Oleh: Rio Triyono
Hujan turun tanpa aba-aba, seperti sesuatu yang datang membawa kabar tanpa sempat ditolak. Sore itu, langit menggulung dirinya dalam kelabu yang pekat, lalu menjatuhkan isinya ke bumi dengan deras dan tak memberi jeda. Sialnya, aku yang sedang dalam perjalanan pulang dan tidak membawa jas hujan hanya bisa menghela napas pendek, lalu memutuskan untuk berhenti dan menepi. Tepat di terasan toko dengan setengah pintu terbuka yang bahkan aku pun tak tahu apa isi di dalamnya.
Dengan segera aku memarkirkan motorku. Hanya sekedar untuk berteduh menunggu hujan sedikit reda. Tak ada kursi. Tak ada lampu yang menyala. Hanya atap seadanya dan ruang sempit yang cukup untuk berdiri. Sambil kutatapi langit yang kian kelabu, dan sesekali memandangi genangan di jalan yang perlahan menyatu, sambil berharap hujan ini segera usai.
Tiba-tiba, suara mesin motor memecah riuh derasnya hujan. seorang gadis berkacamata bundar dengan motor matic berwarna putih berhenti tepat di sebelahku. Ia turun dengan tergesa-gesa. Bajunya sudah kuyup, rambutnya menempel di pipi, dan tubuhnya nampak sedikit gemetar, entah karena dingin atau karena lelah.
Tas slempang berwarna coklat pekat yang terbuat dari kain miliknya pun ikut basah. Segeralah ia buka tasnya itu, untuk memeriksa isi di dalamnya. Wajahnya sedikit lega tatkala mendapati barang bawaannya masih kering setelah menerjang hujan tadi.
“Permisi tuan. Bolehkah saya ikut berteduh di sini?” tanya gadis itu tiba-tiba.
Suaranya lembut, tapi cukup jelas untuk membuatku tersentak dari lamunanku.
“Boleh saja, nona. Silahkan” Aku sedikit bergeser untuk memberinya ruang sebagai isyarat kepada gadis itu agar berteduh di sebelahku.
Kami tak saling bicara untuk beberapa saat. Hanya berdiri berdampingan, sama-sama memandangi hujan yang kian deras, seolah masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pandanganku kembali menatapi jalanan. Perasaanku berkecamuk dengan sedikit rasa khawatir jika hujan akan turun lebih lama lagi.
Benar saja, setelah sekian lama menunggu. Bukannya mereda, yang ada adalah semakin lebat.
“Hujannya semakin deras,” ucapku. Hanya sekedar untuk membuka pembicaraan setelah kami berdua saling terdiam. Lebih karena ingin memecah sunyi daripada benar-benar menyampaikan sesuatu.
“Iya,” jawabnya pelan.
“Sepertinya masih lama untuk mereda. Anginnya juga kencang.” lanjutnya ramah dengan sedikit kekhawatiran akan masuk angin karena baju dan sekujur tubuh yang basah.
Hujan pun kian deras. Riuh air yang jatuh d atap toko pun kian gaduh. Angin pun semakin kencang membawa rasa dingin yang agaknya mulai sulit ditepis tubuh yang mulai membeku. Langit sepertinya sedang sangat bersedih. Entah karena ditinggal kemarau atau karena sebab lainnya. Beginilah saat hujan turun mengguyur. Hanya karena aku lupa membawa jas hujan, aku menjadi terpaku dan hanya termenung menunggu hujan reda. Aku yang bebas menjadi tahanan yang dikurung di dalam rintik air yang teruapkan oleh terik matahari siang tadi.
Aku yang tengah mengutuki diri, menarik nafas panjang. Tubuh yang kian lama merasakan hawa dingin yang terbawa angin kini pelan-pelan terasa menusuk sampai ke tulang.
Namun, di tengah lamunan yang berubah menjadi keterjebakan yang sunyi akibat dingin, aku tersentak tatkala gadis di sebelahku tiba-tiba menanyakan sebuah pertanyaan yang mencengangkan hingga membuat aku begitu bingung.
“Menurutmu, apa perasaanmu tentang hujan?” sepenggal kalimat tanya keluar dari sela-sela bibir yang mulai membiru.
“Ehh… Anu,” reaksiku akibat kaget. “Aku suka hujan.” lanjutku.
Dia membawa kebaikan pada penduduk bumi. Tapi untuk saat ini, aku tak terlalu menyukai hujan. Bukan karena hujan itu sendiri, tetapi Angin dan hawa dingin yang ikut membersamainya.” jawabku dengan sedikit canggung dan kebingungan.
“Ohh, begitu.” sahutnya.
“Bagiku, hujan itu terlalu kejam,” Sebuah pernyataan singkat yang keluar dari bibir yang kian sendu dari gadis itu sembari mengeluarkan kain yang kemudian digunakannya untuk membersihkan kacamatanya yang berembun.
“Terkadang dia datang saat tak diharapkan. Burung-burung pun tak menyukainya. Hujan membawa hawa dingin. Akibatnya mereka harus mencari daun-daun lebar untuk menutupi sayap-sayap mereka. Setidaknya untuk menjaga tubuh mereka tetap hangat.” pungkasnya.
“Iya, seperti itulah hujan. Setidaknya dingin akibat hujan lebih baik karena disertai irama dan harmoni yang membuatnya syahdu.” tanggapku. Meskipun aku juga mulai merasa membeku akibat hujan yang tak kunjung berhenti.
“Lantas menurutmu, mana yang lebih dingin, hujan disertai angin, atau angan yang sebatas ingin?” Sahutnya yang membuatku tertegun dan bibirku pun membeku tak mampu berucap apa-apa.
Aku tak begitu paham mengapa gadis itu menanyakan hal tersebut. Apakah ada sesuatu yang ia sembunyikan dariku tentang hidupnya?
Aku terdiam. Termenung dalam kerasnya suara hujan yang seakan-akan membungkam semua percakapan kami tadi.
Aku terdiam cukup lama setelah pertanyaannya. Bukan karena tak punya jawaban, melainkan karena pertanyaan itu terasa seperti bukan sekadar pertanyaan. Ada sesuatu yang diselipkan di dalamnya. Sesuatu yang secara tiba-tiba, nampak remeh namun terasa berat.
Gadis itupun kembali mengenakan kacamatanya. Ia menatap lurus ke arah jalan yang basah, seolah mencari sesuatu yang tak pernah benar-benar ada di sana.
“Aku pernah kehujanan seperti ini,” katanya pelan, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng toko.
“Bedanya, waktu itu aku sendiri.” ungkapnya.
Aku menoleh. Ada nada yang berbeda. Bukan sekadar cerita biasa. seperti pintu yang mengarah ke sesuatu yang lebih dalam yang mungkin tidak ingin dibuka begitu saja
“Dia bilang akan menjemputku,” lanjutnya.
“Aku menunggu di tempat yang sama seperti ini. Hujannya juga deras. Aku kira,.. itu akan jadi kenangan yang indah.”
Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu terasa rapuh. Tak ada dramatisasi. Tak ada tangisan. Namun, justru itu yang membuatnya terasa lebih nyata.
“Tapi dia tidak pernah datang.”
Aku tak menyela. Hanya bisa mendengarkan.
“Sejak saat itu,.. aku selalu merasa hujan itu kejam. Dia seperti mengulang kenangan yang sama, dalam waktu yang berbeda.” katanya lagi.
“Dia mengingatkan pada sesuatu yang sudah terjadi, bahkan tidak pernah benar-benar terjadi.” lanjutnya.
Aku menarik napas perlahan. Kini aku mulai memahami arah pertanyaannya tadi.
Aku pun menunduk sedikit.
“Hujan dan angin itu dingin,”
“Tapi angan yang sebatas ingin… mungkin lebih dingin. Karena dia tidak pernah benar-benar ada untuk menghangatkan.” kataku akhirnya.
Gadis itu terdiam. Untuk sesaat, hanya suara hujan yang berbicara di antara kami.
“Kamu benar,” ucapnya lirih.
“Yang diharap dan tidak pernah datang… selalu terasa lebih dingin dan menusuk daripada yang pernah pergi.”
Ia menoleh. Tatapannya berbeda kali ini. Lebih tenang, tapi juga lebih dalam.
“Sesuatu yang diharapkan, tapi tak pernah terjadi memang terasa lebih menyakitkan daripada yang sudah berakhir.” pungkasnya.
Angin kembali berembus. Ia merapatkan lengannya, mencoba menghangatkan diri. Tanpa banyak berpikir, aku melepas jaket yang kupakai dan menyodorkannya.
“Pakai saja. Kamu lebih membutuhkannya.” tawarku padanya.
Ia menatapku. “Kalau kamu?” balasnya sedikit ragu.
“Aku masih bisa menahan dingin,” jawabku singkat.
Ia pun menerima jaket itu perlahan. “Terima kasih.” katanya.
Hingga akhirnya, beberapa saat kemudian hujan mulai mereda. Tak lagi seganas sebelumnya. Rintiknya berubah menjadi gerimis yang pelan, seolah langit mulai lelah menangis.
Kami berdua bersiap. Ia merapikan tasnya, Aku pun menyalakan motorku. dan kami pun bersiap untuk pergi masing-masing.
Sebelum pergi, ia menoleh kepadaku,
“Terima kasih… bukan cuma untuk jaketnya, untuk jawabannya juga.” katanya dengan senyum tipis. sambil menyodorkan jaket untuk dikembalikan kepadaku yang sebelumnya ia pakai.
Aku pun mengangguk kecil dengan masih menyisakan kebingungan.
“Kalau suatu hari kamu kehujanan lagi, semoga kamu tidak sendirian.” ucapnya padaku.
“Begitu juga kamu.” jawabku padannya.
Ia pun pergi lebih dulu, menghilang di ujung jalan yang masih basah. Aku masih terdiam sejenak, sambil memandangi jejak air yang ditinggalkan roda motornya.
Selepas itu, aku pun melaju perlahan. Entah kenapa, rasanya ada sesuatu yang tertinggal. Bukan bawaan miliku ataupun miliknya, tapi mungkin perasaanku sendiri yang ikut tersentuh ceritanya. Meninggalkan kenangan di tengah sisa gerimis sore itu.
Hingga akhirnya aku mengerti. bahwa sesuatu yang paling dingin bukanlah hujan yang disertai angin, melainkan adalah sesuatu harapan yang kita tunggu, yang kita yakini akan datang, namun pada akhirnya, hanya tinggal sebagai kemungkinan yang tak pernah sempat menjadi kenyataan.
Tentang Penulis
Rio Triyono merupakan santri di Pesantren Mahasiswa (Pesma) An Najah Purwokerto. Saat ini ia menempuh studi pada Program Pascasarjana UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Sebelumnya, ia menyelesaikan pendidikan S-1 pada Jurusan Tadris Matematika di almamater yang sama. Selain aktif dalam dunia akademik, Rio juga memiliki minat dalam literasi sastra. Penulis dapat dihubungi melalui media sosial Instagram @riotriyono15.
Leave A Comment