Oleh : Putri Azkiya
Suasana Masjid Pesma An Najah Purwokerto malam itu, Kamis 18 Juni 2026, terasa begitu sejuk dan hening. Getaran do’a setelah istighosah dan tahlil masih menyisakan kekhidmatan di hati kami para santri. Di depan kami, seseorang yang berwibawa, berilmu dan sangat kami takdzimi, beliau K.H. Prof. Dr. Mohammad Roqib, M.Ag., yang akrab kami sapa Abah, mulai memberi nasihat kepada para santri.
Bukan sekadar teori, Abah menyampaikan nasihat-nasihatnya melalui cerita perjalanan hidup beliau yang nyata dan inspiratif. Sesekali, suasana yang serius pecah oleh gurauan khas beliau yang mengundang tawa namun tetap santun-membuat nasihat yang disampaikan terasa begitu dekat dengan keseharian kami. Malam itu, Abah menekankan tentang “Keberanian dan Tekad yang Kuat”. “ Banyak orang ingin sukses tapi tidak mau menapaki jalan menuju sukses itu sendiri. Kesuksesan tidak datang sendiri, melainkan harus dijemput dengan usaha nyata, konsistensi dan tekad yang kuat. Orang sukses itu tidak takut gagal” begitu pesan beliau.
Salah satu bukti nyata keberanian Abah adalah ketika beliau masih semester satu. Dengan sepeda ontel, beliau menempuh jarak kurang lebih 9 KM berboncengan, menuju UGM demi menghadiri sebuah acara. Abah juga bercerita, kala itu satu-satunya sepeda ontel yang terparkir di UGM adalah milik beliau-karena semua nya sudah memakai motor yang bagus-bagus. Namun, hal itu sama sekali tidak menyurutkan niat dan tekadnya untuk tetap hadir di acara tersebut. Tidak hanya berhenti disitu, keberanian Abah ditunjukan saat MC mempersilahkan salah satu perwakilan tamu undangan untuk menyampaikan sepatah dua patah kata dengan memakai Bahasa Arab. Sela satu menit dua menit tidak ada satupun yang berani maju. Ditengah banyaknya audiens yang rata-rata dari semester 9 dan 11 saling menatap ragu, Abah dengan gagah berani penuh percaya diri maju ke podium untuk menyampaikan pidatonya-meski kala itu beliau masih semester satu. “Tidak ada kesalahan dalam berbicara, yang ada, kesalahan itu saat ujian/diujikan”, begitu kalimat yang disampaikan guru nya sehingga menjadikan beliau berani mencoba untuk berbicara didepan umum dengan lantang dan percaya diri.
Keberanian ini pulalah yang membuat Abah ditawari jabatan di berbagai organisasi sebagai orang pertama-ketua. Namun beliau lebih memilih menolak. Karena beliau sadar akan totalitas “..kalau saya jadi orang pertama (ketua) ada kemungkinan fokus mondok di Krapyak menjadi terganggu. Sedangkan saya bertekad bagaimanapun caranya harus tetap ngaji dan ngabdi di Krapyak sampai lulus. Aktivis boleh, tapi yang penting tidak melupakan ngaji dan mondoknya”. Begitulah prinsip yang dipegang Abah. Tekad untuk lulus sebagai santri yang mumpuni jauh lebih besar daripada sekedar jabatan. Karena bagi Abah sukses bukan hanya soal jabatan, tapi soal amar makruf nahi mungkar, berani menjadi pintar, berani menjadi hebat. Lebih jauh lagi, Abah mengingatkan bahwa keberaniaan kita untuk sukses bukan sekedar untuk diri sendiri, melainkan untuk membahagiakan orang tua. Karena kesuksesan adalah cahaya kebahagiaan bagi orang tua, bahkan bagi mereka yang sudah berada di alam barzah. “Duh senenge Ya Allah anakku dadi wong sukses, berkah bermanfaat”.
Dalam nasihatnya, Abah menekankan berpikir positif. Bahwa segala sesuatu yang diusahakan tidak pernah sia-sia. Beliau memberikan logika yang membesarkan hati: orang yang mencari memiliki dua kemungkinan: yaitu mendapatkan apa yang dia cari dan mendapatkan pengalaman berharga saat proses mencari. Begitupun saat berkompetisi (ikut lomba): jauh lebih baik ikut lomba meski belum menang, daripada menjadi orang yang tidak pernah menang karena tidak pernah ikut lomba. Kedua logika tersebut sama-sama memiliki harapan-peluang untuk mendapatkan, peluang untuk menang. “…setidaknya punya harapan, hidup ngga punya harapan itu untuk apa? Jadilah orang yang berani seperti Abah,” Begitu pesan beliau untuk menyalurkan semangat dan energi positif kepada kami para santrinya. Seraya mengingatkan kami agar selalu memiliki prasangka (umpama) yang positif seperti keyakinan untuk sukses.
Sebagai penguat hati kami dalam berjuang, Abah selalu memberikan penyemangat yang ikonik dan selalu menjadi pegangan kami sebagai santrinya “Tak Kancani Sukses”( Saya temani kalian menuju sukses) adalah sebuah janji tulus seorang guru yang tidak pernah membiarkan santrinya berjuang sendirian dalam meraih kesuksesan.
Menjelang akhir wejangan, suasana masjid kembali membara saat Abah melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membakar semangat dengan suara lantang: “Berani sukses? Berani bangun sebelum subuh? Berani jamaah di baris paling depan? Berani menjaga kebersihan komplek? Berani ikut lomba?”. Kami serentak menjawab “BERANI!!” dengan kompak, menggetarkan ruangan dan semangat di dalam jiwa sebelum akhirnya ditutup dengan doa khas beliau. Setelah iqomah berkumandang dan shalat isya berjamaah usai, kami menutup malam itu dengan bersalaman-santri putra dengan Abah dan santri putri dengan Umi. Dan kami pun pulang ke komplek masing-masing dengan tertib seraya membawa pulang janji hangat yang selalu menguatkan kami: “Tak Kancani Sukses”. Beliau-Abah akan setia menemani perjalanan kami menuju puncak kesuksesan.
Tentang Penulis
Putri Azkiya merupakan mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Selain menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, ia juga tengah menempuh pendidikan non formal di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.
Leave A Comment