Oleh: Isnaeni Putri Azkiya
“Banyak orang gagal bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena mereka terlalu takut dan ragu untuk memulai satu langkah pertama”.
Perjalanan ribuan mil di dunia ini, semua berawal dari satu langkah, langkah kecil, langkah pertama.Pernahkah kamu merasa dititik dimana jalan pulang pun terasa gelap, bahkan hilang? Kehilangan arah hanya untuk mencari tepat aman besinggah? Aku pernah disana.Saat dimana dunia terasa gelap gulita dan bangkit pun tampak mustahil.Tapi aku belajar satu hal: “kita tidak butuh peta besar untuk keluar dari kegelapan, kita hanya butuh satu langkah, langkah kecil, langkah pertama”.Dititik terendah itu keberhasilanya adalah “cukup bertahan hidup”.Dengan proses yang panjang, jalan yang curam, permukaan yang tak selalu rata, tikungan yang berliku tajam dan semuanya yang terasa gelap gulita ternyata mulai bisa memudar, menempis perlahan karena satu tekad “aku harus melangkah meski hanya satu langkah”.
“Apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan”.kata yang begitu sederhana namun tersirat makna yang mungkin tak cukup mudah untuk sebagian orang mengahadapinya.Dan itu termasuk aku.Menurut kalian kapan masa tersulit yang pernah dialami dalam hidup ini? Apakah saat kalian gagal? Apakah saat kalian merasa tertinggal dengan pencapaian orang lain? Atau apakah saat kalian merasa gagal sebelum gagal? Setiap individu memiliki definitifnya sendiri dalam memaknai masa tersulit dalam hidupnya.Namun definitif yang kupakai adalah “Ketika aku ragu, dan itu meragukan diriku sendiri”.
Banyak ribuan peristiwa yang terjadi dalam hidup ini.Baik itu disekitar kita maupun yang menimpa kehidupan kita.Terkadang peristiwa-peristiwa itu datang tak diundang, terjadi tanpa permisi, terlaksana tanpa rencana, berjalan tanpa persetujuan.Namun semua itu kembali lagi bahwa hakikatnya yang memiliki kendali penuh atas diri kita, keputusan yang dibuat serta langkah yang diambil ya diri kita sendiri. Diri kita yang harus bertanggung jawab dalam menghadapi itu semua.Terima maupun tidak? Pada intinya kita!.Lantas bagiamana jika diri kita sendiri saja meragukan nya? Bagimana dengan orang lain? Disitulah letak kesulitanya.Kesulitan bukan dalam menghadapi besarnya masalah, namun kesulitan dalam menerima diri, memeprcayai diri, serta meyakinkan diri.
Dalam upaya mengambil kendali penuh itu, aku teringat kembali pada salah satu bait Kitab Al-Umrithi ke 17 yang telah kupelajari dulu dipondok pesantren-tentang kekuatan tekad (himmah).Satu bait yang tak panjang, namun makna nya mendalam.
إذِ الْفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ * وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
“Karena kemuliaan kaum muda tergantung tekadnya. Barang siapa tidak mempunyai tekad yang kuat maka akan gagal meraih keberhasilanya”.
Begitulah bait yang hingga saat ini menjadi salah satu prinsip dalam hidupku.Tekad inilah yang menjadi mesin penggerak bagiku; sebuah keyakinan bahwa meski aku tidak tahu apa yang ada di depan, kemauan untuk mencoba, memulai, berusaha dan melangkah adalah kunci awal yang paling sakral.Dan semua itu kembali lagi pada: satu langkah, langkah kecil, langkah pertama.
Ribuan momentum yang telah terjadi dalam kehidupan ini membuatku belajar akan banyak hal; termasuk bagaimana caraku memaknai kehidupan serta bagaimana aku harus menghadapinya.Prinsip hidupku pun mulai berubah.Aku mulai memahami bahwa tidak semua hal di dunia ini layak untuk mendapatkan ruang dipikiranku, perhatian dalam pandanganku serta tempat singgah dalam kehidupanku.Aku belajar dan mulai memahami apa yang dalam kendaliku dan apa yang diluar kendaliku.Karena kebahagian sejati datang dari hal-hal yang bisa kita kendalikan.Baik tidaknya hidup kita hanya bisa dinilai dari hal-hal dibawah kendali kita-begitu kurang lebih intisari yang kudapat setelah membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.
Yang cukup aku pikirkan dan usahakan adalah apa yang bisa aku lakukan hari ini-presepsi, reaksi, dan eksekusiku.Selebihnya, seperti kegagalan dimasa lalu atau ketidakpastian di masa depan, aku serahkan sepenuhnya pada jalanya takdir; pastinya setelah ikhtiar yang kubisa sudah kulakukan sepenuhnya.Kegagalan dan kesalahan masa lalu memang tidak bisa diubah, tidak bisa dihapus. Namun, kita masih bisa memperbaikinya dan itu tanpa harus bergantung pada validasi opini orang lain.Karena sekali lagi, opini orang lain termasuk dalam hal diluar kendali kita.Bagiku fokus pada hal-hal yang memang dalam kendali kita, membuat langkah terasa lebih ringan.Karena aku tidak lagi terbebani untuk “mencapai garis finish secepat mungkin”,tidak pula terbebani dengan statement “bahwa aku harus sempurna dalam presepsi mereka” melainkann cukup konsisten melakukan “satu langkah, langkah kecil, langkah pertama” setiap hari.
Berbekal prinsip tekad yang kuat dan kendali diri inilah yang akhirnya membawaku ke ttitk produktif saat ini.Bisnis yang sedang aku rintis sekarang, meskipun masih dalam skala kecil-kecilan-menjadi distributor, reseller dan sedang mencoba juga menjadi founder-adalah laboratorium tempatku mempraktikan filosofi “satu langkah” tersebut.Aku tidak lagi trauma gagal, tidak lagi ragu memulai, tidak lagi takut mencoba; hal-hal baru yang mungkin belum pernah kucoba dalam hidup ini.Karena bagiku kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, dan itu tandanya aku sedang dalam proses belajar, proses tumbuh dan proses membentuk diri menjadi insan yang lebih baik-terutama menjadi seorang hamba yang baik di hadapan Tuhan nya.
Kalian tau? orang yang masuk ke jurang curam, pilihanya hanya ada dua; mati tenggelam disana atau berusaha naik keluar dari curamnya jurang itu.Mungkin dulu satu langkah ku saat itu hanya untuk bertahan hidup; agar aku tidak tenggelam.Namun sekarang satu langkah itu tak hanya sebagai simbolik bertahan hidup-melainkan untuk melanjutkan hidup mewujudkan mimpi-mimpi, memberi kehidupan yang lebih baik, serta membahagiakan keluarga-terutama kedua orang tuaku.Kini makna satu langkah itu adalah untuk mendaki perbukitan mimpi besar menuju mimpi yang sudah lama kutanam; menjadi seorang pengusaha sukses yang berkah manfaat. Aamiin.
Mungkin bagi sebagian orang melihat bisnisku hanya sebagai produktivitas belaka-atau bahkan hanya mengira sebagai penggugur kewajiban tugas kuliah karena sesuai prodiku-ekonomi syariah.Namun jauh dari semua itu, bagiku setiap peluh dalam bisnis kecil ini adalah langkah awal yang mendekatkanku pada gerbang suci Baitullah-Allahummasoli’ala sayyidina Muhammad. Karena aku sadar sebagai anak bungsu dari dua bersaudara aku adalah harapan terakhir keluarga, dan ada harapan besar yang dititipkan dipundakku. Dengan tekad yang kuat, dengan satu langkah, langkah kecil, langkah pertamaku dihari ini adalah janji untuk membawa orang tuaku-dan juga aku bersujud di tanah suci-Allahummasolli’ala sayyidina Muhammad.
Kini, langkah-langkah kecilku mulai menemukan ritmenya dalam dunia bisnis.Aku yang dulu sempat tenggelam, hilang arah, kini perlahan mulai produktif lagi-satu langkah.Bukan karena jalanya tiba-tiba rata, bukan juga karena tikungan tajamnya sudah tidak ada, tapi karena aku punya tekad dan alasan yang kuat untuk tidak lagi berhenti.Cukup perlahan, konsisten, tapi pasti.Aku mendaki perbukitan mimpi besar itu-bukan hanya sebagai pencapaian pribadi-tapi tentang baktiku sebagai anak bungsu-sebagai harapan terakhir keluarga.Setiap lika liku dalam bisnis ini aku hadapi dengan prinsip “bahwa aku pemegang kendali penuh atas presepsi, reaksi, dan eksekusi ku sendiri”.
Saat lelah mulai menyapa, hingga niat awal sempat ikut tergoda-aku mengingat kembali tujuanku-menyelesaikan pendakian diperbukitan mimpi besar itu dan keinginan mulia menghaji umrohkan kedua orang tua-beserta diriku sendiri.Keyakinan dan alasan inilah yang membuat “satu langkah” terasa begitu bertenaga.Aku ingin membuktikan pada dunia-terutama pada diriku sendiri, bahwa dari titik terendah sekalipun, satu langkah yang konsisten bisa membawamu terbang mewujudkan mimpi yang tinggi.
Kini satu langkah yang dulu kuambil hanya untuk bertahan hidup, menjelma menjadi detak jantung dari sebuah mimpi besar; menjadi pengusaha sukses yang berkah manfaat serta keinginann memuliakan orang tua menghantarkanya ke Baitullah.Dengan tekad yang kuat aku memilih untuk tidak meragukan diriku sendiri karena keraguan adalah beban yang menghambat perjalanan.Jangan menunggu siap, jangan mengandalkan peta besar tapi cukup mulai dari satu langkah hari ini.Biarkan ketulusan niatmu menjadi kompas yang menuntunmu menuju mimpi yang paling tinggi.Hari ini, apa satu langkah yang berani kamu ambil untuk dirimu dan orang-orang yang kamu cintai? Mulailah sekarang karena satu langkah jauh lebih berharga daripada seribu rencana yang hanya diam dikepala.Kamu tidak butuh peta besar, kamu hanya butuh keberanian untuk memulai.Melangkahlah, meski hanya satu langkah.Karena diujung langkah-langkah kecilmu ada keajaiban yang menunggu. Percayalah.
Tentang Penulis
Isnaeni Putri Azkiya adalah mahasiswa UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto yang memiliki minat besar dalam bidang bisnis, kewirausahaan, dan pengembangan diri. Sejak kecil, ia telah tertarik pada dunia usaha dan hingga kini aktif mengelola beberapa bisnis serta membangun jaringan reseller. Selain berwirausaha, Isnaeni juga gemar menulis sebagai sarana berbagi pemikiran, pengalaman, dan pembelajaran hidup. Baginya, setiap tantangan adalah kesempatan untuk bertumbuh, dan setiap langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dapat membawa seseorang lebih dekat kepada mimpi dan tujuan hidupnya.
Leave A Comment