Kegiatan Orientasi Pesantren Lingkungan oleh LP3I di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto

 

Hari/Tanggal: Sabtu–Minggu, 5–6 Juli 2025
Waktu: 13.30 – 09.00 WIB
Tempat: Pesantren Mahasiswa An Najah
Peserta: 20 Mahasiswa LP3I College Purwokerto

 

Pendahuluan

Dalam rangka menumbuhkan nilai-nilai religius, kedisiplinan, dan kepedulian terhadap lingkungan, LP3I College Purwokerto menyelenggarakan kegiatan Orientasi Pesantren Lingkungan (OPL). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembentukan karakter mahasiswa baru, khususnya dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, namun juga memiliki akhlak dan tanggung jawab sosial yang tinggi.

Orientasi ini berlangsung selama dua hari satu malam, mulai hari Sabtu, 5 Juli 2025 pukul 13.30 WIB hingga Minggu pagi, 6 Juli 2025 pukul 09.00 WIB, dan bertempat di area Pesantren Mahasiswa An Najah. Sebanyak 20 mahasiswa LP3I turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Para peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang telah disusun oleh panitia, dengan suasana penuh semangat, kekeluargaan, dan nilai-nilai spiritual yang kuat.

Rangkaian Kegiatan

Kegiatan diawali dengan sesi kumpul dan absensi peserta pada pukul 13.30 WIB. Seluruh peserta hadir tepat waktu dan menunjukkan antusiasme sejak awal. Setelah proses absensi selesai, para peserta diarahkan untuk berangkat menuju lokasi pesantren pada pukul 13.45 WIB. Suasana kebersamaan mulai terjalin dalam perjalanan ini, karena para peserta tidak hanya saling mengenal, namun juga saling mendukung satu sama lain.

 

Sesampainya di lokasi, acara pembukaan resmi dilangsungkan pada pukul 14.00 WIB. Tim panitia menyampaikan sambutan dan pengarahan mengenai tujuan serta tata tertib selama kegiatan berlangsung. Pembukaan ini menjadi momen awal yang penting dalam membangun semangat spiritual dan kerja sama tim.

Setelah pembukaan, para peserta bersama panitia melakukan persiapan tempat hingga pukul 15.10 WIB. Kegiatan ini tidak hanya dimaksudkan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan, namun juga sebagai pembelajaran praktis tentang pentingnya kerapian dan kebersihan dalam lingkungan Pesantren Mahasiswa An Najah.

Tepat pukul 15.10 WIB, para peserta melaksanakan salat Ashar berjamaah, yang dipandu langsung oleh panitia. Kegiatan salat berjamaah ini menjadi bagian dari pembiasaan spiritual yang sangat penting dalam kehidupan pesantren dan mahasiswa Muslim secara umum.

Usai salat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi materi bertajuk “Pentingnya Tharah dan Menjaga Jannah Bagi Remaja” pada pukul 15.30 WIB hingga 17.10 WIB. Materi ini disampaikan oleh para pemateri ikhwan dan akhwat yang telah dibagi berdasarkan tempat. Dalam sesi ini, para peserta diajak memahami pentingnya menjaga kebersihan diri, lingkungan, dan jiwa, serta bagaimana hal tersebut menjadi bagian dari nilai-nilai Islam.

Pukul 17.10 – 18.00 WIB merupakan waktu ISHOMA (istirahat, salat Maghrib, dan makan malam). Waktu ini dimanfaatkan peserta untuk menyegarkan diri sekaligus mempererat tali silaturahmi dengan sesama peserta maupun panitia.

 

Setelah ISHOMA, kegiatan dilanjutkan dengan Khataman Al-Qur’an pada pukul 18.00 – 18.53 WIB. Seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dengan khidmat. Kegiatan khataman menjadi refleksi spiritual bagi para peserta untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui kalam-Nya.

Selanjutnya, salat Isya berjamaah dilaksanakan pada pukul 18.53 – 19.10 WIB. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan dialog bersama pengasuh pondok dan pengurus pesantren pada pukul 19.10 hingga 20.50 WIB. Dalam sesi ini, peserta mendapat banyak wawasan tentang kehidupan di Pesantren Mahasiswa An Najah, nilai-nilai yang dijunjung tinggi, serta tantangan dan keutamaan yang bisa didapatkan dari kehidupan sederhana namun bermakna tersebut.

Selepas itu, peserta diberikan waktu untuk istirahat mulai pukul 20.50 WIB hingga pukul 03.00 dini hari. Waktu istirahat ini sangat penting untuk memulihkan energi agar peserta bisa kembali mengikuti kegiatan esok hari dengan optimal.

Pada pukul 03.00 WIB dini hari, kegiatan salat Tahajud berjamaah dimulai. Ini merupakan salah satu agenda yang memiliki nilai spiritual tinggi dan menjadi ciri khas kegiatan pesantren. Para peserta merasakan suasana yang tenang dan khusyuk dalam bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir.

Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan salat Subuh berjamaah pada pukul 04.00 – 04.30 WIB. Setelahnya, para peserta mengikuti ngaji pagi yang dimulai pukul 06.00 hingga 07.00 WIB. Dalam sesi ngaji ini, peserta diajak untuk membaca dan memahami ayat-ayat Al-Qur’an sekaligus memetik nilai-nilai moral dan kehidupan darinya.

Setelah ngaji, peserta diberi waktu untuk sarapan pagi pada pukul 07.00 – 07.30 WIB. Sarapan disediakan oleh panitia, dan suasana kebersamaan sangat terasa saat para peserta duduk bersama dan saling berbagi cerita pengalaman semalam.

Pada pukul 08.00 – 08.40 WIB, peserta melaksanakan kegiatan Roan atau bersih-bersih lingkungan pesantren. Kegiatan ini bertujuan membentuk sikap tanggung jawab dan cinta kebersihan dalam diri setiap peserta. Mereka membersihkan lingkungan sekitar Pesantren Mahasiswa An Najah dengan penuh semangat, menciptakan suasana yang bersih dan nyaman.

Akhirnya, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi Sayonara atau perpisahan pada pukul 08.40 – 09.00 WIB. Dalam momen ini, banyak peserta yang merasa terharu karena telah melalui satu malam penuh makna bersama teman-teman baru dalam suasana pesantren. Ada yang mengungkapkan rasa syukur, kebahagiaan, bahkan keinginan untuk kembali merasakan suasana seperti ini di kemudian hari.

 

Penutup

Kegiatan Orientasi Pesantren Lingkungan (OPL) LP3I College Purwokerto ini berjalan dengan lancar dan sukses. Seluruh peserta menunjukkan antusiasme tinggi serta semangat kebersamaan yang luar biasa. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapat pengalaman spiritual yang mendalam, tetapi juga pelajaran tentang pentingnya menjaga kebersihan, menghormati sesama, dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama.

Panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta, pengasuh pondok, serta semua pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini. Harapan ke depannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi budaya positif yang melekat dalam kehidupan mahasiswa LP3I College Purwokerto.

IMG-20221010-WA0064 (1)

Dari Kesederhanaan Menuju Keberkahan : Perjalanan Hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.

(K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. memberikan potongan tumpeng Miladnya kepada Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., 16/08)

Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.

Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.

Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.

Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.

Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu

Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.

Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.

Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Menghormati Orang Tua dan Guru

Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.

Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.

Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.

Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta

Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.

Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.

Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.

Dari Anak Desa Menjadi Profesor

Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.

Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.

Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)

Pesma An Najah Purwokerto: Pesantren dengan Program Tahfidzul Qur’an dan Prestasi Progresif

AnnajahNews, Purwokerto – Pesantren Mahasiswa An Najah hadir sebagai Pesantren dengan program Tahfidzul Qur’an yang memadukan program hafalan Al-Qur’an dengan pembinaan prestasi mahasiswa. An Najah dirancang untuk melahirkan generasi Qur’ani yang cerdas, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin muda berakhlak mulia.

Program Takhasus Tahfidz Qur’an di Pesantren Mahasiswa An Najah memiliki kategori yang fleksibel sesuai kemampuan santri:

  • Program Hafalan 1–30 Juz: Target penuh hafalan Al-Qur’an selama masa studi dengan metode talaqqi, muraja’ah, dan bimbingan intensif.
  • Program Hafalan 1–15 Juz: Fokus pada hafalan 15 juz dengan penguatan tahsin dan tajwid.
  • Program Hafalan Juz 30 dan Surat-Surat Pilihan: Khusus untuk mahasiswa yang ingin menguatkan hafalan surat penting seperti Yasin, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, Al-Mulk, dan lainnya.

Selain program tahfidz, An Najah juga fokus membentuk santri berprestasi dengan program Prestasi Progresif melalui bimbingan akademik, lomba karya tulis, riset ilmiah, pelatihan public speaking, serta pengembangan kepemimpinan profetik (prophetic leadership). Santri juga dibekali dengan program kelas bahasa (Arab, Inggris, dan Jawa Kromo), pelatihan kepenulisan (LKTI, esai, jurnal ilmiah, dan karya sastra), program percepatan kuliah, serta keterampilan kreatif seperti desain grafis dan fotografi untuk mendukung daya saing di era digital.

“Pesantren Mahasiswa An Najah ingin menghadirkan generasi muda yang tidak hanya hafal Qur’an, tetapi juga unggul dalam prestasi. Dengan pembinaan terstruktur, santri mampu menyeimbangkan hafalan, studi, dan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah.

Dengan tagline “Muda, Qur’ani, Berprestasi”, An Najah menjadi ruang tumbuhnya hafidz-hafidz muda yang siap membawa cahaya Al-Qur’an di tengah tantangan zaman.

Tentang Pesantren Mahasiswa An Najah

Pesantren Mahasiswa An Najah adalah lembaga pendidikan berbasis pesantren khusus mahasiswa dengan fokus utama pada tahfidzul Qur’an (1–30 Juz), pengembangan prestasi akademik, dan pembentukan kepemimpinan profetik melalui berbagai Organisasi Santri Mahasiswa (OSMA). Sebagai nilai tambah, An Najah juga dikenal sebagai Pesantren Kepenulisan: Karya Ilmiah dan Sastra, memberikan wadah bagi santri untuk berkarya melalui literasi, riset, dan publikasi ilmiah.

Penerimaan Santri Baru Tahun Dirosah 2025/2026

Pesantren Mahasiswa An Najah membuka Penerimaan Santri Baru Tahun Dirosah 2025/2026. Informasi pendaftaran dapat diakses melalui tautan berikut: https://linktr.ee/informasi_PSB_Annajah_25 atau datang langsung ke Kantor Pesma An Najah Purwokerto, Jl. Moh. Besar No. 10, Kutasari, Kec. Baturraden, Banyumas.