sagara view

Syiar Jumat #3: Menemukan Keindahan dan Hikmah dalam Setiap Sisi Kehidupan

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kita hidup di dunia yang penuh keunikan. Di sekitar kita terbentang kenikmatan dan keindahan yang luar biasa yang bisa kita rasakan melalui mata, telinga, tangan, dan seluruh indra yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Namun, sering kali kita lalai mengungkapkan rasa syukur atas segala karunia tersebut.

Betapa banyak keindahan yang terhampar di depan mata: laut yang membentang luas, sinar matahari yang menyinari, tumbuhan yang tumbuh rapi, dan hewan-hewan yang menunjukkan kasih sayang satu sama lain. Lihatlah seekor kera yang bermain dengan kawannya, atau burung-burung yang terbang beriringan, mereka pun memiliki ikatan, kasih sayang, dan keharmonisan. Bahkan bebatuan yang keras sekalipun, menyampaikan pelajaran: bahwa kekokohan juga diperlukan agar bumi tetap seimbang dan stabil sebagaimana telah ditakdirkan oleh Sang Pencipta.

Hidup ini, sebagaimana jalan yang kita lalui, kadang naik dan kadang turun. Inilah sunatullah. Kita melangkah dari satu undakan ke undakan lain, dari satu kesempatan ke kesempatan lain. Ada kalanya jalan menurun terasa nyaman, meskipun tajam dan terjal. Tapi justru di balik jalan menurun itulah terkadang tersimpan keindahan dan ketenangan.

Perhatikan para nelayan yang berani menantang ombak. Dengan tenang mereka melaut di tengah badai, angin yang kencang, dan ombak yang bergelora. Mereka menerima itu semua bukan sebagai ancaman, tapi sebagai bagian dari kehidupan yang penuh hikmah dan pengabdian. Laut yang ganas bagi orang lain, bagi mereka adalah ladang rezeki dan tempat mereka mengabdi kepada Allah.

Dari semua ini, kita belajar bahwa rasa syukur adalah inti dari kehidupan seorang hamba. Syukur adalah ekspresi keimanan dan penghambaan kita kepada Allah SWT. Dalam kehidupan yang penuh ragam, berliku, dan kadang berlubang-lubang, tetap ada keindahan yang bisa kita nikmati. Justru dari situ kita bisa menemukan kenyamanan, kekuatan, dan ketangguhan.

Lihatlah tumbuhan yang menjulang tinggi, semakin tinggi ia tumbuh, semakin kuat pula angin yang menerpanya. Namun justru dari situlah ia menjadi kokoh. Demikian pula kita: semakin banyak tantangan, semakin kuat pula iman dan kepribadian kita terbentuk.

Setiap sisi kehidupan menyimpan manfaat. Setiap langkah adalah peluang untuk meneguhkan niat dan memperkuat harapan bahwa kita akan senantiasa naik, mendekat kepada anugerah dan ridha Allah SWT.

Selamat menikmati kehidupan dengan hati yang damai dan penuh rasa syukur.
Selamat berbahagia dalam limpahan karunia-Nya.
Semoga hidup kita selalu diwarnai oleh kemaslahatan, kekuatan, dan keberkahan.

Jumat, 4 Rabi’ul Akhir 1447 H

 

IMG_20250918_222920

Santri Pesma An Najah Dalami Moderasi Beragama dalam Perspektif Global: dari Jepang, Tiongkok, Australia hingga Inggris

AnnajahNews – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Dialog Keberagaman dengan tema ā€œStrategi Penguatan Moderasi Beragama di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.ā€ Kegiatan yang dipimpin oleh Ulul Huda, S.Pd.I., M.Si. ini berlangsung pada Kamis malam, 18 September 2025, di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto.

Dialog menghadirkan empat narasumber, yakni Roy Andreas, Ph.D., Haryadi, Ph.D., Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS., dan Dr. Ir. V. Prihananto.

(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)
(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)

 

Dalam pemaparannya, Roy Andreas, Ph.D. berbagi pengalaman keberagamaan di Jepang dan Tiongkok. Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Jepang meski kecil jumlahnya, tumbuh dinamis melalui komunitas mahasiswa, pusat studi Islam, dan keberadaan Islamic Center yang menjadi pusat ibadah sekaligus ruang silaturahmi lintas budaya. Di Tiongkok, selain tradisi Islam Tionghoa yang khas, sejumlah Islamic Center juga menjadi simbol keberadaan umat Islam, meskipun dalam praktiknya tetap menghadapi dinamika regulasi negara. Menurutnya, pengalaman ini menunjukkan pentingnya Islamic Center sebagai pusat moderasi, tempat umat Islam berdialog dengan masyarakat luas, membangun toleransi, sekaligus menjaga identitas keagamaan.

Sementara itu, Haryadi, P.hd., mengulas potret keberagamaan di Australia dan Inggris (London). Ia menuturkan, meski umat Islam merupakan minoritas, mereka mendapat ruang cukup baik untuk mengekspresikan identitas keagamaan, termasuk melalui masjid dan organisasi komunitas. Kerukunan dapat terjaga berkat regulasi negara yang inklusif serta kultur dialogis yang terbuka.

(Bpk. Haryadi, P.hd., saat menyampaikan materi)

Adapun Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS. memberikan motivasi dan tips kepada santri agar progresif dan sukses. Ia juga menekankan bahwa moderasi beragama harus berjalan seiring dengan etos kerja keras, keterbukaan berpikir, dan inovasi. ā€œSantri yang moderat tidak boleh pasif. Justru harus progresif, siap bersaing, dan membawa nilai Islam rahmatan lil ā€˜alamin dalam setiap kiprah akademik maupun sosial,ā€ tegasnya.

Dr. Ir. V. Prihananto menambahkan, moderasi beragama perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan dan aktivitas sosial pesantren agar menjadi sikap hidup yang nyata dalam keseharian santri.

Acara ini turut dihadiri oleh K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesma An Najah sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas. Beliau menyambut baik program pengabdian UNSOED dan memperkenalkan Pesma An Najah sebagai pesantren mahasiswa yang mengintegrasikan religiusitas, kebangsaan, dan kepedulian sosial.

ā€œPesma An Najah adalah ruang pembentukan karakter. Santri dibekali wawasan keagamaan sekaligus keterampilan sosial agar mampu menjadi kader bangsa yang toleran, moderat, dan berwawasan global. Kehadiran UNSOED melalui program pengabdian ini menjadi penguat bagi visi tersebut,ā€ ungkapnya.

(Foto tim pengabdian LPPM Unsoed bersama Pengasuh dan Santri Pesma An Najah)

 

Dialog yang diikuti seluruh santri Pesma An Najah berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Melalui kegiatan ini, UNSOED menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan moderasi beragama, sekaligus memperkokoh harmoni sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.(IS)

DSC02005

Pesma An Najah Gelar Gema Sholawat Peringati Maulid Nabi dan Milad Luthfunnajah ke-11

AnnajahNews – Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto bersama pengurus Masjid Baitul Mukmin Kutasari menggelar Gema Sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Milad Luthfunnajah ke-11 pada malam Ahad, 20 September 2025. Dengan mengusung tema ā€œMemperkuat Iman dan Ukhuwah dalam Maulid dan Milad Luthfunnajahā€, acara berlangsung penuh kekhidmatan dan diwarnai lantunan sholawat oleh Gus Aris Fathoni.

Ketua panitia, Faris Yusro, dalam prakatanya menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung, khususnya sinergi antara Pesma An Najah dan pengurus Masjid Baitul Mukmin yang selama ini terjalin erat. Ia juga menegaskan bahwa perjalanan 11 tahun Luthfunnajah adalah bukti konsistensi santri Pesma dalam menjadikan sholawat sebagai media dakwah, kebersamaan, dan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Pengasuh Pesma An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., menekankan tiga hal utama yang harus dihidupkan dalam peringatan Maulid. Pertama, memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Kedua, meneladani akhlak Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, terus belajar dan menuntut ilmu sebagai bagian dari meneladani perjuangan Nabi Muhammad SAW.

ā€œSinau terus sundul langit, ini menjadi bagian dari motto Pesma An Najah. Apapun dan di manapun kita berada, menuntut ilmu adalah cara terbaik meneladani Rasulullah,ā€ tegas Gus Anjaha.

Luthfunnajah sendiri merupakan grup sholawat dan hadroh Pesma An Najah yang lahir dari semangat santri untuk bersholawat dan melestarikan tradisi kesenian Islam. Selama 11 tahun perjalanannya, Luthfunnajah telah menjadi garda depan syiar Islam melalui lantunan sholawat, menghadirkan suasana spiritual di berbagai acara, sekaligus menjadi ruang ekspresi seni Islami bagi santri Pesma An Najah pada khususnya.

Acara ini turut dihadiri oleh pengurus takmir Masjid Baitul Mukmin, para alumni yang tergabung dalam Luthfunnajah, seluruh santri Pesma An Najah, serta jamaah Masjid Baitul Mukmin, sehingga menambah suasana kebersamaan dan kekhidmatan dalam memperingati Maulid Nabi sekaligus Milad Luthfunnajah. (IS)

 

perjalanan-hidup-848x490-5a8d3fba65334

Syiar Jumat #2: “Bersyukur di Atas Musibah”

Oleh: K. H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Sebagaimana disebutkan bahwa nikmat itu ada di semua waktu dan tempat. Bersyukur juga harus terus menerus dikukuhkan dalam hati di berbagai situasi dan kondisi, sebab di balik semua yang terjadi ada rahasia hikmah yang membutuhkan waktu untuk diketahui atau dipahami yang bersangkutan atau oleh generasi berikutnya.

Semisal orang pijat, yang ditekan terasa sakit di situlah posisi rahasianya. Nyeri dan perih yang dirasakan adalah bagian konsekwensi dari proses penyembuhan. Sesuai dengan jalur urat syaraf, rasa tidak nyaman itu dirasakan bahkan oleh sekujur tubuhnya. Bertahan, tidak putus asa untuk terus berproses merupakan bagian dari teknik penyembuhan yang harus dilalui oleh seseorang.

Pemahaman substantif terhadap liku-liku kehidupan ini mungkin masih tertutup bagi kebanyakan dan terbuka untuk orang yang bijak dan mengenal Allah dengan baik. Ketenangan dalam merespon fenomena apa yang terjadi tetapi tetap tanggap dan merespon cepat secara spiritual merupakan indikator kedekatannya pada Yang Maha Bijaksana. Respon spiritual secara bijak ini bisa jadi direspon ragam oleh orang di sekitarnya bahkan dimaknai konyol oleh yang lain.

Musibah biasanya dimaknai sebagai kejadian yang tidak menyenangkan atau tidak diharapkan. Jika pemaknaannya seperti ini berarti ada tumpukan dan rentetan musibah yang terjadi setiap hari, karena nafsu dan harapan setiap individu itu amat beragam dan kemampuannya sangat terbatas. Ada juga yang memaknai musibah sebagai kecelakaan atau kejadian yang menyayat hati dan fisiknya. Nasihat yang umum disampaikan kepadanya adalah “sabar” sementara untuk yang pertama karena sering dianggapnya biasa.

Menganggap suatu kejadian sebagai “yang biasa” dan logis saja merupakan media resiliensi ampuh bagi setiap orang untuk dapat tahan dalam menghadapi atau menerima musibah. Biasa atau bisa saja Allah menguji atau menggoda karena mencintai hamba-Nya. Biasa setiap proses kenaikan tingkat ada ujiannya. Biasa dalam perjalanan ada gangguannya. Biasa dalam mengambil kebijakan ada yang tidak bisa menerimanya. Meskipun demikian, gerak dinamis harus terus berjalan dengan berbagai konsekuensinya. Lebih menghadapi kendala bahkan musibah dari pada berdiam diri atau pasif tidak melakukan apapun untuk menghindari dari musibah.

Di balik musibah itu Allah menyelipkan anugerah baik keilmuan, pengalaman, kedewasaan, kemudahan, dan bahkan ketinggian martabat masa depan.

Terkadang musibah menimbulkan trauma berkepanjangan bagi siapa pun yang belum sadar akan sisi positif dan manfaat musibah dalam kehidupan. Untuk itu maknai saja musibah ini sebagai nyanyian kehidupan yang merdu yang terkadang terdengar fales. Maknai saja, Tuhan hendak menggoda kekasih-Nya atau menguji kesetiaan pada-Nya.

Yakinlah bagi kita bahwa semua yang terjadi adalah kehendak-Nya dan kita berkewajiban untuk menerima dengan tulus disertai ikhtiar sosial, material, intelektual, dan spiritual. Wallahu a’lam bisshawab…

 

Jum’at, 26 Rabi’ul Awal 1447 H

(Gambar Ilustrasi: https://static.limawaktu.id)

image

Syiar Jum’at #1: ā€œSyukurā€

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

 

Khoirul Mabadi’: 6/6, 1/8, 3/10, 5/12

ā€œSYUKURā€, kata ini seringkali kita dengar dan sering pula kita ucapkan. Entah paham tentang arti dan kedalam pesan kata ini atau tidak, yang jelas laris manis di lidah umat Islam.

Bagi mahasiswa perkuliahan jalan dua pekan, yang terlibat dalam proses adalah mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, begitu juga di pesantren (mahasiswa). Bagi setiap insan yang sedang berproses dalam kegiatan dan kondisi apapun dituntut untuk memahami kata syukur ini.

Dalam kategori makna syukur apabila kita :

  • Melaksanakan pekerjaan atau tugas dan tanggungjawab dengan senang hati sesuai teori, mekanisme, dan prosedur. Tidak asal-asalan atau “semau gue”.
  • Mengerjakannya tepat waktu dan tidak tergesa-gesa apalagi memotong di tengah-tengah proses, harus menyelesaikannya sampai akhir dan titik. Tidak menggantung, tidak jelas hasilnya.
  • Berterima kasih pada yang membantu baik secara langsung maupun tidak langsung, karena setiap pekerjaan ada kontribusi orang lain yang bersifat psikis maupun fisik. Tidak ada orang sukses sendirian tanpa dukungan orang lain. Berterima kasih pada sesama menguatkan rasa syukur kepada Allah Tuhan Alam Semesta. Pandai bersyukur berarti harus pandai berterima kasih kepada alam yang membantu kita.
  • Mengakui bahwa secara substantif semua yang terjadi ini anugrah atau nikmat dari Allah meskipun dalam perasaan kita tidak sesuai, kurang, atau bahkan mengganggu. Kita menginginkan sesuatu dan belum terkabul adalah nikmat. Kita punya pendamping rewel dan menyebalkan termasuk juga nikmat. Kita punya tetangga yang suka gaduh juga bermanfaat dan nikmat, ia bisa menghalau pencuri dengan prilakunya.

Ingat, sesuatu itu mengganggu di satu hal, bisa membantu di hal lain. Kecewa dalam satu sisi bisa puas di sisi yang lain. Jika kita rasakan dengan nurani yang dalam ternyata “NIKMAT ITU ADA DI SEMUA WAKTU DAN TEMPAT” tinggal kita mampu memanasnya atau malah membuangnya. Apakah kita menggerutu kecewa atau mensyukurinya.

Jika kita mensyukuri nikmat, Allah akan benar-benar menambahkan nikmatnya pada kita.

Jum’at, 19 Rabi’ul Awal 1447 H

muhammad-7571024_1280

Jalan Baru Rekontekstualisasi Tradisi, Ilmu, dan Spiritualitas: Review atas Buku “Filsafat Pendidikan Profetik” Karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik
Cover Buku: Filsafat Pendidikan Profetik

Identitas Buku

Judul Buku : Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w.

Penulis : Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag.

Penerbit : Pesma An Najah Press, Purwokerto

Terbit : September 2022

Cetakan : Kedua

Jumlah Halaman : xx + 390

Ukuran Buku : 15 x 23 cm

Jenis Buku : Pendidikan

Editor : Abdul Wachid B.S.

Filsafat Pendidikan Profetik: Pendidikan Islam Integratif dalam Perspektif Kenabian Muhammad s.a.w., karya Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. lahir dari kegelisahan atas perkembangan teknologi, khususnya teknologi komunikasi dan informasi yang dikuasai Barat, serta adanya krisis sosial, politik, ekonomi, dan budaya yang membuat umat Islam seringkali berada dalam posisi terdesak. Sebagian komunitas muslim bereaksi dengan kebingungan, sementara sebagian lain bersikap pasif, merasa cukup dengan kebanggaan atas khazanah intelektual dan tradisi keagamaannya. Sikap statis yang menutup diri dari dinamika zaman ini kerap berakar pada kecenderungan pengkultusan tradisi (turats) maupun pemikiran keagamaan (taqdis al-afkār ad-dīniyy), sehingga dianggap tabu untuk direkonstruksi, apalagi didekonstruksi.

Dalam konteks inilah pendidikan profetik ditawarkan sebagai jawaban. Pendidikan profetik dipahami sebagai proses transfer ilmu dan nilai yang tidak hanya mendekatkan manusia pada Tuhan, melainkan juga menumbuhkan kepedulian terhadap alam dan membangun komunitas sosial yang ideal. Pendidikan ini bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu liberasi, humanisasi, dan transendensi, yang menjadi fondasi filosofis dan budaya profetik.

Tradisi sendiri menempati posisi penting dalam kerangka pendidikan profetik. Sebagai aspek subjektif budaya, tradisi tercermin dalam pola pikir, sikap, dan perilaku masyarakat. Dalam konteks Islam di Indonesia, tradisi keagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk: tradisi Islam santri, tradisi Islam Jawa, dan tradisi Islam konvergensi. Pendidikan profetik berangkat dari nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah, namun tetap memberi ruang pada konteks sosial, tradisi lokal, serta tantangan zaman. Oleh karena itu, pendidikan yang berorientasi pada keterampilan, etos kerja, dan vokasi lebih tepat menggunakan pendekatan teknologis daripada sekadar akademis atau humanistis.

Pendidik dalam kerangka profetik tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, melainkan juga mengemban amanah Ilahiyah untuk membentuk umat yang cerdas, taat beribadah, dan berakhlak mulia. Umat dipandang sebagai komunitas sosial yang dinamis, memiliki visi yang jelas, bergerak melalui program nyata, dan dipimpin secara bijaksana. Dengan demikian, pendidikan profetik harus dibangun atas empat fondasi: komunitas, visi dan tujuan, gerak dinamis, serta kepemimpinan; semuanya dijiwai oleh tiga pilar utama tadi.

Keunikan buku ini terletak pada bagaimana Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. mengontekstualisasikan konsep pendidikan profetik melalui karya-karya Ahmad Tohari. Nilai-nilai edukatif dalam sastra Tohari dapat dipetakan ke dalam tiga pilar profetik: transendensi, liberasi, dan humanisasi. Melalui pendekatan ini, pendidikan profetik tidak hanya menjadi gagasan abstrak, tetapi hadir secara nyata dalam wacana budaya lokal. Implikasi praktisnya, pendidikan profetik berlandaskan tauhid sebagai epistemologi, mengintegrasikan moral ketuhanan dengan ilmu pengetahuan, menghargai kearifan lokal (local wisdom), mendorong tradisi berpikir kritis, serta bersikap proaktif dalam menghadapi perubahan sosial.

Dari sisi penyajian, buku ini memiliki keunggulan karena ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami, sistematis, dan didukung kajian pustaka yang cukup memadai. Lebih jauh, penggunaan karya Ahmad Tohari justru menjadi ciri khas dan keistimewaan buku ini. Pendekatan tersebut memperlihatkan kekuatan gagasan Prof. Dr. K.H. Moh. Roqib, M.Ag. dalam menghubungkan filsafat pendidikan profetik dengan realitas budaya lokal Jawa, sehingga menjadikan pendidikan profetik lebih kontekstual, membumi, dan relevan bagi masyarakat Indonesia.

Buku ini tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi rujukan penting bagi akademisi, praktisi pendidikan, santri, mahasiswa, maupun siapa saja yang ingin memahami dan mengembangkan gagasan besar tentang pendidikan profetik sebagai arah transformasi pendidikan Islam yang lebih membumi dan kontekstual. (IS)

šŸ“ Segera miliki buku ini di An Najah Book Store (WA: 0882-1487-4023)

OPKIS 2025

OPKIS Pesantren Mahasiswa An Najah 2025: Bekal Spiritual dan Intelektual Santri Mahasiswa

AnnajahNews – Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah sukses menyelenggarakan OPKIS (Orientasi Pesantren dan Kajian Islam Santri) tahun 2025 dengan tema ā€œAktualisasi Nilai-Nilai Wasathiyah Guna Mewujudkan Santri yang Berakhlaqul Karimah.ā€ Kegiatan ini berlangsung sejak Kamis, 28 Agustus 2025 hingga Ahad, 07 September 2025, dan diikuti dengan penuh antusias oleh para santri baru.

Ketua Panitia, Manarul Anwar Hidayat, menjelaskan bahwa OPKIS bukan sekadar agenda pengenalan, tetapi juga pembinaan awal bagi santri mahasiswa agar siap mengintegrasikan nilai akademik, spiritual, dan akhlak.

ā€œKami berharap OPKIS menjadi bekal awal bagi santri dalam menapaki perjalanan panjang di Pesma An Najah, agar mampu berprestasi di kampus sekaligus menjaga akhlakul karimah,ā€ ujarnya.

Pada sesi pembukaan, Pengasuh Pesma An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., memberikan pengarahan penuh hikmah kepada santri baru. Beliau menekankan bahwa dalam menuntut ilmu, santri harus memilih guru dengan sanad keilmuan yang jelas agar ilmu yang didapat membawa keberkahan.

ā€œSantri harus mantap dan yakin, bahwa keputusan untuk mondok di Pesma An Najah adalah pilihan yang tepat. Semua orang tua tentu berharap anak-anaknya berprestasi, dan prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah,ā€ tutur Abah Roqib.

Tidak hanya itu, Abah Roqib juga membagikan perjalanan hidupnya sejak kecil kepada para santri. Beliau bercerita bagaimana perjuangan dalam belajar, berdisiplin, serta menjaga semangat meski dalam keterbatasan. Kisah itu disampaikan untuk memberi teladan nyata bahwa kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran adalah kunci meraih keberhasilan.

Sebagai wujud partisipasi santri, Raihan Nur Hidayat (Kang Santri 2025) dan Indri Lestari Putri (Mbak Santri 2025) menyampaikan prakata mewakili santri baru. Keduanya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk memulai langkah awal tholabul ā€˜ilmi di Pesma An Najah. Mereka juga berkomitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh, meraih prestasi, dan menjaga akhlak mulia.

Kegiatan OPKIS resmi ditutup pada Ahad, 07 September 2025 oleh Ny. Hj. Noortri Y. Muthmainnah, S.Ag. Dalam penutupannya, beliau memberikan motivasi agar santri istiqamah menjaga integritas diri, menyeimbangkan antara ilmu, iman, dan amal, serta menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Berprestasi di pesantren maupun di kampus.

Selama sepuluh hari, OPKIS menghadirkan rangkaian kegiatan yang kaya makna, mulai dari kajian keislaman, pengenalan tradisi pesantren, pembinaan organisasi, hingga praktik ibadah berjamaah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian acara, menjadikan OPKIS sebagai pengalaman berharga bagi santri baru.

Dengan terselenggaranya OPKIS 2025, Pesantren Mahasiswa An Najah berharap lahir generasi santri mahasiswa yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari, berprestasi di bidang kepesantrenan dan akademik, serta menjadi teladan dengan akhlakul karimah. (IS)