IMG-20221010-WA0064 (1)

Dari Kesederhanaan Menuju Keberkahan : Perjalanan Hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.

(K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. memberikan potongan tumpeng Miladnya kepada Gus Anjaha Naufal Muhammad, S.Sos., 16/08)

Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.

Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.

Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.

Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.

Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu

Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.

Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.

Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.

Menghormati Orang Tua dan Guru

Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.

Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.

Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.

Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta

Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.

Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.

Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.

Dari Anak Desa Menjadi Profesor

Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.

Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.

Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)

d62a9adf-834a-4766-9ca5-ecb65be45ae7

K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. Jalin Kerjasama dengan KRIRK University Bangkok, Thailand

AnnajahNews – Jajaran Pimpinan Pascasarjana Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto lakukan kunjungan untuk jalin kerjasama dengan KRIRK University di Bangkok, Thailand.

baca juga https://pesmaannajah.com/k-h-prof-dr-mohammad-roqib-kembali-dikukuhkan-sebagai-ketua-fkub-banyumas-masa-bakti-2024-2029/

Dalam kunjungan yang berlangsung selama 3 hari (9-11 Oktober 2024) ini, Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag. selaku Direktur Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto, beserta Wakil Direktur (Dr. Attabik, M.Ag.), Kaprodi S3 Studi Islam (Prof. Dr. Rohmat, M.Ag., M.Pd.) dan Kasubag TU (H. Zaeni Isma’il, M.A.), turut serta juga Direktur International Office UIN Saizu Purwokerto (Dr. Mohamad Shobirin, S.Th.I., M.Hum.) melangsungkan kunjungan Internasional guna menjalin kerjasama dengan pihak KRIRK University Bangkok, Thailand.

https://pps.uinsaizu.ac.id/ https://www.krirk.ac.th/en/

Menurut K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., maksud dan tujuan kunjungan ini adalah untuk menjajaki kemungkinan terjalinnya kerjasama Internasional, serta untuk menyelenggarakan perkuliahan oleh tamu (Guest Lecture) antar kedua Institusi.

Diharapkan dengan hubungan kerjasama Internasional ini mampu membuka peluang kolaborasi dalam berbagai bidang akademik, baik dalam bidang penelitian, Guest Lecture, Visiting Scholar, maupun Student Exchange yang mampu meningkatkan mutu akademisi Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto.

Selain untuk memperkuat jejaring internasional, kegiatan kunjungan internasional ini juga membuka peluang diskusi guna pengembangan progam studi, peningkatan kapasitas dosen, serta pengembangan penelitian bersama yang akan memberikan dampak positif bagi pengembangan akademik UIN Saizu di masa yang akan datang.

“Kunjungan kerjasama ini kami harapkan dapat meningkatkan mutu akademik Pascasarjana UIN Saizu dan membangun kerjasama yang baik dengan KRIRK University.” ungkapnya.

Harapan besar dimiliki oleh Jajaran Pimpinan Pascasarjana UIN Saizu Purwokerto dengan rasa optimis tinggi bahwa kerjasama ini akan terjalin, yang mana ini merupakan langkah konkret Pascasarjana UIN Saizu untuk menobatkan diri sebagai Institusi Pendidikan Tinggi yang berwawasan global dan mampu mengembangkan diri menjadi kampus yang Unggul, Progesif serta Integratif dalam Pengembangan Multidisiplin Ilmu dalam kancah Internasional.

open-book-generate-ai_893737-2331

Menuntut Ilmu Tak Kenal Usia

Oleh: Dovianti Ainurohmah

Hari itu, Rabu, tanggal 26 Juni 2024, adalah hari yang tak terlupakan bagi saya. Saya berdiri di depan gerbang Pondok Pesantren An Najah Purwokerto, merasa gugup sekaligus bersemangat. Sebagai mahasiswa semester akhir di Universitas Islam Negeri Prof. K.H Saifuddin Zuhri Purwokerto, saya tak pernah menyangka bahwa saya akan memilih jalan ini—jalan yang membawa saya ke pesantren di usia 21 tahun.

Langit cerah sore itu seakan menyambut saya dengan senyum. Saya menarik napas dalam, berusaha mengumpulkan keberanian. Meninggalkan kenyamanan rumah untuk tinggal di pesantren adalah keputusan besar, terutama di usia yang lebih dewasa dibandingkan santri-santri lain yang kebanyakan masih remaja. Tetapi, saya yakin ini adalah pilihan terbaik untuk masa depan saya. An Najah bukan hanya sebuah pesantren; tempat ini adalah lahan subur bagi tumbuhnya ilmu dan karakter, persis seperti yang dikatakan Abah, pengasuh pondok pesantren: “Pesantren kita harus selalu bersih sebersih hotel.” Kalimat itu bukan sekadar aturan kebersihan; bagi saya, itu adalah simbol disiplin dan tanggung jawab. Di sini, saya belajar bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari iman, seolah-olah merawat pesantren seperti merawat hati dan jiwa sendiri.

Hari pertama di An Najah, saya dihadapkan pada rutinitas baru yang begitu padat. Dari subuh hingga malam, ada saja aktivitas yang mengisi hari-hari saya. Mulai dari pengajian, hafalan Al-Quran, hingga tugas menjaga kebersihan pondok. Tak jarang, saya harus menyesuaikan diri dengan santri-santri yang jauh lebih muda. Awalnya, saya merasa kikuk, seperti kakak tertua di antara mereka, tetapi lambat laun, saya merasa hangat dengan kehadiran mereka.

Waktu berlalu cepat, pada tanggal 8 Juli – 19 Agustus 2024 saat saya harus menjalani program KKN. Sehari setelah KKN berakhir, saya kembali ke pesantren. Pada tanggal 21 Agustus 2024, saya berdiri di depan gerbang An Najah, kali ini dengan rasa yang berbeda. Perasaan canggung yang dulu ada kini tergantikan dengan rasa nyaman. Saya tahu, ini adalah tempat yang tepat bagi saya untuk melanjutkan pencarian ilmu.

Kembali ke rutinitas pondok, saya menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana. Dari sekadar mendengarkan nasihat bijak dari Abah, hingga menghabiskan waktu belajar bersama santri lain. Setiap hari, saya merasa semakin dekat dengan tujuan hidup saya. Di An Najah, saya belajar bahwa menuntut ilmu tak mengenal usia. Saya belajar berbaur dengan teman-teman yang lebih muda, menemukan kebahagiaan dalam perbedaan, dan menemukan bahwa ilmu tak hanya diperoleh dari buku, tetapi juga dari pengalaman hidup sehari-hari.

Hari-hari berlalu, saya makin mantap dengan keputusan ini. Saya menyadari bahwa menjadi santri bukan hanya tentang belajar agama atau ilmu pengetahuan, tetapi juga tentang menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang peduli dengan lingkungan sekitar, manusia yang mampu merawat kebersihan, tidak hanya di luar tapi juga di dalam hati.

Di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, saya tetap berusaha untuk istiqomah. Semoga perjalanan ini tak hanya menjadikan saya lebih bijaksana, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Bahwa tak pernah ada kata terlambat untuk belajar, karena menuntut ilmu adalah perjalanan seumur hidup.

*Naskah tersebut merupakan naskah juara dua hasil lomba kepenulisan dengan tema “Senangnya menjadi Santri An Najah” yang diselenggarakan oleh Panitia OPKIS 2024 Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.

ilustration: open-book-generate-ai_893737-2331.jpg (626×351) (freepik.com)

Youth Interfaith Camp Ajak Kaum Muda Perkuat Kebhinekaan

AnnajahNews – Program pengabdian kepada masyarakat Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman menggelar pertemuan pemuda lintas iman dalam Youth Interfaith Camp (YIC).

Agenda kemah pemuda lintas iman ini diikuti 40 peserta sebagai sarana edukasi tentang inklusivitas keberagamaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang di gelar di Gudel Camp Area, Karangsalam, Baturraden, 10-11 Agustus 2024.

Ketua Pengabdi, Ulul Huda menyampaikan pertemuan pemuda lintas iman membekali generasi muda usia pelajar dan mahasiswa dengan konsepsi harmoni keberagamaan dan literasi kebhinekaan.

Para peserta diajak untuk menulis esai dan mendialogkan pengalaman keberagamaan dalam kehidupan.

“Peserta mendapatkan pengalaman interaksi sosial kehidupan secara langsung dengan pemeluk agama lain dalam satu tenda dan satu kelompok.
Pengalaman ini sekaligus diperkuat dengan menulis esai dan dialog keberagamaan yang mendeskripsikan perlunya saling mengenal dan toleran antar golongan,” terang Dosen Fakultas Ilmu Budaya Unsoed itu, Minggu 11 Agustus 2024.

Koordinator fasilitator, Musmuallim menjelaskan kegiatan ini bagian dari kerjasama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto dan Forum Persaudaraan Lintas Iman (FORSA) Banyumas yang akan ditindaklanjuti dengan penyusunan buku antologi esai literasi kebhinekaan yang ditulis peserta.

Menurutnya, melalui materi literasi digital mengajak peserta untuk memahami platform digital untuk mengkampanyekan kebhinekaan di media sosial.

Selain itu, program tanam pohon menjadi aksi kampanye keragaman untuk membangun kepedulian di bidang lingkungan hidup.

“Ajaran agama dimanifestasikan dalam kampanye kepedulian lingkungan untuk memperkuat ekosistem kehidupan hayati.

Sementara platform digital digunakan untuk menarasikan keragaman di ruang publik melalui media sosial,” ujar Ketua FORSA Banyumas tersebut.***