Liburan kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas, termasuk dari aktivitas belajar. Namun, Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto justru memberi makna lain: liburan adalah ruang untuk menumbuhkan diri. Semangat inilah yang mewarnai pembukaan Studi Islam Intensif Liburan dan Pekan Olahraga Seni Santri (SIIL & POSS) ke-20, yang digelar pada Kamis malam, 2 Januari 2026, di Masjid lantai 3 Pesma An Najah.
(Kajian Tematik: Membangun Jejaring Santri Gen Z di Era Digital)
Mengusung tema “Semarak Liburan Santri, Mengaji, dan Menginspirasi”, SIIL & POSS menjadi ikhtiar pesantren dalam menghadirkan liburan yang bernilai. Di tengah hiruk-pikuk pengumuman duniawi yang kerap menjanjikan kesuksesan instan, agenda ini justru menawarkan jalan keilmuan: kajian kitab kuning, kajian tematik, serta perlombaan yang diikuti seluruh santri sebagai sarana belajar, berlatih, dan bertumbuh.
(Kreativitas tanpa batas: Olahraga dan Edutainment)
Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB berlangsung khidmat. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, lurah pesantren, dan direktur Madrasah Diniyah. Puncak refleksi tersaji dalam Mau‘idhah Hasanah yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., sebelum ditutup dengan lantunan shalawat oleh Luthfunnajah.
Dalam mau‘idhahnya, beliau menegaskan bahwa mencari ilmu tidak mengenal kata libur. Bahkan, proses belajar telah dimulai jauh sebelum manusia lahir. Dalam perspektif Islam, pendidikan bersifat pranatal—sejak ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia empat bulan, pendengaran menjadi indera pertama yang dibuka. Artinya, belajar adalah proses seumur hidup (long life education), dari kandungan hingga akhir hayat.
Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang ingin sukses, tetapi tidak semua bersedia menempuh jalan kesuksesan. Sukses tidak hadir dengan menunggu, melainkan diikhtiarkan melalui strategi, mekanisme, dan prosedur yang benar. Dalam konteks seorang murid, kunci utamanya adalah irādah—kemauan yang kuat—dan ṭalabah, kesungguhan dalam mencari ilmu. Ciri orang yang berpotensi sukses, lanjut beliau, dapat dilihat dari sejauh mana ia merespons stimulus kehidupan secara total, menjadikan setiap simbol kehidupan sebagai pelajaran, dan tidak pernah merasa “selesai” dalam belajar.
(“Yang terpenting dari seorang murid adalah iradah dan thalabah” – K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.)
Namun ikhtiar tidak berdiri sendiri. Ada mekanisme spiritual yang menyertainya, yakni doa. Perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan ketergantungan kepada Allah menjadi fondasi penting dalam proses meraih keberhasilan.
Melalui SIIL & POSS ke-20, Pesantren Mahasiswa An Najah tidak hanya mengisi liburan santri dengan kegiatan, tetapi juga menanamkan kesadaran: bahwa belajar adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesungguhan, konsistensi, dan spiritualitas. Sebab yang terpenting dari seorang murid bukan sekadar capaian, melainkan kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh. (Sofi Amelia/Ketua Komunitas Pondok Pena)
Judul Buku : Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w.
Penulis : Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.
Penerbit : Pesma An Najah Press, Purwokerto
Terbit : September 2022
Cetakan : Kedua
Jumlah Halaman : xx + 390
Ukuran Buku : 15 x 23 cm
Jenis Buku : Pendidikan
Editor : Abdul Wachid B.S.
Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w., karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. lahir dari kegelisahan atas perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang dikuasai Barat, serta adanya krisis sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membuat umat Islam seringkali berada dalam posisi terdesak. Sebagian komunitas muslim bereaksi dengan kebingungan, sementara sebagian lain bersikap pasif, merasa cukup dengan kebanggaan atas khazanah intelektual dan tradisi keagamaannya. Sikap statis yang menutup diri dari dinamika zaman ini kerap berakar pada kecenderungan pengkultusan tradisi (turats) maupun pemikiran keagamaan (taqdis al-afkār ad-dīniyy), sehingga dianggap tabu untuk direkonstruksi, apalagi didekonstruksi.
Dalam konteks inilah pendidikan profetik ditawarkan sebagai jawaban. Pendidikan profetik dipahami sebagai proses transfer ilmu dan nilai yang tidak hanya mendekatkan manusia pada Tuhan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan membangun komunitas sosial yang ideal. Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi, yang menjadi fondasi filosofis dan budaya profetik.
Tradisi sendiri menempati posisi penting dalam kerangka pendidikan profetik. Sebagai aspek subjektif budaya, tradisi tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Dalam konteks Islam di Indonesia, tradisi keagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk: tradisi Islam santri, tradisi Islam Jawa, dan tradisi Islam konvergensi. Pendidikan profetik berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, namun tetap memberi ruang pada konteks sosial, tradisi lokal, serta tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi pada keterampilan, etos kerja, dan vokasi lebih tepat menggunakan pendekatan teknologis daripada sekadar akademis atau humanistis.
Pendidik dalam kerangka profetik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengemban amanah Ilahiyah untuk membentuk umat yang cerdas, taat beribadah, dan berakhlak mulia. Umat dipandang sebagai komunitas sosial yang dinamis, memiliki visi yang jelas, bergerak melalui program nyata, dan dipimpin secara bijaksana. Dengan demikian, pendidikan profetik harus dibangun atas empat fondasi: komunitas, visi dan tujuan, gerak dinamis, serta kepemimpinan; semuanya dijiwai oleh tiga pilar utama tadi.
Keunikan buku ini terletak pada bagaimana Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. mengontekstualisasikan konsep pendidikan profetik melalui karya-karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai edukatif dalam sastra Tohari dapat dipetakan ke dalam tiga pilar profetik: transendensi, liberasi, dan humanisasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan profetik tidak hanya menjadi gagasan abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam wacana budaya lokal. Implikasi praktisnya, pendidikan profetik berlandaskan tauhid sebagai epistemologi, mengintegrasikan moral ketuhanan dengan ilmu pengetahuan, menghargai kearifan lokal (local wisdom), mendorong tradisi berpikir kritis, serta bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan sosial.
Dari sisi penyajian, buku ini memiliki keunggulan karena ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, dan didukung kajian pustaka yang cukup memadai. Lebih jauh, penggunaan karya Ahmad Tohari justru menjadi ciri khas dan keistimewaan buku ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan kekuatan gagasan Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. dalam menghubungkan filsafat pendidikan profetik dengan realitas budaya lokal Jawa, sehingga menjadikan pendidikan profetik lebih kontekstual, membumi, dan relevan bagi masyarakat Indonesia.
Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, santri, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan gagasan besar tentang pendidikan profetik sebagai arah transformasi pendidikan Islam yang lebih membumi dan kontekstual. (IS)
📍 Segera miliki buku ini di An Najah Book Store (WA: 0882-1487-4023)
Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.
(K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. memberikan potongan tumpeng Miladnya kepada Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., 16/08)
Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.
Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.
Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.
K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.
Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.
Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu
Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.
Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.
Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Menghormati Orang Tua dan Guru
Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.
Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.
Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.
Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta
Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.
Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.
Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.
Dari Anak Desa Menjadi Profesor
Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.
Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.
Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)
AnnajahNews – 19 September 2024 — Pada malam Kamis yang lalu, Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah berhasil menggelar acara Gema Sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad Luthfunnajah yang ke-10. Acara yang bertajuk “Menumbuhkan Jiwa Harmoni dalam Kiprah Maulid Nabi” ini dilaksanakan dengan meriah di Masjid Baitul Mu’min, dihadiri oleh ratusan santri, anggota masyarakat, dan penggemar seni hadrah.
Rangkaian acara dimulai dengan Mauidoh Hasanah oleh Pengasuh Pesma An Najah, dalam sambutannya, menekankan pentingnya acara ini sebagai momentum untuk merenungkan ajaran-ajaran Nabi dan menumbuhkan rasa cinta serta persatuan di antara umat. “Kami ingin menjadikan acara ini sebagai wadah untuk memperkuat ukhuwah dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Mari kita tingkatkan cinta kita kepada Nabi dengan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari,”
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat yang dipimpin oleh santri, menggugah semangat dan kehangatan di antara para peserta. Suara merdu dan syahdu memenuhi masjid, menyatukan hati dan jiwa dalam mengagungkan nama Nabi. Peserta dari berbagai usia tampak antusias mengikuti rangkaian sholawat, yang menandakan betapa besarnya cinta mereka terhadap Nabi Muhammad SAW.
Tak hanya itu, peserta juga diajak untuk berdoa bersama, memohon kepada Allah SWT agar masyarakat diberkahi dengan kedamaian dan keharmonisan. Suasana khidmat terasa saat setiap orang menutup mata, menyatukan harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik.
Acara ini juga menjadi kesempatan bagi santri dan warga untuk saling berkenalan dan berbagi pengalaman. Banyak peserta yang menyatakan rasa syukur bisa berpartisipasi dalam perayaan yang penuh makna ini. “Saya merasa sangat terinspirasi dan termotivasi setelah mengikuti acara ini. Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar salah satu santri.
Sebagai penutup, acara Gema Sholawat ini diakhiri dengan pembacaan doa bersama, mengharapkan agar semangat harmoni terus terjalin di antara seluruh peserta. Pesma An Najah berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serupa, sebagai bentuk cinta kepada Nabi dan upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat.
Dengan kesuksesan acara ini, Pesma An Najah berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis, serta mengajak semua pihak untuk bersatu dalam misi mencintai dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mari bersama-sama kita jaga dan perkuat ukhuwah di tengah masyarakat demi masa depan yang lebih baik! (Annisa Lutfiana)
Puisi “Pagar Kenabian” Karya Sofyan RH. Zaid: Manifestasi Sastra Pesantren Kontemporer
Membaca buku kumpulan puisi “Pagar Kenabian” karya Sofyan RH. Zaid kita akan disuguhi puisi-puisi yang secara estetik mempunyai keunikan tersendiri dan terbilang keluar dari konvensi perpuisian yang telah ada. Mengapa demikian? mari kita lihat bentuk fisik puisi “Ziarah”, berikut:
ZIARAH
dari kubur ke kubur # diri hancur dan lebur bunga kenanga gugur # kicau burung melipur :aku siapa? # kau siapa? siapa nama? # siapa sukma
aku dihempas daun # seperti butiran embun tersungkur ke nisan # air mata berserakan rintih menulis dosa # usia yang luka baris demi baris # ingatan jadi giris ;ada yang tak terungkap # sebab tak sanggup mengucap
dari kubur ke kubur # badan pun tanah kapur
2013
Secara eksplisit telah tampak dalam puisi tersebut terdapat perbedaan secara fisik dengan puisi-puisi kontemporer lainnya. Yakni adanya tanda pagar di tengah-tengah kalimat sebagai pembatas dan penggunaan rima yang sama antara sebelum dan sesudah tanda pagar. Hal tersebut membangun kekuatan estetik yang unik dan enak dibaca. Sofyan menyebutnya “Puisi Nadham dalam Tanda Kutip”.
Nadham atau ‘nazam’ menurut KBBI adalah puisi yang berasal dari Parsi, terdiri atas dua belas larik, berima dua-dua atau empat-empat, isinya perihal hamba sahaya istana yang setia dan budiman. Di dalam mukodimah Pagar Kenabian Sofyan, menyebutkan bahwa nadham subur berkembang di pesantren dan memiliki fungsi penting dalam kurikulum pesantren. Dalam hal ini adalah penggunaan kitab-kitab yang berbentuk nadham sebagai bahan ajar untuk santri.
Beberapa waktu lalu Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto mengadakan Lomba Cipta Esai Nasional yakni Pesantren Menulis 3, dengan mengangkat tema “Membangkitkan Sastra Pesantren”. Yang kemudian lahirlah buku antologi esai dengan judul “Revitalisasi Sastra Pesantren”. Setelah saya baca, saya berkesimpulan bahwa sebagian besar penulis menyampaikan bahwa nadham adalah akar dari kesusastraan sastra pesantren di Indonesia. Yakni karya-karya para ulama yang ditulis dalam bentuk nadham, seperti Nadham Al-Fiyah, Nadham ‘Imrithi, Burdah, Diba’, Al Barzanji, dsb. Kebiasaan santri membaca nadham-nadham tersebutlah yang memberikan spirit santri dalam bersastra. Seperti yang dikatakan oleh A’yat Khalili (Moh. Roqib, Dkk: 2016) dalam esainya menyebutkan,
“Segala materi dan pelajaran (di pesantren) sampai ke norma-norma selalu menyimpan sentuhan nilai sastrawi, apalagi pada kitab-kitab yang dikaji, berisi syiiran, burdah, nadhaman sebagai suatu formasi dan materi pembiasaan bersyair, bershalawat, menyanyi/melagukan/memuji, memaknai, menerjemah, memahami, dan menuliskan. Mengenai proses perkembangan tersebut berekesesuaian dengan pengetahuan yang ditemukan, dibaca, dan diterima santri dari berbagai sisi-sisi kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, nilai-nilai estetis (sastrawi) telah bersama santri sejak mengenal pesantren.”
Hal tersebut mengindikasikan bahwa kitab-kitab yang ditulis dalam bentuk Nadham atau Syiir telah mempengaruhi geliat sastra di pesantren, yang kemudian muncul istilah Sastra Pesantren dengan berbagai macam sudut pandang.
Menurut Swingewood (Faruk, 2014) setiap penulis bekerja dalam suatu tradisi, suatu kebudayaan sastra yang diwarisi, dan karyanya sendiri akan menunjukkan dengan berbagai cara pengaruh dari latar belakang tersebut. Jika Penayir Sofyan RH Zaid menuliskan puisi nadham seperti yang terdapat dalam buku Pagar Kenabian, maka tidaklah mengherankan, karena secara historis beliau berlatar belakang santri di Pesantren Annuqayah Madura, yang telah terbiasa melafalkan nadham, dan mendalami ilmu agama serta tasawuf. Dengan lahirnya Pagar Kenabian maka Penyair Sofyan RH Zaid telah melakukan proses reflektif terkait pemahaman bagaimana ia menyerap suatu tradisi dan darinya mengembangkan suara otentiknya sendiri, gagasan dan pandangannya sendiri mengenai manusia, Tuhan dan alam melalui puisi pagarnya atau yang disebutnya puisi nadham.
Bagi yang awam dengan istilah nadham mungkin ini akan terasa aneh, bisa diterima-terima saja, atau menggugat penggunaan tanda pagar yang tidak lazim digunakan dalam konvensi penulisan puisi ataupun karya tulis lainnya. Sedangkan untuk kalangan pesantren, pertama bagi yang paham benar terkait dengan tata cara penulisan nadham dengan ilmu ‘Arudh-nya maka akan mempermasalakan pelabelan nama nadham dalam puisi Sofyan, karena puisi-puisi yang dituliskan Sofyan tidak menggunakan kaidah ilmu’Arudh. Puisinya cenderung bebas tidak terikat secara makna, baris dan suku kata, hanya dibatasi dengan pagar dan rima yang sama sebelum dan sesudah tanda pagar.
Seperti bantahan Raedhu Basha dalam esainya yang pada intinya Puisi Sofyan tidaklah tepat jika dilabeli sebagai Puisi Nadham karena tidak menggunakan kaidah ilmu ‘Arudh. Sekalipun Raedhu mengakui dalam esainya yang termaktub di buku Revitalisasi Sastra Pesantren, Raedhu mencontohkan Sofyan RH Zaid sebagai salah satu penyair yang menulis puisi khas santri, yakni melakukan percobaan tanda pagar (#) menirukan bait nadham. Kedua, akan mengapresiasi karya tersebut sebagai puisi modifikasi dari puisi nadham klasik menjadi sebuah karya sastra pesantren kontemporer yang relevan dengan kebudayaan kesusastraan hari ini di Indonesia. Maka dari itu kata pelabelan Nadham pada puisi Sofyan janganlah diartikan dengan mentah-mentah. Karena puisi dengan model tersebut, adalah Puisi Nadham dalam Tanda Kutip, seperti yang disebutkan Sofyan dalam mukodimah buku Pagar Kenabian.
Meski mendapat berbagai macam kritikan oleh penulis-penulis lain terhadap gaya penulisan Sofyan yang secara konvensi berbeda dari puisi-puisi yang biasanya. Namun karya tersebut patut dipresiasi dan saya rasa penting dibahas sebagai salah satu genre baru dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Selain itu, dengan hadirnya Pagar Kenabian Karya Penyair Sofyan RH Zaid telah membawa angin segar bagi geliat sastra pesantren kontemporer.
Dari Sabda Kebenaran hingga Sabda Keselamatan
Apa yang menjadi alasan Sofyan memberi judul bukunya “Pagar Kenabian”? Tentunya dalam hal ini Sofyan tidak serta merta menamakan demikian tanpa ada maksud atau filosofi tertentu. Meski saya belum tahu alasan penyair memilih nama tersebut, saya akan mencoba mengintepretasi menurut persepsi saya. Pagar adalah sesuatu yang digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan, tanah, rumah, kebun, dan sebagainya. Simbolnya adalah (#). Kata “nabi” mendapat awalan ke- dan akhiran kan- menjadi “kenabian”, maka “kenabian” lebih merujuk pada sifat yang berkenaan dengan nabi. Misalnya jujur, amanah, komunikatif, cerdas, dan pesan-pesan yang sifatnya prinsipil maupun yang universal.
Sehingga dapat ditarik benang merah bahwa Pagar Kenabian menurut saya adalah bagaimana kita manusia mencapai tujuan yang satu (dalam hal ini Rumah Tuhan) adalah dengan cara melampaui pagar yang menjadi batas antara yang kelam dan yang terang. Kelam disini merujuk kepada persifatan manusia yang materialistik, sedangkan yang terang adalah manusia yang telah terlimpahkan kebijaksanaan.
Bagaimana cara melampaui pagar tersebut?, yakni dengan menginternalisasikan sifat kenabian ke dalam diri kita dan direalisasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi khairu ummah seperti yang diungkapkan dalam kajian Filsafat Profetik. Sehingga selamat menuju Rumah Tuhan.
Di dalam buku kumpulan puisi “Pagar Kenabian”, terdapat empat sabda, yakni Sabda Kebenaran, Sabda Kesunyian, Sabda Kebijaksanaan dan Sabda Keselamatan. Membaca sabda-sabda tersebut secara berurutan seperti mata rantai yang tak terputus. Keempatnya harus dilalui sebagai jalan menuju keselamatan.
Martin Heidigger mengatakan bahwa puisi sejati merupakan fondasi atau asas bagi kebenaran (Stiftung der Wahrheit). Dalam hal ini, Sofyan telah berusaha dengan segenap jiwa dan batinnya dalam menyerap sari pati atau telah mengalami sublimasi dari pengetahuannya tentang filsafat, dimana filsafat merupakan kegiatan pencarian dan petualangan tanpa henti mengenai makna kebenaran dan kebijaksanaan dalam pentas kehidupan, baik tentang Tuhan Sang Pencipta, eksistensi dan tujuan hidup manusia, maupun realitas alam semesta (Zaprulkhan, 2016). Mari kita cermati puisi berikut:
KAMPUNG KEBENARAN
bercumbu di sumbu waktu # antara nafsu dan rindu kemesraan menjadi api # meremangi bentala diri gairah meledak menyebar # kita terkapar sadar (Marx mengibarkan bendera # dari puncak menara : kalian hanya mencintai dunia # tanpa tahu cara merubahnya)
kita berjalan menuju senja # melintasi siang yang bara tubuh berubah warna # perlahan jadi kirana melukis lapis awan # seperti darah keabadian (Kant di atas bukit # mengacungkan jari ke langit : mata tak akan sampai # tanpa akal yang melambai
kita berpendar pencar # memoles ufuk bergetar burung pulang ke sarang # kembali menjadi pohon rindang laron mulai menembang # angin menabuh genderang (Plato memanggil gua # menulis kalimat pada dindingnya :suluh menyebabkan bayangan # gerak menjadikan pengetahuan
matahari karam ke kelam # kita padam menjelma malam menyimpan segala rahasia # kesenyapan melahirkan serigala seketika bulan gerhana # kentongan membangunkan segala (Farabi memainkan qanun # menari bersama daun : mulanya adalah cahaya # kemudian tercipta semesta)
**** Dalam puisi tersebut sangat kental sekali nuansa filsafat yang disuguhkan Sofyan, dimana beberapa tokoh filsafat dan pemikiranya, yakni Marx, Kant, Plato dan Farabi dirangkum secara estetik dalam sebuah puisi. Dimulai dari Filsafat Barat sampai Filsafat Timur. Sampai pada kesimpulan pada bait terakhir puisi di atas yang mengandung sentuhan sufistik, bahwa nanti akan sampai pada yang hakekat, asalkan punya tujuan yang sama meski dengan jalan yang berbeda. Seperti lanjutan kutipan puisi berikut:
kita tersesat dalam gelap # meraba arah lalu lelap paginya kita terpisah # mata mengucur kisah kau tertinggal dalam gua # aku tersangkut di menara kita percaya pada surga# kembali berjumpa suatu masa : melihat Kant, mendengar Farabi # lalu mendaki puncak puisi
Agama: Jalan Akal dan Hati menuju Tuhan Islam datang menyempurnakan akhlak dengan menempuh jalan Ilahiah. Sudah sejak lama perdebatan mengenai kontradiksi antara akal dan hati, manakah yang dapat mengantarkan manusia mengenal Tuhannya. Dalam novelnya Hayy Ibnu Yaqzan, Ibnu Thufail menggambarkan bagaimana seorang anak yang hidup sendirian jauh dari peradaban di alam dapat menemukan jalan spiritual dengan mengandalkan penuh pada akalnya. Diduga kuat novel ini merupakan jawaban atas tuduhan Al-Ghazali yang menghukumi filosof atheis.
Berkat bukunya Talafut Al-Falasifah, orang-orang jadi takut untuk berfilsafat. Tetapi jika direnungi, para atheis, meski ada, hampir semuanya tidak menemukan jalan spiritual, mereka tidak mengenal tuhan meski mereka selalu hidup dengan akal. Jadi akal memerlukan rambu-rambu berpikir agar buah pemikirannya mencapai inti, mengenal Tuhan. Rambu-rambu tersebut ialah syari’at. Dalam dunia tasawuf sendiri, syari’at diibaratkan sebagai sebuah bahtera, kemudian Tuhan ada di tengah laut, untuk sampai pada Tuhan maka perlu menempuh perjalan, setelah baik syari’atnya, pelaku tasawuf menempuh jalan ke tengah laut (thariqah). Namun dengan apa sebuah bahtera sampai di tengah laut? Tentu dengan ilmu. Dan akal menempati posisi penting di sini. Dalam tahap pertama Hay Ibnu Yaqzan hidup di alam liar dan menemukan jalan spiritual, dia memulai dengan melakukan pengamatan inderawi, kemudian rasio dan ke tiga hatinya. Akal menempati posisi awal dalam upaya mengenal Tuhan. Kemudian banyak orang yang memposisikan diri di tengah, bahwa filsafat dan tasawuf itu tidak bertentangan. Ke duanya dapat saling menyempurnakan dalam upaya mengenal Tuhan. Lalu berfilsafat untuk mengenal Tuhan oleh muslim disamakan dengan ilmu hikmah. Sama halnya dengan penyair Sofyan RH Zaid, dalam beberapa puisinya dalam buku kumpulan puisi Pagar Kenabian, nampak ia memposisikan hati dan akal, filsafat dan tasawuf sebagai komponen-komponen yang membentuk perangkat penghubung kepada Tuhan. Kita tahu bahwa filsafat menempatkan akal sebagai ukuran kebenaran, jika akal mengiyakan maka itulah kebenaran. Namun dalam pandangan penyair, kebenaran dicari dengan dua alat ini, akal dan hati melalui jalan agama. Kita bisa melihatnya dalam puisi Butterfly Effect, Filsafat Agama dan Kampung kebenaran (Karl Marx dan Al-farabi). Demikian.
Penulis:Iis Sugiarti, kelahiran Kebumen, 08 Februari. Aktif di Komunitas Sastra Santri Pondok Pena Pesantren Mahasiswa An Najah, sekaligus juga sebagai Pimpinan Redaksi Buletin BENER FKUB Banyumas, inisiator Buletin JISDA (Jiwa Semangat Pemuda) untuk Jamiah Islam Syekh Daud Al Fathoni Yala Thailand (2016). Karyanya telah termaktub di beberapa buku antologi: Senandung Cinta Untuk Ibunda (Asrifa Publisher: 2014), Radar Lupus (Asrifa Publisher: 2014), 100 Makna Kasih Sayang Ayah Ibunda (Gerbang Sastra: 2014), Bisikan Kata Teriakan Jiwa (Meta Kata: 2014), Senarai Diksi (Pena House: 2014), Cerita Mei (Goresan Pena: 2014), Pelangi Syair Sang Penyair (Fornusa Indonesia: 2014), Puisi Menolak Korupsi Jilid 5 (Forum Sastra Surakarta: 2015), Memo untuk Wakil Rakyat (Forum Sastra Surakarta: 2015), Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut (Kosa Kata Kita: 2015), Balada Badut-Badut dan Rumput (Oase Pustaka: 2015), Memo Anti Terorisme (Forum Sastra Surakarta: 2016), Creative Writing (Kaldera:2016), Koran HarianSatelit Post (2015), Koran Madura (2016), Pilar Puisi 3 (SKSP: 2016), Dari Negeri Poci 7: Negeri Awan (Kosa Kata Kita: 2017), Seberkas Cinta (2017), Kidung Patani (2017), Kampus Hijau 3 (SKSP: 2017), Puisi Menolak Korupsi Jilid 6 (Forum Sastra Surakarta: 2017), Negeri Bahari (Dari Negeri Poci 8: Kosa Kata Kita, 2018), A Skyful of Rain (Banjabaru’s Day Literary Festival: 2018), Palung Tradisi (Perempuan Penyair Indonesia: 2019), dan karya cerpennya termaktub di Mawar yang Tertanam di Pelaminan Air Mata (Oase Pustaka: 2015), Isyarat (CV: Landasan Ilmu: 2016), Senandung Cinta dari Pesantren (Diva Press: 2022). Esainya termaktub di Revitalisasi Sastra Pesantren (An Najah Press: 2016) dan beberapa artikel ilmiahnya telah terbit di beberapa jurnal ilmiah (2021-2024). Penulis dapat dihubungi via Instagram: @iiz_oanes_99.
20 Mei 2024, tertanda seorang siswi telah resmi lulus di sebuah sekolah negeri favorit di daerahnya. Berbekal segudang mimpi, ia mengumpulkan tekad untuk terus melangkah menuju tangga kehidupan selanjutnya. Hendak dibawa kemana impiannya? Bisakah ia menerbangkan sejuta harapan orangtua?
Aku, Zahwa Aprilita. Seorang anak tunggal yang kala itu dihadapkan dengan dua pilihan sulit. Antara mengikuti kata hati atau kata orangtua. Ditambah setelah ditolak Perguruan Tinggi Negeri dan PTKIN sekaligus di jurusan impian, rasanya untuk membuka mata dan menyapa dunia sangat susah.
Aku malu, bahkan untuk sekadar mengatakan bahwa aku malu. Harapan dan impian seakan pupus. Rencana yang sudah aku susun dari lama hancur lebur diganti pertanyaan, “Terus mau gimana? Akhirnya lanjut dimana?”
Setelah berminggu-minggu meratapi ketidakberuntunganku, aku akhirnya kembali mulai menyusun rencana lagi. Jika satu jalan tertutup, aku akan membuka jalan yang lain. Aku mendaftar Seleksi Nasional Berbasis Tes di PTN dan Mandiri di PTKIN.
BOOMMMM!!! Siapa sangka, aku diterima di keduanya. Sekarang permasalahannya ada di restu orangtua yang berbeda pendapat. Mama menginginkanku untuk ambil Universitas Jenderal Soedirman, sedangkan bapak lebih ingin aku mengambil UIN SAIZU. Lagi dan lagi, bahkan di saat mimpi rasanya sudah di depan mata, dukungan terbesarku malah pecah menjadi dua kubu.
Berhari-hari melewati diskusi panjang dengan orangtua dan keluarga besar, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil kesempatan berkuliah di Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri dengan jurusan Pendidikan Agama Islam. Belum sampai di situ, kebimbangan masih terus muncul. Mau kos atau mondok, ya?
Dan dari sinilah awal ceritaku masuk di Pesantren Mahasiswa An-Najah Purwokerto. Bapak memintaku untuk belajar mandiri dengan mondok, katanya supaya aku lebih bisa menghargai waktu, bisa berbagi dengan orang lain, dan tau bagaimana susahnya hidup tanpa orangtua. Pikirku saat itu akan mudah karena nantinya pasti ada banyak teman yang membantuku di sana. Aku tidak akan sendirian dan kesusahan.
Pertengahan Agustus, aku pemberangkatan pondok. Pertama kali yang ada dipikiranku bisa tidak ya berproses di sana nantinya, apalagi aku terbiasa hidup bersama orangtua yang perhatiannya hanya tertuju padaku. Sedangkan di pondok, aku harus mengikuti berbagai jadwal kegiatan dan berbaur dengan banyak orang dalam satu ruangan. Tapi lagi-lagi bapak menggugah rasa semangatku, mengatakan kalo di usiaku sekarang memang sudah saatnya memulai petualangan baru, di gerbang kehidupan baru, dengan orang-orang baru pula.
Dan sekarang, di sinilah aku berada. Zahwa Aprilita, anak tunggal yang dulunya masih ditimang, disiapkan berbagai kebutuhannya, ingin makan tinggal ambil, bisa tidur kapan saja, dan tidak perlu berbagi apapun dengan orang lain, harus berproses. Di tempat yang banyak orang sebut “Penjara Suci”, aku memulai satu persatu proses pendewasaan. Meniti tangga kehidupan dengan susah payah dan banyak kejutan di dalamnya, berbekal banyak harapan di pundak. Langkahku memang lambat, tapi aku berusaha untuk tidak merasa tertinggal dengan yang lainnya. Aku selalu membisikkan dalam hati, “Wahai aku, tidak ada yang berlaku keras ataupun memanjakanmu. Jika kamu lelah, maka istirahatlah. Perjalananmu masih panjang.”
*Naskah tersebut merupakan naskah juara satu hasil lomba kepenulisan dengan tema “Senangnya menjadi Santri An Najah” yang diselenggarakan oleh Panitia OPKIS 2024.
Hari itu, Rabu, tanggal 26 Juni 2024, adalah hari yang tak terlupakan bagi saya. Saya berdiri di depan gerbang Pondok Pesantren An Najah Purwokerto, merasa gugup sekaligus bersemangat. Sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto, saya tak pernah menyangka bahwa saya akan memilih jalan ini—jalan yang membawa saya ke pesantren di usia 21 tahun.
Langit cerah sore itu seakan menyambut saya dengan senyum. Saya menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. Meninggalkan kenyamanan rumah untuk tinggal di pesantren adalah keputusan besar, terutama di usia yang lebih dewasa dibandingkan santri-santri lain yang kebanyakan masih remaja. Tetapi, saya yakin ini adalah pilihan terbaik untuk masa depan saya. An Najah bukan hanya sebuah pesantren; tempat ini adalah lahan subur bagi tumbuhnya ilmu dan karakter, persis seperti yang dikatakan Abah, pengasuh pondok pesantren: “Pesantren kita harus selalu bersih sebersih hotel.” Kalimat itu bukan sekadar aturan kebersihan; bagi saya, itu adalah simbol disiplin dan tanggung jawab. Di sini, saya belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman, seolah-olah merawat pesantren seperti merawat hati dan jiwa sendiri.
Hari pertama di An Najah, saya dihadapkan pada rutinitas baru yang begitu padat. Dari subuh hingga malam, ada saja aktivitas yang mengisi hari-hari saya. Mulai dari pengajian, hafalan Al-Quran, hingga tugas menjaga kebersihan pondok. Tak jarang, saya harus menyesuaikan diri dengan santri-santri yang jauh lebih muda. Awalnya, saya merasa kikuk, seperti kakak tertua di antara mereka, tetapi lambat laun, saya merasa hangat dengan kehadiran mereka.
Waktu berlalu cepat, pada tanggal 8 Juli – 19 Agustus 2024 saat saya harus menjalani program KKN. Sehari setelah KKN berakhir, saya kembali ke pesantren. Pada tanggal 21 Agustus 2024, saya berdiri di depan gerbang An Najah, kali ini dengan rasa yang berbeda. Perasaan canggung yang dulu ada kini tergantikan dengan rasa nyaman. Saya tahu, ini adalah tempat yang tepat bagi saya untuk melanjutkan pencarian ilmu.
Kembali ke rutinitas pondok, saya menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Dari sekadar mendengarkan nasihat bijak dari Abah, hingga menghabiskan waktu belajar bersama santri lain. Setiap hari, saya merasa semakin dekat dengan tujuan hidup saya. Di An Najah, saya belajar bahwa menuntut ilmu tak mengenal usia. Saya belajar berbaur dengan teman-teman yang lebih muda, menemukan kebahagiaan dalam perbedaan, dan menemukan bahwa ilmu tak hanya diperoleh dari buku, tetapi juga dari pengalaman hidup sehari-hari.
Hari-hari berlalu, saya makin mantap dengan keputusan ini. Saya menyadari bahwa menjadi santri bukan hanya tentang belajar agama atau ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang peduli dengan lingkungan sekitar, manusia yang mampu merawat kebersihan, tidak hanya di luar tapi juga di dalam hati.
Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, saya tetap berusaha untuk istiqomah. Semoga perjalanan ini tak hanya menjadikan saya lebih bijaksana, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk belajar, karena menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup.
*Naskah tersebut merupakan naskah juara dua hasil lomba kepenulisan dengan tema “Senangnya menjadi Santri An Najah” yang diselenggarakan oleh Panitia OPKIS 2024 Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.
Aku adalah kaca. Dibuat oleh manusia dengan tujuan menjalankan ibadah serta menghidupi keluarga bahagia. Aku dipotong, dipoles, dirancang dengan sedemikian rupa. Bingkai garis tepi mengelilingiku dan merubah namaku kaca menjadi jendela.
Aku ini sangat diperlukan dalam unsur-unsur bangunan. Dengan adanya aku, sirkulasi udara dan cahaya mempengaruhi kesehatanmu. Lantas mengapa kau selalu acuh denganku ketika hujan tiba? Air hujan masuk dalam ruangan dan aku dalam keadaan terbuka. Dalam keadaan gerah, kau selalu membukaku demi segarnya angin menerpamu. Namun kau seringkali melupakanku ketika sudah tidak dibutuhkan dan membiarkanku terbuka begitu saja hingga entah kapan aku ditutup kembali?
Salah satu temanku sudah sangat menderita. Kaku dan susah untuk ditutup menerpanya dalam menjalankan tugas sebagai salah satu unsur bangunan. Sampai kapan temanku menghadapi hari-harinya seperti itu?.
Harapanku tidak banyak. Cukup perhatikan aku dan jangan sampai apa yang dirasakan salah satu temanku merambat ke teman-temanku yang lainnya. Terima kasih orang baik✌️🤝
Tentang Penulis:
Aku adalah salah satu BANGLADES (Bangsa Lamongan Desa) yang menapakkan kaki di bumi Satria. Banyumas merupakan doa dan harapan untuk diriku agar bisa menjadi ‘banyu’ dan ‘emas’; menjadi sumber kehidupan (air) dan berharga tanpa ada nilai dan kualitas yang turun seperti halnya emas. Meskipun emas dijatuhkan, terinjak-injak, tercampur dengan kotoran, ia akan tetap bernilai dan berkualitas tanpa ada rasa dendam dan hina. Selamat berproses untuk kita semua 😊
Pada suatu waktu, setelah jamaah Magrib bersama Abah K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., beliau memberikan sepucuk nasihat tentang kehidupan. “Kehidupan adalah merasakan satu kesenangan ke kesenangan yang lain,” ucap Abah. Beliau menjelaskan terkadang kehidupan itu terasa begitu cepat dan terkadang juga begitu lambat. Tergantung bagaimana kita menikmati atau tidaknya sebuah kehidupan.
Abah menceritakan perjalanannya ketika hijrah dari Yogyakarta ke Purwokerto. Ketika sebelumnya beliau pulang-pergi untuk mengajar dari Yogyakarta ke Purwokerto yang kurang lebih beliau lakukan selama delapan tahun. Namun, beliau merasa hal itu berlalu begitu cepat. Namun, karena beliau diberi amanah untuk menjadi Wakil Rektor STAIN pada saat itu dan mengharuskannya untuk menetap di Purwokerto.
Pindah ke sebuah tempat baru bukanlah hal yang mudah. Kita harus meninggalkan rumah tempat di mana kita menghabiskan waktu bersama keluarga, meninggalkan kenangan-kenangan yang ada dan juga banyak teman-teman dekat. Begitu pula dengan Abah yang merasa begitu sedih karena harus meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, karena tugas yang diembannya beliau pun tetap melangkahkan kaki di tanah Purwokerto.
Abah juga bercerita beliau yang lahir dari keluarga sederhana dulu pernah berharap bisa naik pesawat dan sekarang sudah bisa ke mana-mana dengan pesawat. Tidak terasa sudah lebih dari setengah abad usia Abah, ada banyak hal yang telah beliau lalui dalam kehidupan ini. Beliau mengatakan ketika kita merasakan khalwatun khayat (manisnya kehidupan) waktu akan berlalu begitu cepat. Tidak hanya tentang kehidupan, tapi juga khalwatun iman (manisnya iman), Islam, ‘ilmi ataupun kemanisan-kemanisan yang lainnya, karena hakikatnya ketika manusia merasakan kesenangan dalam sebuah hal, ia berharap untuk dapat merasakannya lebih lama lagi. Untuk merasakan kenikmatan suatu hal, yang perlu kita lakukan ialah mensyukuri dan menerima hal yang terjadi pada diri kita.
Purwokerto, 24 Agustus 2024
Tentang Penulis:
Nisa Faidatul Rohimah, atau yang lebih sering disapa Nisa merupakan seorang perempuan kelahiran Cilacap, 6 Maret 2004. Ia mulai aktif menulis karya fiksi pada saat pandemi. Cerpen dan puisi adalah tulisan pertama yang dibuatnya. Selain itu, ia juga pernah menulis beberapa novel di platfrom online. Saat ini, ia sedang menekuni tulisan non fiksi seperti esai ilmiah dan artikel jurnal. Buku terbaru yang diterbitkannya yaitu, “Pendidikan untuk Apa dan Siapa?” merupakan hasil antologi yang diikutinya pada saat perlombaan Sayembara Esai FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia berstatus sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus sebagai santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto dan aktif di Komunitas Pondok Pena.
Ada yang perlu kita renungkan dari “la’allakum tattaqun” agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Jadi ada menejemen harapan. Harapan manusia pasti ada, setinggi apapun, sekecil apapun, serendah apapun, pasti setiap manusia punya harapan.
Bagaimana agar kita meningkat kehidupannya maka berpandai-pandailah memanaj harapan. Jika orang mengatakan “Ah, apakah mungkin kalau kau orang desa, bisa menggapai cita-cita? Bolehlah komentar ini didengar tapi jangan sampai mematahkan semangat, bahwa kita akan tetap memelihara, menyemai, mengembangkan harapan itu menjadi riil dan nyata dalam kehidupan.
Selama orang masih punya harapan maka orang tersebut masih mempunyai masa depan. Jika ada orang yang sudah putus harapan, maka kesengsaraan, kehinaan, akan menghadang dalam kehidupan. Jadi harapan ini penting. Allah punya iradah. Dengan mengikuti apa yang diwajibkan oleh Allah dan sifat Allah maka kita juga punya harapan. Harapan sebagai manusia untuk menjadi lebih baik, lebih meningkat. Kita harapannya bisa meniru jejak orang-orang sukses. Jika di sekitar kita ada orang yang telah diberi nikmat, jika itu kenikmatan ilmu, maka tempelkan untuk mendapatkan ilmu setinggi langit. Jika melihat kenikmatan orang yang diberi harta dan suka mendermakan harta bendanya, maka kejarlah rizki Allah dengan sekaligus merencanakan bahwa rizki yang didapat nanti akan dimanfaatkan untuk kemaslahatan diri sendiri, orang-orang di sekitar dan semua masyarakat yang ada di lingkungan kita. Memberikan kenikmatan potensi ekonomi yang kita miliki kepada orang lain, adalah bagian dari manajemen harapan agar semakin hari semakin sejahtera. Ini namanya kecerdasan finansial atau fikih finansial. Jadi kehidupannya semakin hari semakin memiliki tingkat kesejahteraan. Kesejahteraan itu bukan untuk diri sendiri saja tetapi untuk orang-orang di sekitarnya yang dia cintai bahkan bagi masyarakat secara luas.
Jika kita berhadapan dengan pejabat, pemerintah, maka kita juga bisa punya harapan. Bahwa suatu saat nanti, ketika bisa memegang tampuk kepemimpinan, bisa mengambil kebijakan, menggerakan rakyat, menggerakan umat untuk satu titik tujuan utama yaitu mendapatkan ridho Allah dengan tingkat kemaslahatan berupa kesejahteraan yang meningkat, keadilan yang merata, dan mendapatkan tingkat prestasi serta kebahagiaan yang didamba.
Namun harapan itu jangan sampai dititikkan pada potensi material, tapi harus ditarik lurus terus ke atas sampai ke titik spiritual yaitu mendapat rahmat dan ridho Allah Swt. Jadi harapan ini banyak visinya. Misalnya, punya harapan untuk membuat sebuah gedung, taman, istana yang nyaman dan bisa bermanfaat lagi untuk dirinya, masyarakat, dan semuanya ditujukan untuk meraih ridho Allah Swt. Jadi aspek seni, budaya, dengan keindahan rumah, taman, lukisan, khot, seni suara, lagu dan seterusnya diharapkan bisa berkembang terus, tapi titik sentral dari tujuannya adalah untuk mendapatkan rahmat dan ridho Allah.
Ini adalah salah satu upaya yang harus terus ditanamkan di dalam hati setiap individu muslim, tanpa kecuali, orang desa, kota, hanya tamatan SD atau sarjana, pascasarjana, ustad, santri, kiai, semua harus mengembangkan harapan-harapannya dan dimanaj jangan sampai berbenturan, tetapi harus serasi kepada satu titik. Saling menguatkan, saling melengkapi, dan ini menjadi bagian dari upaya untuk menguatkan tadi.
Jika ada kelemahan, penurunan semangat, dan lain sebagainya, berkonsultasilah kepada yang ahlinya. Tanya kenapa semangat kita turun, kenapa semangat kita melemah? maka nanti akan ada jalan keluar. Semangat dan harapan ini tidak hanya sekadar menjadi harapan namun akhirnya menjadi kenyataan dengan terus menerus semangat di dalam hati, di dalam jiwa dan di dalam kalbu “man jadda wajada” siapa yang giat pasti akan dapat, siapa yang memohon maka akan dikabulkan, siapa yang berikhtiar maka akan mendapatkan. Tahniah!
*Tulisan di atas merupakan renungan ngaji kehidupan bertajuk “Mutiara Hati” yang disampaikan oleh K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.