Liburan kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas, termasuk dari aktivitas belajar. Namun, Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto justru memberi makna lain: liburan adalah ruang untuk menumbuhkan diri. Semangat inilah yang mewarnai pembukaan Studi Islam Intensif Liburan dan Pekan Olahraga Seni Santri (SIIL & POSS) ke-20, yang digelar pada Kamis malam, 2 Januari 2026, di Masjid lantai 3 Pesma An Najah.
Mengusung tema “Semarak Liburan Santri, Mengaji, dan Menginspirasi”, SIIL & POSS menjadi ikhtiar pesantren dalam menghadirkan liburan yang bernilai. Di tengah hiruk-pikuk pengumuman duniawi yang kerap menjanjikan kesuksesan instan, agenda ini justru menawarkan jalan keilmuan: kajian kitab kuning, kajian tematik, serta perlombaan yang diikuti seluruh santri sebagai sarana belajar, berlatih, dan bertumbuh.
Acara yang dimulai pukul 20.30 WIB berlangsung khidmat. Dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari ketua panitia, lurah pesantren, dan direktur Madrasah Diniyah. Puncak refleksi tersaji dalam Mau‘idhah Hasanah yang disampaikan oleh Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., sebelum ditutup dengan lantunan shalawat oleh Luthfunnajah.
Dalam mau‘idhahnya, beliau menegaskan bahwa mencari ilmu tidak mengenal kata libur. Bahkan, proses belajar telah dimulai jauh sebelum manusia lahir. Dalam perspektif Islam, pendidikan bersifat pranatal—sejak ruh ditiupkan ke dalam janin pada usia empat bulan, pendengaran menjadi indera pertama yang dibuka. Artinya, belajar adalah proses seumur hidup (long life education), dari kandungan hingga akhir hayat.
Beliau juga mengingatkan bahwa banyak orang ingin sukses, tetapi tidak semua bersedia menempuh jalan kesuksesan. Sukses tidak hadir dengan menunggu, melainkan diikhtiarkan melalui strategi, mekanisme, dan prosedur yang benar. Dalam konteks seorang murid, kunci utamanya adalah irādah—kemauan yang kuat—dan ṭalabah, kesungguhan dalam mencari ilmu. Ciri orang yang berpotensi sukses, lanjut beliau, dapat dilihat dari sejauh mana ia merespons stimulus kehidupan secara total, menjadikan setiap simbol kehidupan sebagai pelajaran, dan tidak pernah merasa “selesai” dalam belajar.
Namun ikhtiar tidak berdiri sendiri. Ada mekanisme spiritual yang menyertainya, yakni doa. Perpaduan antara usaha yang sungguh-sungguh dan ketergantungan kepada Allah menjadi fondasi penting dalam proses meraih keberhasilan.
Melalui SIIL & POSS ke-20, Pesantren Mahasiswa An Najah tidak hanya mengisi liburan santri dengan kegiatan, tetapi juga menanamkan kesadaran: bahwa belajar adalah jalan panjang yang harus ditempuh dengan kesungguhan, konsistensi, dan spiritualitas. Sebab yang terpenting dari seorang murid bukan sekadar capaian, melainkan kemauan untuk terus belajar dan bertumbuh. (Sofi Amelia/Ketua Komunitas Pondok Pena)
Leave A Comment