Oleh: Lili Rahayu Usfatun Khasanah
“Hidup itu absurd, jangan lari darinya.” Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi menyimpan ketegangan yang dalam antara harapan manusia dan kenyataan dunia. Kita tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup seharusnya punya arah yang jelas, makna yang tegas, dan akhir yang bisa dipahami. Namun, seiring waktu, kita berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu sejalan: usaha tidak selalu berbuah hasil, doa tidak selalu segera terjawab, dan kebaikan tidak selalu dibalas setimpal. Di titik inilah absurditas muncul sebuah jarak antara apa yang kita cari dan apa yang dunia berikan.
Filsuf seperti Albert Camus menyebut absurditas sebagai kondisi dasar manusia. Kita adalah makhluk yang haus makna, tetapi hidup di semesta yang tidak selalu menyediakan jawaban. Dalam pandangan ini, absurditas bukanlah kesalahan yang harus diperbaiki, melainkan kenyataan yang harus dihadapi. Masalahnya bukan pada dunia yang tidak masuk akal, tetapi pada harapan kita yang terlalu ingin segala sesuatu menjadi masuk akal.
Namun, menghadapi absurditas tidak berarti menyerah. Justru sebaliknya, di sanalah letak kebebasan manusia. Ketika tidak ada makna yang diberikan secara pasti, manusia memiliki ruang untuk menciptakan maknanya sendiri. Ini bukan tugas yang ringan. Ia menuntut keberanian untuk tetap berjalan meski arah tidak sepenuhnya jelas, untuk tetap mencinta meski tidak ada jaminan, dan untuk tetap berbuat baik meski hasilnya tidak selalu terlihat.
“Jangan lari darinya” berarti tidak menghindar dari kenyataan pahit, tidak menutup mata terhadap ketidakpastian, dan tidak berpura-pura bahwa hidup selalu rapi. Lari dari absurditas bisa berarti mencari pelarian yang semu entah dalam ilusi, penyangkalan, atau harapan-harapan instan yang rapuh. Tetapi menghadapi absurditas berarti berdiri tegak di tengah ketidakjelasan, sambil tetap memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh.
Di sinilah hidup menemukan martabatnya. Bukan karena ia selalu bermakna, tetapi karena manusia terus berusaha memberi makna. Dalam pekerjaan sehari-hari, dalam hubungan sederhana, dalam pengorbanan kecil yang sering tak terlihat semua itu adalah bentuk perlawanan terhadap absurditas. Kita mungkin tidak bisa mengendalikan seluruh jalannya hidup, tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita menjalaninya.
Akhirnya, menerima absurditas bukan berarti kehilangan harapan. Justru sebaliknya, harapan menjadi lebih jujur. Ia tidak lagi bergantung pada kepastian, melainkan tumbuh dari keberanian. Hidup tetap dijalani, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena kita memilih untuk tidak menyerah pada ketidakjelasan itu.
Maka, hidup memang absurd. Namun, jangan lari darinya. Hadapilah, hiduplah di dalamnya, dan di sanalah perlahan, dalam sunyi dan kesadaran makna itu akan kita ciptakan sendiri.
Tentang Penulis
Lili Rahayu Usfatun Khasanah, merupakan alumnus Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto, sekaligus lulusan Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Saat ini ia tengah belajar menjalani perannya sebagai “Ibu” untuk dua buah hatinya: Ali dan Alia.
Leave A Comment