IMG_20250918_222920

Santri Pesma An Najah Dalami Moderasi Beragama dalam Perspektif Global: dari Jepang, Tiongkok, Australia hingga Inggris

AnnajahNews – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Dialog Keberagaman dengan tema “Strategi Penguatan Moderasi Beragama di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.” Kegiatan yang dipimpin oleh Ulul Huda, S.Pd.I., M.Si. ini berlangsung pada Kamis malam, 18 September 2025, di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto.

Dialog menghadirkan empat narasumber, yakni Roy Andreas, Ph.D., Haryadi, Ph.D., Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS., dan Dr. Ir. V. Prihananto.

(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)
(Pemaparan materi oleh Bpk. Roy Andreas, P.hd)

 

Dalam pemaparannya, Roy Andreas, Ph.D. berbagi pengalaman keberagamaan di Jepang dan Tiongkok. Ia menjelaskan bahwa umat Islam di Jepang meski kecil jumlahnya, tumbuh dinamis melalui komunitas mahasiswa, pusat studi Islam, dan keberadaan Islamic Center yang menjadi pusat ibadah sekaligus ruang silaturahmi lintas budaya. Di Tiongkok, selain tradisi Islam Tionghoa yang khas, sejumlah Islamic Center juga menjadi simbol keberadaan umat Islam, meskipun dalam praktiknya tetap menghadapi dinamika regulasi negara. Menurutnya, pengalaman ini menunjukkan pentingnya Islamic Center sebagai pusat moderasi, tempat umat Islam berdialog dengan masyarakat luas, membangun toleransi, sekaligus menjaga identitas keagamaan.

Sementara itu, Haryadi, P.hd., mengulas potret keberagamaan di Australia dan Inggris (London). Ia menuturkan, meski umat Islam merupakan minoritas, mereka mendapat ruang cukup baik untuk mengekspresikan identitas keagamaan, termasuk melalui masjid dan organisasi komunitas. Kerukunan dapat terjaga berkat regulasi negara yang inklusif serta kultur dialogis yang terbuka.

(Bpk. Haryadi, P.hd., saat menyampaikan materi)

Adapun Prof. Dr. Ir. Suwarto, MS. memberikan motivasi dan tips kepada santri agar progresif dan sukses. Ia juga menekankan bahwa moderasi beragama harus berjalan seiring dengan etos kerja keras, keterbukaan berpikir, dan inovasi. “Santri yang moderat tidak boleh pasif. Justru harus progresif, siap bersaing, dan membawa nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dalam setiap kiprah akademik maupun sosial,” tegasnya.

Dr. Ir. V. Prihananto menambahkan, moderasi beragama perlu diintegrasikan ke dalam pendidikan dan aktivitas sosial pesantren agar menjadi sikap hidup yang nyata dalam keseharian santri.

Acara ini turut dihadiri oleh K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., Pengasuh Pesma An Najah sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas. Beliau menyambut baik program pengabdian UNSOED dan memperkenalkan Pesma An Najah sebagai pesantren mahasiswa yang mengintegrasikan religiusitas, kebangsaan, dan kepedulian sosial.

“Pesma An Najah adalah ruang pembentukan karakter. Santri dibekali wawasan keagamaan sekaligus keterampilan sosial agar mampu menjadi kader bangsa yang toleran, moderat, dan berwawasan global. Kehadiran UNSOED melalui program pengabdian ini menjadi penguat bagi visi tersebut,” ungkapnya.

(Foto tim pengabdian LPPM Unsoed bersama Pengasuh dan Santri Pesma An Najah)

 

Dialog yang diikuti seluruh santri Pesma An Najah berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Melalui kegiatan ini, UNSOED menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan moderasi beragama, sekaligus memperkokoh harmoni sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk.(IS)

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *