ChatGPT Image 18 Jun 2026, 00.34.01

Mencari Diri di Balik Identitas Santri

Oleh: Zarifa Izatul Jannah

Ada momen yang hampir semua santri mahasiswa pernah mengalaminya, meski jarang ada yang mau mengakuinya dengan lantang: berdiri di depan cermin sembari bertanya, ini sebenarnya aku, atau karakter yang sedang aku mainkan?

Pertanyaan itu tidak muncul secara tiba-tiba. Ia datang perlahan, mungkin ketika kamu sedang tertawa lepas di kantin kampus lalu tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang terasa “tidak sesuai”. Atau ketika kamu ingin berpendapat keras dalam diskusi kelas, tetapi ada suara kecil di kepala yang berbisik: santri tidak begitu. Atau ketika kamu pulang ke kamar, duduk sendiri, dan merasa seperti orang yang seharian memakai baju yang ukurannya tidak pas.

Tekanannya nyata. Dan ia datang dari dua arah sekaligus.

Di satu sisi ada bayangan “santri ideal”, sosok yang selalu tenang, lisannya terjaga, prioritas lurus, tidak pernah ragu ataupun goyah. Sosok yang entah dibentuk dari nasihat, ekspektasi keluarga, atau akumulasi tatapan orang-orang sekitar yang seolah-olah terus mengukur *sudah cukup santri kah kamu hari ini?*

Dan di sisi lain, ada dirimu yang sesungguhnya, yang terkadang memiliki rasa malas, kadang ragu, kadang ingin melakukan hal-hal yang “tidak seharusnya?”, kadang bertanya tentang sesuatu yang terasa tabu untuk dipertanyakan. Dirimu yang tidak selalu bisa hidup di dalam cetakan yang disiapkan orang lain.

Dan di antara dua sisi itu, banyak santri memilih jalan yang paling aman. Berpura-pura.

Berpura-pura sudah selesai dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Berpura-pura nyaman. Berpura-pura bahwa santri ideal dan diri sendiri adalah hal yang sama. Padahal jauh di dalam, keduanya masih saling tarik menarik setiap hari.

Yang tidak banyak dibicarakan adalah bahwa ketegangan ini sebenarnya bukan masalah. Ia adalah tanda bahwa kamu sedang bertumbuh.

Identitas tidak datang dalam bentuk jadi. Ia bukan seragam yang tinggal dikenakan, bukan gelar yang cukup disandang, bukan label yang sekedar ditempel.
Identitas adalah sesuatu yang dipahat dari gesekan antara nilai yang diajarkan dan pengalaman yang dialami sendiri, antara siapa yang diharapkan orang dan siapa yang pelan-pelan kamu kenali dalam dirimu sendiri.

Menjadi santri yang autentik bukan berarti harus menjadi yang paling sempurna. Tetapi ia berarti menjadi santri yang jujur dalam segala hal, jujur dalam pergulatan, tentang keraguan, tentang bagian-bagian diri yang sedang berproses.

Dan mungkin, justru di situlah letak keberanian yang sesungguhnya. Bukan pada mereka yang terlihat paling tenang, tetapi pada mereka yang tetap memilih untuk tumbuh meski dari dalam dirinya sedang tidak baik-baik saja.

Tentang Penulis

Zarifa Izatul Jannah merupakan mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Selain menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, ia juga tengah menempuh pendidikan non formal di Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto.

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *