Oleh: K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.
Saat memasuki Masjidil Haram, sering kita temui jamaah haji maupun umrah yang memilih shalat di halaman masjid, bahkan di area yang cukup jauh dari bangunan utama, imam, maupun Ka’bah. Hal ini menimbulkan pertanyaan: mengapa mereka memilih tempat sejauh itu, padahal waktu dan ruang di area depan masih tersedia?
Pengalaman kami bertiga, saya, Ustadz Halim, dan Gus Nailul Muna — menunjukkan bahwa masih banyak ruang kosong di dekat Ka’bah, bahkan di area Mathaf atas. Memang, di sana tidak disediakan karpet tebal yang membuat duduk terasa lebih nyaman. Namun, tampaknya kenyamanan inilah yang justru mereka cari dan temukan di tempat yang jauh itu.
Fenomena ini menunjukkan kecenderungan sebagian umat untuk lebih memilih kenyamanan daripada keutamaan. Hal yang sama juga sering kita temui di berbagai tempat. Saat shalat berjamaah, banyak yang tidak segera mengambil shaf terdepan di dekat imam. Saat mengaji, tidak sedikit yang enggan mendekat ke hadapan kiai. Begitu pula di ruang kuliah, sebagian mahasiswa memilih duduk di barisan belakang, padahal di depan mereka dapat lebih mudah berdialog dan mengklarifikasi penjelasan dosen.
Kebiasaan menjauh dari yang lebih utama tampaknya menjadi pekerjaan rumah panjang bagi umat Islam di mana pun berada. Padahal, kesediaan untuk mendekat kepada yang lebih utama merupakan langkah penting menuju kemuliaan.
Keberanian untuk menempuh jalan menuju yang lebih baik akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Keteguhan untuk mendekati orang yang lebih alim akan mengantarkan kita menjadi lebih berilmu. Demikian seterusnya, karena setiap langkah menuju yang utama adalah langkah menuju peningkatan diri.
Marilah kita membiasakan diri untuk senantiasa mendekati yang lebih utama, mengikuti yang lebih ideal, dan menjalankan yang lebih mulia. Dengan demikian, kita akan terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih berkualitas, bermanfaat, dan bahagia.
Strategi taqarrub — mendekat kepada yang lebih baik dan utama — adalah jalan peningkatan yang tiada henti.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
Masjidil Haram, Makkah, 11 Rabiul Akhir 1447 H
Leave A Comment