk ziyarah ke sana bersama rombongan santri. Sepengetahuan saya, pesantren ini tetap sederhana dan bersahaja. Mungkin yang terlihat berubah adalah berdirinya bangunan bertingkat dan lebih rapi. Saya bangga melihat perkembangan Pondok Lirboyo dan terus berdoa agar pesantren ini terus berkembang dan bermanfaat bagi umat. Apa pun yang dikatakan oleh orang yang tidak senang pada pesantren, kegiatan tetap berjalan stabil. Karena bagi orang yang senang pondok, itu tidak akan kekurangan kata untuk memuji; begitu juga bagi orang yang tidak suka pesantren, mereka tidak kurang juga untuk membuat argumen dan narasi untuk mencela dan menjatuhkannya.

Salam, Jayalah Lirboyoku!

Selamat Hari Santri Nasional !

Wallahu a’lam bisshawab.

Pesma An Najah, 21 Rabi’ul Akhir 1447 H

abah mekah

Mendekati yang Lebih Baik dan Utama

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Saat memasuki Masjidil Haram, sering kita temui jamaah haji maupun umrah yang memilih shalat di halaman masjid, bahkan di area yang cukup jauh dari bangunan utama, imam, maupun Ka’bah. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa mereka memilih tempat sejauh itu, padahal waktu dan ruang di area depan masih tersedia?

Pengalaman kami bertiga, saya, Ustadz Halim, dan Gus Nailul Muna — menunjukkan bahwa masih banyak ruang kosong di dekat Ka’bah, bahkan di area Mathaf atas. Memang, di sana tidak disediakan karpet tebal yang membuat duduk terasa lebih nyaman. Namun, tampaknya kenyamanan inilah yang justru mereka cari dan temukan di tempat yang jauh itu.

Fenomena ini menunjukkan kecenderungan sebagian umat untuk lebih memilih kenyamanan daripada keutamaan. Hal yang sama juga sering kita temui di berbagai tempat. Saat shalat berjamaah, banyak yang tidak segera mengambil shaf terdepan di dekat imam. Saat mengaji, tidak sedikit yang enggan mendekat ke hadapan kiai. Begitu pula di ruang kuliah, sebagian mahasiswa memilih duduk di barisan belakang, padahal di depan mereka dapat lebih mudah berdialog dan mengklarifikasi penjelasan dosen.

Kebiasaan menjauh dari yang lebih utama tampaknya menjadi pekerjaan rumah panjang bagi umat Islam di mana pun berada. Padahal, kesediaan untuk mendekat kepada yang lebih utama merupakan langkah penting menuju kemuliaan.

Keberanian untuk menempuh jalan menuju yang lebih baik akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Keteguhan untuk mendekati orang yang lebih alim akan mengantarkan kita menjadi lebih berilmu. Demikian seterusnya, karena setiap langkah menuju yang utama adalah langkah menuju peningkatan diri.

Marilah kita membiasakan diri untuk senantiasa mendekati yang lebih utama, mengikuti yang lebih ideal, dan menjalankan yang lebih mulia. Dengan demikian, kita akan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas, bermanfaat, dan bahagia.

Strategi taqarrub — mendekat kepada yang lebih baik dan utama — adalah jalan peningkatan yang tiada henti.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.

Masjidil Haram, Makkah, 11 Rabiul Akhir 1447 H

sagara view

Syiar Jumat #3: Menemukan Keindahan dan Hikmah dalam Setiap Sisi Kehidupan

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kita hidup di dunia yang penuh keunikan. Di sekitar kita terbentang kenikmatan dan keindahan yang luar biasa yang bisa kita rasakan melalui mata, telinga, tangan, dan seluruh indra yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, sering kali kita lalai mengungkapkan rasa syukur atas segala karunia tersebut.

Betapa banyak keindahan yang terhampar di depan mata: laut yang membentang luas, sinar matahari yang menyinari, tumbuhan yang tumbuh rapi, dan hewan-hewan yang menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Lihatlah seekor kera yang bermain dengan kawannya, atau burung-burung yang terbang beriringan, mereka pun memiliki ikatan, kasih sayang, dan keharmonisan. Bahkan bebatuan yang keras sekalipun, menyampaikan pelajaran: bahwa kekokohan juga diperlukan agar bumi tetap seimbang dan stabil sebagaimana telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta.

Hidup ini, sebagaimana jalan yang kita lalui, kadang naik dan kadang turun. Inilah sunatullah. Kita melangkah dari satu undakan ke undakan lain, dari satu kesempatan ke kesempatan lain. Ada kalanya jalan menurun terasa nyaman, meskipun tajam dan terjal. Tapi justru di balik jalan menurun itulah terkadang tersimpan keindahan dan ketenangan.

Perhatikan para nelayan yang berani menantang ombak. Dengan tenang mereka melaut di tengah badai, angin yang kencang, dan ombak yang bergelora. Mereka menerima itu semua bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dari kehidupan yang penuh hikmah dan pengabdian. Laut yang ganas bagi orang lain, bagi mereka adalah ladang rezeki dan tempat mereka mengabdi kepada Allah.

Dari semua ini, kita belajar bahwa rasa syukur adalah inti dari kehidupan seorang hamba. Syukur adalah ekspresi keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT. Dalam kehidupan yang penuh ragam, berliku, dan kadang berlubang-lubang, tetap ada keindahan yang bisa kita nikmati. Justru dari situ kita bisa menemukan kenyamanan, kekuatan, dan ketangguhan.

Lihatlah tumbuhan yang menjulang tinggi, semakin tinggi ia tumbuh, semakin kuat pula angin yang menerpanya. Namun justru dari situlah ia menjadi kokoh. Demikian pula kita: semakin banyak tantangan, semakin kuat pula iman dan kepribadian kita terbentuk.

Setiap sisi kehidupan menyimpan manfaat. Setiap langkah adalah peluang untuk meneguhkan niat dan memperkuat harapan bahwa kita akan senantiasa naik, mendekat kepada anugerah dan ridha Allah SWT.

Selamat menikmati kehidupan dengan hati yang damai dan penuh rasa syukur.
Selamat berbahagia dalam limpahan karunia-Nya.
Semoga hidup kita selalu diwarnai oleh kemaslahatan, kekuatan, dan keberkahan.

Jumat, 4 Rabi’ul Akhir 1447 H

 

perjalanan-hidup-848x490-5a8d3fba65334

Syiar Jumat #2: “Bersyukur di Atas Musibah”

Oleh: K. H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Sebagaimana disebutkan bahwa nikmat itu ada di semua waktu dan tempat. Bersyukur juga harus terus menerus dikukuhkan dalam hati di berbagai situasi dan kondisi, sebab di balik semua yang terjadi ada rahasia hikmah yang membutuhkan waktu untuk diketahui atau dipahami yang bersangkutan atau oleh generasi berikutnya.

Semisal orang pijat, yang ditekan terasa sakit di situlah posisi rahasianya. Nyeri dan perih yang dirasakan adalah bagian konsekwensi dari proses penyembuhan. Sesuai dengan jalur urat syaraf, rasa tidak nyaman itu dirasakan bahkan oleh sekujur tubuhnya. Bertahan, tidak putus asa untuk terus berproses merupakan bagian dari teknik penyembuhan yang harus dilalui oleh seseorang.

Pemahaman substantif terhadap liku-liku kehidupan ini mungkin masih tertutup bagi kebanyakan dan terbuka untuk orang yang bijak dan mengenal Allah dengan baik. Ketenangan dalam merespon fenomena apa yang terjadi tetapi tetap tanggap dan merespon cepat secara spiritual merupakan indikator kedekatannya pada Yang Maha Bijaksana. Respon spiritual secara bijak ini bisa jadi direspon ragam oleh orang di sekitarnya bahkan dimaknai konyol oleh yang lain.

Musibah biasanya dimaknai sebagai kejadian yang tidak menyenangkan atau tidak diharapkan. Jika pemaknaannya seperti ini berarti ada tumpukan dan rentetan musibah yang terjadi setiap hari, karena nafsu dan harapan setiap individu itu amat beragam dan kemampuannya sangat terbatas. Ada juga yang memaknai musibah sebagai kecelakaan atau kejadian yang menyayat hati dan fisiknya. Nasihat yang umum disampaikan kepadanya adalah “sabar” sementara untuk yang pertama karena sering dianggapnya biasa.

Menganggap suatu kejadian sebagai “yang biasa” dan logis saja merupakan media resiliensi ampuh bagi setiap orang untuk dapat tahan dalam menghadapi atau menerima musibah. Biasa atau bisa saja Allah menguji atau menggoda karena mencintai hamba-Nya. Biasa setiap proses kenaikan tingkat ada ujiannya. Biasa dalam perjalanan ada gangguannya. Biasa dalam mengambil kebijakan ada yang tidak bisa menerimanya. Meskipun demikian, gerak dinamis harus terus berjalan dengan berbagai konsekuensinya. Lebih menghadapi kendala bahkan musibah dari pada berdiam diri atau pasif tidak melakukan apapun untuk menghindari dari musibah.

Di balik musibah itu Allah menyelipkan anugerah baik keilmuan, pengalaman, kedewasaan, kemudahan, dan bahkan ketinggian martabat masa depan.

Terkadang musibah menimbulkan trauma berkepanjangan bagi siapa pun yang belum sadar akan sisi positif dan manfaat musibah dalam kehidupan. Untuk itu maknai saja musibah ini sebagai nyanyian kehidupan yang merdu yang terkadang terdengar fales. Maknai saja, Tuhan hendak menggoda kekasih-Nya atau menguji kesetiaan pada-Nya.

Yakinlah bagi kita bahwa semua yang terjadi adalah kehendak-Nya dan kita berkewajiban untuk menerima dengan tulus disertai ikhtiar sosial, material, intelektual, dan spiritual. Wallahu a’lam bisshawab…

 

Jum’at, 26 Rabi’ul Awal 1447 H

(Gambar Ilustrasi: https://static.limawaktu.id)

image

Syiar Jum’at #1: “Syukur”

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

 

Khoirul Mabadi’: 6/6, 1/8, 3/10, 5/12

“SYUKUR”, kata ini seringkali kita dengar dan sering pula kita ucapkan. Entah paham tentang arti dan kedalam pesan kata ini atau tidak, yang jelas laris manis di lidah umat Islam.

Bagi mahasiswa perkuliahan jalan dua pekan, yang terlibat dalam proses adalah mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, begitu juga di pesantren (mahasiswa). Bagi setiap insan yang sedang berproses dalam kegiatan dan kondisi apapun dituntut untuk memahami kata syukur ini.

Dalam kategori makna syukur apabila kita :

  • Melaksanakan pekerjaan atau tugas dan tanggungjawab dengan senang hati sesuai teori, mekanisme, dan prosedur. Tidak asal-asalan atau “semau gue”.
  • Mengerjakannya tepat waktu dan tidak tergesa-gesa apalagi memotong di tengah-tengah proses, harus menyelesaikannya sampai akhir dan titik. Tidak menggantung, tidak jelas hasilnya.
  • Berterima kasih pada yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, karena setiap pekerjaan ada kontribusi orang lain yang bersifat psikis maupun fisik. Tidak ada orang sukses sendirian tanpa dukungan orang lain. Berterima kasih pada sesama menguatkan rasa syukur kepada Allah Tuhan Alam Semesta. Pandai bersyukur berarti harus pandai berterima kasih kepada alam yang membantu kita.
  • Mengakui bahwa secara substantif semua yang terjadi ini anugrah atau nikmat dari Allah meskipun dalam perasaan kita tidak sesuai, kurang, atau bahkan mengganggu. Kita menginginkan sesuatu dan belum terkabul adalah nikmat. Kita punya pendamping rewel dan menyebalkan termasuk juga nikmat. Kita punya tetangga yang suka gaduh juga bermanfaat dan nikmat, ia bisa menghalau pencuri dengan prilakunya.

Ingat, sesuatu itu mengganggu di satu hal, bisa membantu di hal lain. Kecewa dalam satu sisi bisa puas di sisi yang lain. Jika kita rasakan dengan nurani yang dalam ternyata “NIKMAT ITU ADA DI SEMUA WAKTU DAN TEMPAT” tinggal kita mampu memanasnya atau malah membuangnya. Apakah kita menggerutu kecewa atau mensyukurinya.

Jika kita mensyukuri nikmat, Allah akan benar-benar menambahkan nikmatnya pada kita.

Jum’at, 19 Rabi’ul Awal 1447 H