ChatGPT Image 11 Jun 2026, 00.10.18

Tamu yang Tidak Diundang dan Tidak Perlu Diundang

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Suara ketukan di pagar kayu itu berbeda dari ketukan biasanya.

Bukan ketukan Nenek Sarmi yang pendek dan langsung seperti orang yang sudah tahu akan masuk. Bukan ketukan Mas Rudin yang sopan dan sedikit ragu seperti orang yang tidak yakin apakah selamat datang berlaku untuknya. Bukan ketukan Bu Lastri yang keras karena ia selalu menganggap semua orang setengah tuli.

Ketukan ini lambat. Tiga kali. Dengan jeda yang terlalu panjang di antara masing-masing, seperti seseorang yang mengetuk bukan untuk memberitahu kehadirannya, tapi untuk menikmati fakta bahwa ia ada di sana.

Kakek Warso sedang memberi makan Jalu dan Warisno ketika mendengarnya. Ia tidak langsung menoleh. Ia selesaikan dulu menaburkan dedak, menggeser mangkok Warisno yang terlalu mepet ke mangkok Jalu, lalu baru berdiri dan memandang ke arah pagar.

Di balik pagar kayu itu berdiri seorang lelaki tua, kira-kira setua Kakek Warso, mungkin lebih tua dua atau tiga tahun, dengan tubuh yang lebih gemuk, kumis yang lebih tebal, dan topi pet hitam yang dipakai miring ke kanan dengan sudut yang tidak bisa terjadi secara tidak sengaja.

Kakek Warso memandangnya lama.

“Mampus aku,” katanya.

Lelaki tua itu tersenyum lebar. “Halo juga, War.”

Namanya Sujoyono. Tapi tidak ada yang memanggilnya begitu sejak 1987.

Semua orang memanggilnya Joyo, termasuk istrinya, termasuk anak-anaknya, termasuk cucunya yang masih empat tahun dan belum bisa mengucapkan nama panjang siapa pun. Joyo adalah nama yang cocok untuknya: pendek, langsung, tidak minta perhatian tapi selalu dapat perhatian.

Joyo dan Kakek Warso berteman sejak SMP, bukan karena mereka cocok, tapi karena bangku mereka berdekatan dan guru mereka pelit memindahkan tempat duduk. Selama tiga tahun mereka duduk berdampingan dan selama tiga tahun itu mereka mengembangkan persahabatan yang fondasinya adalah saling mengganggu dengan cara yang efisien.

Setelah SMP mereka berpencar. Joyo menikah, punya anak tiga, pindah ke kota sebelah, buka bengkel motor, bengkelnya tutup, buka warung, warungnya lumayan, pensiun dari warung, sekarang tinggal bersama anak bungsunya yang sabar.

Mereka bertemu lagi sesekali, di hajatan, di pertemuan keluarga yang kebetulan bercabang, di momen-momen yang tidak direncanakan. Setiap bertemu, percakapan mereka selalu dimulai dari titik yang sama persis dengan terakhir mereka bicara, seolah waktu di antaranya tidak pernah terjadi.

Joyo adalah satu-satunya orang yang tidak memanggil Kakek Warso dengan “Pak Warso.”

Ia memanggil “War.” Singkat. Tanpa embel-embel. Seperti memanggil seseorang yang tidak perlu dikasih hormat karena sudah kenal terlalu lama untuk masih berpura-pura.

Kakek Warso membuka pagar dengan ekspresi yang tidak berubah dari ekspresi sehari-harinya, datar, sedikit cemberut, seperti seseorang yang hidupnya sudah cukup dan tidak membutuhkan tambahan apa pun.

Joyo masuk sambil memandang sekeliling halaman dengan gaya seorang inspektur yang tidak diundang.

“Rumahnya masih jelek ya,” komentarnya.

“Kamu datang jauh-jauh buat bilang itu?”

“Tidak. Datang jauh-jauh karena anak saya minta saya keluar rumah. Katanya saya mengganggu. Saya bilang, siapa yang mengganggu siapa, itu rumah saya, tapi tidak ada yang mendengarkan orang tua sekarang. Jadilah saya ke sini.”

“Kenapa ke sini?”

“Karena kamu satu-satunya orang yang kondisi rumahnya lebih menyedihkan dari kondisi saya, jadi saya merasa lebih baik kalau ke sini.”

Kakek Warso memandangnya.

“Masuk,” katanya.

Mereka duduk di teras. Kakek Warso di kursi kayunya. Joyo di kursi plastik, ia duduk dengan cara yang segera membuat kursi plastik itu tampak seperti singgasana, karena Joyo memang punya bakat alami untuk tampak berkuasa di mana pun ia duduk.

Jalu memandang Joyo dari pagar dengan tatapan yang tidak bersahabat.

Warisno, yang belum punya preferensi soal tamu, hanya mematuk tanah.

“Itu ayammu?” tanya Joyo, menunjuk Jalu.

“Bukan, ayam tetangga yang nyasar.”

“Satu lagi?”

“Hadiah RT.”

“Kamu dapat hadiah ayam dari RT?” Joyo memandangnya dengan ekspresi antara kagum dan kasihan. “Hidupmu sudah di titik itu sekarang, War?”

“Hidupmu sudah di titik diusir dari rumah sendiri?”

Joyo mengangguk mengakui. “Imbang.”

Seperti yang sudah menjadi hukum alam di Gang Melati Nomor Tiga, Nenek Sarmi muncul dua belas menit setelah ada tamu di teras Kakek Warso. Mekanisme deteksinya tidak pernah dijelaskan dan tidak pernah ditanyakan.

Ia datang dengan dua gelas teh, yang kemudian ia pandang, lalu memandang Joyo, lalu kembali ke dapur Kakek Warso tanpa komentar, dan kembali lagi dengan tiga gelas.

“Ini siapa?” tanyanya kepada Kakek Warso sambil menyodorkan gelas.

“Joyo. Teman lama.”

“Teman baik?”

“Tidak,” kata Kakek Warso.

“Tidak juga,” kata Joyo bersamaan.

Nenek Sarmi memandang keduanya bergantian lalu duduk di kursi yang tersisa dengan ekspresi orang yang sudah memutuskan akan menemani percakapan ini sampai selesai.

Joyo memandang Nenek Sarmi, lalu memandang Kakek Warso, lalu senyumnya melebar ke arah yang tidak menyenangkan. Kakek Warso mengenali senyum itu. Senyum yang sama persis dengan yang dipakai Joyo tahun 1985 sebelum ia mengatakan sesuatu yang tidak perlu dikatakan.

“Tetanggamu?” tanya Joyo dengan nada yang terlalu casual untuk benar-benar casual.

“Ya.”

“Yang bawa teh setiap pagi itu?”

Kakek Warso memandangnya tajam. “Darimana kamu tahu?”

“Tebakanku.” Joyo menyesap tehnya. “Enak tehnya. Kamu yang bikin, Bu?”

“Ya,” kata Nenek Sarmi.

“Pantas.” Joyo mengangguk dengan ekspresi seorang ahli. “Warso tidak bisa bikin teh. Dulu tehnya selalu terlalu pahit atau terlalu tawar, tidak ada tengahnya.”

“Masih sama sampai sekarang,” kata Nenek Sarmi.

“Ha!” Joyo menunjuk Kakek Warso dengan telunjuk penuh kemenangan. “Dia masih kenal kamu, War, padahal baru ketemu.”

“Diam, Jo,” kata Kakek Warso.

Joyo tinggal sampai siang. Selama itu mereka membicarakan hal-hal yang tidak penting dengan kesungguhan yang seharusnya disimpan untuk hal-hal yang penting.

Mereka membahas mengapa lutut kiri lebih cepat sakit dari lutut kanan padahal perlakuannya sama. Mereka membahas apakah nasi uduk sekarang lebih berminyak dari nasi uduk dua puluh tahun lalu atau lidah mereka yang berubah. Mereka membahas seorang teman SMP bernama Karso yang kabarnya kini buka usaha ternak lele di Purwokerto dan apakah itu keputusan yang bijak atau tidak.

Nenek Sarmi duduk mendengarkan dan sesekali berkomentar, cukup untuk menunjukkan bahwa ia memperhatikan, tidak cukup untuk mengubah arah pembicaraan.

Jalu akhirnya turun dari pagar dan duduk di dekat kaki Kakek Warso seperti biasa. Warisno tidur di sudut teras.

Joyo memandang Jalu, lalu memandang Kakek Warso.

“Sudah berapa tahun ayamnya?”

“Dua belas.”

Joyo menghitung sesuatu dalam kepalanya. “Berarti Sumirah yang, ”

“Ya.”

“Oh.”

Dua suku kata itu mengandung lebih banyak pengertian dari kalimat panjang mana pun. Itulah salah satu hal yang membuat berteman dengan seseorang selama puluhan tahun menjadi berbeda, kamu tidak perlu menyelesaikan kalimat untuk dimengerti.

Mereka diam sebentar. Diam yang berbeda dari biasanya, bukan diam yang canggung, tapi diam yang sudah duduk nyaman di antara dua orang dan tidak perlu pergi ke mana-mana.

Kemudian Joyo melakukan sesuatu yang tidak terduga.

Ia membungkuk ke arah Jalu, dengan susah payah karena perutnya tidak semudah dulu untuk dibungkukkan, dan menjulurkan tangannya ke arah ayam tua itu.

Jalu memandang tangan itu. Memandang Joyo. Memandang tangan lagi.

Lalu, untuk pertama kalinya sejak Joyo datang, Jalu tidak mundur.

Joyo mengelus punggung Jalu dengan dua jari, pelan, seperti orang yang sudah terbiasa dengan hewan. Jalu diam. Tidak menghindar. Tidak kluruk.

“Hei, tua,” kata Joyo kepada Jalu dengan suara yang lebih pelan dari suara yang ia pakai sepanjang hari ini. “Jaga dia ya. Orangnya susah dijaga, tapi jaga saja.”

Kakek Warso memandang ke arah lain pura-pura memperhatikan pohon mangga tetangga.

Nenek Sarmi menyesap tehnya.

Sore menjelang, Joyo bangkit dari kursi dengan gerakan seorang lelaki yang badannya menyimpan protes di setiap sendinya.

“Saya pulang.”

“Siapa yang minta kamu datang.”

“Tidak ada. Makanya enak.” Joyo memakai topinya kembali, tetap miring ke kanan, sudut yang sama persis. “Kapan-kapan saya ke sini lagi.”

“Jangan.”

“Pasti.”

Joyo berpamitan kepada Nenek Sarmi dengan hormat yang tidak ia berikan kepada Kakek Warso, membungkuk sedikit, senyum yang lebih sopan, lalu berjalan ke arah pagar.

Di pagar ia berhenti. Menoleh.

“War.”

“Apa.”

“Kamu beruntung.”

Kakek Warso mengernyit. “Beruntung apanya. Rumah jelek, gigi tinggal tiga, dapat hadiah ayam dari RT.”

Joyo memandangnya sebentar. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang Jalu yang kini sudah naik kembali ke pagar. Lalu Warisno yang tidur di sudut.

Lalu kembali memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya hari ini, tidak mengandung niat mengganggu sama sekali.

“Ya. Beruntung apanya, kamu yang hitung sendiri.”

Ia melangkah keluar. Pagar kayu berbunyi pelan saat ditutupnya dari luar.

Kakek Warso duduk. Memandang pagar yang sudah tertutup. Memandang Jalu. Memandang Warisno. Memandang gelas teh ketiga yang sudah dingin di antara kursinya dan kursi plastik sebelahnya.

Nenek Sarmi tidak bergerak dari kursinya.

“Temanmu menyebalkan,” katanya akhirnya.

“Ya.”

“Tapi dia tahu kamu.”

“Ya.”

Nenek Sarmi mengangguk pelan, anggukan orang yang sudah mendapat jawaban dari pertanyaan yang tidak pernah ia ucapkan.

Sore itu turun pelan-pelan di atas Gang Melati Nomor Tiga. Jalu kluruk sekali dari atas pagar, entah untuk apa, karena ini bukan waktunya kluruk, bukan pagi, bukan penanda hari baru.

Mungkin hanya karena ia bisa.

Mungkin karena ada hal-hal yang perlu dirayakan tanpa harus mengerti persis apa yang sedang dirayakan.

Baturraden
02-06-2026.

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *