Liburan kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas, termasuk dari aktivitas belajar. Namun, Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto justru memberi makna lain: liburan adalah ruang untuk menumbuhkan diri. Semangat inilah yang mewarnai pembukaan Studi Islam Intensif Liburan dan Pekan Olahraga Seni Santri (SIIL & POSS) ke-20, yang digelar pada Kamis malam, 2 Januari 2026, di Masjid lantai 3 Pesma An Najah.
(Kajian Tematik: Membangun Jejaring Santri Gen Z di Era Digital)
Mengusung tema “Semarak Liburan Santri, Mengaji, dan Menginspirasi”, SIIL & POSS menjadi ikhtiar pesantren dalam menghadirkan liburan yang bernilai. Di tengah hiruk-pikuk pengumuman duniawi yang kerap menjanjikan kesuksesan instan, agenda ini justru menawarkan jalan keilmuan: kajian kitab kuning, kajian tematik, serta perlombaan yang diikuti seluruh santri sebagai sarana belajar, berlatih, dan bertumbuh.
(Kreativitas tanpa batas: Olahraga dan Edutainment)
Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB berlangsung khidmat. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, lurah pesantren, dan direktur Madrasah Diniyah. Puncak refleksi tersaji dalam Mau‘idhah Hasanah yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., sebelum ditutup dengan lantunan shalawat oleh Luthfunnajah.
Dalam mau‘idhahnya, beliau menegaskan bahwa mencari ilmu tidak mengenal kata libur. Bahkan, proses belajar telah dimulai jauh sebelum manusia lahir. Dalam perspektif Islam, pendidikan bersifat pranatal—sejak ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia empat bulan, pendengaran menjadi indera pertama yang dibuka. Artinya, belajar adalah proses seumur hidup (long life education), dari kandungan hingga akhir hayat.
Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang ingin sukses, tetapi tidak semua bersedia menempuh jalan kesuksesan. Sukses tidak hadir dengan menunggu, melainkan diikhtiarkan melalui strategi, mekanisme, dan prosedur yang benar. Dalam konteks seorang murid, kunci utamanya adalah irādah—kemauan yang kuat—dan ṭalabah, kesungguhan dalam mencari ilmu. Ciri orang yang berpotensi sukses, lanjut beliau, dapat dilihat dari sejauh mana ia merespons stimulus kehidupan secara total, menjadikan setiap simbol kehidupan sebagai pelajaran, dan tidak pernah merasa “selesai” dalam belajar.
(“Yang terpenting dari seorang murid adalah iradah dan thalabah” – K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.)
Namun ikhtiar tidak berdiri sendiri. Ada mekanisme spiritual yang menyertainya, yakni doa. Perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan ketergantungan kepada Allah menjadi fondasi penting dalam proses meraih keberhasilan.
Melalui SIIL & POSS ke-20, Pesantren Mahasiswa An Najah tidak hanya mengisi liburan santri dengan kegiatan, tetapi juga menanamkan kesadaran: bahwa belajar adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesungguhan, konsistensi, dan spiritualitas. Sebab yang terpenting dari seorang murid bukan sekadar capaian, melainkan kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh. (Sofi Amelia/Ketua Komunitas Pondok Pena)
AnnajahNews — Dalam rangka mempererat silaturahmi dan memperluas wawasan pengembangan lembaga pendidikan Islam modern, SMP Sains An Najah Purwokerto melakukan kunjungan edukatif ke Aqabah International School (AIS) Jombang) (26/04).
Kunjungan ini dipimpin oleh Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto sekaligus pendiri SMP Sains An Najah Purwokerto, lembaga pendidikan formal yang dikembangkan sebagai bagian dari visi Pesma An Najah untuk membangun generasi berilmu, berakhlak, dan berwawasan global.
Rombongan disambut hangat oleh Pengasuh Utama AIS, K.H. Ahmad Junaidi Hidayat, S.H., dan Direktur AIS, Masrur, di lingkungan pesantren yang memadukan nilai tradisi salafus shalih dengan semangat modernitas global.
Pertemuan ini menjadi wadah saling berbagi praktik baik (best practice) dalam pengelolaan lembaga pendidikan Islam berbasis pesantren. Aqabah International School dikenal memiliki visi kuat sebagai “School of Life, Global Vision, Spirit and Tradition”, dengan pendekatan pendidikan yang menyeimbangkan pesantren studies, STEAM dan social studies, serta global exposure.
Dalam sesi dialog, Prof. Dr. K.H. Mohammad Roqib, M.Ag., menyampaikan apresiasinya terhadap inovasi pendidikan di AIS:
“Pertemuan ini mempertemukan dua semangat besar: membangun generasi beriman, berilmu, dan berdaya saing global tanpa kehilangan akar tradisi pesantren. Dari sini, pendidikan Islam dapat terus bertransformasi menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Selain berdiskusi tentang strategi manajemen, kurikulum, dan penguatan SDM guru, kedua lembaga juga menjajaki peluang kolaborasi dalam program penguatan kepemimpinan, riset pendidikan, dan pengembangan jejaring antar pesantren modern.
Kunjungan diakhiri dengan ramah tamah dan foto bersama di lingkungan Aqabah International School, menandai langkah sinergis dua lembaga pendidikan Islam progresif yang berkomitmen mencetak generasi unggul berkarakter, berilmu, dan berwawasan global.
📍 SMP Sains An Najah Purwokerto
Sekolah berbasis boarding school yang mengintegrasikan sains, iman, dan akhlak, serta menjadi bagian dari pengembangan pendidikan formal Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto.
AnnajahNews — SMP Sains An Najah Purwokerto resmi membuka Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Pelajaran 2026/2027. Sekolah ini merupakan pengembangan lembaga pendidikan formal dari Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, yang telah lama berkiprah dalam pengembangan pendidikan Islam berbasis pesantren.
Pendirian SMP Sains An Najah Purwokerto merupakan bagian dari komitmen pesantren dalam melahirkan generasi Islam yang cerdas, berakhlak mulia, dan berdaya saing global, tanpa meninggalkan akar spiritual serta budaya luhur bangsa. Dengan sistem boarding school (pesantren), sekolah ini mengintegrasikan pembelajaran formal dan pembinaan keagamaan secara terpadu. Para siswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga nyantri dan tinggal di lingkungan pesantren, sehingga pendidikan karakter, spiritualitas, dan kedisiplinan tertanam secara utuh.
K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selaku Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto sekaligus Pendiri SMP Sains An Najah Purwokerto, menegaskan
“SMP Sains An Najah Purwokerto didesain sebagai sekolah yang terintegrasi dengan pola pendidikan berbasis pesantren (boarding school). Kami berkomitmen menjadikan pesantren sebagai laboratorium kehidupan global, tempat tumbuhnya generasi berilmu, beriman, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman dengan nilai-nilai kenabian.”
Segera daftarkan putra-putri terbaik Anda untuk menjadi bagian dari keluarga besar SMP Sains An Najah Purwokerto (An Najah Islamic Boarding School) — tempat tumbuhnya pemimpin muda Qur’ani, cerdas, dan berkarakter.
🌟 Program Unggulan SMP Sains An Najah Purwokerto
1️⃣ Tahfidzul Qur’an — Pembinaan intensif hafalan Al-Qur’an dengan metode tahsin-tahfidz yang terukur dan berkelanjutan. 2️⃣ Sains dan Teknologi — Penguatan literasi sains dan keterampilan teknologi digital untuk menyiapkan generasi unggul era 5.0. 3️⃣ Pengembangan Bahasa Arab dan Inggris — Program bilingual agar siswa mampu berkomunikasi global dengan dasar keislaman yang kuat. 4️⃣ Prophetic Leadership— Pembinaan kepemimpinan terpadu yang membentuk siswa berilmu, beriman, dan berakhlak mulia berdasarkan nilai-nilai kenabian Nabi Muhammad SAW.
📅 Periode Pendaftaran:
Gelombang I: 1 Oktober – 31 Desember 2025
Gelombang II: 2 Januari – 31 Mei 2026
📍 Lokasi: Jl. Baturraden B, Kutasari, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas, Prov. Jawa Tengah | Jl. Moh. Besar No. 10, Kec. Baturraden, Kab. Banyumas, Prof. Jawa Tengah.
AnnajahNews –Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Dialog Keberagaman dengan tema “Strategi Penguatan Moderasi Beragama di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.” Kegiatan yang dipimpin oleh Ulul Huda, S.Pd.I., M.Si. ini berlangsung pada Kamis malam, 18 September 2025, di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto.
Dialog menghadirkan empat narasumber, yakni Roy Andreas, Ph.D., Haryadi, Ph.D., Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS., dan Dr. Ir. V. Prihananto.
(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)
Dalam pemaparannya, Roy Andreas, Ph.D. berbagi pengalaman keberagamaan di Jepang dan Tiongkok. Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Jepang meski kecil jumlahnya, tumbuh dinamis melalui komunitas mahasiswa, pusat studi Islam, dan keberadaan Islamic Center yang menjadi pusat ibadah sekaligus ruang silaturahmi lintas budaya. Di Tiongkok, selain tradisi Islam Tionghoa yang khas, sejumlah Islamic Center juga menjadi simbol keberadaan umat Islam, meskipun dalam praktiknya tetap menghadapi dinamika regulasi negara. Menurutnya, pengalaman ini menunjukkan pentingnya Islamic Center sebagai pusat moderasi, tempat umat Islam berdialog dengan masyarakat luas, membangun toleransi, sekaligus menjaga identitas keagamaan.
Sementara itu, Haryadi, P.hd., mengulas potret keberagamaan di Australia dan Inggris (London). Ia menuturkan, meski umat Islam merupakan minoritas, mereka mendapat ruang cukup baik untuk mengekspresikan identitas keagamaan, termasuk melalui masjid dan organisasi komunitas. Kerukunan dapat terjaga berkat regulasi negara yang inklusif serta kultur dialogis yang terbuka.
(Bpk. Haryadi, P.hd., saat menyampaikan materi)
Adapun Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS. memberikan motivasi dan tips kepada santri agar progresif dan sukses. Ia juga menekankan bahwa moderasi beragama harus berjalan seiring dengan etos kerja keras, keterbukaan berpikir, dan inovasi. “Santri yang moderat tidak boleh pasif. Justru harus progresif, siap bersaing, dan membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam setiap kiprah akademik maupun sosial,” tegasnya.
Dr. Ir. V. Prihananto menambahkan, moderasi beragama perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan dan aktivitas sosial pesantren agar menjadi sikap hidup yang nyata dalam keseharian santri.
Acara ini turut dihadiri oleh K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesma An Najah sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas. Beliau menyambut baik program pengabdian UNSOED dan memperkenalkan Pesma An Najah sebagai pesantren mahasiswa yang mengintegrasikan religiusitas, kebangsaan, dan kepedulian sosial.
“Pesma An Najah adalah ruang pembentukan karakter. Santri dibekali wawasan keagamaan sekaligus keterampilan sosial agar mampu menjadi kader bangsa yang toleran, moderat, dan berwawasan global. Kehadiran UNSOED melalui program pengabdian ini menjadi penguat bagi visi tersebut,” ungkapnya.
(Foto tim pengabdian LPPM Unsoed bersama Pengasuh dan Santri Pesma An Najah)
Dialog yang diikuti seluruh santri Pesma An Najah berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Melalui kegiatan ini, UNSOED menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan moderasi beragama, sekaligus memperkokoh harmoni sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.(IS)
AnnajahNews – Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto bersama pengurus Masjid Baitul Mukmin Kutasari menggelar Gema Sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad Luthfunnajah ke-11 pada malam Ahad, 20 September 2025. Dengan mengusung tema “Memperkuat Iman dan Ukhuwah dalam Maulid dan Milad Luthfunnajah”, acara berlangsung penuh kekhidmatan dan diwarnai lantunan sholawat oleh Gus Aris Fathoni.
Ketua panitia, Faris Yusro, dalam prakatanya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, khususnya sinergi antara Pesma An Najah dan pengurus Masjid Baitul Mukmin yang selama ini terjalin erat. Ia juga menegaskan bahwa perjalanan 11 tahun Luthfunnajah adalah bukti konsistensi santri Pesma dalam menjadikan sholawat sebagai media dakwah, kebersamaan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Pengasuh Pesma An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., menekankan tiga hal utama yang harus dihidupkan dalam peringatan Maulid. Pertama, memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Kedua, meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, terus belajar dan menuntut ilmu sebagai bagian dari meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW.
“Sinau terus sundul langit, ini menjadi bagian dari motto Pesma An Najah. Apapun dan di manapun kita berada, menuntut ilmu adalah cara terbaik meneladani Rasulullah,” tegas Gus Anjaha.
Luthfunnajah sendiri merupakan grup sholawat dan hadroh Pesma An Najah yang lahir dari semangat santri untuk bersholawat dan melestarikan tradisi kesenian Islam. Selama 11 tahun perjalanannya, Luthfunnajah telah menjadi garda depan syiar Islam melalui lantunan sholawat, menghadirkan suasana spiritual di berbagai acara, sekaligus menjadi ruang ekspresi seni Islami bagi santri Pesma An Najah pada khususnya.
Acara ini turut dihadiri oleh pengurus takmir Masjid Baitul Mukmin, para alumni yang tergabung dalam Luthfunnajah, seluruh santri Pesma An Najah, serta jamaah Masjid Baitul Mukmin, sehingga menambah suasana kebersamaan dan kekhidmatan dalam memperingati Maulid Nabi sekaligus Milad Luthfunnajah. (IS)
AnnajahNews – Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah sukses menyelenggarakan OPKIS (Orientasi Pesantren dan Kajian Islam Santri) tahun 2025 dengan tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Wasathiyah Guna Mewujudkan Santri yang Berakhlaqul Karimah.” Kegiatan ini berlangsung sejak Kamis, 28 Agustus 2025 hingga Ahad, 07 September 2025, dan diikuti dengan penuh antusias oleh para santri baru.
Ketua Panitia, Manarul Anwar Hidayat, menjelaskan bahwa OPKIS bukan sekadar agenda pengenalan, tetapi juga pembinaan awal bagi santri mahasiswa agar siap mengintegrasikan nilai akademik, spiritual, dan akhlak.
“Kami berharap OPKIS menjadi bekal awal bagi santri dalam menapaki perjalanan panjang di Pesma An Najah, agar mampu berprestasi di kampus sekaligus menjaga akhlakul karimah,” ujarnya.
Pada sesi pembukaan, Pengasuh Pesma An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., memberikan pengarahan penuh hikmah kepada santri baru. Beliau menekankan bahwa dalam menuntut ilmu, santri harus memilih guru dengan sanad keilmuan yang jelas agar ilmu yang didapat membawa keberkahan.
“Santri harus mantap dan yakin, bahwa keputusan untuk mondok di Pesma An Najah adalah pilihan yang tepat. Semua orang tua tentu berharap anak-anaknya berprestasi, dan prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah,” tutur Abah Roqib.
Tidak hanya itu, Abah Roqib juga membagikan perjalanan hidupnya sejak kecil kepada para santri. Beliau bercerita bagaimana perjuangan dalam belajar, berdisiplin, serta menjaga semangat meski dalam keterbatasan. Kisah itu disampaikan untuk memberi teladan nyata bahwa kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran adalah kunci meraih keberhasilan.
Sebagai wujud partisipasi santri, Raihan Nur Hidayat (Kang Santri 2025) dan Indri Lestari Putri (Mbak Santri 2025) menyampaikan prakata mewakili santri baru. Keduanya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk memulai langkah awal tholabul ‘ilmi di Pesma An Najah. Mereka juga berkomitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh, meraih prestasi, dan menjaga akhlak mulia.
Kegiatan OPKIS resmi ditutup pada Ahad, 07 September 2025 oleh Ny. Hj. Noortri Y. Muthmainnah, S.Ag. Dalam penutupannya, beliau memberikan motivasi agar santri istiqamah menjaga integritas diri, menyeimbangkan antara ilmu, iman, dan amal, serta menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Berprestasi di pesantren maupun di kampus.
Selama sepuluh hari, OPKIS menghadirkan rangkaian kegiatan yang kaya makna, mulai dari kajian keislaman, pengenalan tradisi pesantren, pembinaan organisasi, hingga praktik ibadah berjamaah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian acara, menjadikan OPKIS sebagai pengalaman berharga bagi santri baru.
Dengan terselenggaranya OPKIS 2025, Pesantren Mahasiswa An Najah berharap lahir generasi santri mahasiswa yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari, berprestasi di bidang kepesantrenan dan akademik, serta menjadi teladan dengan akhlakul karimah. (IS)
Hari/Tanggal: Sabtu–Minggu, 5–6 Juli 2025
Waktu: 13.30 – 09.00 WIB
Tempat: Pesantren Mahasiswa An Najah
Peserta: 20 Mahasiswa LP3I College Purwokerto
Pendahuluan
Dalam rangka menumbuhkan nilai-nilai religius, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan, LP3I College Purwokerto menyelenggarakan kegiatan Orientasi Pesantren Lingkungan (OPL). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembentukan karakter mahasiswa baru, khususnya dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, namun juga memiliki akhlak dan tanggung jawab sosial yang tinggi.
Orientasi ini berlangsung selama dua hari satu malam, mulai hari Sabtu, 5 Juli 2025 pukul 13.30 WIB hingga Minggu pagi, 6 Juli 2025 pukul 09.00 WIB, dan bertempat di area Pesantren Mahasiswa An Najah. Sebanyak 20 mahasiswa LP3I turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah disusun oleh panitia, dengan suasana penuh semangat, kekeluargaan, dan nilai-nilai spiritual yang kuat.
Rangkaian Kegiatan
Kegiatan diawali dengan sesi kumpul dan absensi peserta pada pukul 13.30 WIB. Seluruh peserta hadir tepat waktu dan menunjukkan antusiasme sejak awal. Setelah proses absensi selesai, para peserta diarahkan untuk berangkat menuju lokasi pesantren pada pukul 13.45 WIB. Suasana kebersamaan mulai terjalin dalam perjalanan ini, karena para peserta tidak hanya saling mengenal, namun juga saling mendukung satu sama lain.
Sesampainya di lokasi, acara pembukaan resmi dilangsungkan pada pukul 14.00 WIB. Tim panitia menyampaikan sambutan dan pengarahan mengenai tujuan serta tata tertib selama kegiatan berlangsung. Pembukaan ini menjadi momen awal yang penting dalam membangun semangat spiritual dan kerja sama tim.
Setelah pembukaan, para peserta bersama panitia melakukan persiapan tempat hingga pukul 15.10 WIB. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan, namun juga sebagai pembelajaran praktis tentang pentingnya kerapian dan kebersihan dalam lingkungan Pesantren Mahasiswa An Najah.
Tepat pukul 15.10 WIB, para peserta melaksanakan salat Ashar berjamaah, yang dipandu langsung oleh panitia. Kegiatan salat berjamaah ini menjadi bagian dari pembiasaan spiritual yang sangat penting dalam kehidupan pesantren dan mahasiswa Muslim secara umum.
Usai salat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi bertajuk “Pentingnya Tharah dan Menjaga Jannah Bagi Remaja” pada pukul 15.30 WIB hingga 17.10 WIB. Materi ini disampaikan oleh para pemateri ikhwan dan akhwat yang telah dibagi berdasarkan tempat. Dalam sesi ini, para peserta diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan jiwa, serta bagaimana hal tersebut menjadi bagian dari nilai-nilai Islam.
Pukul 17.10 – 18.00 WIB merupakan waktu ISHOMA (istirahat, salat Maghrib, dan makan malam). Waktu ini dimanfaatkan peserta untuk menyegarkan diri sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan sesama peserta maupun panitia.
Setelah ISHOMA, kegiatan dilanjutkan dengan Khataman Al-Qur’an pada pukul 18.00 – 18.53 WIB. Seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan khidmat. Kegiatan khataman menjadi refleksi spiritual bagi para peserta untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kalam-Nya.
Selanjutnya, salat Isya berjamaah dilaksanakan pada pukul 18.53 – 19.10 WIB. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama pengasuh pondok dan pengurus pesantren pada pukul 19.10 hingga 20.50 WIB. Dalam sesi ini, peserta mendapat banyak wawasan tentang kehidupan di Pesantren Mahasiswa An Najah, nilai-nilai yang dijunjung tinggi, serta tantangan dan keutamaan yang bisa didapatkan dari kehidupan sederhana namun bermakna tersebut.
Selepas itu, peserta diberikan waktu untuk istirahat mulai pukul 20.50 WIB hingga pukul 03.00 dini hari. Waktu istirahat ini sangat penting untuk memulihkan energi agar peserta bisa kembali mengikuti kegiatan esok hari dengan optimal.
Pada pukul 03.00 WIB dini hari, kegiatan salat Tahajud berjamaah dimulai. Ini merupakan salah satu agenda yang memiliki nilai spiritual tinggi dan menjadi ciri khas kegiatan pesantren. Para peserta merasakan suasana yang tenang dan khusyuk dalam bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir.
Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah pada pukul 04.00 – 04.30 WIB. Setelahnya, para peserta mengikuti ngaji pagi yang dimulai pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Dalam sesi ngaji ini, peserta diajak untuk membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an sekaligus memetik nilai-nilai moral dan kehidupan darinya.
Setelah ngaji, peserta diberi waktu untuk sarapan pagi pada pukul 07.00 – 07.30 WIB. Sarapan disediakan oleh panitia, dan suasana kebersamaan sangat terasa saat para peserta duduk bersama dan saling berbagi cerita pengalaman semalam.
Pada pukul 08.00 – 08.40 WIB, peserta melaksanakan kegiatan Roan atau bersih-bersih lingkungan pesantren. Kegiatan ini bertujuan membentuk sikap tanggung jawab dan cinta kebersihan dalam diri setiap peserta. Mereka membersihkan lingkungan sekitar Pesantren Mahasiswa An Najah dengan penuh semangat, menciptakan suasana yang bersih dan nyaman.
Akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi Sayonara atau perpisahan pada pukul 08.40 – 09.00 WIB. Dalam momen ini, banyak peserta yang merasa terharu karena telah melalui satu malam penuh makna bersama teman-teman baru dalam suasana pesantren. Ada yang mengungkapkan rasa syukur, kebahagiaan, bahkan keinginan untuk kembali merasakan suasana seperti ini di kemudian hari.
Penutup
Kegiatan Orientasi Pesantren Lingkungan (OPL) LP3I College Purwokerto ini berjalan dengan lancar dan sukses. Seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi serta semangat kebersamaan yang luar biasa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapat pengalaman spiritual yang mendalam, tetapi juga pelajaran tentang pentingnya menjaga kebersihan, menghormati sesama, dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.
Panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, pengasuh pondok, serta semua pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini. Harapan ke depannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi budaya positif yang melekat dalam kehidupan mahasiswa LP3I College Purwokerto.
Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.
(K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. memberikan potongan tumpeng Miladnya kepada Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., 16/08)
Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.
Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.
Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.
K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.
Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.
Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu
Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.
Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.
Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Menghormati Orang Tua dan Guru
Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.
Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.
Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.
Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta
Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.
Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.
Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.
Dari Anak Desa Menjadi Profesor
Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.
Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.
Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)
AnnajahNews, Purwokerto – Pesantren Mahasiswa An Najah hadir sebagai Pesantren dengan program Tahfidzul Qur’an yang memadukan program hafalan Al-Qur’an dengan pembinaan prestasi mahasiswa. An Najah dirancang untuk melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin muda berakhlak mulia.
Program Takhasus Tahfidz Qur’an di Pesantren Mahasiswa An Najah memiliki kategori yang fleksibel sesuai kemampuan santri:
Program Hafalan 1–30 Juz: Target penuh hafalan Al-Qur’an selama masa studi dengan metode talaqqi, muraja’ah, dan bimbingan intensif.
Program Hafalan 1–15 Juz: Fokus pada hafalan 15 juz dengan penguatan tahsin dan tajwid.
Program Hafalan Juz 30 dan Surat-Surat Pilihan: Khusus untuk mahasiswa yang ingin menguatkan hafalan surat penting seperti Yasin, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, Al-Mulk, dan lainnya.
Selain program tahfidz, An Najah juga fokus membentuk santri berprestasi dengan program Prestasi Progresif melalui bimbingan akademik, lomba karya tulis, riset ilmiah, pelatihan public speaking, serta pengembangan kepemimpinan profetik (prophetic leadership). Santri juga dibekali dengan program kelas bahasa (Arab, Inggris, dan Jawa Kromo), pelatihan kepenulisan (LKTI, esai, jurnal ilmiah, dan karya sastra), program percepatan kuliah, serta keterampilan kreatif seperti desain grafis dan fotografi untuk mendukung daya saing di era digital.
“Pesantren Mahasiswa An Najah ingin menghadirkan generasi muda yang tidak hanya hafal Qur’an, tetapi juga unggul dalam prestasi. Dengan pembinaan terstruktur, santri mampu menyeimbangkan hafalan, studi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah.
Dengan tagline“Muda, Qur’ani, Berprestasi”, An Najah menjadi ruang tumbuhnya hafidz-hafidz muda yang siap membawa cahaya Al-Qur’an di tengah tantangan zaman.
Tentang Pesantren Mahasiswa An Najah
Pesantren Mahasiswa An Najah adalah lembaga pendidikan berbasis pesantren khusus mahasiswa dengan fokus utama pada tahfidzul Qur’an (1–30 Juz), pengembangan prestasi akademik, dan pembentukan kepemimpinan profetik melalui berbagai Organisasi Santri Mahasiswa (OSMA). Sebagai nilai tambah, An Najah juga dikenal sebagai Pesantren Kepenulisan: Karya Ilmiah dan Sastra, memberikan wadah bagi santri untuk berkarya melalui literasi, riset, dan publikasi ilmiah.
Penerimaan Santri Baru Tahun Dirosah 2025/2026
Pesantren Mahasiswa An Najah membuka Penerimaan Santri Baru Tahun Dirosah 2025/2026. Informasi pendaftaran dapat diakses melalui tautan berikut: https://linktr.ee/informasi_PSB_Annajah_25 atau datang langsung ke Kantor Pesma An Najah Purwokerto, Jl. Moh. Besar No. 10, Kutasari, Kec. Baturraden, Banyumas.
Pada Sabtu, 17 Mei 2025, Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto bekerja sama dengan Universitas AMIKOM Purwokerto mengadakan pelatihan jurnalistik yang berlangsung di Lab 1 Gedung Utama Universitas AMIKOM. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam membekali para santri mahasiswa dengan kemampuan jurnalistik dasar, penguasaan SEO, serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembuatan dan pengelolaan artikel.
Pelatihan ini diikuti oleh 10 santri mahasiswa dari Pesma An Najah, dengan menghadirkan dua narasumber dari Universitas AMIKOM Purwokerto, yaitu Rahman Rosyidi dan Andi Dwi Riyanto, yang keduanya berpengalaman di bidang jurnalistik digital dan teknologi informasi.
Tujuan Pelatihan Jurnalistik
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman dasar tentang jurnalistik modern, sekaligus mengenalkan peserta pada strategi menulis artikel yang SEO-friendly dan pemanfaatan teknologi AI dalam proses penulisan konten digital. Melalui pelatihan ini, para santri diharapkan dapat menghasilkan karya jurnalistik berkualitas yang mampu bersaing di dunia maya, serta memahami bagaimana artikel mereka dapat muncul di hasil pencarian Google.
Materi Pelatihan
Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama tiga jam, dari pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Selama sesi tersebut, peserta mendapatkan materi yang terbagi menjadi tiga pokok bahasan utama:
1. Dasar-Dasar Jurnalistik
Materi pertama difokuskan pada pengenalan prinsip-prinsip dasar jurnalistik, termasuk teknik menggali informasi, penulisan berita yang objektif, serta struktur artikel yang baik. Para santri diajarkan mengenai elemen 5W + 1H (What, Who, When, Where, Why, dan How) yang menjadi fondasi dalam menyusun berita yang informatif dan faktual.
Dalam sesi ini, Rahman Rosyidi menekankan pentingnya etika jurnalistik, terutama dalam menjaga kredibilitas penulis dan media. Ia juga mengajak peserta untuk aktif menulis tentang kegiatan-kegiatan positif yang terjadi di lingkungan pesantren dan kampus sebagai bentuk kontribusi terhadap literasi publik.
2. Pengenalan SEO (Search Engine Optimization)
Sesi kedua dipandu oleh Andi Dwi Riyanto yang menjelaskan mengenai Search Engine Optimization (SEO), sebuah teknik yang digunakan agar konten dapat ditemukan dengan mudah di mesin pencari seperti Google.
Materi ini mencakup:
Pemilihan kata kunci (keyword) yang relevan
Penempatan keyword pada judul, subjudul, paragraf awal, dan meta description
Penggunaan heading tags (H1, H2, H3) untuk struktur konten
Optimasi gambar dan internal linking
Pentingnya konten orisinal dan berkualitas
Peserta juga diajak untuk melakukan praktik langsung dengan membuat artikel pendek yang mengandung kata kunci tertentu. Latihan ini bertujuan untuk membiasakan para santri membuat konten digital yang tidak hanya menarik secara isi, tapi juga mudah ditemukan secara online.
3. Pemanfaatan AI dalam Pembuatan dan Pengelolaan Artikel
Materi terakhir membahas tentang pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam dunia jurnalistik modern. Para peserta dikenalkan dengan berbagai tools AI yang dapat digunakan untuk membantu penulisan artikel, seperti:
AI untuk riset topik dan pengumpulan data
AI copywriting tools seperti ChatGPT
Tools AI untuk pemeriksaan tata bahasa dan plagiarisme
Otomatisasi dalam manajemen konten dan distribusi artikel
Dengan bimbingan narasumber, peserta mencoba membuat artikel menggunakan bantuan AI dan kemudian mengeditnya secara manual agar lebih humanis dan sesuai dengan gaya penulisan jurnalistik. Diskusi juga mencakup etika penggunaan AI, di mana peserta diingatkan untuk tidak sepenuhnya menggantungkan pada mesin, namun menjadikannya sebagai alat bantu yang mempercepat dan mempermudah proses kreatif.
Antusiasme Peserta
Meskipun jumlah peserta hanya 10 orang, antusiasme mereka sangat tinggi. Hal ini terlihat dari interaksi aktif saat sesi tanya jawab, serta semangat dalam mengikuti simulasi penulisan artikel. Salah satu peserta, Ahmad, mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat membuka wawasan mereka tentang bagaimana dunia jurnalistik berkembang di era digital saat ini.
“Saya baru tahu kalau ada teknik khusus supaya artikel bisa muncul di Google. Biasanya saya menulis langsung saja, sekarang jadi tahu pentingnya SEO dan bagaimana AI bisa membantu,” ujarnya.
Harapan dan Tindak Lanjut
Setelah pelatihan ini, pihak Pesma An Najah berencana untuk membuat media digital internal yang dikelola langsung oleh santri mahasiswa. Media ini akan menjadi wadah bagi mereka untuk mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh, sekaligus menjadi sarana menyuarakan berbagai aktivitas dan prestasi dari lingkungan pesantren.
Universitas AMIKOM Purwokerto pun membuka peluang kerja sama lanjutan, seperti mentoring jurnalistik rutin, pelatihan lanjutan SEO, serta pengembangan media digital berbasis website yang dikelola oleh para santri.
Kesimpulan
Pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh Pesma An Najah Purwokerto bekerja sama dengan Universitas AMIKOM merupakan langkah progresif dalam menghadirkan santri yang melek teknologi dan literasi digital. Dengan bekal pengetahuan jurnalistik dasar, teknik SEO, dan pemanfaatan AI, para peserta kini memiliki kemampuan lebih untuk menghasilkan konten yang berkualitas, informatif, dan relevan di era informasi saat ini.
Pelatihan semacam ini patut diapresiasi dan dilanjutkan secara berkelanjutan agar generasi muda, khususnya santri mahasiswa, dapat menjadi agen perubahan dalam menyebarkan informasi positif melalui platform digital.