Oleh: Anjaha Naufal Muhammad
Kakek Warso tidak pernah memasak.
Dua belas tahun terakhir ia hidup dari warung Bu Lastri, dari kiriman tetangga yang kasihan, dan dari kemampuan alaminya untuk tidak terlalu lapar. Tapi setiap pagi dan sore, tanpa gagal, ia selalu menyiapkan satu hal, dedak campur nasi basi untuk Jalu.
Nasi basi itu ia masak sendiri.
Atau lebih tepatnya, ia sengaja memasak nasi terlalu banyak, membiarkannya sehari semalam di dalam panci tanpa tutup, lalu mencampurnya dengan dedak yang ia beli dari toko pakan di ujung jalan besar. Proses itu ia lakukan dengan kesungguhan yang tidak ia berikan pada masakan untuk dirinya sendiri.
Nenek Sarmi pernah berkomentar, “Ayamnya makan lebih sehat dari pemiliknya.”
Kakek Warso tidak membantah.
Pagi itu biasa saja. Matahari naik dengan kecepatan yang sama seperti kemarin dan kemarin-kemarin sebelumnya. Jalu sudah bertengger di pagar sejak pukul lima, kluruknya membangunkan gang dengan hormat yang tidak perlu diminta.
Kakek Warso keluar dengan mangkok di tangan. Duduk di kursi kayunya. Menaburkan dedak dan nasi basi ke lantai teras dengan gerakan yang sudah menjadi otot, bukan pikiran.
Jalu turun. Makan.
Kakek Warso memandang.
Pagi-pagi seperti ini, dalam sunyi yang familiar dan cahaya yang masih kekuningan, pikiran Kakek Warso sering pergi ke tempat yang tidak ia rencanakan. Bukan karena ia sengaja mengenang, ia tidak percaya pada pengenangan yang disengaja, terlalu mirip menyiksa diri, tapi karena sunyi memang punya cara untuk membuka pintu-pintu yang lupa dikunci.
Pagi ini pintunya terbuka ke arah istrinya.
Nama istrinya Sumirah. Tapi Kakek Warso tidak pernah memanggilnya dengan nama itu. Ia memanggilnya “Hei”, bukan karena tidak hormat, tapi karena di antara mereka nama terasa terlalu formal untuk dipakai setiap hari. Sumirah juga memanggilnya “Hei”. Mereka sudah lupa siapa yang memulai kebiasaan itu, dan tidak pernah merasa perlu mengingat.
Sumirah adalah perempuan yang tidak bisa diam.
Bukan berarti ia cerewet, ia tidak cerewet. Tapi tangannya selalu bergerak. Selalu ada yang dikerjakan. Kalau tidak menyapu ya menampi beras. Kalau tidak menampi beras ya mencabut rumput di pot. Kalau tidak mencabut rumput ya melipat handuk yang sejujurnya sudah dilipat kemarin.
Kakek Warso, yang waktu muda bernama Warso saja, tanpa embel-embel kakek, pernah bilang, “Kamu kalau udah duduk, diam bisa tidak?”
“Bisa,” jawab Sumirah. “Tapi ngapain?”
Kakek Warso tidak punya jawaban untuk itu.
Jalu mematuk sesuatu di lantai teras. Kakek Warso memandangnya, dan tanpa ia rencanakan, ingatannya pergi ke sore dua belas tahun lalu, sore terakhir sebelum Sumirah masuk rumah sakit dan tidak keluar lagi.
Sore itu Sumirah sedang duduk di kursi kayu ini, kursi yang sekarang diduduki Kakek Warso, sambil mengerok jahe untuk wedang. Kakek Warso duduk di sebelahnya di kursi plastik yang sekarang sudah tidak ada. Dan di halaman, seekor anak ayam jago berbulu merah gelap berjalan-jalan dengan gaya pejabat baru.
“Itu ayam siapa?” tanya Sumirah.
“Tidak tahu. Nyasar mungkin.”
“Diberi makan tidak?”
“Bukan ayam kita.”
Sumirah bangkit, masuk ke dapur, keluar lagi membawa segenggam nasi sisa. Ia taburkan di halaman. Anak ayam itu makan dengan lahap.
“Sekarang ayam kita,” kata Sumirah sambil duduk lagi dan melanjutkan mengerok jahe.
Kakek Warso, Warso muda, waktu itu, memandang ayam itu, lalu memandang istrinya. “Kamu tidak tanya dulu sama yang punya?”
“Yang punya tidak kasih makan. Berarti yang punya tidak layak punya.”
Logika yang tidak bisa dibantah.
Anak ayam jago berbulu merah gelap itu akhirnya diberi nama Jalu oleh Sumirah. Bukan Kakek Warso. Selama ini Kakek Warso membiarkan orang-orang mengira ia yang memberi nama, ia tidak pernah mengklarifikasi, dan tidak ada yang bertanya.
Jalu mematuk nasi terakhir di lantai teras dan mendongak, satu matanya menatap Kakek Warso dengan cara yang selalu membuat Kakek Warso tidak nyaman, seolah ayam itu bisa membaca sesuatu di wajahnya.
Ada yang tidak pernah diceritakan Kakek Warso kepada siapa pun di Gang Melati Nomor Tiga.
Bahwa Jalu bukan ayam tujuh atau delapan tahun. Jalu sudah dua belas tahun. Jalu sudah ada sejak sebelum Sumirah pergi. Jalu adalah satu-satunya makhluk hidup di rumah ini yang juga mengenal Sumirah, yang juga pernah diberi makan oleh tangannya, yang juga pernah diusir dari dapur olehnya, yang juga pernah dikasih nama olehnya.
Dan mungkin itulah sebabnya Kakek Warso tidak pernah mengurungnya. Bukan karena filosofi tentang ayam jago yang baik tidak perlu dikurung. Tapi karena Sumirah yang dulu memungutnya dari halaman tidak pernah mengurungnya. Dan Kakek Warso tidak mau mengubah satu pun kebiasaan Sumirah yang masih bisa ia pertahankan.
Dedak campur nasi basi. Itu juga bukan resep Kakek Warso.
Itu resep Sumirah.
Nenek Sarmi datang tanpa diumumkan, seperti biasa, dengan dua gelas teh panas dan ekspresi orang yang pura-pura lewat padahal sudah menyiapkan teh dari tadi.
Ia duduk di kursi plastik baru yang sudah menggantikan kursi plastik lama yang sudah tidak ada. Menyodorkan satu gelas ke Kakek Warso.
Mereka duduk. Jalu bertengger kembali ke pagar. Teh mengepul pelan.
“Lagi melamun,” kata Nenek Sarmi. Bukan pertanyaan.
“Tidak.”
“Mukanya seperti melamun.”
“Muka saya memang begini.”
Nenek Sarmi menyesap tehnya. “Ingat dia?”
Kakek Warso tidak menjawab. Yang berarti iya.
“Jalu sudah tua,” kata Nenek Sarmi pelan. “Kamu juga sudah tua. Tapi kamu masih masak nasi basi setiap hari.”
“Nasi basi tidak perlu keahlian khusus.”
“Bukan soal keahlian.”
Kakek Warso memandang tehnya.
“Sumirah yang mulai,” katanya akhirnya. Pertama kalinya ia menyebut nama itu dengan suara yang bisa didengar orang lain, bukan hanya di dalam kepala. “Ayamnya, namanya, masakannya. Saya cuma yang melanjutkan.”
Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
Lalu ia berkata, dengan nada yang sangat biasa, seperti menyebutkan harga bawang di pasar,
“Iya. Sumirah yang suruh saya jagain kamu juga.”
Kakek Warso meletakkan gelasnya.
Memandang Nenek Sarmi.
“Apa?”
“Dua belas tahun lalu. Di rumah sakit. Sebelum dia, ” Nenek Sarmi tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi tidak perlu diselesaikan. “Dia minta saya. Katanya, Sarmi, Warso itu tidak bisa hidup sendiri. Tolong lihat-lihatkan. Jangan sampai dia lupa makan. Jangan sampai dia kesepian. Jangan sampai dia lupa bayar listrik.”
Udara di teras itu tiba-tiba terasa berbeda beratnya.
“Kamu tidak pernah bilang,” kata Kakek Warso. Suaranya aneh, bukan marah, bukan sedih, tapi seperti orang yang baru menemukan satu potongan puzzle yang selama dua belas tahun ia kira sudah hilang.
“Kalau saya bilang, kamu mau marah. Merasa dikasihani.”
“Ya memang saya mau marah.”
“Makanya tidak saya bilang.”
Jalu kluruk sekali dari atas pagar. Pendek. Seperti komentar.
Kakek Warso memandang Jalu. Lalu memandang Nenek Sarmi. Lalu memandang gelas tehnya yang masih setengah.
Dua belas tahun. Selama dua belas tahun ia mengira dirinya hidup sendirian, dengan tabah, dengan keras kepala, dengan tiga gigi dan kursi kosong dan nasi basi untuk ayam. Selama dua belas tahun ia bangga bahwa ia tidak merepotkan siapa pun.
Tapi rupanya Sumirah sudah mengatur semuanya. Dari rumah sakit itu. Sebelum pergi.
Termasuk tetangga yang setiap pagi membawakan teh.
Termasuk mungkin, ini yang membuat dadanya terasa seperti ditekan dari dalam, ayam yang tidak pernah pergi.
“Jalu juga,” gumam Kakek Warso. “Kamu yang suruh dia tidak kemana-mana?”
Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu mengangkat bahu dengan ekspresi orang tua yang sudah melewati terlalu banyak hal untuk masih bisa berpura-pura bercanda.
“Saya tidak bisa bicara sama ayam, Pak Warso.”
Ia menyesap tehnya lagi.
“Itu Sumirah sendiri yang urus.”
—
Baturraden, 24 April 2026
Leave A Comment