ChatGPT Image 28 Mei 2026, 13.52.01

Di Bawah Langit Idul Adha

Oleh: Nahwa Nurfadilah

Pagi itu, aroma ketupat dan opor tercium dari dapur rumah. Suara takbir masih terasa membekas di telinga Nahwa, meski sudah sejak semalam berkumandang. Idul Adha tahun ini ia rayakan di rumah — libur bersama dari pesantren, katanya kepada adik-adiknya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.

Namun di balik kegembiraan itu, ada sesuatu yang berbeda. Setiap kali ia duduk di teras, menatap tetangga yang hilir mudik membawa daging kurban, pikirannya justru melayang jauh, kembali ke halaman Pesma An-Najah, ke lorong asrama yang entah mengapa selalu terasa seperti satu-satunya tempat di dunia tempat hatinya benar-benar diam, ke bunyi langkah sandal menuju masjid sebelum subuh.

Selalu terngiang pesan Abah Roqib di telinganya setiap kali hatinya mulai merasa jauh dari rumah kedua itu.

“Berbagi itu tidak mengurangi, Ndo. Justru dari sanalah kamu akan belajar arti memiliki yang sesungguhnya.”

Nahwa tidak sepenuhnya mengerti kala pertama kali mendengarnya. Tapi kini ia paham. Di Pesma An-Najah, ia belajar bukan hanya dari buku. Ia belajar dari teman sebaya yang dengan sabar mengajarinya melipat baju yang benar, dari kakak kelas yang membangunkannya ketika alarm tidak berbunyi, dari ustad yang tidak pernah marah meski ia salah menjawab. Nilai-nilai itu tidak tertulis di papan mana pun, tapi ia tahu, tanpa sadar ia sudah membawanya pulang dalam setiap laku hariannya.

Dan kini ada sesuatu yang sejak lama membuat dadanya terasa lebih penuh. Pesantren tempat ia tumbuh itu kini melahirkan sesuatu yang baru: SMP Sains An-Najah, sekolah yang baru saja berdiri dan mulai membuka diri untuk generasi pertamanya. Nahwa sudah mendengar kabar itu jauh-jauh hari, dan rasa bangga itu tidak pernah benar-benar pergi dari dadanya.

Bukan karena sedih, tapi karena bangga. Karena ia tahu betul benih seperti apa yang ditanam di tanah itu.

Nahwa menghela napas panjang. Liburan ini tinggal sebentar lagi, dan ia tahu tidak lama kemudian ia akan kembali. Ia teringat dawuh Abah Roqib tentang penerimaan santri baru, bahwa pintu Pesma An-Najah dan SMP Sains An-Najah terbuka lebar, menunggu generasi muda yang siap tumbuh, belajar, dan membentuk diri. Bukan sekadar pengumuman, melainkan undangan yang tulus untuk adik-adik di luar sana yang belum tahu bahwa di sana belajar bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk jiwa.

“Lingkungan yang religius, nyaman, bersih, dan berprestasi,” begitu dawuh Abah Roqib. Abah juga sering ngendika bahwa lingkungan pesantren harus dijaga kebersihannya — sebersih hotel. Sebab, kebersihan adalah sebagian dari iman. Dan Nahwa tahu itu bukan sekadar nasihat kosong. Ia sendiri buktinya.

Ia berdiri pelan, merapikan jaz pondoknya yang masih tergantung rapi di balik pintu kamar. Belum waktunya dipakai, tapi ia senang melihatnya di sana. Seperti pengingat bahwa liburan ini sementara, dan ada tempat yang menunggunya pulang.

Di luar, adzan dhuhur mulai berkumandang. Nahwa mengambil mukenanya, melangkah ke mushala kecil di rumah, dan dalam hatinya ia menggenggam satu hal yang tidak akan pernah ia lepaskan:

Bahwa keikhlasan berbagi dan semangat menuntut ilmu adalah dua sayap dari satu burung yang sama. Tanpa keduanya, ia tak akan pernah bisa terbang.

Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H.

Semoga semangat berbagi dan menuntut ilmu selalu tumbuh dalam diri generasi muda.

27 Mei 2026

Tentang Penulis

Nahwa Nurfadilah adalah mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus santri di Pesma An Najah Purwokerto. Dalam kesehariannya, ia lebih fokus menjalani kegiatan perkuliahan dan kehidupan pesantren.

Nahwa memiliki ketertarikan dalam bidang menulis sejak duduk di bangku sekolah dasar, termasuk pernah mengikuti lomba cerpen. Ketertarikan tersebut masih berlanjut saat menempuh pendidikan di MTs melalui kebiasaan menulis pada waktu-waktu tertentu. Meski kini belum terlalu sering menekuni kegiatan menulis, pengalaman tersebut tetap menjadi bagian dari perjalanan belajarnya dan menjadi salah satu hal yang ia sukai.

Penulis dapat dihubungi melalui Email: nahwaanur@gmail.com atau nomor telepon: 085173448545

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *