Oleh: Farraz Azzahy Setiaji
Belakangan ini, isu liar yang menyangkut kampus keagamaan (sebut saja UIN) menjadi perbincangan hangat. perbincangan ini di fokuskan kepada pertanyaan mendasar, apakah lulusan UIN susah untuk mencari kerja? atau bahkan mudah mencari kerja?.
Asumsi tersebut dilatarbelakangi karena jurusan UIN yang semakin banyak dan ‘kurang’ relevan dengan kebutuhan industri sehingga kebanyakan mahasiswa khususnya dalam ranah akhir kesulitan mencari kerja karena jurusan mereka tidak ada dalam list kebutuhan industri tersebut.
Untuk itu, bagaimana kita seorang lulusan UIN membaca atas realitas tersebut? disini penulis akan sedikit membedah secara objektif maupun subjektif supaya perbincangan ini tidak stuck begitu saja.
Kemana sebenarnya arah UIN?
Sebelum masuk ke isu hangat diatas, kita bedah terlebih dahulu dengan pertanyaan mendasar, apa sih yang di pelajari dalam kampus UIN? apakah sebagai penyalur teori industri berkelanjutan atau terfokus pada keagamaan saja?
Pertama, dalam segi keilmuan, UIN tergolong kampus mumpuni yang terfokus pada dunia studi Islam, mengingat kompleksitas Islam yang sangat luas maka diperlukan ketajaman berpikir dan memecahkan masalah pada masyarakat awam. posisi UIN disini menjadi penting, mengapa penting? disatu sisi untuk melestarikan keilmuan Islam, disatu sisi yang lain berfokus terhadap pemecahan masalah dalam bidang agama yang tergolong rumit.
contoh, masyarakat kesulitan untuk memahami kandungan Al-Quran, disini UIN khususnya prodi tafsir menjawab kesulitan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami serta mengarahkan masyarakat supaya tidak salah tafsir. hal ini lah yang menjadi pembeda antara UIN dan kampus yang lain.
Kedua, jika dibandingkan dengan PTN jelas berbeda arah keilmuan, setiap kampus pasti memiliki alasan dibukanya jurusan tertentu sesuai dengan kebutuhan masyarakat. apakah UIN penyalur industri? jawabannya mungkin iya, (untuk saat sekarang) karena kurun waktu perkembangan UIN tidak hanya dilihat dari agamanya saja, melainkan dapat mengintegrasikan ilmu yang lain seperti, sosial-humaniora, informatika, Ilmu sains (kimia, fisika, biologi, matematika) mulai bermunculan. integrasi tersebut lah yang menjadikan alasan UIN ‘mampu’ menjawab kebutuhan industri masa kini.
Lalu, apakah stigma ‘sulit mencari kerja’ terus menempel pada kampus UIN?
apabila dilihat dari segi objektif, banyak juga lulusan PTN maupun PTKIN yang sama-sama sulit mencari kerja. penulis melakukan wawancara sederhana terhadap salah satu aktivis-akademis dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, ia memberikan pernyataan terkait isu ini meliputi;
kemungkinan pertama, asumsi diatas tepat, secara objektif, bukan hanya lulusan UIN, namun kampus umum yang memiliki segudang prestasi dan ‘nama’ baik di Indonesia juga tidak bisa menjamin. Hal ini di pengaruhi oleh kesiapan mahasiswa terhadap dunia kerja. Semakin sering berlatih dan mencari peluang, tidak menutup kemungkinan bahwa setiap mahasiswa ntah dari kampus terbaik maupun biasa saja, juga mampu berkecimpung di dunia kerja.
kemungkinan kedua, asumsi diatas kurang tepat, setiap kampus memiliki kegelisahan akademik sendiri, memiliki kekhasan masing-masing. Kampus UIN cenderung melakukan pemecahan masalah dari sudut pandang agama, sedangkan kampus umum cenderung kepada pemecahan masalah secara sosial, sains dan humaniora.
Setiap kampus juga mengikuti perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan masyarakat serta dimensi industri dengan mengintegrasikan keilmuan sesuai dengan prinsip Tri Dharma Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, kembali lagi kepada diri mahasiswa, siap untuk menerima perkembangan tersebut atau justru stuck terhadap dinamisnya dunia.
Bagaimana solusinya?
Mungkin solusi ini tidak bisa memberikan sesuatu yang konkrit, namun saran ini mungkin bisa diterima oleh beberapa mahasiswa terutama kecemasan-kecemasan kesulitan mencari kerja.
Pertama, tentukan arah yang jelas, hal ini penting sebagai pondasi utama dalam belajar di dunia perkuliahan. Kebanyakan mahasiswa masuk terhadap jurusan tersebut masih seringkali kebingungan menentukan arah sehingga menyesal di kemudian hari.
Kedua, asah soft skill sejak masuk kampus. Kampus adalah ladang yang sangat luas dan peluang yang sangat banyak. Sangat disayangkan ketika mahasiswa diberikan privilege untuk masuk dalam dunia perkuliahan tidak bisa memanfaatkan hal tersebut.
Ketiga, menghidari kecemasan berlebihan. Kebanyakan mahasiswa tidak siap untuk bekerja faktor utama adalah rasa ‘cemas’ padahal untuk mendapatkan pekerjaan harus disiapkan, dicoba secara berkala serta selalu melihat peluang yang tersedia.
Dengan solusi diatas, jika diterapkan mungkin stigma mahasiswa UIN ‘sulit’ cari kerja hanyalah sebatas asumsi belaka, tidak salah kampus memiliki banyak jurusan, semua tergantung diri seorang mahasiswa, apakah siap kita sebagai lulusan UIN untuk bekerja? Atau kita terus menyalahkan keadaan, padahal yang menjadi masalah utama adalah kemalasan kita dalam mencari peluang di kampus UIN yang besar.
Akhir kata, semoga dengan tulisan ini, penulis berharap kepada pembaca dapat merefleksikan diri, asumsi judul diatas mungkin hanya sebatas ‘angin’ belaka. Kita diberi privilege lebih dan dimanfaatkan secara baik dan bijaksana.
Daftar Pustaka
Artikel; https://uinbanten.ac.id/stigma-atau-realita-menimbang-posisi-lulusan-uin-iain-di-dunia-kerja/
Wawancara dengan salah satu aktivis-akademis UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Artikel: https://id.quora.com/Apakah-lulusan-prodi-umum-di-UIN-susah-dapet-kerja
Tentang Penulis
Farraz Azzahy Setiaji adalah seorang mahasiswa prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam perjalanan intelektual, menekuni pada bidang studi islam dan hermeneutika Al-Qur’an. Pernah menjuarai kompetisi ilmiah nasional mahasiswa ushuludin (KINMU 2025) dan perlombaan artikel lainnya. Penulis dapat dihubungi via, Email: farrazazzahyy@gmail.com , Telp. 085226271268.
Leave A Comment