perjalanan-hidup-848x490-5a8d3fba65334

Syiar Jumat #2: “Bersyukur di Atas Musibah”

Oleh: K. H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.

Sebagaimana disebutkan bahwa nikmat itu ada di semua waktu dan tempat. Bersyukur juga harus terus menerus dikukuhkan dalam hati di berbagai situasi dan kondisi, sebab di balik semua yang terjadi ada rahasia hikmah yang membutuhkan waktu untuk diketahui atau dipahami yang bersangkutan atau oleh generasi berikutnya.

Semisal orang pijat, yang ditekan terasa sakit di situlah posisi rahasianya. Nyeri dan perih yang dirasakan adalah bagian konsekwensi dari proses penyembuhan. Sesuai dengan jalur urat syaraf, rasa tidak nyaman itu dirasakan bahkan oleh sekujur tubuhnya. Bertahan, tidak putus asa untuk terus berproses merupakan bagian dari teknik penyembuhan yang harus dilalui oleh seseorang.

Pemahaman substantif terhadap liku-liku kehidupan ini mungkin masih tertutup bagi kebanyakan dan terbuka untuk orang yang bijak dan mengenal Allah dengan baik. Ketenangan dalam merespon fenomena apa yang terjadi tetapi tetap tanggap dan merespon cepat secara spiritual merupakan indikator kedekatannya pada Yang Maha Bijaksana. Respon spiritual secara bijak ini bisa jadi direspon ragam oleh orang di sekitarnya bahkan dimaknai konyol oleh yang lain.

Musibah biasanya dimaknai sebagai kejadian yang tidak menyenangkan atau tidak diharapkan. Jika pemaknaannya seperti ini berarti ada tumpukan dan rentetan musibah yang terjadi setiap hari, karena nafsu dan harapan setiap individu itu amat beragam dan kemampuannya sangat terbatas. Ada juga yang memaknai musibah sebagai kecelakaan atau kejadian yang menyayat hati dan fisiknya. Nasihat yang umum disampaikan kepadanya adalah “sabar” sementara untuk yang pertama karena sering dianggapnya biasa.

Menganggap suatu kejadian sebagai “yang biasa” dan logis saja merupakan media resiliensi ampuh bagi setiap orang untuk dapat tahan dalam menghadapi atau menerima musibah. Biasa atau bisa saja Allah menguji atau menggoda karena mencintai hamba-Nya. Biasa setiap proses kenaikan tingkat ada ujiannya. Biasa dalam perjalanan ada gangguannya. Biasa dalam mengambil kebijakan ada yang tidak bisa menerimanya. Meskipun demikian, gerak dinamis harus terus berjalan dengan berbagai konsekuensinya. Lebih menghadapi kendala bahkan musibah dari pada berdiam diri atau pasif tidak melakukan apapun untuk menghindari dari musibah.

Di balik musibah itu Allah menyelipkan anugerah baik keilmuan, pengalaman, kedewasaan, kemudahan, dan bahkan ketinggian martabat masa depan.

Terkadang musibah menimbulkan trauma berkepanjangan bagi siapa pun yang belum sadar akan sisi positif dan manfaat musibah dalam kehidupan. Untuk itu maknai saja musibah ini sebagai nyanyian kehidupan yang merdu yang terkadang terdengar fales. Maknai saja, Tuhan hendak menggoda kekasih-Nya atau menguji kesetiaan pada-Nya.

Yakinlah bagi kita bahwa semua yang terjadi adalah kehendak-Nya dan kita berkewajiban untuk menerima dengan tulus disertai ikhtiar sosial, material, intelektual, dan spiritual. Wallahu a’lam bisshawab…

 

Jum’at, 26 Rabi’ul Awal 1447 H

(Gambar Ilustrasi: https://static.limawaktu.id)

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *