Kisah hidup K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang dituturkan langsung oleh beliau kepada para santri pada momen miladnya yang ke-57 Tahun, pada tanggal 16 Agustus 2025, sekaligus bertepatan dengan acara refleksi kemerdekaan RI, adalah kisah penuh inspirasi. Dalam suasana khidmat tersebut, beliau berbagi perjalanan hidupnya dari masa kecil di desa yang sederhana hingga mencapai derajat sebagai kiai, rektor dan profesor.
Bukan untuk berbangga diri, melainkan untuk menanamkan semangat juang kepada para santri: bahwa kesederhanaan bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta doa dan ridha orang tua dan guru adalah kunci keberkahan hidup.
Apa yang beliau kisahkan menjadi teladan nyata, bahwa dari keterbatasan justru lahir kekuatan, dan dari kesungguhan menuntut ilmu lahirlah kemuliaan.
Sekilas tentang Kelahiran dan Masa Kecil K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag.
K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., lahir pada waktu subuh di bulan Ramadhan. Proses kelahirannya dibantu oleh seorang dukun bayi bernama Ny. Daripah. Sejak kecil, beliau dikenal sebagai anak yang penuh rasa ingin tahu dan memiliki keinginan belajar yang tinggi.
Masa kecilnya diwarnai dengan berbagai pengalaman sederhana namun sarat makna. Ketika melihat anak-anak bermain sepak bola, beliau ingin menjadi pemain sepak bola. Seusai menonton film laga, keesokan harinya ia menirukan adegan silat dengan penuh semangat, sampai-sampai berlari dan meloncat-loncat membawa pisau di kebun. Sifatnya yang mudah penasaran menjadikan beliau gemar meniru hal-hal baru yang ditemuinya.
Pendidikan dan Rasa Ingin Tahu
Sifat ingin tahu itu tidak pernah padam, bahkan semakin berkembang seiring bertambahnya usia. Saat menempuh pendidikan tinggi, beliau melihat ada mahasiswa yang fasih berbahasa Inggris. Tanpa ragu, beliau langsung mendaftar kursus bahasa Inggris. Hampir setiap hari diisi dengan membaca berbagai literatur, khususnya karya-karya tokoh besar yang menginspirasi.
Meski demikian, pada masa mudanya beliau tidak pernah membayangkan akan menjadi seorang profesor, rektor, atau bahkan kiai. Hal itu terasa mustahil, mengingat latar belakang pendidikannya yang sangat sederhana. Sekolah yang ditempuhnya kala itu berdinding tembok bolong, jauh dari fasilitas memadai. Kehidupan masa kecilnya pun diwarnai kesederhanaan tidak pernah mengenal konsep “empat sehat lima sempurna”, karena makan apa adanya sudah dianggap cukup.
Namun, justru dari kesederhanaan itulah tumbuh semangat pantang menyerah. Bekal utama beliau bukanlah fasilitas, melainkan rasa ingin tahu, kegigihan, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Menghormati Orang Tua dan Guru
Dalam perjalanan hidupnya, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., selalu menekankan pentingnya berkhidmat kepada orang yang berjasa, terutama orang tua dan guru. Sejak kecil, beliau memang dikenal cukup keras kepala (ngeyelan). Namun, jika mendapat perintah dari orang tua atau guru, beliau akan melaksanakannya dengan penuh hormat.
Beliau sangat dekat dengan ibunya. Bahkan, kisah tentang ibunya sering membuat hatinya tersentuh. Tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti ibunya; jika ada yang berani berlaku kasar, beliau pasti akan membela.
Sejak kecil beliau memang banyak tingkah, namun tetap menjunjung tinggi doa dan restu orang tua serta guru. Kepada santri-santrinya, beliau selalu mengingatkan: “jangan sekali-kali menyakiti hati mereka. Tanpa menyakiti saja, kita belum bisa membalas jasa-jasa mereka, apalagi kalau sampai melukai. Karena itu, wahai santri-santri An Najah, buatlah hati orang tua bangga dan senang dengan dirimu. Orang tua tentu mengimpikan anak yang berprestasi, tetapi prestasi yang paling utama adalah akhlakul karimah”.
Lika-Liku Perjalanan Hidup di Yogyakarta
Saat melanjutkan pendidikan di Yogyakarta, beliau menjalani kehidupan yang penuh perjuangan. Waktunya terbagi antara mondok di pesantren, kuliah di perguruan tinggi, berorganisasi dan bekerja untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Kesibukan itu tidak membuatnya menyerah, justru semakin melatih kedisiplinan dan ketekunan.
Setelah berhasil menyelesaikan studi, beliau diterima sebagai dosen di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tidak lama kemudian, beliau mendapat penugasan mengajar di Purwokerto. Sejak saat itu, perjalanan bolak-balik dengan bus ekonomi dari Purwokerto ke Yogyakarta menjadi rutinitas yang dijalani.
Selama kurang lebih delapan tahun, beliau menempuh perjalanan jauh tersebut dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati. Meski lelah, beliau tidak pernah mengeluh, sebab baginya mengajar adalah amanah dan pengabdian. Pengalaman panjang itu semakin membentuk pribadi beliau yang tangguh, sederhana, dan berkomitmen tinggi pada ilmu dan pendidikan.
Dari Anak Desa Menjadi Profesor
Kini, K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., dikenal sebagai seorang kiai sekaligus sebagai pengasuh utama Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, pernah menjabat sebagai Rektor UIN Saizu Purwokerto, hingga kini telah meraih gelar profesor/guru besar dalam bidang Ilmu Pendidikan di UIN Saizu Purwokerto. Siapa sangka, seorang anak desa yang pernah bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan gedung sederhana dan dinding-dindingnya bolong, mampu menempuh perjalanan panjang hingga mencapai puncak akademik dan spiritual.
Bagi beliau, semua pencapaian itu bukan karena kemewahan atau keistimewaan, melainkan berkat semangat belajar, rasa ingin tahu yang tak pernah padam, serta penghormatan tulus kepada orang tua dan guru. Beliau selalu menegaskan bahwa prestasi tertinggi seorang anak bukan hanya keberhasilan akademik, melainkan akhlakul karimah yang dapat membanggakan hati orang tua.
Di atas semuanya, beliau meyakini bahwa keberhasilan hidupnya tidak lepas dari doa dan ridha orang tua serta guru-gurunya. Itulah sumber keberkahan yang mengantarkan dirinya dari anak desa sederhana menjadi seorang profesor, kiai, dan pemimpin umat. (IS)
Leave A Comment