1_0T2daR7MghoZDoc2DzpD1g

Ekoteologi di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah sejak berdiri tahun 2010 lalu telah mengangkat tema dan pemikiran tentang ekoteologi berupa kontekstualisasi nilai teologis dalam kajian Aqidah Islamiyah juga kajian fiqh dan akhlak tasawuf baik saat ngaji kitab kuning dan kajian reflektif di beberapa momen yang diadakan oleh pesantren. Bukan saja kajian teoritis dalam halaqah di ruang ngaji atau kajian, ajaran ini juga diaplikasikan dalam kehidupan para santri. Teologi aplikatif yang akhir-akhir ini dipopulerkan dengan istilah ekoteologi terus diupayakan oleh Pesma untuk keberlangsungan kehidupan manusia bersama makhluk lain alam semesta ini.

Pada tanggal 29 – 31 Oktober 2025 dilaksanakan kegiatan  AICIS, Annual international Conference on Islam, Science, and Sosiety di UIII (Universitas Islam Internasional Indonesia) Depok dengan mengambil tema Islam, Ecotheology, and Technological Transformation: Multidiciplinary Innovations for an Equitable and Sustainable Future. Kajian ekoteologi dalam konferensi ini sesuai dengan kegiatan pesantren yang selama ini telah dilaksanakan. Tradisi Pesma mendapatkan dukungan teori yang didiskusikan serius dalam program tahunan konferensi ini sekaligus menemukan momentumnya saat ini.

Ekoteologi merupakan kajian tentang hubungan antara keyakian agama dan lingkungan di mana pemeluk agama ini hidup. Terdapat keterkaitan erat antara teologi dan lingkungan yang dipahami secara integratif dalam satu kesatuan utuh kemudian bagaimana teologi seseorang ini berdaya untuk memahami lingkungan, menemukan fungsi dan manfaatnya kemudian berpengaruh dalam sikap dan perilaku positifnya terhadap lingkungan bukan sajadi sisni dan saat ini tetapi di alam semesta untuk keberlangsungan hidup sepanjang masa.

Manusia secara teologis diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan mengabdi kepada Allah di alam dan bersama makhluk ciptaan Allah lainnya yang dalam kebersamaannya itu manusia menjaga agar antar makhluk ini terjalin hubungan mesra, istimewa, dan mutualistik. Tugas dalam harmonitas sesama alam ciptaan Allah ini menjadi tanggungjawabnya di hadapan Penciptanya. Sikap merendahkan alam sekecil apapun dia sama artinya dengan merendahkan Penciptanya untuk itu alam harus diposisikan terhormat di mata hatinya dan harus dijaga kelestariaanya. Substainebel alam, bukan saja makhluk hidup tetapi semua ciptaan-Nya, harus mendapatkan tempat dan fungsi edukatif untuk menjadi media meraih keridloan Allah padanya.

Harmonitas ini terkoneksi dalam ikatan moralitas teologis sehingga semakin kuat keagamaan seseorang akan semakin erat hubungan mesranya dengan makhluk lain dan memberikan apresiasi tinggi bahwa semua ciptaan pasti banyak memberikan manfaat dalam bentuknya yang ragam baik itu sudah dapat dipahami oleh manusia maupun yang masih misterius, mahjub atau tertutup. Dalam posisi yang masih merterius ini menjadi kewajiban manusia untuk membukanya dalam kecanggihan ilmu dan teknologi. Ilmu dan teknologi telah membuka rahasia alam yang selama ini menjadi misteri dan selanjutnya mengantarkan pada pemahaman keagungan Tuhan Yang Menciptakannya.

Kembali ke pesantren An Najah yang terus berusaha melakukan aplikasi ekoteologi ini, di antaranya berupa pembuatan biopori secara sederhana yaitu membuat lobang-lobang di beberapa titik baik dengan media galon cat yang ditanam dan sekitarnya diberi puing-puing terlebih dahulu sebelum diurug dengan tanah. Saat hujan, air dialirkan ke dalamnya melalui lobang tutupnya atau di sela-sela puing yang menutupinya. Pesma juga membuat semacam sepitang untuk menyimpan air hujan yang dindingnya dibuat lobang-lobang sehingga air di dalamnya dapat meresap perlahan ke pori-pori tanah sekitarnya. Fakta selama ini membuktikan bahwa dengan teknik sederhana ini air hujan yang deras sekalipun dapat tertampung.  Melalui media biopori ini bisa menjadi cadangan air di musim kemarau dan menahan banjir di musim hujan.

Selain itu ekoteologi berupa cinta alam dengan mejaga kebersihannya yang dilakukan oleh santri yang dipandu oleh pengasuh setiap hari dan utamanya di hari libur secara massal dilakukan kegiatan Ro’an (sebutan dari kata Arab mubarokan, yang dalam lidah Jawa kemudian disingkat dengan istilah Ro’an). Dalam ro’an ini para santri membersihkan kamar, asrama atau komplek, jalan sekitar, juga kali atau sungai di sekitar pesantren. Upaya ini diperkuat penanaman pohon atau taman bunga di lahan atau kebun yang dimiliki (pengasuh) pesantren. Kegiatan ini merupakan upaya untuk menjaga agar bumi ini tetap hijau dan nyaman dihuni oleh manusia Bersama makhluk lainnya.

Demikian sebagian teknik sederhana model Pesantren An Najah yang merupakan aplikasi ekoteologi dalam pengembangan lingkungan berkelanjutan, konservasi alam, dan bentuk kesadaran lingkungan berdimensi religius yang mendasar dan kokoh. Tradisi ini terus diwariskan dan didesiminasi dalam kehidupan santri yang turun temurun sehingga menjadi subkultur bagi santri di manapun dan kapanpun mereka hidup.

Depok, 30 Oktober 2025

gema solawat

Peringati Maulid Nabi Muhammad Saw., dan Milad Luthfunnajah, Pesma An Najah Gelar Gema Sholawat

AnnajahNews – 19 September 2024 — Pada malam Kamis yang lalu, Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah berhasil menggelar acara Gema Sholawat dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dan Milad Luthfunnajah yang ke-10. Acara yang bertajuk “Menumbuhkan Jiwa Harmoni dalam Kiprah Maulid Nabi” ini dilaksanakan dengan meriah di Masjid Baitul Mu’min, dihadiri oleh ratusan santri, anggota masyarakat, dan penggemar seni hadrah.

Rangkaian acara dimulai dengan Mauidoh Hasanah oleh Pengasuh Pesma An Najah, dalam sambutannya, menekankan pentingnya acara ini sebagai momentum untuk merenungkan ajaran-ajaran Nabi dan menumbuhkan rasa cinta serta persatuan di antara umat. “Kami ingin menjadikan acara ini sebagai wadah untuk memperkuat ukhuwah dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Mari kita tingkatkan cinta kita kepada Nabi dengan mengamalkan ajaran-ajarannya dalam kehidupan sehari-hari,”

Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan sholawat yang dipimpin oleh santri, menggugah semangat dan kehangatan di antara para peserta. Suara merdu dan syahdu memenuhi masjid, menyatukan hati dan jiwa dalam mengagungkan nama Nabi. Peserta dari berbagai usia tampak antusias mengikuti rangkaian sholawat, yang menandakan betapa besarnya cinta mereka terhadap Nabi Muhammad SAW.

Tak hanya itu, peserta juga diajak untuk berdoa bersama, memohon kepada Allah SWT agar masyarakat diberkahi dengan kedamaian dan keharmonisan. Suasana khidmat terasa saat setiap orang menutup mata, menyatukan harapan dan doa untuk masa depan yang lebih baik.

Acara ini juga menjadi kesempatan bagi santri dan warga untuk saling berkenalan dan berbagi pengalaman. Banyak peserta yang menyatakan rasa syukur bisa berpartisipasi dalam perayaan yang penuh makna ini. “Saya merasa sangat terinspirasi dan termotivasi setelah mengikuti acara ini. Semoga kita semua bisa mengamalkan ajaran Nabi dalam kehidupan sehari-hari,” ujar salah satu santri.

Sebagai penutup, acara Gema Sholawat ini diakhiri dengan pembacaan doa bersama, mengharapkan agar semangat harmoni terus terjalin di antara seluruh peserta. Pesma An Najah berkomitmen untuk terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan serupa, sebagai bentuk cinta kepada Nabi dan upaya untuk menumbuhkan nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat.

Dengan kesuksesan acara ini, Pesma An Najah berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis, serta mengajak semua pihak untuk bersatu dalam misi mencintai dan mengamalkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Mari bersama-sama kita jaga dan perkuat ukhuwah di tengah masyarakat demi masa depan yang lebih baik! (Annisa Lutfiana)

drawing-illustration-abstract-165992-wallhere.com

Sepucuk Nasihat; Khalwatun Khayat

Oleh: Nisa Faidatul Rohimah

Pada suatu waktu, setelah jamaah Magrib bersama Abah K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., beliau memberikan sepucuk nasihat tentang kehidupan. “Kehidupan adalah merasakan satu kesenangan ke kesenangan yang lain,” ucap Abah. Beliau menjelaskan terkadang kehidupan itu terasa begitu cepat dan terkadang juga begitu lambat. Tergantung bagaimana kita menikmati atau tidaknya sebuah kehidupan.

 Abah menceritakan perjalanannya ketika hijrah dari Yogyakarta ke Purwokerto. Ketika sebelumnya beliau pulang-pergi untuk mengajar dari Yogyakarta ke Purwokerto yang kurang lebih beliau lakukan selama delapan tahun. Namun, beliau merasa hal itu berlalu begitu cepat. Namun, karena beliau diberi amanah untuk menjadi Wakil Rektor STAIN pada saat itu dan mengharuskannya untuk menetap di Purwokerto.

Pindah ke sebuah tempat baru bukanlah hal yang mudah. Kita harus meninggalkan rumah tempat di mana kita menghabiskan waktu bersama keluarga, meninggalkan kenangan-kenangan yang ada dan juga banyak teman-teman dekat. Begitu pula dengan Abah yang merasa begitu sedih karena harus meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, karena tugas yang diembannya beliau pun tetap melangkahkan kaki di tanah Purwokerto.

Abah juga bercerita beliau yang lahir dari keluarga sederhana dulu pernah berharap bisa naik pesawat dan sekarang sudah bisa ke mana-mana dengan pesawat. Tidak terasa sudah lebih dari setengah abad usia Abah, ada banyak hal yang telah beliau lalui dalam kehidupan ini. Beliau mengatakan ketika kita merasakan khalwatun khayat (manisnya kehidupan) waktu akan berlalu begitu cepat. Tidak hanya tentang kehidupan, tapi juga khalwatun iman (manisnya iman), Islam, ‘ilmi ataupun kemanisan-kemanisan yang lainnya, karena hakikatnya ketika manusia merasakan kesenangan dalam sebuah hal, ia berharap untuk dapat merasakannya lebih lama lagi. Untuk merasakan kenikmatan suatu hal, yang perlu kita lakukan ialah mensyukuri dan menerima hal yang terjadi pada diri kita.

Purwokerto, 24 Agustus 2024

Tentang Penulis:

Nisa Faidatul Rohimah, atau yang lebih sering disapa Nisa merupakan seorang perempuan kelahiran Cilacap, 6 Maret 2004. Ia mulai aktif menulis karya fiksi pada saat pandemi. Cerpen dan puisi adalah tulisan pertama yang dibuatnya. Selain itu, ia juga pernah menulis beberapa novel di platfrom online. Saat ini, ia sedang menekuni tulisan non fiksi seperti esai ilmiah dan artikel jurnal. Buku terbaru yang diterbitkannya yaitu, “Pendidikan untuk Apa dan Siapa?” merupakan hasil antologi yang diikutinya pada saat perlombaan Sayembara Esai FTIK UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia berstatus sebagai mahasiswa di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, sekaligus sebagai santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto dan aktif di Komunitas Pondok Pena.

Ilustratasi: www.walhere.com

Hope concept. Man paddle red boat to light in cave. illustration. fantasy oil painting

Manajemen Harapan

Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.*

Ada yang perlu kita renungkan dari “la’allakum tattaqun” agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. Jadi ada menejemen harapan. Harapan manusia pasti ada, setinggi apapun, sekecil apapun, serendah apapun, pasti setiap manusia punya harapan.

Bagaimana agar kita meningkat kehidupannya maka berpandai-pandailah memanaj harapan. Jika orang mengatakan “Ah, apakah mungkin kalau kau orang desa, bisa menggapai cita-cita? Bolehlah komentar ini didengar tapi jangan sampai mematahkan semangat, bahwa kita akan tetap memelihara, menyemai, mengembangkan  harapan itu menjadi riil dan nyata dalam kehidupan.

Selama orang masih punya harapan maka orang tersebut masih mempunyai masa depan. Jika ada orang yang sudah putus harapan, maka kesengsaraan, kehinaan, akan menghadang dalam kehidupan. Jadi harapan ini penting. Allah punya iradah. Dengan mengikuti apa yang diwajibkan oleh Allah dan sifat Allah maka kita juga punya harapan. Harapan sebagai manusia untuk menjadi lebih baik, lebih meningkat. Kita harapannya bisa meniru jejak orang-orang sukses. Jika di sekitar kita ada orang yang telah diberi nikmat, jika itu kenikmatan ilmu, maka tempelkan untuk mendapatkan ilmu setinggi langit. Jika melihat kenikmatan orang yang diberi harta dan suka mendermakan harta bendanya, maka kejarlah rizki Allah dengan sekaligus merencanakan bahwa rizki yang didapat nanti akan dimanfaatkan untuk kemaslahatan diri sendiri, orang-orang di sekitar dan semua masyarakat yang ada di lingkungan kita. Memberikan kenikmatan potensi ekonomi yang kita miliki kepada orang lain, adalah bagian dari manajemen harapan agar semakin hari semakin sejahtera. Ini namanya kecerdasan finansial atau fikih finansial. Jadi kehidupannya semakin hari semakin memiliki tingkat kesejahteraan. Kesejahteraan itu bukan untuk diri sendiri saja tetapi untuk orang-orang di sekitarnya yang dia cintai bahkan bagi masyarakat secara luas.

Jika kita berhadapan dengan pejabat, pemerintah, maka kita juga bisa punya harapan. Bahwa suatu saat nanti, ketika bisa memegang tampuk kepemimpinan, bisa mengambil kebijakan, menggerakan rakyat, menggerakan umat untuk satu titik tujuan utama yaitu mendapatkan ridho Allah dengan tingkat kemaslahatan berupa kesejahteraan yang meningkat, keadilan yang merata, dan mendapatkan tingkat prestasi serta kebahagiaan yang didamba.

Namun harapan itu jangan sampai dititikkan pada potensi material, tapi harus ditarik lurus terus ke atas sampai ke titik spiritual yaitu mendapat rahmat dan ridho Allah Swt. Jadi harapan ini banyak visinya. Misalnya, punya harapan untuk membuat sebuah gedung, taman, istana yang nyaman dan bisa bermanfaat  lagi untuk dirinya, masyarakat, dan semuanya ditujukan untuk meraih ridho Allah Swt. Jadi aspek seni, budaya, dengan keindahan rumah, taman, lukisan, khot, seni suara, lagu dan seterusnya diharapkan bisa berkembang terus, tapi titik sentral dari tujuannya adalah untuk mendapatkan rahmat dan ridho Allah.

Ini adalah salah satu upaya yang harus terus ditanamkan di dalam hati setiap individu muslim, tanpa kecuali, orang desa, kota, hanya tamatan SD atau sarjana, pascasarjana, ustad, santri, kiai, semua harus mengembangkan harapan-harapannya dan dimanaj jangan sampai berbenturan, tetapi harus serasi kepada satu titik. Saling menguatkan, saling melengkapi, dan ini menjadi bagian dari upaya untuk menguatkan tadi.

Jika ada kelemahan, penurunan semangat, dan lain sebagainya, berkonsultasilah kepada yang ahlinya. Tanya kenapa semangat kita turun, kenapa semangat kita melemah? maka nanti akan ada jalan keluar. Semangat dan harapan ini tidak hanya sekadar menjadi harapan namun akhirnya menjadi kenyataan dengan terus menerus semangat di dalam hati, di dalam jiwa dan di dalam kalbu “man jadda wajada” siapa yang giat pasti akan dapat, siapa yang memohon maka akan dikabulkan, siapa yang berikhtiar maka akan mendapatkan. Tahniah!

*Tulisan di atas merupakan renungan ngaji kehidupan bertajuk “Mutiara Hati” yang disampaikan oleh K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Ilustrasi: https://media.istockphoto.com/id/1169704350/id/vektor