Oleh: Anjaha Naufal Muhammad
Pak RT datang membawa ayam.
Bukan ayam goreng, bukan ayam bakar, bukan ayam dalam bentuk apa pun yang sudah selesai dengan hidupnya. Tapi seekor ayam jago muda, belum genap setahun, bulunya merah menyala seperti baru keluar dari toko cat, jenggernya masih terlalu besar untuk kepalanya sehingga tampak sedikit oleng ke kiri.
Pak RT, namanya Bambang, tapi tidak ada yang memanggilnya begitu karena jabatan lebih kuat dari nama di kampung mana pun, datang dengan ayam itu dalam kedua tangannya, tersenyum dengan senyum orang yang merasa sedang melakukan sesuatu yang mulia.
“Pak Warso, ini dari warga. Patungan. Biar ada teman si Jalu.”
Kakek Warso memandang ayam itu.
Ayam itu memandang Kakek Warso.
Di atas pagar kayu, Jalu, tua, bulunya sudah sedikit kusam di beberapa tempat, tapi jenggernya masih tegak dengan martabat penuh, juga memandang ayam muda itu. Dengan ekspresi yang sulit dibaca. Atau mungkin mudah dibaca, tapi tidak ada yang mau membacanya dengan keras.
Ceritanya bermula seminggu sebelumnya.
Pak Bambang RT sedang melakukan kunjungan rutin, yang sejujurnya bukan rutin, tapi ia menyebutnya rutin agar terdengar lebih resmi, ke rumah-rumah warga lansia di Gang Melati Nomor Tiga. Ia singgah di rumah Kakek Warso, duduk di teras, menerima teh yang diseduhkan Nenek Sarmi yang kebetulan ada di sana, dan dalam percakapan yang mengalir ia bertanya dengan nada yang ia kira santai:
“Pak Warso, Jalu sudah tua ya? Kalau nanti, ya, kalau nanti tidak ada, bapak mau bagaimana?”
Kakek Warso memandangnya dengan tatapan yang membuat Pak Bambang merasa ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat salah tanpa mengerti bagian mana yang salah.
“Maksud saya, biar ada penggantinya gitu, Pak. Biar tidak sepi.”
“Saya tidak sepi.”
“Ya, tapi, ”
“Saya tidak sepi.”
Pak Bambang pulang dengan perasaan orang yang baru selesai wawancara kerja dan tidak yakin hasilnya. Tapi di perjalanan pulang ia berbisik ke Mas Udin yang kebetulan lagi cuci motor: “Kasihan Pak Warso. Nanti kalau Jalunya mati, dia sendirian.”
Mas Udin berbisik ke Mbak Yanti. Mbak Yanti berbisik ke Bu Lastri. Bu Lastri tidak berbisik, Bu Lastri mengumumkan ke seluruh pelanggan warungnya. Dan dalam dua hari terkumpullah uang patungan yang cukup untuk membeli seekor ayam jago muda dari peternak di desa sebelah.
Tidak ada yang bertanya apakah Kakek Warso menginginkannya.
Kakek Warso menerima ayam itu dengan tangan yang tidak antusias dan ekspresi yang lebih tidak antusias lagi.
Ayam muda itu, yang belum diberi nama oleh siapa pun karena semua orang berasumsi Kakek Warso yang akan menamai, langsung melompat dari tangan Kakek Warso begitu diletakkan di teras, berlari keliling halaman dua putaran penuh seperti anak baru yang sedang orientasi, lalu berhenti di bawah pagar kayu dan mendongak ke arah Jalu.
Jalu memandang ke bawah.
Ayam muda itu kluruk, suaranya masih belum bulat, masih sedikit sember, seperti suara remaja yang sedang mengalami perubahan.
Jalu tidak menjawab.
Pak Bambang pamit dengan senyum lebar dan kepuasan orang yang sudah berbuat baik. Kakek Warso menutup pintu pagar dan berdiri di tengah halaman dengan seekor ayam tua di atas pagar dan seekor ayam muda di bawahnya, dan sebuah pertanyaan yang belum ia temukan jawabannya: sekarang apa?
Jalu tidak turun dari pagar seharian.
Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Biasanya Jalu turun untuk makan, turun untuk berkeliling, turun untuk mengusik ayam betina milik Nenek Sarmi, turun untuk hal-hal yang ia anggap perlu. Tapi hari itu Jalu bertengger dari pagi sampai sore dengan posisi seorang pensiunan jenderal yang tidak diajak rapat.
Ayam muda itu, yang sementara dipanggil “Hei” oleh Kakek Warso karena belum ada nama resmi, berlari-lari di halaman dengan energi yang melelahkan hanya untuk ditonton. Ia mematuk ini, mematuk itu, berlari ke sana, berlari ke sini, sesekali mendongak ke Jalu dengan ekspresi penuh harap, lalu berlari lagi karena tidak mendapat respons.
Sore harinya Kakek Warso membawa dua mangkok dedak dan nasi basi. Satu ia taruh di bawah pagar untuk si Hei. Satu ia angkat dan taruh di atas pagar di sebelah Jalu.
Jalu memandang mangkok itu.
Lalu membuang muka.
“Lebay,” gumam Kakek Warso.
Nenek Sarmi datang keesokan paginya dan langsung menilai situasi dengan akurasi seseorang yang sudah tujuh puluh tahun mengamati makhluk hidup.
“Jalu cemburu.”
“Ayam tidak bisa cemburu.”
“Kamu juga katanya tidak bisa sepi, tapi lihat.”
Kakek Warso tidak merespons bagian itu.
Mas Udin yang ikut nimbrung dari balik pagar, karena di Gang Melati, percakapan di teras adalah tontonan publik, menambahkan dengan semangat orang yang baru membaca artikel psikologi: “Itu namanya territorial behavior, Pak. Wajar. Nanti juga adaptasi.”
“Siapa yang minta analisis kamu,” kata Kakek Warso.
Mas Udin mundur selangkah tapi tidak pergi.
Mbak Yanti yang berdiri di belakang suaminya berbisik: “Kita yang salah beli ayam, Mas.”
“Niatnya baik.”
“Niat baik tidak selalu menghasilkan situasi baik.”
Mas Udin tidak punya jawaban untuk itu.
Hari ketiga, si Hei masih belum punya nama.
Kakek Warso tidak mau menamai. Entah kenapa. Setiap kali ia hampir memikirkan nama, sesuatu di dalam dirinya mundur. Memberi nama berarti menerima. Menerima berarti mengakui bahwa memang butuh. Dan Kakek Warso belum siap mengakui itu.
Tapi hari ketiga itu, sesuatu terjadi.
Pagi-pagi sekali, sebelum Kakek Warso sempat keluar, terdengar suara ribut di halaman. Bukan ribut yang mengkhawatirkan, lebih mirip ribut yang konyol. Suara kepakan sayap, suara kaki-kaki kecil di tanah, suara dua ekor ayam yang sedang menentukan sesuatu.
Kakek Warso membuka pintu.
Di halaman, Jalu dan si Hei sedang berhadapan. Bukan dalam posisi berkelahi, tidak ada bulu yang berdiri, tidak ada taji yang diancungkan. Tapi keduanya berdiri saling memandang dengan jarak setengah meter, dan si Hei, yang lebih kecil, lebih muda, lebih sember kluruknya, tidak bergerak mundur.
Mereka berdiri begitu sampai Kakek Warso batuk.
Lalu Jalu, dengan gerakan yang sangat perlahan dan sangat enggan, menggeser badannya dua langkah ke kiri.
Si Hei berjalan ke titik yang tadi ditempati Jalu. Berdiri di sana. Memandang sekeliling dengan ekspresi pemilik baru.
Jalu berjalan ke pagar. Naik. Bertengger. Memandang ke arah yang lain.
“Warisno,” kata Kakek Warso tiba-tiba.
Nenek Sarmi yang ternyata sudah berdiri di balik pagar sejak tadi, entah kapan datangnya, menoleh. “Apa?”
“Namanya Warisno.”
Warisno adalah nama yang tidak puitis, tidak punya makna tersembunyi, dan tidak ada hubungannya dengan taji atau keberanian atau hal-hal yang biasanya dijadikan nama ayam jago.
Warisno adalah nama yang sangat biasa. Nama tetangga, nama tukang ojek, nama orang-orang yang mengisi gang-gang sempit di kota kecil.
Nenek Sarmi memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang menunggu penjelasan.
“Namanya Warisno,” ulang Kakek Warso. “Penerus. Pewaris.”
“Pewaris apa?”
Kakek Warso tidak menjawab. Ia masuk ke dapur mengambil dedak dan nasi basi, kali ini menyiapkan dua mangkok tanpa disuruh, dan keluar lagi ke teras.
Jalu makan di kiri. Warisno makan di kanan. Tidak berdesakan. Tidak bertengkar. Hanya dua ekor ayam yang makan bersama dengan jarak yang cukup untuk menjaga harga diri masing-masing.
Kakek Warso duduk di kursi kayunya dan memandang keduanya.
Nenek Sarmi duduk di kursi plastik sebelahnya, ia sudah membawa tehnya sendiri hari ini, tidak perlu basa-basi, dan juga memandang keduanya.
“Jalu mau terima dia,” kata Nenek Sarmi akhirnya.
“Terpaksa terima.”
“Sama saja.”
Kakek Warso menyesap teh yang disodorkan Nenek Sarmi. Hangatnya pas.
Yang tidak diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun, bukan kepada Nenek Sarmi, bukan kepada Pak Bambang RT, bukan kepada Mas Udin yang suka menganalisis, adalah bahwa malam pertama Warisno tiba, ia tidak langsung tidur.
Ia duduk di teras dalam gelap, ditemani suara jangkrik dan cahaya bulan yang masuk miring dari celah pohon mangga tetangga.
Jalu tidur di pagar. Warisno tidur di lantai teras, belum menemukan tempat permanennya, seperti anak kos baru yang belum tahu di pojok mana harus menaruh sandal.
Kakek Warso memandang keduanya bergantian.
Ia tidak mau mengakui kepada siapa pun bahwa Pak Bambang tidak sepenuhnya salah. Bahwa ia memang sudah beberapa minggu belakangan memandang Jalu dengan perasaan yang ia tidak punya kata-katanya, perasaan seorang lelaki tua yang menyadari bahwa sesuatu yang ia anggap permanen mungkin tidak sepermanen yang ia kira.
Bahwa mungkin selama ini ia bukan merawat Jalu.
Tapi bersiap untuk kehilangan Jalu, dengan cara memastikan ada sesuatu yang tersisa setelahnya.
Warisno bergerak dalam tidurnya, kakinya menghentak pelan ke lantai teras, lalu diam lagi.
Kakek Warso masuk. Menutup pintu. Berbaring di ranjangnya.
Di luar, Jalu kluruk sekali, pendek, pelan, seperti kata iya yang tidak ingin terlalu keras diucapkan.
Tiga minggu kemudian, pukul lima pagi, Gang Melati Nomor Tiga dibangunkan oleh suara kluruk.
Tapi bukan satu suara.
Dua suara. Hampir bersamaan. Satu dalam, satu masih sedikit sember, tapi tidak sesember tiga minggu lalu. Satu dari atas pagar, satu dari bawahnya.
Mbak Yanti yang sedang menyiapkan sarapan berhenti mengaduk telur dan tersenyum tanpa tahu kenapa.
Mas Udin yang masih setengah tidur bergumam: “Kok jadi dua?” lalu tidur lagi.
Nenek Sarmi yang mendengarnya dari balik tembok mengangguk kecil ke arah tidak ada.
Dan Kakek Warso, yang sudah duduk di kursi kayunya dengan dua mangkok dedak di lantai teras, memandang Jalu di atas pagar dan Warisno di bawahnya, berpikir bahwa mungkin suara yang paling menenangkan di dunia adalah suara yang kamu kira hanya akan kamu dengar sekali ternyata masih terus berbunyi, dalam nada yang berbeda, dari tenggorokan yang berbeda, tapi dengan ritme yang sama.
Lalu dari balik pagar, suara Nenek Sarmi:
“Pak Warso. Tehnya.”
Kakek Warso mengambil gelas yang disodorkan dari balik pagar tanpa menoleh, karena setelah dua belas tahun, tangan yang menyodorkan teh itu sudah bisa ia kenali hanya dari bunyinya.
“Makasih,” katanya.
Satu kata. Untuk teh. Untuk tiga minggu. Untuk dua belas tahun. Untuk semua yang tidak pernah ia ucapkan karena Kakek Warso memang tidak pandai mengucapkan hal-hal yang paling ia maksudkan.
Nenek Sarmi tidak menjawab.
Tapi ia tidak langsung pergi juga.
—–
Baturraden, 6 Mei 2026
Leave A Comment