1_0T2daR7MghoZDoc2DzpD1g

Ekoteologi di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah sejak berdiri tahun 2010 lalu telah mengangkat tema dan pemikiran tentang ekoteologi berupa kontekstualisasi nilai teologis dalam kajian Aqidah Islamiyah juga kajian fiqh dan akhlak tasawuf baik saat ngaji kitab kuning dan kajian reflektif di beberapa momen yang diadakan oleh pesantren. Bukan saja kajian teoritis dalam halaqah di ruang ngaji atau kajian, ajaran ini juga diaplikasikan dalam kehidupan para santri. Teologi aplikatif yang akhir-akhir ini dipopulerkan dengan istilah ekoteologi terus diupayakan oleh Pesma untuk keberlangsungan kehidupan manusia bersama makhluk lain alam semesta ini.

Pada tanggal 29 – 31 Oktober 2025 dilaksanakan kegiatan  AICIS, Annual international Conference on Islam, Science, and Sosiety di UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) Depok dengan mengambil tema Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidiciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future. Kajian ekoteologi dalam konferensi ini sesuai dengan kegiatan pesantren yang selama ini telah dilaksanakan. Tradisi Pesma mendapatkan dukungan teori yang didiskusikan serius dalam program tahunan konferensi ini sekaligus menemukan momentumnya saat ini.

Ekoteologi merupakan kajian tentang hubungan antara keyakian agama dan lingkungan di mana pemeluk agama ini hidup. Terdapat keterkaitan erat antara teologi dan lingkungan yang dipahami secara integratif dalam satu kesatuan utuh kemudian bagaimana teologi seseorang ini berdaya untuk memahami lingkungan, menemukan fungsi dan manfaatnya kemudian berpengaruh dalam sikap dan perilaku positifnya terhadap lingkungan bukan sajadi sisni dan saat ini tetapi di alam semesta untuk keberlangsungan hidup sepanjang masa.

Manusia secara teologis diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah di alam dan bersama makhluk ciptaan Allah lainnya yang dalam kebersamaannya itu manusia menjaga agar antar makhluk ini terjalin hubungan mesra, istimewa, dan mutualistik. Tugas dalam harmonitas sesama alam ciptaan Allah ini menjadi tanggungjawabnya di hadapan Penciptanya. Sikap merendahkan alam sekecil apapun dia sama artinya dengan merendahkan Penciptanya untuk itu alam harus diposisikan terhormat di mata hatinya dan harus dijaga kelestariaanya. Substainebel alam, bukan saja makhluk hidup tetapi semua ciptaan-Nya, harus mendapatkan tempat dan fungsi edukatif untuk menjadi media meraih keridloan Allah padanya.

Harmonitas ini terkoneksi dalam ikatan moralitas teologis sehingga semakin kuat keagamaan seseorang akan semakin erat hubungan mesranya dengan makhluk lain dan memberikan apresiasi tinggi bahwa semua ciptaan pasti banyak memberikan manfaat dalam bentuknya yang ragam baik itu sudah dapat dipahami oleh manusia maupun yang masih misterius, mahjub atau tertutup. Dalam posisi yang masih merterius ini menjadi kewajiban manusia untuk membukanya dalam kecanggihan ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi telah membuka rahasia alam yang selama ini menjadi misteri dan selanjutnya mengantarkan pada pemahaman keagungan Tuhan Yang Menciptakannya.

Kembali ke pesantren An Najah yang terus berusaha melakukan aplikasi ekoteologi ini, di antaranya berupa pembuatan biopori secara sederhana yaitu membuat lobang-lobang di beberapa titik baik dengan media galon cat yang ditanam dan sekitarnya diberi puing-puing terlebih dahulu sebelum diurug dengan tanah. Saat hujan, air dialirkan ke dalamnya melalui lobang tutupnya atau di sela-sela puing yang menutupinya. Pesma juga membuat semacam sepitang untuk menyimpan air hujan yang dindingnya dibuat lobang-lobang sehingga air di dalamnya dapat meresap perlahan ke pori-pori tanah sekitarnya. Fakta selama ini membuktikan bahwa dengan teknik sederhana ini air hujan yang deras sekalipun dapat tertampung.  Melalui media biopori ini bisa menjadi cadangan air di musim kemarau dan menahan banjir di musim hujan.

Selain itu ekoteologi berupa cinta alam dengan mejaga kebersihannya yang dilakukan oleh santri yang dipandu oleh pengasuh setiap hari dan utamanya di hari libur secara massal dilakukan kegiatan Ro’an (sebutan dari kata Arab mubarokan, yang dalam lidah Jawa kemudian disingkat dengan istilah Ro’an). Dalam ro’an ini para santri membersihkan kamar, asrama atau komplek, jalan sekitar, juga kali atau sungai di sekitar pesantren. Upaya ini diperkuat penanaman pohon atau taman bunga di lahan atau kebun yang dimiliki (pengasuh) pesantren. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menjaga agar bumi ini tetap hijau dan nyaman dihuni oleh manusia Bersama makhluk lainnya.

Demikian sebagian teknik sederhana model Pesantren An Najah yang merupakan aplikasi ekoteologi dalam pengembangan lingkungan berkelanjutan, konservasi alam, dan bentuk kesadaran lingkungan berdimensi religius yang mendasar dan kokoh. Tradisi ini terus diwariskan dan didesiminasi dalam kehidupan santri yang turun temurun sehingga menjadi subkultur bagi santri di manapun dan kapanpun mereka hidup.

Depok, 30 Oktober 2025

abah dan lirboyo

Kenangan Nyantri di Lirboyo

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Banyak orang berkomentar tentang pesantren sementara ia belum pernah nyantri, atau pernah nyantri tetapi belum menghayati dan mendalami tradisi pesantren yang oleh Gus Dur disebut sebagai sub-kultur budaya Jawa yang khas. Orang yang belum memahaminya, jika mengomentari pesantren, ia akan jatuh pada pemahaman yang jauh dari kenyataan dan substansi kulturnya. Betapa tidak, seorang kiai dengan keyakinan penuh menyediakan diri untuk kemaslahatan umat dan mendidiknya secara total—jiwa raga. Ia siapkan harta dan tenaga yang ia punya, disertai tirakat dhahir batin agar semua santrinya menjadi generasi yang berilmu dan sholih-sholihah.

Dimulai dari perjalanan panjang di masa mudanya, kiai telah menimba ilmu dari berbagai pondok pesantren, bahkan sampai ke luar negeri—semisal Timur Tengah, Makkah–Madinah—bersamaan dengan menunaikan ibadah haji. Peristiwa heroik selalu menyertai petualangannya. Setelah diyakini cukup dengan bekal ilmu dan juga jiwa yang matang, barulah ia mendirikan pesantren, menebar ilmu dan kemaslahatan. Perilaku seperti ini adalah keanehan bagi masyarakat umum, apalagi orang awam tentang pesantren, sehingga perilaku ini dianggap aneh dan bodoh—membuang waktu, pikiran, dan tenaga tanpa ada hasil materi di kemudian hari. Begitulah kiranya background sosial-historisnya mengapa ada berita miring dan kemudian viral akhir-akhir ini.

Kasus tersebut mengingatkan saya yang juga telah malang melintang di belantara dunia pesantren—mulai dari Pesantren Hidayatul Ummah Pringgoboyo Lamongan, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Tebuireng Jombang, dan Pesantren Denanyar Jombang. Nah, di tengah-tengah nyantri di Denanyar inilah saya mengaji puasanan di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Pondok Lirboyo pada tahun 1986 sangatlah terkenal dengan pengasuh pertamanya, Mbah KH. Abdul Manaf atau KH. Abdul Karim, dan kemudian diteruskan oleh KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuqi Dahlan.

Pada tahun 1986 tersebut, saya ikut mengaji di antaranya pada KH. Idris Marzuqi, KH. Imam Yahya Mahrus, dan KH. Maksum Jauhari. Mengaji ke Gus Maksum di sore hari yang biasanya menunggu sambil melihat tingkah lucu kera yang ada di depan rumahnya. Jika direnungkan, betapa “unik” beliau para pengasuh pondok ini juga pondok-pondok pada umumnya: di tengah-tengah menjalankan ibadah puasa, beliau masih menyempatkan diri mengaji setelah atau bakda salat fardlu sampai dengan menjelang waktu salat berikutnya. Sedang bakda salat Tarawih, santri mengaji sampai tengah malam atau dini hari. Demikian terus berjalan, apalagi di bulan puasa yang diyakini sebagai bulan penuh berkah.

Contoh keteladanan kiai yang begitu kuat, disertai ketinggian ilmu dan kewibawaan substantifnya, menarik perhatian para pecinta ilmu dari berbagai daerah. Tidak ketinggalan kami yang dari Desa Kanugrahan, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan, jauh dari Lirboyo Kediri harus menyiapkan diri dengan penuh semangat dan tekad yang kuat. Berangkat dari rumah berbekal beras se-kanthong, sambal kering, dan ikan gereh atau ikan asin, dengan mantap saya bersama kakak sepupu putra bude, Muhammad Sholeh, berangkat ke Lirboyo. Dari rumah Lamongan ke Lirboyo Kediri dengan kendaraan umum harus berganti-ganti kendaraan sampai sekitar enam kali. Akhirnya kami sampai di pesantren dambaan—besar, dengan santri yang berdisiplin ketat dalam jamaah dan mengaji. Hati ini terasa gembira sekaligus bangga karena merasa mendapatkan anugerah besar berupa “kesempatan nyecep ilmu” di pondok besar dengan beberapa kiai besar dan masyhur yang mengasuh Pondok Lirboyo ini.

Selama sebulan di pesantren ini, kami seolah tidak terbebani biaya—hanya semacam administrasi yang tidak seberapa. Masak sendiri untuk sahur dan buka, dan jika tidak sempat masak, kami baru ke kantin pondok untuk makan seporsi Rp75 kala itu. Pembiayaan yang ringan dan kebiasaan hidup yang sederhana seperti ini terasa nyaman dan tenteram. Setiap hari kegiatannya dari ilmu, ibadah, dan ilmu lagi. Begitu seterusnya. Saat ada waktu senggang, kami berjalan kaki pakai sarung ke pertokoan kota Kediri, meski seringnya kami hanya window shopping alias lihat-lihat saja. Selain itu, seringnya di waktu senggang di antara waktu ngaji kami manfaatkan untuk mengkhatamkan Al-Qur’an di maqbarah Mbah KH. Abdul Karim. Kegiatan membaca Al-Qur’an di maqbarah ini biasa dilakukan santri, juga saya lakukan saat mengaji di Tebuireng di maqam Mbah KH. Hasyim Asy’ari. Demikian juga tatkala saya mondok di Langitan, Denanyar, dan Krapyak Yogyakarta. Membaca Al-Qur’an di makam atau maqbarah memang menjadi kecintaan santri karena meyakini ada berkah di dalamnya.

Perilaku keteladanan kiai yang diikuti santri dalam kesederhanaan dan penuh pengabdian seperti di Lirboyo ini—juga pesantren lainnya—merupakan tradisi kuat bagaimana totalitas kiai berkhidmat dengan ilmu dan kompetensinya untuk santri dan umat. Demikian juga santri, mereka mencari ilmu dengan penuh semangat disertai hormat dan berkhidmat yang tulus pada kiainya. Hubungan yang ikhlas seperti ini begitu kuatnya tanpa kontrak yang bersifat material sepeser pun. Bahkan sebagian santri menghadap kiai untuk mengaji tanpa membawa materi apa pun, pokoknya pasrah bongkokan sama kiai, bahkan ada yang sampai dinikahkan oleh kiai. Apalagi Lirboyo, sebagai pesantren besar pastilah banyak ragam santri dengan berbagai latar pendidikan dan ekonominya.

Saya di Pondok Lirboyo tinggal di asrama yang konon pertama kali dibangun oleh Mbah Karim atau pondok induk yang lokasinya di utara masjid. Kebetulan bersama dengan santri senior asal Lamongan—sayang saya lupa namanya—yang bersedia membantu memasakkan kami. Ia bilang: “Dik, mana beras dan ikan asinmu? Sini aku yang masak, baik untuk sahur maupun untuk bukanya. Jika sudah waktunya sahur maupun buka, silakan gabung, kita sahur dan buka bersama.” Waduh, senang sekali rasanya—sudah mendapatkan kawan senior sekaligus membantu masak—sehingga kami berdua bisa punya waktu tambahan untuk menghatamkan Al-Qur’an di maqam Mbah Karim. Jika ada halangan, barulah kami ke warung pondok untuk makan dengan harga super murah.

Ya Allah, betapa mulianya para pengasuh pesantren dan betapa mulia para santri yang mengikuti jejak para kiainya. Saya bersyukur bisa mengaji di Pesantren Lirboyo Kediri yang telah memberikan ilmu dan keberkahan. Karena keberkahan ilmu dari para kiai, kini saya diberi kemampuan untuk mendirikan pesantren mengikuti jejak sang kiai, menjadi dosen, dan rektor di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Tanpa keberkahan tersebut, rasanya saya masih sangat jauh memperoleh kesempatan setinggi itu.

Realitas sosiologis sebagai sub-kultur sebagaimana saya ceritakan secara singkat di atas akan menjadi sulit sekali dipahami, apalagi diterima oleh orang yang belum pernah menjadi santri. Siapa pun akan mengalami kesulitan memahami, bagaimana mungkin ada orang mau secara sukarela mengabdikan diri untuk menebar ilmu dan agama siang malam tanpa digaji—jika ia mendapatkan imbalan pun tak seberapa jumlahnya. Kiai terbiasa bersedekah, dan diikuti oleh santri juga bersedekah pada kiai yang mereka hormati dan cintai dengan amplop atau cangkingan apa saja yang mereka punya. Bagi orang awam dan dengki terhadap pesantren, muncullah framing negatif terhadap pesantren yang mereka katakan sebagai feodal, dan pengasuhnya yang kaya dengan sarung dan mobil mahal, tetapi tega menerima amplop dari santri yang umumnya miskin. Ini pemikiran paham materialisme dan kapitalisme yang memahami kehidupan ini serba kontraktual—siapa memberi apa, dapat apa secara material.

Narasi yang kebangeten alias keterlaluan itu mengingatkan kembali bayangan saya pada tahun 1986 itu, saat di Pesantren Lirboyo dan beberapa kali silaturrahim untuk ziyarah ke sana bersama rombongan santri. Sepengetahuan saya, pesantren ini tetap sederhana dan bersahaja. Mungkin yang terlihat berubah adalah berdirinya bangunan bertingkat dan lebih rapi. Saya bangga melihat perkembangan Pondok Lirboyo dan terus berdoa agar pesantren ini terus berkembang dan bermanfaat bagi umat. Apa pun yang dikatakan oleh orang yang tidak senang pada pesantren, kegiatan tetap berjalan stabil. Karena bagi orang yang senang pondok, itu tidak akan kekurangan kata untuk memuji; begitu juga bagi orang yang tidak suka pesantren, mereka tidak kurang juga untuk membuat argumen dan narasi untuk mencela dan menjatuhkannya.

Salam, Jayalah Lirboyoku!

Selamat Hari Santri Nasional !

Wallahu a’lam bisshawab.

Pesma An Najah, 21 Rabi’ul Akhir 1447 H

OPKIS 2025

OPKIS Pesantren Mahasiswa An Najah 2025: Bekal Spiritual dan Intelektual Santri Mahasiswa

AnnajahNews – Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah sukses menyelenggarakan OPKIS (Orientasi Pesantren dan Kajian Islam Santri) tahun 2025 dengan tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Wasathiyah Guna Mewujudkan Santri yang Berakhlaqul Karimah.” Kegiatan ini berlangsung sejak Kamis, 28 Agustus 2025 hingga Ahad, 07 September 2025, dan diikuti dengan penuh antusias oleh para santri baru.

Ketua Panitia, Manarul Anwar Hidayat, menjelaskan bahwa OPKIS bukan sekadar agenda pengenalan, tetapi juga pembinaan awal bagi santri mahasiswa agar siap mengintegrasikan nilai akademik, spiritual, dan akhlak.

“Kami berharap OPKIS menjadi bekal awal bagi santri dalam menapaki perjalanan panjang di Pesma An Najah, agar mampu berprestasi di kampus sekaligus menjaga akhlakul karimah,” ujarnya.

Pada sesi pembukaan, Pengasuh Pesma An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., memberikan pengarahan penuh hikmah kepada santri baru. Beliau menekankan bahwa dalam menuntut ilmu, santri harus memilih guru dengan sanad keilmuan yang jelas agar ilmu yang didapat membawa keberkahan.

“Santri harus mantap dan yakin, bahwa keputusan untuk mondok di Pesma An Najah adalah pilihan yang tepat. Semua orang tua tentu berharap anak-anaknya berprestasi, dan prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah,” tutur Abah Roqib.

Tidak hanya itu, Abah Roqib juga membagikan perjalanan hidupnya sejak kecil kepada para santri. Beliau bercerita bagaimana perjuangan dalam belajar, berdisiplin, serta menjaga semangat meski dalam keterbatasan. Kisah itu disampaikan untuk memberi teladan nyata bahwa kesungguhan, keikhlasan, dan kesabaran adalah kunci meraih keberhasilan.

Sebagai wujud partisipasi santri, Raihan Nur Hidayat (Kang Santri 2025) dan Indri Lestari Putri (Mbak Santri 2025) menyampaikan prakata mewakili santri baru. Keduanya mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih karena telah diberi kesempatan untuk memulai langkah awal tholabul ‘ilmi di Pesma An Najah. Mereka juga berkomitmen untuk belajar dengan sungguh-sungguh, meraih prestasi, dan menjaga akhlak mulia.

Kegiatan OPKIS resmi ditutup pada Ahad, 07 September 2025 oleh Ny. Hj. Noortri Y. Muthmainnah, S.Ag. Dalam penutupannya, beliau memberikan motivasi agar santri istiqamah menjaga integritas diri, menyeimbangkan antara ilmu, iman, dan amal, serta menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat dan bangsa. Berprestasi di pesantren maupun di kampus.

Selama sepuluh hari, OPKIS menghadirkan rangkaian kegiatan yang kaya makna, mulai dari kajian keislaman, pengenalan tradisi pesantren, pembinaan organisasi, hingga praktik ibadah berjamaah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan mewarnai seluruh rangkaian acara, menjadikan OPKIS sebagai pengalaman berharga bagi santri baru.

Dengan terselenggaranya OPKIS 2025, Pesantren Mahasiswa An Najah berharap lahir generasi santri mahasiswa yang mampu mengaktualisasikan nilai-nilai wasathiyah dalam kehidupan sehari-hari, berprestasi di bidang kepesantrenan dan akademik, serta menjadi teladan dengan akhlakul karimah. (IS)

IMG_20250303_214200

SMP Sains An Najah Purwokerto: Kado Istimewa Harlah Pesma An Najah ke-15

Purwokerto – Sebagai bagian dari perayaan Hari Lahir (Harlah) Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto yang ke-15, Pesma An Najah memberikan kado istimewa berupa pendirian SMP Sains An Najah Purwokerto. Pendirian sekolah ini menandakan komitmen Pesma An Najah dalam terus berinovasi dan berkontribusi dalam dunia pendidikan.

“SMP Sains An Najah adalah bentuk konkret dari upaya kami untuk mencetak generasi penerus yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan akhlak yang mulia,” ungkap K.H. Prof. Dr. Moh. Roqib, M.Ag.

Perayaan Harlah ke-15 diwarnai oleh berbagai acara, antara lain haflah wal ikhtitam, pengajian akbar, lomba baca puisi dan storytelling untuk pelajar SD/MI sederajat, serta shawalatan dan tasyakuran. Puncak acara diisi dengan pemotongan tumpeng oleh Pengasuh Pesma An Najah sebagai simbol rasa syukur atas pencapaian yang telah diraih. Acara ini dihadiri oleh Pengasuh Pesma An Najah, pengurus yayasan, para asatidz/asatidzah, tim pendiri SMP, dan santri Pesma An Najah (03/04).

SMP Sains An Najah diharapkan menjadi wadah bagi para siswa untuk mengembangkan potensi akademik dan non-akademik mereka, serta menanamkan nilai-nilai agama dan karakter kepemimpinan profetik. “Pendirian sekolah ini telah direncanakan lama dan mendapat dukungan dari ulama dan pemerhati pendidikan. Kami berharap lembaga ini dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya memiliki kekuatan iman dan taqwa, tetapi juga kompetensi intelektualitas dan kompetensi social leadership yang kuat untuk menghadapi tantangan masa depan,” ungkap K.H. Prof. Dr. Moh. Roqib, M.Ag.

Menurut K.H. Prof. Dr. Moh. Roqib, M.Ag., dunia Islam dan dunia pada umumnya membutuhkan kader-kader tangguh yang tidak hanya memiliki intelektualitas yang memadai, tetapi juga akhlak mulia dan spiritualitas yang tinggi. “Kebutuhan akan tokoh masa depan  harus ditopang oleh lembaga pendidikan yang bagus yang memang  didesain  secara integratif untuk anak-anak kita”, imbuhnya.

Sebagai bagian dari pengembangan Pesma An Najah yang telah berdiri selama 15 tahun, pendirian SMP Sains An Najah juga mendapat dukungan penuh dari alumni dan masyarakat setempat. Sekolah ini membuka pendaftaran untuk tahun ajaran 2025/2026 dan siap menerima siswa yang ingin melanjutkan pendidikan dengan pendekatan ilmiah dan berbasis pesantren.

Tentang Pesma An Najah
Pesma An Najah Purwokerto didirikan dengan tujuan untuk mencetak generasi muda yang unggul dalam ilmu pengetahuan, berakhlak mulia, dan siap menghadapi tantangan zaman. Dalam usianya yang ke-15, Pesma An Najah terus mengembangkan berbagai program pendidikan untuk menciptakan generasi muda yang cerdas, inklusif, dan humanis, serta mampu menjadi key person di lingkungan mereka.

Berikut Informasi Pendaftaran Peserta Didik Baru SMP Sains An Najah Tahun Ajaran 2025/2026!

(Ketua FKUB terpilih K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., saat memberikan sambutan pasca pengukuhan, 26/08)

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Kembali Dikukuhkan sebagai Ketua FKUB Banyumas Masa Bakti 2024-2029 

AnnajahNews – Pj Bupati Banyumas Hanung Cahyo Saputro mengukuhkan 17 anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) periode 2024-2029 Kabupaten Banyumas di Pendopo Si Panji Purwokerto, Senin 26 Agustus 2024.

Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., kembal diberi kepercayaan untuk menjabat sebagai Ketua FKUB Banyumas masa bakti 2024-2029.

Beliau menuturkan, prosesi pengukuhan ini merupakan kali pertama yang dilakukan kendati organisasi tersebut didirikan sejak tahun 1996.

“Sejak 1996 pengurus selama ini belum pernah ada pelantikan dan pengukuhan. Baru kali ini secara resmi dikukuhkan. Jadi dulu hanya diberi SK langsung bekerja,” kata dia, usai pengukuhan.

Menurutnya, FKUB menjadi mitra pemerintah daerah untuk menjaga kondusivitas dalam kaitannya dengan kegiatan keagamaan.

Misalnya, dalam hal perizinan tempat ibadah, FKUB selalu berupaya mendampingi bersama-sama agar kebutuhan tersebut dapat terpenuhi.

“Jika tidak memungkinkan maka ada jalan keluar di antaranya dengan rumah yang digunakan sementara, seperti di Jalan A Yani ada ruko yang digunakan sementara dan itu bisa diperpanjang izinnya. Kami terus mendampingi,” kata dia.

Dia juga berharap, Pemkab Banyumas dapat membantu dalam hal pembiayaan kegiatan.

Pasalnya, cukup banyak ide dan gagasan namun anggarannya pas-pasan.

“Sekarang ada 14 FKUB kecamatan. Bahkan dari Provinsi ingin agar (FKUB) sampai RT RW di bawah koordinasi Kemenag. Ini sudah disosialisasikan,” ujarnya.

Terkait program FKUB ke depan, Roqib mengatakan, kegiatan dalam rangka menjaga kerukunan antar umat beragam tidak perlu formal.

Misalnya dengan menggelar sepeda gowes bersama dalam rangka silaturrahmi sering ketemu dan tukar pendapat.

“Ke depan juga akan ada Kampung Moderasi Pancasila di sekitar Menara Pandang Purwokerto. Bupati Badung sudah siap memberikan bantuan mendirikan pura. Ini akan menjadi destinasi wisata spiritual,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Pj Bupati Banyumas Hanung Cahyo Saputro mengatakan, FKUB memiliki peran penting dan strategis dalam menjaga keharmonisan sosial, mencegah terjadinya konflik serta mempromosikan dialog antarumat beragama.

“Tapi saya pesan, kepada pengurus juga memberikan perhatian dan bantuan kepada masyarakat di lingkungan sekitar tanpa memperhatikan suku, agama dan ras. Ndherek titip. Mari kita sengkuyung bersama dan saling bersinergi. Bukan hanya soal kerukunan namun juga kebersamaan,” ucapnya. (SM)

drawing-illustration-abstract-165992-wallhere.com

Sepucuk Nasihat; Khalwatun Khayat

Oleh: Nisa Faidatul Rohimah

Pada suatu waktu, setelah jamaah Magrib bersama Abah K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., beliau memberikan sepucuk nasihat tentang kehidupan. “Kehidupan adalah merasakan satu kesenangan ke kesenangan yang lain,” ucap Abah. Beliau menjelaskan terkadang kehidupan itu terasa begitu cepat dan terkadang juga begitu lambat. Tergantung bagaimana kita menikmati atau tidaknya sebuah kehidupan.

 Abah menceritakan perjalanannya ketika hijrah dari Yogyakarta ke Purwokerto. Ketika sebelumnya beliau pulang-pergi untuk mengajar dari Yogyakarta ke Purwokerto yang kurang lebih beliau lakukan selama delapan tahun. Namun, beliau merasa hal itu berlalu begitu cepat. Namun, karena beliau diberi amanah untuk menjadi Wakil Rektor STAIN pada saat itu dan mengharuskannya untuk menetap di Purwokerto.

Pindah ke sebuah tempat baru bukanlah hal yang mudah. Kita harus meninggalkan rumah tempat di mana kita menghabiskan waktu bersama keluarga, meninggalkan kenangan-kenangan yang ada dan juga banyak teman-teman dekat. Begitu pula dengan Abah yang merasa begitu sedih karena harus meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, karena tugas yang diembannya beliau pun tetap melangkahkan kaki di tanah Purwokerto.

Abah juga bercerita beliau yang lahir dari keluarga sederhana dulu pernah berharap bisa naik pesawat dan sekarang sudah bisa ke mana-mana dengan pesawat. Tidak terasa sudah lebih dari setengah abad usia Abah, ada banyak hal yang telah beliau lalui dalam kehidupan ini. Beliau mengatakan ketika kita merasakan khalwatun khayat (manisnya kehidupan) waktu akan berlalu begitu cepat. Tidak hanya tentang kehidupan, tapi juga khalwatun iman (manisnya iman), Islam, ‘ilmi ataupun kemanisan-kemanisan yang lainnya, karena hakikatnya ketika manusia merasakan kesenangan dalam sebuah hal, ia berharap untuk dapat merasakannya lebih lama lagi. Untuk merasakan kenikmatan suatu hal, yang perlu kita lakukan ialah mensyukuri dan menerima hal yang terjadi pada diri kita.

Purwokerto, 24 Agustus 2024

Tentang Penulis:

Nisa Faidatul Rohimah, atau yang lebih sering disapa Nisa merupakan seorang perempuan kelahiran Cilacap, 6 Maret 2004. Ia mulai aktif menulis karya fiksi pada saat pandemi. Cerpen dan puisi adalah tulisan pertama yang dibuatnya. Selain itu, ia juga pernah menulis beberapa novel di platfrom online. Saat ini, ia sedang menekuni tulisan non fiksi seperti esai ilmiah dan artikel jurnal. Buku terbaru yang diterbitkannya yaitu, “Pendidikan untuk Apa dan Siapa?” merupakan hasil antologi yang diikutinya pada saat perlombaan Sayembara Esai FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia berstatus sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus sebagai santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto dan aktif di Komunitas Pondok Pena.

Ilustratasi: www.walhere.com