Wanita berhijab dengan buku bercahaya (1)

Menebar Cahaya Ilmu: Perjalanan Mahasantri Menuju Puncak Pendidikan

Oleh: Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Sebagai seorang Mahasantri, aku menyadari bahwa Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kesempatan. Aku memilih untuk terus belajar, tidak hanya untuk diriku sendiri, tapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan bangsa. Aku terinspirasi oleh Abah Roqib, Pengasuh Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, yang selalu menekankan pentingnya “Sinau Terus Sundul Langit”, tiada hari tanpa tambah Ilmu, belajar tanpa henti hingga mencapai puncak Ilmu.

Pendidikan adalah sarana dimana manusia belajar bagaimana menjalani hidup. Secara teoritis,  pendidikan  diartikan  sebagai  usaha  sadar  yang  dilakukan  oleh  keluarga, masyarakat,  dan  pemerintah  melalui  kegiatan  bimbingan,  pengajaran,  dan  pelatihan. Kegiatan tersebut berlangsung di lembaga formal, informal, dan nonformal dan berlanjut sepanjang hidup seseorang. Tujuan pendidikan adalah mempersiapkan individu-individu yang  cerdas  secara  intelektual,  emosional,  dan  spiritual  (IQ,  EQ,  dan  SQ)  agar  mampu mengaplikasikan ilmu  yang diperolehnya  dalam berbagai  lini kehidupan  secara dinamis untuk masa depan.

Tahukah kamu?, berdasarkan penelitian genetika, menunjukan bahwa kecerdasan anak lebih dipengaruhi oleh gen yang diturunkan dari Ibu. Hal ini karena kromosom X yang berperan penting dalam fungsi otak dimiliki dua buah pada Perempuan, sehingga kemungkinan menurunkan gen yang memengaruhi IQ lebih besar dari pihak ibu dibandingkan ayah, kecerdasan turun temurun sekitar 40%-60% sisanya bisa dari faktor eksternal seperti lingkungan, Pendidikan, kasih sayang dan lain sebagainya.

Seorang Perempuan yang berpendidikan akan dapat membesarkan generasi yang berpendidikan dalam rumah tangganya karena ia akan menjadi guru pertama bagi anak-anaknya. Cara seorang Ibu dalam memberikan pendidikan pertama bagi anak-anaknya akan memiliki dampak yang signifikan terhadap apakah anak-anaknya akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan sukses.

Ketika seorang Perempuan memilih untuk terus belajar, sejatinya ia sedang menanam benih yang tak hanya tumbuh untuk dirinya sendiri. Ia sedang mempersiapkan masa depan, membangun fondasi kecerdasan yang kelak hidup dan berdenyut dalam diri anak-anaknya. Sebab dari Rahim seorang Ibu, bukan hanya kehidupan yang lahir, tetapi juga cara berpikir, cara memandang dunia, dan keberanian untuk bermimpi.

Perempuan yang mencintai Ilmu sedang menciptakan generasi yang kuat akal dan jiwanya. Pengetahuannya akan menjadi doa yang diam-diam bekerja, sikap belajarnya akan menjadi teladan yang tertanam tanpa paksaan. Anak-anak yang tumbuh di dekat Perempuan pembelajar akan belajar bahwa hidup bukan sekadar menjalani, tetapi memahami, bertanya dan terus berkembang.

Jika kecerdasan anak berasal dari ibunya, maka perjuangan Perempuan hari ini bukanlah hal kecil. Perempuan yang terus bertumbuh bukan hanya sedang menyelamatkan dirinya, tapi juga sedang membangun fondasi bagi generasi yang lebih cerdas, lebih kuat, dan lebih penuh cinta. Setiap ilmu yang dipelajari, setiap air mata yang berhasil dikuatkan, adalah warisan tak terlihat untuk masa depan. Karena di balik Perempuan yang terus belajar, ada dunia yang sedang ia bentuk perlahan, dalam diam, tanpa banyak pengakuan. Dan mungkin hari ini terlihat biasa saja, hanya seorang Perempuan yang sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Padahal sesungguhnya, ia sedang menulis arah masa depan dengan pikirannya, dengan kekuatannya, dengan segala hal yang ia pilih untuk tidak menyerah. Karena satu perempuan yang bertumbuh, tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga arah dunia yang akan datang.

Kita semua selamanya adalah seorang pembelajar. Karena, hanya dengan Ilmu semua persoalan yang terjadi bisa diselesaikan. Pada akhirnya, puncak dari ilmu bukanlah kekaguman orang lain, melainkan ketundukan yang tenang. Belajar menunduk, bukan hanya dengan tubuh, tapi dengan batin yang sadar bahwa semua ini titipan. Dari banyaknya jenis warisan, warisan paling mahal dan satu-satunya warisan yang tidak akan diperebutkan adalah Pendidikan. Mari terus belajar, terus tumbuh, dan menerangi dunia dengan Ilmu.

Tentang Penulis

Nisrina Tuhfatul Azizah, M.E.

Nisrina Tuhfatul Azizah adalah seorang santri di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto. Saat ini ia sedang menempuh Studi Doktoral jurusan Studi Islam di Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, dengan konsentrasi pada Ekonomi Islam. Sebelumnya, ia menyelesaikan Pendidikan S-1 pada Program Studi Ekonomi Syariah dan S-2 Program Studi Magister Ekonomi Syariah di almamater yang sama. Selain menjadi seorang akademisi, Nisrina juga mulai aktif di dunia literasi dan kepenulisan. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @nisrina_azizahh.

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *