ChatGPT Image 29 Apr 2026, 23.13.48

Jalu Tidak Kluruk Lagi Hari Ini

Oleh: Anjaha Naufal Muhammad

Ada dua jenis sunyi di Gang Melati Nomor Tiga.

Sunyi pertama adalah sunyi biasa, sunyi malam, sunyi siang bolong, sunyi yang datang ketika semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Sunyi itu tidak mengusik siapa pun.

Sunyi kedua adalah sunyi yang salah. Sunyi yang terasa seperti ada sesuatu yang seharusnya berbunyi, tapi tidak berbunyi. Sunyi yang membuat bulu kuduk berdiri bukan karena dingin, tapi karena absennya sesuatu yang selama ini kau anggap pasti.

Sabtu pagi itu, Gang Melati Nomor Tiga diselimuti sunyi yang kedua.

Bukan Kakek Warso yang pertama menyadarinya.

Adalah Mbak Yanti, istri Mas Udin, tetangga baru yang belum genap dua bulan pindah, yang pertama merasa ada yang ganjil. Ia sedang menjemur handuk di tali depan rumah ketika ia menyadari bahwa ia sudah selesai menjemur, sudah masuk, sudah menyalakan kompor, sudah menunggu air mendidih, dan selama semua itu tidak ada satu pun suara kluruk dari ujung gang.

Mbak Yanti mematikan kompor.

Ia berdiri di dapur dengan perasaan orang yang lupa mematikan setrika tapi tidak yakin setrikanya menyala.

Sejak insiden opor dua bulan lalu, Mbak Yanti hafal betul ritme Gang Melati, termasuk kluruk Jalu yang setiap pagi pukul lima menjadi penanda bahwa hari boleh dimulai. Ia tidak pernah menyangka akan bergantung pada suara ayam tetangga, tapi begitulah hidup di gang sempit, kamu menyerap kebiasaan orang sekitarmu tanpa memintanya.

Ia mengintip dari jendela dapur ke arah rumah Kakek Warso.

Pagar kayu itu kosong.

Di kampung, kabar tidak membutuhkan telepon. Ia berjalan dengan kaki sendiri, dari mulut ke telinga, dari telinga ke mulut lagi, dan dalam waktu setengah jam seluruh gang bisa tahu sesuatu yang belum tentu benar tapi sudah terlanjur dipercaya.

Mbak Yanti menyebut ke Bu Lastri yang kebetulan lewat membawa belanjaan,

“Bu, Jalu kok tidak bunyi pagi ini ya?”

Bu Lastri berhenti. Berpikir. Lalu mengangguk pelan dengan ekspresi orang yang baru menyadari bahwa ia pun tidak mendengar apa-apa. “Iya ya. Tidak bunyi.”

Kabar itu sampai ke Mas Udin yang sedang mencuci motor. Mas Udin menghentikan tangannya. Kemudian kabar itu menembus dinding tipis gang dan sampai ke telinga Pak Gimin, pensiunan pos yang rumahnya di seberang, yang langsung berdiri dari kursi rotan dan mengambil sandalnya.

Dan akhirnya, sebagaimana semua kabar di Gang Melati selalu akhirnya sampai ke sana, kabar itu tiba di telinga Nenek Sarmi.

Nenek Sarmi tidak berkata apa-apa. Ia hanya meletakkan sapu lidinya, mengikat jariknya lebih kencang, dan berjalan ke rumah Kakek Warso.

Kakek Warso duduk di kursi kayunya. Posisinya sama seperti setiap pagi. Tangannya memegang mangkok dedak campur nasi basi. Tapi tangannya tidak bergerak menaburkan apa pun, karena tidak ada yang perlu ditaburi.

Pagar kayu di depannya kosong.

Ia sudah berkeliling sejak pukul setengah lima. Sudah memeriksa kebun singkong. Sudah mengintip kolong rumah. Sudah menengok kandang Nenek Sarmi, tapi kali ini tidak ada Jalu yang nguber-nguber ayam lain. Sudah berjalan sampai ujung gang dan balik lagi.

Tidak ada Jalu.

Nenek Sarmi duduk di teras tanpa dipersilakan, karena di usia tujuh puluh tahun dan setelah puluhan tahun bertetangga, seseorang tidak perlu dipersilakan lagi.

Tidak ada yang bicara beberapa saat.

“Sudah berapa lama?” tanya Nenek Sarmi akhirnya.

“Dari kemarin sore tidak kelihatan.”

“Kemarin sore terakhir di mana?”

“Di sini.” Kakek Warso mengangguk ke arah pagar.

“Seperti biasa. Saya kasih makan. Makan. Lalu saya masuk. Waktu saya keluar lagi sudah tidak ada.”

Nenek Sarmi mengangguk pelan.

“Sudah tua dia,” kata Kakek Warso. Suaranya rata. Terlalu rata.

“Berapa tahun?”

“Tujuh. Mungkin delapan.”

Nenek Sarmi tidak berkata bahwa tujuh atau delapan tahun adalah usia yang panjang untuk ayam jago. Ia tidak berkata apa-apa tentang itu. Ia hanya duduk, dan keberadaannya saja sudah cukup menjadi sesuatu.

Mas Udin datang setengah jam kemudian, dengan Mbak Yanti di belakangnya dan ekspresi sukarela yang terlalu bersemangat untuk situasi sesedih ini.

“ Pak Warso, kami mau bantu cari.”

Kakek Warso memandangnya.

“Cari di mana?”

“Ya, di sekitar sini dulu. Mungkin nyasar ke gang sebelah.”

Pak Gimin menyusul. Lalu Bu Lastri. Dalam waktu singkat, teras Kakek Warso yang biasanya lengang berubah menjadi semacam posko tanpa ada yang mendeklarasikannya sebagai posko.

Mas Udin dan Pak Gimin menyisir gang sebelah. Mbak Yanti mengetuk beberapa pintu dan bertanya dengan sopan apakah ada yang melihat ayam jago berbulu merah gelap dengan jengger tegak dan cara berjalan seperti pejabat. Bu Lastri, yang jaringan pergaulannya paling luas di gang ini, menelepon beberapa orang dengan ponselnya.

Kakek Warso tidak ikut mencari. Ia tetap duduk di kursinya, memegang mangkok dedak yang sudah dingin, memandang pagar yang kosong.

Nenek Sarmi tetap duduk di sampingnya.

Satu Jam Kemudian

Mas Udin pulang dengan tangan kosong tapi muka penuh laporan, gang sebelah tidak ada, belakang gang tidak ada, sampai depan mushola juga tidak ada.

Pak Gimin pulang dan langsung duduk karena kakinya yang sudah tua tidak cocok untuk operasi pencarian.

Mbak Yanti pulang terakhir, dan di wajahnya ada sesuatu yang ia coba sembunyikan tapi tidak cukup berhasil, ekspresi orang yang mendapat informasi tapi tidak yakin apakah informasi itu baik atau buruk.

“Pak Warso,” katanya pelan.

Semua orang menoleh.

“Tadi saya tanya ke Pak Hendra, yang rumahnya di ujung gang tembus jalan besar itu. Katanya kemarin sore dia lihat seekor ayam jago merah jalan sendiri ke arah jalan besar.”

Hening.

“Jalan besar” di mulut Gang Melati Nomor Tiga adalah jalan yang dilalui truk, angkot, dan motor yang tidak peduli marka. Semua orang di teras itu tahu artinya. Mereka tidak mengucapkannya, tapi mereka tahu.

Kakek Warso tidak bergerak.

Lalu ia meletakkan mangkok dedaknya pelan di lantai teras, dengan cara yang sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang mudah pecah, dan memandang jauh ke ujung gang.

Tiga menit kemudian, atau mungkin lima, tidak ada yang menghitung, terdengar suara dari ujung gang.

Bukan kluruk.

Tapi langkah. Langkah yang berat, tidak rata, seperti sesuatu yang berjalan dengan susah payah.

Semua kepala menoleh.

Dari ujung Gang Melati Nomor Tiga, dalam cahaya pagi yang masih tipis, muncullah Jalu.

Ia berjalan pelan. Sangat pelan. Salah satu sayapnya terkulai sedikit, bukan patah, tapi lelah. Bulunya kusut di beberapa tempat. Jenggernya masih tegak, tapi merahnya sedikit lebih pucat dari biasa.

Di punggungnya, bertengger dengan santai seperti penumpang angkot yang sudah beli tiket, seekor anak kucing belang tidur.

Anak kucing itu tidur. Tidur. Di punggung ayam jago yang berjalan.

Jalu berjalan terus. Masuk gang. Melewati orang-orang yang memandangnya dengan mulut terbuka. Naik ke teras. Berjalan ke arah pagar kayunya. Dan bertengger di sana, dengan anak kucing yang masih tidur di punggungnya, tidak terusik, tidak peduli.

Tidak ada yang bersuara selama beberapa detik.

Kemudian Nenek Sarmi, dengan suara yang datar seperti membacakan pengumuman RT, berkata,

“Rupanya dia pergi tak bilang-bilang, pulang ngusung kucing orang.”

Mbak Yanti tertawa duluan. Lalu Bu Lastri. Lalu Mas Udin yang menahan tawa sebentar sebelum akhirnya menyerah. Pak Gimin terkekeh sambil menepuk lututnya.

Kakek Warso memandang Jalu. Lalu anak kucing itu. Lalu Jalu lagi.

Ia mengambil mangkok dedaknya. Menaburkan isinya di lantai teras pelan-pelan.

Jalu turun dari pagar. Anak kucing itu tergelincir sedikit, membuka satu mata, memandang sekelilingnya dengan ekspresi makhluk yang tidak merasa bersalah sama sekali, lalu menutup matanya lagi dan melanjutkan tidur di lantai teras.

Kakek Warso duduk di kursinya.

“Ganti nama kamu,” gumamnya kepada Jalu.

“Bukan ayam jago. Tapi Tukang ojek.”

Dan pagi itu untuk pertama kali dalam waktu yang lama, teras rumah Kakek Warso ramai, penuh orang, penuh tawa, penuh sesuatu yang hangat dan tidak bernama, sementara seekor ayam makan dedak dan seekor anak kucing tidur di antara kaki-kaki manusia yang tidak lagi ingat mengapa mereka semula merasa sedih.

Baturraden, 28 April 2026

 

Tags: No tags

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *