Oleh: Anjaha Naufal Muhammad
Kakek Warso tidak pernah mengundang siapa pun makan di rumahnya.
Bukan karena pelit. Bukan karena tidak suka orang. Tapi karena meja makannya hanya cukup untuk dua kursi, satu untuknya, satu untuk kursi yang sudah dua belas tahun tidak diduduki siapa pun. Kursi mendiang istrinya. Kakek Warso tidak pernah memindahkannya. Tidak pernah menawarkannya untuk diduduki tamu. Orang-orang di Gang Melati Nomor Tiga sudah tahu itu, dan mereka menghormatinya dengan cara yang paling kampungan.
Pura-pura tidak tahu.
Jalu juga tahu aturan itu.
Ayam jago itu tidak pernah masuk ke dalam rumah. Ia hidup di teras, di pagar, di halaman, di wilayah antara rumah dan dunia luar. Seolah ia pun mengerti bahwa ada ruang-ruang yang tidak boleh dimasukinya.
Maka ketika suatu pagi Kakek Warso membuka pintu dan mendapati Jalu sudah berada di dalam rumah, duduk tenang di atas kursi kosong itu, kursi mendiang istrinya, ia tidak langsung marah.
Ia hanya berdiri di ambang pintu. Lama sekali.
Tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Pintu belakang mungkin lupa dikunci semalam. Atau mungkin jendela dapur yang selalu sedikit miring itu akhirnya menyerah sepenuhnya. Kakek Warso tidak terlalu mau menyelidiki caranya, yang ada di hadapannya sekarang adalah fakta yang tidak bisa dibantah, bahwasanya Jalu bertengger di kursi itu dengan dada membusung, seperti tamu yang merasa sudah reservasi jauh-jauh hari.
“Turun!” kata Kakek Warso.
Jalu memiringkan kepalanya. Satu mata memandang kakek itu dengan ekspresi yang, kalau ayam bisa punya ekspresi, bisa dibaca sebagai,
“kenapa?”
“Turun, kataku!”
Jalu tidak turun.
Kakek Warso menarik napas panjang. Ia pergi ke dapur, mengambil segenggam dedak, lalu menaburkannya di lantai depan kursi itu. Jalu memandang dedak itu, memandang Kakek Warso, lalu turun dengan anggun dan mulai makan.
Kakek Warso duduk di kursinya sendiri.
Mereka sarapan bersama. Pertama kalinya dalam dua belas tahun, meja makan itu terasa, bukan kebersamaan, tapi setidaknya tidak kosong.
Masalah, seperti biasa di Gang Melati Nomor Tiga, datang dari luar.
Pagi itu Mas Udin, tetangga sebelah yang belum genap sebulan pindah, datang mengetuk pagar dengan wajah yang sudah minta maaf bahkan sebelum mulai bicara.
Maklum, sejak insiden opor beberapa minggu lalu, Mas Udin selalu datang ke rumah Kakek Warso dengan postur orang yang baru saja lolos dari bencana dan tidak mau mengulanginya.
“Pak Warso, maaf mengganggu. Ini ada paket, salah antar ke rumah kami.”
Ia menyorongkan sebuah kotak kecil. Kakek Warso membukanya di teras.
Isinya, sebotol kecap manis, seperempat kilo bawang merah, dan selembar kertas bertulisan tangan, untuk Pak Warso, titip Nenek Sarmi.
Kakek Warso mengernyit. Ia melongok ke arah rumah Nenek Sarmi. Pintu tertutup. Sepi.
“Tadi pagi Nenek Sarmi pergi ke anaknya di Magelang,” kata Mas Udin menjelaskan tanpa ditanya.
“Katanya seminggu. Nitip ini sebelum berangkat.”
Kakek Warso memandang kecap dan bawang merah itu bergantian.
“Ini maksudnya apa?”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya cuma kurir.”
Kakek Warso membawa kotak itu masuk. Ia duduk di kursinya. Jalu sudah kembali ke teras, bertengger di pagar, memandang jalan dengan gaya seorang pengamat yang tidak perlu berkomentar.
Kecap. Bawang merah. Tanpa penjelasan.
Otak Kakek Warso, yang bertahun-tahun diasah oleh sunyi dan kesendirian, mulai bekerja dengan caranya sendiri.
Di kampung, tidak ada pemberian yang tanpa makna. Kecap dan bawang merah adalah bahan masakan. Bahan masakan adalah undangan untuk memasak.
Memasak untuk siapa?
Untuk diri sendiri?
Tapi kenapa dititipkan?
Atau…
Dan ini yang membuat Kakek Warso tiba-tiba duduk lebih tegak, apakah ini semacam kode?
Bahwa Nenek Sarmi ingin dimasakkan sesuatu ketika pulang nanti?
Atau…
Dan ini yang membuat telinganya memanas,
apakah ini semacam perhatian?
Kakek Warso berdiri. Duduk lagi. Berdiri lagi.
Ia pergi ke sumur, mencuci muka, lalu berdiri di depan cermin retak di kamar mandi dan memandangi wajahnya sendiri untuk pertama kali dalam waktu yang sangat lama.
Rambutnya putih semua. Kumisnya tidak karuan. Gigi depannya tinggal tiga. Melihat kharisma memancar dari wajahnya.
Ia kembali ke teras dan duduk dengan ekspresi seorang lelaki yang sedang bertempur melawan sesuatu di dalam dadanya, dan tidak yakin siapa yang menang.
Tiga hari kemudian, bukan seminggu, Nenek Sarmi pulang.
Kakek Warso mendengar suara becak berhenti di depan gang, lalu suara khas sandal jepit Nenek Sarmi di aspal.
Ia pura-pura sibuk memberi makan Jalu, meski Jalu sudah kenyang dan lebih tertarik memandang kupu-kupu di pohon pepaya.
Nenek Sarmi berjalan masuk ke gang sambil membawa tas kresek. Ia melihat Kakek Warso. Kakek Warso melihat ia. Keduanya pura-pura ini bukan momen apa-apa.
“Cepat pulangnya,”
kata Kakek Warso akhirnya.
“Anak saya ribut. Lebih enak di sini.”
Hening sebentar.
“Titipan kecapnya sudah saya terima,”
kata Kakek Warso dengan suara yang dicoba dibuat datar.
“Maksudnya apa itu?”
Nenek Sarmi berhenti melangkah. Ia memandang Kakek Warso dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca, atau mungkin bisa dibaca, tapi Kakek Warso tidak mau terburu-buru membacanya.
“Maksudnya apa gimana?”
“Ya, kecap sama bawang merah. Untuk apa?”
Nenek Sarmi memandangnya sebentar. Lalu tertawa, tawa kecil, bukan tawa keras, tawa orang yang menemukan sesuatu yang ia sendiri tidak menyangka akan lucu.
“Pak Warso,” katanya, “kemarin saya minta tolong Mas Udin belikan kecap sama bawang merah di warung, tapi saya keburu berangkat. Jadi saya bilang, taruh saja di rumah Pak Warso, nanti saya ambil waktu pulang.”
Kakek Warso membuka mulutnya.
Menutupnya.
Membuka lagi.
“Jadi, ini punya sampeyan?”
“Ya. Boleh saya ambil?”
Nenek Sarmi mengambil kotak kecilnya dan melanjutkan langkah ke rumahnya. Kakek Warso duduk di kursi kayunya dengan ekspresi seorang lelaki yang baru saja membangun istana megah di dalam kepala, lalu mendapati istana itu adalah kandang ayam.
Jalu melompat turun dari pagar, berjalan ke arah Kakek Warso, dan mematuk ujung sandalnya sekali, pelan, hampir seperti tepukan di bahu.
Kakek Warso memandang ayam itu.
“Diam kamu,” katanya.
Jalu kluruk sekali. Pendek. Lalu kembali ke pagar.
Di dalam rumah, kursi mendiang istri Kakek Warso berdiri diam seperti biasa, kosong, sabar, tidak berkomentar apa pun tentang apa yang baru saja terjadi di luar.
Sebagaimana mestinya kursi yang bijak.
Leave A Comment